Anda di halaman 1dari 4

Swamedikasi Diare

6 Januari 2017

Diare dapat menyebabkan kondisi yang tidak nyaman bagi seseorang atau bahkan mengganggu
kelangsungan kegiatan sehari-hari. Diare merupakan kondisi terjadinya buang air besar
menjadi lebih sering, berbeda dengan frekuensi buang air besar harian seperti biasanya. Selain
itu feses juga menjadi encer atau cair dan pada beberapa kasus dapat juga dialami sakit/kejang
perut, demam, dan muntah1,9. Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari disebut diare akut
dan diare persisten biasanya berlangsung lebih dari 14 hari. Sedangkan diare yang berlangsung
lebih dari 30 hari merupakan diare kronik1. Diare akut juga dapat timbul dengan gejala feses
yang berdarah atau berlendir yang lebih dikenal sebagai disentri6.

Diare dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti adanya infeksi bakteri/virus/parasit melalui
makanan atau minuman yang kurang higienis (dapat diketahui dengan adanya demam dan
pemeriksaan lebih lanjut). Jika seseorang terkena diare akibat mengonsumsi makanan atau
minuman yang kurang higienis saat berkunjung ke suatu tempat maka diare itu disebut
travellers diarrhea. Selain itu diare juga dapat disebabkan ansietas (rasa cemas), keracunan,
konsumsi susu atau produk susu pada orang yang kekurangan enzim laktase (yaitu enzim yang
menguraikan zat gula laktosa yang terkandung dalam susu), konsumsi obat-obatan tertentu,
atau adanya kondisi penyakit akut atau kronik lain yang dapat memicu kondisi diare2,6,9.

Diare persisten, diare kronik, diare pada pasien yang sedang hamil, diare yang disertai feses
yang berdarah/berlendir (disentri), diare pada anak <6 tahun, dan diare yang sebabkan dehidrasi
berat harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum dilakukan pengobatan yang
tepat. Sedangkan diare akut yang bukan disebabkan oleh infeksi bakteri/virus/parasit, konsumsi
obat tertentu, atau kondisi penyakit tertentu dapat diatasi melalui swamedikasi yaitu
pengobatan sendiri oleh pasien dengan mengonsultasikannya terlebih dahulu pada apoteker di
apotek terdekat2.

Diare seringkali dianggap sebagai penyakit yang tidak berbahaya, akan tetapi berdasarkan data
WHO, diare menyebabkan 760.000 kematian pada anak dibawah lima tahun7. Begitupun di
Indonesia, diare merupakan penyakit endemis dengan angka kesakitan 214 per 1000 penduduk
untuk semua kelompok umur serta 900 per 1000 penduduk untuk balita. Bahkan diare menjadi
penyebab kematian nomor satu bagi balita dan nomor empat bagi semua kelompok umur
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 20078.

Diare yang sesekali memang tidak berbahaya namun diare yang menyebabkan dehidrasi
(kekurangan cairan) dapat membahayakan dan menimbulkan kematian terutama pada anak
atau bayi. Gejala dehidrasi yaitu haus, jarang buang air kecil, urin berwarna gelap, kulit kering,
lemas, dapat juga disertai dengan penurunan berat badan. Gejala dehidrasi ringan-sedang pada
anak yaitu gelisah, rewel, mata cekung, mulut kering, sangat haus, kulit kering, sedangkan
gejala dehidrasi berat pada anak yaitu lesu, tak sadar, mata sangat cekung, mulut sangat kering,
malas atau tidak bisa minum, kulit sangat kering9.

Jika dehidrasi ini masih tergolong ringan sampai sedang (belum sampai seseorang tak sadar,
pusing, dan sakit perut yang parah), maka yang paling penting adalah memberikan cairan
elektrolit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare (rehidrasi). Selain
rehidrasi, dapat dimulai pemberian obat diare secara swamedikasi seperti yang telah dijelaskan
diatas. Dalam mengatasi diare yang perlu diketahui adalah bahwa diare biasanya membaik
dalam waktu 1-2 hari. Jika setelah rehidrasi dan pemberian obat secara swamedikasi, diare
belum membaik maka sebaiknya langsung dikonsultasikan ke dokter untuk diperiksa lebih
lanjut1,2,3.

Bagaimana cara melakukan rehidrasi?

Pemberian oralit untuk rehidrasi disarankan sebagai berikut:

 Untuk pasien yang belum menunjukkan gejala dehidrasi, oralit diberikan setiap buang
air besar sebanyak 100 ml (untuk usia kurang dari 11 bulan), 200 ml (untuk usia 1-4
tahun), dan 300 ml (untuk usia lebih dari 5 tahun) dengan tujuan mencegah dehidrasi9.
 Untuk pasien yang telah menunjukkan gejala dehidrasi, oralit diberikan sebanyak 300
ml (untuk usia kurang dari 11 bulan), 600 ml (untuk usia 1-4 tahun), dan 1,2 L (untuk
usia lebih dari 5 tahun) selama 3 jam pertama sedangkan selanjutnya diberikan 100 ml
(untuk usia kurang dari 11 bulan), 200 ml (untuk usia 1-4 tahun), dan 300 ml (untuk
usia lebih dari 5 tahun) setiap buang air besar untuk mengatasi dehidrasi9.
 Untuk anak kurang dari dua tahun berikan sedikit demi sedikit secara terus menerus
hingga habis, jika muntah maka tunggu 10 menit dan berikan tetes demi tetes agar anak
tidak menolak9.
 Untuk bayi yang masih menyusui, berikan ASI/susu formula yang lebih banyak10.
 Dapat juga diberikan tablet zinc untuk mencegah dehidrasi dan sebagai terapi
pelengkap oralit pada anak. Tablet zinc ini dapat diberikan sebanyak 10 mg (setengah
tablet) per hari untuk umur kurang dari 6 bulan dan 20 mg (1 tablet) per hari untuk umur
lebih dari 6 bulan. Tablet zinc diberikan dengan dikunyah atau dilarutkan dalam satu
sendok air matang atau asi. Tablet zinc harus tetap diberikan selama 10 hari walaupun
diare telah berhenti. Tablet ini dijual sebagai obat bebas, contohnya tersedia dalm
merek interzinc, L-zinc, orezinc, zanic, zincare, zinc, zincpro, zirea, zirkum kid, Zn-
Diar3,10.

Perlu diingat bahwa oralit bukanlah pengganti obat namun hanya bertujuan untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang akibat diare. Contoh dari produk oralit yang tersedia di pasaran yaitu
dehydralyte dan Oralit 200 yang berisi campuran gula, garam, natrium, dan kalium. Jika tidak
tersedia produk oralit, maka kita dapat membuat larutan oralit sendiri dengan mencampurkan
40 g gula + 3,5 g garam yang dilarutkan dalam 1 liter air mendidih yang telah didinginkan3,9.

Apa saja pilihan obat yang dapat digunakan sebagai swamedikasi diare? Dan bagaimana
kerja obat tersebut?

Obat diare bukan ditujukan untuk menyembuhkan diare (kuratif) tetapi sebagai usaha untuk
mengurangi keparahan diare (paliatif). Obat diare yang dapat digunakan untuk swamedikasi
yaitu tablet norit, kaolin, pektin, atau attapulgit yang bekerja dengan mengurangi frekuensi
buang air besar, memadatkan feses, menyerap kelebihan air dan toksin penyebab diare. Obat-
obat tersebut tidak diperbolehkan untuk anak dibawah 5 tahun. Adapun di luar negeri,
loperamid dapat digunakan untuk keperluan swamedikasi karena sudah termasuk obat bebas.
Sedangkan di Indonesia sendiri loperamid masih tergolong obat keras sehingga hanya dapat
diperoleh melalui resep dokter. Loperamid bekerja dengan meningkatkan kontak antara feses
dengan dinding usus sehingga air yang diserap oleh usus dari feses meningkat dan
meningkatkan kekentalan feses1,2,5,9.
Apa saja contoh obat swamedikasi diare?

Contoh obat yang tersedia di pasaran yaitu biodiar dan iodiar (mengandung attapulgit), opidiar,
dianos, dan neo kaolana (mengandung kaolin pektin), entrostop dan arcapec (mengandung
attapulgit pektin)4. Selain itu dapat juga digunakan obat seperti diapet yang mengandung
ekstrak daun jambu biji.

Dimana kita bisa memperoleh obat swamedikasi diare?

Obat yang mengandung norit, kaolin, pektin, atau attapulgit memiliki logo obat bebas yaitu
bulatan berwarna hijau yang dibatasi dengan garis lingkaran hitam. Obat ini dapat diperoleh di
apotek terdekat dengan mengonsultasikannya terlebih dahulu dengan apoteker agar dijelaskan
lebih lanjut mengenai obat tersebut dan memaksimalkan pengobatan. Adapun dosis yang
tersedia yaitu biasanya tablet norit 250 mg serta kombinasi 600 mg untuk kaolin/attapulgit dan
50 mg untuk pektin4,9.

Kapan kita harus meminum obat swamedikasi diare?

Obat kaolin, attapulgit, pektin dapat dikonsumsi 1 tablet setiap buang air besar dengan
konsumsi maksimum 12 tablet per hari untuk orang dewasa atau maksimum 6 tablet per hari
untuk anak 6-12 tahun. Obat tersebut tidak boleh dikonsumsi jika seseorang diare dengan
disertai demam, perlu terhindar dari kondisi konstipasi/sembelit, memiliki obstruksi usus, dan
atau alergi terhadap obat tersebut4. Adapun tablet norit 250 mg dikonsumsi 3-4 tablet tiga kali
dalam sehari atau setiap 8 jam9.

Berapa lama kita diperbolehkan mengonsumsi obat swamedikasi diare?

Obat kaolin, attapulgit, pektin seperti yang telah dijelaskan diatas hanya boleh dikonsumsi
selama dua hari. Jika setelah dua hari diare belum membaik maka sebaiknya swamedikasi diare
dihentikan dan dilakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk pemeriksaan lebih
lanjut2.

Apa saja efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh obat swamedikasi diare?

Obat kaolin, attapulgit, pektin dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit sebagai efek
samping4.

Apakah wanita hamil diperbolehkan mengonsumsi obat swamedikasi diare?

Penggunaan obat antidiare tanpa resep tidak cocok untuk digunakan selama kehamilan
sehingga wanita hamil harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum dilakukan
pengobatan diare yang tepat2.

Apa sajakah yang perlu diperhatikan selain melakukan rehidrasi dan mengonsumsi obat
swamedikasi diare?

Sebaiknya berhenti makan dan fokus pada pemberian cairan elektrolit, setelah itu secara
perlahan-lahan makanan dikonsumsi seperti biasa kembali dalam beberapa hari. Adapun
makanan yang diperbolehkan sebaiknya makanan yang mudah dicerna seperti biskuit,
makanan yang tidak berlemak, makanan tidak pedas, makanan tidak tinggi gula. Hindari
makanan padat atau sebaiknya makan makanan yang tidak berasa seperti bubur, roti, pisang,
selama 1-2 hari. Selain itu juga perlu menghindari minuman bersoda karena dapat
memperberat kondisi diare, begitu juga dengan alkohol, kopi, teh, susu (kecuali pada bayi)2,3,9.

Apa sajakah yang dapat dilakukan untuk mencegah diare?

Cucilah tangan dengan baik setiap habis buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan,
tutuplah makanan untuk mencegah kontaminasi dari lalat, kecoa dan tikus, simpanlah secara
terpisah makanan mentah dan yang matang, simpanlah sisa makanan di dalam kulkas, gunakan
air bersih untuk memasak, air minum harus direbus terlebih dahulu, buang air besar pada
jamban dan menjaga kebersihan lingkungan6,9.

Sumber : https://haloapoteker.id/swamedikasi-diare/

Referensi :

1. DiPiro Joseph T., R.L. Talbert, G.C. Yee, G.R. Matzke, B.G. Wells, L.M. Posey. 2011.
Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Eight Edition, p 621-627. McGraw
Medical Hill. New York.
2. Hartanto Huriawati dan Hafshah Nurul Afifah. 2013. Rujukan Cepat Obat-Obat Tanpa
Resep untuk Praktisi. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
3. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi untuk Kalangan Medis Edisi 11 2011/2012.
4. Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia untuk Kalangan Medis Volume 49
2014/2015.
5. Terrie, Yvette C. 2007. Antidiarrheal Products. Available online at:
http://www.pharmacytimes.com/publications/issue/2007/2007-11/2007-11-8228
[diakses 12 September 2016]
6. Riddle M.S., H.L. DuPont, B.A. Connor. 2016. ACG Clinical Guideline: Diagnosis,
Treatment, and Prevention of Acute Diarrheal Infections in Adults. The American
journal of gastroenterology Volume XXX.
7. WHO. 2016. Diarrhoeal Diseases. Available online at:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/ [diakses 26 September 2016]
8. Kemenkes RI. 2015. Profil kesehatan Indonesia 2014. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
9. Dirjen Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. 2007. Pedoman Penggunaan Obat Bebas
dan Bebas Terbatas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
10. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Jakarta