Anda di halaman 1dari 28

KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

FARMAKOLOGI
(by: Armiin & Leonny)

Keterangan Informasi Obat :

• Judul
®
Misal : Tablet salut selaput Ciprol
Ciproflixacin
(jenis sediaan dicantumkan di depan/ di atas nama obat)
Ciprofloxacin ini adalah nama generik obat. Untuk obat paten, biasanya kita akan
menemukan nama obat yang diakhiri dengan simbol ®, namun tidak mesti selalu.
Kini pemerintah menetapkan peraturan baru agar nama generik obat dicantumkan
bersamaan dengan nama patennya, dengan ukuran nama generik 80% dari nama
paten. Nama generik dituliskan di bawah nama dagang.
• Indikasi adalah kondisi dimana obat ini harus digunakan. Kondisi yang dimaksud
adalah penyakit yang diderita pasien, bukan efek yang diharapkan dari obat!
Contoh yang mudah adalah : demam, sakit kepala, hidung tersumbat,dll.
Contoh yang salah: menurunkan demam, antipiretik, dll.
Kalau diindikasikan untuk pencegahan, istilahnya : terapi profilaksis … (bukan untuk
pencegahan …).
Perhatikan indikasi yang berkaitan dengan dosis (atau aturan pakai), karena terdapat
beberapa obat yang digunakan pada indikasi yang banyak dengan dosis yang
beragam.
• Cara kerja obat/efek farmakologis : mekanisme kerja obat di dalam tubuh.
Mekanisme dari satu buku aja karena biasanya mirip2 dari buku mana aja. Cukup satu
aja,misal dari GG .
Contohnya : Bisacodyl adalah laksatif yang bekerja lokal dari kelompok turunan
difenil metan. Sebagai laksatif perangsang, bisacodyl merangsang gerakan peristaltik
usus besar setelah hidrolisis dalam usus dan meningkatkan akumulasi air dan
elektrolit dalam lumen usus besar.
• Kontraindikasi : lawan dari indikasi, artinya pada kondisi apa obat ini tidak boleh
digunakan.
Misal : Dulcolax dikontraindikasikan pada pasien ileus, obstruksi usus, yang baru
mengalami pembedahan di bagian perut seperti usus buntu, penyakit radang usus akut
dan dehidrasi parah.
Selalu perhatikan ibu hamil dan menyusui.
• Efek samping = menurut WHO 1970 efek samping suatu obat adalah segala khasiat
yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang
dianjurkan. (obat-obat penting hal 37)
Misal : - ganguan gastrointestinal, seperti mual, muntah, diare
- pemakaian kortikosteroid topikal menyebabkan efek samping lokal,
iritasi, kulit kering, hipopigmentasi, dermatitis kontak alergik.
• Bentuk sediaan
• Kandungan obat/komposisi
• Cara pemakaian/aturan pakai = merupakan petunjuk cara-cara pemakaian obat.
Misal untuk krim atau salep : dioleskan pada daerah radang sebanyak 2-3 kali sehari
hingga terjadi perbaikan, kemudian dapat diberikan sehari sekali atau lebih jarang.
Supo harus ditulis bagaimana cara pakainya.
Sebelum/sesudah makan, cantumin berapa jam sebelum/sesudahnya (terutama untuk
obat yang mengiritasi lambung dan interaksi dengan makanan).

1
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

Injeksi yang harus disuntik pelan2, sudah harus diterjemahkan menjadi : berapa mL
per menit (jangan sekian gram dalam sekian menit!). Kalau injeksi harus dimasukkan
ke infus, terjemahkan berapa tetes per menit.
• Dosis = takaran pemakaian obat yang harus diberikan kepada pasien untuk
mendapatkan atau menghasilkan efek yang diharapkan tergantung dari banyak faktor
antara lain, usia, bobot badan, jenis kelamin, luas permukaan tubuh, berat penyakit
dan keadaan daya-tangkis penderita.
Tidak boleh ada pernyataan: dalam dosis terbagi. Sebut berapa tablet/ sendok takar,
berapa kali sehari. Usahakan dalam rentang usia yang tidak terlalu luas.
• Interaksi obat = terjadinya interaksi antara obat dengan obat lain jika digunakan
bersamaan yang akan menyebabkan efek samping yang merugikan lainnya.
Tidak hanya diisebutkan nama obat2 yg berinteraksi tapi juga bentuk interaksinya apa.
Misal : untuk kasus tunggal penggunaan piracetam bersama dengan ekstrak tyroid
menyebabkan kebingungan, marah dan gangguan tidur.
• Penyimpanan = suhu dan kondisi penyimpanan yang dianjurkan guna melindungi
sediaan dan menjaga kestabilan sediaan obat.
Misal : simpan pada suhu 15º-30ºC, terlindung dari cahaya.
Cantumkan range suhu, jangan menyebutkan: simpan pada ruangan sejuk. (ini salah)
• Penggunaan pada kondisi khusus
Dapat digunakan jika…, kalau gagal ginjal …. Misal pada ibu hamil, ibu menyusui,
Dosis perlu dikurangi atau tidak.
• Peringatan :untuk perhatian dimasukkan ke dalam peringatan.Hubungan perhatian-
peringatan-kontraindikasi: PerhatianÆ paling rendah; peringatan Æ tengah/sedang;
kontraindikasiÆ pasien sama sekali tidak boleh menggunakan.

PETUNJUK PENGISIAN BAGIAN FARMAKOLOGI

BAB I TINJAUAN UMUM SENYAWA AKTIF DAN SEDIAAN


1.1. Deskripsi Umum Senyawa Aktif (LIHAT SEMUA BUKU MONOGRAFI : FI IV,
USP, FARMAKOPE LAIN, TPC, FLOREY, RPP)
Usahakan Penemuan data berikut
1. Nama Lain (Sinonim), Nama Kimia, Struktur Kimia
2. Pemerian
3. Rumus Molekul dan Bobot Molekul
4. Kelarutan (bagian zat : bagian pelarut)
Data kelarutan menentukan jenis sediaan yang dibuat, jenis zat aktif yang dipilih,
dan tonisitas larutan.
5. pH larutan, pH stabilitas
6. Titik didih atau titik leleh
7. Stabilitas (Menggambarkan kepekaan zat aktif terhadap pH, cahaya, lembab,
logam, dan panas)
Data ini membantu dalam pemilihan bentuk sediaan, jenis eksipien yang
digunakan, cara pembuatan dan metode sterilisasi yang dipilih.
8. Inkompatibilitas
Data inkompatibilitas sangat berpengaruh terutama terhadap pemilihan eksipien
(pengawet, pengisotonis, garam, asam/basa, pendapar, pengental, antioksidan, dll)
9. Wadah dan Penyimpanan
Sebutkan kemasan berupa kotak/botol/dll. Bedakan antara kemasan primer dan
sekunder.
10. Sifat Khusus yang Penting untuk Formulasi

2
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

11. Koefisien Partisi Zat Aktif


1.2. Definisi Bentuk Sediaan Terkait (LIHAT FI IV, USP)
1.3. Dasar Pertimbangan dan Landasan Hukum Penggolongan Obat
Berdasarkan :
• Peraturan tentang obat yang bersangkutan (SK Menkes), jika tidak ada
peraturan sediaan dengan zat aktif tersebut, maka mengacu pada zat aktifnya.
• Golongan Obat (keras/bebas/bebas terbatas/psikotropik/narkotika) berda-
sarkan undang-undang.
Penulisannya :
Berdasarkan SK Menkes No.....tentang......(judul SK)....maka sediaan...(judul
soal)...digolongkan ke dalam obat...(keras/bebas/bebas terbatas/psikotropika
/narkotika)...yang padanya berlaku peraturan tentang obat....(keras/bebas/bebas
terbatas/psikotropika/narkotika) dan juga ketentuan penandaan pada kemasan serta
nomor registrasi.
1.4. Penandaan pada Wadah, Leaflet atau Brosur
Pada sediaan berlaku penandaan sebagai berikut : ????
• Bulatan berwarna merah dengan huruf tengah K berwarna hitam (obat keras)
untuk sediaan injeksi.
• HARUS DENGAN RESEP DOKTER
• LAMBANG NARKOTIKA (Tergantung zat aktif yang digunakan)
1.5. Nomor Registrasi dan Nomor Bets
Penomorannya harus rasional, contoh: nomor registrasi digit 9, 10, 11 (nomor urut
obat jadi) adalah 957 Æ tidak rasional karena tidak mungkin ada perusahaan yang
memproduksi obat sebanyak itu

BAB II URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI


(pustaka yang perlu dibaca: AHFS, GG, Katzung, USPDI, Drug Fact, MIMS, ISO,
Martindale 35, AMA Drug, DOI, John Hopkin’s, PDR dll)

2.1. Nama Obat dan Sinonim (PUSTAKA UTAMA :GG, ALTERNATIF :AHFS,
MARTINDALE)
• Nama Kimia, Nama Umum Zat Aktif
• Golongan Farmakologi (terdapat pada daftar isi buku-buku farmol-lihat KIT)
Gol farmakologi = kelas terapi.
Contoh : Kloramfenikol termasuk golongan antibiotik
• Golongan Kimia (tidak selalu ada, klo gada cukup tulis nama kimia&sinonim)
Contoh : Kloramfenikol berdasarkan golongan kimianya termasuk golongan
tersendiri, di mana tidak termasuk golongan beta laktam maupun golongan
lainnya.
(Shortcut: MIMS, ISO, Drug Fact, AHFS, GG)
(nama zat aktif) memiliki sinonim (sinonim), dengan nama kimia (nama kimia).
Secara farmakologi, (nama zat aktif) termasuk kedalam golongan (golongan
farmakologi) dan merupakan turunan (golongan turunan).
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; PDR; dan pustaka lain)

2.2. Bentuk Senyawa Aktif (Asam, Basa, Garam, Ester,Pro-drug)


Bentuk senyawa aktif yang akan dipakai dalam sediaan disertai alasan pemilihan bentuk
tersebut.
(Shortcut: MIMS, ISO,Drug Fact, AHFS, GG)
Bentuk senyawa aktif yang akan digunakan dalam sediaan (nama sediaan) adalah

3
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

bentuk (asam/ basa/garam/ester/prodrug) dari (nama zat aktif) yaitu …………, karena
dalam bentuk ……, …………………
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; dan pustaka lain)

2.3. Efek Farmakologi (UTAMA :GG, AHFS. ALTERNATIF : DRUG FACT, USPDI)
Menggambarkan kerja obat (JANGAN TERTUKAR DENGAN MEKANISME
KERJA). Untuk antibiotika tulis spektrum kerjanya dan bekerja pada apa saja.
Contoh :
Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas. Umumnya bersifat bakteriostatik,
namun pada konsentrasi tinggi kloramfenikol dapat bersifat bakterisid pada kuman-
kuman tertentu. Spektrum antibakteri kloramfenikol meliputi D. Pnemoniae,Str.
Pyogenes, Str. Viridans, ......................

2.4. Mekanisme Kerja (UTAMA : GG,AHFS. ALTERNATIF : DRUG FACT, USPDI)


Tulis mekanisme kerja dalam tubuh sampai obat tersebut menghasilkan efek.
Contoh :
Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis bakteri, yang dihambat adalah
enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan
ikatan peptida pada proses sintesis bakteri. Efek toksik kloramfenikol pada sel mamalia
terutama terlihat pada sistem hemopoetik dan diduga berhubungan dengan mekanisme
kerja obat ini.
(Shortcut: MIMS, ISO, Drug Fact, AHFS, GG, Katzung)
(nama zat aktif) memiliki aksi sebagai (“uses” di AHFS; contoh: ekspektoran,
anti...)
Antibiotik: (nama zat aktif) memiliki spektrum kerja (sempit / luas) , dan aktif pada
bakteri (nama-nama bakteri). Bakteri (nama-nama bakteri) menunjukan resistensi
terhadap (nama zat aktif).
Mekanisme kerja (nama zat aktif) sebagai (uses/kelas terapi) adalah dengan
(mekanisme kerja obat detail, pustaka GG)
(GG 10/11, hal …; AHFS 2008, hal …; dan pustaka lain)

2.5. Farmakokinetika (UTAMA : GG, AHFS. ALTERNATIF : AMA DRUG,


MARTINDALE)
• Absorpsi
• Distribusi
• Metabolisme
• Ekskresi
Untuk sediaan sistemik berupa injeksi dan infus tidak perlu mencantumkan absorpsi
karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Untuk sediaan lokal yang mungkin
disebutkan di pustaka terabsorpsi sedikit secara sistemik, tulis hal tersebut di bagian
absorpsi lalu disinggung sedikit mengenai DME nya.
a. Absorpsi
Oral:
(nama zat aktif) diabsorpsi (cepat/lambat) dengan (sempurna/tidak sempurna)
dalam (saluran cerna/usus/lambung). Dalam keadaan (perut kosong, setelah makan,
dll), jumlah (nama zat aktif) yang diabsorpsi adalah ... %. Dalam saluran cerna,
(nama zat aktif) dapat berinteraksi dengan (obat- makanan) membentuk (hasil
interaksi) dan menyebabkan (penurunan/peningkatan) absorpsi dan konsentrasi
plasma dari (nama zat aktif).
Topikal:

4
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

(nama zat aktif) dapat diabsorpsi melalui kulit sejumlah ...%, setelah pemakaian
selama (lama waktu pemakaian)
Tetes Mata, hidung, telinga:
(nama zat aktif) dapat diabsorpsi melalui (barier) sejumlah ...%, setelah pemakaian
selama (lama waktu pemakaian)
Injeksi: -
b. Distribusi
Oral, (Topikal, Tetes Mata, hidung, telinga: bila terabsorpsi):
Setelah terabsorpsi, (nama zat aktif) terdistribusi ke (seluruh tubuh/jaringan/me-
nembus plasenta/terdapat di ASI), dengan volume distribusi (Vd). Konsentrasi mak-
simal dalam darah sejumlah (Cmax) dicapai dalam waktu (tmax) setelah diberikan.
Dalam darah, ... % (nama zat aktif) terikat dengan protein plasma.
Injeksi:
(nama zat aktif) terdistribusi ke (seluruh tubuh/jaringan/menembus plasenta
/terdapat di ASI), dengan volume distribusi (Vd). Dalam darah, ... % (nama zat aktif)
terikat dengan protein plasma.
c. Metabolisme
(nama zat aktif) mengalami metabolisme dalam (hati/dll) menjadi (metabolit).
d. Eliminasi
(nama zat aktif) memiliki waktu paruh (t½) dan dieliminasi melalui
(ginjal/urin/keringat/saluran cerna/dll, serta % komposisi).
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; dan pustaka lain)

2.6. Indikasi dan Dasar Pemilihan Indikasi (UTAMA : GG,AHFS, DRUG FACT.
ALTERNATIF : MARTINDALE)
Data indikasi digunakan untuk menentukan pada kondisi apa saja zat aktif tersebut
dapat digunakan. Tulis nama penyakitnya!! Tulis terlebih dahulu semua indikasi
dimana obat ini bisa digunakan. Kemudian pilih indikasi tertentu yang disesuaikan
dengan bentuk sediaan yang akan dibuat. Dalam pustaka biasanya disebut ”Dosage”.
Untuk antibiotik sebaiknya dicantumkan nama bakteri penyebab penyakit.
Misal : Demam Tifoid yang disebabkan oleh S. Thypi
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
(Shortcut: MIMS, ISO,Drug Fact, AHFS, GG)
(nama zat aktif) dapat digunakan untuk pengobatan:
- (indikasi I)
- (indikasi II)
- dst
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; dan pustaka lain)
Kalo Indikasi di AHFS diberi tanda +, artinya indikasi itu sudah tidak dipakai.

2.7. Kontraindikasi dan Alasannya (UTAMA :AHFS, DRUG FACT. ALTERNATIF :


MARTINDALE, JOHN HOPKINS)
Kondisi dimana sediaan ini tidak boleh digunakan. Untuk kondisi yang masih boleh
digunakan tetapi diperlukan pengawasan dimasukkan kedalam PERHATIAN!!!
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
(Shortcut: ISO, MIMS, Drug Fact. Alasan: AHFS, GG)
Penggunaan (nama zat aktif) dikontraindikasikan pada penderita:
- (KI 1), karena (alasan)
- (KI 2) , karena (alasan)
- dll

5
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; dan pustaka lain)

2.8. Dosis (Sesuai Indikasi ) dan Perhitungan (UTAMA :AHFS, DRUG FACT, USPDI.
ALTERNATIF : MARTINDALE, PDR)
Gunakan dosis parenteral, sesuaikan dengan rute pemberian. Dosis disesuaikan dengan
indikasi yang kita pilih. Cantumkan dosis untuk semua umur. Kalo ada dosis awal, dosis
pemeliharaan, dll maka ditulis semua.
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
o Bila bentuk zat aktif sediaan ≠ bentuk di dosis pustaka, jangan lupa dilakukan
konversi dosis
o Bila dosis/ kekuatan sediaan untuk sediaan topikal, tidak ada maka mengacu pada
perhitungan dari MIC. Bakterisid = 10-20 x MIC (Modul Farmakologi); lalu
bandingkan dengan dosis yang ada di pasaran
o Bila dosis maksimal sehari ada, tapi tidak tercantum dibagi dalam berapa dosis Æ
lihat t ½ (t ½ 8-20 jam =2x)
o Dosis yang dihitung dibuat sedemikian rupa agar mudah untuk digunakan dalam
sediaan. Contoh: berdasarkan perhitungan dosis, untuk pemakaian pada anak-anak
adalah ¼ tablet (tidak rasional).
o Ingat dosis antiinfeksi (antibiotik) TIDAK BOLEH SUBDOSIS. Kalau obat lain
seperti analgetik& yg tidak berisiko fatal, boleh subdosis. Misal parasetamol 5,6
ml menjadi 5 ml saja. (it’s ok)
- Untuk pengobatan (indikasi I),
o pada (umur pasien 1), (nama zat aktif) digunakan dalam dosis : (dosis) (satuan
dosis: % atau mg atau g) (aturan pakai).
o pada (umur pasien 2), (nama zat aktif) digunakan dalam dosis : (dosis) (satuan
dosis:% atau mg atau g) (aturan pakai).
o pada (umur pasien 3), (nama zat aktif) digunakan dalam dosis : (dosis) (satuan
dosis:% atau mg/kg bobot badan) (aturan pakai).
Bila dikonversikan dengan bobot badan (orang/anak) Indonesia pada umumnya
(... kg), dosis (nama zat aktif) yang digunakan adalah (satuan dosis % atau mg
atau g) (aturan pakai)

Usia Dosis (mg/kg BB) Bobot badan anak Dosis (mg)

− Untuk pengobatan (indikasi II),


o pada (umur pasien 1), (nama zat aktif) digunakan dalam dosis : (dosis)
(satuan dosis:% atau mg atau g) (aturan pakai).
o pada (umur pasien 2), (nama zat aktif) digunakan dalam dosis : (dosis)
(satuan dosis:% atau mg atau g) (aturan pakai).
o pada (umur pasien 3), (nama zat aktif) digunakan dalam dosis : (dosis)
(satuan dosis:% atau mg/kg bobot badan) (aturan pakai).
Bila dikonversikan dengan bobot badan (orang/anak) Indonesia pada umumnya (...
kg), dosis (nama zat aktif) yang digunakan adalah (satuan dosis % atau mg atau g)
(aturan pakai)

Usia Dosis (mg/kg BB) Bobot badan anak Dosis (mg)

6
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

- dst
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI hal …; Drug Fact, hal … Ukuran
dan Bobot Badan …., dan pustaka lain)

2.9. Cara Pakai (UTAMA :AHFS, DRUG FACT, USPDI. ALTERNATIF :


MARTINDALE, PDR)
Tuliskan frekuensi pemakaian, waktu pemakaian dan bagaimana cara pemakaiannya.
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
HARUS DITULIS SEJELAS MUNGKIN
(Shortcut: MIMS pre and Post prandial)
(nama zat aktif) di (minum, oleskan, suntikan) pada (perut kosong, ... jam setelah/
sebelum makan, sebelum tidur, pagi hari, dll)
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI hal …; Drug Fact, hal … dan pustaka
lain)

2.10. Efek Samping (UTAMA :AHFS, DRUG FACT, USPDI. ALTERNATIF :


MARTINDALE, LANGE)
Efek samping adalah efek yang menyertai efek utama, kadang masih bisa ditoleransi,
berada pada rentang pemakaian (dosis terapi)
Biasanya ada efek samping yang sering dijumpai dan jarang dijumpai. Untuk brosur,
tulis yang sering dijumpai saja.
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
Efek samping yang dapat muncul selama penggunaan (nama zat aktif) antara lain:
(Efek samping utama, dari text book, biasanya yang utama)
- (Sistem organ 1): (efek-efek)
- (Sistem organ 2): (efek-efek)
- Dst
(Efek samping yang jarang)
- (Sistem organ 3): (efek-efek)
- (Sistem organ 4): (efek-efek)
- Dst
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI hal …; Drug Fact, hal … dan
pustaka lain

2.11. Toksisitas (UTAMA :AHFS, DRUG FACT, USPDI. ALTERNATIF :


MARTINDALE, LANGE)
Efek yang tidak dapat ditoleransi. Muncul pada penggunaan di atas dosis terapi.
Toksisitas dari penggunaan (nama zat aktif), dapat muncul pada dosis (dosis toksik)
dengan gejala:
- (Sistem organ 1): (efek-efek)
- (Sistem organ 2): (efek-efek)
- Dst
Penanganan yang dapat dilakukan bila terjadi toksisitas (nama zat aktif) adalah:
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI 2007 hal …; Drug Fact, hal … dan
pustaka lain)

7
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

2.12. Interaksi Obat (Utama : Drug Interaction Stockley, AHFS . Alternatif : Interaks
Obat Harkness)
Cari interaksi obat dengan bahan lain yang umumnya terjadi.
Contoh:
Dalam dosis terapi, kloramfenikol dapat menghambat biotransformasi tolbutamid,
fenioin, dikumarol dan obat lain yang dimetabolisme oleh enzim mikrosom hepar,
dengan demikian toksisitas obat akan lebih besar jika diberikan dengan
kloramfenikol.
(interaksi obat dengan bahan lain yang umum terjadi Saja. Maksudnya cari yang
kemungkinan zat aktif berinteraksi dengan bahan tersebut besar karena mungkin
dipakai bersamaan dengan zat aktif dalam sediaan atau pada saat penggunaan)
Di buku Stockley, tercantum banyak sekali interaksi obat kita dengan obat lain. Pilih
dengan tahapan :
1. Pilih interaksi antara obat kita dengan obat lain yang paling beresiko fatal, misal
antara obat kita dengan obat antagonisnya, yang bisa mengurangi efek farmakologi
atau menimbulkan efek toksik
2. Pilih interaksi antara obat kita dengan obat lain yang sering digunakan, misal
obat kita dengan antasida,
3. Tulis secara singkat, misal : teofilin + antasida Æ absorpsi teofilin dihambat
4. Hati-hati banyak interaksi palsu, setelah dibaca, diakhir ada kata otherwise not
significant dan semacamnya, jangan ditulis
(AHFS’08, GG, Drug interaction Stockley)

- (nama zat aktif) dengan (obat/makanan 1) Æ (efek interaksi obat).


Oleh karena itu pemakaiannya dianjurkan untuk dipisah dengan jarak waktu .... jam.
- (nama zat aktif) dengan (obat/makanan 2) Æ (efek interaksi obat).
Oleh karena itu pemakaiannya dianjurkan untuk dipisah dengan jarak waktu .... jam.
- dst
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI hal …; Drug Fact, hal … dan
pustaka lain)

2.13. Penggunaan pada Kondisi Khusus (Utama : Drug Interaction Stockley, AHFS .
Alternatif : Interaks Obat Harkness)
Misalnya penggunaan pada saat hamil, penggunaan pada pasien geriatri, pediatri, dll.
- Penyakit ginjal
- Penyakit hati
- Wanita hamil
- Wanita/ pria yang berencana memiliki keturunan
- Ibu menyusui
- Anak
- Bayi
- Geriatri
- dll
- Penggunaan (nama zat aktif) pada (kondisi khusus 1) dapat menyebabkan .........
.Oleh karena itu
o (nama zat aktif) tidak boleh digunakan pada (kondisi khusus 1).
o Penggunaan (nama zat aktif) tidak dianjurkan, kecuali (telah dikaji rasio
resiko dan manfaat pengobatan/ obat lain tidak efektif atau dikontra-
indikasikan/ atas petunjuk dokter/ di bawah pengawasan dokter)
- Penggunaan (nama zat aktif) pada (kondisi khusus 2) dapat menyebabkan .........

8
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

. Oleh karena itu


o (nama zat aktif) tidak boleh digunakan pada (kondisi khusus 2).
o Penggunaan (nama zat aktif) tidak dianjurkan, kecuali ... (telah dikaji
rasio resiko dan manfaat pengobatan/ obat lain tidak efektif atau
dikontra-indikasikan/ atas petunjuk dokter/ di bawah pengawasan
dokter)
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI hal …; Drug Fact, hal … dan pustaka
lain)
PERINGATAN
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
Lihat penggunaan pd kondisi khusus: gunakan kata-kata: tidak dianjurkan, dengan
peringatan, tidak boleh mengemudikan kendaraan dll
Hati-hati pada pasien (kondisi khusus), penggunaannya harus ..... (dosis dikurangi,
frekuensi dilebihkan / ....)
(AHFS 2008, hal …; GG 10/11, hal …; USPDI 2007 hal …; Drug Fact, hal … dan
pustaka lain)

2.14. Cara Penyimpanan (Utama : AHFS, USPDI. Alternatif : PDR, Martindale)


Sangat berhubungan dengan stabilitas sediaan. Misal : Simpan di tempat sejuk (kata
Bu Elin ga boleh ya, tulis suhu berapa, kalo suhu kamar tulis berapa suhunya) dan
terhindar dari cahaya.
Lihat kesesuaian dengan bentuk sediaan!
Cantumkan suhu penyimpanan jika ada
(judul soal) harus disimpan dalam wadah ...., di tempat ..... (harus/ boleh di lemari
es). Setelah (wadah dibuka/rekonstitusi), (judul soal) harus habis dalam .....
(AHFS 2008, hal …)

2.15. Contoh Obat yang Beredar Dipasaran (AHFS, USPDI, ISO, MIMS)
- (nama dagang 1)
(zat aktif, kekuatan sediaan)
- (nama dagang 2)
(zat aktif, kekuatan sediaan)
(AHFS 2008, hal …; DOI .., hal…; Informasi Spesialit Obat 2006, hal …; MIMS
Indonesia, hal: …, dll)

2.16 Analisis Farmakologi


Berdasarkan data farmakologi di atas, maka indikasi yang dipilih untuk sediaan (judul
soal) adalah ............, karena sediaan (judul soal) .......
Dosis (judul soal) yang diperlukan untuk indikasi tersebut adalah sebagai berikut:
- Dosis dewasa: ….. (% atau mg atau g), (aturan pakai)
- Dosis anak-anak: …. (% atau mg atau g atau mg/kg bobot badan), (aturan pakai)

Usia Dosis (mg/kg BB) Bobot badan anak Dosis (mg)

Bila dikonversikan dengan bobot badan (orang/anak) Indonesia pada umumnya (... kg),
dosis (nama zat aktif) yang digunakan adalah (satuan dosis % atau mg atau g) (aturan
pakai)

9
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

Untuk kemudahan penggunaan, maka dipilih kekuatan sediaan (kekuatan sediaan mg


atau g/ml atau 5 ml atau tab,dll)
Karena senyawa aktif yang akan digunakan adalah (nama zat aktif 2), maka dilakukan
konversi dosis:

- Kesetaraan: 1 g (nama zat aktif 1) ≈ ... g (nama zat aktif 2)


- atau
BM (nama zat aktif 1)= ...
BM (nama zat aktif 2)= ...
(nama zat aktif 2) = x 1 g
Kesetaraan: 1 g (nama zat aktif 1) ≈ ... g (nama zat aktif 2)

2.17 Kesimpulan
Sediaan (judul soal 2) akan dibuat dengan kekuatan sediaan (kekuatan sediaan mg atau
g/ml atau 5 ml atau tab,dll)
setara dengan (nama zat aktif 1) (kekuatan sediaan mg atau g/ml atau 5 ml atau tab,dll),
untuk indikasi penyakit ....... dengan dosis dan aturan pakai sebagai berikut:

Dosis
Dewasa: … (% atau mg atau g), … kali sehari. Dosis sehari tidak lebih dari …(% atau
mg atau g)
Anak-anak:
(usia 1): … (% atau mg atau g), … kali sehari. Dosis sehari tidak lebih dari …(% atau
mg atau g)
(usia 2): … (% atau mg atau g), … kali sehari. Dosis sehari tidak lebih dari …(% atau
mg atau g)

Di (minum, dioleskan, disuntikan, dll) (… jam sebelum/sesudah makan, bersama


makanan, sebelum tidur, pagi hari, dll)

Aturan Pakai:
Dewasa: … (satuan sediaan), … kali sehari. Dosis sehari tidak lebih dari ….(satuan
sediaan)
Anak-anak
(usia 1): … (satuan sediaan), … kali sehari. Dosis sehari tidak lebih dari ….(satuan
sediaan)
(usia 2): … (satuan sediaan), … kali sehari. Dosis sehari tidak lebih dari ….(satuan
sediaan)

Di(minum, dioleskan, disuntikan, dll) (… jam sebelum/sesudah makan, bersama


makanan, sebelum tidur, pagi hari, dll)

Uraian farmakologi berisi semua keterangan sebanyak-banyaknya yang dicomot dari


pustaka, terkait dengan sediaan yang kita buat saja.
ADME jgn lupa tulis klo obat terdistribusi ke air susu dan plasenta.
Analisis farmol adalah bagaimana menganalisis data yang diperoleh menjadi sediaan yang
akan dibuat. Isinya antara lain :
− alasan untuk memilih kekuatan dosis (nilai utama, jangan sekali2 menulis karena sediaan
di pasaran begitu! Nilainya kecil. Sediaan di pasaran hanya diperkenankan sebagai bahan

10
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

pertimbangan bukan alasan utama.)


− alasan kenapa mengambil bentuk ester/base/garam
− alasan bentuk sediaan
Kesimpulan Farmakologi merupakan keputusan fix yang akan kita buat.
Bedanya dengan analisis, klo analisis itu masih berisi perhitungan dosis, menyempitkan
indikasi, dan berbagai perhitungan kasar lain.

PERMASALAHAN
• Biasanya mempermasalahkan: sirup biasanya dalam 60ml, tapi kadang ama dosis
terlalu banyak volume pemakaiannya jadi rada ga masuk akal karena 2 hari udah
abis padahal untuk indikasi tersebut perlu seminggu misalnya.
• Obat yang tidak untuk orang dewasa diberitau mengapa, contoh: tidak praktis.
• Semua yang ditulis harus ada dasar pustaka, tidak semata-mata mengikuti yang di
pasaran aja.
• Konversi dosis berdasarkan umur dan bobot ada di CODEX.
• Kalau ada dosis inisiasi dan pemeliharaan, maka pada aturan pakainya ditulis dua-
duanya. Dosis inisiasi harus berbeda (mana yg lebih kecil?) daripada dosis
pemeliharaan, kalo sama cukup ditulis dosis sekian mg.
• Aturan pakai ditulis setelah dikonversi ke kekuatan sediaan.
• Konversi dosis utk yang IU aktivitas, bukan mg. harus dicari konversinya (di
mana?)
• Untuk garam, liat di tubuh yang diabsorbsi bentuk apanya, itu nanti yang dibikin
di farmol yang bagian absorbsi.
• Istilah kedokteran untuk obat keras ada yang tidak harus diterjemahkan ke bahasa
Indonesia.
• Kalau antibiotik yang bukan sintetik harus ada potensi antibiotiknya. Setengah
sintetik biasanya juga ada potensinya.
• Farmakologi bukunya cukup 2 tidak apa-apa, mengambil keputusan asal ada dasar
pustaka tidak apa-apa. Pahami benar artinya. Jangan sampai salah
menerjemahkan.
• Jika zat aktif yang diperoleh biasanya dikombinasi dengan obat lain, maka perlu
dicantumkan pada tinjauan pustaka dan cara pakai, contoh: INH dianjurkan
digunakan bersamaan dengan vit B6
• Untuk sediaan sirup rekonstitusi perlu dicantumkan tanggal kadarluarsa bentuk
kering dan setelah direkonstitusi.
• Untuk obat antiinfeksi, pada perhitungan dosis lebih baik dibulatkan ke atas untuk
menghindari resistensi. Contoh: apabila berdasarkan perhitungan usia/BB maka
digunakan 1 1/3 tablet, lebih baik dinaikkan menjadi 1,5 tablet.
• Untuk injeksi, pada cara pemakaian sudah dalam miliLiter, bukan miligram. Bila
diinjeksikan ke dalam infus maka ditulis berapa tetes per menit.

11
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

PERHITUNGAN DOSIS

Rules for Approximate Doses for Infants and Children (Remmington The Science &
Practise of Pharmacy edisi 21, hlmn116)

1. Young’s Rule (untuk anak-anak ≥ 2 tahun)


age
Child ' s dose(approx ) = x adult dose
age + 12
2. Clark ’s Rule
weight (lb)
Child ' s dose (approx) = x Adult dose ;1 kg = 2,2 lb
150

3. Fried’s Rule (untuk infant hingga 2 thn)


age (months)
Child's dose (approx) = x Adult dose
150

4. the square meter surface area method


Body Surface Area of a child
Child's dose = x adult dose
Body Surface area of adult
Luas permukaan tubuh rata2 dewasa = 1,73 m2

Contoh soal: dosis obat 0,5 mg/ kg BB/24 jam. Berapa gram obat untuk 33-lb infant yang
harus diterimanya per 24 jam dan per minggu?
Jawab: 1g x 0,5mg x 1kg x33lbx 24 jam = 0,00750 g
1000mg kgx 24 jam 2,2lb
0,00750 g 7 days
x x1week = 0,0525 g
day week

Konversi usia dan bobot badan untuk perhitungan dosis

The percentage methode for calculation of pediatric doses Æ bule

Age Ideal body - weight Height Body surface m2 Percentage of adult dose
kg lb cm in
New born * 3.4 7.5 50 20 0.23 12.5
1 month * 4.2 9 55 22 0.26 14.5
3 month * 5.6 12 59 23 0.32 18
6 month 7.7 17 67 26 0.40 22
1 year 10 22 76 30 0.47 25
3 year 14 31 94 37 0.62 33
5 year 18 40 108 42 0.73 40
7 year 23 51 120 47 0.88 50
12 year 37 81 148 58 1.25 75
Adult

12
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

Male 68 150 173 68 1.8 100


Female 56 123 168 64 1.6 100
* : The pigires relate to full term and not preterm infants who may need
reduced dosage according to their clinical condition.
(TPC p. 435)

Contoh Uraian dan Analisis Farmakologi


Sediaan Topikal

Salep Mata Oksitetrasiklin


10 tube @ 5 g

2.1 Nama Obat dan Sinonim

• Nama Kimia : 4-(dimetilamino)-1,4,4a,5,5a,6,11,12a-oktahidro-3,5,6,10,12,12a-


heksahidroksi-6-metil-1,11-diokso-2-naftasenakarboksamida
monohidroklorida
(FI IV hal 640)
• Oksitetrasiklin adalah golongan antibakteri yang merupakan antibiotik derivat
tetrasiklin yang diperoleh dari Streptomyces
(AHFS 2005 hal 456)
2.2 Bentuk Senyawa Zat Aktif
Bentuk senyawa aktif yang akan digunakan dalam sediaan salep mata oksitetrasiklin
adalah oksitetrasiklin dalam bentuk garamnya, yaitu oksitetrasiklin HCl.

2.3 Mekanisme Kerja Obat


Oksitetrasiklin mempunyai efek kerja yang mirip dengan tetrasiklin
a. efek farmakologi
Oksitetrasiklin merupakan antibiotik tetrasiklin yang mempunyai aktivitas
farmakologi sebagai antimikroba dengan spektrum luas terhadap bakteri gram positif
aerob dan anaerob serta bakteri gram negatif. Juga efektif terhadap beberapa
mikroorganisme yang resisten terhadap zat antimikroba yang aktif terhadap dinding
sel seperti Ricketsia, Chlamydia, Mycoplasma, Spyrochetes. Golongan Tetrasiklin
tidak efektip melawan jamur dan virus
(GG ed. 10 hal 1240, AHFS 2005 hal 2656)
b. mekanisme kerja
Oksitetrasilin adalah zat bakteriostatik berspektrum luas yang bekerja dengan cara
membalik ikatan aminoacyl t-RNA kepada m-RNA kompleks ribosom terutama pada
ribosom sub-unit 30S dan organisme yang rentan. Sintesis dinding sel bakteri tidak
dihambat
(USP-DI 1997 hal 2810)
Golongan tetrasiklin masuk ke dalam bakteri gram negatif dengan cara difusi pasif
melalui jembatan hidrofilik yang dibentuk oleh protein purin dari membran sel bagian
luar dan transpor aktif melalui sistem energi bebas yang membuat oksitetrasiklin
menyebrangi membran sitopalsma. Walaupun demikian permeasi obat ini ke dalam
bakteri gram positif belum diketahui dengan jelas. Permeasi ini juga membutuhkan
sistem yang tergantung pada energi.

13
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

(GG 10th hal 1241)


2.4 Nasib Obat dalam Tubuh (Farmakokinetika)
Sediaan yang akan dibuat adalah salep mata oksitetrasiklin. Penggunaan sediaan
langsung ditujukan pada bagian mata dengan cara mengoleskan salep pada mata dengan
cara dan metode yang sesuai. Oleh karena itu data-data farmakoknetik seperti :
a. Absorpsi
b. Distribusi
c. Metabolisme
d. Eliminasi
Tidak begitu diperhatikan karena pada dasarnya sediaan salep yang akan dibuat tidak
diharapkan untuk diabsorpsi secara sistemik. Berdasarkan pustaka AHFS, GG, dan USP-
DI tidak ditemukan data dan mekanisme absorpsi oksitetrasiklin melalui mata.
Tetapi pada sediaan oral oksitetrasiklin dimetabolisme di hati, dikeskresikan terutama,
melalui urine dan feses, 70% tidak diubah.

(USP-DI 1996 hal 2825, Drug facts 2175)


2.5 Indikasi dan Dasar Pemilihannya
Salep Mata oksitetrasiklin diindikasikan untuk pengobatan:
a. infeksi okular superfisial yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus,
Streptococcus pyrogenes dan S. Pnemoniae, Neisseria gonorrhoeae, S. E.Coli,
Bacillus Antraxis
b. Infeksi karena Chlamydia
c. Profilaksis opthalmic neonatum.
(AHFS 2005 hal 2625,USP-DI hal 2807)
2.6 Kontraindikasi dan Alasannya
Oksitetrasiklin tidak bisa digunakan pada penderita yang sensitif terhadap tetrasiklin
(hipersensitivitas terhadap tetrasiklin)
(USP-DI 1997 hal 2810)
2.7 Dosis dan aturan pakai
Tidak ditentukan aturan dosis untuk penggunaan salep oksitetrasiklinHCl. Pada pustaka
hanya dijelaskan aturan dosis hanya digunakan pada sediaan oral dan injeksi
Dosis Oksitetrasiklin untuk sediaan salep mata mengikuti aturan dosis pada sediaan
salep mata tetrasiklin
Untuk infeksi okular topikal, pada konjungtiva
• dewasa dan remaja: salep dioleskan tipis setiap 2 – 4 jam atau lebih sering dengan
kekuatan 1%
• anak-anak: sama dengan dosis dewasa
catatan: Pada sediaan topikal umumnya dosis tidak terlalu berpengaruh
Jika sediaan oral ditambahkan perhitungan dosisnya, konversi dll.

(AHFS’05 hal 457, USP-DI 97 hal 2808, John Hopkins hal 1025)
2.8 Efek Samping
• Reaksi hipersensitivitas
• Meningkatkan pengeluaran air mata
• Rasa panas atau menyengat
• Sensasi asing pada pemberian tertentu sediaan obat mata yang mengandung tetrasiklin
(AHFS’05 hal 2656, John Hopkins hal 1028)
2.9 Toksisitas
Golongan tetrasiklin memiliki toksisitas yang rendah dan indeks kepekaan yang rendah
pada penggunaan secara topikal pada mata atau telinga

14
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

(AHFS’05 hal 2656)


2.10 Interaksi Obat
Salep mata oksitetrasiklin digunakan secara topikal dan dengan tujuan lokal pada mata,
diharapkan tidak ada interaksi dengan obat lain.
Berdasarkan data pustaka AHFS’05, Drug Interaction-Stockley dan Interaksi Obat-
Harkness tidak ditemukan adanya interaksi obat untuk sediaan salep mata oksitetrasiklin
2.11 Penggunaan pada Kondisi Khusus
Tidak ditemukan data pustaka mengenai penggunaan pada kondisi khusus sediaan salep
mata oksitetrasiklin HCl
(USP-DI ’05, AHFS, GG, Drug Facts, Katzung, Martindale)
2.12 Peringatan
a. Pada penggunaan efek sistemik tetrasiklin dapat menyebabkan efek: (data ini
sebenarnya tidak terlalu penting)
• Penggunaan pada ibu hamil
Tetrasiklin dapat melewati plasenta. Penggunaan tetrasiklin tidak direkomendasikan
pada saat menjelang akhir masa kehamilan karena tetrasiklin dapat menyebabkan
perubahan warna pada gigi dan menghambat masa pertumbuhan dari fetus (FDA
pregnancy kategory D)
• Ibu menyusui
Tetrasiklin didistribusikan melalui ASI. Tetrasiklin dapat membentuk kompleks
dengan kalsium pada ASI yang dapat menyebabkan perubahan pada warna gigi,
menghambat pertumbuhan reaksi protosensitivitas.
• Anak-anak
Penggunaan tetrasiklin pada anak-anak dapat menyebabkan perubahan warna gigi
b. Pada penggunaan lokal
Hati-hati penggunaan salep mata oksitetrasiklin pada orang dengan hipersensitivitas
terhadap oksitetrasiklin atau tetrasiklin.
(USP-DI ’05 hal 2810)
2.13 Cara Penyimpanan
Disimpan pada suhu di bawah 40°C (104°F), lebih baik antara 15-30°C (59-86°F),
hindari pendinginan.
(USP-DI ’97 hal 2810)
2.14 Contoh Sediaan yang Beredar di Pasaran
Nama Dagang Kandungan dan Kekuatan Sediaan
®
Sancortmycin Tiap gram salep oksitetrasiklin setara dengan 30 mg
oksitetrasiklin hidroklorida 10 mg
®
Terramycin Salep mata oksitetrasiklin HCl 1%
(Pfizer)
Terak® Akom
(AHFS’05 ’05 hal 2657, ISO ’04 hal 428)
2.15 Analisis Farmakologi
Berdasarkan data-data farmakologi yang telah diuraikan sebelumnya, maka akan dibuat
sediaan salep mata oksitetrasiklin HCl dengan kekuatan sediaan yang setara dengan 1%
oksitetrasiklin. Sediaan tersebut ditujukan untuk mengobati infeksi yang terjadi pada
permukaan mata yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus
epidermicus (S. pyrogenes), Neiseria gonorrhoeae, S. pnemoniae, E.coli dan Bacillus
anthraxis dengan cara dioleskan pada kedua mata ± 0,5 cm, 2-4 jam sekali (untuk
dewasa, remaja, dan anak-anak)

15
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

(JURNAL UJIAN “Guntur Syaiful – 90706030” Th. 2006/2007........ STATUS : LULUS)


Contoh Uraian dan Analisis Farmakologi
Sediaan Oral

II.URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI


1. Nama obat
Ketokonazol, merupakan turunan sintetik imidazol yaitu agen antijamur golongan
azol dan memiliki spektrum yang luas. Nama lain: ketokoconazolum

2. Bentuk senyawa aktif


Bentuk senyawa aktif yang digunakan adalah ketokonazol dalam bentuk base.

3. Mekanisme kerja obat


Efek antijamur: ketokonazol biasanya bekerja sebagai fungistatik, tapi dapat pula
berperan sebagai fungisidal pada konsentrasi yang tinggi setelah inkubasi yang
diperpanjang atau untuk melawan organisme yang sangat rentan. Mekanisme kerja
antijamurnya adalah dengan mempengaruhi membran seluler, sehingga menyebabkan
permeabilitas membran meningkat, mempengaruhi efek metabolisme dan
menghambat pertumbuhan. Aktivitas fungistatik ketokonazol dihasilkan dari
interfensi sintesis ergosterol via penghambatan demetilasi c-14 dari sterol intermediet
( contoh: lanosterol ). Aktivitas fungisidal ketokonazol pada konsentrasi tinggi
dihasilkan dari efek langsung fisikokimia oat pada membran sel jamur ( AHFS 2005
hal 514 ).
Efek endokrin: penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan efek ketokonazol
pada sintesis steroid pada manusia namun obat dapat menghambat secara langsung
sintesis steroid adrenal dan testoteron secara in vitro dan in vivo. Ketokonazol
menghambat sintesis steroid dengan memblok beberapa sistem enzim P-450 (contoh
11ß-hidroksilase,C-17,20-liase, enzim pemotong rantai kolesterol samping). (AHFS
2005 hal 514)
Ketokonazol menghambat sistem sitokrom yang menyebabkan 14-demetilasi pada
lanosterol, prekursor ergosterol, sehingga menginterferensi sintesis ergosterol. Efek
ini menyebabkan perubahan pada permeabilitas membran sel jamur. (AMA Drugs hal
1559)
Spektrum kerja ketokonazol: ketokonazol bekerja melawan jamur patogen,
termasuk diantaranya dermatofita. (AHFS 2005 hal 514).
Ketokonazol merupakan antijamur spektrum luas (Drug facts 60th hal 1916).
Resistensi: strain Candida albicans yang resisten terhadap ketokonazol telah diisolasi
dari pasien yang mendapatkan obat tersebut. Candida albicans yang resisten terhadap
ketokonazol dapat juga menjadi resistensi silang terhadap agen antifungi golongan
azol lainnya (contoh flukonzaol, itrakonazol) (AHFS 2005 hal 515).
Resistensi ditemukan hanya pada spesies rentan yang normal. (AMA Drugs hal 1560).
Mekanisme resistensi terhadap azol sulit untuk dimengerti. Mekanisme yang spesifik
tidak diketahui, namun isolasi yang resisten telah digambarkan dengan baik.
Meskipun strain Candida albicans dihambat oleh ketokonazol, Candida tropicalis
bersifat resisten. (Essential of Pharmacology hal 406).

4. Nasib obat dalam tubuh (ADME)


Absorpsi
Ketokonazol diabsorpsi secara cepat di saluran gastrointestinal. Setelah pemberian

16
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

secara oral, ketokonazol terlarut dalam sekresi lambung dan diubah menjadi garam
hidroklorida sebelum absorpsi dari dalam perut. Bioavaibilitas ketokonazol oral
tergantung pada pH lambung dalam perut, peningkatan pH menyebabkan absorpsi
obat menurun (AHFS 2005 hal 515)
Distribusi
Ketokonazol terdeteksi di urin, empedu, saliva, sebum, serumen, cairan sinovial, dan
CSF setelah pemberian obat single dose 200 mg secara oral pada orang dewasa. Tidak
diketahui apakah ketokonazol dapat menembus plasenta pada manusia, namun
diketahui bahwa obat dapat menembus plasenta pada tikus. Ketokonazol terdistribusi
ke cairan susu pada anjing dan mungkin terdistribusi pada cairan susu manusia.
Ketokonazol 84-99% terikat pada protein plasma, terutama albumin (AHFS 2005 hal
515).
Dalam darah,84% ketokonazol terikat pada protein plasma, terutama albumin, 15%
terikat pada eritrosit dan 1% bebas. (GG 10th hal 1302)
Metabolisme
Ketokonazol dimetabolisme sebagian di dalam hati menjadi beberapa metabolit yang
inaktif melalui oksidasi dan degradasi cincin imidazol dan piperazin, oksidasi o-
dealkilasi, dan hidroksilasi aromatik. (AHFS 2005 hal 515).
Ketokonazol dimetabolisme secara ekstensif, dan produk inaktifnya terdapat pada
feses. (GG 10th hal 1301)
Eliminasi
Rute utama eliminasi ketokonazol dan metabolitnya adalah diekskresikan ke dalam
feses via empedu. Pada suatu studi/penelitian pada manusia dewasa yang puasa
dengan fungsi ginjal normal, sekitar 57% ketokonazol dosis tunggal 200 mg
diekskresikan dalam feses dalam waktu 4 hari, 20-65% merupakan obat yang tidak
diubah. Pada penelitian yang sama, sekitar 13% dosis diekskresikan dalam urin dalam
waktu 4 hari, 2-4% merupakan obat yang tidak diubah. (AHFS 2005 hal 515).
Konsentrasi obat yang bersifat aktif dalam urin adalah sangat rendah (GG 10th hal
1301)
Ketokonazol diekskresikan sebagai metabolit dan obat yang tidak berubah terutama di
feses, beberapa diekskresikan di dalam urin (Martindale 35th hal 486)

5. Indikasi dan dasar pemilihan


Ketokonazol diberikan pada;
1. Blastomycosis yang disebabkan oleh Blastomyces dermatitides
2. Infeksi kandida Æ ketokonazol oral digunakan bervariasi pada infeksi
kandida, termasuk kandidiasis, kandiduria, mukokondidiosis kronis, kandidiasis
esofageal, kandidiasis orofaringeral, dan vulvovaginal kandidiadis
3. Kromomikosis
Ketokonazol diberikan pada pengobatan kromomikosis yang disebabkan
Phialophora spp
4. Coccidioidomycosis
Ketokonazol digunakan untuk coccidioidomycosis yang disebabkan
Coccidioides immiti
5. Histoplasmosis
Ketokonazol digunakan untuk pengobatan histoplasmosis yang disebabkan
Histoplasma capsulatum
6. Paracoccidioidomycosis
Ketokonazol digunakan untuk pengobatan paracoccidioidomycosis yang
disebabkan oleh Paracoccidioides biasiliensis.

17
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

7. Dermatophytes
Ketokonazol digunakan dan sangat efektif untuk pengobatan dermatophytosis yang
disebabkan oleh Epidermophyton, Microsporum, atau Trichophyton
8. Pityriasis ( Tinea ) versicolor
Ketokonazol sangat efektif untuk pengobatan pytiriasis ( Tinea ) versicolor
yang disebabkan oleh infeksi superfisial oleh Massezia furfur (Pityrospora
orbiculare atau P.ovale)

6. Efek samping
Efek samping yang umum terjadi adalah mual, anoreksia dan muntah, yang terjadi
pada 20% pasien yang mengkonsumsi 400 mg obat sehari (GG 10th hal 1302)
Efek pada saluran gastrointestinal: efek samping yang sering terjadi diantaranya mual
dan atau muntah. Efek pada hepatik: peningkatan konsentrasi ALT, AST, dan alkaline
fosfatase dalam serum dilaporkan terjadi selama terapi menggunakan ketokonazol.
Reaksi dermatologik dan sensitivitas: pruritus. Efek pada sistem saraf: sakit kepala,
pusing, tegang, insomnia, fotofobia, mengantuk, kelesuan (terjadi pada kurang dari
1% pasien yang mendapat ketokonazol). Efek pada kardiovaskular: hipertensi
dilaporkan terjadi pada beberapa pasien yang mendapatkan ketokonazol dosis tinggi
(400 mg setiap 6-8 jam) untuk terapi karsinoma metastatik pada prostat.

7. Kontraindikasi
Ketokonazol dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap obat
tersebut (AHFS 2005 hal 513).
Ketokonazol tidak boleh digunakan untuk menangani meningitis fungal dikarenakan
penetrasinya ke dalam CSF sangat sedikit. Tidak boleh digunakan bersamaan dengan
triazolam oral. (Drug facts 60th hal 1714).
Ketokonazol tidak boleh digunakan untuk menangani infeksi fungal pada CNS atau
saluran urin (Essential of Pharmacology hal 407).

8. Interaksi obat
a. Obat yang mempengaruhi keasaman lambung: dikarenakan keasaman lambung
dibutuhkan untuk disolusi dan absorpsi ketokonazol, pemberian obat yang
menurunkan output asam lambung atau meningkatkan pH lambung (seperti
antasida, cimetidine, ranitidine, antimuskarinik) secara bersamaan dengan
ketokonazol dapat menurunkan absorpsi agen antijamur.
b. Obat-obat hepatotoksik: dikarenakan ketokonazol dapat menyebabkan
hepatotoksisitas parah, pasien yang mendapat agen antijamur dan obat-obat
lainnya yang potensial hepatotoksik harus dimonitor secara hati-hati, terutama
pasien yang membutuhkan terapi diperpanjang atau mempunyai sejarah penyakit
hati.
c. Agen tuberkulosis: pemberian ketokonazol dan rifampin secara bersamaan dapat
menurunkan konsentrasi ketokonazol dalam serum.
d. Agen antivirus: kombinasi ketokonazol dan vidarabine menunjukkan interferensi
atau antagonisme dalam melawan virus type 1 dan 2 (HSV-1 dan HSV-2) secara
invitro.
e. Quinolon : norfloksasin meningkatkan aktivitas antijamur dari agen antifungi
(ketokonazol).
f. Cisapride: pemberian bersamaan dengan ketokonazol dapat meningkatkan
konsentrasi cisapride dalam plasma dan memperpanjang interval QT.

18
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

g. Antikoagulan kumarin: ketokonazol meningkatkan efek antikoagulan dari


kumarin
h. Cyclosporine dan Tacrolimus: pemberian bersamaan cyclosporine dan
ketokonazol dapat meningkatkan konsentrasi cyclosporine dalam plasma dan
konsentrasi kreatinin serum. Ketokonazol juga mempengaruhi metabolisme
Tacrolimus sehingga konsentrasinya dalam plasma meningkat
i. Fenitoin: pemberian bersamaan fenitoin dan ketokonazol dapat mempengaruhi
metabolisme satu atau kedua obat.
j. Teofilin: pemberian bersamaan ketokonazol dan teofilin dapat menurunkan
konsentrasi serum teofilin pada pasien dengan jumlah terbatas
k. Kortikosteroid: pemberian bersamaan ketokonazol dan metilprednisolon atau
prednisolon dapat meningkatkan konsentrasi kortikosteroid dalam plasma
l. Alkohol: dapat menyebabkan efek disulfiram, termasuk diantaranya kemerahan,
edema perifer, mual dan sakit kepala
m. Benzodiazepin: ketokonazol dapat mempengaruhi farmakokinetik midazolam atau
triazolam sehingga meningkatkan konsentrasi puncak plasma dan memperpanjang
t½ plasma benzodiazepin
n. Digoxin: ketokonazol dapat meningkatkan konsentrasi digoxin dalam plasma.
(AHFS 2005 hal 513-514, Drug facts 60th hal 1717)

9. Dosis dan aturan pakai


- dosis oral yang biasa digunakan untuk penanganan dan profilaksis infeksi jamur
adalah 200 mg sekali sehari, diberikan bersama makanan. Kemudian dapat
ditingkatkan menjadi 400 mg sehari jika respon yang mencukupi tidak diperoleh.
- Anak-anak usia 1-4 tahun: 3mg/kg sehari atau 50 mg
- Anak-anak usia 5-12 tahun: 100 mg
Pengobatan harus dilanjutkan selama 14 hari dan untuk minimal satu minggu
setelah gejala hilang dan kultur menjadi negatif
- Dosis 400 mg sekali sehari selama 5 hari digunakan untuk menangani candidiasis
vaginal kronis (Martindale 35 th hal 486)
- Ketokonazol digunakan secara topikal sebagai krim 2% untuk menangani infeksi
candidal atau dermatofita pada kulit atau untuk menangani pityriasis versicolor.
Digunakan satu atau dua kali sehari dan dilanjutkan minimal beberapa hari setelah
gejala hilang
- Shampoo mengandung 1 atau 2 % ketokonazol digunakan 2 kali seminggu selama
2 sampai 4 minggu (atau lebih) untuk menangani ketombe atau dermatitis
seborrheic (Martindale 35th hal 486)
- Dewasa: dosis inisial, 200 mg sekali sehari. Pada infeksi serius atau respon klinik
tidak mencukupi, tingkatkan dosis menjadi 400 mg sekali sehari
- Anak-anak: > 2 tahun: 3,3-6,6 mg/kg/hari sebagai dosis tunggal sehari
< 2 tahun: dosis harian belum dapat ditentukan
(AHFS 2005 hal 512, Drug facts 60th hal 1716)
- Untuk menangani blastomycosis, coccidioidomycosis atau histoplasmosis,
beberapa dokter merekomendasikan ketokonazol diberikan dalam dosis 400 mg
sekali atau dua kali sehari. Dosis 200 mg sekali atau dua kali sehari juga
digunakan untuk menangani histoplasmosis. Dosis 200-400 mg sehari
direkomendasikan untuk menangani chromomycosis, paraccocidioidomycosis,
atau kandidiasis orofaringeal dan esofageal.
- Untuk menangani dermatofitosis dibutuhkan 200-400 mg ketokonazol sehari
selama 1-2 bulan

19
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

- Untuk menangani leishmaniasis kutaneus atau mukokutaneus atau leishmaniasis


viseral dibutuhkan 400-600 mg ketokonazol sehari selama 4-8 minggu
- Untuk menangani kanker prostat, dosis ketokonazol yang dibutuhkan adalah 400
mg setiap 8 jam (AHFS 2005 hal 512)
- Dosis untuk dewasa biasanya 400 mg sekali sehari (GG 10th hal 1302)
- Lama pengobatan:
5 hari untuk candida vulvovaginitis
2 minggu untuk candida esophagitis
6-12 bulan untuk mikosis (GG 10th hal 1302)
1-4 minggu untuk candidiasis (infeksi oral dan candiduria)
6-12 bulan untuk candidiasis mukokutaneus
minimal 6 bulan untuk paracoccidioidomycosis dan histoplasmosis
6-12 bulan untuk coccidioidomycosis, chromomycosis dan blastomycosis
(AHFS 2005 hal 512)
Berdasarkan data dosis dan indikasi tersebut maka:
Dosis dewasa
1. blastomycosis, coccidioidomycosis, histoplasmosis
400 mg sekali atau dua kali sehari
2. chromomycosis, paracoccidioidomycosis, kandidiasis orofaringeal dan
kandidiasis esofageal
200-400 mg sehari.
3. dermatofitosis
200-400 mg sehari selama 1-2 bulan
4. leishmaniasis kutaneus atau leishmaniasis mukokutaneus atau leishmaniasis
viseral
400-600 mg ketokonazol sehari selama 4-8 minggu
5. kandidiasis vulvovaginitis
200-400 mg sekali sehari selama 5 hari
Dosis anak-anak:
> 2 tahun: 3,3-6,6 mg/kg bb/hari sebagai dosis tunggal sehari.
Berdasarkan tabel kalkulasi dosis untuk anak-anak (TPC hal 435)
Usia (tahun) Berat badan (kg) Dosis konversi
3 14 46,2-92,4 mg/hari
5 18 59,4-118,8 mg/hari
7 23 75,9-151,8 mg/hari
12 37 122,1-244,2 mg/hari

10. Toksisitas
Belum ada laporan tentang adanya efek toksik pada pemakaian dosis terapi tetapi
apabila terjadi overdosis perlu dilakukan pengurasan lambung dengan na-bikarbonat
(AHFS 2005 hal 514)

11. Penggunaan pada kondisi khusus


1. Pasien yang mendapat pengobatan yang diperpanjang dengan agen-agen yang
potensial hepatotoksik dan mempunyai sejarah penyakit hati harus dilakukan test
fungsi hati termasuk di dalamnya penentuan AST, ALT, alkaline phosphatase, γ-
GT, dan bilirubin. Data fungsi hati tersebut harus ada sebelum dilakukan terapi
inisiasi dengan ketokonazol dan terapi berjadwal (2 minggu selama 2 bulan
pertama terapi dan sebulan atau dua bulan setelahnya) (AHFS 2005 hal 5)

20
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

2. Ketokonazol membutuhkan keasaman untuk disolusi dan absorpsi. Jika antasid,


antikolinergik atau blocker H2 dibutuhkan, berikan 2 jam setelah pemberian
ketokonazol (Drug facts 60th hal 1716)

12. Peringatan
1. tidak dianjurkan untuk anak-anak berumur kurang dari 2 tahun
2. tidak dianjurkan pada pasien anak-anak kecuali potensi manfaat lebih besar
dari resiko (AHFS 2005 hal 513, Drug facts 60th hal 1716)
3. dikarenakan ketokonazol kemungkinan dapat terdistribusi pada cairan susu
manusia, maka tidak dianjurkan bagi ibu menyusui (AHFS 2005 hal 513, GG
10th hal 1302)
4. ketokonazol diekskresikan melalui cairan susu. Berikan pada ibu menyusui
hanya jika potensi manfaat lebih besar dari potensi resiko pada bayi(Drug
facts 60th hal 1716, GG 10th hal 1302 )
5. tidak ada penelitian yang cukup untuk wanita hamil.gunakan hanya jika
potensi manfaat lebih besar dari potensi resiko pada janin (Drug Facts 60th hal
1716)

13. Contoh sediaan di pasaran


Ketokonazol (suspensi oral); Nizoral (di Kanada)

14. Golongan obat berdasarkan undang-undang


Mengacu pada bab I.3, sediaan suspensi oral ketokonazol digolongkan ke dalam
obat keras.

15. Cara penyimpanan


Simpan dalam wadah tertutup dan terlindung dari cahaya. Simpan dalam temperatur
kamar yang terkendali. (USP 28 hal 1098).
Simpan dalam suhu kamar 15-20◦C (AHFS 2005 hal 1515)

16. Analisis farmakologi


1. Kelarutan ketokonazol dalam air adalah praktis tidak larut. Oleh karena itu
bentuk sistem dispersi partikel padat dalam fase cair.
2. Sediaan suspensi lebih ditujukan untuk anak-anak sebab pada umumnya anak-anak
sukar menerima sediaan tablet. Selain itu untuk kepraktisan dan rasionalitas
penggunaan, pasien dewasa lebih direkomendasikan untuk mengkonsumsi tablet
dibanding suspensi.
3. Berdasarkan data farmakologi, sediaan suspensi oral ketokonazol ditujukan untuk
pengobatan sistemik dengan indikasi yang dipilih sebagai berikut; blastomycosis,
kandidiasis orofaringeal, kandidiasis esofageal, kandiduria, chromomycosis,
coccidioidomycosis, histoplasmosis dan paracoccidioidomycosis.
4. Dosis untuk anak-anak mengacu pada bab III.9 tentang dosis dan aturan pakai.
5. Berdasarkan data dosis tersebut maka dipilih kekuatan sediaan 100 mg/5mL dengan
aturan pakai yang akan dijelaskan di kesimpulan farmakologi.

17. Kesimpulan farmakologi


Berdasarkan uraian farmakologi, maka akan dibuat sediaan suspensi oral
ketokonazol dengan bentuk zat aktif yang digunakan adalah bentuk ketokonazol
base.
Dipilih bentuk sediaan suspensi oral selain karena untuk pengobatan secara

21
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

sistemik juga ditujukan bagi anak-anak yang sukar menerima tablet.


Kekuatan sediaan yang akan dibuat adalah 10 mg/5 mL.
Suspensi oral ketokonazol diindikasikan untuk blastomycosis, kandidiasis
rofaringeal, kandidiasis esofageal, kandiduria, chromomycosis, coccidioidomycosis,
histoplasmosis dan paracoccidioidomycosis dengan dosis dan aturan pakai sebagai
berikut
Anak-anak
Usia 3 tahun : 46,2-92,4 mg sehari
atau ½ sendok teh sehari
Usia 5-7 tahun : 59,4-151,8 mg sehari
atau 1 sendok teh sehari
Usia 12 tahun : 122,1-244,2 mg sehari
atau 2 sendok teh sehari

kata Bu Lia suruh pake sendok takar, jangan sendok teh

INFORMASI OBAT
NATURAZOL®
Ketokonazol
Suspensi netto: 60 mL
Komposisi :
Tiap 5 mL mengandung
Ketokonazol ................ 100 mg

Mekanisme Kerja :
Mempengaruhi membran seluler sehingga menyebabkan permeabilitas meningkat,
mempengaruhi efek metabolisme dan menghambat pertumbuhan jamur.
Indikasi:
Blastomycosis, kandiduria, kandidiasis esofageal, kandidiasis orofaringeral,
chromomycosis, coccidioidomycosis, histoplasmosis, dan paracoccidioidomycosis.
Dosis dan aturan pakai :
Anak-anak
Usia 3 tahun : 46,2-92,4 mg sehari atau ½ sendok teh sehari
Usia 5-7 tahun : 59,4-151,8 mg sehari atau 1 sendok teh sehari
Usia 12 tahun : 122,1-244,2 mg sehari atau 2 sendok teh sehari
Efek samping :
- mual,muntah, anoreksia
- peningkatan konsentrasi AST, ALT, dan alkaline phosphatase dalam serum selama
terapi menggunakan ketokonazol
- efek samping yang jarang terjadi: sakit kepala, pusing, tegang, insomnia,
mengantuk, lesu.
Kontraindikasi :
- hipersensitivitas terhadap ketokonazol
- penderita meningitis fungal
- tidak boleh digunakan bersamaan dengan triazolam oral
Interaksi obat:
- pemberian bersama ketokonazol dengan obat yang menurunkan output asam lambung
atau meningkatkan pH lambung (antasida, cimetidine, ranitidine, antimuskarinik) dapat
menurunkan absorpsi ketokonazol.
- rifampin menurunkan konsentrasi ketokonazol dalam serum.

22
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

- kombinasi ketokonazol dan vidarabine menunjukkan interferensi atau antagonisme


dalam melawan virus type 1 dan 2 (HSV-1 dan HSV-2) secara invitro.
- norfloksasin meningkatkan aktivitas antijamur dari agen antifungi (ketokonazol).
- ketokonazol meningkatkan konsentrasi cisapride dalam plasma
- ketokonazol meningkatkan efek antikoagulan dari kumarin
- ketokonazol dapat meningkatkan konsentrasi cyclosporine dalam plasma
- ketokonazol meningkatkan konsentrasi kortikosteroid dan digoxin dalam plasma
Perhatian:
- tidak dianjurkan untuk anak-anak berumur kurang dari 2 tahun
- tidak dianjurkan untuk ibu menyusui dan wanita hamil
Penggunaan pada kondisi khusus:
- pasien yang mendapat pengobatan diperpanjang dengan agen-agen hepatotoksik dan
mempunyai sejarah penyakit hati harus dilakukan tes fungsi hati sebelum terapi dengan
ketokonazol.
- pasien yang mendapat pengobatan dengan antasid, antikolinergik dan bloker H2
menggunakan ketokonazol 2 jam sebelumnya.
Kemasan:
Dalam kemasan (primer) botol kaca coklat di dalam kemasan sekunder kotak.
Penyimpanan:
Simpan dalam suhu kamar 15-20◦C dan terlindung dari cahaya.

diproduksi oleh:
Naturalife no.reg:DKL 0715010133A1
no.bets: 08070310

Contoh Uraian dan Analisis Farmakologi


Sediaan Parenteral

INJEKSI ASAM ASKORBAT


10 Ampul @ 2 mL

I. TINJAUAN REGULASI
• Golongan Obat
Berdasarkan SK Menkes RI No : 633/Ph/62/b Tentang Daftar Obat No. 1 Point
(2) menyebutkan bahwa :
”Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata
dipergunakan secara parenteral, baik dengan cara suntikan maupun dengan
cara pemakaian lain dengan jalan merobek rangkaian asli dari jaringan
termasuk obat keras.”
Maka asam askorbat digolongkan kedalam obat keras yang padanya berlaku
paraturan tentang obat keras dan juga ketentuan panduan pada kemasan serta
nomor registrasi.
Berdasarkan SK Menkes RI No 02396/A/SK/VIII/86 tentang tanda khusus
obat keras. Tanda khusus obat keras adalah lingkaran berwarna merah dengan

23
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

garis tepi berwarna hitam, dengan huruf K berwarna hitam yang menyentuh
garis tepi.
• Nomor Registrasi
Nomor registrasi sediaan injeksi asam askorbat adalah :
DKL 0515009943A1
D = Nama dagang
K = Golongan Obat Keras
L = Produksi dalam negeri
05 = Tahun pendaftaran obat jadi
150 = Nomor urut pabrik di Indonesia
099 = Nomor urut obat jadi
43 = Bentuk sediaan obat jadi (injeksi)
A = Kekuatan obat jadi yang disetujui
1 = Kemasan untuk obat jadi
• Nomor Batch
Berdasarkan surat Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, nomor
batch sediaan injeksi asam askorbat adalah :
08050415
Artinya :
0805 = Bulan dan tahun pembuatan (agustus 05)
04 = Bentuk sediaan injeksi
15 = Nomor urut pembuatan/pengolahan/batch ke 15 yang dibuat

II. URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI


• Pendahuluan
Asam askorbat atau yang lebih dikenal dengan Vitamin C adalah vitamin larut
air yang terkandung dalam buah-buahan segar dan sayuran. Asam askorbat
disintesa untuk kegunaan sebagai multivitamin terutama bagi pasien yang
menalami defisiensi Vitamin C (AHFS hal 3544)
Asam askorbat adalah ketolakton 6-karbon yang strukturnya berhubungan
dengan glukosa dan heksosa lainnya (GG. Ed 10 hal 1768)
Asam askorbat dioksidasi secara reversibel dalam tubuh menjadi asam
dehidroaskorbat yang merupakan bentuk aktif dari vitamin C.
Struktur Asam Askorbat :

• Farmakodinamika
o Efek Farmakologi
Pada jaringan tubuh asam askorbat berfungsi dalam sintesis kolagen dan
senyawa organik lainnya pada matrik interseluler seperti pada jaringan
tulang, gigi dan endotolium (GG ed 10 hal 1786)
o Mekanisme Kerja
Vitamin C mempercepat perubahan prolin dan lisin pada prokolagen
menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin pada sintesis kolagen.
o Farmakokinetika
Sediaan Injeksi asam askorbat dapat digunakan untuk rute IV dan IM.
Pada rute IV, vitamin C tidak mengalami proses absorpsi. Namun pada
rute IM vitamin V diabsorpsi terlebih dahulu.
Absorpsi:

24
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

Asam askorbat cepat terabsorpsi setelah pemberian oral, tetapi absorpsi


berkembang menjadi proses aktif dan terbatas pada dosis besar. Absorpsi
akan berkurang pada penderita penyakit saluran cerna.(AHFS 2002 hal
3457)
Distribusi:
Asam askorbat terdistribusi luas dalam jaringan tubuh, vitamin C terdapat
dalam konsentrasi tinggi di hati, sel darah putih, platelet dan lensa mata.
Vitamin C dapat melintasi plasenta, konsentrasi darah embrio umumnya
2-3 kali konsentrasi dalam darah itu. (AHFS 2002, 3547)
Metabolisme:
Vitamin C dibiotransformasi di hati (USPDI hal 461). Vitamin C
dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat. Beberapa asam askorbat
dimetabolisme menjadi senyawa tidak aktif. (AHFS 2002 hal 3547)
Eliminasi :
Vitamin C dieliminasinmelalui ginjal, sangat sedikit dalam bentuk tidak
berubah (tetap vit. C) dan metabolitnya, kecuali dalam dosis tinggi.
o Indikasi
™ Sariawan(jelaskan)
™ Suplemen makanan (jelaskan)
™ Defisiensi Vitamin C (jelaskan)
o Pemilihan Indikasi
Dari data indikasi diatas, indikasi yang dipilih untuk sdiaan injeksi
vitamin C adalah Sariawan, Suplemen makanan, dan defieiensi vitamin C,
dengan dosis yang ditentukan.
• Efek samping
Vitamin C jika digunakan lebih dari 1gram /hari dapat menyebabkan diare,
iritasi lambung, pembentukan batu ginjal,..........(AHFS hal 3546) dan
(Martindale 1351 )
• Kontraindikasi
Pasien yang sensitif terhadap asam askorbat.
• Perhatian
o Diabetes militus (jelaskan)
o Defisiensi glukosa 6-fosfat dehidrogenase (jelaskan )
o Talasemia (jelaskan)
o Batu ginjal(jelaskan)
o Konsumsi dosis tinggi pada kondisi hamil, menyusui dan orang tua
• Posologi
Dosis sediaan untuk penggunaan
¾ Defisiensi (profilaksis) Vitamin C
Infus intravena sebagai nutrisi total parenteral, jumlah spesifik ditentukan
oleh kebutuhan pasien.
¾ Defisiensi (pengobatan) Vitamin C
Infus intravena sebagai nutrisi parenteral, jumlah spesifik ditentukan oleh
kebutuhan individu.
Im 100 mg-500 mg/ hari, minimal 2 minggu.
¾ Untuk mengurangi tirosinema pada bayi prematur
Oral, IM 100 mg / hari
• Sediaan yang ada di pasaran
Generik :Injeksi 50 mg/ml dalam 2 ml
100mg/ml dalam 10 ml

25
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

200mg/ml dalam 5 dan 10 ml


250 mg/ml dalam 2;10;30;50 ml
(AMA Drug 850-851)
Cevalin IM :100 mg/ml dalam 10 ml
500 mg/ml dalam 1 ml
(AMA Drug 850-851)
• Analisis Farmakologi
Berdasarkan data-data farmakologi asam askorbat, maka akan dibuat sediaan
injeksi asam askorbat dengan kekuatan sediaan 50 mg/ml dalam ampul 2 ml
dengan indikasi dosis dan aturan pakai sebagai berikut :

¾ Defisiensi Vitamin C
Dosis :
Dewasa 100 mg – 500 mg/hari minimal selama 2 minggu.
Perhitungan :
= 100 mg - 500 mg per hari
50 mg/ml 50 mg/ml
= 2 – 10 ml / hari
= 1 – 5 ampul/ hari
Bayi dan anak- anak : 100 – 300 mg/hari
= 100 mg - 300 mg per hari
50 mg/ml 50 mg/ml
= 2 – 6 ml / hari
= 1 –3 ampul/ hari
¾ Untuk mengurangi tirosenemia pada bayi prematur
Perhitungan :
= 100 mg per hari
50 mg/ml
= 2 ml / hari
= 1 ampul/ hari
¾ Aturan pakai
™ Defisiensi Vitamin C
Dewasa :
Dosis: 100 -500 mg/ hari
= 1 – 5 ampul/hari
Aturan Pakai : 1 – 2 ampul, 1- 2 kali/ hari (IM)
Bayi dan anak –anak :
Dosis 100 – 300 mg/hari
Aturan pakai : 1- 3 ampul/hari dalam dosis terbagi
™ Mengurangi Tirosinema pada Bayi Prematur
Dosis : 100 mg/ hari
Aturan Pakai 1 ampul/hari (IM)
Rute pemberian dari sediaan injeksi asam askorbat yang akan dibuat
diberikan secara intramuskular. Pemberian IM volume sediaan injeksi
yang bisa disuntikkan adalah 3 ml. (Larutan Parenteral, Goeswin Agus,
6)
Berdasarkan efek samping yang dilaporkan, pemberian injeksi asam
askorbat secara IV dalam waktu cepat dapat menyebabkan pingsan
sementara atau pusing (AHFS 2002, hal 3545), maka sediaan injeksi

26
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

asam askorbat sebaiknya tidak diberikan secara IV.


Injeksi vitamin C dapat diberikan secara IV jika diberikan dengan
pengenceran terlebih dahulu dengan cairan infus, sehingga dosis
vitamin C yang masuk ke pembuluh darah akan lebih sedikit (terjadi
pengenceran). Hal ini akan menghindari pasien dari ketidaksadaran
saat pemberian injeksi vitamin C secara IV.
Injeksi asam askorbat dapat menyebabkan nyeri sementara pada tempat
penyuntikan saat diberikan secra IM. Untuk menghindari rasa nyeri
tersebut maka pemberian injeksi vitamin C disuntikkan secara perlahan
atau bisa juga dengan penambahan anastetik lokal (benzil alkohol)
dalam formulanya.
™ Kesimpulan Farmakologi
Berdasarkan analisis farmakologi di atas, maka kekuatan sediaan
injeksi asam askorbat yang akan dibuat adalah 50mg/ml pada kemasan
ampul coklat 2 ml sebanyak 10 ampul. Berdasarkan pertimbangan
kerasionalan, indikasi, dosis dan aturan pakai maka disimpulkan :
Indikasi
1. Defisisnsi Vitamin C
Dewasa : Dosis 100 – 500 mg/ hari IM
Aturan pakai 1-2 ampul, 1 – 2 kali sehari
Bayi dan anak-anak : Dosis 100 – 300 mg hari
Aturan pakai 1 – 3 ampul perhari dalam dosis terbagi.
2. Mengurangi Tirosinema pada Bayi Prematur
Dosis 100 mg/hari
Aturan pakai 1 ampul/hari

™ Informasi Obat

CIVIT-C ®
INJEKSI INTRAMUSKULAR
NETTO 2 ML/AMPUL

Komposisi
Tiap ml injeksi CIVIT-C® mengandung :
Vitamin C ................................. 50 mg
Farmakologi
Vitamin C adalah vitamin larut air yang memiliki efek untuk menyembuhkan dan
mencegah sariawan, meningkatkan pertahanan tubuh dari infeksi.
Mekanisme Kerja
CIVIT-C® mengandung vitamin C dengan mekanisme kerja sebagai kofaktor dalam
sejumlah reaksi hidrosilasi dan amidasi dengan mentransfer elektron pada enzim yang
mempunyai ekivalen pereduksi. Vitamin C pada jaringan berfungsi untuk mensintesis
kolagen, proteoglikan, konsistuen organik lain dan matriks intraseluler dalam jaringan
gigi, tulang dan endotelium kapiler.
Indikasi
CIVIT-C® diindikasikan pada keadaan devisiensi vitamin C pada bayi, anak-anak dan
dewasa, serta pengobatan tirosinema pada bayi prematur.
Kontraindikasi
Pasien yang sensitif terhadap vitamin C.

27
KIT FARMAKOLOGI~APOTEKER ITB SEPTEMBER 2008-2009

Efek Samping
™ Vitamin C biasanya tidak menimbulkan efek toksik, tetapi kejadian mual, muntah
dan kelelahan, kemerahan kulit, sakit kepala, insomnia dilaporkan.
™ Nyeri ringan sementara di tempat penyuntikan.
™ Pasien proximal noktutrnal hemoglobinuria mengalami hemolisis setelah mencerna
vitamin C dalam dosis besar.
Interaksi Obat
™ Vitamin C dapat mengganggu absorpsi antikoagulan
™ Penggunaan vitamin C bersama aspirin akan menyebabkan penurunan ekskresi
aspirin
™ Penggunaan bersama selulosa Na fosfat akan menyebabkan metabolisme Vitamin C
menjadi okasalat yang akan menyebabkan aksalois.
™ Penggunaan vitamin C bersama salisilat akan menyebabkan peningkatan konsentrasi
vitamin C dalam plasma.
Perhatian
™ Dosis berlebih dapat menyebabkan hiperoksaluria, membentuk batu ginjal, gagal
ginjal dan pada penderita defisiensi glukosa 6-fosfat dehidrogenase akan
menyebabkan hemolisis.
™ Penggunaan lama pada dosis tinggi akan meningkatkan metabolisme vitamin C dan
jika masukan vitamin C dikurangi secara tiba-tiba terjadi sariawan.
™ Penggunaan obat ini harus hati-hati pada wanita hamil, menyusui, dan orang tua.
Dosis dan Aturan Pakai
Injeksi CIVIT-C® disuntikkan melalui rute intermuskular secara perlahan.
™ Pengobatan defisiensi Vitamin C
Dewasa :
Dosis 100 – 500 mg/hari
Aturan pakai 1 – 2 ampul, 1 – 2 kali/hari
Bayi dan anak-anak :
Dosis 100 – 300 mg.hari
Aturan pakai 1 – 3 ampul/ hari dengan dosis terbagi
™ Pengobatan Tirosinemia pada bayi prematur
Dosis 100 mg/hari
Aturan pakai 1 ampul perhari
Penyimpanan
Simpan pada suhu 15-30oC. Lindungi dari cahaya dan pendinginan.
Kemasan
Dalam kotak berisi 10 ampul coklat @ 2 ml

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

No. Reg DKL 0515009943 A1


CIFARMA
Bandung- Indonesia

28