Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teori

1. Pengertian Apendiksitis

Apendiks adalah umbai kecil menyerupai jari yang menempel pada sekum

tepat dibawah katup ileosekal. Karena pengosongan isi apendiks kedalam

kolon tidak efektif dan ukuran lumennya kecil, apendiks mudah tersumbat dan

rentan terinfeksi (apendisitis) (Brunner & Suddarth, 2013).

Apendisitis adalah keradangan dari apendiks (Prof. Sudaryat Suraatmaja,

dr., SpAK, 2010). Apendisitis, inflamasi apendiks vermiformis, merupakan

penyebab umum nyeri abdomen akut. Apendisitis merupakan alasan tersering

untuk pembedahan abdomen darurat, dialami oleh 10% dari seluruh populasi

(McPhee et al., 2008). Apendiks dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih

sering dialami oleh remaja dan dewasa muda dan sedikit lebih sering terjadi

pada pria dibanding wanita.

2. Etiologi Apendektomi

Indikasi apendiktomi, yaitu:

a. Apendisitis akut.

b. Apendisitis kronik

c. Peri appendicular infiltrate dalam stadiu tenang (a-Froid)

d. Appendiks terbawa pada laparatomi operasi VU.

e. Appendisitis perforasi.
3. Klasifikasi Apendektomi

4. Anatomi Apendisitis

Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira

10cm (kisaran 3- 15cm), dan berpangkal di caecum. Lumennya sempit di

bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi,

apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah

ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden appendicitis

pada usia itu. Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu

memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada

panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apendiks

terletak retroperitoneal, yaitu di belakang caecum, di belakang colon

ascendens, atau di tepi lateral colon ascendens. Gejala klinis apendisitis

ditentukan oleh letak apendiks. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang

n.vagus yang mengikuti a.mesenterica superior dan a.apendikularis, sedangkan

persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral

pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus. Pendarahan apendiks berasal

dari a.apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini

tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi apendiks akan mengalami

gangren.
Gambar 1.1 (Posisi Apendiks)

5. Fisiologi Apendisitis

Apendiks menghasilkan lendir 1-2ml per hari. Lendir itu

normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.

Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada

pathogenesis apendisitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh

GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran

cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai

pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak

mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfoid disini kecil

sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh

tubuh.

6. Patofisiologi

Obstruksi lumen proksimal apendisk jelas terlihat pada sebagian

besar apendiks yang mengalami inflamasi akut. Obstruksi sering kali

disebabkan oleh fecalith, atau masa feses yang keras, Hiperplasia dari folikel

limfoid serta adanya benda asing yang masuk ke dalam apendiks. Eksudat

purulen terbentuk, semakin mendistensi apendiks.


Setelah terjadi obstruksi lumen apendiks maka tekanan di dalam

lumen akan meningkatkan karena sel mukosa mengeluarkan lendir.

Peningkatan tekanan ini akan menekan pembuluh darah sehingga perfusinya

menurun akhirnya mengakibatkan iskemia dan nekrosis. Invasi bakteri dan

infeksi dinding apendiks segera terjadi setelah dinding tersebut mengalami

ulserasi. Infiltrat-infiltrat peradangan tampak di semua lapisan dan eksudat

fibrin tertimbun di dalam lapisan serosa. Meskipun perforasi belum terjadi,

organisme-organisme biasanya dapat dibiakkan dari mukosa apendiks.nekrosis

dinding apendiks mengakibatkan perforasi dan pencemaran abdomen oleh tinja

(Priscilla LeMone., Karen M.Burke., Gerene Bauldoff,2016 ; Brunner &

Suddarth Edisi 12, 2013)

7. WOC
8. Manifestasi Klinis
a. Nyeri di kuadran kanan bawah, biasanya disertai dengan demam ringan,

mual, dan terkadang muntah, kehilangan nafsu makan kerap dijumpai

konstipasi dapat terjadi.

b. Pada titik McBurney (terletak di pertengahan antara umbilikus dan spina

anterior ilium), terasa nyeri tekan lokal dan kekakuan pada bagian bawah

otot rektus kanan.

Gambar 1.2 (Titik McBurney)

c. Nyeri pantul dapat dijumpai , lokasi apendiks menentukan kekuatan nyeri

tekan, spasme otot, dan adanya diare atau konstipasi.

d. Tanda Rovsing (muncul dengan mempalpasi kuadran kiri bawah, yang

anehnya menyebabkan nyeri di kuadran kanan bawah).

e. Jika apendiks pecah, nyeri menjadi lebih menyebar, abdomen menjadi

terdistensi akibat ileus paralitik, dan kondisi memburuk.

(Brunner & Suddarth, 2013)

9. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis
1. Pembedahan (konvensional atau laparoskopi) diindikasikan apabila

diagnosis apendisitis telah ditegakkan dan harus segera dilakukan

untuk mengurangi risiko perforasi.

2. berikan antibiotik dan cairan IV sampai pembedahan dilakukan.

3. Agen analgesik dapat diberikan setelah diagnosis ditegakkan (Brunner

& Suddarth, 2013)

b. Penatalaksanaan Keperawatan

1. Tujuan keperawatan mencakup upaya meredakan nyeri, mencegas

defisit volume cairan, menurunkan ansietas, mengatasi infeksi yang

disebkan oleh gangguan potensial atau aktual pada saluran GI,

mempertahankan integritas kulit, dan mencapai nutrisi yang optimal

2. sebelum operasi, siapkan pasien untuk menjalani pembedahan, mulai

jalur IV, berikan antibiotik, dan masukkan slang nasogastrik (bila

terbukti ada ileus paralitik). Jangan berikan enema atau laksatif (dapat

menyebabkan perforasi)

3. setalah operasi, posisikan pasien semi-fowler, berikan analgesik

narkotik sesuai program, berikan cairan oral apabila dapat dilorensi,

berikan makanan yang disukai pasien pada hari pembedahan (jika

dapat ditolensi). Jika pasien dehidrasi sebelum pembedahan, berikan

cairan IV.

4. Jika drain terpasang pada area insisi, pantau secara ketat adanya tanda-

tanda obstruksi usu halus, hemoragi sekunder, atau abses sekunder


(mis., edema, takikardi, dan peningkatan jumlah leukosit). (Brunner &

Suddarth, 2013).

10. Komplikasi

a. Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menyebabkan

peritonitis, pembetukan abses (tertampungnya materi purulen), atau

flebitis.

b. Perforasi, biasanya terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala yang

muncul antara lain demam 37,7oC atau lebih, tampilan toksik, dan nyeri

tekan atau nyeri abdomen yang terus-menerus. (Brunner & Suddarth,

2013).

11. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Laboratorium

Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis

>10.000/mm3).

b. Rongent

1) Apendicogram

Hasil positif berupa : Non-filling, partial filling, mouse tail

dan cut off.

2) Rongent abdomen

3) Pemeriksaan untra sonografi

Ditemukan bagian memanjang pata tempat yang terjadi

inflamasi pada apendiks.

4) CT-Scan
Ditemukan bagian yang menyilang dengan dengan

apendicalith serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi

serta adanya pelebaran dari sekum.

12. Appendectomy

Appendectomy adalah pembedahan untuk mengangkat

appendiks yang telah meradang (Smeltzer, 2001). Appendectomy

merupakan pengobatan yang paling baik bagi penderita appendicitis.

Teknik tindakan appendectomy ada 2 macam, yaitu open appendectomy

dan laparoscopy appendectomy. Open appendectomy yaitu dengan cara

mengiris kulit daerah McBurney sampai menembus peritoneum,

sedangkan laparoscopy appendectomy adalah tindakan yang dilakukan

dengan menggunakan alat laparoscop yang dimasukkan lewat lobang

kecil di dinding perut. Keuntungan laparoscopy appendectomy adalah

luka dinding perut lebih kecil, lama hari rawat lebih cepat, proses

pemulihan lebih cepat, dan dampak infeksi luka operasi lebih kecil

(Schwartz, et al., 1999).

13. Konsep Operasi/Pembedahan

1. Pengertian Operasi/Pembedahan

Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu

bagian tubuh (Hannock, 1999). Operasi (elektif atau kedaruratan) pada

umumnya merupakan peristiwa kompleks yang menegangkan

(Smeltzer, 2001). Perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang

mencakup tiga fase pengalaman pembedahan — praoperatif,


intraoperatif, dan pascaoperatif. Operasi (perioperatif) merupakan

tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh yang mencakup fase

praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif (postoperatif) yang pada

umumnya merupakan suatu peristiwa kompleks yang menegangkan

bagi individu yang bersangkutan.

2. Fase Operasi/Pembedahan

Seperti yang telah disebutkan di atas, menurut Long (1989)

terdapat tiga fase pembedahan yaitu :

a. Fase Praoperatif

Fase praoperatif dimulai saat keputusan untuk tindakan

pembedahan dibuat dan berakhir dengan mengirim pasien ke kamar

operasi. Lingkup kegiatan keperawatan dari pengkajian dasar pasien

melalui wawancara praoperatif di klinik, ruang dokter, atau melalui

telepon, dan dilanjutkan dengan pengkajian di tempat atau ruang

operasi. Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien yang akan

menjalani operasi merupakan salah satu peran perawat pada fase

praoperatif. Misalnya, memberikan pendidikan kesehatan mengenai

pentingnya melakukan mobilisasi dini setelah operasi pada pasien

yang akan menjalani appendectomy. Di samping itu, mengajarkan

pasien bagaimana tahap-tahap melakukan mobilisasi dini juga

merupakan hal yang penting disampaikan oleh perawat.

b. Fase Intraoperatif
Fase intraoperatif dimulai saat pasien dikirim ke ruang

operasi dan berakhir saat pasien dipndahkan ke suatu ruang untuk

pemulihan dari anestesi. Pada fase ini, lingkup tindakan keperawatan

dari mengkomunikasikan asuhan perencanaan pasien,

mengidentifikasi kegiatan keperawatan yang dianjurkan untuk hasil

yang diharapkan, dan menetapkan prioritas tindakan keperawatan.

Tindakan keperawatan disusun dalam pemikiran yang logis.

c. Fase Pascaoperatif

Fase pascaoperatif dimulai dengan mengirim pasien ke

ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut di klinik

atau di rumah. Lingkup keperawatn pada fase ini mencakup rentang

aktivitas yang luas. Pada fase pascaoperatif langsung, fokus termasuk

mengkaji efek dari agens anestesia, dan memantau fungsi vital serta

mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada

peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Salah

satu peran perawat yang mendukung proses kesembuhan pasien yaitu

dengan memberikan dorongan kepada pasien untuk melakukan

mobilisasi setelah operasi. Hal tersebut penting dilakukan karena

selain mempercepat proses kesembuhan juga dapat mencegah

komplikasi yang mungkin muncul.

3. Anestesi Spinal

Anestesi spinal merupakan tipe blok konduksi saraf yang

luas dengan memasukkan anestesia lokal ke dalam ruang


subarakhnoid di tingkat lumbal (biasanya L4 dan L5). Cara ini

mengakibatkan paralisis pada ekstremitas bawah, perineum, dan

abdomen bawah. (Smeltzer, 2001).

Sakit kepala terjadi sebagai komplikasi pascaoperatif.

Beberapa faktor terlibat dalam insiden sakit kepala, seperti ukuran

jarum spinal yang digunakan, kebocoran cairan dari spasium

subarakhnoid melalui letak pungsi, dan status hidrasi pasien. Tindakan

yang meningkatkan tekanan serebrospinal sangat membantu

menghilangkan sakit kepala. Tindakan ini mencakup menjaga agar

pasien tetap berbaring datar, tenang, dan terhidrasi dengan baik.

(Smeltzer, 2001).

B. Konsep Askep Apendeisitis

1. Pengkajian Fokus
Dalam melakukan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan

dasar utama dan hal yang penting di lakukan baik saat pasien pertama kali

masuk rumah sakit maupun selama pasien dirawat di rumah sakit.

a. Identitas Pasien

Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, status

perkawainan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan

nomor register.

b. Keluhan Utama

Keluhan yang dialami pasien Post Operasi apendisitis biasanya

nyeri pada kuadran abdomen kanan bawah hingga menjalar ke semua

bagian abdomen, mual, muntah, keringat dingin dan demam. Biasanya

nyeri di ukur menggunakan metode PQRST (Mutaqqin, 2011).

Pengkajian Teknik Pengkajian

Provoking Beberapa kasus di dapatkan bahwa pada perubahan

Incident posisi secara tiba-tiba dari berdiri atau berbaring

berubah ke posisi duduk atau melakukan pleksi pada

badan biasanya menyebabkan keluhan nyeri. Pada

Post Operasi Apendisitis akan menyebabkan nyeri

pasca operasi.

Quality of Pain Kualitas nyeri apendisitis dapat berupa nyeri kolik

ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena

aktivitas peristaltik yang meningkat. Peningkatan


peristaltik tersebut menyebabkan tekanan intaluminal

meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal

saraf yang memberikan sensasi nyeri.

Region Peradangan pada apendiks (apendisitis)

menyebabkan keluhan nyeri yang luar biasa, nyeri

akan menyebar ke seluruh abdomen. Pasien biasanya

banyak berkeringat karena menahan nyeri yang

sangat hebat. Nyeri yang berasal dari perut kuadran

kanan bawah yang diakibatkan dari sumbatan

kotoran (feces) yang membusuk sehinggak

tumbuhnya bakteri yang menimbulkan apendisitis.

Scale Pasien bisa ditanya dengan menggunakan rentang 0-

10 dan pasien akan menilai seberapa nyeri yang

dirasakan.

0-3 = Nyeri ringan

4-6 = Nyeri sedang

7-9 = Nyeri hebat

10 = Nyeri sangat hebat / tak tertahan

Time Tanyakan apakah gejala-gejala timbul secara terus

menerus atau hilang timbul (intermiten). Tanyakan

apa yang sedang dilakukan pasien saat waktu gejala

timbul. Lama timbulnya (durasi)., tentukan kapan

gejala tersebut pertama kali timbul.


c. Riwayat Kesehatan

1) Riwayat Penyakit Sekarang

Nyeri insisi biasanya ditemukan keluhan nyeri pasca operasi

dimana pasien mengatakan nyeri pada abdomen kuadran kanan

bawah, pasien terlihat cemas dan berkeringat dingin, mual, muntah

dan suhu tubuh meningkat.

2) Riwayat Penyakit Terdahulu

Kaji riwayat penyakit yang pernah dialami oleh klien, seperti

operasi sebelumnya,penyakit genetik seperti Hipertensi, DM, Kanker,

Jantung dan lain-lain yang dapat mempengaruhi atau memperparah

keadaan saat operasi.

3) Riwayat Penyakit Keluarga

Gambaran kesehatan keluarga, apakah ada riwayat keluarga yang

menderita apendisitis serta penyakit lain dari orang tua yang

mempengaruhi proses penyembuhan pasca operasi seperti Diabes

Melitus, kelainan darah (hemofilia).

4) Riwayat Psikososial

Bagaimana hubungan dengan keluatga, teman sebaya dan

bagaimana perawat secara umum. Pengkajian psikologi pasien

meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk

memperoleh pesepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif dan

perilaku pasien.
5) Pemeriksaan Fisik

a. Penampilan Umum

Penampilan Umum klien setelah dilakukan pembedahan biasanya

tampak lemah, gelisah, meringis ( Doengoes, 2000).

b. Pemeriksaan Fisik Persistem

(1) Sistem Pernafasan

Pemeriksaan fisik sistem pernafasan meliputi : kepatenan

jalan nafas, kedalam, frekuensi dan karakter pernafasan, sifat

dan bunyi nafas merupakan hal yang harus dikaji pada klien

dengan pasca operasi. Pernafasan cepat dan pendek sering

terjadi mungkin akibat nyeri. Pernafasan yang bising karena

obstruksi oleh lidah dan auskultasi dada didapatkan bunyi

krekels.

(2) Sistem Kardiovaskuler

Pada klien post op biasanya ditemukan tanda-tanda syok

seperti takikardi, berkeringat, pucat, hipotensi dan penurunan

suhu tubuh.

(3) Sistem Gastrointestinal

Ditemukan distemsi abdomen, kembung (penumpukan

gas), mukosa bibir kering, penurunan peristaltik usus, juga


biasa ditemukan muntah dan konstipasi akibat efek anastesi

dari pemebedahan.

(4) Sistem Perkemihan

Terjadi menurunan haluaran urine dan warna urine

menjadi pekat/gelap, terdapat distensi kandung kemis dan

retensi urine.

(5) Sistem Muskuloskeletal

Kelemahan dan kesulitan ambulasi terjadi akibat nyeri di

abdomen dan efek dari pembedahan atau anastesi sehingga

menyebabkan kekakuan otot.

(6) Sistem Neurologi

Nyeri dirasakan bervariasi, tingkat dan keparahan nyeri

post op tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi

individu serta toleransi yang ditimbulkan oleh nyeri.

(7) Sistem Integumen

Ditemukan luka akibat pembedahan di area abdomen.

Karakteristik luka tergantung pada lamanya waktu setelah

pembedahan.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post op

Apendisitis)
b. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi pasca operasi

apendisitis)

c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan nyeri post op

d. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan dan hospitaliasi

e. kerusakan integrita jaringan berhubungan dengan insisi bedah.