Anda di halaman 1dari 8

REFERAT

EPITAKSIS

Disusun oleh :
Faras Afif Berlian
1261050089

Pembimbing
dr. Bondan Herwindo, Sp. THT-KL
dr. Selvina M.R. Manurung, Sp. THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT


RSUD PASAR MINGGU
PERIODE 28 AGUSTUS – 30 SEPTEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN

Nama mahasiswa : Faras Afif Berlian


Bagian : Kepaniteraan Klinik Ilmu THT RSUD Pasar Minggu
Periode : Periode 28 Agustus – 30 September 2017
Judul : Epitaksis
Pembimbing : dr. Bondan Herwindo, Sp. THT-KL
dr. Selvina M.R. Manurung, Sp. THT-KL

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal :


Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu THT
RSUD Pasar Minggu

Jakarta, September 2017

dr. Bondan Herwindo, Sp. THT-KL


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Epitaksis” sebagai salah satu tugas untuk
melengkapi Program Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia
di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu

Selama melaksanakan makalah ini, penulis mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak. Untuk itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. dr. Bondan Herwindo, Sp. THT-KL dan dr. Selvina M.R. Manurung, Sp. THT-KL
selaku pembimbing, yang telah memberikan nasihat, saran, kritik dan waktunya yang
demikian banyak untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

2. Teman-teman kepaniteraan FK UKI yang telah saling membantu satu sama lain
dalam program kepaniteraan klinik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini bukanlah tanpa kekurangan, untuk itu kritik dan saran
sangat diharapkan.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Jakarta, September 2017

Faras Afif Berlian


BAB I
PENDAHULUAN

Epitaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung, rongga hidung
atau nasofaring dan mencemaskan penderita serta para klinisi. Epitaksis bukan suatu
penyakit, melainkan gejala dari suatu kelainan yang mana hampir 90 % dapat berhenti
sendiri.
Epitaksis terbanyak dijumpai pada usia 2-10 tahun dan 50-80 tahun, sering dijumpai
pada musim dingin dan kering. Di Amerika Serikat angka kejadian epitaksis dijumpai 1 dari
7 penduduk. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara laki-laki dan wanita. Epitaksis
bagian anterior sangat umum dijumpai pada anak dan dewasa muda, sementara epitaksis
posterior sering pada orang tua dengan riwayat penyakit hipertensi dan arteriosklerosis.
Pada umumnya terdapat dua sumber perdarahan yaitu dari bagian anterior dan
bagian posterior. Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach atau dari arteri
athmoidalis anterior. Sedangkan epistakasis posterior dapat berasal dari arteri sphenopalatina
dan arteri ethmoid posterior. Kasus- kasus epistaksis kebanyakan terjadi pada daerah anterior
septum nasi, dan dapat diatasi dengan kauterisasi. Namun, epistaksis posterior lebih
memerlukan pendekatan yang lebih agresif termasuk metode posterior nasal packing dan
endoscopic cauterization.
Kebanyakan kasus epistaksis terjadi pada bagian anterior hidung, yang mana
perdarahan berasal dari anastomosis pembuluh darah arteriol di septum nasi (Pleksus
Kiesselbach). Epiktasis posterior umumnya berasal dari kavum nasal posterior melalui arteri
spenopalatina. Epistaksis anterior secara klinis dapat terlihat jelas. Sedangkan epistaksis
posterior bisa berlangsung asimptomatik atau dapat secara diam-diam mengakibatkan mual,
hematemesis, anemia, hemoptysis atau melena.
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epitaksis yaitu menghentikan perdarahan,
mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epitaksis terjadi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI HIDUNG.
Hidung terdiri dari tulang dan tulang rawan. Tulangnya: os nasale, bagian nasal os
frontalis, prosesus frontalis os maxilla. Sedangkan tulang rawannya: cartilago septum nasi,
cartilago ala nasi major, cartilago ala nasi minor, dan cartilago nasi lateralis. Hidung ke arah
kaudal dibentuk dari tulang rawan, sehingga bisa digoyang-goyang.
Hidungnya bentuknya seperti piramid. Di dalamnya ada rongga hidung, bisa masuk
ke rongga hidung melalui lubang hidung (naris). Hidung ada dinding lateral dan medial. Ada
atap dan lantai. Dinding medial hidung dibentuk tulang dan tulang rawan: dibentuk persatuan
lamina perpendicularis ossis ethmoidalis dan di bawahnya os vomer, menyatu dengan
cartilago septum nasi di depan. Tapi persatuannya tidak pernah tepat di tengah-tengah.
Dasarnya: palatum durum dan palatum molle.
Di rongga hidung ada bangunan yaitu konka nasalis. Terdapat tiga konka nasalis
yaitu konka superior, konka medius, dan konka inferior.Di bawah konka ada lekukan yang
diberi nama meatus nasi. Meatus nasi juga terdapat tiga sesuai dengan letaknya di bawah
setiap konka yaitu meatus superior, meatus medius dan meatus inferior. Di meatus nasi
bermuara sinus-sinus paranasalis. Dan yang di inferior bermuara duktus nasolakrimalis

Gambar-1: Anatomi Cavum Nasi


1. VASKULARISASI HIDUNG
Pendarahan untuk hidung berasal dari 3 sumber utama yaitu arteri etmoidalis
anterior, arteri etmoidalis posterior (cabang dari arteri oftalmika), dan arteri sfenopalatina.
Arteri etmoidalis anterior memperdarahi septum bagian superior anterior dan dinding lateral
hidung. Arteri etmoidalis posterior memperdarahi septum bagian superior posterior. Arteri
sfenopalatina terbagi menjadi arteri nasales posterolateral yang menuju ke dinding lateral
hidung dan arteri septi posterior yang menyebar pada septum nasi.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang
arteri maksilaris interna, diantaranya ialah ujung arteri palatina mayor dan arteri
sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama nervus sfenopalatina dan
memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan
hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang
arteri sfenopalatina, arteri etmoidalis anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina
mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach ( Little’s area ) yang letaknya superfisial dan
mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke vena oftalmika superior
yang berhubungan dengan sinus kavernosus.

.
Gambar-2: A.Perdarahan pada septum nasi
Gambar-3: B.perdarahan pada dinding lateral nasal.

2. INNERVASI HIDUNG
Bagian depan dan atas ronga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus
etmoidalis anteior, yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang berasal dari nervus
oftalmikus (N. V1). Rongga hidung lainnya, sebagian besarnya mendapat persarafan sensoris
dari nervus maksila melalui ganglion sfenopalatina.
Gangglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan
persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut
saraf sensoris dari nervus maksila (N. V2), serabut parasimpatis dari nervus petrosus
superfisialis mayor dan serabut saraf simpatis dari nerus petrosus profundus. Gangglion
sfenopalatina terletak di belakan dan sedikit di atas ujung posterior konka media.
Fungsi penghidu berasal dari nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina
kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel- sel
reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.
DAFTAR PUSTAKA

1. Abelson TI. Epitaksis dalam: Scaefer, SD.Rhinology and Sinus Disease Aproblem-
Oriented Aproach. St. Louis. Mosby Inc,1998: 43-9.
2. Nuty WN, Endang M. Perdarahan hidung dan gangguan penghidu, Epitaksis. Dalam:
Buku ajar imu penyakit telinga hidung tenggorok. Edisi 3. Jakarta, Balai Penerbit FK
UI, 1998: 127-31
3. Watkinson JC. Epistaxis. Dalam: Mackay IS, Bull TR. Scott – Brown’s
Otolaryngology. Volume 4 (Rhinonology). Ed. 6 th. Oxford: Butterwort - Heinemann,
1997: 1–19.
4. Iskandar M : Teknik Penatalaksanaan Epistaksis. In: Cermin Dunia Kedokteran No.
132, 2001. pp. 43-46
5.