Anda di halaman 1dari 10

VISI STIKES SARI MULIA

Kegawatdaruratan dan menghasilkan lulusan Profesional sesuai

Mikrobiologi
FUNGI
Melviani

MISI STIKES SARI MULIA


VISI PRODI

1. Melaksanakan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui dukungan Sumber


Menjadi program studi farmasiyang unggul di tahun 2025 dan
Daya Internal dan Eksternal secara Optimal serta menjalin kemitraan dengan
Institusi lain untuk mendukung pencapaian visi. mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang
2. Meningkatkan kualitas pelayanan dan PKM dalam bidang kegawatdaruratan untuk kefarmasian dengan keunggulan pada pharmaceutical care dan
menunjang program pembangunan di bidang kesehatan. berjiwa enterpreneurship
3. Menyelenggarakan pendidikan professional yang berkualitas, berkesinambungan
dan memiliki daya saing dalam kebutuhan tenaga kesehatan pada tingkat regional
Kalimantan dan Nasional.
PENDAHULUAN
MISI PRODI Jamur : organisme eukariotik (mempunyai membran inti,
ada kemiripan biokimia antara sel jamur dan sel manusia),
1. Menyelenggarakan pendidikan farmasi yang inovatif, konstruktif, kemoheterotrof, aerob atau fakultatif anaerob.
revolusioner dan terakreditasi di tingkat Nasional
2. Mengembangkan penelitian di bidang farmasi demi kemajuan
Jamur tersebar luas di alam sebagai bagian flora normal
ilmu farmasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat hewan, dekomposer material organik, dan patogen pada
3. Melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat terutama hewan dan tumbuhan
dalam pelayanan kefarmasian sebagai bentuk tanggung jawab
sosial demi meningkatan kualitas kesehatan masyarakat
Secara medis, jamur dapat menyebabkan penyakit
4. Menjalin jaringan kerjasama guna pencapaian visi bagi program mematikan pada manusia
akademik Manfaat jamur : produksi alkohol, roti, enzim, antibiotik,
dan protein rekombinan.

Morfologi Fungi Terdapat tiga macam morfologi hifa, yaitu:

Khamir (yeast) merupakan fungi bersel satu (uniseluler), Aseptat (coenocytic hypha), yaitu hifa yang tidak memiliki
tidak berfilamen, berbentuk oval atau bulat, tidak dinding sekat (septa).
berflagela, dan berukuran lebih besar dibandingkan sel Septat hifa (hifa bersekat) dengan sel-sel uninukleat. Septa
bakteri, dengan lebar berkisar 1-5 mm dan panjang membagi hifa menjadi ruang-ruang yang berisi 1 inti, dan
berkisar 5-30 mm. pada tiap sekat terdapat pori-pori yang memungkinkan
Pada kapang, tubuh kapan (thallus) dibedakan menjadi dua perpindahan inti dan sitoplasma dari satu ruang lainnya.
bagian yaitu miselium dan spora. Misellium Septa dengan ruang-ruang yang berisi lebih dari 1 inti
merupakan kumpulan beberapa filament yang disebut hifa. (multinukleat).
Bagian dari hifa yang berfungsi untuk mendapatkan nutrisi
disebut hifa vegetatif. Sedangkan bagian hifa yang berfungsi
sebagai alat reproduksi disebut hifa reproduktif atau hifa
udara
Reproduksi

Macam-macam spora aseksual : Beberapa jenis spora seksual :


1. Konidiospora (konidium) 1. Askospora
2. Sporangiospora 2. Basidiospora
3. Arthospora (oidium) 3. Zigospora
4. Klamidospora 4. Oospora,
5. Blastospora

Ciri-ciri Fungi
Badan Buah

Berupa benang tunggal / bercabang-cabang (hifa),


kumpulan hifa membentuk misellium.
Miselium
Spora Mempunyai spora.
Memproduksi spora.
Tidak mempunyai klorofil, sehingga tidak berfotosintesis.
Berkembang biak secara seksual dan aseksual.
Hifa
Tubuh berfilamen & dinding sel mengandung kitin, glukan,
selulosa dan mangan.
KLASIFIKASI Contohnya : Jamur tempe / Rhizopus orizae.

Berdasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah


yang ada selama tahap-tahap seksual dalam daur hidupnya. Ciri Umum Zygomicotina.

1. Phycomycetes
Heterotrof saprofit
2. Ascomycetes
Tubuh disusun oleh hifa dan miselium.
3. Basidiomycetes
Hifa tidak bersekat.
4. deuteromycetes
Spora dihasilkan oleh sporangium. (sporangiospora) -> aseksual
Zygospora -> seksual

Siklus Hidup Jamur Rhizopus

1
2 Contohnya : Jamur oncom / Neurospora crassa.
Melakukan Konjugasi Key
Hasil konjugasi menghasilkan
Haploid (n)
Zigospora

Ciri Umum Ascomicotina.


Heterokaryotic (n + n)

Heterotrof saprofit
Zigospora tumbuh menjadi
Zigospora dewasa

KONJUGASI
Ada yang uniseluler (mis : Saccharomyces) dan multiseluler.
Tubuh disusun oleh hifa dan miselium, dan ada yang memiliki
Hifa (+)
Hifa ( )
Rhizopus

tubuh buah.
8
Spora berkecambah

Hifa bersekat.
menjadi hifa

REPRODUCTION
SEKSUAL

Spora aseksual: konidiospora , spora seksual: askospora


Sporangium 7
Zygosporangium
Sporangium
Dewasa
memancarkan
spora.

REPRODUKSI
MEIOSIS
ASEKSUAL

Penyebaran
Spora
50 m Hifa

5 Tumbuh dan berkecambah


Membentuk sporangium seksual
Siklus Hidup Jamur Ascomicotina
Anggota Jamur Ascomicotina.
Contohnya : Neurospora Key
Haploid (1n)
Heterokaryotic (1n + 1n)
Hifa (-) Diploid (2n)

Reproduksi
Aseksual Konjugasi

Hifa (+) Sel Ascus

(a) Ascomicotina dengan tubuh buah


of Aleuria aurantia.

(b) Tubuh buah


Morchella esculenta, biasanya Inti melebur
tumbuh dekat dengan anggrek. Reproduksi Seksual

10 m

Meiosis

Sel Ascus
menghasilkan
(c) Tuber melanosporum
(d) Neurospora crassa atau spora
jamur oncom (SEM).

Contoh Anggota Jamur Basidiomicotina.


Contoh : Jamur Merang / Volvariella volvachea

Ciri Umum Basidiomicotina.

Heterotrof saprofit
Multiseluler. b. Dictyphora sp

Tubuh disusun oleh hifa dan miselium .


Hifa bersekat, hifa sekunder mempunyai 2 inti (dikarion)
Umumnya membentuk tubuh buah
Reproduksi aseksual menghasilkan konidium , Reproduksi
a. Amanita muscaria), jamur
yang sangat beracun

seksual menghasilkan basidiospora


Umumnya terdapat clamp connection (sambungan apit)

d. Puffballs memancarkan
sporanya
c. Jamur kayu, tumbuh pada kayu
Yang sudah mati
Siklus Hidup Jamur Basidiomicotina

Konjugasi

Bawah tudung jamur


Basidiomicotina inilah spora Sel Basidium
dihasilkan oleh sel basidium
Basidiocarp
Hifa (-)

Hifa (+)

Reproduksi Seksual

Sel Basidium dgn


Sel Basidium,
basidiospora
penghasil spora
Peleburan Inti
Meiosis

Key
Haploid (1n) Spora
Heterokaryotic (1n + 1n)
Diploid (2n)

Metode Identifikasi Jamur


Yaitu kelompok jamur yang belum diketahui cara reproduksi
seksualnya.
Apa langkah pertama identifikasi fungi pada specimen klinik ???
mengamati jaringan sampel di bawah mikroskop dan
Semua jamur yang belum diketahui cara reproduksi seksualnya pengecatan
dimasukkan ke dalam kelompok ini. Analisis sampel p dengan mikroskop: cepat dan murah tapi
tidak sensitif
Sampel diinokulasi pada media agar spesifik untuk
pertumbuhan fungi Banyak media dikembangkan untuk
memungkinkan pertumbuhan selektif spesies fungi
Pada media selektif, fungi berfilamen dapat diidentifikasi sampai
tingkat spesies berdasarkan morfologi, analisis makroskopik,
dan mikroskopik
Banyak spesies mempunyai hifa dan struktur konidia yang khas
Metode identifikasi
1. Metode heinriclis Metode heinriclis dengan memakai object glass, tissue basah yang di
masukkan dalam cawan dan sterilkan. Lalu meneteskan suspense
2. Metode slide culture (microculture). spora jamur dalam media cair pada media over glass yang tidak
diberi lilin. Inkubasi pada suhu maker selama 3x24 jam.
3. Metode riddel, b. Metode slide culture (microculture). Teknik ini bertujuan untuk
mengamati sel kapang dengan menumbuhkan spora pada object glass
yang ditetesi media dengan preparat ulas. Namun sering kali
Terdapat dua metode untuk memperoleh biakan murni miselium atau susunan spora menjadi pecah atau terputus sebagian
penampakkan di mikroskop dapat membingungkan. Dengan teknik
yaitu teknik cawan gores dan cawan tuang ini, spora dan miselium tumbuh langsung pada slide sehingga dapat
mengatasi masalah tersebut.
c. Metode riddel, setelah penyeterilan saboruad dextrose agar steril
di potong bentuk kubus dan diletakkan di objek glass dan diinkubasi
selama 3x24 jam taruh di preparat dan di amati (UNSOED, 2008).

Penyakit yang disebabkan oleh jamur Mikosis Subkutan

Infeksi yang disebabkan oleh jamur disebut mikosis. Infeksi jamur di bawah kulit yang disebabkan oleh jamur
Mikosis biasanya kronik (berlangsung lama) saprofitik yang hidup di tanah dan tumbuhan.
Infeksi jauh ke dalam tubuh, tidak terbatas pada area Sporotrichosis: infeksi pada petani dan pekebun. Infeksi
tertentu tapi dapat mempengaruhi beberapa jaringan dan terjadi dengan implantasi spora atau potongan miselia
organ. secara langsung ke luka di kulit.
Biasanya disebabkan oleh jamur yang hidup di tanah.
Rute transmisi: penghirupan spora(paruparu, menyebar ke
jaringan tubuh lain)
Mikosis Kutan Mikosis Superfisial

Jamur yang menginfeksi epidermis, rambut, dan kuku Jamur terlokalisasi sepanjang rambut dan
disebut dermatofit( dermatomikosis). permukaan sel epidermal.
Dermatofit mengeluarkan keratinase. Infeksi sering terjadi di iklim tropis
Infeksi dari manusia ke manusia atau hewan ke manusia
dengan kontak langsung atau kontak dengan rambut dan
sel epidermal yang terinfeksi.

Terapi Antifungi Polien

Pemilihan dan dosis agen antijamur tergantung pada Ciri ciri: cincin makrolid besar, gugus hidroksil dalam
Kesehatan pasien jumlah banyak terdistribusi pada cincin
Resistensi terhadap agen antijamur Kombinasi daerah polar dan non polar, polien
Itrakonazol bersifat amfifatik yaitu daerah hidrofilik dan
Griseofulvin hidrofobik
Ketokonazol
Fulkonazol
Polien utama: amfoterisin B dan nistatin
Vorikonazol
Terbinafin
Amfoterisin B
Caspofungin
Flusitosin
Nistatin Amfoterisin B

Mekanisme aksi = amfoterisin B Diproduksi oleh bakteri Streptomyces nodosus


Kelarutan lebih rendah dibanding amfoterisin B Aktivitas antifungi : mampu mengikat ergosterol dalam
hanya untuk infeksi topikal membran sel jamur sehingga meningkatkan
Pengobatan kandidosis oral dan vagina tapi kemudian permeabilitasmembran dengan pembentukan pori pori
diganti oleh azol Isi dalam sel fungi akan keluar dari sel melalui pori pori
tersebut
Terapi dalam waktu yang lama : kerusakan ginjal(penyakit
jamur sistemik parah)
Obat dibungkus dalam liposom: toksisitas berkurang
Aktif melawan banyak jamur patogen

Azol Mekanisme aksi azol:

Azol generasi pertama: infeksi jamur oral dan invasif Mengganggu biosintesis ergosterol dengan cara berikatan
Turunan azol dibagi menjadi imidazol dan triazol berdasar dengan 14 alfa demetilase, sehingga menghalangi
jumlah atom N dalam cincin azol (2 dan 3) pembentukan ergosterol dengan mencegah metilasi
Azol yang digunakan adalah klotrimazol,mikonazol, lanosterol (prekursor ergosterol), jumlah ergosterol
ekonazol, dan ketokonazol berkurang, membran tidak stabil, penghambatan
pertumbuhan, dan kematian sel
Obat baru: itrakonazol, flukonazol, dan orikonazol: infeksi
sistemik Penghambatan biosintesis ergosterol: senyawa intermediet
toksik yang dapat berakibat fatal pada sel
Azol mampu menghambat pertumbuhan Candida, Flukonazol (1990); water soluble, penetrasi dan deposisi
Cryptococcus, dan Aspergillus, serta dermatofit dalam paru paru bagus,konsentrasi tinggi dalam cairan
Mikonazol: azol pertama untuk infeksi fungi sistemik tapi serebrospinal dan peritoneal, aktif melawan C. albicans tapi
punya beberapa efek toksik aktivitas terbatas terhadap Aspergillus
Ketokonazol: per oral: konsentrasi dalam serum tinggi, Itrakonazol: efektif untuk pengobatan infeksi Aspergillus,
aktivitas rendah melawan aspergilosis, beberapa efek efek fungisidal dan fungistatik
samping Vorikonazol: aspergilosis paru paru dan serebral/otak

Echinocandin Agen sintetik

Lipopeptida semisintetik, Contoh: kaspofungin, mikafungin, Flusitosin: aktivitas bagus untuk khamir, aktivitas sedang
dan anidulafungin untuk spesies Aspergillus
Target: beta 1,3 glukan, polimer utama dinding sel jamur mekanisme aksi (dugaan): Mengganggu sintesis protein
Struktur dinding sel terganggu ketidakstabilan dengan menghambat sintesis DNA Kekurangan asam
osmotik sel lisis amino, mengganggu sintesis protein
Kaspofungin : Aspergillus (fungistatik) dan Candida Banyak fungi resisten terhadap flusitosin karena keturunan
(fungisidal) atau setelah paparan jangka pendek
Resistensi: perubahan enzim (sitosin deaminase) yang
dibutuhkan dalam proses flusitosin dalam sel Kombinasi
dengan amfoterisin B