Anda di halaman 1dari 2

Epidemiologi

Urolithiasis merupakan masalah kesehatan yang umum sekarang ditemukan.


Diperkirakan 10% dari semua individu dapat menderita urolitiasis selama hidupnya,
meskipun beberapa individu tidak menunjukkan gejala atau keluhan. Laki-laki lebih
sering menderita urolitiasis dibandingkan perempuan, dengan rasio 3:1. Dari segi umur,
yang memiliki risiko tinggi menderita urolitiasis adalah umur diantara 20 dan 40 tahun
(Yolanda, 2018).
Saat ini, batu saluran kemih merupakan masalah terbesar ketiga pada saluran
kemih setelah infeksi saluran kemih dan prostat yang patologis (Stoller, 2012). Batu
saluran kemih merupakan penyakit yang cukup umum ditemukan pada negara maju dan
berkembang. Meskipun prevalensi batu saluran kemih berbeda dari satu negara ke negara
lainnya di seluruh dunia, prevalensinya semakin meningkat dalam beberapa dekade
terakhir (Sun et al, 2010; Safarinejad, 2006).
Data dari Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi penyakit batu saluran kemih
di Indonesia meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Secara nasional, prevalensi
batu saluran kemih adalah 0,6%. Tertinggi pada kelompok umur 55-64 tahun (1,3%),
menurun sedikit pada kelompok umur 65-74 tahun (1,2%) dan umur ≥75 tahun (1,1%).
Prevalensinya lebih tinggi pada laki-laki (0,8%) disbanding perempuan (0,4%). Selain
prevalensinya yang terus meningkat, penyakit ini juga menghabiskan biaya yang tidak
sedikit dalam pengobatannya. Data tahun 2000 dari Amerika menunjukkan insidensi
penyakit ini berkisar antara 0,4-1% dengan prevalensi 10-12% dan telah menghabiskan
biaya US$ 2,1 Miliar setiap tahunnya (Pearle et al, 2005).
Penyakit ini sering terjadi pada seseorang dengan usia di atas decade ketiga dan
keempat serta lebih banyak menyerang pria (Pinduli et al, 2006). Perkembangan
kebudayaan westernisasi di seluruh dunia menyebabkan lokasi batu saluran kemih yang
umumnya hanya terdapat di saluran kemih bagian bawah kini juga terdapat saluran kemih
bagian atas (Pearle dan Lotan, 2011). Menurut penelitian terdahulu, prevalensi batu
saluran kemih pada populasi pria lebih banyak 1,5-3 kali dibanding populasi wanita.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan telah terjadi perubahan prevalensi dengan
perbandingan pria hamper sama dengan wanita (Muslumanoglu et al, 2011). Perubahan
distribusi gender ini disebabkan karena adanya peningkatan indeks masa tubuh pada
wanita dibandingkan pria (Ekeruo et al., 2004).

Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan atas kandungan unsur yang
menyusun batu saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu, pada umumnya
pencegaha itu berupa: (1) menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakan
produksi urine sebanyak 2-3 liter per hari (2) diet untuk mengurangi kadar zat-zat
komponen pembentuk batu (3) aktivitas harian yang cukup, dan (4) pemberian
medikamentosa.
Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah: (1) rendah
protein karena protein akan memacu ekskresi kalsium urin dan menyebabkan suasana
urine menjadi lebih asam, (2) rendah oksalat, (3) rendah garam karena natriuresis akan
memacu timbulnya hiperkalsiuri, dan (4) rendah purin. Diet rendah kalsium tidak
dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperkalsiuri absorbtif tipe II (Purnomo,
2003).

Purnomo Basuki B. 2003. Dasar Dasar Urologi. Ed 2. Jakarta: Sagung Seto.

Yolanda S. What is Urolithiasis. News Medical Life Sciences. Accessed Jan. 16, 2018.