Anda di halaman 1dari 20

A.

Definisi
Inkontinensia didefinisikan sebagai berkemih ( defekasi ) di luar kesadaran, pada waktu
dan tempat yang tidak tepat, dan menyebabkan masalah kebersihan atau social ( Watson,
1991 ). Terdapat dua aspek social yang sangat penting dalam definisi inkontinensia ini.
Inkontinensia yang diderita oleh klien mungkin tidak menimbulkan sejumlah masalah yang
nyata bagi teman atau keluarganya. Aspek social yang lain yaitu adanya konsekuensi yang
ditimbulkan inkontinensia terhadap individu yang mengalminya, antara lain klien akan
kehilangan harga diri, juga merasa terisolasi dan depresi.
Faktor yang berkonstribusi terhadap perkembangan inkontinensia adalah factor fisiologis
dan psikologis. Faktor psikologis dapat mencakup depresi dan apatis, yang dapat meperberat
kondisi sehingga sulit untuk mengatasi masalah kearah normal. Beberapa kondisi psikiatrik
dan kerusakan otak organic seperti demensia, dapat juga menyebabkan inkontinensia. Faktor
anatomis dan fisiologis dapat mencakup kerusakan saraf spinal, yang menghancurkan
mekanisme normal untuk berkemih dan rasa ingin menghentikannya. Penglihatan yang
kurang jelas, infeksi saluran perkemihan, dan medikasi tertentu seperti diuretic juga
berhubungan dengan inkontinensia. Selain itu, wnaita yang melahirkan dan laki – laki dengan
protatism, cenderung mengalami kerusakan kandung kemih yang dapat menyebabkan
inkotinansia, akibat trauma atau pembedahan.

B. Etiologi
Terdapat sejumlah alasan terjadinya inkontinensia, baik yang disebabkan oleh semua
factor diatas maupun masalah klinis yang berhubungan. Alasan utama pada lansia adalah
adanya “ ketidakstabilan kandung kemih “. Beberapa kerusakan persyarafan mengakibatkan
sesorang tidak mampu mencegah kontraksi otot kandung kemih secara efektif ( otot
detrusor ) dan mungkin juga dipersulit oleh masalah lain, seperti keterbatasan gerak atau
konfusi. Keinginan untuk miksi datang sangat cepat dan sangat mendesak pada seseorang
sehingga penderita tidak sempat pergi ke toilet, akibatnya terjadi inkontinensia, kejadian yang
sama mungkin dialami pada saat tidur.
Pada wanita, kelemahan otot spingter pada outlet sampai kandung kemih seringkali
disebabkan oleh kelahiran multiple sehingga pengeluaran urine dari kandung kemih tidak
mampu dicegah selama masa peningkatan tekanan pada kandung kemih. Adanya tekanan di
dalam abdomen, seperti bersin, batuk, atau saat latihan juga merupakan factor konstribusi.
Pembesaran kelenjar prostat pada pria adalah penyabab yang paling umum terjadinya
obstruksi aliran urine dari kandung kemih. Kondisi ini menyebabkan inkontinensia karena
adanya mekanisme overflow. Namun, inkontinensia ini dapat juga disebabkan oleh adanya
obstruksi yang berakibat konstipasi dan juga adanya massa maligna ( cancer ) dalam pelvis
yang dialami oleh pria dan wanita. Akibat dari obstruksi, tonus kandung kemih akan
menghilang sehingga disebut kandung kemih atonik. Kandung kemih yang kondisinya penuh
gagal berkontraksi, akan tetapi kemudian menyebabkan overflow, sehingga terjadi
inkontinensia.
Apapun penyebabnya, inkontinensia dapat terjadi saat tekanan urine di dalam kandung
kemih menguasai kemampuan otot spingter internal dan eksternal ( yang berturut – turut baik
secara sadar maupun tidak sadar ) untuk menahan urine, tetap berada dalam kandung kemih

C. Patofisiologi
Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi
saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen
secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau
bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat
berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada
pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.

Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan rangkaian


koordinasi proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 fase. Pada
keadaan normal selama fase pengisian tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung
kemih penuh atau tekanan intra-abdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat
atau kencing dan peningkatan isi kandung kemih memperbesar keinginan ini. Pada keadaan
normal, dalam hal demikian pun tidak terjadi kebocoran di luar kesadaran. Pada fase
pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat
mempercepat atau memperlambat miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa
dipengaruhi kuatnya rasa ingin kencing. Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase
pengisian otot kandung kemih tetap kendor sehingga meskipun volume kandung kemih
meningkat, tekanan di dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang
merupakan mekanisme penutupan selalu dalam keadaan tegang. Dengan demikian maka
uretra tetap tertutup. Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena
kontraksi aktif otot-ototnya, sementara terjadi pengendoran mekanisme penutup di dalam
uretra. Uretra membuka dan urine memancar keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot
kandung kemih dan uretra, baik semasa fase pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran.
Pada kedua fase itu urine tidak boleh mengalir balik ke dalam ureter (refluks).
Proses berkemih normal melibatkan mekanisme dikendalikan dan tanpa
kendali. Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada dibawah control volunter dan
disuplai oleh saraf pudenda, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra
internal berada di bawah kontrol sistem safar otonom,yang mungkin dimodulasi oleh korteks
otak. Kandung kemih terdiri atas 4 lapisan, yakni lapisan serosa, lapisan otot detrusor, lapisan
submukosa dan lapisanmukosa. Ketika otot detrusor berelaksasi, pengisian kandung kemih
terjadi dan bila otot kandung kemih berkontraksi pengosongan kandung kemih atau proses
berkemih berlangsung. otot detrusor adalah otot kontraktil yang terdiri atas beberapa lapisan
kandung kemih. Mekanisme detrusor meliputi otot detrusor,saraf pelvis, medula spinalis dan
pusat saraf yang mengontrol berkemih. Ketikakandung kemih seseorang mulai terisi oleh
urin, rangsangan saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medula spinalis ke pusar saraf
kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan serebelum) menyebabkan
kandung kemih berelaksasi sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang
mengalami desakan untuk berkemih. Ketika pengisian kandung kemih berlanjut,rasa
penggebungan kandung kemih disadari, dan pusat kortikal (pada lobusfrontal), bekerja
menghambat pengeluaran urin. Gangguan pada pusat kortikaldan subkortikal karena obat
atau penyakit dapat mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin. Komponen penting
dalam mekanisme sfingter adalah hubungan urethra dengan kandung kemih dan rongga perut.
Mekanisme sfingter berkemih memerlukan agulasi yang tepat antara urethra dan kandung
kemih.Fungsi sfingter urethra normal juga tergantung pada posisi yang tepat dari urethra
sehiingga dapat meningkatkan tekanan intra-abdomen secara efektif ditrasmisikan ke uretre.
Bila uretra pada posisi yang tepat, urin tidak akan keluar pada saat tekanan atau batuk yang
meningkatkan tekanan intra-abdomen. Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh refleks-
refleks yang berpusat dimedula spinalis segmen sakral yang dikenal sebagai pusat berkemih.
Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang
mengakibatkan penutupan leher kandung kemih, relaksasi dinding kandung kemih serta
penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inversisomatik pada otot dasar
panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun, sedangkan
parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher
kandung kemih. Proses reflek ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang lebih tinggi yaitu batang
otak, korteks serebri dan serebelum. Pada usia lanjut biasanya ada beberapa jenis
inkontinensia urin yaitu ada inkontinensia urin tipe stress, inkontinensia tipe urgensi, tipe
fungsional dan tipe overflow..
Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:
Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin.
Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam
kandung kemih sampai kapasitas berlebihan. Seiring dengan bertambahnya usia, ada
beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain : melemahnya otot
dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk
kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya
kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung
kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia
Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-
obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.
Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Inkontinensia Urine juga bisa
terjadi karena produksi urine berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik,
seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau
Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot
dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia
lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan
dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan.
Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan
jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya
inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia
menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu
saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko
yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga
berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan
mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot
dasar panggul.

PATHWAY

D. Klasifikasi inkontinensia

Meskipun berbagai penyebab inkontinensia menghasilkan proses yang sederhana,


tetapi inkontinensia perlu dikategorisasikan, seperti yang telah ditetapkan oleh Perhimpunan
Kontinensia Internasional.

1. Inkontinensia stress
Terjadi akibat adanya tekanan di dalam obdomen ( peningkatan intra badomen secar tiba –
tiba yang menambah tekanan yang emmang telah ada pada kandung kemih ). Oleh Karen itu,
bersin batuk, tertawa, latihan / olahraga, atau perubahan posisi dengan bangun dari kursi atay
berbalik dapat menyebabkan kehilangan sejumlah kecil urine tanpa disadari atau kebocoran
urine dari kandung kemih. Hal tersebut lebih sering terjadi pada wanita karena kehilangan
tonus otot dasar panggul yang dihubungkan dengan melahirkan anak, prolaps pelvis seperti
sistokel, uretra yang lebih pendek secra natomis, dan kelemahan sfingter. Pada pria,
prostatektomi adalah salah satu penyebabnya.

2. Inkontinensia mendesak ( urgensi )

Inkontinensia ini dihubungkan dengan keinginan yang kuat dan mendesak untuk berkemih
dengan kemampuan yang kecil untuk menunda berkemih. Berkemih dapat dilakukan, tetapi
orang biasanya berkemih sebelum sampai ke toilet. Mereka tidak merasakan adanya tanda
untuk berkemih. Pada inkontinensia urgensi, kandung kemih hampir penuh sebelum
kebutuhan utnuk berkemih dirasakan dan sebagai akibatnya, sejumlah kecil sampai sedang
urine keluar sebelum dapat mencapai toilet. Sensasi urgensi tersebut disertai dengan
frekuensi. Penyebabnya dihubungkan dengan ketidakstabilan otot trusor ( aktivitas yang
berlebihan ) oleh otot itu sendiri atau yang dihubungkan dengan kondisi seperti sistitis,
obstruksi aliran keluar, cedera spinal pada bagian suprasakral, dan stroke. Antara 40 – 70%
inkontinensia pada lansia adalah jenis inkontinensia urgensi.

3. Inkontinensia Overflow

Inkontinensia karena aliran yang berlebihan ( overflow ) adalah hilangnya urine yang terjadi
dengan distensi kandung kemih secara berlebihan yang terjadi pada 7 sampai 11% pasien
inkontinensia. Kapasitas berlebihan, yang menyebabkan tekanan kandung kemih lebih besar
daripada tekanan resistensi sfingter uretra. Karena otot detrusor tidak berkontraksi, terjadi
urine yang menetes dan penurunan pancaran urine saat berkemih.

Inkontinensia karena aliran yang berlebihan disebabkan oleh gangguan transmisi saraf
dan oleh adanya obstruksi pada saluran keluarnya urine seperti yang terjadi pada pembesaran
prostat atau impaksi fekal. Hal ini juga disebut hipnotik atau atonik kandung kemih. Residu
urine setelah berkemih lebih dari 150 sampai 200 ml.

Kondisi ini juga terjadi saat aktivitas kandung kemih tidak ada dan muncul karena
adanya beberapa obstruksi yang menahan urine untuk keluar. MIksi normal tidak mungkin
terjadi. Akhirnya, tekanan dari urine di dalam kandung kemih mengatasi obstruksi dan terjadi
episode inkontinensia. Hal ini biasanya terjadi pada prostatism dan konstipasi fekal.

4. Inkontinensia reflex

Akibat dari kondisi sistem saraf pusat yang terganggu, seperti demensia. Dalam hal
ini, pengosongan kandung kemih dipengaruhi reflex yang dirangsang oleh pengisian.
Kemampuan rasa ingin berkemih dan berhenti berkemih tidak ada.

5. Inkontinensia fungsional

Inkontinensia fungsional disebabkan oleh factor – factor selain dari disfungsi system
urinaria. Struktur system urinaria utuh dan fungsinya normal, tetapi factor eksternal
mengganggu kontinensia. Demensia, gangguan psikologis lain, kelemahan fisik atau
imobilitas, dan hambatan lingkungan seperti jarak kamar mandi yang jauh adalah salah satu
factor – factor ini. Hal ini terjadi saat terdapat factor yang membatasi individu untuk
kontinensia, bias berupa spinal, psikiatrik, atau musculoskeletal.

6. Inkontinensia Fekal

Meskipun biasanya bukan merupakan tanda penyakit mayor, inkontinensia dapat


menyebabkan gangguan yang serius pada kesejahteraan fisik dan psikologis lansia.
Inkontinensia fekal dapat terjadi secara bertahap ( seperti demensia ) atau tiba – tiba ( seperti
cedera medulla spinalis ). Inkontinensia fekal biasanya akibat dari statis fekal dan impaksi
yang disertai penurunan aktivitas, diet yang tidak tepat, penyakit anal yang nyeri yang tidak
diobati, atau konstipasi kronis. Inkontinensia fekal juga dapat disebabkan oleh penggunaan
laksatifyang kronis, penurunan asupan cairan, deficit neurologis dan pembedahan pelvic,
prostat, atau rectum serta obat – obatan seperti antihistamin, psikotropik, dan preparat besi.

Lansia yang mengalami inkontinensia fekal mungkin tidak menyadari kebutuhan


untuk defekasi. Jika ia tidak dapat pergi ke kamar mandi atau menggunakan commode atau
pispot sendiri, pasien dapat kehilangan sensitifitas rectum akibat harus menahan desakan
defekasi sementara menunggu bantuan. Perubahan musculoskeletal dapat juga emmepngaruhi
kemampuan lansia untuk mengambil posisi yang nyaman, yang mempengaruhi frekuensi dan
keefektifan defekasi.

7. Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine bukan merupakan tanda – tanda normal penuaan. Inkontinensia


urine selalu merupakan suatu gejala dari masalah yang mendasari. Jutaan lansia mengalami
beberapa kehilangan kendali volunteer. Masalah kontinensia urinarius dibagi menjadi akut
atau persisten dan dapat berkisar dari kehilangan control kandung kemih ringan sampai
inkontinensia total. Inkotinensia akut terjadi secara tiba – tiba biasanya akibat dari penyakit
akut. Sering terjadi pada individu yang dirawat di rumah sakit, inkontinensia akut biasanya
hilang setelah penyakit sembuh. Inkontinensia akut juga dapat akibat dari obat, terapi, dan
factor lingkungan . Inkontinensia persisten diklasifikasikan menjadi inkontinensia urgensi,
inkontinensia stress, inkontinensia overflow, dan inkontinensia fungsional. Inkontinensia
urine dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan endokrin, seperti hiperklasemia dan
hiperglikemia. Keterbatasan mobilitas atau penyakit yang menyebabkan retensi urine dapat
mencetuskan inkontinensia urine ata dapat akibat depresi pada lansia

E. Manifestasi Klinis
1) Melaporkan merasa desakan berkemih, disertai ketidakmampuan mencapai kamar mandi
karena telah mulai berkemih.
2) Desakan, frekuensi, dan nokturia.
3) Inkontinensia stress dicirikan dengan keluarnya sejumlah kecil urine ketika tertawa, bersin,
melompat, batuk atau membungkuk.
4) Inkontinensia overflow, dicirikan dengan volume dan aliran urine buruk atau lambat dan
merasa menunda atau mengejan.
5) Inkontinensia fungsional, dicirikan dengan volume dan aliran urine yang adekuat.
6) Hiegiene buruk atau tanda – tanda infeksi.
7) Kandung kemih terletak di atas sifisis pubis.

F. Pemeriksaan Diagnostic
1. Urinallisis, digunakan untuk melihat apakan ada bakteri, darah dan glukosa dalam urine.

2. Uroflowmetry digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan obstruksi


pintu bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih.

3. Cysometri digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuscular kandung kemih dengan


mengukur efisiensi reflex otot detrusor, tekanan dan kapasitas intravesikal dan reaksi
kandung kemih terhadap rangsangan panas.

4. Urografi ekskretorik, disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi


struktur dan fungsi ginjal, ureter, dan kandung kemih.

5. Volding cystourethrography digunakan untuk mendeteksi ketidaknormalan kandung kemih


dan uretra serta mengkaji hipertrofi lobus prostat, striktur uretra, dan tahap gangguan uretra
prostatic stenosis ( pada pria ).
6. Uretrografi retrograde, digunakan hampir secara ekslusif pada pria, membantu diagnosis
striktur dan obstruksi orifisium uretra.

7. Elektromiografi sfingter pada pasien pria dapat menunjukkan pembesaran prostat atau nyeri,
kemungkinan menanndakan hipertrofi prostat jinak atau infeksi. Pemeriksaan tersebut juga
dapat menunjukkan impaksi yang mungkin menyebabkan inkontinensia.

8. Pemeriksaan vagina dapat memperlihatkan kekeringan vagina atau vaginitis atrofi, yang
menandakan kekuranagn estrogen.

9. Katerisasi residu pescakemih digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan kandung


kemih dan jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien berkemih.

G. Penanganan
Terapi obat disesuaikan dengan penyebab inkontinensia. Antibiotik diresepkan jika
inkontinensia akibat dari inflamasi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Obat antikolinergik
digunakan untuk memperbaiki fungsi kandung kemih dan mengobati spasme kandung kemih
jika dicurigai ada ketidakpstabilan pada otot detrusor. Obat antipasmodik diresepkan untuk
hiperrefleksia detrusor untuk menekan aktivitas otot polos kandung kemih. Estrogen, baik
dalam bentuk oral, topical, maupun supositoria, digunakan jika ada vaginitis atrofik.
Inkontinensia stree kadang dapat diterapi dengan antidepresan.
Terapi perilaku meliputi latihan berkemih, latihan kebiasaan dan waktu kemih,
penyegeraan berkemih, dan latihan otot panggul ( latihan kegel ). Pendekatan yang dipilih
disesuaikan dengan masalah pasien yang mendasari. Latihan kebiasaan dan latihan berkemih
sangat sesuai untuk pasien yang mengalami inkontinensia urgensi. Latihan otot panggul
sangat baik digunakan oleh pasien dengan fungsi tidak dipilih untuk pasien yang mengalami
inkontinensia sekunder akibat overflow. Teknik tambahan, seperti umpan balik biologis dan
rangsangan listrik, berfungsi sebagai tambahan pada terapi perilaku.
Latihan kebiasaan, bermanfaat bagi pasien yang mengalami demensia atau kerusakan
kognitif, mencakup menjaga jadwal berkemih yang tetap, biasanya setiap 2 sampai 4 jam.
Tujuannya adalah pasien dapat berkemih sebelum secara tidak sengaja berkemih. Latihan
kembali berkemih dapat bermanfaat bagi pasien dengan fungsi kognitif yang utuh. Latihan ini
mengajarkan pasien utnuk menahan desakan berkemih, secara bertahap meningkatkan
kapasitas kandung kemih dan interval anatara berkemih. Ketika kapasitas meningkat, urgensi
dan frekuensi akan berkurang.
Spiral dapat direspkan untuk pasien wanita yang mengalami kelainan anatomis seperti
prolaps uterus berat atau relaksasi pelvic. Spiral tersebut dipakai secara internal, seperti
diafregma kontrasepsi, dan menstabilkan dasar kandung kemih serta uretra, yang mencegah
inkontinensia selama ketegangan fisik.
Penggunaan kateter kondom jangka panjang – pendek dapat diresepkan bagi pasien pria
utnuk membantunya mencegah berkemih secara tidak sengaja dengan efektif. Penggunaan
kondom yang terus menerus harus dihindari, karena dapat menyebabkan ISK dan iritasi kulit.
Sfingter buatan yang terdiri atas sfingter bermanset silicon dengan balon yang mengatur
tekanan dan pompa karet dapat dipasang pada pasien pria setelah prostatektomi radikal atau
pada pasien wanita yang mengalami inkontinensia stress yang tidak berespon terhadap terapi
lain. Manset tersebut diletakkan disekitar leher kandung kemih. Balon menahan cairan yang
biasanya menegmbangkan manset. Pompa karet diimplan ke skrotum atau labia. Ketika
kandung kemih penuh dengan urine, manset yang sensitive terhadap tekanan mencegah urine
bocor disekitar leher kandung kemih. Pasien menekan pompa untuk memindahkan cairan dari
manset kedalam balon yang diberi tekanan yang memungkinkan berkemih.
Perbaikan dinding vagina anterior atau suspense retropubik kandung kemih dan uretra
dengan pembedahan dapat terjadi pilihan terapi bagi wanita yang emngalami inkontinensia
stress. Suspensi retropubik memperbaiki kandung kemih dan uretra ke posisi intra-abdomen
yang tepat.
Pada pria yang megalami inkontinensia akibat hipertrofi prostat, penanganan dapat
mencakup reseksi transurethral prostat atau protatektomi terbuka. Pembedahan dapat
digunakan untuk menghilangkan lesi yang menyumbat yang menyebabkan inkontinensia
urgensi atau overflow.
Pasien inkontinensia overflow akibat retensi urine dapat memanfaatkan kateterisasi
intermiten. Menghilangkan hambatan, memberikan lingkungan dengan pencahayaan yang
baik, dan memberikan orientasi yang sering ke kamar mandi akan membantu pasien yang
emngalami inkontinensia fungsional

H. Masalah dan Penyakit yang sering dialami oleh lansia

1. Karakteristik Penyakit pada Lansia


a) Saling berhubungan satu sama lain
b) Penyakit sering multiple
c) Penyakit bersifat degenerative
d) Berkembang secara perlahan
e) Gejala sering tidak jelas
f) Sering bersama-sama problem psikologis dan social
g) Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut
h) Sering terjadi penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan oleh konsumsi obat yang tidak
sesuai dengan dosis)
Hasil penelitian Profil Penyakit Lansia di 4 kota (Padang, Bandung, Denpasar, Makasar),
sebagai berikut:
i) Fungsi tubuh dirasakan menurun:
Penglihatan (76,24 %),
Daya ingat (69,39 %),
Sexual (58,04 %),
Kelenturan (53,23 %),
Gilut (51,12 %).
j) Masalah kesehatan yang sering muncul
Sakit tulang (69,39 %),
Sakit kepala (51,15 %),
Daya ingat menurun (38,51 %),
Selera makan menurun (30,08 %),
Mual/perut perih (26,66 %),
Sulit tidur (24,88 %) dan
sesak nafas (21,28 %).

Permasalahan umum
a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan
b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehinggan anggota keluaraga yang lanjut usia kurang
diperhatikan, dihargai dan dihormati.
c) Lahirnya kelompok masyarakat industry
d) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia
e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia

2. Kemunduran dan Kelemahan Lansia


Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa
muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul
akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap jejas (termasuk infeksi)
dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang
dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I, yaitu
immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh),
incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment
(gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi), impairment of vision and hearing, taste,
smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi,
penyembuhan, dan kulit), impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition
(kurang gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-
obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun),
impotence (impotensi).
Masalah kesehatan utama tersebut di atas yang sering terjadi pada lansia perlu dikenal
dan dimengerti oleh siapa saja yang banyak berhubungan dengan perawatan lansia agar dapat
memberikan perawatan untuk mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.

Kurang bergerak: gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat menyebabkan lansia
kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah gangguan tulang, sendi dan otot,
gangguan saraf, dan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Instabilitas: penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor intrinsik (hal-hal yang
berkaitan dengan keadaan tubuh penderita) baik karena proses menua, penyakit maupun
faktor ekstrinsik (hal-hal yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obat tertentu dan faktor
lingkungan.
Akibat yang paling sering dari terjatuh pada lansia adalah kerusakan bahagian tertentu
dari tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, patah tulang, cedera pada kepala, luka bakar
karena air panas akibat terjatuh ke dalam tempat mandi.
Selain daripada itu, terjatuh menyebabkan lansia tersebut sangat membatasi pergerakannya.

Walaupun sebahagian lansia yang terjatuh tidak sampai menyebabkan kematian atau
gangguan fisik yang berat, tetapi kejadian ini haruslah dianggap bukan merupakan peristiwa
yang ringan. Terjatuh pada lansia dapat menyebabkan gangguan psikologik berupa hilangnya
harga diri dan perasaan takut akan terjatuh lagi, sehingga untuk selanjutnya lansia tersebut
menjadi takut berjalan untuk melindungi dirinya dari bahaya terjatuh.

Beser: beser buang air kecil (bak) merupakan salah satu masalah yang sering didapati pada
lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam jumlah dan kekerapan yang cukup
mengakibatkan masalah kesehatan atau sosial. Beser bak merupakan masalah yang seringkali
dianggap wajar dan normal pada lansia, walaupun sebenarnya hal ini tidak dikehendaki
terjadi baik oleh lansia tersebut maupun keluarganya.
Akibatnya timbul berbagai masalah, baik masalah kesehatan maupun sosial, yang
kesemuanya akan memperburuk kualitas hidup dari lansia tersebut. Lansia dengan beser bak
sering mengurangi minum dengan harapan untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga
dapat menyebabkan lansia kekurangan cairan dan juga berkurangnya kemampuan kandung
kemih. Beser bak sering pula disertai dengan beser buang air besar (bab), yang justru akan
memperberat keluhan beser bak tadi.

Gangguan intelektual: merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi
intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas
kehidupan sehari-hari.
Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu
kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia (kepikunan berat)
sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini meningkat mendekati 50 %. Salah satu hal
yang dapat menyebabkan gangguan interlektual adalah depresi sehingga perlu dibedakan
dengan gangguan intelektual lainnya.

Infeksi: merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia, karena selain
sering didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang menyebabkan keterlambatan
di dalam diagnosis dan pengobatan serta risiko menjadi fatal meningkat pula.
Beberapa faktor risiko yang menyebabkan lansia mudah mendapat penyakit infeksi
karena kekurangan gizi, kekebalan tubuh:yang menurun, berkurangnya fungsi berbagai organ
tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya
tahan tubuh yang sangat berkurang. Selain daripada itu, faktor lingkungan, jumlah dan
keganasan kuman akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.

Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit: akibat prosesd menua semua
pancaindera berkurang fungsinya, demikian juga gangguan pada otak, saraf dan otot-otot
yang digunakan untuk berbicara dapat menyebabkn terganggunya komunikasi, sedangkan
kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal.

Sulit buang air besar (konstipasi): beberapa faktor yang mempermudah terjadinya konstipasi,
seperti kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang sekali mengandung serat, kurang
minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain.
Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan.
Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan pada keadaan yang
berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa penyumbatan pada usus disertai rasa sakit
pada daerah perut.

Depresi: perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian


sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya
depresi pada lansia.
Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan penyakit-
penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan sebelumnya, karena
gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai suatu bagian dari proses
menua yang normal ataupun tidak khas.
Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis,
merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan
menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat badan berkurang, daya ingat berkurang,
sulit untuk memusatkan pikiran dan perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang
biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan
diri berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh
diri, dan gejala-gejala fisik lainnya.
Akan tetapi pada lansia sering timbul depresi terselubung, yaitu yang menonjol hanya
gangguan fisik saja seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan
pencernaan dan lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.

Kurang gizi: kekurangan gizi pada lansia dapat disebabkan perubahan lingkungan maupun
kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan untuk memilih makanan
yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari masyarakat) terutama karena gangguan pancaindera,
kemiskinan, hidup seorang diri yang terutama terjadi pada pria yang sangat tua dan baru
kehilangan pasangan hidup, sedangkan faktor kondisi kesehatan berupa penyakit fisik,
mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan lain-lain.

Tidak punya uang: dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan mental
akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan ketidakmampuan tubuh dalam
mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya sehingga tidak dapat memberikan
penghasilan.Untuk dapat menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit
tiga syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak, mempunyai peranan di
dalam menjalani masa tuanya.

Penyakit akibat obat-obatan: salah satu yang sering didapati pada lansia adalah menderita
penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak, apalagi
sebahagian lansia sering menggunakan obat dalam jangka waktu yang lama tanpa
pengawasan dokter dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat pemakaian obat-obat
yaqng digunakan.
Gangguan tidur: dua proses normal yang paling penting di dalam kehidupan manusia adalah
makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat penting akan tetapi karena sangat rutin maka
kita sering melupakan akan proses itu dan baru setelah adanya gangguan pada kedua proses
tersebut maka kita ingat akan pentingnya kedua keadaan ini.
Jadi dalam keadaan normal (sehat) maka pada umumnya manusia dapat menikmati
makan enak dan tidur nyenyak. Berbagai keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh
para lansia, yakni sulit untuk masuk dalam proses tidur. tidurnya tidak dalam dan mudah
terbangun, tidurnya banyak mimpi, jika terbangun sukar tidur kembali, terbangun dinihari,
lesu setelah bangun dipagi hari.

Daya tahan tubuh yang menurun: daya tahan tubuh yang menurun pada lansia merupakan
salah satu fungsi tubuh yang terganggu dengan bertambahnya umur seseorang walaupun
tidak selamanya hal ini disebabkan oleh proses menua, tetapi dapat pula karena berbagai
keadaan seperti penyakit yang sudah lama diderita (menahun) maupun penyakit yang baru
saja diderita (akut) dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh seseorang. Demikian
juga penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi organ-organ
tubuh dan lain-lain.

Impotensi: merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau mempertahankan ereksi


yang cukup untuk melakukan sanggama yang memuaskan yang terjadi paling sedikit 3
bulan.
Menurut Massachusetts Male Aging Study (MMAS) bahwa penelitian yang dilakukan
pada pria usia 40-70 tahun yang diwawancarai ternyata 52 % menderita disfungsi ereksi,
yang terdiri dari disfungsi ereksi total 10 %, disfungsi ereksi sedang 25 % dan minimal 17 %.
Penyebab disfungsi ereksi pada lansia adalah hambatan aliran darah ke dalam alat
kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah (arteriosklerosis) baik
karena proses menua maupun penyakit, dan juga berkurangnya sel-sel otot polos yang
terdapat pada alat kelamin serta berkurangnya kepekaan dari alat kelamin pria terhadap
rangsangan.

I. Asuhan Keperawatan Inkontinensia


I. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, alamat, suku
bangsa, tanggal, jam MRS, nomor registrasi, dan diagnosa medis.

2. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan sekarang
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului
inkonteninsia (stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,
kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada
penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelum terjadi inkontenin, apakah terjadi
ketidakmampuan.
- Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan
catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan
ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan
klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan
bawaan.

3. Pemeriksaan fisik

- Keadaan umum
Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari terjadinya
inkontinensia

4. Pemeriksaan Sistem :
a. B1 (breathing)
Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun.
kaji ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi.
b. B2 (blood)
Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah
c. B3 (brain)
Kesadaran biasanya sadar penuh
d. B4 (bladder)
Inspeksi : periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya
aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah
apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah suprapubik lesi pada meatus uretra, banyak
kencing dan nyeri saat berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien
terpasang kateter sebelumnya.
Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa terbakar di urera
luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing.
e. B5 (bowel)
Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri tekan abdomen, adanya
ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi pada ginjal.
f. B6 (bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain, adakah
nyeri pada persendian.

5. Pengkajian Psikososial
• Bersedih
• Murung
• Mudah tersinggung
• Mudah marah
• Isolasi social
• Perubahan peran

II. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penyebaran infeksi dari uretra
2. Kekurangan Volum cairan b/d diuresis osmotic
3. Resiko tinggi infeksi b/d glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia)
4. Isolasi Sosial berhubungan dengan keadaan yang memalukan akibat mengompol dan bau
urine
III. Intervensi

N DX KEP TUJUA KRITERIA INTERVENSI RASIONAL


O N HASIL
1. Gangguan Setelah 1. Nyeri terkntrol Mandiri :
atau hilang 1. Memberi kan
rasa dilakuka
2. Klien dapat 1. Kaji nyeri, informasi untuk
nyaman n kembali tenang perhatikan membantu dalam
lokasi, menentukan pilihan
nyeri b/d tindakan dan rileks
intensitas dan keefektifan
penyebara kepeawat3. Klien mampu atau skala intervensi
beristirahat nyeri dan
n infeksi an seperti biasanya 2. Membantu
lamanya
dari uretra selama mengevaluasi tempat
nyeri obstruksi dan
2×24 jam
kemajuan gerakan
diharapa 2. Catat kalkulus
lamanya 3. Meningkat-kan
kan nyeri
intensitas relaksasi, memfokus-
dapat (skala 0- kan kembali
10) dan perhatian dan dapat
teratasi
penyebara meningkat-kan
atau n kembali kemampuan
berkuran koping
3. Berikan
g tindakan 4. Meng-hilangkan
keyamana nyeri, menentukan
n. obat yang tepat untuk
mencegah fluktuasi
Contoh : nyeri ber-hubungan
Membantu pasie dengan tegangan
memberikan 5. Digunakan untuk
posisi yang me-ningkatkan
nyaman, relaksasi, dan
mendorong sirkulasi
penggunaan
relaksasi atau
latihan nafas
dalam
4. Kolaborasi
Berikan obat
sesuai indikasi.

2. Kekuranga Klien 1. Untuk memperoleh


n Volum 1. TTV 1. Dapatkan data tentang penyakit
menunju
cairan b/d stabil riwayat pasien, agar dapat
diuresis kkan pasien/ melakukan tindakan
osmotic 2. Membran orang sesuai yang
hidrasi
e mukosa terdekat dibutuhka
yang bibir sehubunga2. Indicator
lembab n dengan hidrasi/volum
adekuat/
lamanya sirkulasi dan
kekurang 3. Turgor gejala kebutuhan intervensi.
kulit seperti 3. Membandingkan
an cairan
elastic muntah keluaran actual dan
dapat pengeluar yang diantisipasi
4. Intake dan an urine membantu dalam
diatasi
yang evaluasi adanya/
output seimbang
berlebihan derajat stasis/
kerusakan ginjal
2. Pantau 4. Peningkatan BB yang
TTV, catat cepat mungkin
adanya berhubungan dengan
retensi
perubahan5. Memper-tahankan
TD ,warna keseimbangan cairan
kulit dan6. Memenuhi kebutuhan
kelembab cairan tubuh
an-nya 7. Mempertahankan
volum sirkulasi,
3. Pantau masukan meningkatkan fungsi
dan pengeluaran ginjal
urine
4. Timbang BB
setiap hari
5. Pertahankan
untuk
memberikan
cairan paling
sedikit 2500
ml/hari dalam
batas yang dapat
ditoleransi
jantung
6. Kolaborasi:
Berikan terapi
cairan sesuai
indikasi

 Berikan
cairan IV

3. Resiko Setelah 1. Kebersihan Mandiri:


1.Berikan 1. Untuk mencegah
tinggi dilakuka perineal teratasi
perawatan kontaminasi uretra.
2. Menjaga
infeksi b/d n perineal dengan 2.Kateter
kebersihan air sabun setiap memberikan jalan
glukosa tindakan
shift. Jika pasien pada bakteri untuk
kateter
darah kepeawat inkontinensia, memasuki kandung
cuci daerah kemih dan naik ke
yang an
perineal sesegera saluran perkemihan
tinggi selama .. mungkin.
3.Untuk mencegah
(hiperglike ×24 jam 2. Jika di pasang stasis urine.
kateter
mia) diharapa indwelling, 4.Mungkin diberikan
kan berikan secara profilaktik
perawatan kateter sehubungan dengan
Resiko 2x sehari peningkatn resiko
tinggi (merupakan infeksi
bagian dari waktu
infeksi mandi pagi dan
dapat pada waktu akan
teratasi tidur) dan setelah
buang air besar
dengan
Kecuali
kriteria dikontraindikasik
an, ubah posisi
hasil
pasien setiap
2jam dan
anjurkan
masukan
sekurang-
kurangnya 2400
ml / hari. Bantu
melakukan
ambulasi sesuai
dengan
kebutuhan.
3.Berikan terapi
antibiotoik
4. isolasi Setelah Dengan kriteria 1. Dorong 1. Memberikan
Sosial dilakuka hasil : pasien / orang kesempatan
1. pasien tidak
berhubung n terdekat untuk menerima isu / salah
merasa malu
an dengan tindakan mengatakan konsep. Membantu
keadaan kepeawat perasaan. Akui pasien / orang
yang an kenormalan terdekat menyadari
memaluka selama .. perasaan marah, bahwa perasaan yang
n akibat ×24 jam depresi, dan dialami tidak biasa
mengomp diharapa kedudukan dan bahwa perasaan
ol dan bau kan karena bersalah pada
urine isolasi kehilangan. mereka tidak perlu /
sosial membantu. Pasien
dapat 2. Perhatikan perlu mengenali
teratasi perilaku menarik perasaan sebelum
diri, peningkatan mereka dapat
ketergantungan, menerimanya secara
manipulasi atau efektif.
tidak terlibat pada 2. Dugaan masalah
asuhan. pada penyesuaian
yang memerlukan
3. Berikan
evaluasi lanjut dan
kesempatan pada
klien untuk terapi lebih efektif.
3. Kemandirian
menerima
dalam perawatan
keadaannya
memperbaiki harga
melalui
diri.
partisipasi dalam
perawatan diri.

IV. Implementasi
Disesuaikan dengan Intervensi.
V. Evaluasi

a. Pasien merasakan berkurangnya nyeri.

b. Kebutuhan cairan pasien terpenuhi

c. Resiko infeksi berkurang.

d. Pasien akan mengkomnikasikan perasaan positif mengenai perubahan citra tubuh.

http://go-keperawatan.blogspot.com/2015/09/laporan-pendahuluan-inkontinensia.html