Anda di halaman 1dari 2

Golongan Senyawa

Saponin merupakan kelompok senyawa glikosida dari triterpena dan sterol. Saponin
merupakan senyawa yang bersifat seperti surfaktan (bahan aktif permukaan) yang dapat
menurunkan tegangan permukaan dan memiliki sifat seperti sabun sehingga kelompok senyawa
ini mudah dideteksi dengan kemampuannya untuk membentuk busa ketika dicampur dengan air
dan dikocok kuat dan kemampuannya untuk melisiskan (hemolisis) sel darah (Harborne, 1998).
Karakteristik kelompok senyawa saponin adalah adanya aglikon steroid ataupun aglikon
triterpenoid dan satu atau lebih gugus gula (Üstündağ and Mazza, 2007).

Saponin memiliki kemampuan menurunkan tegangan permukaan disebabkan oleh molekul


saponin terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian hidrofob dan bagian hidrofil dimana bagian hidrofob
merupakan bagian aglikonnya dan bagian hidrofilnya merupakan bagian glikonnya. Sebagian
besar saponin bereaksi netral (larut dalam air), namun ada beberapa senyawa saponin yang tidak
bereaksi netral (sukar larut dalam air) namun larut dalam suasana asam maupun suasana basa
(Sirait, 2007).

Saponin dapat ditemukan pada lebih dari 100 keluarga (Famili) tanaman dan dapat
ditemukan juga pada sumber yang berasal dari laut seperti pada bintang laut dan teripang.
Saponin steroid pada umumnya dapat ditemukan pada tanaman monokotil seperti pada famili
Agavaceae, Diocoreaceae, dan Liliaceae. Saponin triterpena pada umumnya dapat ditemukan
pada tanaman dikotil seperti pada famili Leguminosae, Araliaceae, dan Caryophyllaceae. Satu
tanaman dapat mengandung beberapa jenis saponin misalnya pada kedelai, saponin yang dapat
ditemukan pada kedelai adalah Soyasaponin A, Soyasaponin B, dan Soyasaponin E. Begitu pula
pada ginseng juga mengandung campuran senyawa-senyawa saponin (ginsenosida) yaitu Rb1,
Rb2, Rc, Rd, Re, Rf, dan Rg1. Kandungan saponin dalam tanaman bisa berbeda-beda dan sangat
kompleks tergantung dari spesies tanaman, asal tanaman, bagian tanaman yang diteliti, dan hal-
hal yang berkaitan dengan lingkungan dan agronomi seperti pertumbuhan tanaman dan
perlakuan tanaman pasca-panen yang meliputi penyimpanan dan pengolahan tanaman (Üstündağ
and Mazza, 2007).
Gambar 1. Salah satu contoh senyawa saponin, Ginsenosida dari Ginseng (Panax ginseng)
(Üstündağ and Mazza, 2007).

Saponin memiliki beberapa efek farmakologis, diantaranya mampu menstimulasi beberapa


jaringan tertentu seperti pada ginjal yang diperkirakan menimbulkan efek diuretika, dapat
menjadi agen ekspektoran, prekursor dari hormon-hormon steroid seperti kortison dan estrogen,
anti alergi, antipiretik, anti oksidan, dan dapat dimanfaatkan sebagai racun ikan (Sirait, 2007;
(Üstündağ and Mazza, 2007).

Daftar Pustaka

Harborne, J. B. 1998. Phytochemical Methods. Third Edition. United Kingdom : Chapman &
Hall.

Sirait, M. 2007. Penuntun Fitokimia dalam Farmasi. Bandung : Penerbit ITB.

Üstündağ, Ö. G. and G. Mazza. 2007. Saponins: Properties, Applications and Processing.


Critical Reviews in Food Science and Nutrition. Vol. 47 (3) : 231-258.