Anda di halaman 1dari 10

PERITONITIS

1. Definisi
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum (lapisan membrane
serosa rongga abdomen) dan organ di dalamnya. Peritonitis adalah keadaan
dimana pecahnya kantung dan menyebabkan kontaminasi kuman-kuan ke
bagian perut disekitarnya. Sedangkan menurut Pearce (2009), peritonitis
merupakan peradangan peritoneum yang dapat umum atau setempat.
Menurut Price & Wilson, peritonis merupakan membrane serosa yang
melapisi rongga abdomen dan menutupi visera abdomen dan merupakan
penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut atau kronis.

2. Etiologi
Peritonitis disebabkan karena adanya invasi kuman ke dalam rongga
peritoneum. Umumnya kuman yang menyebabkan infeksi adalah bakteri
gram negative, seperti: Esherichia coli (40%), Klebsiella pneumonia (7%),
Pseudomonas species, Proteus species, dan gram negative lainnya (20%);
gram positif, seperti Streptococcus pneumonia (15%), Streptococcus lainnya
(15%), dan Staphylococcus (3%); mikroorganisme anaerob kurang dari 5%
(Cholongitas dalam Mutaqqin & Sari, 2011).

3. Epidemiologi
Menurut survey WHO, kasus peritonitis di dunia adalah 5,9 juta kasus.
Di Republik Demokrasi Kongo, antara 1 Oktober dan 10 Desember 2004,
telah terjadi 615 kasus peritonitis berat (dengan atau tanpa perforasi),
termasuk 134 kematian (tingkat fatalitas kasus, 21,8%), yang merupakan
komplikasi dari demam tifoid. Penelitian yang dilakukan di Rumah sakit
Hamburg-Altona Jerman, ditemukan 73% penyebab tersering peritonitis
adalah perforasi dan 27% terjadi pasca operasi. Terdapat 897 pasien
peritonitis di Inggris selama tahun 2002-2003 sebesar 0,0036% (4562 orang).
Di Padang, Indonesia sendiri pada periode 1 Januari 2013- 31 Desember
2013 terdapat 144 kasus peritonitis yang dirawat inap.
4. Faktor resiko
a. Dialysis peritoneal
Pada intervensi ini melibatkan penggunaan kateter pada peritoneum
dengan tujuan menghilangkan sampah metabolisme di darah pada orang
yang mengalami gagal ginjal. Sehingga dapat meningkatkan resiko
peritonitis jika terjadi kontaminasi pada peritoneum melalui kateter.
b. Kondisi medis lainnya
Beberapa penyakit yang dapat meningkatkan resiko peritonitis
bermacam-macam. Beberapa penyakitnya antara lain sebagai berikut:
 Sirosis merupakan salah satu penyakit yang sering meningkatkan
resiko peritonitis dengan menyebakan asites yang bisa
mengakibatkan infeksi.
 Pada pasien yang mengalami apendisitis, Stomach ulcer
merupakan kondisi dimana meningkatkan peluang juga untuk
terjadinya peritonitis saat bakteri menginfeksi peritoneum melalui
saluran pencernaan.
 Pada pasien dengan pankreasitis, inflamasi pada pancreas memiliki
komplikasi infeksi bisa menyebar ke peritoneum dimana bakteri
menyebar dari pancreas.
 Pada pasien dengan diverkulitis, melalui usus halus, bisa
menyebabkan peritonitis jika kantong tersebut rupture dan
menyebar ke peritoneum.
 Sedangkan pada pasien dengan mengalami trauma, akan bisa
mengakibatkan peritonitis jika bakteri atau zat kimia dari bagian
yang lain masuk ke peritoneum.
Selain itu terdapat beberapa penyakit yang dapat meningkatkan resiko
peritonitis, antara lain yaitu, gagal ginjal, dan penyakit Cohn.
c. Riwayat peritonitis,
Pasien dengan riwayat peritonitis memiliki resiko yang tinggi
mengalami peritonitis.
d. Usia
Pasien yang cukup tua umumnya beresiko mengalami peritonitis. Pada
pasien yang lebih muda dari 20 tahun juga memiliki resiko yang tinggi
dibandingkan dengan pasien yang berada pada usia pertengahan.
e. Social ekonomi, edukasi
Social ekonomi dapat mempengaruhi resiko dari peritonitis. Sedangkan
menurut penelitian, pasien dengan pendidikan minimal 9 tahun memiliki
resiko yang lebih tinggi memiliki peluang dengan peritonitis dibandingkan
dengan pasien yang memiliki pendidikan selama lebih dari 12 tahun.
f. Psikologi
Depresi dapat menunjukkan hubungan dengan perkembangan peluang
terjadinya peritonitis.

5. Klasifikasi
1) Peritonitis primer
Peritonitis primer merupakan dampak dari terkontaminasinya saluran
pencernaan terbukanya penghalang pada saluran pencernaan.
Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) adalah infeksi bakteri akut pada
cairan asites. Kontaminasi dari rongga peritoneal diduga dai hasil
translokasi bakteri di dinding usus di hadapan bacteremia. SBP dapat
terjadi sebagai komplikasi dari setiap keadaan penyakit yang
menghasilkan sindrom klinis asites, seperti gagal jantung dan sindrom
Budd-Chiari.
Penurunan fungsi hati, kadar total protein yang rendah dan rendahnya
kadar komplemen merupakan faktor resiko yang tinggi dalam kejadian
peritonitis. Pasien dengan kadar protein yang rendah dalam cairan asites
(< 1 g/dL) memiliki resiko 10 kali lipat lebih tinggi mengalami SBP
dibandingkan dengan tingkat protein lebih dari 1 g/dL.
2) Peritonitis sekunder
Peritonitis sekunder merujuk kepada lokasi atau difusi inflamasi
peritoneal dan bentuk abses. Peritonitis sekunder (SP) terjadi akibat
perforasi usus buntu, ulkus lambung dan duodenum serta perforasi
sigmoid yang disebabkan oleh diverculitis, volvulus, kanker dan
strangulasi. Necroting pancreatitis juga dapat dikaitkan dengan peritonitis
dalam kasus infeksi pada jaringan nekrotik.
Pathogen yang terlibat dalam SP saluran pencernaan proksimal
berbeda dengan saluran pencernaan distal. Pasien yang mengalami
sirosis dengan asites awalnya memiliki SBP memiliki SP (15%). Pada
banyak pasien, tanda dan gejala klinis saja tidak sensitive atau cukup
spesifik untuk andal membedakan antara 2 entitas. Riwayat penderita
secara menyeluruh, evaluasi dari cairan peritoneal, dan tes diagnostic
tambahan sangat diperlukan untuk melakukannya.
3) Peritonitis tersier
Berkembang lebih sering pada pasien immunocompromised dan pada
orang dengan sudah ada sebelumnya kondisi komorbiditas yang
signifikan. Meskipun jarang diamati pada infeksi peritoneal tanpa
komplikasi, insiden peritonitis tersier pada pasien yang membutuhkan
perawatan ICU untuk infeksi perut yang parah mungkin setinggi 50-74%.
Pada kasus peritonitis tersier juga melibatkan kasus yang tidak jelas
penyebabnya atau tidak bisa ditangani dalam sekali atau dua kali operasi,
sering digunakan dengan menggunakan terapi antimicrobial. Namun yang
sering ditemukan sebagai peritonitis dengan “uncomplicated” dan
“complicated” adalah pada IAI (infection and immunity), dengan
melibatkan kurang lebih satu organ.
4) Peritonitis kimia
Peritonitis kimia dapat disebabkan oleh iritasi empedu, darah, barium,
atau bahan lain atau oleh peradangan transmual dari organ visceral
(misalnya Crohn’s disease) tanpa inokulasi bakteri rongga peritoneal.
Tanda dan gejala klinis bisa dibedakan dari SP atau abses peritoneal, dan
pendekatan diagnostic dan terapeutik harus sama.
6. Patofisiologi

Invasi kuman e lapisan peritonium

Penyebaran infeksi dari organ di dalam abdomen


atau perforasi organ pasca trauma abdomen

Peritonitis Respon sistemik

Penurunan aktifitas fibrinolitik intra-abdomen Peningkatan suhu


tubuh

Pembentukkan eksudat fibrinosa atau abses pada


Hipertermi
peritoneum

Intervensi bedah Respons local saraf


Syok sepsis Gangguan
lapratomi terhadap inflamasi
gastrointestinal
Respons
Preoperative Pascaoperatif Distensi abdomen kardiovaskular Mual, muntah,
kembung,
Port de entrée nyeri Curah jantung anoreksia
Respon psikologis
pasca bedah menurun
misinterpretas
perawatan dan
Kerusakan jaringan Intake nutrisi
penatalaksanaaan Resiko Infeksi pasca bedah tidak adekuat
pengobatan

Suplai darah ke Kehilangan cairan


Penurunan
Kecemasan otak menurun dan elektrolit
kemampuan batuk
pemenuhan
efektif
informasi Penurunan
Actual/resiko perfusi serebral
ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
Perubahan tingkat
kesadaran

Ketidakseimbangan Ketidakseim-
nutrisi kurang dari bangan cairan
kebutuhan
7. Manifestasi klinis
a. Nyeri tekan abdomen
b. Terasa nyeri subjektif (nyeri yang terasa pada setiap gerakan) dan nyeri
objektif (nyeri jika di tekan, dipalpasi, dan tes lainnya).
c. Defans muscular (perut tegang dan ada tahanan pada perut)
d. Lemah
e. Perut kembung
f. Pasien diam/tidak mau bergerak
g. Defence musculare
h. Bunyi usus berkurang/ menghilang
i. Pekak hati berkurang
j. Suhu tubuh meningkat dan takikardi (pada peritonitis bacterial)

8. Pemeriksaan diagnostic
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Leukosit > 11.000 sel/µL.
b. Kimia darah dapat mengungkapkan dehidrasi dan asidosis.
c. Pemeriksan waktu pembekuan dan perdarahan untuk mendeteksi
disfungsi pembekuan.
d. Tes fungsi hati jika diindikasikan secara klinis.
e. Urinalisis untuk menyingkirkan penyakit saluran kemih, namun pasien
dengan perut bagian bawah dan infeksi panggul sering menunjukkan
sel darah putih dalam air seni dan mikrohematuria.
f. Kultur darah untuk mendeteksi agen infeksi septicemia.
g. Cairan peritoneal (yaitu paracentesis, aspirasi cairan perut dan kultur
cairan peritoneal). Pada peritonitis tuberkulosa, cairan peritoneal
mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak
limfosit; basil tuberkel diidentifikasikan dengan kultur.
2. Pemeriksaan radiografik
a. Foto polos abdomen
Walaupun identifikasi sangat terbatas, kondisi ileus mungkin
didapatkan usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas hadir
dalam kebanyakan kasus anterior perforasi lambung dan duodenum,
tetapi jauh lebih jarang dengan perforasi dari usus kecil dan usus
besar, serta tidak biasa dengan apendiks perforasi. Tegak film berguna
untuk mengidentifikasi udara bebas di bawah diafragma sebagai
indikasi adanya viksus berlubang.
b. CT Scan
CT Scan abdomen dan panggul tetap menjadi studi diagnostic pilihan
untuk abses peritoneal. CT Scan ditunjukkan dalam semua kasus di
mana diagnosis tidak dapat dibangun atas dasar klinis dan temuan di
foto polos abdomen. Abses peritoneal dan cairan lain dapat diambil
untuk diagnosis atau terapi di bawah bimbingan CT Scan.
c. MRI
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu modalitas pencitraan
muncul untuk diagnosis dicurigai adanya abses intra-abdomen. Abses
abdomen menunjukkan penurunan intensitas sinyal. Terbatasnya
ketersediaan dan biaya tinggi, serta kebutuhan MRI yag kompatibel
dengan dukungan peralatan dan waktu pemeriksaan yang lama
membatasi kegunaanya sebagai diagnostic peritonitis, terutama pada
pasien yang sakit kritis.
d. USG
USG Abdomen dapat membantu dalam evaluasi kuadran kanan atas,
kuadran kanan bawah, dan patologi pelvis (misal apendiksitis, abses
tuba-ovarium, abses douglas), tetapi terkadang pemeriksaan menjadi
terbatas karena adanya nyeri, distensi perut dan gangguan gas usus.
USG dapat mendeteksi peningkatan jumlah cairan peritoneal (asites),
tetapi kemampuannya untuk mendeteksi jumlah kurang dari 100 ml
sangat terbatas.

9. Penatalaksanaan
 Berikan obat antimikroba/ antibiotic.
 Berikan tindakan untuk menghilangkan drainase luka dengan
melakukan:
- Mengganti dressing pada luka.
- Menyediakan selang tambahan, jika diperlukan.
- Instruksikan pasien untuk tidak menarik selang drainase.
 Pertahankan teknik steril selama penggantian dressing dan perawatan
luka.
 Pertahankan dressing abdominal tetap bersih dan kering.

Jika tanda dan gejala peritonitis terjadi, maka:

o Membatasi intake makanan.


o Posisikan pasien dengan posisi semi-fowler.
o Siapkan pasien untuk melakukan pemeriksaan diagnostic.
o Pasangkan NGT dan pertahankan dengan suction sesuai dengan
kebutuhan pasien.
o Berikan terapi cairan IV atau darah jika dibutuhkan.
o Persiapkan pasien untuk melakukan intervensi operasi.

10. Komplikasi
a. Syok septik
b. Ileus paralitik
c. Abses: pelvis, hepar,subfrenik
d. Obstruksi usus
Daftar Pustaka

Acton, Q. Ashton. 2013.Peritonitis: New Insight for the Healthcare Professional 2013
Edition. Georgia: Scholary Editions.

Haugen, Nancy & Galura, Sandra. 2011. Ulrich & Canale’s Nursing Care Planning
Guides: Prioritization, Delegation and Critical Thinking. USA: Elsevier.

Japanesa, Aiwi, dkk. 2016. Pola Kasus dan Penatalaksanaan Peritonitis Akut di
Bangsal Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang, (online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=421631&val=7288&title=
Pola%20Kasus%20dan%20Penatalaksanaan%20Peritonitis%20Akut%20di%
20Bangsal%20Bedah%20RSUP%20Dr.%20M.%20Djamil%20Padang,
diunduh pada 2 Maret 2017 pk. 16.30)
Krishna, A. . 2015. Mengenali Keluhan Anda Edisi 2. Jakarta: INformasi Medika.

Mayo clinic. 2015. Diseases and Conditions Peritonitis, (online),


(http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peritonitis/basics/risk-
factors/con-20032165, diuduh pada 4 Maret 2017 pk. 08.00)

Mubin, Halim A. 2013. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis dan Terapi.
Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif & Sari, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

Nissenson, Allen R & Fine, Richard N. 2017. Handbook of Dialysis Theraphym 5th
Edition. Canada: Elsevier.

Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.

Ratini, Melinda 2015. Peritonitis, (online), (http://www.webmd.com/digestive-


disorders/peritonitis-symptoms-causes-treatments#3, diunduh pada 4 Maret
pk. 08.00)