Anda di halaman 1dari 8

FORM PENGAJUAN JUDUL OUTLINE PROPOSAL PENELITIAN

(SKRIPSI)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM

NAMA : SANTI ANGGRAENI

NIM : A1C05118

JURUSAN : S1 AKUNTANSI REGULER PAGI

JUDUL : IMPLEMENTASI GREEN ACCOUNTING PADA DAERAH

RAWAN BENCANA (STUDI FENOMENOLOGIS PADA

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT)


IMPLEMENTASI GREEN ACCOUNTING PADA DAERAH RAWAN BENCANA

(STUDI FENOMENOLOGIS PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN

LOMBOK BARAT)

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Green accounting merupakan ilmu akuntansi yang mengakui adanya faktor

biaya lingkungan ke dalam hasil kegiatan perusahaan. Konsep green accounting

sebenarnya sudah mulai berkembang sejak tahun 1970- an di Eropa, hal ini terjadi

karena tekanan lembaga-lembaga bukan pemerintah dan meningkatnya kesadaran

lingkungan di kalangan masyarakat yang mendesak agar perusahaan-perusahaan

bukan sekedar mengutamakan laba perusahaan namun juga dapat memperhatikan

lingkungan sekitarnya.

Dalam hal ini, implementasi green accounting sangatlah penting, apalagi

pada daerah yang rawan bencana, seharusnya perusahaan-perusahaan sudah

mengimplementasikan adanya green accounting dalam setiap hasil kegiatan

perusahaan. Pemerintah daerah Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu

Kabupaten di Provinsi NTB yang mempunyai posisi sangat strategis sebagai

Daerah Tujuan Wisata (DWT). Disamping keberadaannya sebagai daerah wisata,

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat juga termasuk daerah rawan bencana,

diantaranya bencana tsunami, banjir, dan longsor. Dalam penelitian

(Marchivelly, Mic, dkk : 2011) yang berjudul “Pemetaan Resiko Bencana Pada

Daerah Pariwisata Kabupaten Lombok Barat” mengemukakan bahwa Pemerintah

Kabupaten Lombok Barat adalah daerah yang menduduki peringkat ke 17

ancaman bencana nasional berdasarkan Indeks Rawan Bencana Tahun 2011 yang
diterbitkan oleh BNBP seperti banjir, gempabumi, tsunami, cuaca ekstrim,

kebakaran pemukiman, kekeringan, longsor, gunung api dan lain-lain.

Dengan demikian, peneliti memandang penerapan green accounting

sangatlah penting untuk diterapkan pada daerah Kabupaten Lombok Barat.

Implementasi green accounting seharusnya sudah diterapkan oleh entitas apapun baik

itu entitas privat maupun entitas publik. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti

tertarik untuk membuat penelitian yaitu “Implementasi Green accounting pada

Daerah Rawan Bencana (Studi Fenomelogis pada Pemerintah Daerah Kabupaten

Lombok Barat).

2. Research question

2.1. Bagaimana implementasi green accounting pada daerah rawan bencana

(Study Fenomelogis pada Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat) ?

3. Tujuan penelitian

3.1. Untuk mengetahui implementasi green accounting pada daerah rawan

bencana yaitu pada Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat.

4. Manfaat penelitian

4.1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis yakni

menjadi sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan.

4.2. Manfaat praktis

Menambah wawasan peneliti mengenai pentingnya green accounting dalam

bidang ilmu akuntansi yang selanjutnya dijadikan sebagai acuan dalam

bersikap dan berperilaku.


B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Telaah Riset Terdahulu

No. Nama/tahun Judul Tujuan Metode Hasil

1. Ita Nuryana, Implementa 1) Mampu Deskriptif Pemahaman

Wulan Suci si Green mengimpleme implementasi

Rachmadani, Accounting ntasikan green green

Kuat Waluyo pada Daerah accounting accounting di

Jati (2018) Rawan pada instansi daerah

Bencana publik di Banjarnegara

(Studi Pemerintah sudah

Fenomenolo Daerah baik.

gis pada Kabupaten

Pemerintah Banjarnegara

Daerah 2) Untuk

Kabupaten menambah

Banjarnegar keilmuan

a dalam ranah

akuntansi

keuangan dan

manajemen

mengenai

green

accounting.
2. Landasan Teori

Menurut EPA, akuntansi hijau merupakan bentuk pendekatan gabungan

yang menyediakan bentuk transisi data dari akuntansi keuangan dan akuntansi

biaya untuk meningkatkan efisiensi bahan dan mengurangi dampak serta risiko

lingkungan sekaligus mengurangi biaya perlindungan lingkungan. Green

accounting adalah penerapan akuntansi dimanaperusahaan juga memasukan

biaya-biaya untuk pelestasrian lingkungan ataupun kesejahteraan lingkungan

sekitar yang sering disebut dengan istilah biayalingkungan dalam beban

perusahaan (Hanifa Zulhaimi, 2015). Green accounting bisa dijelaskan

merupakan akuntansi yang di dalamnya mengidentifikasi, mengukur, menilai, dan

mengungkapkan biaya-biaya terkait dengan aktivitas perusahaan yang

berhubungan dengan lingkungan (Aniela, 2012).

Konsep green accounting sebenarnya sudah mulai berkembang sejak

tahun 1970- an di Eropa, hal ini terjadi karena tekanan lembaga-lembaga bukan

pemerintah dan meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat

yang mendesak agar perusahaan-perusahaan bukan sekedar berkegiatan industri

demi bisnis saja, tetapi juga menerapkan pengelolaan lingkungan. Tujuannya

adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan

penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan

manfaat atau efek (economic benefit), serta menghasilkan efek perlindungan

lingkungan (environmental protection) (Almilia dan Wijayanto, 2007 dalam

Kusumaningtias, 2013).

Beberapa teori yang mendukung penyampaian laporan

pertanggungjawaban sosial dan lingkungan adalah legitimacy theory dan

stakeholder theory (Deegan, 2004: 292). Legitimacy theory menyatakan bahwa


perusahaan akan memastikan bahwa mereka beroperasi dalam batasan nilai dan

norma yang ada dalam masyarakat atau lingkungan tempat perusahaan berada.

Ghozali dan Chariri (2007) menjelaskan bahwa guna melegitimasi aktivitas

perusahaan di mata masyarakat, perusahaan cenderung menggunakan kinerja

berbasis lingkungan dan pengungkapan informasi lingkungan. Sedangkan

stakeholde theory memperhatikan keseluruhan pihak yang mempunyai

kepentingan terhadap perusahaan. Stakeholer perusahaan memiliki ekspektasi

masing-masing terhadap perusahaan. Manajemen akan berusaha untuk mengelola

dan mencapai harapan stakeholder dengan penyampaian aktivitas-aktivitas

lingkungan dan sosial.

Peraturan Yang Terkait Dengan Green Accounting antara lain: (a)

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU

ini mengatur tentang kewajiban setiap orang yang berusaha atau berkegiatan untuk

menjaga, mengelola, dan memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai

lingkungan hidup. Akibat hukum juga telah ditentukan bagi pelanggaran yang

menyebabkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu dari 10 (sepuluh)

kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara administrasi, Kabupaten

Lombok Barat terbagi dalam 10 kecamatan, yaitu : Kecamatan Sekotong, Lembar,

Gerung, Labuapi, Kediri, Kuripan, Narmada, Lingsar, Gunungsari dan Batulayar.

Luas wilayah Kab. Lombok Barat adalah 62,30 km2 dengan ibukota di Gerung.

Kab. Lombok Barat terletak antara 115 o12’ sampai dengan 8o 46’-116o 28’ BT,

dan 8o 55’ LS, dengan batas wilayah Sebelah Barat dengan Selat Lombok dan

Kota Mataram; Sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Lombok Tengah; Sebelah
Utara berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara; dan Sebelah Selatan

berbatasan dengan Samudera Hindia.

Potensi Bencana Kabupaten Lombok Barat

Ancaman Bencana di Kab. Lombok Barat berdasarkan Indeks Rawan

Bencana Tahun 2011 yang diterbitkan oleh BNPB adalah banjir, gempabumi,

tsunami, kebakaran permukiman, kekeringan, cuaca ekstrem, longsor, gunung-api,

abrasi, konflik sosial, epidemi, dan wabah penyakit. Dalam penelitian ini, bencana

yang akan dikaji hanya akan dibatasi yang termasuk bencana alam

hidrometeorologi. Menurut BNPB (2011), Kab. Lombok Barat menduduki

peringkat 17 dalam hal peringkat rawan bencana nasional seperti yang disajikan

pada Tabel 1 dan indeks rawan ebncana Provinsi Nusa Tenggara Barat tersaji

pada Gambar 1. Tabel 2, menunjukkan histori bencana yang tercatat di

Kabupaten Lombok Bara dari tahun 2002 hingga tahun 2009. Dari tabel tersebut

dapat dilihat bahwa bencana yang sering muncul di Lombok Barat adalah banjir,

diikuti dengan longsor dan kekeringan. Tabel 1. Indeks Rawan Bencana di

Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Skor Kelas Rawan Rangking

Nasional

Rangking
Kabupaten Score Kelas Rawan
Nasional

Lombok Barat 111 Tinggi 17

Sumbawa 101 Tinggi 26

Lombok Timur 89 Tinggi 54

Bima 81 Tinggi 82

Lombok
80 Tinggi 88
Tengah
Kota Mataram 70 Tinggi 148

Dompu 70 Tinggi 151

Sumbawa
46 Tinggi 326
Barat

Lombok Utara 15 Sedang 442

Kota Bima 10 Sedang 460

Sumber: BNPB (2011)

C. METODE PENELITIAN

1. Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam hal ini adalah pendekatan kualitatif

dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif.

2. Populasi, Sampel, dan Responden

2.1. Populasi penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten Lombok Barat

2.2. Sampel Penelitian ini adalah DPPKAD (Dinas Pendapatan Pengelolaan

Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah) Pemerintah Kabupaten Lombok Barat

2.3. Responden penelitian ini adalah pegawai DPPKAD, dan semua pihak yang

berhubungan dengan penelitian ini.

3. Sumber Data

3.1. Sumber data primer seperti wawancara,

3.2. Sumber data sekunder seperti laporan dan dokumentasi lainnya.

4. Prosedur Analisis Data

Analisis data meliputi proses aktifitas mengorganisasikan dan mengurutkan data.

Berlangsung dinamis yang dilakukan secara simultan dengan pengumpulan data

dan mereduksi data berdasarkan pada suatu kategori data. Kategori dapat

didasarkan pada tema-subtema yang terdapat pada suatu teori tertentu.