Anda di halaman 1dari 20

PERENCANAAN TAMBANG TERBUKA

PEMINDAHAN TANAH MEKANIS

Oleh :

Ahmad Mirza Fatahillah (11160980000041)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengertian Pemindahan tanah mekanis adalah suatu pekerjaan yang memindahkan sejumlah
volume tanah dengan menggunakan bantuan alat-alat mekanis.
Pemindahan Tanah Mekanis (PTM) juga didefinisikan yaitu semua pekerjaan yang
berhubungan dengan kegiatan penggalian (digging, breaking, loosening), pemuatan (loading),
pengangkutan (hauling, transporting), penimbunan (dumping, filling), perataan (spreading,
leveling) dan pemadatan (compacting) tanah atau batuan dengan menggunakan alat-alat mekanis
(alat-alat berat/besar).
Yang dimaksud dengan tanah disini adalah bagian teratas dari kulit bumi yang relatif lunak,
tidak begitu kompak dan terdiri dari butiran-butiran lepas. Sedangkan yang dimaksud dengan
batuan adalah bagian kulit bumi yang lebih keras, lebih kompak dan terdiri dari kumpulan mineral
pembentuk batuan tersebut.
Oleh karena perbedaan kekerasan dari material yang akan digali sangat bervariasi, maka
sering dilakukan penggolongan-penggolongan berdasarkan mudah-sukarnya digali dengan
peralatan PTM. Adapun salah satu cara penggolongan material tersebut adalah :
a. Lunak (soft) atau mudah digali (easy digging), misalnya :
- Tanah atas atau tanah pucuk (top soil).
- Pasir (sand).
- Lempung pasiran (sandy clay).
- Pasir lempungan (clayey sand).
b. Agak keras (medium hard digging), misalnya :
- Tanah liat atau lempung (clay) yang basah dan lengket.
- Batuan yang sudah lapuk (weathered rocks).
c. Sukar digali atau keras (hard digging), misalnya:
- Batu sabak (slate).
- Material yang kompak (compacted material).
- Batuan sedimen (sedimentary rocks).
- Konglomerat (conglomerate).
- Breksi (breccia).
d. Sangat sukar digali atau sangat keras (very hard digging) atau batuan segar (fresh rocks) yang
memerlukan pemboran dan peledakan sebelum dapat digali, misalnya :
- Batuan beku segar (fresh igneous rocks).
- Batuan malihan segar (fresh metamorphic rocks).

BAB II

PEMBAHASAN

Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Alat

Untuk memperkirakan produksi alat beras secara teliti perlu dipelajari faktor-faktor yang secara
langsungdapat mempengaruhi hasil kerja alat tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi: (1) Tahanan
gali (Digging Resistance), (2) Tahanan guling atau tahanan gelinding (Rolling Resistance), (3) Tahanan
kemiringan (Grade Resistance), (4) Koefisien Traksi, (5) Rimpull, (6) Percepatan, (7) Elevasi letak
proyek, (8) Efisiensi Operator, (9) Faktor pengembangan atau pemuaian (Swell Factor), dan (10) Berat
material.

1. Tahanan Gali (Digging Resistance)


Tahanan gali (Digginr Resistance, sering disingkat DR) marupakan tahanan yang dialami oleh
alat gali pada waktu melakukan penggalian material, penyebab timbulnya atahanan ini
adalah:
a. Gesekan antara alat gali dan tanah; umumnya semakin besar kelembaban dn
kekerasan butiran tanah, maka semakin besar pula gesekan alat dan tanah yang
terjadi.
b. Kekerasan dari material yang digali.
c. Kekasaran dan ukuran butiran tanah atau material yang digali.
d. Adanya adhesi antara tanah dengan alat gali, dan kohesi antara butiran tanah itu
sendiri.
e. Berat Jenis tanah (terutama berpengaruh pada alat gali yang berfungsi sebagai alat
muat, misalnya Power Shovel, Clamshell, Dragline dan sejenisnya).

Besarnya tahanan gali (DR) tak dapat dicari angka reratanya, oleh karena itu biasanya langsung
ditentukan di tempat.
2. Tahanan Guling (Rolling Resistance)
Tahanan guling/ tahanan gelincir (Rolling Resistance, biasa disingkat RR) merupakan segala
gaya-gaya lyar yang berlawanan arah dengan arah gerak kendaraan yang sedang berjalan di
atas suatu jalur. (Lihat Gambar: 4.1)

Bagian yang mengalami Rolling Resistance (RR) secara langsung adalah ban bagian luar
kendaraan, tahanan guling (RR) tergantung pada banyak faktor, diantaranya yang terpenting
adalah:

a. Keadaan jalan (kekerasan dan kemulusan permukaan jalan); semakin keras dan mulus
atau rata jalan tersebut, maka tahanan gulingnya (RR) semakin kecil.
b. Keadaan ban yang bersangkutan dan permukaan jalur jalan. Jika memakai ban karet, maka
yang berpengaruh adalah ukuran, tekanan, dan permukaan dari ban alat berat yang
digunakan; apakah ban luar masih baru, atau sudah gundul, dan bagaimana model
kembangan ban itu. Jika menggunakan Crawler yang berpenaruh adalah kondisi jalan

Besarnya RR dinyatakan dalam pounds (lbs) dan Rimpull yang diperlukan untuk menggerakkan
tiap gross ton berat kendaraan beserta isinya pada jalur mendatar, dan dengan kondisi jalan
tertentu.

Contoh :

Jalur jalan yang dibuat dari perkerasan tanah dilewati leh truck dengan tekanan ban 35 – 50
lbs. Diperkirakan roda tersebut memiliki tahanan gulir (RR) sebesar 100 lbs/ ton. Jika berat
kendaraan dan isinya 20 ton, hitung besarnya kekuatan tarik yang diperlukan oleh mesin itu
pada roda kendaraan (Rimpul) agar kendaraan tersebut dapat bergerak.

Jawab :

Rimpull (RP) = Berat kendaraan x RR

= 20 ton x 100 lbs/ ton

= 200 lbs.

Pada prakteknya menentukan RR sangat sukar dilakukan, sebab dipengaruhi oleh ukuran dan
tekanan ban, serta kecepatan kendaraan.
Untuk perhitungan praktis RR dapat dihitung menggunakan rumus:

RR = CRR x Berat Kenderaan beroda

Keterangan :

RR = Tahanan Guling (lbs/ gross ton)

CRR = Koefisien Tahanan Guling

Tabel Angka Tahanan Gulir (dalam %)

Arah Tahanan Gulir


3. Rimpull

Rimpull adalah besarnya kekuatan tarik yang dapat diberikan oleh mesin atau ban penggerak
yang menyentuh permukaan jalur jalan dari suatu kendaraan. Rimpull biasanya dinyatakan
dalam satuan kg atau lbs.

Jika Koefisien Traksi (CT) cukup tinggi sehingga roda tidak selip, atau CT mampu menghindari
selip, maka besarnya Rimpull maksimum yang dapat diberikan oleh mesin/ ban kendaraan
adalah fungsi dari tenaga mesin (dsalam Horse Power) dan perseneling antara mesin dan
rodanya.

Rimpull biasanya dinyatakan dalam pounds (lbs) dan dihitung dengan rumus :

HP x 375 x effesiensi mesin


RP = —————————————-
kecepatan, mph

dimana :

RP = Rimpull atau kekuatan tarik (lb)


HP = Tenaga mesin, HP
375 = Angka konversi

Jadi: RP = (HP x 375 x Efisiensi mesin)/ (Kecepatan mesin dalam mph)

Rimpull (Kekuatan tarik kendaraan)


Keterangan rumus: RP = lbs
HP = Horse Power (Tenaga mesin) HP
375 = Angka konversi
Efisiensi
mesin = 80 – 85%

Tetapi jika ban kendaraan telah selip, maka besarnya Rimpull dihitung sama dengan tenaga
pada roda penggeraknya dikalikan CT .

Jadi saat selip RP = Tenaga Roda Penggerak x CT


Contoh 1 :

Traktor dengan kekuatan 160 HP, menggunakan roda karet, berjalan pada gigi 1 dengan
kecepatan 3,6 mph (mile per hour= mil/ jam). Hitung Rimpull maksimum yang dapat diberikan
oleh roda itu.

Jawab:

Traktor roda karet, kondisi yang tidak selip.

Menurut rumus

RP = (HP x 375 Efisiensi mesin)/Kecepatan (mph)

RP = 160 x 375 x0,80/3,6

RP = 13.500 lbs

Contoh 2 :

Buldoser 140 HP, roda karet bergerak pada versenelling 1 dengan kecepatan 3,25 mph. Hitung
Rimpull maksimum yang dapat diberikan oleh roda buldoser itu.

Jawab :

Kondisi kendaraan tidak selip.

RP = (HP x 375 Efisiensi mesin)/Kecepatan (mph)

RP = (140 x 375 x 0,85)/3,25

RP = 13.730 lbs

Rimpull tidak dapat dihitung pada roda rantai (Crawler); istilah yang dipakai penggantinya
adalah Draw Pull Bar (DPB). Dalam DPB pada traktor, mesin traktur harus mampu untuk
menahan:

- Tahanan guling (RR) dan tahanan kemiringan (GR)

- Tahanan gulir dan tahanan kemiringan dari alat yang ditariknya.


Contoh 3 :

Sebuah traktor/ buldoser yang beratnya (W) 15 ton, bergerak di atas jalur jalan yang
mempunyai tahanan gulir (RR) 100 lbs/ ton, dengan kemiringan jalan sebesar 5%. Buldoser itu
berjalan pada versenellling 1 dan memiliki DPB maksimum sebesar 28.019 lbs. Hitung DPB
yang dapat digunakan untuk menarik muatan lain.

Jawab :

DPB Maksimum = 28.019 lbs.

DPB untuk mengatasi RR = W x RR

= 15 ton x 100 lbs/ ton = 1.500 lbs

DPB untuk mengatasi GR = W x GR x kemiringan jalan

= 15 ton x 20 lbs/ton/ 1% x 5% = 1.500 lbs

DPB Total = DPB untuk mengatasi RR + DPB untuk mengatasi GR

= 1.500 lbs + 1.500 lbs = 3.000 lbs

DPB untuk menarik muatan = DPB Maksimum - DPB Total

= 28.019 lbs - 3.000 lbs = 25.019 lbs

Rimpull tergantung pada HP dan kecepatan gerak dari alat berat tersebut. Biasanya pabrik
telah memberikan pedoman tentang berapa besar kecepatan maksimum dan Rimpull yang
dapat dihasilkan oleh masing-masing gigi verseneling seperti terdapat pada tabel di bawah
4. Tahanan Kemiringan (Grade Resistance)

Grade Resistance (GR) adalah besarnya gaya berat yang melawan atau membantu gerak
kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang dilalui. Jika jalur jalan itu naik disebut
kemiringan positif, Tahanan Kemiringan atau Grade Resistance (GR) akan menalwan gerak
kendaraan; tetapi sebaliknya, jika jalan itu turun disebut kemiringan negatif, tahanan
kemiringan akan membantu gerak kendaraan

Gambar Tahanan Kemiringan

Tahanan kemiringan tergantung pada dua faktor yaitu:

a. Besarnya kemiringan (dinyatakan dalam %)


b. Berat kendaraan itu sendiri (dinyatakan dalam Gross-ton)

Biasanya tahanan kemiringan dihitung sebagai berikut: “Tiap kemiringan 1% besarnya


tahanan kemiringan rata-rata = 20 lbs dari besarnya kekuatan tarik mesin yang digunakan
untuk menggerakkan ban yang menyentuh permukaan jalur jalan. Besarnya dihitung untuk
tiap gross-ton berat kendaraan beserta isinya”.

Pengaruh Kemiringan Jalan Terhadap Tahanan Kemiringan

Kemiringan GR Kemiringan GR Kemiringan GR


(%) (lb/ton) (%) (lb/ton) (%) (lb/ton)
1 20,0 9 179,2 20 392,3
2 40,0 10 199,0 25 485,2
3 60,0 11 218,0 30 574,7
4 80,0 12 238,4 35 660,6
5 100,0 13 257,8 40 742,8
6 119,8 14 277,4 45 820,8
7 139,8 15 296,6 50 894,4
8 159,2
Contoh Soal :

Sebuah truck beserta muatan beratnya 20 ton, truck itu bergerak pada jalur jalan dengan
tahanan gulir (GR) = 100 lbs/ ton. Hitung kekuatan tarik yang diperlukan oleh mesin truck
untuk menggerakkan bannya.

Jawab:

Kekuatan tarik (Rimpull yang menahan kemiringan) = Berat kendaraan x GR x Kemiringan.

= 20 ton x 100 lbs/ton/1% x 5% = 200 lbs

Untuk menahan supaya truck tidak meluncur turun akibat kemiringan, maka diperlukan
kekuatan tarik yang besarnya minimum 200 lbs juga.

Kekuatan tarik yang diperlukan = Rimpull yang menahan kemiringan + gaya tarik yang
menahan kemiringan

Kekuatan tarik yang diperlukan = 200 lbs + 200 lbs = 400 lbs.

5. Koefisien Traksi (Traction Coefficient)

Koefisien Traksi (CT) adalah faktor yang menunjukkan berapa bagian dari seluruh kendaraan
itu pada ban atau truck yang dapat dipakai untuk menarik atau mendorong. Jadi CT adalah
suatu faktor dimana jumlah berat kendaraan pada ban penggerak itu harus dikalikan untuk
menunjukkan Rimpull maksimum antara ban dengan jaur jalan , tepat sebelum roda itu selip.

Jika terdapat geseran yang cukup antara permukaan roda dengan permukaan jalan, maka
tenaga mesin tersebut data dijadikan tenaga traksi yang maksimal.

Besarnya CT tergantung pada:

a. Kondisi ban yang meliputi: macam dan bentuk kembangannya; untuk crawlwer truck
tergantung pada keadaan dan bentuk trucknya.
b. Kondisi permukaan jalan (basah, kering, keras, lunak, rata, bergelombang, dan
sebagainya)
c. Berat kendaran yang diterima oleh roda.
Gambar arah Koefisien Traksi

Menurut pengalaman, besarnya CT pada macam-macam keadaan jalan seperti terdapat pada
Tabel berikut

Contoh :

Jumlah berat kendaraan yang diterima oleh roda kendaraan = 8000 lbs. Berdasarkan
percobaanpercobaan diketahui bila hanya tersedia Rimpull seberat 4800 lbs saja, maka roda
akan selip. Hitunglah Koefisien Traksi (CT)

Jawab:

Jika Rimpull yang tersedia besarnya 4800 lbs, berarti traksi kritis dari kendaraan tersebut =
Rimpull.

Traksi Kritis = Rimpull = CT x Berat Total Alat (W)

Traksi Kritis = CT x W

4800 lbs = CT x 8000 lbs

CT = 0,60
6. Faktor Pengembangan (Swell Factor)
Tanah maupun massa batuan yang ada di alam ini telah dalam kondisi terkonsolidasi dengan
baik, artinya bagian-bagian yang kosong atau ruangan yang terisi udara diantara butirannya
sangat sedikit; namun demikian jika material tersebut digali dari tempat aslinya, maka
terjadilah pengembangan atau pemuaian volume. Tanah asli yang di alam volumenya 1 m3,
jika digali volumenya bisa menjadi 1,25%, ini terjadi karena tanah yang digali mengalami
pengembangan dan pemuaian dari volume semula akibat ruang antar butiranya yang
membesar.

Faktor pengembangan dan pemuaian volume material perlu diketahui, sebab pada waktu
penggalian material volume yang diperhitungkan adalah volume dalam kondisi Bank Yard,
yaitu volume aslinya seperti di alam. Akan tetapi pada waktu perhitungan penangkutan
material, volume yang dipakai adalah volume material setelah digali, jadi material telah
mengembang sehingga volumenya bertambah besar.

Kemampuan alat angkut maksimal biasanya dihitung dari kemampuan alat itu mengangkut
material pada kapasitas munjung, jadi bila kapasitas munjung dikalikan dengan faktor
pengembangan material yang diangkut, akan diperoleh Bank Yard Capacity-nya. Tetapi
sebaliknya, bila Bank Yard itu dipindahkan lalu dipadatkan di tempat lain dengan alat pemadat
mekanis, maka volume material tersebut menjadi berkurang. Hal ini disebabkan karena
material menjadi benar-benar padat, jika 1 m3 tanah dalam kondisi Bank Yard dipadatkan,
maka volumenya menjadi sekitar 0,9 m3, tanah mengalami penyusutan sekitar 10%.Beberapa
angka pemuaian dan penyusutan jenis material galian disajikan pada tabel berikut
Angka Penyusutan/ Pemuaian Tanah (SF)

Beberapa persamaan faktor -faktor diatas :

V loose
Percent Swell = ( ———————- – 1) x 100%
V undisturbed
V undisturbed
Swell Factor = ( ———————- ) x 100%
V loose
V compacted
Shrinkage Factor = ( 1 – ———————– ) x 100%
V undisturbed
Kalau angka untuk shrinkage factor tidak ada biasanya dianggap sama dengan percent swell.
Beberapa istilah penting yang berkaitan dengan kemampuan penggalian yaitu :

1. Faktor Bilah (blade factor), yaitu perbandingan antara volume material yang mampu
ditampung oleh bilah terhadap kemampuan tampung bilah secara teoritis.

2. Faktor Mangkuk (bucket factor), yaitu perbandingan antara volume material yang dapat
ditampung oleh mangkuk terhadap kemampuan tampung mangkuk secara teoritis.

3. Faktor Muatan (payload factor), yaitu perbandingan antara volume material yang dapat
ditampung oleh bak alat angkut terhadap kemampuan bak alat angkut menurut spesialisasi
teknisnya.

Macam Material Bobot Isi Swell Factor


(Density)
lb/cu yd (in bank
insitu correction factor)
1. Bauksit 2.700 – 4.325 0,075
2. Tanah liat, kering 2.300 0,85
3. Tanah liat, basah 2.800 – 3.000 0,82 – 0,80
4. Antrasit (anthracite) 2.200 0,74
5. Batubara bituminous 1.900 0,74
(bituminous coal)
6. Bijih tembaga (cooper ore) 3.800 0,74
7. Tanah biasa, kering 2.800 0,85
8. Tanah biasa, basah 3.370 0,85
9. Tanah biasa bercampur pasir 3.100 0,90
dan kerikil (gravel)
10. Kerikil kering 3.250 0,89
11. Kerikil basah 3.600 0,88
12. Granit, pecah-pecah 4.500 0,67 – 0,56
13. Hematit, pecah-pecah 6.500 – 8.700 0,45
14. Bijih besi (iron ore), pecah- 3.600 – 5.500 0,45
pecah
15. Batu kapur, pecah-pecah 2.500 – 4.200 0,60 – 0,57
16. Lumpur 2.160 – 2.970 0,83
17. Lumpur sudah ditekan 2.970 – 3.510 0,83
(packed)
18. Pasir, kering 2.200 – 3.250 0,89
19. Pasir, basah 3.300 – 3.600 0,88
20. Serpih (shale) 3.000 0,75
21. Batu sabak (slate) 4.590 – 4.860 0,77
Contoh 1.

Sebuah Power Scrapper memiliki kapasitas munjung 15 yd3, akan digunakan untuk
mengangkut tanah liat. Berapakah kapasitas alat sebenarnya mampu mengangkut tanah liat
asli?

Jawab:

Menurut Tabel, tiap 1 bagian tanah liat asli bila digali akan mengembang menjadi 1,25 bagian.

Kapasitas munjung = 1,25 x kapasitas tanah liat asli

15 yd3 = 1,25 x kapasitas tanah liat asli

Kapasitas tanah liat asli = (15/ 1,25) cu yd

= 120 cu yd.

Contoh 2.

Bila tanah liat tersebut untuk urugan yang dipadatkan, berapa volume padatnya?

Jawab:

Volume padat = volume asli x 0,90

= 120 cu yd x 0,90

7. Shrinkage Factor
Sementara itu, hubungan antara kondisi tanah asli dengan tanah dipadatkan ditentukan
oleh factor penyusutan atau shrinkage factor (SF) dan persentase penyusutan
atau shrinkage percentage (Sh), rumus yang menghubungkan kedua kondisi ini adalah:
8. Faktor Kesesuaian Alat (Match Factor)
Dalam upaya meningkatkan kualitas sistem kerja,perlu diperhatikan keserasian
antara masing-masing alat yang beroprasi dengan baik alat angkut maupun alat muat
dalam sistem kerja.
Operasi kerja yang serasi antara alat muat dan alat angkut akan memperlancar
operasi pemuatan.Hal ini dapat dicapai dengan penilaian terhadap cara kerja,jenis
alat,ukuran dan kemampuan.Penilaian meliputi :
1. Penyesuaian berdasarkan spesifikasi teknis alat terutama pada sa’at
merencanakan pemilihan alat atau penggantinya.

2. Penyesuaian penilaian berdasarkan Match Factor,yaitu penilaian yang dilakukan


pada saat alat digunakan dengan melakukan pengamatan terhadap waktu edar baik
alat muat maupun alat angkut sehingga bila terjadi penyimpangan dapat segera
diatas, dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

a. Untuk kapasitas alat angkut yang sama dan kapasitas alat muat yang sama
didapat rumus sebagai berikut :

Produksi alat muat = produksi alat angkut

produksi alat angkut


1
produksi alat muat
60
x ( nxCamxF ) xEUxMAxNa
CTa
1
60
xCamxFxEUx MAxNm
CTm

Nax ( nxCTm )
MF=
NmxCTa

b. Sedangkan untuk kapsitas alat angkut berbeda dan alat muat berbeda didapat
rumus Match Factor sebagai berikut:
60 60
{ x ( n 1xCam1xF1 ) xEU1xMA1 xNa 1 }  ..  { x ( n n xCamxFn ) xEU n xMA n xNa n }
CTa 1 CTa n
MF=
60 60
{ xCam1xF1xEU1xMA1xNm1}  ..  { xCam n xFn xEU n xMA n xNm n }
CTm1 CTm n

Adapun cara menentukan keserasian alat adalah sebagai berikut:

1. MF<1, artinya operating factor dari alat muat kurang dari 100% sedang alat angkut
100%,sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat sebagai berikut:
Nax ( nxCTm )
1> Nm x Cta > Na x (nxCTm)
NmxCTa

NmxCTa NmxCTa
 CTmxn CTmxn<
Na Na

Dari persamaan tersebut setelah disamakan karena terdapat kekurangan waktu


maka ditambah dengan WTm didapat persamaa sebagai berikut :

NmxCTa
WTm +( CTm x n) =
Na

Jadi waktu tunggu alat muat :


NmxCTa
WTm =  (CTmxn )( menit )
Naxn

2. MF = 1,artinya operating factor dari alat muat dan alat angkut adalah 100%
3. MF > 1,artinya operting factor dari alat muat adalah 100%,sedangkan alat angkut
kurang dari 100%,sehingga terdapat waktu bagi alat angkut sebagai berikut:
Nax (CTmxn )
1 Na x( CTm x n )> Nmx CTa
NmxCTa

Nax(CTmxn)
CTa <
Nm

Dari persamaan tersebut setelah disamakan karena terdapat kekurangan waktu


maka ditambah denganWTa didapat persamaan sebagai berikut:

Nax ( CTmxn )
WTa + CTa =
Nm

Jadi waktu tunggu alat angkut :

Nax (CTmxn )
WTa =  CTa (menit)
Nm

Keterangan :

MF = Match Factor Cam = Kapasitas alat muat

Na =Jumlah alat angkut n = Jumlah penumpahan

CTm = Waktu edar pemuatan, menit EU = Efektif utility

Nm =Jumlah alat gali muat

Cta = Waktu edar alat angkut, menit


BAB III

PENUTUP

Untuk memperkirakan produksi alat beras secara teliti perlu dipelajari faktor-faktor yang secara
langsungdapat mempengaruhi hasil kerja alat tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi: (1) Tahanan
gali (Digging Resistance), (2) Tahanan guling atau tahanan gelinding (Rolling Resistance), (3) Tahanan
kemiringan (Grade Resistance), (4) Koefisien Traksi, (5) Rimpull, (6) Percepatan, (7) Elevasi letak
proyek, (8) Evisiensi Operator, (9) Faktor pengembangan atau pemuaian (Swell Factor), dan (10) Berat
material.

Dunia pertambangan sangat erat ketergantungannya dengan alat berat. Kegiatan utama dalam dunia
pertambangan adalah gali-muat-angkut dimana pada kegiatan tersebut menggunakan alat berat yang
memiliki spesifikasi maupun harga yang bervariasi. Maka perhitungan akan produktivitas alat
merupakan modal penting dalam manajemen suatu proyek pertambangan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wedhanto, Sonny. (2009). Alat Berat dan Pemindahan Tanah Mekanis. Malang: Universitas
Negeri Malang
2. Tenriajeng, Andi Tenrisukki. (2003). Pemindahan Tanah Mekanis. Jakarta: Gunadarma