Anda di halaman 1dari 8

BIOLOGY OPEN EOUSE FOR EA{YIROAIMENTAL RECOGNITION

BIOSIi:ER)ilI
TINTYERSITAS BRAWIJAYA

Pemanf,ratan Sampah Botol Plastik Menjadi Ecobrick di Lingkungan


Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Diusulkan oleh:
Ketua : Mahesa Tegar Pribadi Adiluhung ; 1 61 400575/SV/1 107 9 ; Angkatan 20 1 6
Nama Anggota : Nadya Anggraini; l7l4l6727lsvl14465 ; Angkatan 2017

UNTVERSITAS GADJAH MADA


YOGYAKARTA
2018
LEMBAR PERTTYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama Mahesa Tegar Pribadi Adiluhung
NIM t6l40057stsv/l1079
Program Studi Dl Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil
Fakultas Sekolah Vokasi

Dengan ini menyatakan bahwa esai saya dengan judul ..pemanfaatan Sampah
Botol Plastik Meniadi Ecobrick di Lingkungan Sekotah Vokasi Universitas
Gadiah Mada' yang diusulkan bersifat orisinil, belum penrah dipublikasikan, atau
menjuarai kompetisi serupa.

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaftsesuaian dengan pemyataan ini,


maka saya bersedia ditrmtut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Demikian penryataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-
benamya

Yogyakarta, 24 Juli 201 8

Nn/I. 16t40057 s tsv/l I 079


Pemanfaatan Sampah Botol Plastik Menjadi Ecobrick di
Lingkungan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Oleh : Mahesa Tegar Pribadi Adiluhung, Nadya Anggraini

Sampah plastik merupakan permasalahan yang hingga saat ini belum


terselesaikan dengan baik. Sementara itu, jumlah manusia di Indonesia selalu
mengalami peningkatan ditambah lagi di era globalisasi ini banyak sekali rumah
makan, supermarket, dan pabrik industri baik skala kecil, menengah, hingga besar
menjamur dari Pulau Jawa sampai Pulau Papua sehingga meningkatkan jumlah
produktivitas sampah yang sangat besar. Dr. Jenna Jembeck (2015), kepala tim
ilmuwan dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, menyatakan bahwa Indonesia
merupakan penghasil sampah plastik nomor dua di dunia setelah Cina yang
mencapai angka 187,2 juta ton/tahun. Di Indonesia, Pulau Jawa menjadi penghasil
sampah paling banyak dibandingkan dengan pulau lain yaitu sebanyak 21,2 juta
ton per tahun (Kementrian Negara Lingkungan Hidup, KNLH 2008).

Aris Riyanta (2017), Kepala Dinas Pariwisata DIY, mengungkapkan


bahwa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu provinsi di Pulau
Jawa memiliki jumlah kunjungan wisatawan ditahun 2017 mencapai angka 4,7
juta untuk wisatawan domestik dan 397 ribu untuk wisatawan mancanegara.
Tingginya angka wisatawan di DIY tentu memunculkan berbagai masalah
lingkungan terutama sampah. Sebagai salah satu kabupaten di DIY dengan jumlah
kunjungan wisatawan yang banyak ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang
padat, sampah menjadi tantangan yang sangat serius bagi Pemerintah Kabupaten
Sleman. Menurut Badan Lingkungan Hidup DIY (2016) total timbunan sampah di
Sleman sebesar 8.000 m3 / hari dengan 60% diantaranya adalah sampah plastik.
Permasalahan sampah ini jika tidak dapat diatasi dengan baik akan memunculkan
berbagai macam dampak sosial, lingkungan, dan kesehatan yang merugikan
masyarakat.

Karena hal tersebut, strategi inovatif pengelolaan sampah perlu segera


dilakukan untuk menghambat transfer sampah dari rumah tangga hingga ke
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang tentunya memerlukan biaya
tidak murah. Strategi inovatif ini harus didasari dengan konsep yang sederhana,
mudah ditiru, tidak bergantung pada pemerintah, dan tentunya meningkatkan nilai
guna sampah tersebut dengan biaya serendah-rendahnya. Salah satu strategi
inovatif yang baru-baru ini dikembangkan di beberapa negara di dunia seperti
Filipina, Afrika Selatan, Kanada, Perancis dan Indonesia adalah “Ecobrick”.

Ecobrick adalah botol plastik yang di dalamnya diisi dengan sampah


anorganik sebanyak mungkin hingga penuh dan padat yang digagas dan
dikembangkan oleh seorang seniman Kanada yang bernama Russel Maier.
Pembuatan ecobrick sangatlah murah dan sederhana, tidak perlu bantuan dari
pemerintah dan tidak memelukan biaya tinggi, cukup botol, sampah anorganik
dan lem silikon. Penyusunan botol hingga menjadi Ecobrick memiliki 3 prinsip
yaitu cradle to cradle, collaboration, dan work with what you got.

Konsep cradle to cradle menyatakan bahwa dalam siklus konsumsi dan


produksi perlu adanya sebuah usaha agar tidak menghasilkan sampah/limbah
sedikitpun (zero waste). Konsep ini menjadi sebuah landasan fundamental
terhadap produksi dan konsumsi karena pada umumnya manusia menciptakan
suatu produk dan mengkonsumsi produk tersebut tanpa memikirkan dampak yang
terjadi ketika produk tersebut telah berakhir daya gunanya, misalnya saja
konstruksi gedung dan sampah plastik. Seorang designer gedung dan kontraktor
sering mengabaikan pandangan mengenai penanganan terhadap gedung yang yang
telah rusak atau sudah tidak layak untuk digunakan. Gedung yang terbengkalai
kemudian dihacurkan dengan cara diledakkan (demolition) sering menimbulkan
masalah lingkungan. Beton yang digunakan dalam sebuah bangunan mengandung
campuran semen yang tidak sedikit dan ketika dihancurkan beton akan
menghasilkan debu semen. Debu semen merupakan partikel yang sangat kecil,
halus, dan dapat beterbangan ketika ada angin. Debu semen ini dapat mencemari
udara dan masuk ke saluran pernfasan makhluk hidup terutama manusia sehingga
menyebabkan gangguan kesehatan di paru-paru. Selain masalah tersebut, adapula
permasalahan sampah sedotan plastik yang pada awalnya bertujuan untuk
memudahkan ketika minum. Namun, tujuan tersebut tidak diikuti dengan upaya
pengolahan sedotan tersebut ketika telah tidak digunakan. Sedotan yang tidak lagi
digunakan akan menghasilkan sampah dan pada umunya dibuang dan ada juga
yang dibakar. Pembakaran plastik ini mengeluarkan molekul dioxin yang beracun
dan hujan akan membawa racun itu ke sawah, hutan, halaman.
Berbagai masalah polusi muncul karena kelalaian manusia untuk
mengupayakan konsep cradle to cradle kini mulai dapat teratasi dengan
munculnya ecobrick. Ecobrick sebagai salah satu solusi untuk menghentikan
transfer sampah pantas dikatakan memiliki prinsip cradle to cradle karena pada
dasarnya Ecobrick adalah sebuah botol yang yang berisi sampah anorganik yang
dibuat menjadi sebuah modul dan disusun layaknya sebuah lego. Penyusunan
modul-modul ini tidak bergantung pada softskill individu, melainkan hanya
sebatas memainakan imajinasi sehingga dapat menghasilkan produk seperti rak,
kursi, meja, bahkan perahu. Modul-modul dapat dibuat seperti lego ini biasa
disebut dengan nama Modul Maeir- Dielman atau MDMs.
Prinsip collaboration yang digunakan dalam pembuatan ecobrick sangat
besar pengaruhnya terhadap perkembangannya di masyarakat. Collaboration
dimaknai sebagai filosofi dari Mandala. Mandala secara harfiah dapat diartikan
sebagai lingkaran. Filosofi Lingkaran tersebut bermakna bahwa setiap manusia
adalah guru yang mampu menyebarkan kebaikan sehingga kebaikan itu dicontoh
oleh orang lain, dan orang yang telah menerima kebaikan tersebut
menyebarkannya kembali ke orang dan wilayah yang lebih luas. Konsep
pembuatan dan pengenalan ecobrick melalui filosofi Mandala sangat identik. Pola
ecobrick yang meletakkan satu modul botol ditengah kemudian modul yang lain
mengikuti di lain sisi botol hingga terbentuk sebuah lingkaran yang yang
memiliki satu botol ditengah sebagai pusatnya. Bentuk ecobrick seperti itu mirip
seperti pola dari kebanyakan candi di Indonesia contohnya saja candi Borobudur.
Dari kejauhan, candi Borobudur akan tampak seperti sebuah susunan bangunan
berundak yang melingkar dan terdapat patung yang besar di tengah dan dikelilingi
patung-patung yang lain. Seperti itulah gambaran dari filosofi Mandala pada
pembuatan ecobrick yang memiliki kesamaan dengan candi Borobudur.
Pengenalan dan penyebaran ilmu pembuatan ecobrick dapat dimulai dari
lingkungan terdekat kemudian berkembang ke lingkup yang lebih luas seperti
halnya filosofi Mandala. Sebagai langkah awal dalam mengembangkan ecobrick
ini, Sekolah Vokasi UGM didaulat sebagai pilot project. Hal tersebut didasarkan
oleh data statistik yang menunjukkan bahwa Sekolah Vokasi memiliki jumlah
mahasiswa terbanyak di UGM dengan jumlah mencapai 8000-an mahasiswa.
Pelaksanaan pengembangan ecobrick ini Sekolah Vokasi menunjuk Jama’ah
Vokasi Al-Alim (JAVA) UGM sebagai role model dalam pembuatan ecobrick.
Jama’ah Vokasi Al-Alim (JAVA) adalah sebuah organisasi/Lembaga Dakwah
tingkat fakultas yang berlokasi di gedung pusat Sekolah Vokasi UGM. Pemilihan
JAVA sebagai role model tersebut dilatarbelakangi oleh brand lembaga dakwah
tersebut yang telah dikenal baik oleh semua mahasiswa Sekolah Vokasi maupun
mahasiswa dari fakultas lainnya.
Pelaksanaan pembuatan ecobrick ini dimulai dari lingkup yang kecil yaitu
dimulai dari pengumpulan sampah plastik dan botol plastik. Berdasarkan riset
sederhana yang telah dilakukan penulis, di gedung pusat Sekolah Vokasi terdapat
115 tempat sampah dengan asumsi tiap tempat sampah terdapat 3 buah botol
berukuran sama dan sampah plastik dengan berat 200 gram/tempat sampah per
hari. Jika dilihat sepintas mungkin hal tersebut bukanlah sesuatu masalah yang
serius karena kecilnya angka tersebut. Namun, setelah dikalkulasi selama satu
bulan maka jumlah botol dengan ukuran yang sama menjadi 10.350 botol/bulan (3
botol x 115 tempat sampah x 30 hari). Sementara itu, sampah plastik di gedung
pusat sekolah vokasi mencapai 690.000 gram/bulan (200 gram x 115 x 30 hari) =
69 kg/bulan. Angka tersebut akan terlihat fantastis dan menjadi masalah serius
ketika sudah mencapai satu tahun berjalan. Dengan perhitungan setiap bulan
menghasilkan 69 kg sampah dan jumlah bulan dalam satu tahun ada 12 bulan
dengan beranggapan bahwa satu bulan itu 30 hari maka jumlah sam pah plastik di
gedung pusat Sekolah Vokasi mencapai angka 8.280.000 kg/tahun (200 gram x
115 tempat sampah x 30 hari x 12 bulan) = 8,28 ton/tahun, sedangkan botol
plastik berjumlah 124.200 botol/tahun (3 botol x 115 tempat sampah x 30 hari x12
bulan).
Pengumpulan sampah dan botol plastik sebagai bahan utama pembuatan
ecobrick perlu sistem yang efektif dan efisien agar tidak menggangu kegiatan
belajar mengajar dan tidak merusak keindahan lingkungan. Sistem pengumpulan
sampah yang paling efektif dan efisien di lingkungan gedung pusat Sekolah
Vokasi adalah sistem bank sampah. Mekanisme sistem ini adalah dengan
melakukan pembelian sampah botol plastik yang dikumpulkan oleh cleaning
service oleh JAVA dengan dana pembelian sampah botol plastik yang diperoleh
dari pengajuan proposal ke Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UGM.
Pembelian sampah dilakukan setiap hari Senin-Jumat mulai pukul 16.00-18.00
WIB di depan sekre JAVA. Botol-botol yang telah dikumpulkan dihargai sebesar
Rp 2.000,00/kg. Botol-botol yang telah terkumpul dimasukkan ke dalam karung-
karung dengan diberi label dengan maksud agar tidak dibuang dan diletakkan di
sebelah bak penampungan sampah utama yang terletak di sebelah selatan gedung
pusat Sekolah Vokasi.
Permasalahan yang timbul akibat penumpukan botol sampah seperti bau
tidak sedap, sarang penyakit, dan merusak keindahan lingkungan dapat
diminimalisir dengan merakit botol menjadi bentuk meja,kursi atau bentuk
lainnya setiap 3 hari sekali. Perakitan modul-modul dari botol ini dilakukan di
tempat parkir yang terletak tepat di sebelah selatan bak penampungan sampah
utama mulai pukul 16.00-18.00 WIB agar tidak mengganggu pengguna kendaraan
yang keluar masuk tempat parkir. Hasil dari perakitan tersebut yang telah
berbentuk meja dan kursi diletakkan di depan sekre JAVA sebagai model
percontohan. Bentuk yang unik diharapkan dapat membuat rasa penasaran
mahasiswa lainnya tentang pemanfaatan sampah menjadi ecobrick, dan
mendorong minat dalam belajar pengolahan ecobrick tersebut.
Karena konsep ecobrick yang mudah dilaksanakan, dan tanpa memerlukan
keahlian tertentu, hanya cukup bermodalkan kreatifitas serta keinginan dalam
pemanfaatan sampah khususnya botol plastik. Diharapkan dapat menjadi salah
satu solusi dari sekian banyaknya permasalahan tentang sampah. Hal itu juga
tentu tidak lepas dari peran seluruh warga masyarakat khususnya mahasiswa yang
menjadi agen penting dalam perubahan paradigma masyarakat tentang sampah.
DAFTAR PUSTAKA

Aka. 2018. Kunjungan Wisata DIY Tahun 2017 Meningkat Signifikan. Luftiyanti
G,editor.Tribun Jogja. Diambil dari :
http://jogja.tribunnews.com/2018/02/02/kunjungan-wisata-diy-tahun-2017-
meningkat-signifikan diakses pada tanggal 12 Juni 2018.

Kedaulatan Rakyat. 2016 Agustus 11. Sleman Hasilkan Sampah 8.000 Meter
Kubik Perhari. Aditya I,editor. krjogja.com. Diambil dari :
http://krjogja.com/web/news/read/5543/Sleman_Hasilkan_Sampah_8_000_Meter
_Kubik_Perhari diakses pada tanggal 12 Juni 2018.

Maier,R.2017.Panduan Kosntruksi Ecobrick. Herawati A, Penerjemah.Bali.


Terjemahan dari : Ecobrick Construction Guide. Diambil dari :
https://www.Ecobrick.org/wp-content/uploads/2017/01/Panduan-Konstruksi-
EcoBrick-1.0-Ind-NL050117.pdf diakses pada tanggal 12 Juni 2018

Maier, Russell, Angway Irene, Himawati Ani. 2017. Menjaga Lingkungan dengan
dengan Ecobrick Final Version 1.3. Diambil dari :
https://www.Ecobrick.org/pdfs/Menjaga%20Lingkungan%20dengan%20Ecobrick
%20Final%20Version%201.3.pdf diakses pada tanggal 12 Juni 2018.

Purwaningrum, Pramiati.2016. Upaya Mengurangi Timbulan Sampah Plastik di


Lingkungan. JTL Vol 8 No.2, Desember 2016:141-147. Diambil dari : https://
www.google.co.id/url?q=https://media.neliti.com/media/publications/64124-ID-
none.pdf&sa=U&ved=2ahUKEwjgxNDXlJHcAhWTbn0KHcQeCTgQFjAAegQI
ARAB&usg=AOvVaw2YpsbUKPKYjfQdikRA2MUd diakses pada tanggal 10
Juni 2018.

Sampah Masyarakat. 2017. Statistika Sampah. Diambil dari :


http:// sampahmasyarakat.com/2016/03/21/statistik-sampah/diakses pada tanggal
12 Juni 2018.