Anda di halaman 1dari 143

ABSTRAK

Muhammad Ridlwan Sandi Tiawan: “Manajemen Program Unggulanpada


Tingkat SekolahDasar (Penelitian Program Unggulan Tahfidz Quran Di Sekolah
Dasar Islam TerpaduSekolah Unggulan Islam (SDIT SUIS) Tamansari Bogor)”
Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam (SDIT SUIS)
Tamansari Bogormerupakan salah satu lembaga pendidikan Islam formal swasta di
bawah naungan Kementrian pendidikan dan kebudayaan. Manajemen Program
Unggulan Tahfidz Qurandi SDIT SUIS dilaksanakan secara komprehensif meliputi
perencanaan, pengorganisasian, penggerakandanpengendalian.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar alamiah SDIT
SUIS,tujuanSDIT SUIS, manajemen program unggulantahfidz Quran SDIT SUIS,
faktor penunjang dan penghambat manajemen program unggulantahfidz Quran
SDIT SUIS serta hasil yang telah di capai oleh program unggulantahfidz Quran di
SDIT SUIS.
Penelitian ini berangkat dari pemikiran bahwa salah satu faktor yang dapat
menunjang keberhasilan proses pendidikan Islam adalahpendidikan Al-Quran.
Peserta didik perlu diberikanpendidikandanbimbingan Al-Quran agar
potensipesertadidikdapat berkembang secara efektifberdasarkannilai-nilai Al-
Quran. Dalam pendidikan, bimbingan tersebut dapat diberikan melalui program
unggulan. Pelaksanaan program unggulan ini tentunya perlu didukung
olehmanajemen program yang baik.
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif, metode ini
mendeskripsikanmanajemen program unggulantahfidz Quran SDIT SUIS. Data
yang diperoleh berupa hasil observasi, wawancara, dan studi dokumen. Untuk
menganalisis data dilakukan dengan mengunitisasi data, kategorisasi data dan
penafsiran data. Adapun uji absah data dilakukan dengan cara memperpanjang
keikutsertaan, mengadakan triangulasi, kecukupan referensi, analisis kasus negatif,
dan auditing untuk kriteria kepastian.
Dari hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa SDIT SUIS didirikanoleh
Yayasan Islam Al-Huda Bogor pada tahun 2012di lingkungan sosial mansyarakat
yang agamis dan peduli terhadap pendidikan Al-Quran. Di SDIT SUIS ini
pelaksanaan manajemen program unggulan tahfidz Quran meliputi perencanaan,
pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian. Metode tilawah SUIS menjadi
salah satu faktor penunjang pelaksanaan program unggulan tahfidz Quran meski
sedikit terhambat oleh faktor input pesertadidik. Adapun hasil yang dicapai ialah
meningkatnyakemampuanbaca Quran danmenghafal Quran di kalangan peserta
didik dari tahun ke tahun.
ABSTRACT

Muhammad Ridlwan Sandi Tiawan “The flagship program management at


the level of elementary school (the research of the tahfidz Quran flagship program
in SUIS Islamic primary school Tamansari Bogor)”.
Sekolah Unggulan Islam Islamic Primary School (SDIT SUIS )Tamansari
Bogor is a private institutions of formal Islamic education under the auspices of the
Ministry of education and culture. Management of Tahfidz Quran Program at SDIT
SUIS implemented comprehensively covers the planning, organizing, actuating and
controlling.
The purpose of this research is to know the SDIT SUIS natural background,
purpose of the SDIT SUIS, management of the SDIT SUIS tahfidz Quran program,
restricting factor and supporting factor of the SDIT SUIS tahfidz Quran program,
and the result of the SDIT SUIS tahfidz Quran program.
The research departs from the idea that one of the factor the success of
Islamic education is Qur’anic education. Learners need to be given the education
and guidance of the Quran so that potential participants can develop effectively
based on the values of the Qur'an. In education, the guidance can be given through
the program's flagship. This flagship program implementation would of course
need to be supported by a good program management.
The research was conducted using qualitative methods, this method
describes the management program of the flagship tahfidz Quran SDIT SUIS. Data
obtained in the form of observations, interviews, documents and studies. To analyze
data is done with the unitasi data, data categorization and data interpretation. As
for the data relating to the tests carried out by way of extending participation,
triangulation, adequacy of reference, negative case analysis, and auditing for
criteria of certainty
Of research results obtained summary that SDIT SUIS Islamic Foundation
was established by Al-Huda Bogor in 2012 in the social environment of the
community who care about education and written Al-Quran. In this implementation
of the SDIT SUIS flagship program management tahfidz the Quran includes
planning, organizing, controlling, and actuating. Methods of recitations SUIS
became one of the factors supporting the implementation of flagship programs
tahfidz the Quran even though slightly hampered by the input factors for learners.
‫مجرده‬

‫محمدرضوان "االدارهالرئيسيةللبرنامجعليمستويالمدرسةاالبتدائية‬
‫(بحثالبرنامجالرائدفيالقرانالكريمطهفيدزسوليسالمدرسةاالبتدائيةاالسالميهتامانصاريبوجور)‬
‫المدرسةالرئيسيةللمدرسةاالبتدائيةاالسالميهفياإلسالمتامانصاريبوجورهيمؤسساتخا‬
‫صهللتعليماإلسالميالرسميتحترعايةوزارهالتعليموالثقافة‪.‬‬
‫االدارهالشاملةلبرنامجالقرانالكريمفيالمجااللذيينفذفيهالتخطيطوالتنظيموالتفعيلوالمراقبة‬
‫الغرضمنهذاالبحثهومعرفهالخلفيةالطبيعيةلهذهالمعلومات‪،‬والغرضمنها‪،‬وأدارهبرامجالقرانالك‬
‫ريم‪،‬والعاماللمقيدوعواماللدعمالخاصةببرامجالقرانالكريم‪،‬ونتيجةلبرنامجبرنامجطهفيدزللقرا‬
‫نالكريم‪.‬‬

‫وينطلقالبحثمنفكرهاننجاحالتعليماإلسالميهوأحدعواماللتعليمالقراني‪.‬‬
‫المتعلمينبحاجهإلىانتعطيالتعليموالتوجيهمنالقرانبحيثالمشاركينالمحتملين‬

‫يمكنانتتطوربشكلفعاالستناداإلىقيمالقرانالكريم‪.‬‬
‫وفيمجااللتعليم‪،‬يمكنتقديمالتوجيهمنخالاللبرنامجالرئيسيللبرنامج‪.‬‬
‫وهذاالبرنامجالرائدتنفيذبالطبعتحتاجإلىدعممنقبألدارهالبرنامجوقداجريالبحثباستخدامأساليبنوع‬
‫يه‪،‬ويصفهذااألسلوببرنامجأدارهالمصحفالمرتاللرئيسيللقرانالكريم‪.‬‬
‫البياناتالتيتمالحصولعليهافيشكلمالحظاتومقابالتووثائقودراسات‪.‬‬
‫لتحلياللبياناتويتمذلكمعالبيانات‪،‬وتصنيفالبياناتوتفسيرالبيانات‪.‬‬
‫عليالبياناتالمتعلقةباال‪9‬ختباراتالتيأجريتعنطريقتوسيعنطاقالمشاركة‪،‬والتثليث‪،‬وكفايةالمراجع‪،‬و‬
‫تحلياللحاالتالسلبية‪،‬ومراجعهالحساباتللتاكدمنمعاييراليقين‬

‫نتائجالبحثالتيتمالحصولعليهاملخصاانمؤسسهاالسالميهانشاتهاالهديبوجورفيفيالبيئةاال‬
‫جتماعيةللمجتمعالذينيهتمونبالتعليموكتابهالقرانالكريم‪.‬‬
‫فيهذاالتنفيذألدارهبرنامجالرئيسيةتحسينالقرانيتضمنالتخطيطوالتنظيموالتحكموالتفعيل‪.‬‬
‫وقدأصبحتأساليبالتقليدواحدهمنالعواماللداعمةلتنفيذالبرامجالرئيسيةتحسينالقرانعليالرغممنأعاق‬
‫هطفيفه‬
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Saat ini kita dapat menyaksikan contoh-contoh yang sangat memperihatinkan

dunia pendidikan melalui berbagai macam media masa, baik media cetak maupun

media elektronik. Media masa secara bebas dan leluasa memperlihatkan tindakan-

tindakan kriminal, asusila, dan perilaku menyimpang lainnya yang dilakukan oleh

remaja pada usia pendidikan. Contoh-contoh tindakan tersebut sekaligus

menggambarkan potret hasil pendidikan yang ada selama ini.

Fenomena pada anak-anak usia sekolah dasar yang terjadi pada saat ini

menggambarkan betapa parahnya degradasi moral yang terjadi pada anak-anak dan

remaja khususnya usia sekolah dasar. Fenomena tersebut terekam dalam foto-foto

instagram, facebook maupun media sosial lainnya. Meski fenomena tersebut tidak

seluruhnya mengarah kepada hal negatif, akan tetapi sebagian besar tingkah laku

atau cara bergaul dengan lawan jenis yang diperlihatkan oleh anak-anak khususnya

usia SD sekarang yang mengarah kepada free sex, tingkah laku hedonisme, dewasa

sebelum waktunya, tidak beragama dan merupakan tingkah laku yang lebih

mengarah kepada tindakan-tindakan amoral atau sebuah perilaku menyimpang.

Hal di atas telah menunjukan dan memperlihatkan kepada para praktisi

pendidikan bahwa degradasi moral dan spiritual sedang terjadi di masyarakat kita

khususnya anak-anak usia SD semakin memburuk. Hal tersebut merupakan

hambatan dan sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan. Padahal pendidikan

merupakan kebutuhan dasar dan dijamin bagi setiap warga negara, oleh karena itu,
penyelenggaraan pendidikan yang dijamin oleh pasal 31 Undang-Undang Dasar

1945 perlu dilaksanakan dengan baik.1

Proses pendidikan dan pembelajaran yang baik dan bermutu perlu

dilaksanakan oleh setiap lembaga pendidikan, terutama dalam manajemen

pengembangan kurikulum sekolah. Selain itu, pentingnya pelaksanaan pendidikan

yang berkaraker sebagaimana yang tertulis dalam UU No 20 Tahun 2003 tentan

Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyatakan bahwa:

“pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratisserta bertanggung jawab”2.

Sejalan dengan hal itu, diharapkan lembaga pendidikan kususnya pada tingkat

sekolah dasar untuk membentuk peserta didik berakhlak dan berkarakter sehingga

jauh dari tren negatif tingkah laku anak- anak pada saat ini dan tren negatif lainnya

yang disebabkan oleh perkembangan zaman yang dipengaruhi teknologi maupun

lingkugan.

Tantangan di era globalisasi menuntut respons tepat dan cepat dari sistem

pendidikan Islam secara keseluruhan. Jika kaum Muslimin tidak hanya ingin

sekedar bertahan di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi

juga mampu tampil di depan, maka reorientasi pemikiran mengenai pendidikan

Islam dan rekonstruksi sistem dan kelembagaan merupakan keniscayaan. Umat

1
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Mahkamah
Konstitusi,2005) hal.9
2
Furqon, Hidayatullah Muhammad. 2010. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter
Kuat dan Cerdas. Surkarta: Yuma Pustaka. Hal:14
Islam tidak boleh berpangku tangan dan menonton dari luar seluruh perkembangan

yang terjadi.

Permasalahan-permasalahan pendidikan di era globalisasi di atas direspon

dengan semakin banyak pihak yang merasakan bahwa pendidikan Islam belum

memenuhi harapan yang diinginkan. Madrasah yang ada juga kurang memberikan

arti, namun malah memberikan output yang mogol atau setengah-setengah.

Pendidikan Islam mengalami stagnan dan memendam banyak persoalan. Hal

demikian menumbuhkan minat sebagian pelaksana pendidikan untuk mengadakan

pembaharuan dan peningkatan kualitas pendidikan Islam secara terus-menerus.

Kemunculan sekolah Islam yang paling fenomenal pada orde reformasi

adalah sekolah Islam terpadu, mulai dari Sekolah Dasar Islam Terpadu, Sekolah

Menengah Pertama Islam Terpadu hingga Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu.

Dengan adanya sekolah-sekolah terpadu tersebut, kemudian muncullah Jaringan

Sekolah Islam Terpadu (JSIT) di seluruh Indonesia.3

Sekolah Islam dalam konteks ini adalah sekolah atau lembaga pendidikan

umum yang bernapaskan Islam.4 Pada umumnya, model lembaga pendidikan ini

diselenggarakan oleh yayasan maupun organisasi Islam, seperti Muhammadiyah,

Nahdatul Ulama, Hidayatullah, Al-Irsyad, dan lain-lain. Jika dilihat dari perspektif

sejarah, sekolah Islam merupakan perkembangan lebih lanjut dari sistem sekolah

Belanda. Sistem tersebut mulai diadopsi pertama kali oleh Muhammadiyah sejak

3
Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta:
Fadilatama, 2011, 80
4
Zainal Arifin, Pengembangan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan Islam,
Yogyakarta:Diva Press, 2012, 29
organisasi ini berdiri, dengan mengambil alih sistem sekolah Belanda dan

memasukkan agama Islam sebagai mata pelajaran wajib.

Harapannya Sekolah Islam mampu menjadi pilihan sekolah masa depan.

Sekolah pada masa depan adalah sekolah yang dikelola secara modern (modern

schools). Salah satu ciri dari sekolah modern adalah mengutamakan kualitas.

Kualitas yang dimaksudkan diukur dengan pencapaian skor tes prestasi tinggi

dalam bidang akademik (mastery of basic skill) dan juga pertumbuhan dan

perkembangan sosial anak secara baik sesuai dengan pencapaian tujuan pendidikan

yang telah ditetapkan (goal attainment).

Proses manajemen pembelajaran dan sekolah juga menjadi faktor determinan

yang sering disebut sebagai karakteristik sekolah (school characteristics), juga

respon lingkungan yang positif menjadi faktor pendukung lain yang tidak dapat

diabaikan. Iklim yang sehat, dukungan orang tua murid dan masyarakat yang tinggi

terhadap program sekolah, dan kepemimpinan yang kolaboratif partisipatif

menjadi salah satu bagian sangat berarti, terutama pada sekolah yang memiliki

murid multi etnik/multi kultur. Mutu suatu lembaga pendidikan Islam bisa dilihat

dari rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi dan misi tersebut diwujudkan

dalam proses pendidikan yang akan dilakukan. Menurut Muhaimin mutu Lembaga

pendidikan yang dimaksud adalah sebagai berikut: Kesesuaian dengan standar;

Kesesuaian dengan harapan stakeholders, atau Pemenuhan janji yang telah

diberikan.5

5
Muhaimin, Manajemen Penjaminan Mutu di Universitas Islam Negeri Malang (Malang:
UIN, 2005), 10
Ketertarikan peneliti untuk meneliti pengembangan program unggulan pada

sekolah dasar terpadu dengan penerapan sistem full day school yaitu karena

pengaplikasian beberapa kurikulum yang mempunyai ciri khas tersendiri.

Kurikulum tersebut menjadi suatu kurikulum yang terpadu yang dapat

dikembangkan di sebuah lembaga pendidikan. Di samping itu perkembangan

kurikulum yayasan akan memberikan performa yang berbeda. Sistem pembelajaran

full day school mengaplikasikan antara kurikulum Diknas, Kemenag, dan Yayasan.

Sekolah dengan sistem full day school mendorong penulis untuk mengadakan

penelitian di Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam selanjutnya

disebut SDIT SUIS Bogor yang merupakan sekolah formal tingkat dasar yang

dianggap memiliki program unggulan yang mampu memberikan pelayanan

pendidikan yang berkualitas pada tingkat sekolah dasar. Sekolah dasar swasta

tersebut mampu menanamkan nilai-nilai karakter Islamiyah dengan

mengembangkan program-program unggulannya.

Beberapa program unggulan yang menjadi kekhasan sekolah tersebut antara

lain ialah program pembelajaran kelas single sex, dan program unggulan hafizh 30

juz Al-Quran pada usia sebelum baligh dengan sistem pembelajaran sekolah full

day. Hal tersebut menjadi sebuah solusi bagi orang tuas peserta didik di kota Bogor

dalam memilih pendidikan yang fokus pada pendidikan karakter dan pendidikan

Quran untuk putra-putrinya.

Kegiatan menghafal Al-Quran pada umumnya dilakukan di lembaga

keagamaan Islam seperti pondok pesantren bukan di sekolah formal. Meskipun

banyak SDIT yang melaksanakan program tahfidz, akan tetapi kebanyakan sekolah
tersebut bersifat Boarding School. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia

Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam Bab I pasal 1 ayat 11

menyebutkan bahwa pendidikan Al-Quran adalah lembaga pendidikan keagamaan

Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran bacaan, tulisan, hafalan dan

pemahaman Al-Quran.6

Kegiatan menghafal Quran yang terjadi, justru dijadikan program unggulan

di SDIT SUIS Bogor ini yang pada hakikatnya bukan merupakan sekolah

keagamaan, serta melaksanakan program tahfidz tanpa menerapkan sistem

boarding school, sebuah sistem yang banyak digunakan sekolah lain untuk

melaksanakan program tahfidz. Hal tersebut menjadi sebuah kekhasan tersendiri

yang menarik bagi peneliti untuk dikaji,.

SDIT SUIS Bogor yang terletak di salah satu kota besar Indonesia merupakan

salah satu lembaga pendidikan yang berdasar kepada nilai-nilai pendidikan Islam

disaat lembaga-lembaga pendidikan lainnya fokus terhadap pengembangan kognitif

saja. Keberadaan SDIT SUIS menggambarkan sebuah kebutuhan masyarakat kota

besar (yang mayoritas muslim) terhadap pendidikan Al-Quran.

Sebagai sekolah yang menerapkan model full day SDIT SUIS Bogor

melakukan pendekatan integrated curricullum dan integrated activity. Dengan

menggunanakan pendekatan tersebut maka seluruh aktivitas dan program peserta

didik (khususnya program unggulan tahfidz) mulai dari belajar, bermain, makan

dan ibadah di kemas dalam suatu sistem pendidikan. Karakteristik tersebut menjadi

6
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan
Keagamaan Islam Bab I pasal 1 ayat 11
pembeda antara SDIT SUIS dengan SD-SD lainnya di Bogor sehingga menjadi

sebuah kekhasan tersendiri. Atas dasar kekhasan tersebutlah penulis memfokuskan

masalah penelitian.

Dalam pelaksanaan progam uggulan pendidikan di SDIT SUIS ini tentu tidak

berjalan dengan begitu saja, mengingat permasalahan-permasalahan pendidikan

khususnya dalam penerapan manajerial dalam hal perencanaan, pengorganisasian,

penggerakan dan pengendalian.

Manajemen program unggulan di SDIT SUIS Bogor ini penulis anggap perlu

dikaji lebih lanjut. Mengingat keterbatasan waktu dan kapasitas kemampuan, maka

penelitian dibatasi dalam fokus dengan judul: “MANAJEMEN PROGRAM

UNGGULAN PADA TINGKAT SEKOLAH DASAR (Penelitian Program

Unggulan Tahfidz Quran Di Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan

Islam (SDIT SUIS) Tamansari Bogor)”.


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti paparkan di atas, sebagai

kajian penelitian dirumuskan beberapa rumusan masalah. Antara lain:

1. Bagaimana profil SDIT SUIS Bogor?

2. Apa tujuan SDIT SUIS Bogor?

3. Bagaimana manajemen program unggulan Tahfidz di SDIT SUIS

Bogor?

4. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat program

unggulan Tahfidz di SDIT SUIS Bogor?

5. Bagaimana hasil dari program unggulan Tahfidz SDIT SUIS Bogor?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasakan pada rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan

penelitian ini adalah:

a. Tujuan Umum

Secara umum tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan

manajemen program unggulan tahfidz Quran di SDIT SUIS Bogor.

b. Tujuan Khusus

1) Untuk mangetahui latar alamiah SDIT SUIS Bogor.

2) Untuk mengetahui tujuan SDIT SUIS Bogor.

3) Untuk mengetahui manajemen program unggulan di SDIT SUIS

Bogor.
4) Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan

menghambat program unggulan di SDIT SUIS Bogor.

5) Untuk mengetahui hasil dari pencapaian program unggulan SDIT

SUIS Bogor.

2. Kegunaan Penelitian:

a. Secara teoritis

1) Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi untuk mengkaji dan

memahami persoalan pendidikan dan mengembangkan ilmu

pendidikan khususnya yang berhubungan dengan manajemen

program unggulan dalam pendidikan Islam khususnya tingkat

Sekolah Dasar

2) Dapat memberikan konstribusi pemikiran bagi kajian lebih lanjut

tentang manajemen program unggulan tahfidz Quran di tingkat

Sekolah Dasar.

3) Dapat dijadikan sebagai salah satu tambahan khazanah ilmu

pengetahuan tentang manajemen program unggulan di tingkat

Sekolah Dasar.

b. Secara praktis

1) Penelitian ini dapat memecahkan permasalahan yang terjadi di

lembaga yang diteliti dan memberikan konstribusi terhadap

manajemen program unggulan di lembaga yang diteliti.

2) Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi peneliti lain dan

semua pihak yang berkepentingan.


3) Sebagai referensi bagi pengelola di lembaga yang diteliti dalam

memperbaiki dan meningkatkan manajemen program unggulan

sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal.

4) Memberi sumbangan dan memperkaya bahan pustaka pada

perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

5) Menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dan pembaca.

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka dilakukan untuk mengetahui dan membandingkan perbedaan

penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian-penelitian yang sudah ada

sebelumnya berdasakan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan program

unggulan khususnya tahfidz Al-Quran.

Lailatul Magfiroh dalam skripsinya yang berjudul Upaya Madrasah

Ibtidaiyah Wahid Hasyim Mengatasi Kejenuhan Santri Dalam Menghafal Al-

Quran di Asrama MI Wahid Hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman

Yogyakarta”, menemukan sebab-sebab kejenuhan dalam menghafal pada santri.

Kejenuhan tersebut disebabkan banyak faktor mulai dari faktor diri santri maupun

faktor dari luar. Adapun faktor dari dalam diri santri ialah rasa letih secara fisik dan

mental sedangkan faktor yang berasal dari luar diri santri ialah banyaknya kegiatan

yang harus diikuti, banyaknya peraturan, dan kegiatan dikelas yang monoton.

Oleh karena itu upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ialah

melakukan kerjasama dengan pembina asrama, melakukan perubahan jadwal,


menambah permainan dan perlombaan, moving class dan lain sebagainya.7 Skripsi

tersebut memberikan informasi bagi penelitian yang dilakukan penulis berkaitan

dengan faktor-faktor yang menghambat program tahfidz Al-Quran yang sama-sama

dilakukan oleh SDIT SUIS Bogor. Meski lembaga berbeda naungan, akan tetapi

usia pendidikan dan karakter peserta didik relatif sama jika dilihat dari sudut

pandang psikologis..

Banyak tesis yang membahas dan mengkaji berkaitan dengan kurikulum dan

program fullday school maupun Boarding school dintaranya ialah tesis Eni Purwarti

yang berjudul “Islamisasi kurikulum dalam rangka strategi pengembangan

pendidikan Islam”. Dari penelitin tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa

bangunan Islamisasi kurikulum terdiri dari tauhid sebagai pandangan dunia Islam

yang menjadi kerangka dasar, proses perencanaan unsur Islam dan barat, dan

asimilasi sebagai prioritas.

Adapun komponen kurikulum yang diislamisasikan adalah tujuan, materi

pelajaran, metode pengajaran dan evaluasi. pada tujuan dan materi dilakukan secara

radikal melalui paradigmanya. Sedangkan paada metode dan evaluasi dilakukan

dengan memberi nuansa keislaman. Perbedaan tesis Eni Purwati dengan peneliti

terletak pada jenis penelitiannya. Tesis Eni Purwati lebih kepada penelitian pustaka,

7
Lailatul Magfiroh dalam skripsinya yang berjudul Upaya Madrasah Ibtidaiyah Wahid
Hasyim Mengatasi Kejenuhan Santri Dalam Menghafal Al-Quran di Asrama MI Wahid Hasyim
Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2009.
sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti ialah Field Research atau

penelitian lapangan. Akan tetapi sama-sama membahas konten tentang kurikulum8.

Asfiratul Qoyimah mengungkapkan bahwa sistem pengembangan full day

school sudah banyak diharapkan oleh para orang tua pada masa sekarang, terlebih

bagi para orang tua yang sibuk bekerja di luar rumah seperti yang dilakukan di kota-

kota besar. Orang tua merasa tenang dengan menyekolahkan anaknya pada sekolah

yang bermodel full day school karena pendidikan dan pergaulan anak lebih

terjamin. Anak akan mendapat lima pendidikan sekaligus diantaranya pendidikan

spiritual, kemandirian, sosialisasi, emosional dan intelektual.9

Teguh Pramono menyimpulkan hasil penelitian pengembangan kurikulum

yang dilakukan oleh SDIT Luqman Al-Hakim bermula dari menggabungkan dua

buah kurikulum Sekolah Dasar dan kurikulum Madrasah Ibtidaiyah dengan

memberikan nuansa Islam dalam setiap mata pelajaran. Inilah yang kemudian

disebut sebagai pendidikan terpadu. Untuk mengakomodasi kurikulum tersebut

SDIT Luqman Al-Hakim menggunakan sistem full day school.10

Sementara itu Tesis Evi Herawati yang berjudul pengembangan kurikulum

pendidikan agama Islam di sekolah alam (Studi kasus di School of Universe),

menyimpulkan bahwa pembaharuan yang dilakukan School of universe adalah

mengembangkan kurikulum. Penekanan pengembangan di sekolah tersebut terletak

8
Eni Purwati, “Islamisasi Kurikulum Dalam Rangka Strategi Pengembangan Pendidikan
Islam: Telaah Kritis atas Pemikiran Hasan Langgulung”, (Tesis), (Surabaya: IAIN Sunan Ampel,
1999), Hal.iii
9
Asfirotul Qoyimah, Konsep Dasar Pemikiran Sistem Pembelajaran Full Day School
(Analisis Implementasi terhadap konsep dasar sistem Pembelajaran di TKIT Muadz bin Jabal Kota
Gede Yogyakarta), Tesis, Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga, 2004
10
Teguh Pramono, Pengembangan kurikuulum pada Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
Luqman Al-Hakim Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Islam
Malang, 2004
pada materi pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu

metode pembelajaran yang mengutamakan praktek dan pengalaman serta evaluasi

pembelajaran yang berbasis proses11.

Literatur hasil karya Rosmaiyati yang membicarakan tentang pengembangan

kurikulum dalam tesisnya Pengembangan Kurikulum di Madrasah Aliyah Pondok

Pesantren Hidayatul Ma’arifiyah Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan

menyatakan bahwa dalam mengembangkan kurikulum mesti membangun motivasi

guru-guru untuk meningkatkan kompetensinya dengan tetap menjaga kebersamaan

dan kekompakan sehingga terjaga kompetisi yang sehat antar mereka, hal ini

menjadi penting supaya tidak terjadi kontra produktif antara guru-guru yang justru

dapat menghambat dalam manajemen pengembangan kurikulum12. Meski literatur

tersebut merupakan penelitian pada tingkat menengah atas, tetapi memiliki kaitan

dengan penelitian yang akan ditulis oleh peneliti dalam hal membahas tentang

pengembangan kurikulum pada sekolah yang bermodel boarding school.

Ruwiah Abdullah Buhungo membahas implementasi dan pengembangan

kurikulum 2013 pada Madrasah Aliyah dalam jurnalnya yang menghasilkan sebuah

simpulan bahwa ide-ide pokok yang terkandung di dalam sebuah tujuan kurikulum

dibentuk dari filsafat , teori serta kebijakan-kebijakan formal yang melandasinya

perlu dibaca dengan baik oleh para guru di sekolah.

11
Evi Herawati, “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Alam
(Studi kasus di School of Universe)”, (Tesis), (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2009),Hal.iii
12
Rosmaiyati, “Pengembangan Kurikulum Di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren
Hidayatul Ma’arifiyah Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan”, (Tesis), (Riau: UIN Sultan
Syarif Kasim, 2013),hal. 147
Disamping kemampuan mereka dalam menganalisis struktur kurikulum, guru

juga harus mampu membaca visi kurikulum, terutama agar persepsi yang dibentuk

dalam pemikirann guru itu terdapat relevansi dengan visi kurikulum yang secara

prinsip terkandung dalam tujuan-tujuan kurikulumnya. Oleh sebab itu kegiatan

pengembangan pengetahuan keterampilan guru dalam mengimplementasikan

kurikulum perlu terus dilakukan baik yang difasilitasi oleh sekolah, dinas

pendidikan terutama pemerintah daerah13.

Tesis Syahbuddin, yang berjudul Manajemen Pengembangan Kurikulum

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Dompu, hasil penelitiannya menunjukan :

1) Proses manajemen pengembangan kurikulum di SMKN 1 Dompu meliputi, yaitu

(a) perencanaan pengembangan kurikulum dilakukan oleh tim pengembang

kurikulum, (b) pengorganisasian dan pengarahan pengembangan kurikulum

dilakukan dengan mengadakan rapat rutin/ rapat kordinasi dengan melibatkan

DUDI, (c) pengendalian pengembangan kurikulum memanfaatkan rapat rutin

sebagai wahana pengendalian yang kemudian pengendalian sekolah melibatkan

pihak internal dan eksternal.14 Penelitian ini memiliki kesamaan objek penelitian

dengan penelitian yang sedang penulis lakukan yaitu manajemen pengembangan

kurikulum. Akan tetapi memiliki perbedaan lokasi dan ruang lingkup penelitian.

Sementara itu dalam jurnal Kadiyono “Pengembangan Kurikulum SDSN Di

Sekolah Dasar Muhammadiyah Boja” memfokuskan penelitiannya pada prinsip-

13
Buhungo, Ruwiah Abdullah, “Implementasi dan Pengembangan Kurikulum 2013 pada
Madrasah Aliyah”, Tadbir Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol.3, No.1, (Februari 2015) Hal.
105-113.
14
Syahbuddin, Manajemen Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan
Negeri 1 Dompu. (Tesis), Surabaya: UIN Malang, 2010)
prinsip pengembangan silabus, bahan ajar dan RPP. hasil penelitiannya antara lain:

Prinsip-prinsip dan ciri-ciri pengembangan silabus dapat disimpukan bahwa dalam

merancang kurikulum Silabus SD Muhammadiyah Boja melakukan rapat bersama

dewan guru, komite dan majelis dikdasmen Muhammadiyah cabang Boja, terutama

dalam pelajaran khusus seperti BTQ, Bahasa Arab dan TPQnya; Untuk pelajaran

umum dewan guru mengikuti KKG gugus Adi Sucipto; dan karena SD

Muhammadiyah Boja bersifat keagamaan maka dalam kegiatannya selalu bersifat

religius, seperti bersalaman, menyapa, doa, sholat berjamaah dan lain-lain. Adapun

hambatan yang dihadapi pada pelaksanaan pengembangan bahan ajar SD

Muhammadiyah Boja yaitu bahwa setiap guru belum mempunyai peran dalam

pembuatan bahan ajar dan perlu ada hasil cipta media baru sebagai bahan ajar,

dorongan atau motivasi dari luar sangat diperlukan.15 Jurnal pembahasan mengenai

pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah dasar yang sangat erat dengan nilai-

nilai keislaman.

Dari penelitian terdahulu di atas terdapat penelitian mengenai menejeman

pengembangan kurikulum terpadu dengan menerapkan sistem full day school di

beberapa lembaga pendidikan baik di tingkat Sekolah Dasar maupun Menengah

Atas. Dapat dilihat bahwa penelitian tesis ini berbeda dengan penelitian

sebelumnya, penelitian ini difokuskan pada pengembangan program unggulan pada

tingkat sekolah dasar yang dilakukan oleh SDIT SUIS Bogor.

E. Kerangka Pemikiran

15
Kadiyono, Jurnal Manajemen Pendidikan, Vol. 7, No. 1, Januari 2012
Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Karena itu meneliti

manajemen pendidikan dalam hal ini ialah program unggulan Sekolah Dasar dapat

diamati dalam kerangka kebudayaan. Kebudayaan dan pendidikan berada dalam

satu kesatuan sistem yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Mahmud dan Ija

pengetahuan merupakan salah satu karakteristik masyarakat yang didefinisikan

secara luas sebagai kebudayaan.16

Koentjaraningrat berpendapat ada tiga wujud kebudayaan. pertama; wujud

kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai atau norma. Kedua; wujud kebudayaan

sebagai aktifitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat dan wujud

kebudayaan ketiga berupa benda-benda hasil karya manusia.17

Dari ungkapan di atas dapat disimpulkan bahwa wujud kebudayaan terdiri

dari ide, aktivitas dan benda. Ketiga wujud tersebut dalam kenyataan hidup

masyarakat tak terpisahkan antara yang satu dengan lainnya. Kebudayaan ideal

mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Baik pikiran/ide-

ide, maupun tindakan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan

fisik. Sebaliknya, kebudayaan fisik juga membentuk suatu lingkungan hidup

tertentu yang semakin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan

alamiahnya sehingga mempengaruhi pola-pola perbuatan dan cara berpikirnya.

Dalam sebuah penelitian, masalah-masalah yang menyebabkan munculnya

ide-ide/konsep dinamakan latar. Oleh karena itu, penelitian ini akan diawali dengan

16
Prof.Dr.Mahmud, M.Si dan Dr Ija Suntana, Antropologi Pendidikan (Bandung, Pustaka
Setia; 2014) Hal.34
17
Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi I. (Jakarta,UI Press: 1987) Hal.186-187
pembahasan mengenai latar karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.

Sebagai respon terhadap latar maka muncullah ide, gagasan atau konsep.

Kaitannya dengan lembaga pendidikan, konsep berarti kumpulan berbagai

teori yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah pendidikan atau

memajukan pendidikan di lembaga tersebut. Sedangkan jika dihubungkan dengan

penyelenggaraan lembaga pendidikan konsep bisa berhubungan dengan

rumusan/teori mengenai model pendidikan, sebab setiap lembaga pendidikan pasti

mempunyai model tersendiri dalam penyelenggaraannya. Sebelum konsep itu

direalisasikan, ada seleksi terlebih dahulu terhadap nilai etos dalam masyarakat

lingkungan lembaga atau sekitarnya dan kemungkinan-kemungkinan lain yang

paling bisa diwujudkan oleh lembaga pendidikan tersebut.

Dengan berkembangnya kebudayaan dari masa ke masa, berkembang pula

sistem pendidikan di masyarakat. Sebagai bagian dari wujud kebudayaan maka

lahirlah Sekolah yang sekarang kita kenal sebagai lembaga pendidikan di

masyarakat. Pendidikan dapat berlangsung di berbagai tempat. Dalam hal ini,

pendidikan dapat berlangsung dalam keluarga atau yang disebut pendidikan

informal, adapun yang memiliki lembaga-lembaga kursus dan pesantren yang

disebut pendidikan non- formal, serta yang berlangsung di sekolah sebagai

pendidikan formal. Berdasarkan jenjangnya, pendidikan di sekolah (formal)

terdapat jenjang pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah,

dan pendidikan tinggi.

Sekolah Dasar Islam Terpadu disebut juga madrasah, hal ini dinyatakan

secara implisit dalam UUSPN 2003 bahwa madrasah-madrasah adalah “Sekolah


Umum” yang bercirikan keagamaan (Azra, 1999: 38). Selain bercirikan

keagamaan, SD Islam memiliki karakteristik tersendiri yang tidak hanya “plus”

dalam arti ada penambahan dari aspek pendidikan tertentu. Lembaga pendidikan ini

mencoba mengintegrasikan mata pelajaran agama ke dalam mata pelajaran umum

dalam proses belajar mengajarnya.

Selain itu dalam hal kurikulum lokal yang pada akhirnya dengan adanya

penggabungan tesebut maka tujuan pendidikan yang diharapkan akan tercapai.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi pihak sekolah dalam meningkatkan

kualitas pendidikan yang cukup kompleks, salah satu tantangannya adalah dalam

hal pengelolaan atau manajemen yang dilakukan.

Kegiatan menghafal Al-Quran pada umumnya dilakukan di lembaga

keagamaan Islam seperti pondok pesantren bukan di sekolah formal. Peraturan

Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan

Keagamaan Islam Bab I pasal 1 ayat 11 menyebutkan bahwa pendidikan Al-Quran

adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan

pengajaran bacaan, tulisan, hafalan dan pemahaman Al-Quran.18

Kegiatan menghafal justru dijadikan program unggulan di SDIT SUIS Bogor

yang pada hakikatnya bukan merupakan sekolah keagamaan. Hal tersebut menjadi

sebuah bukti bahwa kebudayaan Bogor yang bermayoritaskan beragama Islam

mempengaruhi bentuk sistem pendidikan di masyarakat.

18
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan
Keagamaan Islam Bab I pasal 1 ayat 11
Dengan menjadikan tahfidz Quran sebagai program unggulan dengan sistem

full day school maka sekolah harus benar-benar dapat menjamin mutu

pendidikannya. Menurut Muhaimin mutu pendidikan yang di maksud ialah

kesesuaian dengan standar; kesesuaian dengan harapan stakeholders, atau

pemenuhan janji yang telah diberikan.19 Dengan kata lain jika SDIT SUIS Bogor

menawarkan anak hafidz 30 juz selama 6 tahun, maka hal tersebut harus terpenuhi

oleh lembaga sekolah.

Pendapat Sudarsono menugkapkan bahwa sekolah masa depan ialah sekolah

yang dikelola secara modern, yaitu sekolah yang mengutamakan kualitas yang

diukur dari pencapaian skor prestasi tinggi dalam akademik dan pertumbuhan juga

perkembangan sosial secara baik sesuai dengan pencapaian tujuan yang telah

ditetapkan sehingga menjadikan proses manajemen sebagai faktor yang determinan

yang sering disebut sebagai karakteristik sekolah.20 Dengan demikian penerapan

program unggulan di SDIT SUIS Bogor haruslah dilakukan dengan diiringi

manajerial yang baik guna mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan efektif dan

efisien agar menjadi sekolah modern yang unggul.

Manajemen pengembangan program unggulan sangat penting sekali dalam

peranannya untuk membantu sekolah mencapai visi misi pendidikannya dalam

pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Selain itu manajemen pengembangan program

19
Muhaimin, Manajemen Penjaminan Mutu di Universitas Negeri Malang(Malang: UIN,
2005), Hal.10
20
Sudarsono, Uapaya Manajerial Pengembangan Kurikulum Program Unggulan di
Madrasah Aliyah . (Jurnal pendidikan Agama Islam: Volume 4 Nomor 1 Mei 2016, ISSN(p)2089-
1946&ISSN(e) 2527-4511).Hal.103
unggulan juga merupakan salah satu program guna meningkatkan mutu pendidikan

agar lebih baik lagi dari tahun ke tahun.

Oleh sebab itu agar program ini berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan,

maka harus tersusun dengan jelas, terarah, dan sistematis mulai dari perencanaan,

pengorganisasian, pengimplementasian dan pengawasan sesuai dengan prinsip

manajemen.

Banyak teori berkaitan dengan fungsi dari manajemen, seperti yang telah

dikutip dari buku manajemen dasar, Pengertian dan Masalah karangan Drs. H.

Maluyu S.P Hasibuan (2011) yang menyebutkan pembagian fungsi-fungsi

manajemen sebagai berikut:

1. Menurut G.R Terry, fungsi manajemen terdiri dari planning, organizing,

actuating, dan controlling.

2. John F Me, fungsi-fungsi manajemen terdiri atas planning, organizing,

motivating dan controlling,

3. Leouis A Allen mengatakan fungsi manajemen meliputi leading, planning,

organizing, dan controlling,

4. Mc Namara membagi fungsi manajemen terdiri dari planning,

programming, budgeting, dan system.

5. Henry Fayol menyebutkan fungsi-fungsi manajemen terdiri dari planning,

organizing, commanding, coordinating, dan controlling.

6. Harold Koonz & Cyril O’Donnel menyebutkan fungsi-fungsi manajemen

terdiri dari planning, organizing, staffing, directing dan controlling.


7. Dr. S.P Siagian berpendapat fungsi-fungsi manajemen tediri dari planning,

organizing, motivating, controlling, dan evaluating.

8. Prof. Drs Oey Liang Lee menyebutkan fungsi manajemen meliputi

perencanaan, manajemen kesiswaan, pengarahan, pengkoordinasian, dan

pengontrolan.

9. WH Newman menyebutkan fungsi manajemen adalah planning,

organizing, assembling resources, directing dan coordinating.

10. Luther Gullick berpendapat fungsi- fungsi dari manajemen ialah

planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting dan

budgeting.

11. Lyndall F Urwick mengatakan fungsi manajemen adalah forecasting,

planning, organizing, commanding, coordinating dan controlling.

12. John D Millet menyebutkanbahwa fungsi- fungsi manajemen adalah

directing dan facilitating.21

Dari pemaparan teori- teori dari fungsi manajemen di atas, secara garis besar

teori mengenai fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh GR Terry

mewakili teori-teori lainnya.

Keberhasilan pendidikan banyak ditentukan oleh baiknya manajemen.

Senada dengan pendapat Oemar Hamalik yang berpendapat bahwa manajemen

pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efisisensi dan efektifitas sistem proses

21
Suharti, Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dalam Rangka Meningkatkan
Mutu Pembelajaran. (Tesis). (Bengkulu: Universitas Bengkulu, 2013). Hal. 24-25
belajar mengajar yang meliputi administrasi kurikulum, ketenagaan, sarana dan

prasarana, pembiayaan dan hubungan masyarakat.

Menurut Hamalik kelima jenis program tersebut mempunyai implikasi

tertentu dalam kerangka pengembangan kurikulum. Hamalik memahami

manajemen sebagai suatu proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha

manusia dengan bantuan manusia lain serta sumber-sumber lainnya, dengan

menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah

ditentukan sebelumnya22.

Muflihin berpendapat, “Perencanaan adalah aktifitas atau kegiatan berupa

menyusun secara garis-garis besar yang luas tentang suatu hal yang akan dikerjakan

dan cara-cara yang akan ditempuh untuk mengerjakannya, untuk mencapai suatu

tujuan tertentu”23.

Selain perencanaan, bagian terpenting lainnya yaitu pengorganisasian.

Menurut Ibrohim, pengorganisasian merupakan keseluruhan proses

pengelompokan semua tugas, tanggung jawab, wewenang dan komponen dalam

proses kerjasama sehingga tercapai suatu sistem kerja yang baik dalam rangka

mencapai tujuan yang ditetapkan, dan dilakukan berdasarkan tujuan serta program

kerja sebagaimana dihasilkan dalam perencanaan.24 Pengorganisasian ini sangatlah

penting dalam menunjang pengembangan program unggulan. Dengan

22
Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya 2010), Hal.83
23
Muh. Hizbul Muflihin, AdministrasiPendidikan, (Klaten:CV Gema Nusantara 2015),
Hal.55
24
Ibrohim, Bafadal. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar dari Sentralisasi
Menuju Desentralisasi. (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), Hal.43
pengorganisasian yang baik maka akan menunjang keberhasilan dalam

pengimplementasian program yang sudah direncanakan.

Sebuah program yang akan atau sedang dikembangkan tidak akan mencapai

tujuan jika tidak gerakkan atau diimplementasikan dengan baik. Implementasi

merupakan penerapan atau pelaksanaan program yang telah dikembangkan dalam

tahap sebelumnya, yang kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan

pengelolaan, sejalan dengan dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan

karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional dan

fisiknya25.

Untuk mengetahui keberhasilan pencapaian pengembangan program

unggulan maka haruslah dilakukan sebuah pengawasan atau kontrol. Controlling

atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat utk menjamin

bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Dalam pelaksanaan pengembangan program unggulan di SDIT SUIS Bogor

ini terdapat hambatan yang berasal dari intern maupun ekstern. Begitu pula

beberapa faktor penunjang berasal dari intern maupun ekstern lembaga pendidikan

ini. Untuk mengetahui faktor penunjang dan penghambat manajemen

pengembangan program unggulan di SDIT SUIS Bogor ini perlu dilakukan evaluasi

secara menyeluruh. Hal terebut dilakukan tentunya agar dapat meningkatkan

kualitas pendidikan dan mendorong tercapainya visi juga misi yang telah ditetapkan

oleh lembaga tersebut.

25
Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2007), Hal.238)
Dalam mengidentifikasi berbagai masalah yang timbul dalam pelaksanaan

program unggulan sekolah, maka sangat diperlukan penelitian yang sangat cermat

sehingga mampu menemukan strategi yang sangat cepat dan tepat dalam mengatasi

masalah yang timbul yang berasal dari dalam maupun luar sekolah baik faktor-

faktor yang dapat menunjang program maupun faktor-faktor yang dapat

menghambat program.

Analisis SWOT adalah salah satu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor

untuk merumuskan strategi sekolah dalam melancarkan program unggulan.

Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengts)

dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan

kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Keputusan strategis sekolah perlu

pertimbangan faktor internal yang mencakup kekuatan dan kelemahan maupun

faktor eksternal yang mencakup peluang dan ancaman.

Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari skema yang

telah penulis buat berikut ini:


MANAJEMEN PROGRAM UNGGULAN PADA TINGKAT SEKOLAH
DASAR
(Penelitian Program Unggulan Tahfidz Quran di SDIT SUIS Bogor)
(Gambar 1: Skema Kerangka Pemikiran)

Profil Sekolah Dasar IT


SUIS Bogor

Tujuan Sekolah Dasar IT


SUIS Bogor

1. Perencanaan Program Unggulan


2. Pengorganisasian Program
Unggulan
3. Penggerakan Program Unggulan
4. Kontrol Program Unggulan

Faktor Pendukung Analisis SWOT Faktor Penghambat

Hasil yang Dicapai


BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. LATAR ALAMIAH

Dalam sebuah penelitian, masalah-masalah yang menyebabkan munculnya

ide-ide/konsep dinamakan latar. Oleh karena itu, penelitian ini akan diawali dengan

pembahasan mengenai latar karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.

Sebagai respon terhadap latar maka muncullah ide, gagasan atau konsep. Kaitannya

dengan lembaga pendidikan, konsep berarti kumpulan berbagai teori yang akan

digunakan untuk menyelesaikan masalah pendidikan atau memajukan pendidikan

di lembaga tersebut.

Sedangkan jika dihubungkan dengan penyelenggaraan lembaga pendidikan

konsep bisa berhubungan dengan rumusan/teori mengenai model pendidikan, sebab

setiap lembaga pendidikan pasti mempunyai model tersendiri dalam

penyelenggaraannya. Termasuk dalam hal ini ialah lembaga pendidikan Sekolah

Dasar Islam Terpadu SUIS Bogor yang memiliki konsep atau ide tahfidz Quran

sebagai program unggulan.

Berbicarasoal pendidikan tentu berbicara mengenai kebudayaan. Hal ini

karena pendidikan merapakan bagian dari unsur kebudayaan. Seperti yang telah

dijelaskan oleh tokoh kebudayaan Indonesia Koentjaraningrat bahwa diantara

wujud dari kebudayaan ialah: 1) Suatu kompleksitas dari ide, gagasan, nilai, norma,
aturan dan sebagainya. 2) Suatu kompleksitas aktivitas serta tindakan berpola dari

manusia dan masyarakat. 3) Benda- benda hasil karya manusia26.

Kaitannya dengan pendidikan dari ketiga wujud kebudayaan ialah karena

pendidikan merupakan sebuah kompleksitas ketiga wujud kebudayaan tersebut.

Pendidikan merupakan sebuah kompleksitas ide dan gagasan dalam mendidik

manusia atau memanusiakan manusia dengan sebuah pola aktivitas tindakan

masyarakat yang banyak melahirkan karya cipta manusia.

SDIT SUIS Bogor hadir di masyarakat dengan mengusung sebuah program

unggulan hafidz Quran 30 juz pada usia sebelum baligh. Hal tersebut merupakan

sebuah contoh nyata sebuah wujud kebudayaan masyarakat, khususnya dalam hal

ini ialah masyarakat Bogor. Ide lembaga pendidikan ini berawal dari konsep visi

lembaga itu sendiri yang inginmencetak generasi muda yang cerdas, berahlaqul

karimah dan hafizh Quran.

Jika dilihat dalam perspektif analisis antropologi tentang sistem pendidikan

di masyarakat,SD SUIS Bogor merupakan bagian dari sistem pendidikan kelompok

status masyarakat. seperti yang dikutip Mahmud dalam Randall Collins (1977)

berkaitan dengan tipe dasar pendidikan masyarakat di dunia, yaitu ada tiga tipe

antara lain: 1) pendidikan keterampilan praktis, 2) pendidikan keanggotaan

kelompok status dan 3) pendidikan birokratis27.

Pendidikan kelompok status dilakukan dengan tujuan sebagai simbol dan

memperkuat prestise dan hak-hak istimewa kelompok dalam masyarakat yang

26
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi . (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2002)
Hal.186-187
27
Prof. Dr. Mahmud,M.Si dan Dr Ija Suntana, M.Ag, Antropologi Pendidikan. (Bandung,
Pustaka Setia: 2014) Hal.113
memiliki pelapisan sosial. Karena mayoritas masyarakat Bogorpemeluk agama

Islam, maka menjadi hafizh Quran merupakan sebuah pencapaian symbol nilai

religius dan prestise dikalangan umat Islam. Hal tersebutlah yang menjadikan

tahfidz Quran menjadi program unggul.

Pengaruh unsur religi dalam kebudayaan tidak dapat dipungkiri. Sebagai

salah satu tujuh unsur kebudayaan universal, unsure religi menjadi salah satu unsure

terpenting dalam penelitian ini. Hal tersebut karena tolak ukur unggul atau tidak

nya program yang dijalankan sangatlah dipengaruhi oleh nilai-nilai religi yang

melekat di masyarakat Bogor bahkan bangsa Indonesia.

Pemikiran penulis tersebut sejalan dengan pendapat yang dijelaskan oleh

Jacobus yang menjelaskan bahwa kebudayaan Indonesia secara garis besar

dipengaruhi oleh beberapa unsure: 1) unsure kebudayaan asli nusantara, 2) unsure

kebudayaan Hindu dan Timur Asia lain, 3) unsure kebudayaan Islam, dan 4) unsure

kebudayaan Eropa28. Dengan demikian penilaian mengenai unggul atau tidaknya

program yang dijalankan oleh lembaga pendidikan yaitu SDIT SUIS Bogor ini

sangatlah dipengaruhi oleh nilai-nilai agama Islam.

Dalam pandangan ilmu sosiologi, pendidikan dapat dikatakan sebagai jalan

bagi mobilitas social29. Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk mencapai

kedudukan yang lebih baik di masyarakat. Semakin tinggi pendidikan yang

diperoleh maka semakin besar pula harapan untuk mencapai tujuannya itu. Seperti

halnya kedudukan seorang hafidz Quran dikalangan golongan umat muslim.

28
Jacobus Ranjabar, Sistem Sosial Budaya Indonesia (Suatu Pengantar), (Bogor, Ghalia
Indonesia: 2006). Hal.161
29
Prof.Dr. S.Nasution. MA., Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. 2004) Hal.38-39
Seorang hafidzh Quran memiliki kedudukan lebih tinggi dan lebih dihormati

dibandingkan dengan seseorang yang belum hafidz.

Nilai-nilai yang menjadi dasar menjadikan Tahfidz 30 juz sebagai program

unggulan antara lain menghafal al-Qur’an diyakini olah umat muslim merupakan

suatu perbuatan yang sangat terpuji dan mulia. Banyak hadits Rasulullah saw yang

menjadi salah satu pedoman umat Islam yang mendorong untuk menghafal al-

Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim

tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah SWT30. Rasulullah saw bersabda:

‫ فﺈن‬،‫ تﻌﻠمﻮﺍ ﺍلقﺮﺍن فﺎﻗﺮؤوه وﺃﻗﺮﺋﻮه‬: ‫ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻌﻢ‬: ‫ﻋﻦ ﺍﰉ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻰ ﻗﺎﻝ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ‬

‫ وﻣﺜﺎﻝ ﻣﻦ‬،‫ ﻳفﻮه بﺮﻳحﻪ كﻞ ﻣكﺎن‬،‫ كمﺜﻞ جﺮﺍب ﻣحشﻮ ﻣشكﺎ‬،‫ﻣﺜﻞ ﺍلقﺮﺃن لمﻦ تﻌﻠمﻪ فقﺮءه وﻗﺎم بﻪ‬
31.)‫(ﺍلﺘﺮﻣﺬﻯ‬ .‫تﻌﻠمﻪ فيﺮﻗدو ﻫﻮ في خﻮفﻪ كمﺜﻞ جﺮﺍب وكئ ﻋﻠﻰ ﻣسك‬

Pelajarilah al-Qur’an dan bacalah sesungguhnya perumpamaan orang yang


mempelajari al-Qur’an dan membacanya adalah seperti tempat air penuh
dengan minyak wangi misik harumnya menyebar kemana-mana. Dan barang
siapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan didalam hatinya terdapat
hafalan al-Qur’an adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak
wangi misik. (HR. Tirmdzi).

Orang-orang yang mempelajari, membaca atau menghafal al-Qur’an

merupakan orang-orang pilihan yang memang dipilih oleh Allah untuk menerima

warisan kitab suci al-Qur’an, mereka yang hafal al-Qur’an akan selalu diliputi

rahmat Allah, mereka adalah orang-orang mulia karena kalamullah dan mereka

selalu mendapat cahaya32.

30
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi Dengan Al-Qur’an, Terj.Abdul Hayyie Al-Kattani,
(Jakarta : Gema Insani Press, 1999 ), hlm. 191
31
Kamal Yusuf al-Hut, Sunan At-Tirmidzi, Juz 5, ( Beirut : Darul Kutub al-Ilmiah,
t.th),hlm.. 144
32
Ahsin W. AL-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an, (Jakarta : Bumi Aksara,
2005), Cet. 3, hlm.26-27
Para ulama menyebutkan beberapa faedah menghafal al-Qur’an yang di

antaranya adalah menajamkan ingatan dan mencemerlangkan pemikiran, karena itu

para penghafal al-Qur’an lebih cepat mengerti dan teliti karena banyak latihan

untuk mencocokkan ayat serta membandingkan dengan ayat lain. Para penghafal

juga akan lebih fasih dalam berbicara, dan dapat mengeluarkan fonetik arab dari

landasannya secara Tabi’i (alami)33. Dari beberapa penjelasan tersebut maka tidak

salah jika tahfidz Quran dijadikan sebagai program unggulan di SD SUIS Bogor.

B. MANAJEMEN PROGRAM UNGGULAN

Manajemen program unggulan merupakan gabungan dari tiga kata yaitu

“Manajemen”, “Program” dan “Unggulan”. Istilah manajemen dewasa ini sudah

banyak dikenal baik dalam dunia bisnis maupun pendidikan. Manajemen sendiri

memiliki banyak definisi, baik definisi yang diberikan oleh tokoh manajemen

dalam negeri maupun tokoh manajemen luar negeri. Manajemen didefinisikan oleh

Machali dan Ara sebagai usaha me-manage (mengatur) organisasi untuk mencapai

tujuan yang ditetapkan secara efektif, efisien, dan produktif.34

George R. Terry dalam buku Principles of Management (Sukarna, 2011:3),

juga menyatakan bahwa management is the accomplishing of a predetemined

obejectives through the efforts of other people atau manajemen adalah pencapaian

tujuan-tujuan yang telah ditetapkan melalui atau bersama-sama usaha orang lain.

Di sisi lain Sondang Palan Siagian (dalam Arikunto, Suharsimi, 2008: 3)

33
Abdurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al-Qur’an, (Bandung: Sinar Baru Algesindo
Offset, 2005), cet 4, hlm. 21.
34
Dr. Imam Machali dan Dr. Ara Hidayat. The Handbook of Education Management:
Teori dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.6
mengartikan manajemen sebagai keseluruhan proses kerjasama antara dua orang

atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang

ditentukan sebelumnya. Ahli lain Pariata Westra (dalam Arikunto, Suharsimi, 2008:

3) menyebut manajemen sebagai segenap rangkaian perbuatan penyelenggaraan

dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari beberapa definisi manajemen yang telah dipaparkan di atas, penulis

sendiri memahami manajemen sebagai ilmu dalam proses rangkaian kegiatan

perencanaaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian, dengan segala

upaya dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya yang ada secara efisien,

efektif dan produktif untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Defini tersebut penulis sadari lebih banyak dipengaruhi oleh fungsi-fungsi

manajemenyang dikemukakan oleh G. R. Terry. Menurut G.R Terry dalam Winardi

menyatakan bahwa fungsi manajemen ialah serangkaian sub bagian tubuh yang

berada dalam manajemen sehingga bagian-bagian tubuh terebut dapat

melaksanakan fungsi dalam mencapai tujuan organisasi. Fungsi-fungsi manajemen

tersebut antara lain: Planning(Perencanaan), Organizing(Pengorganisasian),

Actuating(Penggerakan), Controlling (Pengawasan).35

Kata kedua yang perlu dibahas ialah “Program”. Program merupakan

rangkaian kegiatan yang disusun dan dilaksanakan oleh perorangan, lembaga,

organisasi, dan institusi36. Agar program itu dapat berjalan dengan baik perlu diatur

35
Terry, alih bahasa oleh Winardi, Asas-Asas Manajemen (Bandung: Alumni, 1986)
Hal.163
36
http://allansetyoko.blogspot.co.id/2014/10/hakikat-program.html?=1 (diakses 21 Januari
2018)
dan dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan dan pengawasan. Kegiatan ini

terkait dengan kegiatan manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian,

pengkoordinasian, dan pengawasan. Pada proses ini perlu mengintegrasikan

sumber-sumber yang ada menjadi sebuah sistem terpadu untuk menyelesaikan

suatu tujuan.

Program merupakan segala sesuatu yang dilakukan dengan harapan akan

mendatangkan hasil, pengaruh atau manfaat37. S. Eko Putro Widiyoko mengartikan

program sebagai serangkaian kegiatan yang direncanakan dengan seksama dan

dalam pelaksanaannya berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan

terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan orang banyak 38. Sedangkan,

Sukardi menyatakan bahwa program merupakan salah satu hasil kebijakan yang

penetapannya melalui proses panjang dan disepakati oleh para pengelolanya untuk

dilaksanakan39.

Dari pengertian-pengertian program di atas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebuah program apabila mengandung

unsur-unsur sebagai berikut: 1) Kegiatannya direncanakan atau dirancang dengan

seksama melalui pemikiran yang cerdas; 2) Kegiatannya berlangsung secara

berkesinambungan (ada keterkaitan antar kegiatannya); 3) Kegiatannyaberlangsung

dalam sebuah organisasi formal maupun non formal; 4) Dalam implementasinya

kegiatan tersebut melibatkan orang banyak.

37
Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi: Untuk Program
Pendidikan dan Penelitian , (Jakarta: Rineka Cipta, 2000) hal. 9
38
Op. Cit, S. Eko Putro Widiyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Prakti bagi
Pendidik dan Calon Pendidik, hal. 8
39
Op. Cit, Sukardi, Evaluasi Program Pendidikan dan Kepelatihan, hal. 4
Program merupakan serangkaian kegiatan implementasi dari suatu kebijakan.

Secara umum, program diartikan sebagai “rencana” yang akan

dilakukan/dikerjakan oleh seseorang atau suatu organisasi dalam rangka mencapai

tujuan. Namun apabila program tersebut dikaitkan dengan evaluasi program, maka

program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan

realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang

berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan

sekelompok orang 40.

Dalam pengertian ini, definisi program mencakup tiga persyaratan, yaitu: 1)

merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan; 2) berlangsung dalam

waktu yang relatif lama, bukan kegiatan tunggal tetapi kegiatan jamak yang

berkesinambungan; dan 3) terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan

sekelompok orang.

Program didefinisikan juga sebagai sebuah kegiatan atau aktivitas yang

dirancang untuk melaksanakan kebijakan dan dilaksanakan dalam waktu yang tidak

terbatas. Oleh karena, kebijakan masih bersifat umum dan untuk melaksanakan

kebijakan perlu disusun berbagai jenis program41. Jika melihat pengertian secara

khusus ini, maka sebuah program merupakanrangkaian kegiatan yang dilaksanakan

secara berkelanjutan, dilihat dari waktu pelaksanaanbiasanya panjang. Selain itu,

sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian

40
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
hal. 3
41
Endang Mulyatiningsih, Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2013) hal. 110
kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya

dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya.

Program sebagai salah satu komponen perubahan terencana dalam

pembangunan harus selalu diperbaharui sesuai kebutuhan masyarakat. Masyarakat

dalam hal ini berarti para pengguna jasa pendidikan. Evaluasi program berfungsi

untuk mengkaji atau menelaah program melalui komponen-komponennya.

Komponen penting dalam suatu program adalah manusia sebagai sasaran program.

Hal tersebut sebagaimana dinyatakan oleh Harry P. Hatry dan Kathryn E.

Newcomer, menyatakan ”a program is a set of resources and activities directed

toward one or more common goals, typically under the direction of or single

manager or management team”42.Program merupakan seperangkat sumberdaya

dan kegiatan yang diarahkan pada satu atau lebih tujuan bersama, dan dipimpin

oleh manajer atau tim manajemen.

Kata ”unggul seperti halnya yang digunakan dalam istilah-istilah ”bibit

unggul”, ”sekolah unggulan”, ”produk unggulan”, dan sebagainya, umumnya telah

diterima masyarakat mengandung nilai-nilai positif ”tertentu”. Definisi unggul

sendiri dalam kamus seasite berarti “lebih dalam sesuatu hal dibandingkan dengan

yang lain; bermutu baik. Sementara dalam KBBI unggul adalah lebih tinggi

(pandai, baik, cakap, kuat, dsb) daripada yang lain; utama. Sedangkan unggulan

berarti yang diunggulkan.43

42
Joseph S. Wholey, Harry P. Hatry and Kathryn E. Newcomer, Handbook of Practical
Program Evaluation, (CA: John Wiley & Sons, Inc., 2010) hal. 5
43
http://kamus.sabda.org/kamus/unggulan (diakses 23 Januari 2018)
Hakikat makna unggul yang lain dari yang selama ini dipahami masyarakat

umum. Makna unggul di sini mungkin dapat memayungi makna-makna unggul

yang lain yang terkait dengan keunggulan manusia maupun program dari sisi yang

dapat dijelaskan berdasarkan pikiran dan atau ilmu yang telah dan masih

dikembangkan oleh manusia, khususnya para ahli.

Dari beberapa definisi yang telah penulis paparkan diatas, yaitu definisi

manajemen, program dan definisi unggulan maka dapat dsimpulkan bahwa

manajemen program unggulan merupakan sebuah proses pengaturan kegiatan

terencana yang diutamakan dan diunggulkan dalam sebuah organisasi dengan

memanfaatkan sumber daya yang ada secara efektif, efisien dan produktif dalam

mencapai hasil dan tujuan yang diharapkan.

1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan secara umum adalah proses yang sistematis sesuai dengan

prinsip dalam pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik

secara ilmiah serta kegiatan yang terorganisasi tentang tindakan yang akan

dilakukan pada waktu yang akan datang begitulah menurut Sudjana (2000).44

Sementara itu, perencanaan menurut Imam Machali dan Ara Hidayat

diartikan sebagai proses kegiatan yang menyiapkan secara sistematis

kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.45

44
http://anan-nur.blogspot.co.id/2011/08/manajemen-perencanaan-
pengembangan.html?m=1 (diakses pada 19 September 2017)
45
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori dan
praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal. 26
Ada beberapa definisi yang di jelaskan oleh riskiyah dalam artikelnya,

antara lain:46

a. Garth N Jone, mendefinisikan perencanaan sebagai suatu proses


pemilihan dan pengembangan daripada tindakan yang paling baik
untuk pencapaian tugas.
b. M Farland, perencanaan adalah suatu fungsi dimana pimpinan
kemungkinan menggunakan sebagian pengaruhnya untuk mengubah
daripada wewenangnya.
c. Siagian (1994), perencanan adalah keseluruhan proses pemikiran dan
penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di
masa yang akan datang dalam rangka pencapaian yang telah
ditentukan.
d. Terry (1975), perencanaan adalah pemilihan dan menghubungkan
fakta-fakta, membuat serta menghubungkan asumsi- asumsi yang
berkaitan dengan masa datang dengan menggambarkan dan
merumuskan kegiatan- kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan
untuk mencapai suatu hasil tertentu.
e. Kusmiadi (1995), perencanaan adalah proses dasar yang kita gunakan
untuk memilih tujuan- tujuan dan menguraikan bagaimana cara
pencapaiannya.
f. Soekartawi (2000), perencanaan adalah pemilihan alternantif atau
pengalokasian berbagai sumber daya yang tersedia.

Dari teori- teori yang telah dijelaskan di atas, penulis menyimpulkan

bahwa perencanaan merupakan sebuah proses dasar berupa kegiatan

sistematis dalam memikirkan, memilih, berasumsi, dan mencari alternatif dari

pemanfaatan sumber daya yang tersedia dalam menentukan kegiatan utama

yang akan di laksanakan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan

yang telah ditentukan.

a. Langkah-langkah Perencanaan

46
https://yuharariskiyah.wordpress.com/2013/11/28/definisi-perencanaan-menurut.para-
ahli/ (diakses pada 19 September 2017)
Pada hakikatnya langkah perencanaan Program Unggulan sama

dengan sebuah langkah perencanaan lainnya, antara lain47:

1) Menentukan dan merumuskan tujuan-tujuan dan maksud-maksud

yang hendak dicapai;

2) Meneliti atau mengidentifikasi masalah-masalah atau pekerjaan-

pekerjaan yang akan dilakukan;

3) Mengumpulkan data dan informasi-informasi yang diperlukan;

4) Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan yang akan

dilakukan.

5) Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan

dan bagaimana pekerjaan tersebut akan diselesaikan.

Sementara itu perencanaan menurut pendapat Sutisna (1983: 162),

yang dikutip oleh Machali dan Ara meliputi beberapa hal, antara lain48:

1) Penetapan tujuan-tujuan dan maksud-maksud organisai;

2) Perkiraan Lingkungan (sumbersumber dan hambatan) dalam

mana tujuan-tujuan dan maksud itu harus dicapai;

3) Penentuan pendekatan yang akan mencapai tujuan-tujuan dan

maksud itu

b. Elemen Perencanaan

47
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.15
48
Dr.Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori dan
praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.27
Perencanaan terdiri atas dua elemen penting, yaitu sasaran (goals)

dan rencana (plan), sasaran dan rencana yang dimaksud antara lain49:

1) Sasaran yaitu hal yang ingin dicapai atau di tuju oleh individu,

kelompok, atau seluruh organisasi. Sasaran sering pula disebut

tujuan. Sasaran memandu manajemen membuat keputusan dan

membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan. Sasaran

sendiri terbagi menjadi stated goals yaitu suatu sasaran yang

dinyatakan oleh organisasi, dan riil goals yaitu sasaran yang

benar-benar diinginkan dan dibutuhkan oleh organisasi.

2) Rencana adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk

mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber

daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana

dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan

frekuensi penggunaanya.

c. Unsur-unsur Perencanaan

Unsur-unsur perencanaan program unggulan yang baik harus

menjawab enam pertanyaan “What, Why, Where, When, Who dan

How”50 yang tercakup dalam unsur-unsur perencanaan yaitu:

1) Tindakan apa yang harus dikerjakan, yaitu mengidentifikasi

segala sesuatu yang akan dilakukan;

49
www.gurupendidikan.co.id (Diakses pada 26 Januari 2018)
50
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.28
2) Apa sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan, yaitu

merumuskan faktor-faktor penyebab dalam melakukan tindakan;

3) Dimana tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan tempat

atau lokasi;

4) Kapan tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan waktu

pelaksanaan tindakan;

5) Siapa yang akan melakukan tindakan tersebut, yaitu menentukan

pelaku yang akan melakukan tindakan; dan

6) Bagaimana cara melaksanakan tindakan tersebut, yaitu

menentukan metode pelaksanaan tindakan.

d. Klasifikasi Perencanaan

Rencana-rencana dapat diklasifikasikan menjadi:

1) Rencana pengembangan. Rencana-rencana tersebut

menunjukkan arah (secara grafis) tujuan dari lembaga atau

organisasi;

2) Rencana hasil pencapaian atau out put. Jenis rencana ini biasanya

difokuskan kepada hasil pencapaian program;

3) Rencana anggota-anggota manajemen. Rencana yang

dirumuskan untuk menarik, mengembangkan, dan

mempertahankan anggota-anggota manajemen menjadi lebih

unggul (Terry, 1993: 60).


e. Tipe-tipe Perencanaan

Tipe-tipe perencanaan dapat dinilai diantaranya dapat ditinjau dari

dimensi waktu. Macam- macam tipe tersebut terinci sebagai berikut:51

1) Perencanaan jangka panjang (Long Range Plans).

Perencanaan jangka panjangbiasanya mempunyai jangka waktu 5

tahun atau lebih, tergantung besar atau tidaknya organisasi atau

lembaga itu sendiri. Dalam perencanaan jangka panjang ini rencana-

rencana dimuat masih dalam bentuk umum, global dan belum sangat

terperinci;

2) Perencanaan jangka menengah (Midle Range Plans).

Perencanaan jangka menengah biasanya mempunyai jangka

waktu dua sampai lima tahun. Perencanaan ini merupakan repelika

dari perencanaan jangka panjang yang memuat tujuan serta target

secara lebih jelas sehingga memberikan dasar-dasar yang pasti bagi

kegiatan yang direncanakan.

3) Perencanaan jangka pendek (Short Range Plans).

Perencanaan jangka pendek merupakan perencanaan dalam

jangka waktu satu sampai dengan tiga tahun. Salah satu bentuk

rencana jangka pendek yang sering ditemui ialah rencana tahunan.

Perencanaan tahunan sering disebut juga sebagai perencanaan

51
Terry Alih Bahasa oleh Winardi, Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Alumni 1986)
Hal.171
oprasional dan merupakan suatu siklus yang sering berulang setiap

tahunnya.

Adapun selain tipe perencanaan dilihat dari dimensi waktu,

perencanaan dapat dilihat dari sisi subtansinya52. Rinciannya antara lain:

1) Sasaran (Objective).

Sasaran merupakan bentuk khusus dari tujuan. Sasaran tersebut

tergantung pada kegiatan yang terdapat pada organisasi atau lembaga

seperti sasaran-sasaran pencapaian peserta didik, prestasi, dan

sebagainya. Dengan demikian dalam sasaran ini dipertimbangkan

aktifitas-aktifitas masa mendatang. Tujuan dirumuskan oleh

pimpinan tingkat atas berdasarkan kesesuaian dengan garis-garis

pengaahan strategi dan kebijakan.

2) Kebijakan (Policy),

Kebijakan merupakan sebuah pernyataan umum tentang perilaku

dari organisasi dslsm menentukan pedoman untuk pengambilan

keputusan mengenai sumber-smber yang diperlukan. Kebijakan

seharusnya memberikan sumbangan penjaminan terhadap

penyelesaian tujuan yang menyeluruh.

3) Prosedur (Procedure)

Prosedur merupakan penekanan prosedur lebih terhadap

penentuan jawaban dalam mengendalikan kegiatan untuk waktu yang

52
Terry Alih Bahasa oleh Winardi, Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Alumni 1986)
Hal.171
akan datang. Prosedur menggambarkan urutan-urutan kronologis dari

tindakan yang harus dilakukan dan lebih bersifat sebagai patokan

dalam pemilihan alternatif tindakan.

4) Metode (Methode)

Metodesecara ringkas maksud dari metode ini ialah sebuah cara

untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu. Dalam hal ini

merupakan cara bagaimana tugas dari suatu prosedur dapat terlaksana

dengan baik.

5) Ukuran baku (Standard),

Ukuran baku merupakan sebuah nilai yang digunakan sebagai

dasar rujukan. Ukuran baku ini merupakan hal yang harus diikuti

sebagai dasar perbandingan capaian keberhasilan. Dengan kata lain

ukuran baku ini digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi dan

membandingkan apakah program yang diinginkan sesuai dengan

ukuran atau nilai yang telah ditetapkan.

6) Anggaran (Budget).

Anggaran anggaran merupakan kategori penting dari rencana

Bahkan dianggap bagian terpenting khususnya pada perusahaan.

Begitujuga halnya dalam dunia pendidikan anggaran merupakan

faktor yang harus sangat diperhatikan. Anggaran sendiri terdiri dari

data-data yang diatur secara logis yang menunjukan harapan untuk

dicapai dalam periode tertentu. Anggaran memiliki dua segi yaitu

segi penerimaan dan segi pengeluaran.


f. Syarat-syarat Perencanaan

Perencanaan yang baik tentunya harus sesuai dengan syarat-syarat

perencanaan itu sendiri. Adapun syarat-syarat perencanaan menurut

Ngalim meliputi53:

1) Perencaan haruslah berdasarkan tujuan yang jelas,

2) Bersifat sederhana, realistis dan praktis.

3) Terinci dengan baik, mulai dari klasifikasi dan rangkaian

tindakan sehingga mudah dijadikan pedoman dan mudah

dijalankan,

4) Memiliki fleksibilitas yang mudah disesuaikan dengan

kebutuhan, kondisi dan situasi sewaktu-waktu,

5) Berimbangnya antara bermacam-macam bidang yang akan

digarap dalam perencanaan itu sendiri,

6) Ada penghematan tenaga, biaya, dan waktu serta pengoptimalan

sumber daya yang ada sebaik-baiknya,

7) Menghindari tidak adanya duplikasi pelaksanaan.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Setelah merumuskan perencanaan dengan baik, fungsi manjemen

selanjutnya ialah pengorganisasian. Pengorganisasian sendiri menurut

53
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.15
Machali dan Ara ialah suatu kegiatan pengaturan atau pembagian pekerjaan

yang dialokasikan kepada sekelompok orang atau karyawan yang dalam

pelaksanaannya diberikan tanggung jawab dan wewenang sehingga tujuan

pendidikan dapat berjalan efektif, efisien dan produktif54.

Sementara itu Ngalim menyimpulkan bahwa sebagai salah satu fungsi

administrasi pendidikan pengorganisasian didefinisikan sebagai aktifitas-

aktifitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan sehingga terwujud

kesatuan usaha dalam mencapai maksud-maksud dan tujuan-tujuan

pendidikan55.

Pengorganisasian tidak dapat diwujudkan tanpa ada hubungan dengan

yang lain dan tanpa menetapkan tugas-tugas tertentu untuk masing-masing

unit. George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (Sukarna,

2011: 38) mengemukakan tentang organizing sebagai berikut, yaitu:

“Organizing is the determining, grouping and arranging of the various


activities needed necessary forthe attainment of the objectives, the
assigning of the people to thesen activities, the providing of suitable
physical factors of enviroment and the indicating of the relative authority
delegated to each respectives activity. “...Pengorganisasian ialah
penentuan, pengelompokkan, dan penyusunan macam-macam kegiatan
yang dipeelukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang
(pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor
physik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan hubungan
wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya
dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan.

54
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori dan
praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.32
55
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.16
a. Prinsip-prinsip Organizing

Terry (Sukarna, 2011: 46) juga mengemukakan tentang prinsip-

prinsip organizing, sebagai berikut, yaitu :

1) The objective atau tujuan.

2) Departementation atau pembagian kerja.

3) Assign the personel atau penempatan tenaga kerja.

4) Authority and Responsibility atau wewenang dan tanggung

jawab.

5) Delegation of authority atau pelimpahan wewenang.

Lebih jelas lagi Ngalim menjabarkan prinsip-prinsip organisasi

sebagai berikut:

1) Memiliki tujuan yang jelas,


2) Tiap anggota dapat memahami dan menerima tujuan tersebut,
3) Adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan
tindak dan kesatuan pikiran,
4) Adanya kesatuan perintah (Unity of command); para bawahan
hanya mempunyai seorang atasan langsung; daripadanya ia
menerima perintah atau bimbingan, dan kepada siapa ia harus
mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya,
5) Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab
masing-masing anggota,
6) Adanya pembagian tugas atau pekerjaan sesuai dengan
kemampuan, keahlian, dan bakat masing-masing, sehingga dapat
menimbulkan kerja sama yang harmonis dan kooperatif,
7) Pola organisasi hendaknya relatif permanen, dan struktur
organisasi disusun sesederhana mungkin, sesuai dengan
kebutuhan, koordinasi, pengawasan dan pengendalian,
8) Adanya jaminan keamanan dalam bekerja (Security of tenure);
anggota tidak merasa gelisah karena takut dipecat atau ditindak
dengan sewenang-wenang.
9) Adanya gaji atau insentif yang setimpal dengan jasa/ pekerjaan
sehingga dapat menimbulkan gairah kerja.
10) Garis-garis kekuasaan dan tanggung jawab serta hirarki tata
kerjanya jelas tergambar dalam struktur organisasi.56

b. Komponen Pengorganisasian

Ada empat komponen dari organisasi yang dapat diingat dengan kata

“WERE” (Work, Employees, Relationship dan Environment)57.

1) Work (pekerjaan) adalah fungsi yang harus dilaksanakan berasal

dari sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.

2) Employees (pegawai-pegawai) adalah setiap orang yang

ditugaskan untuk melaksanakan bagian tertentu dari seluruh

pekerjaan.

3) Relationship (hubungan) merupakan hal penting di dalam

organisasi. Hubungan antara pegawai dengan pekerjaannya,

interaksi antara satu pegawai dengan pegawai lainnya dan unit

kerja lainnya dan unit kerja pegawai dengan unit kerja lainnya

merupakan hal-hal yang peka.

4) Environment (lingkungan) adalah komponen terakhir yang

mencakup sarana fisik dan sasaran umum di dalam lingkungan

dimana para pegawai melaksanakan tugas-tugas mereka, lokasi,

mesin, alat tulis kantor, dan sikap mental yang merupakan faktor-

faktor yang membentuk lingkungan.

56
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.17-18
57
https://www.softilmu.com/2017/05/pengertian-manajemen-fungsi-prinsip.html?=1
(Diakses tgl 7 Agustus 2017)
c. Proses Pengorganisasian

Beberapa proses pengorganisasian yang dapat dilakukan agar

organisasi yang disusun menjadi lebih baik, efektif, efisien dan produktif

diantaranya harus melalui langkah-langkah berikut:

1) Manajer harus tahu tujuan organisasi yang ingin dicapai, apakah

profit oriented atau service oriented.

2) Penentuan kegiatan, artinya manajer harus mengetahui,

merumuskan, dan menspesifikasikan kegiatan dan menyusun

daftar kegiatan.

3) Pengelompokan kegiatan, yaitu manajer mengelompokan

beberapa kegiatan kedalam beberapa kelompok berdasar tujuan

yang sama.

4) Pendelegasian wewenang, yaitu menetapkan besarnya wewenang

yang akan didelegasikan .

5) Rentan kendali, yaitu manajer menetapkan jumlah karyawan pada

setiap bagian.

6) Peranan perorangan, manajer harus menetapkan dengan jelas

tugas-tugas setiap individu untuk menghindari tumpang tindih

tugas dan wewenang.

7) Tipe organisasi, manajer harus memutuskan tipe organisasi yang

akan dipakai.
8) Struktur (organization chart).58

Selanjutnya Netty Siska Nurhayati lebih ringkas mengemukakan

empat pilar pengorganisasian (four building blocks or organizing) yaitu:

1) Pembagian kerja (division of work).

2) Pengelompokan Pekerjaan(Departmentalization).

3) Penentuan relasi antar bagian dalam organisasi (hierarchy).

4) Penentuan mekanisme untuk mengintegrasikan aktifitas antar

bagian dalam organisasi atau koordinasi (coordination).59

3. Penggerakan (Actuating)

Pengertian actuating secara bahasa adalah pengarahan atau dengan kata

lain pergerakan pelaksanaan, sedang pengertian secara istilah actuating

(pengarahan) adalah mengarahkan semua personal agar mau bekerja sama

dan bekerja efektif dalam mencapai tujuan suatu organisasi.

Adapun pengertian penggerakan menurut para ahli adalah sebagai

berikut60:

a. George R. Terry; Menempatkan semua anggota kelompok agar

bekerja secara sadar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

sesuai dengan perencanaan dan pola organisasi.

b. Prof. Dr. Mr. S. Prajudi Atmosudirdjo; Pengaktifan orang-orang

sesuai dengan rencana dan pola organisas yang telah ditetapkan.

58
Badrudin, Dasar-Dasar Manajemen (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2014) Hal.111-115
59
Badrudin, Dasar-Dasar Manajemen (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2014) Hal.115-116
60
http://diiyahbook.blogspot.co.id/2011/12/penggerakan-actuating.html?m=1 (Diakses 29
September 2017)
c. Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman, MPA; Kegiatan manajemen untuk

membuat orang-orang lain suka dan dapat bekerja.

d. Prof. Dr. Sondang S. Siagian, MPA; Penggerakan (motivating) adalah

keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan

sedemikian rupa, sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi

tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.

Sementara itu Machali dan Ara berpendapat bahwa Actuatingadalah

upaya untuk menggerakkan atau mengarahkan tenaga kerja (man power) serta

mendayagunakan fasilitas yang ada yang dimaksud untuk melaksanakan

pekerjaan secara bersama61.

Dengan kata lain actuating adalah suatu usaha yang dilakukan untuk

mencapai tujuan organisasi dengan berpedoman pada perencanaan (planning)

dan usaha pengorganisasian.

a. Prinsip- Prinsip Penggerakan

Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam

penggerakan/actuating antara lain:

1) Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya.

2) Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia.

3) Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi.

4) Menghargai hasil yang baik dan sempurna.

5) Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih.

61
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.32
6) Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup.

7) Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya62.

b. Proses Penggerakan

Di dalam Fungsi Penggerakan, Kegiatan - kegiatan dalam

Penggerakan ada beberapa bagian proses atau tahapan, yaitu :

1) Dorongan ( motivating )

Dorongan yaitu menggerakkan orang dengan memberikan

rangsangan yang baik, alasan – alasan yang menimbulkan kemauan

bekerja dengan baik.

2) Pimpinan, Bimbingan ( Leading )

Pimpinan/ bimbingan yaitu memberikan bimbingan dengan

contoh tauladan. Tindakan ini juga disebut koding yang meliputi

beberapa tindakan, seperti: pengambilan keputusan, mengadakan

komunikasi antara pimpinan dan staf, memilih orang-orang yang

menjadi anggota kelompok dan memperbaiki sikap, pengetahuan

maupun keterampilan staf.

3) Perintah / Pengarahan ( Commanding/ Directing )

Perintah/ pengarahan yaitu memberikan pengarahan yang

dilakukan dengan memberikan petunjuk-petunjuk yang benar, jelas

dan tegas. Segala saran-saran atau instruksi kepada staf dalam

62
http://diiyahbook.blogspot.co.id/2011/12/penggerakan-actuating.html?m=1 (diakses 29
September 2017)
pelaksanaan tugas harus diberikan dengan jelas agar terlaksana

dengan baik terarah kepada tujuan yang telah ditetapkan.63.

4. Pengawasan/ Pengendalian (Controlling)

Bagian terpenting lainnya dalam fungsi manajemen ialah pengawasan.

Pengertian pengawasan bisa sangat variatif tergantung kita mengambil dari

teori siapa. Ada beberapa pengertian pengawasan menurut beberapa ahli:64

G.R. Terry“Controlling can be defined as the process of determiniing


what is to be accomplished, that is standar; what is being accomplished,
that is the performance, evaluating the performance and if necessary
appliying corecctive measure so that performance takes places
according to plans, that is, inconformity with the standard”
Artinya:Pengendalian dapat didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang
harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai
pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga
pelaksanaan sesuai dengan recana yaitu selaras dengan standar.

Harold KoontzControl is the measurement and corrections of the


performance of subordinates in order make sure that enterprise
objectives and the plans devised to attain then are complished”
Artinya :Pengendalian adalah pengukuran dan perbaiakan terhadap
pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat
untuk mencapai tuuan-tujuan perusahaan dapat terlaksana.

Sementara itu Machali dan Ara menjelaskan bahwa pengawasan adalah

proses pengamatan dan pengukuran suatu kegiatan operasional dan hasil yang

dicapai dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya yang

terlihat dalam rencana65.

63
http://mahasiswabudidarma.blogspot.co.id/2012/11/actuating-penggerakan.html?m=1
(Diakses 29 September 2017)
64
http://achmadrandypratama01.blogspot.co.id/2011/12/definisi-dari-
controlling.html?m=1 (Diakses 30 September 2017)
65
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.33
Dari beberapa definisi pengawasan, penulis menyimpulkan bahwa pada

hakikatnya tujuan dari pengawasan ialah untuk mengetahui Q pencapaian

tujuan dan menghindari terjadinya penyelewengan kegiatan atau rencana

a. Langkah- langkah Pengawasan

Pengawasan yang baik memerlukan langkah-langkah pengawasan,

yaitu66:

1) Menentukan tujuan standar kualitas pekerjaan yang diharapkan.

Standar tersebut dapat berbentuk standar fisik, standar biaya,

standar model, standar penghasilan, standar program, standar

yang sifatnya intangible, dan tujuan yang realistis.

2) Mengukur dan menilai kegiatan-kegiatan atas dasar tujuan dan

standar yang ditetapkan.

3) Memutuskan dan mengadakan tindakan perbaikan.

Sedangkan menurut G.R Terry dalam Sukarna (1992, Hal.116) proses

pengawasan terbagi atas 4 tahapan atau langkah67:

1) Menentukan standar atau dasar bagi pengawasan.

2) Mengukur pelaksanaan.

3) Membandingkan pelaksanaan dengan standar dan temukanlah

perbedaan jika ada.

4) Memperbaiki penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang

tepat.

66
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.33
67
https://www.google.co.id/amp/s/pyia.wordpress.com/2010/01/03/tugas-teori-organisasi-
umum/ (Diakses 28 Januari 2018)
b. Cara- Cara Pengawasan

Beberapa cara pengawasan yang harus dilakukan oleh seorang

manajer yang meliputi sebagai berikut68 :

1) Pengawasan Langsung

Adalah pengawasan yang dilkukan sendiri secara langsung oleh

seorang menejer. Menejer memeriksa pekerjaan yang sedang

dilakukan untuk mengetahui apakah dikerjakandengan benar dan

hasilnya sesuai dengan yang dikehendakinya.

2) Pengawasan Tidak Langsung

Adalah pengawasan jarak jauh, artinya dengan melalui laporan

secara tertulis maupun lisan dari karyawan tentang pelaksanaan

pekerjaan dan hasil-hasil yang dicapai.

3) Pengawasan berdasarkan kekecualian

Adalah pengendalian yang dikhususkan untuk kesalahan-

kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan.

Pengendalian ini dilakukan dengan cara kombinasi langsung dan

tidak langsung oleh manajer.

c. Tipe – Tipe Pengawasan

Ada 4 tipe kontrol dalam pengendalian manajemen, yaitu :

1) Pengendalian dari dalam organisasi (kontrol internal)

68
http://achmadrandypratama01.blogspot.co.id/2011/12/definisi-dari-
controlling.html?m=1 (Diakses 30 September 2017)
Adalah pengendalian yang dilakukan oleh oleh aparat/unit

pengendalian yang dibentuk dari dalam organisasi itu sendiri (dalam

satu atap). Aparat/unit pengendalian ini bertugas mengumpulkan data

dan informasi yang diperlukan oleh pimpinan untuk melihat dan

menilai kemajuan atau kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan.

Selain itu pimpinan dapat mengambil suatu tindakan korektif

terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh

bawahannya (internal control), misalnya unit kerja Inspektorat

Jenderal sebagai unit pengawasan di tingkat departemen.

2) Pengendalian luar organisasi (kontrol eksternal)

Adalah pengendalian yang dilakukan oleh Aparat/Unit

Pengendalian dari luar organisasi terhadap departemen (lembaga

pemerintah lainnya) atas nama pemerintah. Selain itu pengawasan

dapat pula dilakukan oleh pihak luar yang ditunjuk oleh suatu

organisasi untuk minta bantuan pemeriksaan/pengendalian terhadap

organisasinya. Misalnya Konsultan Pengawas, Akuntan swasta dan

sebagainya.

3) Pengendalian preventif

Adalah pengendalian yang dilakukan sebelum rencana itu

dilaksanakan. Maksud pengendalian preventif adalah untuk

mencegah terjadinya kekeliruan/ kesalahan.

4) Pengendalian represif
Adalah pengendalian yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan

pekerjaan. Maksud dilakukannya pengendalian represif adalah untuk

menjamin kelangsungan pelaksanaan pekerjaan agar hasilnya tidak

menyimpang dari yang telah direncanakan (dalam pengendalian

anggaran disebut post- audit).69

C. ANALISIS SWOT

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor untuk merumuskan

strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan

(strengts) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat

meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Keputusan strategis

perlu pertimbangan faktor internal yang mencakup kekuatan dan kelemahan

maupun faktor eksternal yang mencakup peluang dan ancaman. Oleh karena itu

perlu adanya pertimbangan-pertimbangan penting untuk analisis SWOT70.

Selain istilah analisis SWOT dewasa ini ada yang menggunakan istilah

analisis TOWS. SWOT adalah singkatan dari Strengths (kekuatan), Weaknesses

(kelemahan), Opportunities (peluang) dan Threats (ancaman). Sedangkan TOWS

adalah kebalikannya yaitu singkatan dari Threats (ancaman), Opportunities

(peluang), Weaknesses (kelemahan) dan Strengths (kekuatan).

Machali menjelaskan bahwa analisis SWOT berangkat dari pendekatan faktor

internal lembaga/ organisasi terlebih dahulu yaitu Strengths (kekuatan) dan

69
https://www.google.co.id/amp/s/hestuningikrarini.wordpress.com/2014/12/02/definisi-
controlling-dan-langkah-langkah-dalam-kontrol/ (Diakses 30 September 2017)
70
Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka utama, 2004), 18
Weaknesses (kelemahan). lalu melakukan analisis eksternal yaitu

Opportunities(peluang) dan Threats (ancaman). Sedangkan analisis TOWS

melakukan metode yang sebaliknya71.

1. Unsur – unsur SWOT

Kekuatan (Strength), Kelemahan (weakness),Peluang

(Opportunity),Ancaman (Threats) merupakan unsur- unsur metode SWOT.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa analisi SWOT terdiri dari

Faktor eksternal dan internal, maka untuk menganalisis secara lebih dalam

tentang SWOT, maka perlu dilihat faktor eksternal dan internal sebagai

bagian penting dalam analisis SWOT, yaitu:

a. Faktor eksternal Faktor eksternal ini mempengaruhi terbentuknya

opportunities and threats (O dan T). Dimana faktor ini menyangkut

dengan kondisi-kondisi yang terjadi di luar organisasi yang

mempengaruhi dalam pembuatan keputusan. Faktor ini mencakup

lingkungan organisasi, ekonomi, politik, hukum, teknologi,

kependudukan, dan sosial budaya dan sebagainya.

b. Faktor internal Faktor internal ini mempengaruhi terbentuknya

strenghts and weaknesses (S dan W). Dimana faktor ini menyangkut

dengan kondisi yang terjadi dalam perusahaan, yang mana ini turut

mempengaruhi terbentuknya pembuatan keputusan (decision making)

organisasi. Faktor internal ini meliputi semua macam manajemen

71
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.294
fungsional: pemasaran, keuangan, pembelajaran, operasional,

sumberdaya manusia, penelitian dan pengembangan, sistem informasi

manajemen dan budaya organisasi (organization culture).

2. Matrix SWOT

Matrix SWOT merupakan salah satu cara untuk menganalisis data.

Menurut Machali dan Ara analisis SWOT/TOWS dapat digunakan secara

kualitataif dan kuantitatif. Secara kualitatif berarti melakukan analisis secara

mendalam faktor-faktor internal dan eksternal lembaga dengan menggunakan

berbagai metode kualitatif.Analisis SWOT/TOWS dapat menghasilkan

matriks yang merupakan matching tool penting untuk membantu manajer

dalam mengembangkan strategi lembaga pendidikannya. Strategi yang

dihasilkan dari matriks ini berupa matrik SWOT/TOWS kualitatif

sebagaimana di bawah ini72:

Tabel 1
(Matrix SWOT/ TOWS)

Strenghts Weakness
KAFI Deskripsikan dan susun Deskripsikan dan susun
daftar berdasarkan rangking: daftar berdasarkan rangking:
1....... 1.......
2....... 2.......
3....... 3.......
KAFE

72
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.295
Opportunities Strategi Strenghts- Strategi Weaknes-
Deskripsikan dan susun Opportunities Opprotunities
daftar berdasarkan rangking: (S-O). Menggunakan (W-O) Menanggulangi
1....... kekuatan untuk kelemahan dengan
2....... memanfaatkan peluang; memanfaatkan peluang;
3....... 1. ……………… 1. ………………
2. ……………… 2. ………………
3. ……………… 3. ………………

Threats Strategi Strenghts- Threats Strategi Weakness- Threats


Deskripsikan dan susun (S-T). Menggunakan (W-T). memperkecil
daftar berdasarkan rangking: kekuatan untuk menghadapi kelemahan dan menghindari
1....... ancaman/ mengubah menjadi ancaman;
2....... peluang; 1. ………………
3....... 1. ……………… 2. ………………
2. ……………… 3. ………………
3. ………………

Strategi SO (Strength-Opportunities) dibuat berdasarkan pemanfaatan

seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang yang sebesar-

besarnya. Sedangkan strategi ST (Strenghts-Threats) adalah strategi dalam

menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman.

Strategi WO (Weknesses- Opportunities) diterapkan berdasarkan

pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang

ada. Adapun strategi WT (Weknesses- Threats) berdasarkan pada kegiatan

yang bersifat defensive atau bersifat melindungi organisasi dan berusaha

meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

Setelah dilakukan analisis SWOT tersebut, hasil analisis kemudian

digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya

dalam upaya memaksimalkan kekuatan dan memanfaatkan peluang, serta

secara bersamaan berusaha untuk meminimalkan kelemahan dan mengatasi


ancaman. Analisis ini juga digunakan dalam rangka menyusun Rencana dan

Program sekolah/madarsah.

D. EVALUASI PROGRAM

Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan

dengansengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Ada beberapa

pengertiantentang program sendiri. Dalam kamus (1) program adalah rencana, (2)

programadalah kegiatan yang dilakukan dengan seksama. Melakukan evaluasi

programadalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi

tingkatkeberhasilan dari kegiatan yang direncanakan (Suharsimi Arikunto, 1993:

297).

Menurut Tyler (1950) yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi

Safruddin Abdul Jabar (2010: 5), evaluasi program adalah proses untuk mengetahui

apakah tujuan pendidikan telah terealisasikan. Selanjutnya menurut Cronbach

(1963) dan Stufflebeam (1971) evaluasi program adalah upaya menyediakan

informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan73.

1. Tujuan Evaluasi Program

Menurut Endang Mulyatiningsih (2011: 114-115), evaluasi program

dilakukan dengan tujuan untuk74:

a. Menunjukkan sumbangan program terhadap pencapaian tujuan


organisasi. Hasil evaluasi ini penting untuk mengembangkan
program yang sama ditempat lain.
b. Mengambil keputusan tentang keberlanjutan sebuah program,
apakah program perlu diteruskan, diperbaiki atau dihentikan.

73
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Bagi Mahasiswa dan Praktisi. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010) Hal. 5
74
Endang Mulyatiningsih, Evaluasi Proses Suatu Program (Jakarta: Bumi Aksara. 2011)
Hal. 114-115
Dilihat dari tujuannya, yaitu ingin mengetahui kondisi sesuatu, maka

evaluasi program dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk penelitian

evaluatif. Oleh karena itu, dalam evaluasi program, pelaksana berfikir dan

menentukan langkah bagaimana melaksanakan penelitian.

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi terdapat perbedaan

yang mencolok antara penelitian dan evaluasi program adalah sebagai

berikut:

a. Dalam kegiatan penelitian, peneliti ingin mengetahui gambaran


tentang sesuatu kemudian hasilnya dideskripsikan, sedangkan dalam
evaluasi program pelaksanan ingin menetahui seberapa tinggi mutu
atau kondisi sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data
yang terkumpul dibandingkan dengan kriteria atau standar tertentu.
b. Dalam kegiatan penelitian, peneliti dituntut oleh rumusan masalah
karena ingin mengetahui jawaban dari penelitiannya, sedangkan
dalam evaluasi program pelaksanan ingin mengetahui tingkat
ketercapaian tujuan pgogram, dan apabila tujuan belum tercapai
sebagaimana ditentukan, pelaksanan ingin mengetahui letak
kekurangan itu dan apa sebabnya.

Dengan berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa evaluasi

program merupakan penelitian evaluatif. Hal tersebut karena penelitian

evaluatif dimaksudkan untuk mengetahui akhir dari adanya kebijakan, dalam

rangka menentukanrekomendasi atas kebijakan yang lalu, yang pada tujuan

akhirnya adalah untuk menentukan kebijakan selanjutnya.

2. Model-Model Evaluasi Program

Model-model evaluasi program sangatlah banyak. Model yang satu

dengan yang lainnya memang bervariasi, akan tetapi maksud dan tujuannya

sama yaitu melakukan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang

berkenaan dengan objek yang dievaluasi. Selanjutnya informasi yang sudah


terkumpul dapat diberikan kepada pengambil keputusan agar dapat dengan

tepat menentukan tindak lanjut tentang program yang sudah dievaluasi.

Menurut Kaufman dan Thomas model-model evaluasi program

dibedakan menjadi kurang lebih delapan model, antara lain yaitu75:

a. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler.


b. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
c. Formatif Summatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael
Scriven.
d. Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
e. Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
f. CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi
dilakukan.
g. CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam.
h. Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus.

Pemilihan model evaluasi yang akan digunakan tergantung pada tujuan

evaluasi. Dalam pelaksanaan evaluasi program keterampilan hapalan atau

tahfidz dapat digunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem adalah

pendekatan yang dilaksanakan dalam mencakup seluruh proses pendidikan

yang dilaksanakan.

3. Model Evaluasi Program CIPP

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengambilan

keputusan yang dikembangkan oleh Stufflebeam yang dikenal dengan CIPP

Evaluation Model. CIPP merupakan singkatan dari Context, Input, Process

and Product. Dalam buku Riset Terapan oleh Endang Mulyatiningsih (2011:

126), mengemukakan bahwa evaluasi CIPP dikenal dengan nama evaluasi

formatif dengan tujuan untuk mengambil keputusan dan perbaikan program.

75
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Bagi Mahasiswa dan Praktisi. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010) Hal.40-41
Model ini sangat cocok diaplikasikan dalam mengevaluasi program

unggulan tahfidz. Selain model ini banyak digunakan oleh para evaluator,

kegiatan program unggulan yang termasuk kategori program pemrosesan

yaitu kegiatan yang mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi sebagai hasil

proses76.

Dalam penelitian ini berarti produk tersebut merupakan manusia atau para

peserta didik yang diproses dari asalnya yang belum hafal ayat-ayat Al-Quran

menjadi sebuah produk atau manusia yang hafal akan ayat-ayat Al-Quran.

a. Evaluasi Konteks (Context)

Tahapan pertama pada model CIPP ialah evaluasi konteks. Orientasi

utama dari evaluasi konteks adalah mengidentifikasi latar belakang

perlunya mengadakan perubahan atau munculnya program dari beberapa

subjek yang terlibat dalam pengambilan keputusan (Endang

Mulyatiningsih, 2011: 127).

Pendapat lain menjelaskan bahwa Evaluasi konteks merupakan upaya

untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak

terpenuhi, polulasi dan sampel yang dilayani dan tujuan proyek. Untuk

melakukan evaluasi konteks ini beberapa pertanyaan harus dijawab,

antara lain:77

1) Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh program?

2) Tujuan pengembangan apakah yang belum dapat tercapai?

76
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Bagi Mahasiswa dan Praktisi. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010) Hal.49
77
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Bagi Mahasiswa dan Praktisi. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010) Hal.46
3) Tujuan apakah yang dapat membantu mengembangkan

masyarakat?

4) Tujuan-tujuan mana sajakah yang paling mudah dicapai?

b. Evaluasi Masukan (Input)

Evaluasi tahap kedua ialah evaluasi input. Evaluasi input dilakukan

untuk mengidentifikasi dan menilai kapabilitas sumber daya bahan, alat,

manusia dan biaya, untuk melaksanakan program yang telah dipilih

(Endang Mulyatiningsih, 2011: 129).

Sementara itu pendapat Suharsimi yang lebih ringkas menjelaskan

bahwa tahapan evaluasi masukan maksudnya ialah kemampuan awal

siswa dan sekolah dalam menunjang program. Beberapa pertanyaan yang

dapat digunakan dalam evaluasi tahap kedua ini antara lain:

1) Apakah program yang diberikan ditunjang dengan sarana dan

prasarana sekolah?

2) Berapa orang peserta didik yang menerima dengan senang hati/

berminat atas program tersebut?

3) Bagaimana latar belakang pendidik dalam program?

4) Seberapa tinggi kemampuandasar hafalan peserta didik?

c. Evaluasi Proses (Process)

Tahapan selanjutnya setelah evaluasi masukan ialah evaluasi

proses. Menurut Suharsimi evaluasi ini menunjuk pada “apa” (What)

kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (Who) orang yang

ditunjuk sebagai penanggung jawab program, dan “kapan” (When)


kegiatan akan selesai78. Dengan kata lain tahapan ini mengevaluasi

program dari awal sampai akhir mulai dari persiapan kegiatan, metode

dan media yang digunakan dalam hafalan, dan siapa saja orng atau staf

yang terlibat dalam kegiatan.

Pendapat lain berkaitan dengan evaluasi proses ialah yang di

ungkapkan oleh Endang, bahwa:

Evaluasi proses bertujuan untuk mengidentifikasi atau memprediksi


hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kegiatan atau implementasi
program. Evaluasi dilakukan dengan mencatat atau
mendokumentasikan setiap kejadian dalam pelaksanaan kegiatan,
memonitor kegiatan-kegiatan yang berpotensi menghambat dan
menimbulkan kesulitan yang tidak diharapkan, menemukan
informasi khusus yang berada diluar rencana; menilai dan
menjelaskan proses secara aktual. Selama proses evaluasi, evaluator
dituntut berinteraksi dengan staf pelaksana program secara terus
menerus (Endang Mulyatiningsih, 2011: 130-131)

Untuk membantu membantu proses evaluasi pada tahapan ini, dapat

digunakan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1) Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam program?

2) Apakah pelaksanaan program sesuai dengan jadwal?

3) Apakah staf atau orang yang terlibat dalam program sanggup

menangani kegiatan dan memungkinkan untuk dilanjutkan?

4) Apakah sarana dan prasarana yang disediakan dimanfaatkan

secara maksimal?

5) Hambatan apa saja yang ditemukan selama menjalankan

program dan mungkinkah program untuk dilanjutkan?

78
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Bagi Mahasiswa dan Praktisi. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010) Hal.47
d. Evaluasi Produk/ Hasil (Product)

Tahapan terakhir ialah evaluasi produk. Tujuan utama evaluasi

produk adalah untuk mengukur, menginterpretasikan dan memutuskan

hasil yang telah dicapai oleh program, yaitu apakah telah dapat

memenuhi kebutuhan sesuai dengan tujuan yang diharapkan atau belum

(Endang Mulyatiningsih, 2011: 132).

Evaluasi produk/ atau hasil menurut Suharsimi diarahkan pada hal-

hal yang menunjukan perubahan yang terjadi pada masukan mentah.

Dalam penelitian ini berarti siswa yang melaksanakan program hafalan

Quran. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan pada tahap akhir

evaluasi program ini antara lain:

1) Apakah tuujuan-tujuan yang ditetapkan telah tercapai?

2) Pernyataan-pernyataan apakah yang mungkin dirumuskan

berkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan?

3) Dalam hal apakah berbagai kebutuhan peserta didik sudah dapat

dipenuhi selama pelaksanaan program?

4) Apakah dampak yang diperoleh peserta didik dengan adanya

program tersebut yang relatif panjang waktunya?

5) Berapa banyak peserta didik yang mampu mencapai tujuan

program?
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode mengandung makna yang lebih luas menyangkut prosedur dan cara

melakukan verifikasi data yang diperlukan untuk memecahkan dan menjawab

masalah penelitian.79 Dengan kata lain metode penelitian akan memberikan

petunjuk bagaimana penelitian itu dilaksanakan. Oleh karena itu, metode penelitian

merupakan sesuatu yang sangat menentukan dalam mengumpulkan data yang

diperlukan dilapangan sekaligus berfungsi sebagai kerangka berfikir dari

penelitian.

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yang

dikumpulkan berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka.80 Sementara itu,

penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk

mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada baik

fenomena alamiah maupun rekayasa manusia.81

Berdasarkan sifatnya, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif,

sebagaimana Bogdan dan Taylor dalam Moleong yang mengatakan bahwa

“Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

79
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 2001), hlm.16.
80
Sudarwan Denim, Menjadi Peneliti Kualitatif Rancangan Metodologi, Presentasi,
danPublikasi Hasil Penelitian Untuk Mahasiswa dan Penelitian Pemula Bidang Ilmu Sosial,
Pendidikan dan Humaniora, (Bandung: CV.Pustaka Setia,2002), hlm. 51.
81
Herdiyansayah Haris, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial,
(Jakarta: Salemba Humanika, 2011) hlm. 17.
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”82.

Selain dilihat dari sifatnya, ditinjau dari segi tempatnya penelitian ini

merupakan jenis penelitian lapangan (Field Research). Penelitian ini

menggambarkan tentang program unggulan tahfidz Quran 30 juz di Sekolah Dasar

Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam selanjutnya disebut SDIT SUIS Bogor

yang meliputi:

1. Latar alamiah SDIT SUIS Bogor.

2. Tujuan program unggulan SDIT SUIS Bogor.

3. Manajemen program unggulan dengan fungsi-fungsi manajemen yang

meliputi planning, organizing, actuating dan controlling.

4. Faktor-faktor pendukung dan menghambat program unggulan dengan

analisis SWOT

5. Evaluasi hasil pencapaian program unggulan tersebut.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDIT SUIS Bogor. Alasan tersebut

karena sekolah merupakan SD yang memiliki program unggulan khas. Hal

tersebut dikarenakan program unggulan yang dilaksanakan oleh sekolah

sangatlah berbeda dengan program unggulan sekolah biasanya. Lokasi yang

bertepatan di Desa Sukamantri Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor

merupakan tempat yang strategis berada di tengah penduduk dan dekat dengan

82
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Teras, 2009) hal.100
pusat kota.

2. Waktu Penelitian

Aktivitas penelitian di lapangan dilaksanakan mulai dari bulan September

2017 sampai bulan Juni 2018.

a. Observasi pendahuluan dimulai bulan September 2017

b. Proses perizinan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2017 sampai

November 2017.

c. Pengambilan data dokumentasi, wawancara dan observasi dilakukan

dari bulan Desember 2017 sampai dengan bulan Juni 2018

d. Uji absah data dilakukan pada bulan Juli 2018

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek data dari mana data diperoleh.

Adapun dalam penelitian ini, peneliti mengelompokkan sumber data menjadi dua,

yaitu:

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian

dengan menggunakan alat pengukur/pengambilan data langsung pada

subjek sebagai informasi yan dicari.83 Yang menjadi sumber data primer

terkait dengan manajemen program unggulan adalah kepala sekolah, guru,

komite dan staf pendidikan.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung

diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitian. Data sekunder dari

Saefudin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005) hlm. 91.
83
penelitian adalah dokumen sekolah dan dokumen lain yang terkait

penelitian tentang manajemen pengembangan kurikulum sekolah. Data

sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung atau

melalui sumber lain. Peneliti hanya memanfaatkan data yang ada untuk

penelitiannya. Seperti data yang telah tersedia dalam objek yang akan

diteliti. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang

menjadi sumber data sekunde adalah literature, atikel, jurnal serta situs

internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan84.

D. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian yang dilakukan tergolong sebagai penelitian lapangan

(fieldresearch) yakni penelitian yang langsung dilakukan pada responden. Oleh

karena itu objek penelitiannya adalah berupa objek di lapangan yang sekiranya

mampu memberikan informasi tentang kajian penelitian. Adapun fokus penelitian

yang diteliti adalah tentang manajemen Program Unggulan di SDIT SUIS Bogor.

Beberapa teknik yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data

diantaranya:

1. Observasi (pengamatan)

Pada dasarnya teknik observasi digunakan untuk melihat atau

mengamati perubahan fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang, serta

kemudian dapat dilakukan penilaian atas perubahan tersebut. 85 Metode ini

84
Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Alfabeta,
Bandung), hal 137
85
Joko Subagyo, Metode Penelitian (Dalam Teori dan Praktek), hlm. 63.
digunakan sebagai data pendukung dari data yang diperoleh dari hasil

wawancara, sehingga dapat diketahui kebenarannya antara hasil wawancara

dengan kenyataan.

Peneliti dalam hal ini akan menggunakan observasi terus terang dan

tersamar, di mana peneliti akan mengamati secara langsung seluruh kegiatan

kepala sekolah terkait dengan merencanakan, mergorganisasikan,

menggerakan dan mengontrol manajemen pengembangan kurikulum.

Menurut Sukardi, observasi adalah cara pengambilan data dengan

menggunakan salah satu pancaindera yaitu indera penglihatan sebagai alat

bantu utamanya untuk melakukan pengamatan langsung. Selain panca

indera biasanya menggunakan alat bantu lain sesuai dengan kondisi di

lapangan antara lain bukucatatan, kamera, film, proyektor, checklist yang

berisi obyek yang diteliti.86 Namun peneliti hanya menggunakan alat bantu

buku catatan, kamera, dan alat perekam. Buku catatan diperlukan untuk

mencatat hal-hal penting selama observasi, sedangkan kamera digunakan

untuk mengabadikan moment-moment penting yang mendukung fokus

penelitian, sedangkan alat perekam membantu dalam mendapakan

informasi dari informan tersebut.

2. Interview (wawancara)

Interview adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide

melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan (Kompetensi dan Prakteknya), (Jakarta:


86

Bumi Aksara, 2003), hlm. 78-79.


topik tertentu. Ciri utama dari interview adalah adanya kontak langsung

dengan cara tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber

informasi (interviewee).87 Untuk memperoleh informasi yang tepat dan

objektif, setiap interviewer harus mampu menciptakan hubungan baik

dengan interviewee.88

Peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur, di mana pihak-pihak

yang terkait diwawancarai diminta informasinya berkaitan dengan

manajemen program unggulan. Untuk memperoleh data dari informan,

peneliti menyusun pedoman wawancara dalam bentuk daftar pertanyaan

wawancara yang disusun secarasistematis. Pedoman ini dibuat sebelum

kegiatan wawancara dilaksanakan dan berfungsi sebagai panduan selama

wawancara berlangsung sehingga kegiatan wawancara berjalan lancar dan

data yang diperoleh menjadi lengkap.

Pihak-pihak yang peneliti wawancarai di antaranya:

a. Kepala sekolah

b. Waka kurikulum

c. Ketua Program

d. Kepala TU

e. Guru

f. Peserta didik

g. Orang tua / wali peserta didik

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2005), hlm.72.


87

Margono S, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000),hlm.165.


88
3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa lampau. Dokumen bisa

berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi

dan wawancara dalam penelitian kualitatif.89

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan

poin-poin pokok penerapan fungsi-fungsi manajemen program unggulan.

Data dapat berupa foto, tulisan, check list maupun dokumen-dokumen yang

penting lainnya, yang mana data tersebut dapat memperkuat penerapan

manajemen.

Metode ini digunakan untuk menentukan literatur-literatur yang

mempunyai hubungan dengan permasalahan yang diteliti dimana peneliti

membaca dan menelaahnya dari berbagai sumber yang telah disebutkan di

atas yang mempunyai keterkaitan dengan tema ini, yaitu literatur yang berisi

tentang manajemen program unggulan.

Dokumen yang diamati peneliti antara lain tentang profil sekolah, visi

misi dan tujuan sekolah,program kerja kepala sekolah, dokumen kurikulum,

kalender akademik sekolah, struktur organisasi, keadaan siswa dan tenaga

pendidik dan lain-lain.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam sebuah penelitian merupakan bagian yang sangat penting

89
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, hlm. 82.
karena dengan analisis inilah data yang ada akan nampak manfaatnya terutama

dalam memecahkan masalah penelitian dan mencapai tujuan akhir dalam

penelitian.

Analisis data merupakan proses mencari dan menata data dari hasil observasi,

wawancara dan dokumentasi secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman

peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi yang

lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut, analisis perlu

dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (interpretasi).90

Penelitian ini bersifat kualitatif, sehingga dalam hal ini peneliti menggunakan

metode analisis yang disebut analisis data kualitatif. Peneliti dalam hal ini akan

menyusun secara sistematis data-data yang telah diperoleh dari hasil observasi,

interview serta dokumentasi yang kemudian dilanjutkan dengan cara

mendeskripsikan dan menginterpretasikan bagaimana manajemen pengembangan

kurikulum.

Penelitian ini juga bersifat deskriptif, yang mana penelitian deskriptif

merupakan penelitian yang bekerja dengan cara berusaha menggambarkan dan

menginterpretasi objek apa adanya atau dapat dikatakan sesuai dengan fakta.91 Oleh

karena itu, dalam analisis data ini peneliti menggunakan analisis deskriptif kualitatif

yaitu penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan

bagaimana manajemen pengembangan kurikulum.

Aktivitas dalam analisis data yang dilaksanakan secara interaktif dan

90
Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996),
hlm. 104.
91
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan (Kompetensi dan Prakteknya), hlm. 157.
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh.

Aktivitas dalam analisis data yaitu: data reduction, data display, data

conclusiondrawing atau ferifying92, sebagaimana gambar berikut:

(Gambar 2: Teknik Analisis Data)

Data
collection
Data display

Data
reduction
Conclusion
drawing atau
Verification

Kemudian agar data yang diperoleh nanti sesuai dengan kerangka kerja

maupun fokus masalah akan ditempuh langkah utama dalam analisis data yaitu :

1. Data reduction ( Reduksi data )

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, membuang yang tidak perlu.

Reduksi data dimaksudkan untuk menentukan data ulang sesuai dengan

permasalahan yang akan penulis teliti, dengan demikian data yang telah

direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah

penelitian untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Data hasil

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D , hlm. 246-247.


92
penelitian ini harus direduksi meliputi hasil wawancara, dokumentasi dan

observasi berisi tentang manajemen program unggulan..

2. Data display( Penyajian data )

Data hasil reduksi disajikan atau didisplay ke dalam bentuk yang mudah

dipahami. Dalam penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam

bentuk uraian singkat, bagan hubungan antar kategori, dan sejenisnya.

Sajian data dimaksudkan untuk memilih data yang sesuai dengan kebutuhan

penelitian tentang manajemen pengembangan kurikulum, artinya data yang

telah dirangkum tadi kemudian dipilih, sekiranya data mana yang

diperlukan untuk penulisan laporan penelitian.

3. Conclusion drawing atau Verification

Kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan akan diikuti dengan bukti-bukti

yang diperoleh ketika penelitian di lapangan. Verifikasi data dimaksudkan

untuk penentuan data akhir dan keseluruhan proses tahapan analisis,

sehingga keseluruhan permasalahan mengenai manajemen pengembangan

kurikulum dapat dijawab sesuai dengan kategori data.

Dengan demikian analisis ini dilakukan saat peneliti berada di lapangan

dengan cara mendeskripsikan segala data yang telah didapat, lalu dianalisis

sedemikian rupa secara sistematis, cermat dan akurat. Dalam hal ini data

yang digunakan berasal dari wawancara dan dokumen-dokumen yang ada

serta hasil observasi yang dilakukan di SDIT SUIS Bogor.

F. Teknik Pemeriksaan Uji Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas


internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan

confirmability (objektivitas). Akan tetapi, dalam penelitian ini untuk mengecek

keabsahan data, peneliti menggunakan tiga pengujian keabsahan data antara lain

sebagai berikut:

1. Uji Kredibilitas

Uji kredibilitas dalam penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan

perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian,

triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, bahan

referensi dan member check.

a. Perpanjangan pengamatan, artinya peneliti kembali ke lapangan untuk

melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang

pernah ditemui maupun yang baru.

b. Peningkatan ketekunan, artinya peneliti melakukan pengamatan

secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut

maka kepasatian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara

pasti dan sistematis.

c. Triangulasi, artinya peneliti menguji kredibilitas dari berbagai

sumber dengan berbagai cara, dan waktu. Seperti data yang diperoleh

langsung dari sumber utama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh

William dalam Sugiyono.93 Seperti gambar berikut :

93
Dikutip dari William oleh Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R
& D, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 273.
(Gambar 3: Triangulasi Data)

Wawancara Observasi

Dokumentasi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tigatriangulasi yaitu;

triangulasi sumber data, triangulasi teknik/metode, dan triangulasi

waktu.

d. Menggunakan bahan referensi, yang dimaksud dengan bahan

referensi ini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang

telah ditemukan peneliti yang sesuai dengan konsep kepemimpinan

visioner. Seperti data hasil wawancara, peneliti harus membawa

rekaman wawancara baik melalui handphone atau alat lainnya yang

dapat mendukung hasil wawancara.

Hasil wawancara tersebut kemudian peneliti akan melakukan

pengecakan dengan hasil pengamatan dan dokumentasi yang peneliti

lakukan selama masa penelitian untuk mengetahui manajemn

pengembangan kurikulum. Adapun langkah-langkahnya yaitu:

1) Mengecek kembali hasil laporan penelitian yang berupa

uraian data dan hasil interpretasi peneliti.

2) Melakukan triangulasi untuk menjamin objektifitas dalam

memahami dan menerima informasi sehingga hasil

penelitian lebih objektif yang didukung cross check sehingga


hasil penelitian ini benar-benar dapat

dipertanggungjawabkan.

3) Dan Member check94, adalah proses pengecekan data yang

diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan member

check adalah agar peneliti mengetahui seberapa jauh data

yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh

pemberi data. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh

para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga

semakin kredibel/dipercaya, akan tetapi apabila data yang

ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak

disepakati oleh pemberi data, maka peneliti akan melakukan

diskusi dengan pemberi data, dan apabila perbedaannya

tajam, maka peneliti akan merubah temuannya, dan harus

menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.

2. Transferability (validitas eksternal)

Transferability atau keteralihan berfungsi untuk membangun

transferability dalam penelitian ini dilakukan dengan cara “uraian rinci”.

Adapun teknik ini digunakan oleh peneliti dengan tujuan peneliti mencoba

melaporkan penelitiannya dengan seteliti dan secermat mungkin dengan

menggambarkan konteks tempat penelitian diselenggarakan yang mengacu

pada fokus penelitian.

94
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). (Bandung: Alfabeta. 2016)
.Hal.365
Dengan uraian rinci ini, dapat mengungkap segala sesuatu yang

diperlukan oleh para pembaca sehingga dapat memahami temuan-temuan

yang diperoleh peneliti.

3. Pengujian Dependability

Dalam penelitian kualitatif, uji dependability dilakukan dengan

mengaudit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh

auditor yang independen, atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan

aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian.

4. Pengujian Confirmability

Konfirmabilitas merupakan kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian

melalui perekaman audit data dan informasi serta penjelasan yang didukung

oleh materi yang ada pada penelusuran (searching) atau pelacakan audit

(audit trail).

Dalam memenuhi penelusuran atau pelacakan audit ini, peneliti

menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti data bahan mentah berupa

catatan survei lapangan, transkrip wawancara, hasil rekaman berupa

dokumen atau foto, hasil analisis data berupa rangkuman hipotesis kerja, dan

konsep; dan catatan tentang proses penyelenggaraan berupa metodologi,

strategik, dan usaha keabsahan.


BAB IV

PAPARAN DATA PENELITIAN

E. PROFIL SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU SEKOLAH

UNGGULAN ISLAM BOGOR

1. Letak Geografis

Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam selanjutnya disebut

SDIT SUIS terletak di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari Kabupaten

Bogor Provinsi Jawa Barat. Desa Sukamantri sendiri memiliki batas- batas

wilayah pada sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sirnagalih/ Tamansari,

pada sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sukaharja/ Mulyaharja, sedangkan

sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Gunung Salak, serta sebelah Utara

berbatasan dengan Desa Kota Batu. Desa yang memiliki luas 639 hektar ini

berpenduduk lebih dari 14.000 jiwa, 4.878 kepala keluarga dengan mayoritas

pemeluk agama Islam.95

Berdasarkan hasil interview dengan Kepala Sekolah, diakui bahwa

struktur demografi masyarakat Desa Sukamantri didominasi oleh penduduk

yang beragama Islam, Bahkan dalam radius 2 KM dapat ditemui pondok

pesantren- pondok pesantren tradisional maupun modern.96 Berikut ialah data

profil SDIT SUIS yang tervalidasi di web dapodikdasmen:97

95
http://kecamatantamansari.bogorkab.go.id/index.php/multisite/detail_desa/148 diakses
pada tanggal 15 Juli 2018
96
Kukuh Irawan, S.Ud Interview (Kepala Sekolah) SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16- 07-
2018
97
http://sekolah.data.kemendikbud.go.id/index.php/chome/profil/1a9aa083-cc2b-44cc-
a092-a497589cc274 diakses pada tanggal 15 Juli 2018
(Gambar 4: Profil Sekolah)

2. Sejarah Berdiri

SDIT SUIS berdiri sejak 2012 di bawah naungan Yayasan Islam Al-Huda

dengan nomor SK izin oprasional sekolah 421.2/508-Disdik/2013. Yayasan

Islam Al-Huda sendiri telah berdiri sejak 29 April 1998 dengan Akta Notaris
Ny.Siti Aisyah, S.H.,CN.Notaris pengganti dari Supiah Nurbaiti S.H. setelah itu

pada 17 April 2006 diadakan perubahan badan pendiri dengan Akta Notaris

No.97 Notaris Agus Nuryanto S.H berikut penambahan nama yayasan menjadi

Yayasab Islam Al Huda Bogor Indonesia. Setelah beberapa kali mengalami

pergantian Akta Notaris baru pada tanggal 5 Mei 2006 Yayasan Islam Al Huda

Bogor Indonesia mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi

Manusia Republik Indonesia No.C-895HT.01.02.TH 2006. Lalu pada Juni 2013

yayasan mengalami perubahan kepengurusan lagi melalui Akta Berita Acara

Rapat dengan Notaris Nadilah Sungkar, S.H. No 3.98

Yayasan Islam Al-Huda Bogor Indonesia merupakan lembaga yang

bergerak dalam program dakwah, social dan pendidikan. Fokus pada program

pendidikan yayasan ini tidak hanya memiliki SDIT SUIS saja, terhitung Yayasan

Islam Al Huda Bogor Indonesia memiliki lembaga- lembaga pendidikan lainnya

di Bogor seperti TKIT HASMI, SMPIT Putra Al-Hidayah, SMPIT Putri Al-

Hidayah, SMAIT Putra dan Putri HASMI, STAI Al-Hidayah dan lembaga-

lembaga pendidikan lainnya di luar Bogor.

Dari awal mulai berdiri dari tahun 2012, dengan Kepala Sekolah Indri

Muftaliandri, S.Pd.I sebagai Kepala Sekolah Pertama. SDIT SUIS ini telah

diketahui sudah beberapa kali berganti nama. Berawal dengan nama SD HASMI,

kemudian berubah menjadi SD Al-Hidayah dan terakhir dirubah menjadi SDIT

SUIS sampai sekarang. SDIT SUIS memiliki izin oprasional dengan SK No.

421.2/508-Disdik/2013. Perubahan- perubahan nama yang dilakukan terjadi

98
http://alhudabogor.org/profil/ diakses pada tanggal 16-07-2018
karena perubahan pengurus di tingkat yayasan yang berimplikasi terhadap

kebijakan Sekolah. Selain itu perubahan nama dilakukan juga dikarenakan

dengan tujuan branding sekolah.

3. Visi dan Misi

Sebagai lembaga pendidikan formal tingkat SD, SDIT SUIS Bogor ini

memiliki visi dan Misi sebagai berikut:

a. Visi Sekolah

Visi sekolah ini adalah: “Terwujudnya generasi Robbani yang

mandiri dan berprestasi yang menguasai IPTEK dan memiliki IMTAQ

sesuai manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah”

b. Misi Sekolah

Adapun Misi dari sekolah ini antara lain:

1) Menyelenggarakan pendidikan Islam yang sesuai dengan

pemahaman Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

2) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi

serta keterampilan yang bermanfaat.

3) Menciptakan lingkungan pendidikan Islam berdasarkan

keshahihan ilmu dan keikhlasan amal.

4) Meningkatkan pelayanan lembaga pendidikan Islam yang

bermutu.

5) Meningkatkan professional pendidik dan tenaga kependidikan.


c. Tujuan Sekolah

1) Menghasilkan lulusan yang memiliki pemahaman Ahlu Sunnah

Wal Jamaah.

2) Menghasilkan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan dan dan

menguasai teknologi serta keterampilan yang bermanfaat.

3) Menghasilkan lulusan yang Hafidz Quran dan fasih berbahasa

Arab.

4) Terbentuknya masyarakat yang memiliki keshahihan ilmu dan

keikhlasan amal serta mencintai Al-Quran..

5) Mengembangkan layanan pendidikan Islam yang bermutu

dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang professional

d. Program Unggulan Sekolah

Selain memiliki visi dan misi di atas, SDIT SUIS ini memiliki

beberapa program unggulan, yaitu:99

1) Tahfidzul Quran 30 juz

2) Fiqih ibadah dan prakteknya.

3) Doa dan dzikir harian.

4) Aqidah

5) Bahasa Arab

6) Tilawah Quran metode SUIS

99
Kukuh Irawan, S.Ud Interview (Kepala Sekolah) SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16- 07-
2018
(Gambar 5 : Program Unggulan)

4. Struktur Organisasi

SDIT SUIS memiliki struktur organisasi sederhana dalam mengorganisir

semua sumber daya manusia, struktur organisasi sederhana tersebut tergambar

dalam struktur berikut:


(Gambar 6: Struktur Organisasi Sekolah)

5. Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan

a. Tenaga Pendidik

Untuk tenaga pendidik di SDIT SUIS sendiri memiliki kurang lebih 26

tenaga pendidik untuk menangani kegiatan belajar mengajar. Tenaga

pendidik tersebut memiliki kualifikasi ijazah S1 sebanyak 20 orang dan

kualifikasi dibawah S1 sebanyak 6 orang.100

100
Heri Chaerudin Interview (Kepala TU dan Operator ) SDIT SUIS Tamansari Bogor.
16-07-2018
(Tabel 2 : Data Pendidik)

No Nama Jabatan Pendidikan Terakhir


Kukuh Irawan,S.Ud Kepala Sekolah S1
Aji Mustopa Waka kesiswaan SMK
Ahmad Romdoni, S.Ud Waka Kurikulum S1
Ahmad Syahid Guru Mapel MAK
Andri Nuryatman,S.Pd.I Wali kelas 2 S1
Firman Guru Mapel SMA
Hudzaifah Djunaedi Guru Mapel SMA
Fadil Muhammad Guru Mapel SMA
Sarjono, S.Pd.I Wali kelas 6 S1
Iko Lesmana, S.Pd.I Wali kelas 3 S1
Hilmanudin, S.Pd.I Wali kelas 5 S1
Hamdani, S.Pd.I Wali kelas 4 S1
Fajriah Nur,S.Pd.I Waka Kurikulum S1
Tri Murlani Guru Bantu SMK
Halimah, S.Pd.I Wakasek S1
Rita Susanti, S.Pd.I Wali Kelas 4 S1
Ummu Kultsum Guru Mapel MA
Siti Hidayah Wali Kelas 6 SMA
Ummi Musyahidah Wali Kelas 1A MA
Khuzaemah Guru Mapel MA
Yuli Yuliana,S.S Guru Mapel S1
Deasy Ekawati Wali Kelas 1B D1
Indri Mirah Jayati,
Wali Kelas 3 D3
A.Md.Kom
Mariska Guru mapel S1
R.Conny Latifah, S.Pd.I Wali kelas 5 S1
b. Tenaga Kependidikan

Untuk tenaga kependidikan SDIT SUIS memilik 4 orang tenaga

kependidikan yang sudah meliputi operator sekolah, tata usaha, bendahara.

Masing- masing tenaga kependidikan tersebut telah memiliki kualifikasi

ijazah S1.

Adapun tenaga kependidikan SDIT SUIS yang tercatat di web

Kemdikbud antara lain sebagai berikut:


(Gambar 7: Data Tenaga Kependidikan)

6. Keadaan Peserta Didik

Peserta didik di SDIT SUIS berjumlah 276 orang dengan klasifikasi jumlah

peserta didik laki-laki sebanyak 127 orang, dan jumlah peserta didik perempuan

sebanyak 149 orang. Adapun rentan usia di sekolah tersebut di dominasi usia 7-

12 tahun yang berjumlah 261 orang dan usia > 12 tahun sebanyak 15 orang.

Sementara itu untuk agama yang di peluk oleh peserrta didik bisa dipstikan 100

% semuanya pemeluk agama Islam. Selain itu keadaan peserta didik di SDIT
SUIS di bagi menjadi 12 rombel dengan 6 tingkatan dengan masing-masing

tingkatan memiliki 2 rombel.101

(Gambar 8 : Data Peserta Didik)

7. Sarana dan Prasarana

Beberapa sarana dan prasarana yang difasilitasi oleh sekolah antara lain: 102

a. Ruang kelas

b. Lapangan olahraga

101
http://sekolah.data.kemendikbud.go.id/index.php/chome/profil/1a9aa083-cc2b-44cc-
a092-a497589cc274 diakses pada tanggal 15 Juli 2018
102
http://sekolahunggulanislami.com/ppdb-sdit-suis-tp-20172018/ diakses pada tanggal 15
Juli 2018
c. Area bermain

d. Aula

e. Mesjid

f. Lab multimedia

g. Perpustakaan

h. Ruang UKS

i. MCK

j. Mobil jembutan

k. Catering

l. Kantin

8. Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang diterapkan di SDIT SUIS ini antara lain menerapkan tiga

muatan kurikulum yaitu:

a. Kurikulum Tahfizh 30 Juz Qur’an.

b. Kurikulum Nasional Dinas Pendidikan dengan pengembangan.

c. Pengembangan Minat dan Bakat, yaitu kegiatan ektrakurikuler yang di

bagi menjadi:

1) Ekstrakulikuler Wajib yang meliputi ekstrakurikuler berenang,

memanah, berkuda (sesuai dengan agenda), kultum, pramuka

2) Ekstrakulikuler Pilihan yang meliputi: Broadcasting atau jurnalistik,

Khot dan kaligrafi, futsal, sience dll.103

103
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 11-07-2018
(Gambar 9 : Struktur Kurikulum)

9. Tim Pengembang Program Tahfidz Quran

SDIT SUIS memiliki tim pengembang program tahfidz Quran yang di

tanggung jawabi langsung oleh Wakil Kepala Bidang Kurikulum, dibantu oleh

staf tata usaha dan bendahara sekolah, yang memiliki garis koordinasi langsung

dengan para pebimbing tahfidz Quran. Pebimbing tahfidz Quran sendiri

berjumlah 12 orang sekaligus berperan atau bertanggung jawab sebagai guru

kelas.104

104
Kukuh Irawan, S.Ud Interview (Kepala Sekolah) SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16-
07- 2018
(Gambar 11: Struktur Organisasi Program)

F. MANAJEMEN PROGRAM UNGGULAN

5. Perencanaan (Planning)

g. Langkah-langkah Perencanaan

Dalam langkah-langkah perencanaan di SDIT SUIS Romdoni selaku

wakil bidang kurikulum sekaligus ketua program unggulan tahfidz

menegaskan:

“Pada tahapan perencanaan program, di kami (SDIT SUIS) penetapan


tujuan itu sepenuhnya di tentukan oleh yayasan. Jadi kami (SDIT SUIS)
tidak dilibatkan sama sekali dalam perumusan tujuan atau apapun itu.
Kami hanya menerima hasil kajian dari yayasan. Setelah itu kami
melaksanakan apa yang telah di tetapkan oleh yayasan”.105

Senada dengan pernyataan Romdoni, Kukuh Irawan sebagai Kepala

Sekolah juga menegaskan bahwa:

“Tidak ada pelibatan guru atau Kepala Sekolah dalam perumusan tujuan
rencana program karena program sekolah biasanya terpadu dengan
program yayasan juga. Jadi biasanya perumusan perencanaan program di
urus oleh bagian mendik di yayasan. Sekolah tinggal melaksanakan dan
mengatur kegiatan dilapangan. Jadi sekolah yang menyesuaikan dengan
program yayasan”.106

h. Elemen Perencanaan

Elemen perencanaan SDIT SUIS, diantaranya yaitu terdapat sasaran

(goals) dan rencana (plan), sasaran dan rencana yang dimaksud antara

lain:107

3) Sasarannya ialah mengintegrasikan kurikulum dinas pendidikan

dengan kurikulum tahfidz Al-Qur’an sehingga diharapkan para

peserta didik memiliki kemampuan bacaan Al-Qur’an sesuai dengan

standarnya, mutqin hafal 30 juz dan memperoleh ijazah diknas.

4) Jangka waktu program tahfidz 30 juz adalah 6 tahun yang dibagi

menjadi beberapa target pencapaian antara lain:

a) Kelas I semester I : penekanan pada talqin dan tahsin, semester II

: hafal 1 juz.

b) Kelas II semester I : 2 juz, semester II : 3 juz.

105
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview (Ketua Program Tahfidz) SDIT SUIS Tamansari
Bogor. 11-07-2018
106
Kukuh Irawan, S.Ud Interview (Kepala Sekolah) SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16-
07- 2018
107
Program Kerja Tahfidz Quran SDIT SUIS 2017/ 2018
c) Kelas III semester I : 4 juz, semester II : 4 Juz.

d) Kelas IV semester I : 4 juz, semester II : 4 Juz

e) Kelas V Semester I : 4 juz, semester II : 4 Juz

f) Kelas VI : penekanan pada muroja’ah dan konsentrasi UN

6. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian program unggulan tahfidz Quran di SDIT SUIS tergambar

dalam struktur organisasi program unggulan tahfidz Quran, antara lain:

(Gambar 12: Sturktur Organisasi Tahfidz)

Dalam penentuan jabatan struktural program tahfidz, Romdoni menjelaskan

bahwa:

“Dalam penentuan jabatan structural itu dilakukan pada rapat kerja awal
tahun ajaran dengan cara musyawarah. Dan untuk terpilihnya ana
(Romdoni) dikarenakan ana merupakan salah satu perumus metode tilawah
SUIS, sehingga teman-teman di SDIT SUIS mempercayakan ana sebagai
ketua program unggulan tahfiz Quran atau kita sering menyebutnya sebagai
koordinator tahfidz Quran. Jadi tidak ada paksaan ataupun tekanan dalam
melaksanakan tugas tersebut”108

Sementara itu berkaitan dengan mekanisme kerja struktur organisasi

program unggulan thafidz Quran, Kepala Sekolah SDIT SUIS dalam

wawancaranya menjelaskan:

“Ada beberapa bagian penting dalam struktur organisasi program tahfidz


Quran di SDIT SUIS, yang pertama ialah penentu tujuan program dan
rencana program secara garis besar yang wewenangnya dimiliki oleh
mendik, dan yang kedua ialah Kepala Sekolah dan Kaprog atau koordinator
program tahfidz Quran yang mempunya tugas dan wewenang merumuskan,
dan menspesifikasikan kegiatan dan menyusun daftar kegiatan juga
mengelompokan kegiatan, serta mendelegasikan wewenang atau perintah
kepada guru tahfidz Quran sebagai bagian pelaksana program dilapangan.
Adapun komite hanya berfungsi sebagai pengawas program saja”.109

Untuk mengorganisasikan program, dalam petunjuk teknis tahfidz Quran di

SDIT SUIS disusun simulasi tahfidz sebagai berikut:

(Gambar 13 : Simulasi Tahfidz Quran)

108
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview (Ketua Program Tahfidz) SDIT SUIS Tamansari
Bogor. 11-07-2018
109
Kukuh Irawan, S.Ud Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16- 07- 2018
7. Penggerakan (Actuating)

Dalam proses penggerakan program unggulan Thfidz Quran di SDIT SUIS,

dilaksanakan beberapa kegiatan di sekolah, antara lain:

c. Melaksanakan kegiatan IHT (in house training) pada awal tahun ajaran
untuk pebimbing tahfidz khususnya memberikan pelatihan metode baca
SUIS. Selain kegiatan IHT juga dilaksanakan kegiatan workshop
maupun bimbingan teknis lain.
d. Memberikan bimbingan rutin dalam rapat mingguan, seperti peningkatan
hafalan Quran pebimbing dan diskusi metode hafalan.
e. Memberikan pengarahan pada kegiatan spirit Morning yang dilakukan
setiap pagi. Yaitu memberikan instruksi kepada staf atau pebimbing
dalam pelaksanaan tugas agar terlaksana dengan baik terarah kepada
tujuan yang telah ditetapkan.110

8. Pengawasan/ Pengendalian (Controlling)

Dalam melaksanakan setiap program tentu sangat penting dilakukan

pengawasan agar program terlaksana sesuai dengann rencana, adapun dari hasil

wawancara dengan pebimbing tahfidz Quran dapat diketahui bahwa:

“Ada dua bentuk pengawasan yang dilakukan dalam program unggulan


tahfidz Quran di SDIT SUIS. Pengawasan yang pertama ialah pengawasan
langsung yang dilakukan oleh ketua program yang dilakukan setiap hari
dalam bentuk observasi langsung terhadap halaqoh-halaqoh yang
dilaksanakan oleh kami (pebimbing tahfidz) dan laporan jurnal pebimbing
tahfidz secara tertulis di buku prestasi peserta didik maupun buku pegangan
guru. Selain pengawasan tersebut dilakukan pengawasan juga oleh Kepala
Sekolah dan komite”111

Senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Andri, di tegaskan kembali

oleh Kepala Sekolah bahwa:

“Di kami (SDIT SUIS) untuk program tahfidz Quran yang mengawasi ada
dua, yang pertama ialah kaprog tahfidz yang mengawasi pebimbing setiap
hari yang kemudian melaporkannya kepada sekolah, juga ada komite yang
mengawasi secara tidak langsung. Jadi pebimbing diawasi oleh kaprog dan

110
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 11-07-2018
111
Andri R, S.Pd.I Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16-07-2018
melapor kepada kaprog, dan kaprog melapor kepada kepala sekolah sebagai
bahan laporan kepada pengawas komite maupun mendik yayasan.”112

Sementara itu Romdoni sebagai Kaprog Thafidz menjelaskan berkaitan

dengan temuan penyimpangan yang biasa ditemui saat melakukan pengawasan

antara lain:

“yang sering ditemukan dilapangan ketika sedang pengawasan ialah adanya


penyimpangan metode, atau tidak sesuainya metode yang telah ditentukan
dengan pelaksanaan. Karena SDIT SUIS ini mempunyai metode khusus
yaitu metode SUIS yang baru dikenalkan beberapa tahun terakhir maka
masih sering terjadi peyimpangan penerapan metode. Jika terjadi hal
demikian maka tindakan selanjutnya ialah pemanggilan pebimbing secara
khusus (face to face) dan kemudian diingatkan kembali dan ditekankan
untuk menggunakan metode yang telah ditentukan yaitu metode SUIS”113

G. ANALISIS SWOT

3. Kekuatan (Strength)

Beberapa kekuatan yang dimiliki program unggulan Tahfidz Quran di SDIT

SUIS di ungkapkan oleh Romdoni antara lain:

a. Memiliki metode khusus yaitu metode SUIS yang lebih sederhana


dibandingkan dengan metode lain.
b. Bimbingan hafalan yang sangat intensif.
c. Program yang memiliki dukungan penuh dari orang tua/ wali peserta
didik.
d. Sistem full day school yang cocok bagi orang tua yang sibuk bekerja.
e. Yayasan Islam Alhuda memiliki memiliki anggota karyawan yang cukup
banyak sehingga tidak sulit untuk mencari peserta didik.

Hal tersebut diatas diakui juga oleh orang tua/ wali murid. Seperti apa yang

diungkapkan oleh Sudirman bahwa:

112
Kukuh Irawan, S.Ud Interview (Kepala Sekolah) SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16-
07- 2018
113
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview (Ketua Program Tahfidz) SDIT SUIS Tamansari
Bogor. 11-07-2018
“Kami memilih menyekolahkan anak kami karena ada program tahfidznya.
Biasanya sekolah yang mengadakan program tahfidz itu boarding, nah bagi
kami yang sibuk bekerja di bidang kesahatan merasa lebih tenang saja jika
dititikan ke sekolah yang fullday . metode pendidikannya pun baik dan
sesuai dengan manhaj kami”114

4. Kelemahan (weakness)

Selain kekuatan yang dimiliki, program unggulan Tahfidz Quran ini pun

memiliki beberapa kelamahan. Sebagai Kaprog Romdoni mengutarakan

beberapa kelemahan yang dimiliki ialah:

a. Memiliki kesulitan dalam meningkatkan kompetensi pebimbing tahfidz.


b. Terbatasnya waktu bimbingan tahfidz yang dimiliki oleh pebimbing
tahfidz.
c. Pencapaian target yang belum mencapai 100 %.
d. Tidak adanya bentuk penghargaan terhadap keberhasilan pebimbing.
e. Tingkat stress/ kejenuhan pebimbing yang meningkat.115

Kelemahan-kelemahan tersebut juga diakui oleh guru lain bahwa kurangnya

bentuk-bentuk penghargaan ataupun perhatian kepada pebimbing tahfidz

membuat pebimbing lambat laun tidak bersemangat dalam bekerja.116

5. Peluang (Opportunity)

Beberapa kondisi eksternal yang dapat memberikan peluang-peluang untuk

kemajuan lembaga antara lain:

a. Program tahfidz Quran yang semakin banyak diminati oleh peserta didik.

b. Mudahnya akses peserta didik untuk melanjutkan pendidikan kejenjang

selanjutnya.

114
Sudirman, Amd.Kep. Interview (Orang Tua/ Wali Peserta didik) Klinik Basmallah
Curug Luhur Tenjolaya Bogor.
115
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 11-07-2018
116
Heri Chaerudin, Interview, SDIT SUIS Tamansari Bogor, 16-07-2018
c. Semakin banyak sekolah lanjutan yang membuka beasiswa bagi persta

didik yang hafidz Quran.

d. Tingginya animo/ perhatian masyarakat muslim terhadap program

thafidz Quran sehingga semakin banyak orang tua yang ingin

menjadikan anaknya hafidz Quran.

e. Terjaganya akhlak/ pendidikan karakter peserta didik karena selalu dekat

dengan Al-Quran

6. Ancaman (Threats)

Selain beberapa kondisi yang manjadi kelemahan program juga kondisi

eksternal sekolah sekarang dan yang akan datang yang tidak menguntungkan,

dan secara serius dapat mempengaruhi masa depan lembaga pendidikan. Kondisi

tersebut diantaranya:

a. Program-program umum/ Diknas yang banyak menyita waktu.

b. Banyaknya kompetitor yang melaksanakan program unngulan serupa.

c. Penghargaan dan perhatian kompetitor yang lebih besar terhadap

pebimbing tahfidz.

H. EVALUASI PROGRAM

1. Evaluasi Konteks (Context)

Dari hasil wawancara dengan Kaprog Tahfidz di dapat informasi bahwa:

“Secara konteks kebutuhan masyarakat (peserta didik dan orant tua/ wali
peserta didik) sudah terpenuhi oleh program dan sangat membantu
masyarakat dalam mengembangkan keluarga yang dekat dengan Al-Quran.
Sedangkan pengembangan yang belum dapat tercapai ialah penyesuaian
peserta didik level 1 yang harus mengejar peserta didik level 3. Meskipun
demikian program membaca Al-Quran menjadi program yang mudah
dicapai.”117

2. Evaluasi Masukan (Input)

Selama peneliti melakukan observasi di SDIT SUIS, sarana dan prasarana

sekolah sangat menunjang program tahfidz Quran.118 Selain itu Kaprog

menjelaskan bahwa:

“Selama program tahfidz ini bergulir, sekolah memberikan penunjang


dengan sarana dan prasarana yang baik, mulai dari tempat halaqoh, mesjid,
dan lainya sehingga program dapat dilaksanakan dengan nyaman dan
peserta didik banyak yang menerima program dengan senang hati. Selain
sarana dan prasarana yang menunjang program, yang paling penting ialah
pebimbing tahfidz yang sabar dan professional yang memang sekolah pilih
dengan latar belakang pesantren Quran dan memang tahfidz Quran”119

Menanggapi input sarana dan prasarana, latar belakang pendidik serta

kompetensi awal peserta didik, Kepala Sekolah memberikan tanggapannya:

“Memang untuk sarana dan prasarana kita prioritaskan untuk kenyamanan


program Thafidz maupun KBM, terutama Sekolah sangat memperhatikan
kompetensi pebimbing Tahfidz yang kualifikasinya harus benar-benar sabar
dalam mengahadapi anak-anak, menguasai ilmu baca Quran, dan bagus
hafalannya dengan minimal hafal 20 juz untuk pebimbing kelas 1-3. Adapun
untuk keadaan peserta didik kami klasifikasikan menjadi 3 level. 3 level
yang dimaksud yaitu level 1 untuk peserta didik yang belum bisa baca Quran
dan belum benar bacaannya, level 2 untuk peserta yang sudah bisa baca
Quran tetapi belum benar bacaanya, dan level 3 ialah peserta didik yang
sudah bisa baca Quran dan sudah benar bacaanya.”120

117
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 11-07-2018
118
Lihat lampiran foto-foto sarana dan prasarana
119
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 11-07-2018
120
Kukuh Irawan, S.Ud Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16- 07- 2018
(Gambar 14: Pembagian Level)

3. Evaluasi Proses (Process)

Proses program tahfidz Quran tentu tidak terlepas dari kegiatan belajar

mengajar, oleh karena itu kegiatan program tahfidz terpadu dengan program

umum atau Diknas. Kegiatan tersebut dapat terlihat dari kalender pendidikan

dan jadwal harian. Berikut data yang peneliti dapatkan:


(Gambar 15: Kalender akademik)

Dalam keseharian Andri sebagai salah satu pebimbing Tahfidz

mengungkapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya:

“Di setiap keseharian program, kita melakukan Spirit Morning, murajaah,


shalat duha, halaqoh sekaligus setoran hafalan, dan kita melaksanakan ujian
tahfidz juga di setiap triwulan, setiap semester, dan tasmi’ diakhir tahun.
Alhamdulilah kita selalu melakukan agenda sesuai jadwal, dan tidak ada
hambatan berkaitan dengan sarana dan prasarana. Akan tetapi ke depan
harapan kita ialah kegiatan selalu dievaluasi berkaitan dengan metode yang
di terapkan agar tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan“121

Pebimbing lain Andri berpendapat tentang bagaimana program tahfidz bisa

dilanjutkan di masa datang. Andri mengungkapkan:

”Program tahfidz ini sangat bisa dilanjutkan jika sekolah mampu


menyesuaikan jam program umum dengan jam program tahfidz, bahkan

121
Hilman Nuddin, S.Pd.I. Interview (Wali Kelas dan Pebimbing Tahfidz) SDIT SUIS
Tamansari Bogor, 16-07-2018
harapan bagi para pebimbing ialah penambahan jam untuk bimbingan
tahfidz. Kami nilai waktu yang tersedia sekarang untuk para pebimbing
belum cukup untuk mendukung hasil yang lebih maksimal.”122

(Gambar 16 : Jadwal KBM)

Dari hasil pengumpulan dokumen dan observasi, ditemukan hal menarik

dalam proses pembelajaran Quran di SDIT SUIS, yakni penggunaan metode

tilawah Quran yang berbeda dari metode- metode umumnya. Metode tersebut

ialah metode SUIS. Adapun ruang lingkup materi dari metode tersebut antara

lain tergambar sebagai berikut:

122
Andri R, S.Pd.I Interview (Wali Kelas dan Pebimbing Tahfidz) SDIT SUIS Tamansari
Bogor. 16-07-2018
(Gambar 17: Materi metode tilawah SUIS)

4. Evaluasi Produk/ Hasil (Product)

Berkaitan dengan hasil yang dicapai program Tahfidz, beberapa hal

diungkapkan oleh Kepala Sekolah, Kaprog dan beberapa pebimbing Tahfidz:

“Tujuan yang ditetapkan telah tercapai dengan baik. Program membaca Al-
Quran telah tuntas, baik level 1, 2 ataupun 3. Evaluasi terus dilakukan
terlebih berkaitan dengan penerapan metode SUIS yang baru dikembangkan
oleh kami baru-baru ini. Adapun pencapaian hafalan masih beragam,
tergantung level pas peserta didik awal masuk. Mungkin jika di
persentasekan untuk capaian hafalan pada level 1 sebesar 50 %, pada level
2 sebesar 75 % dan pada peserta didik level 3 sebesar 95 %. Perubahan yang
signifikan berdampak pada peserta didik ialah pada karakter anak yang lebih
disiplin.”123

123
Kukuh Irawan, S.Ud Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16- 07- 2018
Senada dengan Kepala Sekolah, Romdoni sebagai Kaprog mengungkapkan

bahwa:

“Pencapaian program yang sedikit sulit ialah pada pencapaian target untuk
peserta didik level 1. Waktu yang terbagi dengan program Diknas dirasa
tidak cukup bagi peserta level 1 dalam mencapai target- target program.
Karena untuk level 1 kita lebih banyak membutuhkan waktu untuk membuat
peserta didik bisa membaca Al-Quran dengan baik dan kemudian baru pada
tahap menghafal. Jadi utnuk level 1 kerja para pebimbing lebih berat dua
kali lipat disbanding mebimbing peserta didik yang berada di level 2 atau
level 3”.124

Hal yang diungkapkan oleh Romdoni juga di perkuat oleh pernyataan

pebimbing tahfidz. Andri menjelaskan bahwa:

“jika berkaitan dengan pencapaian tujuan bisa dikatakan kita sudah dapat
memenuhi kebutuhan peserta didik lewat program tahfidz ini, mulai dari
anak yang belum bisa baca Quran menjadi bisa baca Quran, dari bacaan
anak yang masih hancur sampai menjadi bacaan Qurannya benar. Akan
tetapi masalahnya hanya pada perbedaan level awal peserta didik saja
sehingga pencapaian target belum bisa merata. Hanya bisa dicapai oleh anak
yang di level 2 dan level 3 saja. Sedangkan anak yang di level 1 masih
membutuhkan tambahan waktu untuk penyesuaian target karena memang
pada awalnya bisa di bilang mereka mulai dari nol.”125

124
Ahmad Romdoni, S.Ud. Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 11-07-2018
125
Andri R, S.Pd.I Interview SDIT SUIS Tamansari Bogor. 16-07-2018
(Gambar 18 : Daftar Hafalan)

Adapun untuk lulusan SDIT SUIS yang melanjutkan ke jenjang pendidikan

selanjutnya ialah 100%, keterangan tersebut didapat dari wali kelas yang

mengungkapkan:

“Semua anak-anak kami dari hasil ujian Alhamdulilah lulus semua dan
melanjutkan sekolahnya. Tetapi kebanyakan anak-anak kami banyak yang
melanjutkan ke sekolah swasta yang memiliki program tahfidz. Jadi banyak
yang melanjutkan ke sekolah boarding daripada ke Sekolah Negeri di
Bogor. Karena mungkin orang tua anak-anak lebih memilih sekolah yang
ada program Al-Quran”.
Berikut data hasil pencapaian nilai UN 2017/ 2018 yang didapat dari

dokumen Waka kurikulum:

(Gambar 19: Hasil Nilai UN)


BAB V

PEMBAHASAN DAN TEMUAN PENELITIAN

I. PEMBAHASAN

1. Latar Alamiah Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam

Bogor

Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam selanjutnya disebut

sebagai SDIT SUIS Bogor yang didirikan oleh Yayasan Islam Al-Huda Bogor

pada tahun 2012 berada di lingkungan sosial mansyarakat yang agamis dan

peduli terhadap pendidikan Al-Quran. Program unggulan hafidz Quran 30 juz

pada usia sebelum baligh yang diterapkan di SDIT SUIS merupakan sebuah

contoh nyata sebuah wujud kebudayaan masyarakat Bogor. Seperti yang telah

dijelaskan oleh tokoh kebudayaan Indonesia Koentjaraningrat tentang wujud

kebudayaan bahwa program tahfidz Quran merupakan suatu kompleksitas ide,

gagasan, nilai, norma, aturan, yang berbentuk aktivitas serta tindakan berpola

dari manusia dan masyarakat126.

SDIT SUIS Bogor juga merupakan bagian dari sistem pendidikan

kelompok status masyarakat Bogor seperti yang dijelaskan oleh Mahmud

dalam Randall Collins (1977) berkaitan dengan tipe dasar pendidikan

masyarakat di dunia,127. SDIT SUIS dinilai mampu menjadi simbol dan

memperkuat prestise dan hak-hak istimewa kelompok dalam masyarakat.

Karena mayoritas masyarakat Bogor pemeluk agama Islam, maka menjadi

126
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi . (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2002)
Hal.186-187
127
Prof. Dr. Mahmud,M.Si dan Dr Ija Suntana, M.Ag, Antropologi Pendidikan.
(Bandung, Pustaka Setia: 2014) Hal.113
hafizh Quran merupakan sebuah pencapaian simbol nilai religius dan prestise

dikalangan umat Islam. Hal tersebutlah yang menjadikan tahfidz Quran

menjadi program unggul.

Pengaruh unsur religi yang melekat dalam kebudayaan masyarakat Bogor

menjadi salah satu tolak ukur keunggulan program. Sehingga program Tahfidz

Quran di SDIT SUIS Bogor diakui masyarakat sebagai program unggulan

berdasarkan nilai-nilai agama Islam yang dianut masyarakat. Hal tersebut

diperkuat dengan fakta bahwa Yayasan yang menaungi Sekolah merupakan

lembaga yang bergerak di bidang dakwah Islam.

Selain beberapa hal di atas, program Tahfidz Quran dipandang sebagai

jalan untuk mencapai kedudukan yang lebih baik di masyarakat. Hal tersebut

karena kedudukan seorang hafidz Quran dikalangan golongan umat muslim

sangatlah diagungkan. Seorang hafidzh Quran memiliki kedudukan lebih

tinggi dan lebih dihormati dibandingkan dengan seseorang yang belum hafidz.

Dari beberapa latar SDIT SUIS tersebut maka tidak heran jika tahfidz Quran

dijadikan sebagai program unggulan di SD SUIS Bogor. Karena hal tersebut

merupakan bagian dari mobilitas social128 masyarakat muslim Bogor dan

bagian dari wujud kebudayaan masyarakat Bogor.

2. Tujuan Sekolah Dasar Islam Terpadu SUIS

Dari Visi dan Misi yang Sekolah tetapkan, menggambarkan bahwa SDIT

SUIS memiliki tujuan dalam melaksanakan kegiatan pendidikannya sebagai

128
Prof.Dr. S.Nasution. MA., Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. 2004) Hal.38-
39
kepanjangan dari Visi dan Misi Yayasan Islam Al-Huda yang bergerak atas

dasar nilai-nilai dakwah. Beberapa tujuan SDIT antara lain:

e. Menghasilkan lulusan yang memiliki pemahaman Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

f. Menghasilkan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan dan dan menguasai

teknologi serta keterampilan yang bermanfaat.

g. Menghasilkan lulusan yang Hafidz Quran dan fasih berbahasa Arab.

h. Terbentuknya masyarakat yang memiliki keshahihan ilmu dan keikhlasan

amal serta mencintai Al-Quran..

i. Mengembangkan layanan pendidikan Islam yang bermutu dengan pendidik

dan tenaga kependidikan yang professional.

Dari hasil observasi terlihat peserta didik benar-benar diarahkan untuk

selalu dekat dengan Al-Quran. Setiap peserta didik selalu membawa Al-Quran.

Selain itu kegiatan peserta didik sering dipusatkan di masjid. Adapun tujuan

dari program tahfidz Quran antara lain tertulis dalam program kerja program

unggulan tahfidz:

a. Menumbuhkan sikap penting terhadap kelancaran membaca dan


menghafal Al-Quran
b. Menjadikan program tahfidz Al-Qur’an sebagai wadah untuk
menumbuhkan generasi penghafal Al-Qur’an.
c. Menyelenggarakan proses pendidikan yang menjadikan Al Qur’an
sebagai ruh sinergitas dengan keilmuan lainnya.
d. Mendorong lahirnya generasi qur’ani yang memiliki aqidah yang benar,
sesuai dengan manhaj ahlu Sunnah wal-jamaah, berprestasi, memiliki
kemampuan leadership, mandiri, berakhalak yang baik dan dapat
diteladani.
e. Melaksanakan tujuan pendidikan nasional.
3. Manajemen Program Unggulan Tahfidz Quran Sdit Suis

a. Perencanaan (Planning)

1) Langkah-langkah Perencanaan

Perencanaan yang merupakan proses kegiatan persiapan sistematis

kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan dilaksanakan

dengan pendekatan administrative. Perencanaan dirumuskan oleh

Yayasan yang menaungi Sekolah tanpa melibatkan pendidik atau

pebimbing tahfidz.. Hal tersebut membuat peran SDIT SUIS dalam

menentukan dan merumuskan tujuan-tujuan dan maksud-maksud yang

hendak dicapai program itu tidak ada sedangkan pada hakikatnya

langkah dalam perencanaan129 memerlukan keterlibatan semua pihak.

Pengidentifikasian masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang

akan dilakukan yang disusun oleh Yayasan tanpa melibatkan para

pelaksana di lapangan membuat ketimpangan dalam penyelesaian

masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Sementara proses

pengumpulan data dan informasi-informasi yang di lakukan oleh tim

pengembang pendidikan di Yayasan tanpa melibatkan orang-orang

pelaksana program dinilai kurang akurat. Meski pihak tingkat satuan

pendidikan yaitu SDIT SUIS bisa menyesuaikan perencanaan

penentuan tahap-tahap atau rangkaian tindakan yang akan dilakukan

dan merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan

129
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.15
bagaimana pekerjaan tersebut akan diselesaikan akan lebih efektif dan

efisien SDIT SUIS dilibatkan dari awal untuk sama- sama merumuskan

perencanaan bersama Yayasan.

2) Elemen Perencanaan

Elemen perencanaan yang dimiliki dalam program tahfidz unggulan

terdiri atas dua elemen, yaitu sasaran (goals) dan rencana (plan)130,

beberapa elemen tersebut antara lain:

a) Sasaran

Program unggulan tahfidz Quran di SDIT SUIS mempunyai

sebuah sasaran untuk melahirkan peserta didik yang memiliki IMTAQ

sesuai manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan hafidz Quran 30 juz.

Sasaran tersebut merupakan stated goals yaitu suatu sasaran yang

dinyatakan oleh Yayasan yang kemudian dilimpahkan kepada

Sekolah, sedangkan untuk riil goals sendiri, yaitu sasaran yang

benar-benar diinginkan dan dibutuhkan oleh Sekolah ialah

mengintegrasikan kurikulum Dinas pendidikan dengan kurikulum

tahfidz Al-Qur’an sehingga diharapkan para peserta didik memiliki

kemampuan bacaan Al-Qur’an sesuai dengan standarnya, mutqin

hafal 30 juz dan memperoleh ijazah Diknas. Sasaran tersebut

merupakan hal yang ingin dicapai atau dituju oleh Yayasan Islam

Al-Huda.

130
www.gurupendidikan.co.id (Diakses pada 26 Januari 2018)
b) Rencana

Rencana yang tertulis dalam program hanya mencantumkan

jangka waktu program tahfidz 30 juz selama 6 tahun yang dibagi

menjadi beberapa target pencapaian. antara lain:

g) Kelas I semester I : penekanan pada talqin dan tahsin,

semester II : hafal 1 juz.

h) Kelas II semester I : 2 juz, semester II : 3 juz.

i) Kelas III semester I : 4 juz, semester II : 4 Juz.

j) Kelas IV semester I : 4 juz, semester II : 4 Juz

k) Kelas V Semester I : 4 juz, semester II : 4 Juz

l) Kelas VI : penekanan pada muroja’ah dan konsentrasi UN.

Meski rencana target pencapaian program 6 tahun cukup jelas,

alangkah baiknya dijelaskan atau di tuliskan dalam program

berkaitan dengan metode, program mingguan, teknik penilaian

program, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya yang

belum tercantum dan dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu,

kekhususan, dan frekuensi penggunaanya. Sementara itu, berkaitan

dengan alokasi sumber daya dan sumber biaya, meski sangat

sensitive, akan lebih efektif dan efisien dibahas dalam program

sebagai bahan masukan untuk rencana kerja dan anggaran

Sekolah..

3) Unsur-unsur Perencanaan
Sebagai sebuah program Unggulan Tahfidz Quran, maka harus

memenuhi beberapa unsur-unsur perencanaan “What, Why, Where,

When, Who dan How”131. Dilihat dari dokumen program kerja dan hasil

observasi, maka perencanaan program unggulan tahfidz Quran SDIT

SUIS memenuhi beberapa unsur, diantaranya:

7) Tindakan yang harus dikerjakan, teridentifikasi dalam program

kerja kegiatan/ sasaran yang akan dilakukan dalam 6 tahun;

8) Sebab tindakan tersebut harus dilakukan, meski tidka terdapat

rumuskan faktor-faktor penyebab dalam melakukan tindakan

secara rinci, hal tersebut sekilas diungkapkan dalam latar belakang

program;

9) Telah menentukan tempat atau lokasi kegiatan;

10) Telah menentukan waktu pelaksanaan tindakan yaitu 6 tahun

tindakan;

11) Terdapat pelaku atau orang yang akan melakukan tindakan;

12) Dan salah satu cara melaksanakan tindakan tersebut, yaitu dengan

metode Qiraat SUIS.

13) Tipe Perencanaan

Ditinjau dari dimensi waktu, perencanaan program tahfidz Quran

SDIT SUIS dapat diklasifikasikan kedalam perencanaan jangka

panjang (Long Range Plans). Hal tersebut karena program mempunyai

131
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.28
jangka waktu 6 tahun, dan rencana dimuat masih dalam bentuk umum,

global serta belum terperinci. Akan tetapi di sisi lain program tersebut

termasuk kedalam perencanaan jangka pendek (Short Range Plans),

karena terdapat perencanaan tahunan berupa siklus Sekolah Dasar yang

sering berulang setiap tahunnya.

4) Syarat-syarat Perencanaan

Perencanaan program tahfidz Quran SDIT SUIS cukup baik jika

dibandingkan dengan melihat syarat-syarat perencanaan menurut

Ngalim132. berdasarkan data-data yang telah terkumpul oleh peneliti,

kesesuaian syarat perencanaannya antara lain:

8) Perencaan program tahfidz Quran SDIT SUIS berdasarkan pada

tujuan yang telah diputuskan oleh Yayasan Islam Al-Huda,

9) Sangat sederhana.

10) Mudah dijadikan pedoman dan mudah dijalankan meskipun masih

membutuhkan perincian yang lebih spesifik,

11) Perencanaan program mudah disesuaikan dengan kebutuhan,

kondisi dan situasi SDIT SUIS,

12) Berimbangnya antara target capaian program dengan jangka waktu

yang akan digarap dalam perencanaan itu sendiri,

13) Meski tidak tercantum anggaran biaya dalam dokumen program

kerja, dilihat dari kegiatan yang terpadu dengan program Diknas

132
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.15
dan struktur organisasi yang sederhana dengan mengoptimalkan

wali kelas program program dapat mengoptimalkan sumber daya

yang ada dengan baik sehingga biaya kegiatan cukup efisien,

14) Tidak ada tumpang tindih pelaksanaan kegiatan.

b. Pengorganisasian (Organizing)

1) Prinsip-prinsip Organizing

Dari hasil data yang telah dihimpun dan hasil wawancara yang telah

dilakukan, struktur organisasi program tahfidz Quran di SDIT SUIS

cukup sederhana namun mampu memenuhi prinsip pengorganisasian

berdasarkan prinsip-prinsip pengorganisasian menurut Ngalim133,

kesesuaian prinsip tersebut antara lain:

11) Organisasi telah memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, hal tersebut

tercantum dalam program kerja;

12) Tiap anggota (pebimbing tahfidz) sangat memahami dan menerima

tujuan yang telah ditetapkan tersebut,

13) Karena telah mengerti dengan baik tujuannya masing-masing maka

terjadi kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindak

dan kesatuan pikiran, meski masih ditemui ada beberapa hal yang

menyimpang dari perencanaan seperti penerapan metode Qiraat.

14) Adanya kesatuan perintah (Unity of command); para pebimbing

tahfidz hanya mempunyai seorang atasan langsung yaitu Kaprog;

133
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; PT Remaja
Rosdakarya, 2008) Hal.17-18
dari Kaprog pebimbing thafidz menerima perintah atau bimbingan,

dan mempertanggung jawabkan hasil pekerjaan.

15) Struktur organisasi yang sederhana membuat wewenang dan

tanggung jawab masing-masing anggota seimbang.

16) Pembagian tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan,

keahlian, dan bakat masing-masing, sehingga masing-masing

anggota organisasi dapat bekerja sama dengan baik,

17) Struktur organisasi disusun dengan sederhana, sesuai dengan

kebutuhan, koordinasi, pengawasan dan pengendalian tetapi masih

perlu di buat sebuah bagan srtuktur organisasi yang menggambarkan

garis komando, garis coordinator maupun pengawasan.

18) Pembagian tugas dan wewenang yang berdasarkan musyawarah

membuat adanya jaminan keamanan dalam bekerja (Security of

tenure); anggota tidak merasa gelisah karena takut dipecat atau

ditindak dengan sewenang-wenang dan merasa nyaman dalam

melaksanakan tugas juga fungsinya masing-masing.

19) Gaji atau insentif yang dirasa cukup setimpal dengan jasa/ pekerjaan,

meskipun dewasa ini perkembangan ekonomi yang sedikit

memburuk gaji atau intensif tersebut belum mampu menimbulkan

gairah kerja yang lebih.

20) Dalam struktur organisasi program unggulan Tahfidz Quran SDIT

SUIS garis-garis kekuasaan dan tanggung jawab serta hirarki tata

kerjanya cukup jelas tergambar.


2) Komponen Pengorganisasian

Selain telah memenuhi prinsip sebuah pengorganisasian, Program

Tahfidz Quran SDIT SUIS memenuhi empat komponen dari organisasi

yaitu:

5) Work (pekerjaan) yang berasal dari sasaran-sasaran yang telah

ditetapkan,

6) Employees (pegawai-pegawai) yaitu pebimbing tahfidz yang

ditugaskan untuk melaksanakan bimbingan terhadap peserta didik.

7) Adanya Relationship (hubungan) antara pegawai dengan

pekerjaannya, interaksi antara satu pebimbing tahfidz dengan

pebimbing lainnya dan hubungan-hubungan kerja lainnya.

8) Environment (lingkungan) yang didukung dengan sarana fisik dan

sasaran umum termasuk lokasi halaqoh, alat tulis kantor, sarana

ibadah, dan sikap social yang menunjukan nilai-nilai Islam yang

tinggi di dalam lingkungan membuat para pebimbing tahfidz dapat

melaksanakan tugas-tugas mereka dengan baik.

3) Proses Pengorganisasian

Beberapa proses pengorganisasian sesuai dengan teori proses

pengorganisasian yang dikemukakan oleh Badrudin. Proses yang

dilakukan dalam program tahfidz Quran SDIT SUIS dimulai


berdasarkan tujuan organisai yang bersifat service oriented dalam

memberikan pelayanan bimbingan tahfidz. Kaprog menentuan

kegiatan, merumuskan, dan menyusun daftar kegiatan yang terpadu

dengan program Diknas. Selain itu Kaprog juga menetapkan jumlah

pebimbing pada setiap kelas dengan rasio satu orang pebimbing

banding dengan 10 peserta didik (1:10) atau maksimal satu orang

pebimbing banding dengan 15 peserta didik (1: 15).

c. Penggerakan (Actuating)

1) Prinsip- Prinsip Penggerakan

Dalam pelaksanaan program Thafidz Quran di SDIT SUIS, sangat

memperhatikan prinsip-prinsip penggerakan sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Kurniawan (2009) berkaitan dengan prinsip-prinsip

dalam penggerakan/actuating134. Selama observasi pegawai

diperlakukan dengan baik dan didorong untuk mengembangkan

kompetensi pegawai khususnya pebimbing tahfidz. Tidak ada indikator

pilih kasih diantara pegawai dan selalu memberikan kesempatan yang

sama.

2) Proses Penggerakan

Kegiatan - kegiatan dalam penggerakan yang dilakukan oleh SDIT

SUIS sudah cukup baik. Kegiatan Spirit Morning yang dilakukan setiap

hari memberikan kesempatan untuk melakukan bimbingan ( Leading )

134
http://diiyahbook.blogspot.co.id/2011/12/penggerakan-actuating.html?m=1 (diakses 29
September 2017)
dengan contoh tauladan dengan mengadakan komunikasi antara

pimpinan dan staf, memilih orang-orang yang menjadi anggota

kelompok dan memperbaiki sikap, pengetahuan maupun keterampilan

staf. Dalam Spirit Morning juga memberikan kesempatan untuk

melakukan perintah / pengarahan ( Commanding/ Directing ) dengan

memberikan petunjuk-petunjuk yang benar, jelas dan tegas, membahas

segala saran-saran atau instruksi kepada staf dalam pelaksanaan tugas

agar terlaksana dengan baik terarah kepada tujuan yang telah ditetapkan.

Hal yang peneliti sayangkan ialah proses pemberian dorongan

(motivating) yang kurang intens, seperti pemberian penghargaan

terhadap kinerja pebimbing atau pegawai yang memiliki kinerja sangat

baik. Padahal menggerakkan orang dengan memberikan rangsangan

yang baik, seperti pemberian penghargaan baik secara lisan,

administrative maupun insentif dan dorongan lainnya dapat

menimbulkan kemauan bekerja dengan lebih baik lagi.

Menurut teori di dalam fungsi Penggerakan, Kegiatan - kegiatan

dalam Penggerakan harus memenuhi tiga proses penggerakan dimulai

dari motivating, leading dan commanding135. Sedangkan dalam

pelaksanaan program unggulan tahfidz di SDIT SUIS ini justru proses

awallah yang kurang diaplikasikan.

d. Pengawasan/ Pengendalian (Controlling)

135
http://mahasiswabudidarma.blogspot.co.id/2012/11/actuating-penggerakan.html?m=1
(Diakses 29 September 2017)
1) Langkah Pengawasan

Secara teori Pengawasan yang baik memerlukan langkah-langkah

pengawasan136. Langkah tersebut dimulai dengan menentukan tujuan

standar kualitas pekerjaan yang diharapkan. Standar tersebut dapat

berbentuk standar fisik, standar biaya, standar model, standar

penghasilan, standar program, standar yang sifatnya intangible, dan

tujuan yang realistis. Langkah selanjutnya ialah mengukur dan menilai

kegiatan-kegiatan atas dasar tujuan dan standar yang ditetapkan. Serta

memutuskan dan mengadakan tindakan perbaikan

Pada faktanya, standar atau dasar bagi pengawasan dalam program

tahfidz Quran di SDIT SUIS tidak melibatkan pendidik, padahal standard

tersebut dijadikan ukuran pelaksanaan pengawasan dengan cara

membandingkan pelaksanaan dengan standar yang telah ditentukan.

Adapun adanya penyimpangan antara pelaksanaan dengan target atau

sasaran yang telah ditetapkan maka dilakukan perbaikan dengan cara-

cara yang tepat seperti halnya penyimpangan penerapan metode yang

tidak sesuai dengan metode SUIS yang telah di tentukan. Pemanggilan

pelaku penyimpangan secara face to face di ruang tertutup tanpa terlihat

oleh pegawai lain merupakan bentuk penghargan terhadap harga diri

pegawai serta dengan komunikasi dua arah yang baik dinilai akan

membuat perbaikan dan pengarahan lebih efektif.

136
Dr. Imam Machali dan Ara Hidayat. The Handbook of Education Management: Teori
dan praktek pengelolaan sekolah/madrasah di Indonesia. (Yogyakarta:2015) hal.33
2) Cara Pengawasan

Berdasarkan teori yang berkembang Beberapa cara pengawasan yang

harus dilakukan oleh seorang manajer yang meliputi pengawasan

langsung, pengawasan tidak langsung dan pengawasan pengecualian.137.

Sedikit berbeda dengan teori yang berkebang beberapa cara pengawasan

yang diterapkan dalam pelaksanaan program unggulan tahfidz Quran di

SDIT SUIS dilakukan dengan cara pengawasan langsung dan

pengawasan tidak langsung saja.

Pengawasan langsung dilakukan sendiri secara langsung oleh seorang

Kaprog dengan memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk

mengetahui apakah dikerjakan dengan benar dan hasilnya sesuai dengan

perencanaan. Pengawasan langsung yang dilakukan oleh Kaprog ini

dilakukan dengan cara observasi langsung pada halaqoh-halaqoh yang di

jadwalkan setiap hari.

Untuk pengawasan tidak langsung dilakukan Kaprog dengan

mengawasi dan memerikasa laporan prestasi peserta didik secara tertulis

maupun lisan dari pebimbing tahfidz tentang pelaksanaan pekerjaan dan

hasil-hasil yang dicapai. Laporan atau jurnal yang dijadikan alat

pengawasan akan lebih efektif jika secara rutin dibuatkan laporan atau

direkap secara spesifik mulai dari laporan harian, mingguan, bulanan,

semester maupun tahunan. Tidak adanya rekap laporan atau jurnal harian

137
http://achmadrandypratama01.blogspot.co.id/2011/12/definisi-dari-
controlling.html?m=1 (Diakses 30 September 2017)
yang terbukukan dalam laporan mingguan, bulanan atau semesteran akan

membuat kesulitan dalam menganalisis progress program tahfidz Quran.

3) Tipe Pengawasan

Dilihat dari struktur organisasi, hasil observasi dan hasil wawancara

terhadap para informan, pengawasan yang dilaksanakan dalam program

Tahfidz Quran ini merupakan tipe kontrol internal. Pengendalian

dilakukan oleh oleh unit program Tahfidz Quran sendiri yang dibentuk

dari dalam Sekolah. Secara keseluruhan unit program tahfidz Quran

memiliki fungsi pengawasan yang tidak begitu kompleks karena cakupan

program yang tidak begitu luas dan struktur organisasi yang sangat

sederhana.

4. Faktor Pendukung Dan Penghambat Program

Beberapa faktor pendukung dan penghambat program unggulan tahfidz

Quran di SDIT SUIS dapat diketahui melalui table analisis SWOT antara lain:
Tabel 2
Matrix SWOT/ TOWS

Strenghts Weakness
KAFI f. Memiliki metode khusus yaitu metode f. Kurangnya program peningkatkan kompetensi
SUIS yang lebih sederhana pebimbing tahfidz.
dibandingkan dengan metode lain. g. Terbatasnya waktu bimbingan tahfidz yang
g. Bimbingan hafalan yang sangat intensif. dimiliki oleh pebimbing tahfidz.
h. Program yang memiliki dukungan penuh h. Pencapaian target yang belum merata di
KAFE dari orang tua/ wali peserta didik. semua level
i. Sistem full day school yang cocok bagi i. Kurangnya bentuk penghargaan terhadap
orang tua yang sibuk bekerja. keberhasilan pebimbing baik secara
j. Mempunyai jaringan luas administrasi, materi, maupun bentuk lainnya.
k. Nilai kekeluargaan yang tinggi j. Tingkat stress/ kejenuhan pebimbing dan
peserta didik yang meningkat.
Opportunities Strategi Strenghts-Opportunities (S-O). Strategi Weaknes- Opprotunities (W-O)
f. Metode tahfidz Quran 1. Mengembangkan terus metode SUIS 1. Menerapkan metode SUIS yang sudah
yang semakin diminati supaya banyak diminati dan sesuai dikembangkan untuk meningkatkan
oleh peserta didik. dengan latar peserta didik. (S1,O1) kompetensi pebimbing tahfidz dan
g. Kualitas output yang 2. Meningkatkan bimbingan kepada memaksimalkan waktu yang tersedia serta
baik memberikan peserta didik bahkan sampai peserta mencapai target di semua level.
kemudahan akses didik mendapatkan pendidikan untuk (O1,W1,W2,W3)
peserta didik untuk jenjang selanjutnya. 2. Membuat program kerjasama dengan
melanjutkan 3. Memanfaatkan jaringan yang luas untuk memanfaatkan tingginya animo/ perhatian
pendidikan kejenjang bekerja sama dalam mendapatkan masyarakat muslim terhadap program thafidz
selanjutnya. beasiswa untuk peserta didik yang akan Quran untuk fundraising dalam meningkatkan
h. Semakin banyak melanjutkan ke jenjang berikutnya. kesejahteraan pebimbing tahfidz sebagai
sekolah lanjutan yang bentuk penghargaan dan motivasi. (O4,W4)
membuka beasiswa 4. Mengembangkan program kerja sama 3. Dengan anggota keluarga atau karyawan
bagi peserta didik yang dengan orang tua / wali murid sebagai Yayasan yang cukup banyak dapat
hafidz Quran. sarana sosialisasi untuk mendapatkan dimanfaatkan untuk mengadakan program
i. Tingginya animo/ perhatian masyarakat yang ingin gathering bersama untuk meredakan tingkat
perhatian masyarakat menjadikan anaknya seorang tahfidz. kejenuhan peserta didik maupun pebimbing.
muslim terhadap 5. Menggalakkan sosialisasi program full (O6,W5)
program thafidz Quran day school dan meningkatkan pelayanan
sehingga semakin one day service.
banyak orang tua yang 6. Memberikan bimbingan terhadap para
ingin menjadikan keluarga yayasan maupun karyawan
anaknya hafidz Quran. untuk menyekolahkan anak-anaknya di
j. Lingkungan sekolah SDIT SUIS.
merupakan mayoritas
masyarakat yang sibuk
bekerja membutuhkan
pendidikan fullday
school .
k. Yayasan Islam Alhuda
merupakan yayasan
yang memiliki anggota
keluarga atau
karyawan yang cukup
banyak.
Threats Strategi Strenghts- Threats (S-T). Strategi Weakness- Threats (W-T).
d. Program-program 1. Mengembangkan metode SUIS dan 1. Meningkatkan kompetensi pebimbing Tahfidz
umum/ Diknas yang program bimbingan untuk termasuk metode yang digunakan untuk
banyak menyita waktu memaksimalkan waktu pembelajaran memaksimalkan waktu yang tersedia.
pembelajaran atau tanpa menghapus program diknas. (W1,T1).
halaqoh tahfidz. (S1,S2,T1) 2. Menambah waktu program tanpa
e. Banyaknya kompetitor 2. Meningkatkan kerjasama dengan orang menghilangkan program Diknas. (W2,T1).
yang melaksanakan tua/ wali peserta didik dalam 3. Meningkatkan penghargaan terhadap
program unggulan mendukung program unggulan dan keberhasilan pebimbing baik secara
serupa. sarana sosialisasi program.(S3,T2) administrasi, materi, maupun bentuk lainnya
f. Program mutasi yang 3. Dengan jaringan luas yang dimiliki supaya pegawai tidak tertarik dengan
sering dilakukan oleh untuk merekrut SDM baru yang kompetitor.(W4,T4).
Yayasan. berkualitas dan mengurangi intensitas
g. Penghargaan dan program mutasi di Yayasan.(S5,T3)
perhatian kompetitor 4. Meningkatkan rasa kekeluargaan
yang lebih besar disetiap pegawai agar tetap mencintai
terhadap pebimbing lembaga dan tidak tergiur dengan
tahfidz. tawaran competitor.
5. Hasil Program Unggulan

a. Evaluasi Konteks (Context)

Untuk melakukan evaluasi konteks ini beberapa pertanyaan harus

dijawab, antara lain138:

5) Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh program?

6) Tujuan pengembangan apakah yang belum dapat tercapai?

7) Tujuan apakah yang dapat membantu mengembangkan

masyarakat?

8) Tujuan-tujuan mana sajakah yang paling mudah dicapai?

Dilihat dari evaluasi konteks program unggulan, kebutuhan

masyarakat sebagai pengguna/ konsumen program sudah terpenuhi,

peserta didik sudah dapat membaca Al Quran dengan baik sesuai

kaidahnya, dan mampu menghafal berdasarkan target program yang telah

ditentukan. Kompetensi membaca Quran merupakan tujuan yang paling

mudah dicapai dibandingkan dengan kompetensi hafalan, hal tersebut

dikarenakan sistem level yang digunakan membuat gap antar level

sehingga hasil target tidak merata di semua level.

Program unggulan tahfidz Quran dengan sistem full day School

sangat membantu masyarakat khususnya para orang tua / wali peserta

didik yang sibuk bekerja. Dengan adanya program tersebut, anak-anak

yang masyarakat titipkan di sekolah lebih terjamin karakternya yang

138
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Bagi Mahasiswa dan Praktisi. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010) Hal.46
menjadi lebih disiplin dalam menghargai waktu, dekat dan mencintai Al-

Quran. Hal itu semua yang membuat masyarakat yang menitipkan anaknya

lebih merasa tenang menitipkan anak-anaknya.

b. Evaluasi Masukan (Input)

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan dalam evaluasi tahap

kedua ini antara lain:

5) Apakah program yang diberikan ditunjang dengan sarana dan

prasarana sekolah?

6) Berapa orang peserta didik yang menerima dengan senang hati/

berminat atas program tersebut?

7) Bagaimana latar belakang pendidik dalam program?

8) Seberapa tinggi kemampuan dasar hafalan peserta didik?

Program sangat ditunjang dengan sarana dan prasarana sekolah

sehingga pelaksanaan program tidak terkendala. Baik sarana penunjang

seperti mobil jemputan sekolah, catering dan sarana bermain, membuat

program tahfidz dapat dilaksanakan dengan baik dan peserta didik dapat

menerima program dengan senang hati.

Sebagai ujung tombak dari program tahfidz, pebimbing tahfidz harus

memiliki kompetensi tahfidz. Demikian pula latar belakang pendidik atau

pebimbing tahfidz di SDIT SUIS rata-rata memiliki latar belakang

pendidikan tahfidz dan telah memiliki ijazah S1. Dengan latar belakang

pendidik/ pebimbing tersebut maka cukup mudah untuk SDIT SUIS dalam
menerapkan dan mengembangkan metode SUIS dalam program

tahfidznya.

Untuk masukan peserta didik baru di SDIT SUIS sendiri tidak

terbatas dengan kemampuan peserta didik. Artinya sekolah menerima

peserta didik dengan kemampuan beragam. Hal tersebut juga yang

mendorong pengklasifikasian peserta didik dengan sistem level

berdasarkan kemampuan baca Quran maupun hafalan Quran.

Sistem pemberian level terhadap kemampuan peserta didik sendiri

peneliti pandang sebagai salah satu hambatan dalam pencapaian tujuan

program. Hal tersebut karena dengan sistem level tersebut membuat

pencapaian target tidak merata. Berbeda jika pemberlakuan standard sama

terhadap syarat masuk peserta didik, pencapaian target akan cendrung

merata karena semua kemampuan dasar awal peserta didik sama.

c. Evaluasi Proses (Process)

Untuk membantu membantu proses evaluasi pada tahapan ini, dapat

digunakan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

6) Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam program?

7) Apakah pelaksanaan program sesuai dengan jadwal?

8) Apakah staf atau orang yang terlibat dalam program sanggup

menangani kegiatan dan memungkinkan untuk dilanjutkan?

9) Apakah sarana dan prasarana yang disediakan dimanfaatkan

secara maksimal?
10) Hambatan apa saja yang ditemukan selama menjalankan program

dan mungkinkah program untuk dilanjutkan?

Berbicara kegiatan yang dilakuka oleh program tahfidz tentu tidak

terlepas dari proram Diknas juga. Kegiatan yang terpadu antara program

tahfidz dan Diknas dengan sistem full day school dilakukan selama 5 hari

dalam seminggu. Kegiatan tersebut antara lain kegiatan belajar mengajar

program Diknas, kegiatan pembiasaan karakter, dan program tahfidz yang

meliputi halaqoh, murajaah, bimbingan dan ujian.

Kegiatan program tahfidz yang terjadwal di kalender pendidikan

maupun jadwal harian menjadikan proses pelaksanaan program dapat

dilaksanakan sesuai dengan jadwal. Akan sangat membantu jika program

tahfidz Quran didukung dengan program mingguan, bulanan, dan semester

yang lebih spesifik agar staf atau orang yang terlibat dalam program dapat

menangani kegiatan dengan baik berdasarkan uraian program yang lebih

spesifik sehingga program sangat memungkinkan untuk dilanjutkan meski

Yayasan sering melakukan mutasi atau pergantian pegawai.

Sarana dan prasarana yang tersedia meski secara maksimal sudah

dimanfaatkan, akan tetapi masih belum bisa mengatasi keterbatasan waktu

dalam melakukan bimbingan tahfidz. Penambahan waktu untuk

bimbingan perlu dilakukan untuk memaksimalkan program akan tetapi

penambahan waktu tersebut harus menimbangkan tingkat kejenuhan

peserta didik dan pebimbing juga tidak menyita waktu pribadi peserta

didik dan pebimbing.


Dalam proses program yang paling menarik adalah SDIT SUIS

memiliki metode sendiri dalam mengajarkan tilawah Al-Quran. Metode

tersebut adalah metode SUIS. Metode tersebut merupakan metode

penyederhanaan dari beberapa macam metode tilawah Al-Quran. Dengan

metode SUIS tersebut, pebimbing tilawah dapat mempersingkat waktu

pembelajaran tilawah Quran dibanding dengan menggunakan metode lain.

d. Evaluasi Produk/ Hasil (Product)

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan pada tahap akhir evaluasi

program ini antara lain:

6) Apakah tuujuan-tujuan yang ditetapkan telah tercapai?

7) Pernyataan-pernyataan apakah yang mungkin dirumuskan

berkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan?

8) Dalam hal apakah berbagai kebutuhan peserta didik sudah dapat

dipenuhi selama pelaksanaan program?

9) Apakah dampak yang diperoleh peserta didik dengan adanya

program tersebut yang relatif panjang waktunya?

10) Berapa banyak peserta didik yang mampu mencapai tujuan

program?

Tujuan-tujuan yang ditetapkan diantaranya peserta didik mampu

membaca Al-Quran, dan tuuan tersebut telah tercapai. Selain itu dalam

perjalanan 2 tahun program tahfidz 30 juz, peserta didik kelas 2 level 3

telah mampu menghafal Al-Quran lebih dari 6 juz. Sementara itu lewat

program tahfidz Quran, peserta didik yang awal program belum mampu
membaca Alquran dalam 1 semester rata-rata sudah mampu membaca Al-

Quran.

Mulai diantara rincian proses dengan pencapaian tujuan, semua akan

lebih mudah dicapai jika semua proses kegiatan secara terus menerus

disosialisaikan baik metode maupun materi kepada pebimbing ataupun

orang tua/ wali peserta didik dan di evaluasi secara kontinu agar tidak

menyimpang dari core ke-Quranan. Dampak yang diperoleh peserta didik

dengan adanya program tersebut selain peserta didik mampu membaca dan

menghafal Quran, juga secara karakter peserta didik lebih disiplin.

Dari hasil penelitian, banyaknya peserta didik yang mampu mencapai

target program dapat dibagi dua bagian, yaitu program membaca dan

menghafal. Untuk target dapat membaca dengan benar, semua peserta

didik telah mencapai target tersebut. Akan tetapi untuk target hafalan,

pencapaian dibagi menjadi 3 pencapaian sesuai dengan klasifikasi level

peserta didik sendiri.

Dari hasil ujian Nasional dapat diketahui bahwa peserta didik SDIT

SUIS 100 % lulus dalam ujian dan telah memenuhi standard kompetensi

lulusan. Adapun para peserta didik yang melanjutkan ke jenjang

selanjutnya didominasi oleh peserta didik yang memilih melanjutkan ke

Sekolah swasta yang memiliki program tahfidz dan Sekolah yang memiliki

program boarding.

Dari hasil pencapaian nilai UN dan pencapaian jumlah hafalan,

penulis menemukan sebuah korelasi antara kemampuan peserta didik


dalam membaca dan menghafal Al-Quran berbanding lurus dengan

kemampuan akademisnya. Hal tersebut bias dilihat dari gambar table

berikut:

(Gambar 20 : Tabel perbandingan Nilai UN dan Hafalan Quran)

J. TEMUAN PENELITIAN

1. Kompetensi Pebimbing Tahfidz

Dalam sebuah perancanaan keterlibatan pendidik sangatlah penting untuk

meminimalisir gap antara konsep dan pelaksanaan. Akan tetapi gap yang

dihawatirkan tidak begitu berpengaruh dalam pelaksanaan program unggulan

tahfidz di SDIT SUIS. Hal tersebut karena para pebimbing tahfidz sangat

berpengalaman dalam mebimbing peserta didik khususnya dalam tahfidz

Quran sehingga dalam pelaksanaan pebimbing mampu menanggulangi atau

mengantisipasi perbedaan antara konsep yang dirumuskan yayasan dengan

kenyataan dilapangan.

2. Metode baca SUIS


Metode baca SUIS sangat berpengaruh dalam pelaksanaan program

unggulan Thafidz Quran. System fullday school yang diterapkan membuat

waktu untuk bimbingan tahfidz sangat terbatas. Dengan menerapkan metode

SUIS, para pebimbing mampu mempercepat kemampuan baca para peserta

didik dari awalnya tidak mampu membaca sampai mampu menghafal Al-

Quran. Hal ini disebabkan metode SUIS merupakan metode yang

menyederhanakan metode-metode baca lain seperti penyederhanaan metode

IQRO dan metode lainnya.

3. Kader dakwah

Yayasan Al-Huda yang merupakan lembaga bergerak di bidang dakwah

menjadikan Yayasan A-Huda memiliki banyak kader dakwah. Para kader

dakwah diantaranya diberdayagunakan di unit SDIT SUIS. Dengan latar

belakang tekad awal dakwah tersebut lah, kurangnya bentuk motivasi dalam

bentuk materil ataupun administrasi mampu membuat para pebimbing tetap

konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai pebimbing tahfidz meski

sangat kurang mendapatkan penghargaan.


BAB VI

PENUTUP

A. SIMPULAN

Berdsarkan data yang telah didapat dan analisis dari hasil penelitian yang

dilakukan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Sekolah Unggulan Islam (SDIT

SUIS) yang mengacu kepada rumusan masalah, maka dapat ditarik simpulan

sebagai berikut:

1. SDIT SUIS memiliki SK ijin oprasional dengan No 421.2/508-

Disdik/2013, merupakan Sekolah dibawah naungan Yayasan Islam Al

Huda dengan Akta Notaris No No.97 Notaris Agus Nuryanto S.H dan

SK MENHUM dan HAM No No.C-895HT.01.02.TH 2006. Dari

struktur geografis, demografi dan sejarah pendirian Sekolah, dalam

perspektif analisis antropologi tentang sistem pendidikan di

masyarakat, SDIT SUIS Bogor merupakan bagian dari sistem

pendidikan kelompok status masyarakat yang kental dengan nilai

budaya berunsur agama Islam.

2. SDIT SUIS berkeinginan merwujudkan peserta didik yang mandiri dan

berprestasi yang menguasai IPTEK dan memiliki IMTAQ sesuai manhaj Ahlu

Sunnah Wal Jamaah dan dekat dengan Al-Quran (mampu membaca dan

tahfidz Quran).

3. Manajemen program unggulan tahfidz Quran SDIT SUIS melalui

tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan

pengendalian.
a. Proses perencanaan program unggulan Tahfidz Quran SDIT SUIS

disusun berdasarkan pendekatan administrative approach –

pendidik tidak dilibatkan langsung dalam penyusunannya.

b. Pengorganisasian dilakukan dengan sangat sederhana tanpa

mengurangi prinsip-prinsip pengorganisasian dan komponen-

komponen pengorganisasian didalamnya.

c. Penggerakan dilakukan dengan tahapan leading dan commanding.

d. Pengendalian yang diterapkan dalam program unggulan tahfidz

Quran SDIT SUIS merupakan tipe internal control dengan metode

pengawasan langsung (observasi) dan pengawasan tidak langsung

(laporan administrasi).

4. Kesimpulan analisis faktor internal dan eksternal dalam pelaksanaan

program unggulan tahfidz Quran antara lain terdapat beberapa faktor

pendukung dan beberapa faktor penghambat yaitu:

l. Faktor pendukung program antara lain; Memiliki metode khusus

tilawah yaitu metode SUIS, bimbingan intensif, program kerjasama

orang tua/ wali peserta didik. sistem full day school, mempunyai

jaringan luas, nilai kekeluargaan yang tinggi, metode tahfidz yang

diminati masyarakat, kualitas output yang baik, sekolah lanjutan

yang membuka beasiswa bagi hafidz Quran, tingginya perhatian

masyarakat terhadap program thafidz Quran, masyarakat yang sibuk

bekerja membutuhkan pendidikan fullday school, dan besarnya

keluarga Yayasan.
m. Faktor penghambat program antara lain; Kurangnya program

peningkatkan kompetensi pebimbing tahfidz, terbatasnya waktu

halaqoh, pencapaian target yang belum merata di semua level,

kurangnya penghargaan/ apresiasi terhadap pegawai, tingkat

kejenuhan pebimbing dan peserta didik, program Diknas yang

menyita waktu, banyaknya kompetitor dengan program unggulan

serupa, program mutasi yang sering dilakukan oleh Yayasan.

5. Secara konteks program unggulan Tahfidz Quran berhasil memenuhi

kebutuhan peserta didik dan mewujudkan peserta didik yang mampu

membaca Al-Quran dengan baik dah hafidz Quran di usia sebelum

baligh.

B. IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Beberapa rekomendasi yang ingin peneliti sampaikan berdasarkan

implikasi dari simpulan di atas antara lain:

1. Proses perencanaan yang tidak melibatkan pendidik berimplikasi

menimbulkan gap antara konsep perencanaan dengan pelaksanaan.

Maka di rekomendasikan agar pendidik terlibat langsung dalam proses

perencanaan.

2. Struktur organisasi yang sederhana dalam pengorganisasian program

berimplikasi kepada banyaknya beban kerja ketua program, sehingga

direkomendasikan agar struktur organisasi dirubah dengan

menambahkan pembantu kerja ketua program juga memberikan insentif

yang sesuai dengan beban kerja.


3. Kurangnya motivating dalam tahapan penggerakan program

berimpilikasi pada menurunnya semangat kerja pegawai, maka

direkomendasikan untuk secara intens memberikan motivasi baik atas

dasar kebutuhan fisiologis, rasa keamanan, rasa memiliki, penghargaan

ataupun aktualisasi diri.

4. Tidak dilibatkannya pendidik dalam penentuan standar pengawasan

berimplikasi pada perbedaan pemahaman antara konsep dan

pelaksanaan, maka direkomendasikan untuk melibatkan pendidik dalam

menentukan standard pengawasan dan memusyawarahkan secara

bersama metode pengendalian yang akan diterapkan.

5. Penerapan sistem full day school berimplikasi kepada sedikitnya waktu

yang tersedia untuk program tahfidz, maka direkomendasikan untuk

menambah waktu bimbingan di luar jam belajar, mengembangkan

metode SUIS serta program bimbingan untuk memaksimalkan waktu

yang tersedia.

6. Program mutasi yayasan berimplikasi kepada lemahnya kontinuitas

program sehinga direkomendasikan untuk menggunakan jaringan luas

yang dimiliki untuk merekrut SDM baru yang berkualitas dan

mengurangi intensitas program mutasi.

7. Banyaknya kompetitor berimplikasi pada beratnya persaingan untuk

mendapatkan peserta didik baru sehingga direkomendasikan untuk

meningkatkan kerjasama dengan orang tua/ wali peserta didik dalam

mendukung program unggulan dan menjadikannya sarana sosialisasi


program serta fundraising dalam meningkatkan kesejahteraan

pebimbing tahfidz.

8. Input peserta didik yang tidak ketat berimplikasi pada tidak meratanya

kompetensi peserta didik, maka direkomendasikan untuk membuat

standard ketat agar sistem level dihapuskan sehingga pemerataan

pencapaian target program mudah dicapai.

9. Kualitas output yang bagus tanpa didukung bukti administrasi

berimplikasi kepada berkurangnya nilai kepercayaan masyarakat,

sehingga direkomendasikan untuk memberikan sertifikat bersanad.