Anda di halaman 1dari 6

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Nilai Rata-Rata
Mean, Median, Modus sama-sama merupakan ukuran pemusatan data yang
termasuk kedalam analisis statistika deskriptif. Namun, ketiganya memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing dalam menerangkan suatu ukuran pemusatan data. Untuk
tahu kegunaannya masing-masing dan kapan kita mempergunakannya, perlu diketahui
terlebih dahulu pengertian analisis statistika deskriptif dan ukuran pemusatan data.
Analisis Statistika deskriptif merupakan metode yang berkaitan dengan penyajian
data sehingga memberikan informasi yang berguna. Upaya penyajian ini dimaksudkan
untuk mengungkapkan informasi penting yang terdapat dalam data ke dalam berntuk yang
lebih ringkas dan sederhana yang pada akhirnya mengarah pada keperluan adanya
penjelasan dan penafsiran (Aunudin, 1989) Deskripsi data yang dilakukan meliputi ukuran
pemusatan dan penyebaran data. Ukuran pemusatan data meliputi nilai rata-rata (median),
modus, dan median.
1. Mean
Mean adalah nilai rata-rata dari beberapa buah data. Nilai mean dapat ditentukan
dengan membagi jumlah data dengan banyaknya data.Mean (rata-rata) merupakan
suatu ukuran pemusatan data. Mean suatu data juga merupakan statistik karena mampu
menggambarkan bahwa data tersebut berada pada kisaran mean data tersebut. Mean
tidak dapat digunakan sebagai ukuran pemusatan untuk jenis data nominal dan ordinal.
Berdasarkan definisi dari mean adalah jumlah seluruh data dibagi dengan
banyaknya data. Dengan kata lain jika kita memiliki N data sebagai berikut maka mean
data tersebut dapat kita tuliskan sebagai berikut

atau

Bisa juga Menghitung mean


a) Rumus Mean Hitung dari Data Tunggal
b) Rumus Mean Hitung Untuk Data yang Disajikan Dalam Distribusi Frekuensi
c) Rumus Mean Hitung Gabungan
Contoh 1: Diberikan data sebagai berikut: 7, 9, 1, 6, 2. Tentukan mean data
tersebut! Penyelesaian: Data yang diketahui adalah 7, 9, 1, 6, 2Banyaknya/ukuran
data adalah 5. Yang ditanyakan adalah mean .Dengan demkian berdasarkan definisi
mean maka kita peroleh

2. Median
Median menentukan letak tengah data setelah data disusun menurut
urutan nilainya. Bisa juga nilai tengah dari data-data yang terurut. Simbol untuk
median adalah Me. Dengan median Me, maka 50% dari banyak data nilainya paling
tinggi sama dengan Me, dan 50% dari banyak data nilainya paling rendah sama dengan
Me. Dalam mencari median, dibedakan untuk banyak data ganjil dan banyak data
genap. Untuk banyak data ganjil, setelah data disusun menurut nilainya, maka median
Me adalah data yang terletak tepat di tengah. Median bisa dihitung menggunakan
rumus sebagai berikut:
Contoh:
Dari lima kali kuiz statistika, seorang mahasiswa memperoleh nilai 82, 93,
86, 92, dan 79. Tentukan median populasi ini.
jawab: Setelah data disusun dari yang terkecil sampai terbesar, diperoleh 79 82 86
92 93 Oleh karena itu medianya adalah 86
Kada nikotin yang berasal dari sebuah contoh acak enam batang rokok cap
tertentu adalah 2.3, 2.7, 2.5, 2.9, 3.1, dan 1.9 miligram. Tentukan mediannya.
jawab: Bila kadar nikotin itu diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar, maka
diperoleh 1.9 2.3 2.5 2.7 2.9 3.1
Maka mediannya adalah rata-rata dari 2.5 dan 2.7, yaitu

Selain itu juga dapat dicari median dari data yang telah tersusun dalam
bentuk distribusi frekuensi. Rumus yang digunakan ada dua, yaitu

Dimana :
Bbk = batas kelas bawah median c = lebar kelas
s = Selisih antara nomor frekuensi median dengan frekuensi kumulatif dari
kelas-kelas di muka kelas median
fM = frekuensi kelas median
Dimana:
Bak = batas kelas atas median
c = lebar kelas
s’ = selisih antara nomor frekuensi median dengan frekuensi kumulatif sampai
kelas median
fM = frekuensi kelas median
Kelas median adalah kelas yang memuat nomor frekuensi median, dan nomor
frekuensi median ini ditentukan dengan membagi keseluruhan data dengan dua.
Perhatikan tabel di bawah ini, kita akan cari median dengan kedua cara diatas

Dengan menggunakan kedua rumus di atas didapat:


3. Modus
Modus adalah nilai yang sering muncul. Jika kita tertarik pada data
frekuensi, jumlah dari suatu nilai dari kumpulan data, maka kita menggunakan
modus. Modus sangat baik bila digunakan untuk data yang memiliki sekala
kategorik yaitu nominal atau ordinal.Sedangkan data ordinal adalah data kategorik
yang bisa diurutkan, misalnya kita menanyakan kepada 100 orang tentang
kebiasaan untuk mencuci kaki sebelum tidur, dengan pilihan jawaban: selalu (5),
sering (4), kadang-kadang(3), jarang (2), tidak pernah (1). Apabila kita ingin
melihat ukuran pemusatannya lebih baik menggunakan modus yaitu yaitu jawaban
yang paling banyak dipilih, misalnya sering (2). Berarti sebagian besar orang dari
100 orang yang ditanyakan menjawab sering mencuci kaki sebelum tidur. Inilah
cara menghitung modus: Data yang belum dikelompokkan Modus dari data yang
belum dikelompokkan adalah ukuran yang memiliki frekuensi tertinggi. Modus
dilambangkan mo.
1. Data yang telah dikelompokkan Rumus Modus dari data yang telah
dikelompokkan dihitung dengan rumus:

Dengan: Mo=Modus

L = Tepi bawah kelas yang memiliki frekuensi tertinggi (kelas modus) i = Interval
kelas
b1 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat
sebelumnya
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sesudahnya
Contoh:
Sumbangan dari warga Bogor pada hari Palang Merah Nasional tercatat
sebagai berikut: Rp 9.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 9.000, Rp 9.000, Rp 7.000, Rp
8.000, Rp 6.000, Rp 10.000, Rp 11.000. Maka modusnya, yaitu nilai yang terjadi
dengan frekuensi paling tinggi, adalah Rp 9.000. Dari dua belas pelajar sekolah
lanjutan tingkat atas yang diambil secara acak dicatat berapa kali mereka menonton
film selama sebulan lalu. Data yang diperoleh adalah 2, 0, 3, 1, 2, 4, 2, 5, 4, 0, 1
dan 4. Dalam kasus ini terdapat dua modu, yaitu 2 dan 4, karena 2 dan 4 terdapat
dengan frekuensi tertinggi. Distribusi demikian dikatakan bimodus.