Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PROYEK

MENYINGKAP SISI GELAP


PELAKSANAAN PEMILUKADA DI INDONESIA

TUGAS PPKn SERI 3

OLEH :
KELOMPOK1
1. Alifiyan Akbaruddin XI MIA B/02
2. Fahriza Dwi I. XI MIA B/09
3. Izzah Linatul Khariroh XI MIA B/14
4. Mahbub Afini M. XI MIA B/15
5. Mahesa Manik G. XI MIA B/16
6. R. Dimas Haidar W. XI MIA B/23
7. Verayati XI MIA B/30
8. Yanti Susilawati XI MIA B/31

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO


DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1
Jl. Soekarno Hatta No. 137 Probolinggo, Telp (0335) 421566
Website: http://www.sman1-prob.sch.id
TAHUN 2015
Menyingkap Sisi Gelap Pelaksanaan Pemilukada di Indonesia

A. Latar Belakang
Pemilihan umum adalah sebuah alat untuk memilih wakil rakyat. Oleh karenanya, jika
pemilu tidak terlaksana dengan kompetitif, jujur, dan adil; dapat dikatakan absennya
suatu demokrasi. Pemilu demokratis adalah landasan bagi pemerintahan yang
terlegitimasi. Jika tidak ada pemilu yang demokratis, pemerintah akan kehilangan
legitimasi dan dukungan dari rakyatnya.
Pemilu demokratis yang sah atau bebas dan adil tidak terbatas apakah lembaga
Komisi Pemilihan Umum berlaku imparsial dan efektif, tetapi juga bagaimana peran
kandidat melaksanakan kampanye dengan bebas dan mendapat dukungan dari rakyat.
Hal yang berkaitan erat terhadap pemilu yang bebas dan adil adalah apakah sumber-
sumber pemerintah digunakan dengan benar selama proses pemilu; apakah militer
bersikap netral dan bertindak sebagai organisasi profesional; dan apakah kepolisian dan
pengacara menegakkan kewajiban dan melindungi mereka yang melaksanakan hak sipil
dan politik. Selain itu, isu penting lainnya adalah apakah institusi pengadilan bertindak
imparsial dan efektif; apakah media menghadirkan pemberitaan dan informasi yang
akurat terhadap pemerintah dan proses politik, dan apakah media menyediakan akses
kepada kandidat dan cakupan tujuan para kandidat.
Elemen penting selama proses ini adalah pembentukan kepercayaan rakyat menjelang
pemilu. Jika rakyat tidak merasa terlibat secara bebas untuk mengelola pilihan politik,
mendapat informasi memadai sesuai keperluan dan tujuannya, sebagaimana hak pilihnya
dihormati; proses pemilu menjadi tidak signifikan. Para kandidat harus mendapat
kesempatan yang sama untuk. memenangi suara –pada “tingkat berkompetisi yang fair”.
Lebih jauh, para kandidat juga harus merasakan keterlibatan dalam proses dan
menghargai hasil pemilu. Dengan demikian, pemilu menjadi begitu dekat sebagai
kegiatan peralihan yang terlaksana sebelum dan sesudah pemilu.
Seperti diutarakan di atas, demokrasi mempersyaratkan kebebasan, keadilan, dan
pemilu yang berkala. Dalam negara demokrasi terdapat kesetaraan politik. Untuk
mencapai kesetaraan politik, setiap warga negara harus mempunyai kesempatan yang
sama dan efektif dalam pemungutan suara dan seluruh suara harus dihitung secara
bersama.
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam tugas proyek ini hanya mencaku kawasan dalam Kota Probolinggo.

C. Tujuan
 Menganalisis perilaku-perilaku menyimpang dalam pelaksanaan Pemilu di
Indonesia.
 Menganalisis solusi-solusi terhadap penyimpangan dalam pelaksanaan Pemilu di
Indonesia.

D. Alat dan Bahan


 Kamera
 Alat tulis dan buku
 Sumber referensi
 Instrumen pertanyaan
A. Orang Luar (Petugas TPS)
1. Saat anda bekerja sebagai petugas TPS, adakah pelanggaran yang terjadi
saat kegiatan pilkada? Seperti apakah contohnya?
2. Bagaimana respon atau tindakan dari petugas ketika terjadi pelanggaran
yang terungkap? Apa sanksinya?
3. Jika pelanggaran terjadi selama pilkada atau pemilu berlangsung, seperti
kampanye ilegal yang seharusnya tidak dilakukan, apakah petugas TPS
menindak lanjuti pelanggaran tersebut?
4. Kenyataannya masih banyak kampanye ilegal yang dilakukan, mengapa hal
tersebut masih sering terjadi? Apakah mungkin kejadian kampanye ilegal
tersebut terjadi karena petugas TPS melakukan pembiaran?
5. Menurut anda, apa solusi dan saran untuk para pelanggar maupun para
pemilih agar bisa mensukseskan pemilu dan pilkada serta menjunjung
tinggi rasa demokrasi?

B. Responden
1. Dalam pemilu atau pilkada, anda menentukan pilihan dengan
mempertimbangkan hal-hal apa saja?
2. Apakah anda pernah menerima uang atau sogokan saat kampanye?
3. Apa yang anda lakukan saat menerima sogokan atau uang tersebut?
4. Apakah dengan menerima sogokan atau uang tersebut, lantas anda memilih
calon tersebut atau malah mengacuhkannya?
5. Bagaimana menurut anda kinerja KPU dalam menyelenggarakan pemilu
atau pilkada?
6. Pernahkah anda melakukan golput baik tidak sengaja maupun tidak
disengaja?
7. Apakah anda mengerti hukum penyogokan terhadap pemilih untuk
menentukan hak pilihnya ?
8. Di dalam sebuah instansi misalnya PNS, pernahkah anda mengetahui atau
bahkan mengalami sendiri paksaan untuk memilih calon tertentu?

C. Cara Kerja
1. Menyusun instrumen berupa pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada
narasumber dan responden.
2. Melakukan wawancara kepada narasumber dan responden.
3. Mencari referensi mengenai masalah terkait sebagai pendukung hasil wawancara.
4. Menganalisis kembali data hasil wawancara dan data hasil studi referensi.
5. Menyusun laporan berdasarkan data hasil wawancara dan data hasil studi referensi.

D. Hasil Observasi
Berikut hasil wawancara dari narasumber dan responden
A. Orang Luar (Petugas TPS)
Nama Narasumber :
Alamat :
Pekerjaan :
Siswa : “Saat anda bekerja sebagai petugas TPS, adakah pelanggaran
yang terjadi saat kegiatan pilkada? Seperti apakah
contohnya?” ada,misalnya kampanye hitam, serangan fajar
yang dilakukan oleh tim sukses dari masing-masing calon dan
masih banyak lagi.
Narasumber :
1. Bagaimana respon atau tindakan dari petugas ketika terjadi pelanggaran
yang terungkap? Apa sanksinya?
Jawaban:
Jika ada pelanggaran yang terjadi,tentu saja akan kami tindak sesuai
prosedur. Sanksi untuk para pelanggar mengikuti aturan-aturan yang sudah
ada dan sesuai dengan UU yang berlaku.
2. Jika pelanggaran terjadi selama pilkada atau pemilu berlangsung, seperti
kampanye ilegal yang seharusnya tidak dilakukan, apakah petugas TPS
menindak lanjuti pelanggaran tersebut?
Jawaban:
tentu saja kami menindaklanjuti pelanggaran tersebut,biasanya kami akan
menghubungi pihak yang terkait dan memperingatkan secara langsung
bahkan tertulis. Selain itu kami juga melakukan pencopotan paksa terhadap
pamflet dan brosur-brosur yang masih terpasang setelah batas waktu yang
ditentukan.

3. Kenyataannya masih banyak kampanye ilegal yang dilakukan, mengapa hal


tersebut masih sering terjadi? Apakah mungkin kejadian kampanye ilegal
tersebut terjadi karena petugas TPS melakukan pembiaran?
Jawaban:
Kampamye hitam yang masih saja berulang,bisa saja karena pihak tersebut
secara sengaja tidak menghiraukan prosedur dan lebih mementingkan
keuntungan pribadi. Kejadian ini mungkin terjadi karena petugas TPS
kurang tegas dan peduli serta tidak melaksanakan kewajibannya secara
optimal.

4. Menurut anda, apa solusi dan saran untuk para pelanggar maupun para
pemilih agar bisa mensukseskan pemilu dan pilkada serta menjunjung
tinggi rasa demokrasi?
Jawaban:
Solusi dan saran untuk para pelanggar yakni kampanye ilegal dan sogokan
tidak menjadi jaminan untuk bisa terpilih, malah dapat menimbulkan
kerugian materi dan mendapatkan sanksi dari penegak hukum.
Sedangkan solusi dan saran untuk para pemilih yakni jangan memilih calon
hanya karena materi,tapi pertimbangkanlah kualitas dan konsistensi calon.
Jangan mudah terhasut dengan provokasi-provokasi yang sesat dan
mengingkari keyakinan kita sendiri.

B. Responden
Nama Responden : Aris Wiro Prambudi
Pekerjaan : Guru
1. Dalam pemilu atau pilkada, anda menentukan pilihan dengan
mempertimbangkan hal-hal apa saja?
Jawaban:
Hal-hal yang saya pertimbangkan dalam memilih calon yakni yang pertama
jejak rekam dari calon tersebut. Kita harus tahu jejak rekam calon untuk
mengetahui latar belakang kehidupannya sehingga kita sedikit bisa
membayangkan bagaimana seandainya calon tersebut terpilih. Yang kedua
apakah calon tersebut memiliki sejarah buruk seperti melakukan
kriminalitas. Jadi, kita dapat memastikan bahwa calon tersebut bersih dari
kejahatan dan tentunya kita tidak mau kan jika wakil kita adalah seorang
kriminal. Yang ketiga yaitu gelar dari calon. Memang, gelar tidak
menentukan kinerja dari calon tersebut tetapi dengan melihat gelarnya kita
bisa tahu bahwa calon tersebut memiliki kualitas dan kecakapan yang baik.
Karena gelar dapat mencerminkan kemampuan seseorang. Yang keempat
hubungan dengan masyarakat. Calon yang baik haruslah seseorang
memiliki hubungan dekat dengan masyarakat karena nantinya akan
berpengaruh kepada konsistensi mereka untuk memikul aspirasi-aspirasi
rakyat.
2. Apakah anda pernah menerima uang atau sogokan saat kampanye?
Jawaban
Pernah dalam bentuk uang.
3. Apa yang anda lakukan saat menerima sogokan atau uang tersebut?
Menerimanya.
4. Apakah dengan menerima sogokan atau uang tersebut, lantas anda memilih
calon tersebut atau malah mengacuhkannya?
Seperti yang saya katakan ada beberapa hal yang saya pertimbangkan
dalam memilih
5. Bagaimana menurut anda kinerja KPU dalam menyelenggarakan pemilu
atau pilkada?
Sebenarnya prosedur yang dibuat sudah bagus tetapi pelaksanaan di
lapangan masih kurang.
6. Pernahkah anda melakukan golput baik tidak sengaja maupun tidak
disengaja?
Pernah, karena ada kepentingan lain yang mendesak.
7. Apakah anda mengerti hukum penyogokan terhadap pemilih untuk
menentukan hak pilihnya ?
Tentu saja menyogok itu tidak boleh tetapi sering kali kita sebagai penerima
tidak meminta tetapi kita dipaksakan untuk menerima.
8. Di dalam sebuah instansi misalnya PNS, pernahkah anda mengetahui atau
bahkan mengalami sendiri paksaan untuk memilih calon tertentu?
Tidak karena saya bukan PNS.

Nama Responden : Eva


Pekerjaan : Guru
1. Dalam pemilu atau pilkada, anda menentukan pilihan dengan mempertimbangkan hal-
hal apa saja?
Jawaban:
Hal-hal yang saya pertimbangkan dalam memilih calon yakni yang pertama
kita sendiri harus yakin terhadap pilihan kita sendiri tanpa terhasut dengan
omongan orang lain. Yang kedua yaitu mempertimbangkan aspek lain
untuk kepentingan umat.
2. Apakah anda pernah menerima uang atau sogokan saat kampanye?
Jawaban
Belum pernah.
3. Apa yang anda lakukan saat menerima sogokan atau uang tersebut?
Saya tidak pernah menerima sogokan.
4. Apakah dengan menerima sogokan atau uang tersebut, lantas anda memilih
calon tersebut atau malah mengacuhkannya?
Sayab tidak pernah menerima sogokan.
5. Bagaimana menurut anda kinerja KPU dalam menyelenggarakan pemilu
atau pilkada?
Sudah lumayan bagus namuun terkadang pelaksanaannya menyimpang dari
prosedur yang ada.
6. Pernahkah anda melakukan golput baik tidak sengaja maupun tidak
disengaja?
Alhamdulillah tidak pernah.
7. Apakah anda mengerti hukum penyogokan terhadap pemilih untuk
menentukan hak pilihnya ?
Tentu saja menyogok itu tidak boleh tetapi sering kali kita sebagai penerima
tidak meminta tetapi kita dipaksa untuk menerima.
8. Di dalam sebuah instansi misalnya PNS, pernahkah anda mengetahui atau
bahkan mengalami sendiri paksaan untuk memilih calon tertentu?
Memang ada sebagian orang yang memprovokasi untuk memilih salah satu
calon yang ia yakini namun saya tidak pernah mudah terhasut dan
memantapkan pilihan saya sendiri.

E. Kesimpulan
Sebenarnya, tugas TPS sudah sangat baik dan sudah sangat mendukung proses pemilihan.
Namun hanya saja kenyataan di lapangan yang kurang optimal dalam pelaksanaannya. Ini
dibuktikan dengan masih banyaknya kecurangan yang terjadi dalam pemilihan.
Masyarakat harus sadar akan hak yang dimilki mereka untuk memilih siapa yang akan
menjadi pemimpin mereka untuk menentukan masa depan bangsanya. Hak tersebut harus
dijunjung tinggi bukan malah mudah digantikan dengan uang sogokan yang nilainya tidak
sebanding dengan nilai hak yang dimilki oleh setiap orang. Dalam menentukan
pilihannya, masyarakat harus mempertimbangkan dengan baik latar belakang dari calon
yang akan dipihnya sehingga bangsa Indonesia benar-benar memiliki pemimpin-
pemimpin yang berkualitas dan dapat memajukan Indonesia di masa yang akan datang.