Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan lansia (masa dewasa tua) dimulai

setelah pensiun, antara usia 65 tahun dan 75 tahun. WHO menggolongkan umur lansia

menjadi 4 golongan yaitu : usia pertengahan (middle age) adalah 45 – 59 tahun, lanjut usia

(elderly) adalah 60 – 74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75 – 90 tahun dan usia sangat tua

(very old) diatas 90 tahun. Menurut UU NO. 13 Tahun 1998, lansia adalah seseorang yang

mencapai usia 60 tahun ke atas (Departemen Kesehatan RI, 2012).

Tahun 2012 jumlah lansia di Indonesia mencapai 7,56% dari total penduduk. Di Jawa

Tengah tahun 2012 jumlah lansia mencapai 10,40% dari jumlah penduduk. Prevalensi lansia

di Jawa Tengah mengalami kenaikan dari tahun 2014 yang berjumlah 3,83 juta jiwa atau

11,43% dari seluruh penduduk di Jawa Tengah, ditaun 2015 meningkat mencapai 3,98 juta

jiwa atau 11,79%. Jumlah penduduk lansia usia 60 ke atas yaitu 10,34%. Berdasarkan Data

Departemen Sosial (Depsos) menyebutkan jumlah lansia mencapai 9,36%. Dari studi

pendahuluan terdahulu yang telah dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2016 di Balai Resos

Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia Wening Wardoyo Ungaran pada tahun 2016 dari bulan

Juli- September terdapat 105 lansia. Yang terdiri dari laki – laki ada 28 lansia dan perempuan

77 lansia. Dari data tahun 2016 bulan Juli – September lansia yang kooperatif berjumlah 65

dan yang tidak kooperatif berjumlah 40 lansia. Lansia yang mengalami diabetes melitus

sebanyak 12,63%, yang mengalami dimensia sebanyak 42,11 % yang mengalami rematik
sebanyak 42,10% yang menglami katarak sebanyak 10,52% yang mengalami depresi ada

40,95% dan yang mengalami gaangguan mental atau stres yaitu 10,52%.

Stres menurut para peneliti dan ahli psikologi disebabkan karena banyaknya perubahan

yang harus dihadapi, menuntut adaptasi dan penyesuaian yang pesat. Hal tersebut tidak

mudah untuk dicapai dan dilaksanakan oleh semua orang dengan mudahnya, sehingga tidak

menutup kemungkinan berkembang menjadi stres (Gunarsa, 2011).

Sebuah penelitan pernah dilakukan untuk mengetahui penyebab dan faktor – faktor yang

mempengaruhi stres lansia. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa faktor penyebab

terjadinya stres pada lansia dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu

factor internal yaitu Perubahan dan keterbatasan pada lansia tersebut meliputi perubahan

fisik, perubahan kemampuan motorik, perubahan kemampuan mental, perubahan minat pada

usia. Bagi mereka yang telah mempersiapkan dirinya sedini mungkin untuk memasuki masa

tua, membuat ia lebih mengerti dan memahami serta dapat menerima segala perubahan dan

keterbatasan yang mendadak muncul pada masa lanjut usia. Faktor eksternal meliputi adanya

konflik dalam keluarga dan adanya konflik di dalam kehidupan masyarakat maupun

komunitas.

Faktor internal dan faktor external yang buruk dapat mempengaruhi kondisi lansia.

Dampak dari timbulnya stres pada lansia yaitu akan mengalami kesulitan dalam

memanajemen kehidupannya,sebab stres akan memunculkan kecemasan (anxiety) dan

system saraf menjadi kurang terkendali. Pusat saraf otak akan mengaktifkan saraf simpatis,

sehingga mendorong sekresi hormon adrenalin dan kortisol yang akhirnya akan memobilisir

hormone hormone lainnya. Kondisi tersebut akan mengakibatkan tekanan darah meningkat

dan darah lebih banyak dialihkan dari system pencernaan ke dalam otot-otot, sehingga
produksi asam lambung meningkat dan perut terasa kembung serta mual (Bali Yogita dan

Ebnezar, 2014,h 1-7). Oleh karena itu, stres yang berkepanjangan akan berdampak pada

depresi yang selanjutnya juga berdampak pada fungsi fisiologis manusia, di antaranya

hipertensi, gagal ginjal dan stroke.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyelanggarakan program pencegahan

stres pada lansia yaitu antara lain peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para lansia

di pelayanan kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok lansia melalui program

Puskesmas Santun Lanjut Usia. Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lansia melalui

pengembangan Poliklinik Geriatri di Rumah Sakit. Peningkatan penyuluhan dan

penyebarluasan informasi kesehatan dan gizi bagi usia lanjut. Berdasarkan program

pemerintah tersebut peran perawat berperan penting dalam upaya pencegahan stres yang

timbul pada lansia. Selain menjalankan program pemerintah, bentuk penatalaksanan yang

dapat dilaksukan untuk mengatasi gejala stres pada lansia yaitu salah satunya dengan

pernafasan yoga (pranayama).

Yoga pernapasan (pranayama) merupakan latihan pernapasan dengan tehnik bernapas

menggunakan otot-otot diafragma, bernapas dengan cara perlahan dan dalam, sehingga dada

dapat mengembang penuh dan memungkinkan abdomen terangkat perlahan (Sani, 2012).

Sindhu (2014), mengemukakan bahwa dengan menguasai tehnik pernapasan sama halnya

dengan menguasai emosi dan pikiran, melalui napas lembut dan teratur pikiran akan menjadi

lebih tenang dan tubuh menjadi lebih rileks. Ketika bernapas secara lembut dan teratur dapat

melancarkan sistem peredaran darah sehingga oksigen dalam otak dapat terpenuhi dan kerja

sistem otonom menjadi lebih maksimal sehingga dapat menjadikan pikiran dan tubuh

menjadi lebih rileks. Yoga pernapasan (pranayama) merupkan panduan hidup dalam
mengelola stres dan kecemasan yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Tetapi,

pernafasan yoga (Pranayama) masih sangat awam didengar oleh masyarakat, masih banyak

orang yang beranggapan bahwa yoga hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu.

Kesimpulan yang didasarkan dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang “Pengaruh Pernafasan Yoga (Pranayama) terhadap penurunan stres lansia

di Panti Wening Wardoyo Ungaran”.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi permasalahan yang terjadi pada lansia di Panti Wening Wardoyo

Ungaran yang mengalami stress, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Perumusan Masalah Utama

Berdasarkan identifikasi permasalahan yang terjadi pada lansia Panti Wening Wardoyo

Ungaran yang mengalami stres, maka rumusan masalah umum penelitiannya adalah

apakah intervensi pernafasan yoga (pranayama) dapat memberikan pengaruh dalam

menurunkan tingkat stres lansia di Panti Wening Wardoyo Ungaran.

2. Perumusan Masalah Khusus

Perumusan masalah khusus dalam penelitian ini adalah:

“Apakah ada pengaruh pernafasan yoga (pranayama) terhadap penurunan stress lansia

di Panti Wening Wardoyo Ungaran”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Tujuan Umum

Mengidentifikasi pengaruh pernafasan yoga (Pranayama) terhadap penurunan stres pada

lansia di Panti Wening Wardoyo Ungaran.


2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi demografi lansia dengan stress

b. Mendeskripsikan stres lansia sebelum diberikan perlakuan berupa pernafasan yoga

(pranayama)

c. Mendeskripsikan stres lansia sesudah diberikan perlakuan berupapernafasan yoga

(pranayama)

d. Menganalisis pengaruh pernafasan yoga pada lansia yang mengalami stressebekum dan

sesudah mendapat perlakuan

1.4 Manfaat Penelitian


2 Bagi institusi

Sebagai penyumbang bahan materi mata kuliah keperawatan jiwa dan sebagai

pengembangan mata kuliah skripsi

3 Bagi Lansia

Memberi informasi mengenai pengaruh pernafasan yoga (Pranayama) terhadap penurunan

stres lansia di Panti Wening Wardoyo Ungaran

4 Bagi lembaga pengurus Panti Werda Ungaran

Diharapkan dapat menjadi masukan yang berarti bagi lembaga untuk melakukan

pengawasan dan pemantauan terhadap apa yang dilakukan lansia

5 Bagi Subyek Penelitian

Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi lansia mengenai penurunan

stres lansia.

6 Bagi Peneliti
Mendapat informasi mengenai lansia dan dapat mengaplikasikan ilmu mengenai penelitian

yang didapatkan pada saat kuliah

6.1 Keaslian Penelitian

No Nama, Judul Rancangan Variabel Hasil


Tahun Penelitian
Penelitian
1 Bali Yogitha Can Yoga be
and an Effective
Ebnezar,2014 Tool in
Managing
Psychological
Stress
2 Lukmanul Pengaruh
Hakim dan Yoga
Desti Pernapasan
Agustina,2018 (Pranayama)
Terhadap
Kecemasan
Keluarga
Pasiien Kritis
di Ruang ICU
7