Anda di halaman 1dari 15

1.

Mia Rahma Gita (03061181520010)


2. Nyayu Thalha Amalia (03061181621019)
3. Vini Valentine (03061181621083)
Terdapat di Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
Penduduk desa penglipuran sebenarnya berasal dari
desa bayunggede. Semua aspek kehidupan mulai dari
kebudayaan, adat istiadat, aturan, bahkan konsep
arsitektural yang berasal dari desa asalnya semakin
lama semakin berkembang dan sepakat untuk mandiri
lepas dari desa bayung gede. Namun untuk penataan
desa dan pola ruang desanya tetap disamakan dengan
desa bayung gede.

Desa penglipuran sendiri berasal dari kata pailing pure


yang artinya ingat dengan tanah leluhur.
Penduduk penglipuran juga menganut sistem kasta. Seluruh
warga desa beragama hindu dengan kasta sudra (kasta
terendah dalam sistem kasta di bali), tetapi keadaan ini tidak
membuat warganya berkecil hati. Ini menjadi motivasi bagi
warga desa penglipuran untuk menunjukkan eksistensinya
sebagai desa adat tradisional yang bisa menjadi objek wisata.

Untuk menjaga kebersihan diadakan kegiatan pembersihan


lingkungan bersama-sama oleh seluruh penduduk desa. Hal ini
sebagai penerapan ajaran tri hitakarana, yaitu manusia
selaras dengan tuhan diwujudkan dengan melakukan
peribadatan di tempat suci, Manusia selaras dengan sesama
manusia diwujudkan dengan menjaga keharmonisan didalam
perkawinan, dan Manusia selaras dengan alam, dengan
menjaga kelestarian lingkungan sekitar dan memelihara ternak
dengan baik.

Setiap rumah diwajibkan memelihara anjing karena anjing


dianggap sebagai sahabat setia manusia. Penduduk dilarang
mengkonsumsi daging anjing. Namun pada beberapa kegiatan,
anjing dikorbankan dan dimakan dengan filosofi memberi
tempat yang lebih baik pada sahabatnya.
Penataan bangunan di desa ini adalah dengan
meletakkan pura utama di ujung utara yang merupakan
tempat yang tertinggi dengan konsep tri mandala.
Tri berarti tiga dan mandala berarti halaman.
Desa ini disusun secara memanjang dari utara ke selatan
dan tempat paling utara adalah tempat yang paling
suci dan tinggi dan dinamakan dengan utama
mandala dimana disana didirikan pura untuk desa
mereka.
Rumah adat di desa penglipuran ini ditata saling
berhadapan dengan sirkulasi menghadap barat dan
timur. Zona yang berada pada dua mandala lainnya ini
disebut Madya Mandala.
Semakin ke arah selatan semakin menurun, yang
membuat air hujan bisa diarahkan ke arah paling
selatan yaitu kawasan nista mandala sehingga desa ini
tidak terkena banjir. Zona ini paling dekat dengan laut.
Disinilah
Masyarakat
melakukan
kegiatan suci

Pura peribadatan/
Pura Penataran

Balai Masyarakat Balai Banjar adat


Asta
Kosala
Kosali :
Timur laut,
ruang suci.
Barat
daya,
ruang
nista.

Rumah Adat

Rumah Masyarakat
Gapura Bentar

Lebar pintu
gerbang yang
hanya muat
untuk satu
orang dewasa.

Angkul-Angkul
Pola linear pada sirkulasi pejalan kaki menjadi
orientasi bagi rumah adat didesa ini yang juga jalan
membelah desa dengan deretan gerbang menuju
rumah-rumah, elevasi pada jalan dibuat semakin
menurun dari utara ke selatan.
Parkir kendaraan pengunjung
disisi utara

Parkir kendaraan pengunjung


disisi selatan

Pedestrian jalan menuju


desa penglipuran
Akses jalan menuju desa penglipuran
Tanaman menciptakan keindahan/estetika

Sekitar 40 % dari lahan desa adalah hutan


bambu, dimana hutan bambu dijadikan sebagai
mata pencaharian masyarakat setempat yang
berprofesi sebagai pengerajin anyaman bambu
juga sebagai destinasi wisata didesa ini

Deretan pohon ditepi jalan sebagai komponen


pembentuk ruang
Material keras alami dari Potensi geologi,
dengan penggunaan material batu-batuan
yang tersusun pada pola lantai sebagai
ornamen artistik taman.

Cat tembok pintu gerbang yang digunakan


bukan cat tembok yang biasanya kita kenal,
melainkan menggunakan cat berbahan dasar
dari tanah liat.

Pattern grid dan linear digunakan pada pola lantai


Air kotor pada desa penglipuran yang dihasilkan dari
masing-masing RT langsung ditampung ke septic tank.
Sedangkan untuk limbah cair dibuang ke selokan yang
dihubungkan melalui pipa-pipa. Pada umumnya warga
menggunakan closet jongkok di wc nya.

Air bersih yang digunakan untuk mencukupi


konsumsi air bersih pada desa penglpuran
berasal dari pdam.
Jaringan sampah menggunakan sistem desentralisasi
yaitu mengumpulkan sampah yang Dilakukan di
beberapa bak koleksi yang ditempatkan diluar
masing-masing rumah. Selanjutnya diangkut dengan
mobil gerobak dan dikumpulkan ke tempat
pembuangan akhir

Sistem penghawaan menggunakan sistem


penghawaan alami berupa jendela dan
lubang dinding lainnya yang juga
memanfaatkan terang langit sebagai media
penerangan pada siang hari.