Anda di halaman 1dari 12

Fiqih Aulawiyat (Skala Prioritas)

APA ITU FIQIH AULAWIYAT?


Ia berarti suatu ilmu dan keahlian yang dengannya seseorang bisa meletakkan segala sesuatu pada
posisinya sesuai urutan secara proporsional, baik berupa hukum, norma maupun amal perbuatan dan
lain-lain, berdasarkan timbangan-timbangan syar’i yang benar. Sehingga tidak mengakhirkan yang
seharusnya didahulukan ataupun mendahulukan yang seharusnya diakhirkan, dan tidak mengecilkan
perkara yang besar ataupun membesarkan perkara yang kecil. (Lihat: Aulawiyyat Al-Harakah Al-
Islamiyyah Fil-Marhalah Al-Qadimah, h. 34, dan Fi Fiqhil Aulawiyyat, h. 9, keduanya karya DR.
Yusuf Al-Qardhawi).

MENGAPA PERLU FIQIH AULAWIYAT?


Pertama: Karena adanya kewajiban dan keniscayaan untuk menjaga urutan, peringkat, porsi dan
proporsi diantara berbagai amal, ibadah, hukum dan tatanan di dalam ajaran agama.
 Penetapan skala prioritas dan peringkat-peringkat di antara berbagai aspek masalah akidah,
akhlak, ibadah, syariah, muamalah dan lain sebagainya, sudah ada di dalam ajaran Islam itu
sendiri, melalui berbagai dalilnya. Baik yang bersifat tekstual maupun kontekstual. Jadi secara
umum, kaidah atau prinsip aulawiyat (pengurutan berdasarkan skala prioritas) itu merupakan
bagian sangat mendasar yang tidak terpisahkan dari ketentuan-ketentuan ajaran Islam sejak
awal. Ibaratnya seperti ungkapan umum: ”Itu udah dari sono-nya”. Sehingga, dengan
demikian, kewajiban menjaganya dan keniscayaan berkomitmen denganya pun otomatis telah
menjadi bagian mendasar yang tak terpisahkan dari kewajiban dan keniscayaan menjaga serta
berkomitmen dengan ajaran Islam itu sendiri!
 Penetapan enam rukun iman yang telah menjadi ijmak sepanjang sejarah diantara seluruh
ulama Ahlussunnah Waljamaah, berdasarkan berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits shahih.
 Penetapan lima rukun Islam yang juga telah menjadi ijmak, berdasarkan Al-Qur’an dan Al-
Hadits. Antara lain misalnya HR. Muttafaq ’alaih dari Ibnu ’Umar ra.: ”Islam dibangun diatas
lima prinsip:…” (‫خ ْمسَ على اإلسْال َُم بُنِيَ“ حديث‬:…”), hadits Jibril riwayat Imam Muslim dari Umar bin
Al-Khatthab ra. (hadits kedua dalam himpunan hadits Al-Arba’in An-Nawawiyah), dan lain-
lain.
 Adanya pembagian dan pembedaan dalam hukum syariah terkait perintah dan anjuran, antara
yang berhukum wajib/fardhu (ada fardhu ’ain dan fardhu kifayah), dan yang berstatus
hukum mandub/mustahab/sunnah (ada sunnah muakkadah dan sunnah ghairu
muakkadah), sampai yang berhukum mubah. Begitupun dalam aspek larangan dan
pelanggaran yang juga terbagi menjadi hukum haram, makruh dan syubhat. Tentu sudah jelas
sekali bagi semua kalangan bahwa, pembagian dan pembedaan hukum-hukum tersebut, yang
dikenal dengan ”lima hukum fiqih” (َ‫الخ ْمس َةُ ال ِف ْق َِه أحْ كا ُم‬
َ ), adalah berarti penentuan skala prioritas.
Dimana yang berhukum wajib/fardhu adalah lebih prioritas untuk dikerjakan daripada yang
sunnah/mustahab apalagi sekadar mubah. Dan yang berstatus hukum haram tentu lebih
diutamakan untuk dijauhi daripada yang berstatus makruh/syubhat, dan begitu seterusnya.
 Dalam konteks skala prioritas terkait larangan atau dosa misalnya, seperti HR. Muttafaq ’alaih
dari sahabat Abu Hurairah ra. tentang tujuh dosa besar terbesar juga bisa jadi contoh :
”Jauhilah oleh kalian tujuh perbuatan dosa yang membinasakan, yaitu: syirik kepada Allah,
sihir, membunuh jiwa yang haram dibunuh, makan hasil riba, makan harta anak yatim, lari dari
medan jihad, dan menuduh zina wanita suci mukminah yang ”lugu” (‫حديث‬: “‫سبْعَ اجْ تنِبُوا‬ َّ ‫ت ال‬
َِ ‫ال ُم ْوبِقا‬:
َُ‫)”…بِاهلل الشِرك‬.
 Hadits tentang cabang-cabang keimanan (َُ‫)اإليمان شُعب‬: ”Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam
puluh sekian cabang. Yang paling afdhal/yang paling tinggi adalah ucapan/persaksian ”la ilaha
illallah” (baca: keimanan tauhid), yang paling rendah adalah (seperti) menyingkirkan gangguan
dari jalan, dan rasa malu juga bagian dari cabang iman” (HR. Muttafaq ’alaih dari Abu Hurairah
ra).
 Saat diutus ke Yaman, sahabat Mu’adz bin Jabal ra. diperintahkan oleh Rasulullah SAW. agar
mengurutkan dakwahnya dengan mulai menyampaikan dan mengajarkan dua kalimat syahadat
terlebih dahulu. Setelah dua syahadat diterima dan ditaati, baru dilanjutkan dengan
menyampaikan perintah shalat lima waktu. Dan begitu pula sesudah kewajiban shalat diterima
dan dipatuhi, baru diperintahkan agar menyampaikan kewajiban zakat… (HR. Muttafaq ’alaih
dari Ibnu ’Abbas ra).
 Berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua menempati urutan kategori amal saleh
tertinggi di dalam Islam, sampai-sampai digandengkan dengan kewajiban beribadah hanya
kepada Allah langsung alias tauhid (lihat misalnya QS. Al-Israa’: 23, dan lain-lain).
 Namun dalam kewajiban berbakti kepada orang tua juga ada urutannya, dimana ibu lebih
diprioritaskan sampai tiga kali lipat dibandingkan ayah. Di dalam hadits, seorang sahabat
bertanya: siapakah gerangan orang yang paling berhak atas sikap baik/baktiku? Rasulullah
SAW. menjawab: ”Ibumu”. Ia bertanya lagi: lalu siapa? Dijawab lagi: ”Ibumu”. Ia masih
bertanya: lalu siapa? Masih juga dijawab: ”Ibumu”. Ia tetap bertanya: lalu siapa? Baru dijawab:
”Bapakmu” (HR. Muttafaq ’alaih dari Abu Hurairah ra).
 Cukup banyak hadits yang menjelaskan tentang amal-amal yang paling afdhal (َ‫)األعْمال أ ْفض ُل‬.
Misalnya hadits Ibnu Mas’ud yang bertanya kepada Rasulullah SAW.: apakah amal yang paling
afdhal? Berliau menjawab: ”shalat tepat pada waktunya”. Lalu apa? Dijawab: ”berbakti kepada
kedua orang tua”. Lalu apa? Dijawab: ”jihad fi sabilillah”… (HR. Muttafaq ’alaih).
 Hadits: ”Maukah kalian aku beri tahu tentang sesuatu yang lebih afdhal daripada derajat ibadah
puasa, shalat dan sedekah?” Para sahabat menjawab: Tentu. Beliau lalu bersabda: ”(sesuatu itu
adalah) mendamaikan/memperbaiki hubungan antar sesama. Karena rusaknya hubungan
antar sesama itu ibarat alat cukur. Aku tidak mengatakan, ia alat cukur yang mencukur rambut,
melainkan justru yang mencukur agama” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud dari Abu Ad-Darda’
ra).
 Dan tentu saja masih sangat banyak lagi contoh dan dalil yang lain.
Kedua: Kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan di dalam hidup ini secara umum dan di dalam
perjuangan dakwah secara khusus, umumnya lebih banyak daripada waktu dan kemampuan yang kita
miliki. Diantara sepuluh wasiat (nasehat) penting Imam Hasan Al-Banna yang terkenal adalah: (
ِ ‫)األوقات من أكثر الو‬, yang berarti: Kewajiban itu lebih banyak daripada waktu (yang tersedia).
‫اجبات‬
Sehingga, konsekuensinya, pastilah yang bisa dan mampu diemban serta dituntaskan hanya sebagaian
atau bahkan sebagian kecil saja diantaranya, dan tidak mungkin semuanya. Baik itu dalam skala
personal individual untuk setiap orang, maupun dalam skala komunal untuk institusi, lembaga,
organisasi, harakah, partai politik dan sejenisnya. Nah, disinilah mutlak dibutuhkan fiqih aulawiyat,
agar sebagian atau bahkan sebagian kecil yang dipilih untuk ditunaikan diantara tugas dan kewajiban
yang banyak itu benar-benar yang memang menempati urutan tertinggi dalam skala prioritasnya, dan
bukan malah sebaliknya!
Ketiga: Fiqih aulawiyat merupakan salah satu dasar dan landasan terpenting bagi
penerapan fiqih muwazanat (fiqih menimbang dan membandingkan diantara pilihan-pilihan yang
tersedia untuk menentukan salah satunya). Yakni untuk bisa melakukan
proses muwazanat (perbandingan) secara proporsional sampai tahap memutuskan satu pilihan
terbaik diantara pilihan-pilihan yang ada, setiap kita harus berbekalkan kaedah-kaedah fiqih
aulawiyat. Intinya, tanpa bekal fiqih aulawiyat, tidaklah mungkin kita bisa menerapkan fiqih
muwazanat secara benar, tepat dan proporsional. Padahal fiqih muwazanat ini selalu kita butuhkan
setiap saat dalam berbagai aspek kehidupan dan perjuangan dakwah kita. Karena dalam hidup dan
juga dalam perjuangan dakwah, tidak bisa tidak memang kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-
pilihan, yang tentu menuntut dan mengharuskan kita agar menimbang, membandingkan dan
kemudian menentukan pilihan. Nah ilmu yang mendasari proses menimbang dan membandingkan
diantara sejumlah pilihan untuk mencapai satu pilihan terbaik itulah yang disebut dengan fiqih
muwazanat.
Keempat: Fiqih aulawiyat adalah konsekuensi, tuntutan dan sekaligus landasan bagi penerapan
prinsip/kaidah pentahapan (tadarruj) dalam berislam, berdakwah dan dalam apa saja. Ya apa saja
dalam hidup ini memang harus bertahap. Karena pentahapan (tadarruj) memang merupakan bagian
penting sekali dari sunnatullah dan syariatullah (syariah Allah) sekaligus. Ibarat naik tangga, untuk
bisa mencapai tangga tertinggi, katakanlah tangga kesepuluh misalnya, maka seseorang dari kita
harus memulai dengan menapaki tangga pertama, melewati tangga kedua, lalu ketiga, dan begitu
seterusnya, tangga demi tangga secara urut dan bertaahap hingga sampai ke tangga puncak. Nah
dalam konteks menaiki tangga pentahapan berislam dan berdakwah inilah, fiqih aulawiyat berperan
sangat vital dalam menentukan manakah yang menempati urutan tangga pertama untuk kita tapaki
terlebih dahulu, lalu manakah yang berada di tangga kedua, berikutnya ke tangga ketiga dan begitu
seterusnya.
 Terkait adanya pentahapan (tadarruj) yang menuntut fiqih aulawiyat ini, secara sangat mudah
dan sangat jelas bisa didapati misalnya dari pentahapan turunnya wahyu Al-Qur’an, penetapan
hukum syariah (tasyri’), pentahapan penyampaian dakwah, dan lain-lain.
 Turunnya Al-Qur’an secara bertahap dan beransur-ansur selama dua puluh tiga tahun, sebelum
akhirnya menjadi lengkap dan sempurna seperti yang ada di tangan kita sekarang ini. Dimana
surat demi surat atau sekumpulan ayat demi sekumpulan ayat diturunkan oleh Malaikat Jibril
as. atas perintah Allah Ta’ala, sesuai kondisi, situasi, kebutuhan, tuntutan, perkembangan
dakwah dan kesiapan kaum muslimin pada setiap tahapan.
 Dari Ibunda Aisyah ra, beliau berkata: Sesungguhnya yang awal-awal turun dari Al-Qur’an
adalah surat kategori Al-Mufasshal (kelompok surat-surat pendek di bagian akhir mushaf Al-
Qur’an) yang menyebutkan tentang surga dan neraka (yakni intinya tentang prinsip-prinsip
keimanan). Sampai ketika orang-orang telah sadar/menerima Islam, barulah turun hukum
halal dan haram. Dan seandainya yang pertama kali turun misalnya adalah (larangan seperti):
Janganlah kalian minum khamr(minuman memabukkan), maka niscaya mereka akan serta
merta menjawab (karena belum siap dan belum cukup kuat iman): kami tidak akan
meninggalkan khamr Begitu pula seandainya yang pertama turun adalah (larangan misalnya):
Janganlah kalian berzina, niscaya merekapun akan langsung menjawab (karena alasan yang
sama): kami tidak akan meninggalkan zina selamanya… (HR. Al-Bukhari).
 Pentahapan dalam mendakwahkan ajaran Islam seperti dalam kisah sahabat Mu’adz bin Jabal
ra. yang diutus sebagai dai ke Yaman, seperti yang telah disebutkan di muka.
 Rasulullah SAW. bersabda kepada Ibunda Aisyah ra.: ”Kalau saja bukan karena kaummu (kaum
Quraisy) masih dekat dengan masa kejahiliyahan/kekufuran, niscaya akan aku robohkan
Ka’bah ini, lalu aku bangun kembali sesuai pilar-pilar bangunan Nabi Ibrahim AS, dan aku
buatkan dua pintu, yang satu untuk masuk dan yang lain untuk keluar” (HR. Al-Bukhari,
Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan lain-lain). Nah disini Rasulullah SAW. memilih
meninggalkan atau minimal menangguhkan kepentingan mengembalikan bangunan Ka’bah
sesuai aslinya pada saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Mengapa? Tiada lain
adalah karena beliau lebih mengutamakan dan memprioritaskan kemaslahatan menghindari
fitnah yang sangat mungkin terjadi, bila keinginan dan kepentingan tersebut diwujudkan,
akibat masih dekatnya kaum Quraisy dengan masa kejahiliyahan dan kekufuran, yang berarti
level keimanan mereka masih rendah.
 Kisah dialog sangat menarik antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan putra beliau Abdul
Malik. Dimana dituturkan bahwa, belum lama setelah sang ayah diangkat menjadi khalifah, si
anak saleh yang masih sangat belia tapi memiliki semangat keislaman yang sangat tinggi sekali,
suatu hari berkata kepada ayahandanya: Wahai Ayahanda! Mengapa Ayahanda tidak
langsung/segera menerapkan perintah-perintah Allah (sesuai kewenangan dan kekuasaan
sebagai khalifah)? Demi Allah, aku tidak peduli andaipun periuk sampai mendidih denganku
dan denganmu, selama kita dalam kebenaran! (Intinya Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz
tidak sabar melihat ayahandanya yang dinilainya lamban dalam mengemban amanat sebagai
pemimpin tertinggi dengan langsung memperbaiki keadaan dan menerapkan hukum Allah
secara langsung, seketika dan sekaligus). Sang Khalifah yang disamping bertaqwa juga sangat
alim dan bijak inipun menjawab dengan tenang: Jangan istikjal (terburu-buru) wahai anakku.
Sesungguhnya Allah mencela khamr (minuman keras) dua kali di dalam Al-Qur’an (maksud
beliau tidak langsung atau seketika diharamkan!), dan baru mengharamkannya pada kali
ketiga. Oleh karenanya aku sangat khawatir, jika aku paksakan penerapan kebenaran
seluruhnya terhadap masyarakat seketika, maka akibanya merekapun akan meninggalkannya
(menolaknya) seluruhnya seketika pula, sehingga dari sinilah justru akan terjadi fitnah!
(lihat: Al-Muwafaqat oleh Imam Asy-Syathibi: 2/94).
 Dan masih banyak lagi contoh dan dalil lain.
 Tapi intinya, tanpa bekal dan landasan fiqih aulawiyat, tidak mungkin kita bisa menerapkan
kaidah dan prinsip pentahapan (tadarruj) dalam bidang apapun secara benar dan tepat.
Kelima: Meninggalkan dan mengabaikan prinsip aulawiyat di dalam hidup, di dalam berislam dan
di dalam berdakwah, akan mengakibatkan timbulnya berbagai dampak sangat buruk dan bahaya
besar yang bisa menimpa Islam, ummat Islam dan dakwah Islam. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
berkata: ”Meninggalkan/mengabaikan urutan (peringkat-peringkat) diantara beragam kebaikan
merupakan bagian dari keburukan/kejahatan” (َُ‫ب ت ْرك‬َِ ‫ت بيْنَ الت َّ ْرتِ ْي‬ َْ ِ‫ش ُر ْو َِر ُج ْمل َِة م‬
َِ ‫ن الخيْرا‬ ُّ ‫( )ال‬Ihya’ ulumiddin:
3/402).
 Sungguh tak ternilai dan tak terhitung harga sangat mahal sekali yang harus dibayar oleh
ummat Islam sepanjang sejarah, diakibatkan antara lain oleh kerancuan persepsi bahkan
kesemerawutan pemahaman terhadap Islam yang menjungkir balikkan kaidah-kaidah
prinsip aulawiyat (skala prioritas). Betapa banyak darah tertumpahkan, api fitnah internal
terkobarkan, persaudaraan dan persatuan antar ummat beriman tercabik-cabik, bermacam-
macam kepentingan besar ummat terkorbankan, beragam kewajiban besar tertinggalkan dan
terabaikan, serta berbagai kesyirikan, kekufuran, kejahatan dan kemaksiatan vulgar meraja
lela. Dan semua kemirisan itu terjadi antara lain ”hanya” gara-gara mayoritas muslimin selalu
lebih sibuk bertikai antar sesama seputar masalah-masalah kecil, remeh temeh dan khilafiyah
furu’iyah?
 Diriwatkan bahwa, seseorang datang kepada sahabat Abdullah bin Umar ra seraya bertanya
tentang hukum darah nyamuk. Di dalam satu riwayat lain disebutkan: ia bertanya tentang
hukum seseorang yang sedang berihram membunuh lalat. Sahabat Ibnu Umar ra. tidak
langsung menjawab pertanyaan tersebut, melainkan justru bertanya balik kepada si penanya:
Dari manakah kamu berasal? Ia menjawab: Dari penduduk Irak. Maka Ibnu Umarpun berkata:
Hah? Coba kalian lihat orang ini, bertanya tentang hukum darah nyamuk, sementara mereka
(penduduk negeri asalnya) telah membunuh dan menumpahkan darah putra (cucunda)
Rasulullah SAW (yakni Al-Husain bin Ali ra). Dalam riwayat lain beliau (Ibnu Umar ra)
berkomentar: Penduduk Irak (mementingkan) bertanya tentang hukum darah nyamuk,
padahal mereka telah membunuh putra dari putri Rasulullah …” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).
Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari berkomentar: ”Ibnu Umar menyampaikan hal itu
karena saking herannya akan besarnya perhatian penduduk Irak untuk bertanya tentang
sesuatu yang remeh (hukum darah nyamuk), sementara mereka justru sangat abai terhadap
perkara yang dahsyat (peristiwa terbunuhnya Al-Husain ra.)” (Fathul Bari 7/95). Dan rupanya
hal serupa dialami pula oleh putra sang sahabat, Salim bin Abdullah bin Umar, bersama
penduduk Irak, sehingga beliau melontarkan kata-kata yang keras kepada mereka: Hai
penduduk Irak, betapa besar semangat kalian untuk bertanya tentang masalah kecil, tapi (di
sisi lain) betapa beraninya kalian dalam melanggar perkara besar? Aku mendengar ayahku Abu
Abdillah Ibnu Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):
”Sesungguhnya fitnah akan datang dari arah ini – seraya beliau menunjuk dengan tangan beliau
(yang mulia) ke arah wilayah timur (Irak) – dari mana akan muncul dua tanduk syetan”. Kalian
telah saling bunuh diantara kalian. Padahal Nabi Musa membunuh orang yang dibunuhnya itu
hanya karena salah (tidak sengaja), tapi toh Allah Azza wa Jalla tetap berfirman kepada beliau
(yang artinya): ”Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu
dari kesusahan, dan Kami-pun telah mengujimu dengan beberapa ujian” (QS. Thaha: 40).
 Diceritakan bahwa, diantara tak kurang dari empat ribu desa di Mesir yang berhasil dikunjungi
oleh Imam Hasan Al-Banna dalam safari-safari dakwah beliau, tersebutlah sebuah desa
(insyaallah banyak desa lain lagi yang juga seperti itu, begitupun disini) yang mengalami
keterbelahan diantara warganya hanya gara-gara perbedaan dan perdebatan soal jumlah rakaat
shalat taraweh antara 23 rakaat dan 11 rakaat. Kehadiran beliau ini sudah lama ditunggu-
tunggu oleh mereka semua, karena diyakini akan bisa menyelesaikan ”dilema akut” mereka itu.
Tapi yang jadi masalah adalah bahwa, masing-masing kelompok, saat bertemu dengan sang
Imam, menginginkan solusi menurut versi mereka sendiri. Dimana mereka menghendaki dan
bahkan meyakini beliau akan berpihak dan mendukung pendapat mereka. Serta akan
menyalahkan dan menolak pendapat/madzhab kelompok yang lainnya. Baik itu yang
bermadzhab tarawih 23 rakaat, maupun yang berpendapat 11 rakaat. Ini solusi ”menang-
menangan” namanya (ya intinya seperti orientasi umumnya ummat selama ini bahkan
mungkin kita juga!). Nah, setelah tahu duduk permasalahan mereka, beliaupun mencoba
mengarahkan dengan cara bertanya (misalnya begini): Menurut kalian semua, apa sih hukum
shalat tarawih itu? Merekapun dengan cepat menjawab: hukumnya sunnah. Beliau bertanya
lagi: Apakah hukum shalat tarawih secara berjamaah/sendiri-sendiri di masjid? Mereka
semuanya tetap menjawab: hukumnya sunnah juga. Beliau melanjutkan pertanyaan: Lalu
apakah hukum shalat tarawih di rumah, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah? Jawaban
mereka semua masih sama, tidak berubah dan tanpa ada perbedaan: hukumnya sama, tetap
sunnah. Setelah itu beliau ganti bertanya seperti ini: Apakah hukum menjaga ukhuwah dan
persatuan bagi kaum muslimin? Mereka menjawab serempak: hukumnya wajib dan fardhu
penting sekali. Kemudian sampailah beliau pada poin pertanyaan terakhir: Nah, jika demikian
halnya, lalu bolehkah, menurut kalian, kita kaum muslimin mengorbankan kemaslahatan hal
yang hukumnya wajib dan fardhu sangat fundamental sekali seperti ukhuwah dan persatuan,
hanya gara-gara perselisihan dalam menentukan mana yang lebih afdhal diantara opsi-opsi
pilihan yang seluruhnya berhukum sunnah? Dan dengan lantang mereka semua sepakat
menjawab: tidak boleh dan hukumnya haram sekali. Akhirnya sang Imam yang terkenal sangat
bijak itupun menutup arahan beliau kepada warga desa dengan kata-kata seperti ini: Jika kalian
semua telah sepakat dengan jawaban atas semua pertanyaan saya seperti tadi, maka solusi
”masalah” kalian adalah sebagai berikut. Sementara ini, setiap selesai shalat isya’ berjamaah di
masjid desa kalian ini, dan seusai wirid secukupnya, silakan masing-masing dari kalian semua
langsung pulang ke rumah sendiri-sendiri, dan tidak harus diadakan shalat jamaah tarawih di
masjid. Melainkan silakan melakukan shalat taraweh di rumahnya, dengan jumlah rakaat
menurut madzhab yang dipilihnya, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah antar sesama
anggota keluarga. Dan alhamdulillah problempun akhirnya terpecahkan, masalah
terselesaikan, perpecahan terhindarkan dan persatuan terpulihkan dengan cara menata
kembali pemahaman warga sesuai kaidah fiqih aulawiyat.
 Dikisahkan bahwa, sekali waktu ada seorang ulama yang mendapati dua pemuda penuh
semangat keislaman tinggi sedang bersitegang sampai hampir berkelahi hanya gara-gara
berdebat soal kadar yang harus diusap dari rambut kepala sebagai rukun sahnya wudhu. Maka
sang ulamapun segera melerai keduanya seraya mengingatkan bahwa, di luar sana sedang
berjalan konspirasi luar biasa untuk ”memenggal” kepala-kepala kita ummat Islam. Maka
fokuslah, bersatulah dan bekerja samalah terlebih dahulu dalam upaya menyelamatkan kepala
kalian berdua dan kepala kaum muslimin dari konspirasi musuh yang bisa berujung pada
”pemenggalan” itu. Baru setelahnya, silakan berdebat tentang khilafiyahmasalah mengusap
kepala dalam berwudhu!!! Karena apa arti perselisihan, peertentangan dan perdebatan tentang
mana batas rambut kepala yang harus diusap dalam wudhu, jika kepala kalian sendiri justru
tidak aman dari ancaman pemenggalan?!!!
 Bagaimana kita tidak prihatin jika menyaksikan kebanyakan kelompok ummat masih lebih
sibuk dan lebih ”asyik” mempersoalkan masalah-masalah khilafiyah furu’iyah tentang apa
saja, sedangkan persoalan-persoalan besar dan mendasar yang telah menjadi ijmak, justru
diabaikan? Seperti orang yang sudah rajin shalat di masjid misalnya, tidak jarang malah lebih
”tidak aman” dibandingkan orang yang tidak shalat sama sekali. Karena yang rajin shalat justru
masih akan dipersoalkan tentang niatnya pakai ”ushalli” atau tidak, tentang angkat tangannya
saat takbir setinggi apa, tentang bacaan iftitah-nya versi mana yang dipilih, tentang basmalah-
nya dikeraskan atau dipelankan, tentang posisi tangannya saat i’tidal dijulurkan atau sedekap,
tentang caranya turun untuk sujud mendahulukan lutut atau tangan, tentang jari telunjuknya
saat tasyahhudkapan digerakkan untuk menunjuk dan juga digerak-gerakkan atau tidak,
tentang shalat subuhnya dengan qunut atau tidak, dan seterusnya dan seterusnya. Jadi tentang
masalah-masalah khilafiyah seperti itu semua sering sekali masih dipersoalkan dan
diperdebatkan dari orang yang telah rajin shalat di masjid. Sementara itu di sisi lain, tak
terhitung jumlah orang Islam yang tidak mengenal shalat sama sekali atau yang shalatnya
masih bolong-bolong justru aman-aman saja dan tenang-tenang saja, karena hampir tanpa
ada yang mempedulikan dan mempermasalahkannya (?). Begitu pula dengan masalah-masalah
yang lainnya.
 Kondisi yang tidak kalah memiriskan terjadi dalam bidang dakwah dan dalam konteks pola
hubungan antar kelompok, organisasi, jamaah dan harakah dakwah Islam yang sebenarnya
secara umum masih berada di bawah PAYUNG BESAR Ahlussunnah Waljamaah. Karena
semuanya memang tetap berkomitmen dengan prinsip-prinsip ajaran Islam menurut
Ahlussunnah Waljamaah. Baik dalam hal rukun iman, rukun Islam, maupun dalam hal
keteladanan dan panutan utama sesudah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, yakni pada
generasi sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin. Tapi toh antar mereka, meskipun begitu, masih lebih
dominan pola sikap yang saling bertentangan, berseteru dan bahkan bermusuhan. Tentu
dengan akibat buruk yang tak terhitung jumlahnya dan harga sangat mahal sekali yang harus
dibayar dengan terkorbankannya berbagai kepentingan dan kemaslahatan besar bagi Islam,
dakwah dan kaum muslimin, dalam berbagai aspek kehidupan. Baik dalam bidang dakwah
sendiri, dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, maupun dalam bidang politik dan
lain-lain. Dan yang umumnya menjadi penyebab, tiada lain ya ”hanya” masalah-
masalah khilafiyah furu’iyah itu tadi! Wallahul Musta’an!
 Bahkan di dalam satu organisasi dan gerakan dakwah sendiri, banyak sekali terjadi
permasalahan besar, perselisihan akut, dan keterbelahan menyedihkan diantara para elit
pimpinan, tokoh, pengurus dan anggotanya yang tak terhindarkan, hanya diakibatkan oleh
dominannya kerancuan bahkan kesemerawutan persepsi dalam penentuan skala prioritas
sesuai kaidah fiqih aulawiyat! Dimana kerancuan dan kesemerawutan persepsi tersebut tak
jarang berujung pada kondisi buruk sekali yang sangat memprihatinkan dan memiriskan.
Karena satu sama lain bisa sampai saling tuduh dan saling tuding dengan penyimpangan,
kesesatan, pengkhianatan dan semacamnya.
FAKTOR PENENTU TINGKAT AULAWIYAT
PERTAMA: Faktor dalil syar’i. Ini merupakan faktor penentu
tingkat/peringkat/skala aulawiyat yang paling utama. Seperti yang telah dipaparkan di muka bahwa,
penetapan skala prioritas dan peringkat-peringkat di antara berbagai aspek masalah akidah, akhlak,
ibadah, syariah, muamalah dan lain sebagainya, sudah ada di dalam ajaran Islam itu sendiri, melalui
berbagai dalil syar’inya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan lain-lain. Baik yang bersifat tekstual
maupun kontekstual. Dan berikut ini sekadar contoh tambahan selain yang telah dikutip diatas.
 Firman Allah (yang artinya): ” Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang
yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama
di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim. Orang-orang yang
beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah
lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan
diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat
kemenangan” (QS. At-Taubah: 19 – 20).
 Rasulullah SAW. bersabda (yang artinya): “Sesungguhya Allah Ta’ala berfirman (dalam
hadits qudsi yang artinya): ‘Barangsiapa memusuhi seorang wali-Ku maka Aku telah
mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba ber-taqarrub (mendekatkan
diri) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa-apa yang telah Aku wajibkan
kepadanya. Dan hamba-Ku (setelah melakukan yang wajib-wajib) akan selalu mendekatkan diri
kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah) sampai Aku mencintainya…” (HR. Al-
Bukhari dari Abu Hurairah ra.).
 Hadits: ”Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian” (HR.
Muttafaq ’alaih dari Ibnu Umar ra.).
 Hadits: ”Ribath (bertahan di medan jihad) sehari semalam lebih baik daripada
berpuasa plus qiyamullail sebulan penuh” (HR. Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi dari Salman
ra.).
 Hadits: ”(Sedekah) satu dirham bisa mengungguli (sedekah) seratus ribu dirham. Dimana ada
seseorang memiliki harta dua dirham saja, lalu ia mengambil satu dirham darinya dan
mensedekahkannya (berarti ia telah bersedekah dengan separuh harta miliknya). Sementara
ada orang lain memiliki harta yang sangat banyak sekali, lalu ia mengambil seratus ribu dirham
dari hartanya yang melimpah ruah itu dan mensedekahkannya (yang belum tentu mencapai
satu % dari harta miliknya)” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari
Abu Hurairah ra.).
 Hadits: ”Satu dinar engkau infakkan (dalam jihad) fi sabilillah, satu dinar lain engkau infakkan
untuk memerdekakan budak, satu dinar lagi engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan
satu dinar terakhir engkau infakkan untuk nafkah keluargamu. Yang paling besar pahalanya
adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.).
 Dan lain-lain.
KEDUA: Faktor pertimbangan kemaslahatan dan kemadharatan. Baik berdasarkan fakta kasat mata,
maupun sesuai asumsi dan prediksi kategori ”ghalabatudz-dzann” (dugaan/prediksi kuat) dengan
memperhatikan kemungkinan dampak. Berarti disini sangat dibutuhkan ”fiqhul ma-alat”. Tentu
sudah pasti disamping sebelumnya: ”fiqhul muwazanat”. Dan terkait penentuan
peringkat aulawiyat berdasarkan pertimbangan faktor kemaslahatan dan kemadharatan ini, bisa
dilihat sebagian kaidahnya di bawah setelah ini insyaallah (Kaidah-Kaidah dalam Fiqih Aulawiyat).
Dimana antara lain misalnya bahwa, upaya mencegah kemadharatan harus lebih diutamakan
daripada upaya menghadirkan kemaslahatan (َ‫ب على ُمقدَّمَ المفا ِس َِد د ْر ُء‬ َِ ‫)المصالِحَِ ج ْل‬. Mencegah kemadharatan
yang lebih besar dan luas harus lebih didahulukan daripada mencegah kemadharatan yang lebih kecil
dan terbatas. Upaya menghadirkan kemaslahatan dan kemanfaatan yang lebih besar dan luas lebih
diprioritaskan daripada mengupayakan kemaslahatan yang lebih kecil dan terbatas. Dan begitu
seterusnya.
KETIGA: Faktor situasi dan kondisi. Dimana faktor ini sendiri, pada gilirannya, sangat ditentukan
dan dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti misalnya: faktor perubahan atau pergantian zaman,
faktor perbedaan tempat, faktor peralihan marhalah (era/periode/tahapan), faktor terjadinya
peristiwa/kejadian tertentu, faktor ketersediaan kemampuan/potensi/sumber daya/daya
dukung/peluang (ini insyaallah dipisahkan dalam faktor keempat secara khusus), dan lain-lain. Dan
itu baik bagi individu maupun kelompok, bagi perorangan aktivis dakwah maupun bagi
setiap harakah. Nah dalam konteks ini, salah satu bidang ilmu yang paling dibutuhkan tentu saja
adalah ”fiqhul waqi’” (fiqih realitas).
Maka, dengan demikian, penentuan skala aulawiyat, baik dalam amal ibadah maupun dalam
perjuangan dakwah, bisa dan harus berbeda-beda dari zaman ke zaman, dari masa ke masa, dari era
ke era, dari marhalah ke marhalah, dari tempat ke tempat, dari negara ke negara, dari wilayah ke
wilayah, dari daerah ke daerah, dari peristiwa ke peristiwa, dari kejadian ke kejadian, dan begitu
seterusnya. Karena umumnya sikon (situasi dan kondisi) masing-masing memang telah berbeda
dengan yang lain. Sehingga sering dikatakan misalnya bahwa, setiap marhalah (era) memiliki kondisi
dan situasinya (sendiri yang berbeda dengan marhalah lain), qadhaya-qadhaya-nya, problematika-
problematikanya, tantangan-tantangannya, solusi-solusinya, dan tokoh-tokohnya yang cocok (َ‫م ْرحلةَ ِلكُ ِل‬
ُ ‫)و ِرجالُها و ُحلُ ْولُها وتَحدِياتُها و ُم ْشكِالتُها وقضاياها وأحْ والُها‬. Maka aulawiyat pada era generasi khalafus
‫ظ ُر ْوفُها‬
saleh misalnya tak sedikit yang sudah berbeda dengan aulawiyat pada era generasi salafus
saleh sebelumnya , apalagi dengan era dan zaman kita sekarang.
Sebagai contoh misalnya aulawiyat dalam sikon perang tentu pasti berbeda
dengan aulawiyat pada sikon damai. (Dalam konteks ini Syaikh Said Hawwa menyebutkan empat
hak “al-huquq al-arba’ah” [َُ‫ ]األ ْربع َةُ ال ُحقُ ْوق‬yakni: hak ilmu ”haqqul ’ilmi” [َ‫]الع ِْل َِم ح ُّق‬, hak tarbiyah ”haqqut
tarbiyah” [َ‫]الت َّ ْر ِبي َِة ح ُّق‬, hak dakwah ”haqqud da’wah” [َ‫ ]الدَّعْوةَِ ح ُّق‬dan hak sikon perang ”haqqul
ma’rakah” [َ‫)]الم ْعرك َِة ح ُّق‬. Berikutnya aulawiyat pada saat ke-jahil-an tentang Islam merata dan ulama
rujukan langka tentu berbeda dengan aulawiyat ketika ilmu syar’i tersebar dan ulama eksis dimana-
mana. Aulawiyat pada musim paceklikpanjang berbeda dengan aulawiyat pada ”musim”
masyarakat sejahtera. Aulawiyat pada musim wabah merajalela berbeda dengan aulawiyat pada
”musim” rakyat sehat sentosa. Aulawiyat pada ”musim” musibah dan bencana melanda: tsunami,
banjir, gunung meletus, tanah longsor, kecelakaan, kebakaran, asap, dan seterusnya, tentu berbeda
dengan aulawiyat pada saat kehidupan terbebas dari itu semua. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim menyatakan yang intinya bahwa, sesudah keimanan dan tauhid,
sebenarnya tidak ada suatu amal ibadah tertentu yang secara mutlak dan permanen merupakan amal
ibadah yang paling afdhal kapanpun dan bagi siapapun. Melainkan ke-afdhal-an itu akan berbeda-
beda sesuai perbedaan orang, zaman, tempat, situasi dan kondisi. Lalu beliau memberi contoh,
misalnya saat ke-jahil-an tentang Islam merata di masyarakat, maka amal ibadah yang paling afdhal
adalah menyebarkan ilmu. Saat musim kelaparan dan paceklik berkepanjangan, maka bersedekah
makanan merupakan amal ibadah yang paling prioritas. Dan begitu selanjutnya.
Sebagai tambahan, jika kita menoleh jauh ke belakang pada kisah perjuangan dakwah para nabi dan
rasul ’alaihimus-salam, maka dengan sangat jelas dan mudah kita akan dapati adanya perbedaan yang
sangat mencolok dalam penentuan prioritas issue dan tema dakwah antar mereka. Ya tentu saja
maksudnya adalah dalam hal prioritas issue/topik dakwah setelah tema prioritas yang paling prioritas
yakni masalah tauhid yang pasti sama semua. Dan hal itu sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh
situasi, kondisi dan keadaan ummat atau kaum yang dihadapi oleh setiap nabi dan rasul ’alaihis-
salam itu. Sehingga misalnya, prioritas issue/topik dakwah Nabi Nuh dan Nabi
Ibrahim ’alaihimassalam yang diutus kepada kaum penyembah sekaligus pembuat berhala, berbeda
dengan prioritas issue/topik dakwah Nabi Luth ’alaihissalamyang menghadapi kaum durjana
penyuka sesama jenis. Lalu prioritas issue/topik dakwah Nabi Hud ’alaihissalam dengan kaum ’Ad
dan Nabi Shalih ’alaihissalam dengan kaum Tsamud, yang terkenal dengan kesombongan dan
kecongkakan masing-masing karena merasa diri kuat dan hebat, berbeda dengan prioritas issue/topik
dakwah Nabi Syu’aib ’alaihissalam dengan kaum Madyan yang terkenal curang dalam timbangan dan
takaran. Dan begitu pula seterusnya dengan nabi-nabi dan rasul-rasul ’alaihimussalam yang lain.
Pada generasi-generasi terdahulu dari ummat inipun juga demikian, baik dari kalangan salafus-
saleh maupun khalafus-saleh-nya. Dimana setiap generasi atau periode dari mereka hampir selalu
memiliki prioritas-prioritas issue/tema dakwah dan masalah tertentu yang secara umum berbeda
dengan prioritas generasi atau periode yang lain. Oleh karena itu, jika ada kalangan aktifis sekarang,
di zaman ini, yang ingin hanya meng-copy paste saja seluruh prioritas issue sentral dakwah dari para
generasi terdahulu, karena ingin membuktikan ke-salafiyahan-nya misalnya, maka itu berarti
pertanda kelemahan fiqih dan pemahaman pada mereka!
KEEMPAT: Faktor momentum. Di dalam kehidupan ini, sebagai salah satu bentuk keluasan rahmat-
Nya, Allah Ta’ala senantiasa menyediakan momentum-momentum istimewa yang bisa membuat
ibadah-ibadah dan amal-amal tertentu menjadi lebih prioritas dan lebih spesial karenanya. Baik itu
berupa momentum waktu istimewa seperti bulan Ramadhan misalnya, atau momentum tempat
seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, maupun momentum peluang amal ibadah tertentu yang
sangat spesial karena faktor apapun selain itu. Maka

Misalnya kita ambil contoh momentun teristimewa bulan suci Ramadhan yang telah disepakati
keistimewaannya yang luar biasa oleh seluruh ummat Islam, berdasarkan dalil yang sangat banyak
sekali. Antara lain hadits berikut (yang artinya): “Apabila bulan Ramadhan telah tiba, maka pintu-
pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, pintu-pintu Neraka ditutup serapat-rapatnya, dan syetan-syetan
pengganggu dibelenggu/dirantai seerat-eratnya” (HR.Muttafaq ‘alaih). Dengan keistimewaan
tersebut, jenis amal ibadah apapun memang akan menjadi lebih istimewa saat dilakukan pada bulan
Ramadhan, dibandingkan waktu selainnya. Namun, meskipun begitu, tetap saja ada amal ibadah
spesial tertentu yang lebih diprioritaskan padanya daripada lainnya. Dan prioritas amal ibadah spesial
pada bulan Ramadhan, secara umum, minimal ada tujuh:

1. Puasa yang tentu saja merupakan primadona utama.


2. Shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah wabilkhusus
3. Tilawah Al-Qur’an. Sampai-sampai para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dulu biasa
meliburkan seluruh majelis taklim mereka selama Ramadhan, agar bisa lebih total dalam upaya
mengistimewakan bulan termulia dengan tilawah sebanyak-banyaknya.
4. Dzikir, doa dan istighfar. Karena Ramadhan memang merupakan salah satu momentum
terspesial bagi pengabulan doa dan pengampunan dosa.
5. I’tikaf, khususnya pada sepuluh malam terakhir, sebagai sarana terbaik untuk menggapai
kemuliaan lailatul qadar.
6. Infak dan sedekah sesuai teladan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
7. Berumrah di bulan Ramadhan yang bernilai pahala setara dengan haji bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah tujuh amal ibadah terspesial dan teristimewa
yang sangat dianjurkan agar lebih diprioritaskan, selagi bisa, selama bulan suci nan mulia.
Dimana kaidahnya, selama memiliki kemampuan dan keleluasaan, hendaknya masing-masing
kita senantiasa bermujahadah (berupaya keras seoptimal mungkin) untuk mengistimewakan,
memprioritaskan dan mengutamakannya atas amal-amal lainnya. Itu bagi siapa saja yang
secara umum berada dalam kesanggupan, kelonggaran dan keleluasaan.
KELIMA: Faktor kemampuan, kelebihan, potensi, kompetensi, kapasitas, amanah
dan mas’uliyah yang dimiliki serta peluang, sumber daya dan daya dukung yang tersedia, juga sangat
menentukan urutan skala prioritas amal ibadah dan dakwah bagi seseorang atau suatu lembaga.
Sehingga aulawiyat bagi ulama misalnya pasti berbeda dengan aulawiyat bagi orang
awam. Aulawiyatbagi siapapun yang diberi karunia kemampuan ilmu, potensi, kompetensi dan
profesi tertentu atau keahlian apapun di bidangnya masing-masing sudah barang tentu berbeda
dengan aulawiyat bagi yang tidak memiliki potensi-potensi, kelebihan-kelebihan dan keahlian-
keahlian tersebut. Aulawiyat bagi pemimpin/tokoh/mas’ul (sesuai tingkat kepemimpinan, kapasitas
ketokohan dan level mas’uliyah masing-masing) jelas sekali berbeda dengan aulawiyat bagi
masyarakat kebanyakan. Aulawiyat bagi orang kaya berbeda dengan aulawiyat bagi orang fakir
miskin. Aulawiyat bagi laki-laki secara umum sangat berbeda dengan aulawiyat bagi perempuan
(“َ‫)”كاأل ُ ْنثى الذَّك َُر وليْس‬. Aulawiyat bagi seorang suami juga sangat berbeda dengan aulawiyat bagi seorang
istri. Aulawiyat bagi orang tua berbeda dengan aulawiyat bagi anak. Aulawiyat bagi pelajar dan
mahasiswa berbeda dengan aulawiyat bagi selain mereka. Aulawiyat bagi yang telah berkeluarga
berbeda dengan aulawiyat bagi yang masih bujang/lajang. Aulawiyat bagi yang anaknya sepuluh
misalnya berbeda dengan aulawiyat bagi yang anaknya hanya dua atau apalagi satu. Dan begitu
seterusnya.
 Imam Malik rahimahullah dikisahkan pernah menulis surat balasan kepada seorang ulama
zuhud ahli ibadah sahabat beliau dengan mengatakan (yang intinya begini): Sesungguhnya
Allah Ta’ala telah membagi-bagi potensi dan kecenderungan (muyul) untuk amal diantara
hamba-hamba-Nya (secara berbeda-beda), sebagaimana Dia telah membagi-bagi rezeki
diantara mereka (secara berbeda-beda pula). Sehingga, karenanya, di dalam amal dan
ibadahpun mereka berbeda-beda. Dimana ada orang yang lebih kuat muyul dan
kecenderungan serta kesiapannya dalam memperbanyak ibadah shalat, dzikir, i’tikaf dan
tilawah misalnya, tapi tidak seperti itu dalam hal ibadah puasa. Sementara ada yang lebih
cenderung dan lebih semangat dalam beramal sedekah, infak dan bakti sosial misalnya, tapi
justru tidak seperti itu dalam hal ibadah-ibadah ritual mahdhah. Sebagaimana ada orang-orang
lainnya lagi yang lebih banyak menfokuskan diri dalam rangka menyebarkan ilmu misalnya,
atau mendidik, atau melakukan penelitian dan kajian, atau berdakwah, atau ber-amar
b,ilma’ruf wan-nahi ’anil munkar, atau berjihad (secara benar), dan lain-lain. Nah siapapun
yang beramal lebih banyak di bidang tertentu sesuai dengan potensi, kelebihan dan keahlian
diri yang telah dibagikan oleh Allah kepadanya, maka sungguh ia telah berada di dalam
kebaikan dan kemuliaan.
 Adapun tentang hikmah mengapa Allah membeda-bedakan pembagian potensi, kelebihan dan
keahlian serta kecenderungan diantara hamba-hamba-Nya seperti itu, maka tentu sudah sangat
jelas sekali bagi siapapun yang memahami tabiat hidup ini. Ya antara lain, karena bidang dan
aspek kehidupan ini memang sangat banyak dan sangat beragam sekali. Sementara potensi dan
kemampuan setiap orang telah diciptakan oleh Allah dengan segala keterbatasan yang tidak
memungkinkannya untuk mengisi dan menutup kebutuhan seluruh bidang kehidupan itu.
Maka Allah-pun, dengan hikmah-Nya, sengaja membeda-bedakan pemberian potensi dan
kelebihan diantara ummat manusia, agar antar satu sama lain bisa saling berbagi peran, saling
mengisi, saling menutupi, saling melengkapi dan saling menyempurnakan dalam memenuhi
kebutuhan serta tuntutan bidang-bidang kehidupan yang banyak dan beragam tersebut.
Dimana hanya dengan cara saling melengkapi dan saling berbagi peran itulah hidup ini akan
bisa berjalan dengan baik.
 Lalu, dengan adanya fakta pembagian potensi yang berbeda-beda tersebut, kitapun bisa
memahami dan memaknai bahwa, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan
bidang peran tertentu bagi setiap orang untuk ditunaikan olehnya di dalam kehidupan ini. Ya
apa lagi kalau bukan peran tertentu khusus yang sesuai dengan potensi, kemampuan dan
kelebihan diri yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya? Ditambah lagi sebagaimana kita
ketahui bahwa, jalan kebaikan, sarana ketaatan, wasilah pahala, dan ”pintu” Surga itu banyak
serta beragam sekali. Nah, mengapa orang-orang berimana bisa masuk Surga dari pintu yang
berbeda-beda? Tiada lain kecuali karena amal ketaatan dan peran kebaikan yang mereka lebih
istimewakan selama hidup di dunia, sesuai potensi dan kelebihan masing-masing, memang
beragam dan berbeda-beda. Jadi ketika Allah mengaruniakan nikmat-Nya berupa potensi,
kelebihan dan keahlian diri di bidang tertentu kepada seseorang diantara kita, maka mestinya
ia harus mengerti, memahami dan menyadari bahwa, dengan begitu, seolah-olah Allah telah
mengirimkan pesan khusus kepadanya yang kira-kira isinya begini: Ingat, sesuai bidang
potensi, kelebihan dan keahlian yang Aku bagikan kepadamu itulah peran utamamu di dalam
hidup dan sekaligus jalan serta pintu spesialmu menuju Surga! Maka janganlah justru kamu
tinggalkan untuk sibuk mencari bidang peran, jalan dan pintu lain!!! Harap dicamkan!
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa berinfak dengan
sepasang (harta miliknya) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu Surga (yang
berbeda-beda): Hai hamba Allah! Sungguh ini lebih baik (baik sekali). Lalu barangsiapa
termasuk ahli shalat, maka ia akan dipanggil (agar masuk Surga) dari pintu shalat. Barangsiapa
termasuk ahli jihad, maka ia akan dipanggil (agar masuk Surga) dari pintu jihad. Barangsiapa
termasuk ahli puasa, maka ia akan dipanggil (agar masuk Surga) dari pintu Ar-Rayyan.
Barangsiapa termasuk ahli sedekah, maka iapun akan dipanggil (agar masuk Surga) dari pintu
sedekah. Lalu Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata : Ya Rasulallah, …. adakah orang
yang akan dipanggil dari semua pintu itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menjawab: Ya, ada, dan aku harap engkau adalah salah seorang diantara
mereka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
 Oleh karena itu, dalam konteks ini, sangat urgen sekali bagi setiap muslim/muslimah untuk
ber-ta’aruf sebaik mungkin dengan dirinya sendiri dalam rangka mengenali nikmat potensi dan
kelebihan diri yang Allah karuniakan dan bagikan kepadanya. Karena dengan begitu ia akan
bisa mensyukurinya sesuai perintah agama. Dan salah satu bentuk syukur terbaik atas nikmat
potensi dan kelebihan diri itu adalah dengan menjadikannya sebagai sarana bagi prioritas amal
ibadahnya, juga prioritas bidang kontribusinya dalam dakwah disamping sekaligus merupakan
prioritas perannya di dalam kehidupan secara umum.
 Jadi dengan semua pemaparan diatas itu, insyaallah telah gamblang-lah bagi kita semua
bahwa, salah satu faktor penentu utama bidang prioritas amal, ibadah, kontribusi dan peran
bagi seseorang diantara kita adalah faktor potensi, kemampuan, kelebihan dan keahlian diri
yang dimilikinya. Maka hendaklah ia mengoptimalkannya. Dan sekaligus hendaklah berhati-
hati jangan sekali-kali malah meninggalkannya untuk mengejar prioritas amal dan peran pada
selain bidang potensi dan kelebihannya! Karena Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali memasukkan
orang yang seperti itu ke dalam kategori orang-orang yang tertipu dan terpedaya oleh diri
sendiri (َ‫)الم ْغ ُر ْو ِرينَ مِ ن‬. Beliau lalu memberi contoh seperti orang kaya raya yang diberi nikmat
harta melimpah oleh Allah Ta’ala. Dimana, sesuai kaidah diatas, itu berarti bahwa, amal ibadah
prioritas baginya yang sekaligus merupakan jalan dan pintu utama baginya untuk masuk Surga
adalah dengan memperbanyak jenis amal ibadah harta seperti berzakat, berinfak, bersedekah,
menyelamatkan orang yang kelaparan, menolong orang yang terlilit hutang, membiayai
pengobatan orang-orang sakit, menyantuni korban bencana, mengongkosi perjuangan dakwah,
mendanai pendidikan, membangun masjid, mendirikan sekolah, mendonaturi pesantren dan
lain sebagainya sejenis itu. Akan tetapi ia tidak melakukan itu semua, atau sangat minim sekali
kontribusinya pada bidang-bidang sosial itu, melainkan justru lebih sibuk ”merebut” lahan
prioritas amal ibadah orang-orang fakir miskin, dengan banyak shalat, i’tikaf, tilawah Al-
Qur’an, puasa dan semacamnya! Ya Imam Al-Ghazali rahimahullah menjuluki orang ”saleh
salah alamat” seperti itu sebagai orang maghrur (tertipu dan terpedaya dengan dirinya
sendiri). Kemudian beliau mengutip kalimat luar biasa dalam maknanya yang tertulis dengan
tinta emas dari salah seorang ulama salaf ahli zuhud. Beliau adalah Imam Bisyr Al-
Hafi rahimahullah, dimana pernah disampaikan kepada beliau tentang seorang kaya raya yang
banyak sekali ibadah shalat dan puasanya. Maka beliaupun berkomentar: Sungguh kasihan
sekali dia, meninggalkan ”lahan”-nya sendiri dan malah masuk ke dalam ”lahan” orang lain! Ini
terjemahan bebas dari kalimat asli yang berbunyi: (َُ‫ِي ودخلَ حال َهُ تركَ المِ ْس ِكيْن‬ َِ ‫( )غي ِْر َِه ح‬Al-Ihya’ oleh
َْ ‫ال ف‬
Imam Al-Ghazali: 3/402).
 Selanjutnya silakan diqiyaskan atau dianalogikan ke contoh diatas semua kondisi serupa
dengan pelaku dan keahlian yang berbeda-beda, namun secara umum ”mengidap penyakit”
yang sama. Dimana masinng-masing, sangat mungkin termasuk juga kita di dalamnya,
meninggalkan dan menelantarkan lahan prioritas amal serta perannya, sesuai kelebihan dan
keahliannya, tapi justru lebih sibuk dan lebih asyik masuk bahkan mungkin sampai ”merebut”
lahan prioritas amal dan peran orang lain. Seperti misalnya ulama yang meninggalkan dan
mengabaikan lahan asasinya dengan menyebarkan ilmu, tapi justru lebih memilih masuk ke
lahan prioritas amal ibadah orang awam. Atau sebaliknya, orang awam yang memaksakan diri
masuk ke lahan prioritas ulama. Atau juga seorang profesional di bidang keahlian apapun yang
meninggalkan lahan prioritasnya sebagai profesional di bidangnya, tapi malah lebih asyik
masuk ke lahan prioritas kalangan non profesional. Apalagi seorang pemimpin, pejabat,
tokoh, mas’ul dan pengemban amanah tertentu yang mengabaikan lahan prioritasnya sebagai
pemimpin, tokoh dan mas’ul, tapi justru lebih memilih masuk ke lahan prioritas orang
kebanyakan. Seperti juga seorang laki-laki yang meninggalkan lahan prioritasnya sebagai laki-
laki, tapi malah masuk ke lahan prioritas perempuan. Atau sebaliknya, seorang perempuan
yang meninggalkan lahan prioritasnya sebagai perempuan, tapi justru lebih sibuk
”memaksakan diri” masuk ke lahan prioritas kaum laki-laki. Seorang suami yang
menelantarkan lahan prioritasnya sebagai kepala keluarga, tapi malah lebih asyik masuk ke
lahan prioritas istrinya. Atau juga sebaliknya, seorang istri yang mengabaikan lahan
prioritasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga, tapi justru lebih mengutamakan masuk ke
lahan prioritas suaminya. Ada pula orang tua yang menyia-nyiakan lahan prioritasnya sebagai
orang tua, tapi justru lebih memilih masuk ke lahan prioritas anaknya. Lalu seseorang yang
telah berkeluarga namun meninggalkan lahan prioritasnya sebagai orang berkeluarga, dan
justru tetap masuk ke lahan prioritas orang bujang/lajang. Demikian pula pemilik sepuluh anak
misalnya yang mengabaikan lahan prioritasnya, dan malah masuk ke lahan prioritas pemilik
dua atau bahkan seorang anak saja. Lalu contoh terakhir misalnya juga seperti seorang
pelajar/mahasiswa yang meninggalkan lahan prioritasnya sebagai pelajar/mahasiswa, dan
justru lebih sibuk masuk ke lahan prioritas non pelajar/mahasiswa. Dan seperti itu seterusnya,
bisa ditambahkan dengan contoh-contoh lain yang berbeda-beda.
 Demikian pula misalnya dalam konteks institusi pendidikan, lembaga sosial, organisasi massa,
gerakan dakwah, partai politik dan semacamnya, dalam menggariskan dan mencanangkan
agenda, program serta daftar prioritas-prioritasnya, haruslah mengacu, mempertimbangkan
dan mendasarkannya pada faktor ketersediaan sumber daya, daya dukung, potensi, peluang
dan semacamnya yang dimiliki.

Kaidah-Kaidah dalam Fiqih Aulawiyat:


1. Mendahulukan ilmu dan pemahaman atas perkataan dan amal perbuatan.
2. Mendahulukan aqidah dan iman atas amal perbuatan.
3. Mendahulukan yang fardhu dan wajib atas yang nafilah dan sunnah.
4. Mendahulukan yang fardhu ’ain atas yang fardhu kifayah.
5. Mendahulukan fardhu ’ain yang lebih penting atas fardhu ’ain yang lebih rendah tingkat
kepentingannya.
6. Mendahulukan fardhu kifayah yang lebih penting atas fardhu kifayah yang lebih rendah tingkat
kepentingannya.
7. Mendahulukan fardhu kifayah yang tidak ada pelakunya atas fardhu kifayah yang sudah ada
pelakunya.
8. Mendahulukan yang disepakati atas yang diperselisihkan.
9. Mendahulukan yang manfaatnya lebih luas atas yang manfaatnya terbatas.
10. Mendahulukan yang global (kulliyat) atas yang spesifik (juz’iyat).
11. Mendahulukan yang prinsip (ushul) atas yang cabang (furu’)
12. Mendahulukan yang penting dan mendesak atas yang penting tetapi tidak mendesak
(mendahulukan yang harus disegerakan atas yang bisa ditunda).
13. Mendahulukan yang primer (dharuriyat) atas yang sekunder (hajiyat) dan tersier (tahsiniyat)
14. Mencegah kemadharatan didahulukan atas mendatangkan kemanfaatan
15. Mencegah kemadharatan yang lebih besar atas mencegah kemadharatan yang lebih kecil.
16. Mendahulukan kemaslahatan yang lebih besar atas kemaslahatan yang lebih kecil.
17. Mendahulukan kemaslahatan umum (orang banyak) atas kemaslahatan khusus dan individual.
18. Mendahulukan substansi atas kemasan (format).
19. Mendahulukan kualitas atas kuantitas.
20. Dan lain-lain.