Anda di halaman 1dari 4

PEMBERONTAKAN DARUL ISLAM / TENTARA ISLAM INDONESIA

(DI/TII)

1. LATAR BELAKANG
a. DI/TII Jawa Barat

Terjadi karena kekecewaan dan penolakan sekelompok rakyat tentang perundingan


Renville yang mengharuskan TNI di wilayah Jawa Barat hijrah ke wilayah Indonesia yang
telah ditetapkan dalam perundingan Renville, yaitu Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera.

b. DI/TII Jawa Tengah

Terjadi karena penolakan perundingan Renville yang memaksa TNI dan laskar perjuangan
hijrah ke Yogyakarta.

c. DI/TII Sulawesi Selatan

Terjadi karena kekecewaan Kahar Muzakkar terhadap penolakan pemerintah untuk


memasukkan semua anggota Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) ke dalam pasukan
TNI, namun hanya beberapa saja anggota KGSS yang dimasukkan dalam TNI karena
memenuhi syarat, sedangkan sisanya akan dimasukkan ke Korps Cadangan.

d. DI/TII Kalimantan Selatan

Terjadi karena ketidakpuasan rakyat dan Ibnu Hadjar yang merupakan mantan prajurit
TNI yang juga memimpin Kesatuan Rakyat Yang Tertindas (KRYT), terhadap kinerja
Pemerintah Pusat.

e. DI/TII Aceh

Pemberontakan ini muncul karena rakyat kecewa akibat penurunan status Daerah
Istimewa Aceh menjadi keresidenan di bawah Provinsi Sumatera Utara pasca kembalinya
Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1955
2. KRONOLOGI KEJADIAN
a. DI/TII Jawa Barat

Tanggal 7 Agustus 1947, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam


Indonesia (NII) dengan presidennya S.M. Kartosuwiryo.

Gerakan Darul Islam dan terbentuknya Tentara Islam Indonesia terdiri atas Laskar Hisbullah
dan Sabilillah. Mereka menolak perundingan Renville tentang hijrah ke Yogyakarta, dan
mereka menetap di Jawa Barat sehingga sering ada bentrokan antara TNI dan pasukan
Kartosuwiryo.

b. DI/TII Jawa Tengah

Pada 23 Agustus 1949, Amir Fatah memproklamasikan berdirinya DI/TII di daerah Jawa
Tengah dan menyatakan ikut bergabung bersama DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.

Di kebumen juga muncul di daerah Kebumen, dengan nama Angkatan Umat Islam dan
dipimpin oleh Mahfudz Abdurachman (Kyai Somolangu). Gerakan DI/TII diperkuat karena
semakin banyak yang bergabung dengan mereka di Kudus dan di Magelang, sehingga
mereka menyatakan bahwa mereka bergabung dalam NII pimpinan Kartosuwiryo.

c. DI/TII Sulawesi Selatan

Tanggal 17 Agustus 1953, Kahar Muzakkar menyatakan bahwa Sulawesi Selatan adalah
bagian dari DI/TII Kartosuwiryo dan KGSS berubah namanya menjadi Tentara Islam
Indonesia.

d. DI/TII Kalimantan Selatan

Pada bulan Oktober tahun 1950, Ibnu Hadjar dan Kesatuannya di Kalimantan Selatan
menyatakan bergabung dengan NII gerakan Kartosuwiryo sehingga Ibnu Hadjar juga
dijadikan Menteri Negara.

e. DI/TII Aceh

Tanggal 20 September 1953, Daud Beureuh yang merupakan pemimpin Persatuan Ulama
selruh Aceh (PUSA) memiliki banyak pengikut sehingga ia mengumumkan bahwa Aceh
merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo.
3. PENUMPASAN
a. DI/TII Jawa Barat

Upaya penumpasan pertama adalah pemerintah RI mengirimkan Muhammad Natsir untuk


mengajak Kartosuwiryo membubarkan dan menghentikan gerakan Negara Islam Indonesia
dan DI/TII dan meminta segera bergabung kembali ke dalam NKRI, namun upaya tersebut
tidak berhasil.

Tanggal 27 agstus 1959, bentrokan antara TNI dan TII terjadi dengan tujuan menumpas
gerakan DI/TII hingga ke daerah Gunung Geber, Majalaya dengan nama Operasi
Baratayudha dengan strategi pagar betis sehingga Kartosuwiryo ditangkap pada tanggal 4
juni 1962.

b. DI/TII Jawa Tengah

Upaya penumpasan dilakukan pemerintah dengan membentuk pasukan Banteng Raiders


dan Operasi Guntur yang berhasil menumpas gerakan ini pada tahun 1954.

c. DI/TII Sulawesi Selatan

Pemerintah berupaya mengajak Kahar Muzakkar bergabung kembali dengan TNI dan NKRI.
Namun, Kahar Muzakkar menolak dan melarikan diri sampai akhirnya pada 3 Februari 1965,
Kahar Muzakkar tewas tertembak oleh TNI saat operasi militer penumpasan gerakan DI/TII.

d. DI/TII Kalimantan Selatan

Upaya penumpasan pernah dilakukan dengan cara pemerintah mengajak Ibnu Hadjar
bedamai, namun cara itu sia-sia karena pemerintah selalu terkena tipu daya dari Ibnu
Hadjar.

Upaya penumpasan dengan operasi militer berhasil dilaukan, dan akhirnya Ibnu Hadjar
berhasil ditangkap pada 1959 dan mendapat hukuman mati pada tanggal 22 Maret 1965.

e. DI/TII Aceh

Dilakukan dengan cara damai, pada tanggal 17-28 Desember 1962 Musyawarah Kerukunan
Rakyat Aceh dilakukan, yang merupakan gagasan dari Pangdam I/Iskandar Muda, Kolonel M
Yasin yang didukung oleh tokoh pemerintah daerah dan masyarakat Aceh. Hasil
musyawarah tersebut pemerintah menawarkan amnesti kepada Daud Beureuh bersedia
kembali ke tengah masyarakat. Dengan kembalinya Daud Beureuh ke tengah masyarakat
menandai berakhirnya pemberontakan DI/TII.
4. TOKOH-TOKOH DALAM PEMBERONTAKAN
a. DI/TII Jawa Barat

Tokoh yang terlibat pada pemberontakan DI/TII Jawa Barat adalah Sekar Marijan
Kartosuwiryo. ia merupakan pendiri gerakan DI/TII dan merupakan presiden dari Negara
Islam Indonesia (NII).

b. DII/TII Jawa Tengah

Amir Fatah ialah seorang komandan laskar Hizbullah di Tulangan, Sidoarji, dan Mojokerto. Ia
juga yang memproklamasikan bahwa daerah Jawa Tengah merupakan dari NII.

Mahfudz Abdurachman (Kyai Somolangu) yang merupakan pemimpin dari Angkatan Umat
Islam di Kebumen, yang juga menyatakan bahwa mereka bergabung kepada NII dan
merupakan bagian dari DI/TII.

c. DI/TII Sulawesi Selatan

Kahar Muzakkar merupakan mantan prajurit TNI di wilayah Sulawesi Selatan. Ia


merupakan pendiri dari Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang merupakan berubah
naman menjadi TII dan Kahar Muzakkar menyatakan bahwa ia kan KGSS bergabung dengan
DI/TII Kartosuwiryo.

d. DI/TII Kalimantan Selatan

Ibnu Hajar alias Haderi bin Umar alias Angli adalah bekas Letnan Dua TNI yang kemudian
menyatakan bahwa ia dan pasukannya bergabung dengan DI/TII. Ia juga merupakan Menteri
Negara di Negara Islam Indonesia.

e. DI/TII Aceh

Tengku Daud Beureuh merupakan pemimpin pemberontakan DI/TII Aceh. Ia merupakan


ketua PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) serta bekas Gubernur Militer Daerah Istimewa
Aceh di masa Revolusi.