Anda di halaman 1dari 77

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di


unit gawat darurat suatu rumah sakit. Menurut hippocrates bahwa tidak ada cedera
kepala yang perlu dikhawatirkan serius yang bisa kita putus harapan dan tidak ada
juga keluhan yang dapat kita abaikan. Setiap tahun di Amerika Serikat mencatat
1,7 juta khasus trauma kepala, 52.000 pasien meninggal dan selebihnya dirawat
inap. Trauma kepala juga merupakan penyebab kematian ketiga dari semua jenis
trauma yang dikaitkan dengan kematian. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
National Trauma Project di Islamic Republic of Iran bahwa diantara semua jenis
trauma tertinggi yang dilaporkan yaitu sebanyak 78,7% trauma kepala dan
kematian paling banyak juga disebabkan oleh trauma kepala.

Penyebab utama trauma kepala adalah kecelakaan lalu lintas, kekerasan dan
terjatuh. Pejalan kaki yang mengalami tabrakan kendaraan bermotor merupakan
penyebab trauma kepala terhadap pasien anak-anak bila dibandingkan dengan
pasien dewasa. Estimasi sebanyak 1,9 juta hingga 2,3 juta orang menerima
perawatan kecederaan yang tidak fatal akibat kekerasan.

Medulla spinalis adalah bagian dari system saraf yang membentuk system
kontinu dengan batang otak yang keluar dari hemisfer, serebral dan memberikan
tugas sebagai penghubung otak dan saraf perifer, seperti pada kulit dan otot.
Panjangnya rata-rata 45 cm dan menipis pada jari-jari. Medulla spinalis ini
pemanjangan dari foramen magnum di dasar tengkorak sampai ke bagian lumbai
kedua tulang belakang, yang berakhir di dalam berkas serabut yang disebut konus
medullaris. Seterusnya di bawah lumbal kedua adalah akar saraf yang memanjang
melebihi konus, dan disebut kauda equine dimana akar saraf ini menyerupai akar
kuda.
Selain cedera kepala, medulla spinalis juga lebih dominan pada pria, kasus ini
akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor , selain itu banyak akibat jatuh, olahraga
dan kejadian industry dan luka tembak. Sehingga terjadi masalah atau gangguan yang
menghambat kerja saraf. Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai asuhan
keperawatan dengan klien trauma kepala dan trauma medulla spinalis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan trauma?
2. Apa yang dimaksud dengan trauma kepala?
3. Apa yang dimaksud dengan trauma medulla spinalis?
4. Jelaskan asuhan keperawatan dari trauma kepala?
5. Jelaskan asuhan keperawatan dari trauma medula spnalis?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari trauma.
2. Untuk mengetahui pengertian dari trauma kepala.
3. Untuk mengetahui pengertian dari trauma medulla spinalis.
4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari trauma kepala.
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari trauma medula spnalis.
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian trauma

Trauma adalah keadaan yang disebabakan oleh luka atau cedera. Definisi ini
memeberikan gambaran superpisial dari respon fisik terhadap cedera.(EGC,2004)

Trauma adalah kejadian yang bersifat holistic dan dapat menyebabkan hilangnya
produktivitas seseorang .(EGC,2004)

Trauma adalah cedera fisik dan atau psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera
.(EGC,2004)

2.2 TRAUMA KEPALA


 Pengertian
Trauma atau cedera kepala dikenal sebagai cedera otak adalah gangguan fungsi
normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Deficit
neurologis terjadi karena robeknya substansi alba, iskemia, dan pengaruh masa
karena hemoragik, serta edema serebral di sekitar jaringan otak.
 Anatomi dan Fisiologi
ANATOMI
 Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit,
connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea
aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan
pericranium.
 Tulang tengkorak
Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) danbasis kranii . Tulang
tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan
oksipital . Kalvaria khususnya diregio temporal adalah tipis, namun disini
dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii berbentuk tidak rata sehingga dapat
melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan
deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior
tempat lobus frontalis,fosa media tempat temporalis dan fosa posteriorruang
bagi bagian bawah batang otak dan serebelum
 Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan
yaitu :
 Dura mater
Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal
dan lapisan meningeal .Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri atas
jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari
kranium.Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka
terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara dura mater
dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural.Pada cedera otak,
pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus
sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat
mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural.Sinus sagitalis
superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus
sigmoideus.Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan
hebat.Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam
dari kranium (ruang epidural).Adanya fraktur dari tulang kepala
dapatmenyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan
epidural.Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningeamedia
yang terletak pada fosa temporalis (fosa media).
 Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Selaput
arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar
yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang
potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater olehspatium
subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan sub arakhnoid
umumnya disebabkan akibat cedera kepala.
 Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adarah
membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan
masuk kedalam sulci yang paling dalam.Membrana ini membungkus saraf otak
dan menyatu dengan epineuriumnya.Arteri-arteri yang masuk kedalam
substansi otak juga diliputi oleh pia mater.
 Otak
Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa
sekitar 14 kg. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu; Proensefalon (otak
depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan
rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons, medula oblongata dan
serebellum.Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal
berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara.Lobus
parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang.Lobus
temporal mengatur fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggungjawab
dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem
aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan.Pada
medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum
bertanggungjawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan.
 Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan
kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel
lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III, akuaduktus dari sylvius
menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui
granulasio arakhnoid yangterdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya darah
dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu
penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intrakranial.Angka rata-
rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan
dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari.
 Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial
(terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial
(berisi fosa kranii posterior).
 Perdarahan Otak
Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.Keempat
arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk
circulus Willisi.Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam
dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup.Vena tersebut keluar
dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis
FISIOLOGI
 Tekanan intrakranial (TIK) dipengaruhi oleh volume darah intrakranial, cairan
secebrospinal dan parenkim otak. Dalam keadaan normal TIK orang dewasa
dalam posisi terlentang sama dengan tekanan CSS yang diperoleh dari lumbal
pungsi yaitu 4 – 10 mmHg . Kenaikan TIK menurunkan perfusi otak dan
menyebabkan ataumemperberat iskemia.Prognosis yang buruk terjadi pada
penderita dengan TIK lebih dari 20 mmHg, terutama bila menetap.
 Pada saat cedera, segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat terus
bertambah sementara TIK masih dalam keadaan normal. Saat pengaliran CSS
dan darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi maka TIK secara cepat
akan meningkat. Sebuah konsep sederhana dapat menerangkan tentang
dinamikaTIK.Konsep utamanya adalah bahwa volume intrakranial harus selalu
konstan, konsep ini dikenal dengan Doktrin Monro-Kellie.
 Otak memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16%
dari cardiac output, untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup . Aliran
darah otak (ADO) normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml
per 100gram jaringan otak per menit. Pada anak, ADO bisa lebih besar
tergantung pada usainya. ADO dapat menurun 50% dalam 6-12 jam pertama
sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO akan meningkat
dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita yang tetap koma ADO tetap di
bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah cedera.
Mempertahankan tekanan perfusi otak/TPO (MAP-TIK) pada level 60-70
mmHg sangat rirekomendasikan untuk meningkatkan ADO.
 Jenis Trauma Kepala
 Cedera kulit kepala
Luka pada kulit kepala merupakan tempat masuknya kuman yang dapat
menyebabkan infeksi intracranial. Trauma dapat menyebabkan abrasi,
kontusio, laserasi, atau avulsi.
 Fraktur tengkorak
Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak yang
disebabkan oleh trauma. Ini dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak.
Adanya fraktur tengkorak dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat.
Fraktur tengkorak dapat terbuka atau tertutup. Pada fraktur tengkorak terbuka
terjadi kerusakan pada dura master sedangkan pada fraktur tengkorak tertutup
keadaan dura mater tidak rusak.
 Gejala klinis
Gejala-gejala yang timbul bergantung pada jumlah dan distribusi cedera otak.
Nyeri yang menetap atau setempat, biasanya menunjukkan adanya fraktur.
Fraktur kubah cranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur, sehngga
penegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan foto tengkorak.
Fraktur dasar tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang frontal
atau lokasi tengah telinga ditulang temporal, perdarahan sering terjadi dari
hidung, faring, atau telinga dan darah terlihat di bawah konjuktiva. Suatu area
ekimosis mungkin terlihat di atas mastoid.
Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika cairan serebrospinal (CCS) keluar dari
telinga (otore serebrospinal). Keluar nya CCS merupakan masalah serius
karena dapat menyebabkan infeksi seperti meningitis, jika organisme masuk ke
dalam basis kranii melalui hidung, telinga, atau sinus melalui robekan pada
dura mater. Laserasi atau kontusio atap ditunjukkan oleh CCS yang
mengandung darah.
Evaluasi diagnostic dapat dilakukan melalui pengkajian fisik, pengkajian
fungsi neurologis, pemetiksaan CT-Scan kepala, MRI, dan angiografi serebral.
 Penatalaksanaan medis
Fraktur tulang impresi pada umumnya tidak memerlukan tindakan
pembedahan, tetapi memerlukan observasi yang ketat. Fraktur tulang tanpa
impresi memerlukan pembedahan. Fraktur dasar tengkorak merupakan keadan
serius karena biasanya terbuka (dan mengenai sinus paranasal atau telinga
bagian tengah) dan dapat menyebabkan bocornya CSS. Tanda halo adalah
kombinasi darah yang dikelilingi noda berwarna kekuning-kuningan dan
terlihat pada linen tempat tidur dan balutan kepala. Tanda ini merupakan kesan
pasti adanya kebocoran CSS. Kebersihan nasofaring dan telinga tengah dapat
dipertahankan dengan mnempelkan kapas steril pada telinga atau lubang
telinga untuk menampung cairan yang keluar. Klien yang sadar harus
dianjurkan untuk menahan bersin dan menekan hidung. Tinggikan kepala klien
300 untuk mengurangi tekanan intracranial dan menahan kelarnya cairanyang
bocor secara spontan.
 Komosio serebri (Cedera kepala ringan)
Setelah cedera kepala ringan, akan terjadi kehilangan fungsi neurologis
sementara dan tanpa kerusakan struktur. Komosio (commotion) umumnya
meliputi suatu periode tidak ssdar yang berakhir selama beberapa detik sampai
beberapa menit. Keadaan komosio ditunjukan dengan gejala pusing atau
berkunang-kunang dan terjadi kehilangan kesadaran penuh sesaat. Jika
jaringan otk di lobus prontal terkena, klien akan berperilaku sedikit aneh,
sementara jika lobus temporal yang terkena maka akan menimbulkan amnesia
disorientasi.
Penatalaksanaan meliput kegiatan mengobservasi klien terhadap adanya sakit
kepala, pusing, peningkatan kepekaan terhadap rangsang, dan cemas;
memberikan informasi, penjelasan, dan terhadap klien tentang dampak
pascakomosio; melakukan perawatan 24jam sebelum klien dipulangkan;
memberitahukan klien/keluarga untuk segera membawa klien kembali ke
rumah sakit apabila ditemukan tanda-tanda sukar bangun, sukar bicara,
konvulsi (kejang), sakit kepala berat, muntah, dan kelemahan pada salah satu
sisi tubuh; menganjurkan klien untuk melakukan kegiatan normal secara
perlahan dan bertahap.
 Kontusio serebri (cedera kepala berat)
Kontusio serebri(cerebri contusion) merupakan cedera kepala berat, dimata
otak mengalami memar dengan memungkinkan adanya daerah yang
mengalami perdarahan (hemoragik-hemorrhage). Klien berada pada periode
tidak sadarkan diri. Gejala akan timbul dan lebih khas. Klien terbaring
kehilangan gerakan, denyut nadi lemah, pernapasan dangkal, kulit dingin dan
pucat. Sering terjadi defekasi dan berkemih tanpa disadari. Klien dapat
diusahakan bangun tetapi segera masuk kembali kedalam keadaan tidak sadar.
Tekanan darah dan sub normal dan gambaran sama dengan syok.
Umunya individu mengalami cedera luas mengalami fungsi motorik abnormal,
gerakan mata abnormal, dan peningkatan TIK yang merupakan prognosis
buruk. Sebaliknya, klien dapat mengalami pemulihan kesadaran penuh dan
mungkin melewati tahap peka rangsang serebral.
Dalam tahap peka rangsang serebral sadar tetapi sebaliknya mudah terganggu
oleh suatu bentuk stimulasi suara, cahaya, dan bunyi-bunyian dan kadang
menjadi hiperaktif. Denyut nadi, pernapasan, suhu, dan fungsi tubuh lainnya
beragsur-angsur kembali normal walau pun pemulihan sering terjadi dan sering
terjadi lambat. Sisa sakit kepala dan vertigo biasanya terjadi. Gangguan fungsi
mental atau kejang sering terjadi akibat kerusakan serebral yang tidak dapat di
perbaiki.
 Hemoragik intracranial
Pengumpalan darah (hematoma) yang terjadi dalam kubah cranial adalah
akibat yang paling serius dari hemoragik cedera kepala. Penimbunan darah
pada rongga epidural (epidural hematoma), subdural, atau intraserebral,
bergantung pada lokasinya. Deteksi dan penanganan hematoma sering kali
lambat dilakukan sehingga hematoma tersebut cukup besar untuk
menyebabkan distrosi dan herniasi otak serta peningkatan TIK.
Tanda dan gejala dari iskemik serebral yang diakbitakan oleh kompersi karena
hematoma bervariasi dan bergantung pada kecepatan dimana daerah vital pada
daerah otak terganggu. Umumnya, hematoma kecil yang terbentuk dengan
cepat akan menjadi fatal sedangkan hematoma yang terbentuk secara lambat
akan memungkinkan klien utnuk beradaptasi .
 Hematoma epidural (hematoma ektradural atau hemoragik)
Setelah cedera kepala, darah berkumpul didalam ruang epidural (ekstradural)
diantara tenggkorak dan dura mater. Keadaan ini sering diakibatkan karena
terjadi fraktur tulang tengkorak yang menyebabkan arteri menigeal tengah
putus atau rusak (laserasi) dimana arteri ini berada di dura mater dan tengkorak
daerah inferior menuju bangian tipis tulang temporal dan terjadi hemoragik
sehingga menyebabkan penekanan pada otak.
Gejala klinis yang timbul akibat perluasan hematoma cukup luas. Biasanya
terlihat adanya kehilangan kesadaran sebentar pada saat cedera, diiikuti dengan
pemulihan yang nyata secara perlahan-lahan (interval yang jelas).
Penatalaksanaan untuk hematoma epidural dipertimbangkan sebagai keadaan
darurat yang ekstrim, dimana deficit neurologis atau berhentinya pernapasan
dapat terjadi dalam beberapa menit. Tindakan yang dilakukan terdiri atas
membuat lubang pada tengkorak (burr), mengangkat bekuan, dan mengontrol
perdarahan.
 Hematoma subdural
Hematoma subdural adalah pengumpulan darah pada ruang diantara dura
mater dan dasar otak, yang pada keadaan normal. Hematoma subdural paling
sering disebabkan karena trauma tetapi dapat terjadi karena kecenderungan
perdarahan yang serius dan aneurisma.
Hematoma subdural dapat terjadi akut, sub akut, atau kronis, bergantung pada
ukuran pembuluh darah yang terkena dan jumlah perdarahan yang terjadi.
Hematoma subdural akut dihubungkan dengan cedera kepala mayor yang
meliputi kontosio atau laserasi. Biaanya klien dalam keadaan koma atau
mempunyai tanda klinis yang sama denga hematoma epidural, tekanan darah
meningkat dengan frekuensi nadi lambat dan pernapasan cepat sesuai dengan
peningkatan hematoma yang cepat.
Hematoma subbral subakut adalah sekuel dari kontusio sedikit berat dan
dicurigai ada klien dengan kegagalan untuk meningkatkan kesadaran setelah
trauma kepala. Tanda dan gejala yang timbul sama seperti ada hematoma
subdural akut.
Hematoma subdural kronik tampaknya dapat terjadi karena cedera kepala
minor dan terlihat sering pada lansia. Lansia cenderung mengalami cedera
kepala tipe ini akibat atrofi otak, yang diperkirakan karena penuaan.
Hematoma subdural kronik menyerupai kondisi klien dan mungkin dianggap
sebagai stroke tindakan terhadap hematoma subdural kronis terdiri atas bedah
penggangkatan bekuan dengan menggunakan penghisap dan pengirigasian area
tersebut. Proses ini dapat dilakukan melalui pembuatan lubang (burr) ganda
atau kraniotomi yang dilakukan untuk lesi massa subdural yang cukup besar
yang tidak dapat dilakukan melalui pembuatan lubang (burr)
 Hemoragik intraserebral dan hematoma
Hemoragik inraserebral adalah perdarahan dalam substansia otak. Hemoragik
ini biasanya terjadi pada cedera kepala dimana tekanan mendesak ke kepala
sampai ke daerah kecil (cedar peluru atau luka tembak, cedera tumpul).
Hemoragik ini di dalam otak mungkin juga diakibatkan oleh hipertensi sitemik
yang menyebabkan degenerasi dan rupture pembuluh darah, rupture kantong
aneurisma, anomaly vascular, tumor intracranial, penyebab sistemik termasuk
gangguan perdarahan seperti leukemia, hemophilia, anemia aplastik dan
trombositopenia serta komplika terapi antikoagulan.
Terapi medis meliputi pemberian cairan dan elktrolit yang cermat, medikasi
antihipertensi, control TIK, dan perawatan pendukung. Intervensi pembedahan
dengan kraniotomi atau kraniektomi memungkinkan pengangkatan bekuan
darah dan control hemoragik tetapi tidak mungkin baik karena lokasi persrshsn
yang tidak mungkin baik karena lokasi perdarahan yang tidak dapat diakses
atau kurang jelasnya batas sel darah yang dapat diangkat. Tetapi fisik biasanya
diperlukan untuk rehabilitasi optimal pada klien dengan hemoagik
intraserebral dan semua klien cedera kepala.
 Gejala klinis
Gejala klinis yang timbul dapat berupa gangguan kesadaran, konfusi,
abnormalitas pupil, serangan (onset) tiba-tiba berupa deficit neurologis
perubahan tanda vital, gangguan penglihatan, difusi sensorik, kejang otot, sakit
kepala, vertigo, gangguan pergerakan, kejang, dan syok dan akibat cedera
multisystem
 Patofisiologi

Trauma kepala

Kulit kepala Tulang kepala Jaringan otak

Hematoma Fraktur liner Komusio


pada kulit Fraktur communited Hematoma
Fraktur depressed Edema
Fraktur basis
Cedera otak kontusio

1. TIK meningkat
Gangguan kesadara
Cedera Otak Primer Gangguan TTV
Ringan Respons fisiologis otak kelainan nourologis
Sedang
berat
Cedera Otak Sekunder
Hipoksemia serebra

Kerusakan sel otak


Kelainan metabolism

Gangguan Autoregulasi Stres lokalis


Rangsangan Simpatis
 Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan pada trauma kepala yaitu:
1. Pengkajian neurologis,
2. Pemeriksaan CT-Scan
 Penatalaksanaan medis
1. Angkat klien dengan papan datar untuk mepertahankan posisi kepala dan
leher sejajar
2. Traksi ringan pada kepala
3. Kolar servikal
4. Terapi untuk mempertahankan hemoestatis otak untuk mencegah
kerusakan otak sekunder seperti stabilitas sistem kardiovaskular dan fungsi
pernapasan untuk mempertahankan perfusi serbral yang adekuat. Control
perdarahan, perbaiki hipovolemik, dan evaluasi gas darah.
5. Tindakan terhadap peningkatan TIK dengan melakukan dengan
pemantauan TIK bila terjadi peningkatan TIK, pertahankan oksigenansi
yang adekuat, pemberian menitol untuk mengurang edema kepala dengan
dehidrasi osmotic, hiperventilasi, penggunaan steroid, meninggikan posisi
kepala di tempal tidur, kolaborasi beda neuro untuk ngangkat bekuan
darah, dan jahitan terhadap laserasi di kepala. Pasang pementau TIk
selama pembedahan atau dengan teknik aspetik di tempat tidur. Perawat
klien di ICU.
6. Tindakan keperawatan pendukung, yaitu pemantau ventilasi dan
penceghan kejang serta pemantauan cairan elektrolit, dan keseimbangan
nutrisi. Lakukan intubasi dan ventilasi mekanik (ventilator) bila klien
koma berat untuk mengontrol jalan napas. Hiperventilasi terkontrol
mencakup hipokapnia, pencegahan vasodilatasi, penurunan volume darah
serebral, dan penurunan TIK. Pemberian antikonvulsan untuk mencegah
kejang setelah trauma kepala yang menyebabkan kerusakan otak sekunder
karena hipoksia (seperti klorpromazin tanpa tingkat kesadaran. Pasang
NGT bila terjadi penurunan motilitas lambung dan peristaltic akibat cedera
kepala.
2.3 Asuhan Keperawatan Klien dengan Trauma Kepala

 Pengkajian

Pengumpulan data klien baik subjektif ataupun objektif pada gangguan sistem
persarafan sehubungan dengan cedera kepala tegantung pada bentuk, lokasi, jenis
injuri, dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Pengkajian keperawatan
cedera kepala meliputi anamnesis riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.

 Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia muda), jenis
kelamin (banyak laki-laki, karena sering ngebut-ngebutan dengan motor tanpa
pengaman helm),
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah
sakit, nomor register, diagnosis medis.

Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan
kesehatan tergantung dari seberapa jauh dampak trauma kepala disertai penurunan
tingkat kesadaran.

 Riwayat Penyakit Saat Ini


Adanya riwayat trauma yang mengenali kepala dari kecelakaan lalu lintas,
jatuh dari ketinggian, dan trauma langsung ke kepala. Pengkajian yang didapat
meliputi tingkat kesadaran menuun (GCS<15), konvulsi, muntah, takipnea,
sakit kepala, wajah simetris atau tidak, lemah, luka di kepala, paralisis,
akumulasi sekret pada saluran pernapasan, adanya liquor dari hidung dan
telinga, serta kejang. Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat
kesadaran dihubungkan dengan perubahan di dalam intrakranial. Keluhan
perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat
terjadi letargi, tidak responsif, dan koma.
Perlu ditanyakan pada klien atau keluarga yang mengantar klien (bila klien
tidak sadar) tentang penggunaan obat-obatan adiktif dan penggunaan alkohol
yang sering terjadi pada beberapa klien yang suka ngebut-ngebutan.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Perngkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hipertensi, riwayat
cedera kepala sebelumnya, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia,
pengguanaan obat antikoagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif,
konsumsi alkohol berlebihan.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang mendeteksi hipertensi dan
diabetes melitus.
 Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respons emosi
klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-
harinya baik dlam keluarga ataupun dalam masyarakat. Apakah ada dampak yang
timbul pada klien, yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap
dirinya yang salah (gangguan citra diri).
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran dalam
bekomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri didapatkan
klien merasa tak berdaya, tidak harapan, mudah marah, dan tidak kooperatif.
Perawat juga memasukan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan dampak
neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Persfektif keperawatan
dalam mengkaji terdiri atas dua masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh
defisit neurologis dalam hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana
pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis di dalam
sistem dukungan individu.

 Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarahkan pada keluhan-keluhan klien,
pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian
anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan
fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan fisik pada B3 (brain) yang terarah dan
dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
 Keadaan Umum
Pada keadaan cedera kepala umumnya mengalami penurunan kesadaran (cedera
kepala ringan/cedera otak ringan, GCS13-15, cedera kepala sedang GCS 9-12,
cedera kepala berat/cedera otak besar, bila GCS kurang atau sama dengan 8)
dan terjadi perubahan pada tanda-tanda vital.

 B1 (Breathing)
Perubahan pada sistem pernapasan bergantung pada gradasi dari perubahan
karingan serebral akibat trauma kepala. Pada beberapa keadaan hasil dari
pemeriksaan fisik dari sistem ini akan didapatkan :
Inspeksi, didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak
napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan.
Terdapat retraksi klavikula/dada, pengembangan paru tidak simestis.
Ekspansi dada: dinilai penuh/tidak penuh dan kesimetrisannya.
Ketidaksimetrisan mungkin menunjukkan adanya atelektasis, lesi pada
paru, obstruksi pada bronkus, fraktur tulang iga, pneumothoraks, atau
penempatan endotrakeal dan tube traekostomi yang kurang tepat. Pada
observasi ekspansi dada juga perlu dinilai; retraksi dari otot-otot interkostal,
substernal,pernapasan abdomen, dan respirasi paradoks (retraksi abdomen
saat inspirasi)
Palpasi, fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain akan
didapatkan apabila melibatkan trauma pada rongga thoraks.
Perkusi,adanya suara redup sampai pekak pada keadaan melibatkan trauma
pada thoraks/hemothoraks.
Auskultasi, bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, stridor, ronkhi
pada klien dengan peningkatan produksi sekret, dan kemampuan batuk
yang menurun sering didapatkan pada klien cedera kepala dengan
penurunan tingkat kesadaran koma.
Pada klien cedera otak berat dan sudah terjadi difungsi pusat pernapasan,
klien biasanya terpasang EET dengan ventilator dan biasanya dirawat di
uang perawatan intensif sampai kondisi klien menjadi stabil. Pengkajian
klien cedera otak berat dengan pemasangan ventilator secara komprehensif
merupakan jalur keperawatan kritis.
Pada klien dengan tingkat kesadaran compos mentis pada pengkajian
inspeksi pernapasan tidak ada kelainan. Palpasi thoraks didapatkan taktil
pemitus seimbang kanan dan kiri, Auskultasi tidak didapatkan bunyi napas
tambahan.

TIK Meningkat

Hipoksemia, Hiperkapnia Rangsang simpatis meningkat

Peningkatan hambatan Meningkatkan tahanan vascular


difusi O2-CO2 sistemik dan tekana darah

Edema paru Sistem pembuluh darah


pulmonal tekanan darah

Meningkatkan tekanan
hidrostatik

Gambar 5-4. Mekanisme berulang dari dampak cedera kepala dengan


peningkatan TIK denga perubahan dari sistem pernapasan.

 B2 Blood
Pengkajian pada kardiovaskular didapatkan renjatan (syok) hipovolemik
yang sering tejadi pada klien cedera kepala sedang dan berat. Hasil
pemerikaan kardiovakular klien cedera kepala pada beberapa keadaan dapat
ditemukan tekanan darah normal atau beubah, nadi bradikardi, takikardi,
dan aritmia.
Fekuansi nadi cepat dan lemah berhubungan dengan homeostatis tubuh
dalam tanda dari perubahan perfusi jaringan otak. Kulit kelihatan pucat
menandakan adanya penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Hipotensi
menandakan adanya perubahan perfusi jaringan dan tanda-tanda awal dari
suatu syok. Pada beberapa keadaan lain akibat dari trauma kepala akan
merangasang pelepasan antidiuretik hormon (ADH) yang berdampak pada
kompensasi tubuh untuk melakukan retensi atau pengeluaran garam dan air
oleh tubulus. Mekanisme ini akan meningkatakan konsentrasi elektrolit
meningkat sehingga memberikan risiko terjadinya gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit pada sistem kardiovaskular.

Trauma kepala

ADH dilepas

Retensi Na dan air

Output urine menurun

Konsentrasi elektrolit meningkat

Resiko Gangguan Keseimbangan dan Elektroilt

Gambar 5-5. Mekanisme resiko gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit, merupakan manifestasi tubuh akibat dari trauma kepala.

 B3 (Brain)
Cedera kepala menyebabkan berbagai neurologis terutama disebabkan
pengaruh peningkata tekanan intrakranial akibat adanya perdarahan baik
bersifat intrasebral hematoma, subdural hematoma, dan epidural hematoma.
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap
dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
 Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah indikator
paling sensitif untuk menilai disfungsi sistem persarafan. Beberapa sistem
digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan
kesadaran. Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien cedera kepala biasanya
berkisar pada tingkat letargi, stupor, semikomatosa, sampai koma.

 Pemeriksaan fungsi serebral


 Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya
bicara klien dan observasi ekspresi wajah dan aktivitas motorik pada klien.
 Fungsi intelektual: pada beberapa keadaan klien cedera kepala didapatkan
penurunan dalam ingatan dan memori baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
 Lobus frontal: kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologi didapatkan
bila trauma kepala mengakibatkan adanya kerusakan pada lobus frontal
kapasitas,memori, atau fungsi inteleklual kortikal yang lebih tinggi
mungkin rusak.disfungsi ini dapat ditunjukkan dalam lapang perhatian
terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa, kurang motivasi, yang
menyebabkan klien ini menghadapi frustasi dalam program rehabilitasi
mereka. Masalah psikologis lain juga umum terjadi dan dimanifestasikan
oleh labilitas emosional, bermusuhan, frustasi, dendam, dan kurang kerja
sama
 Hemisfer: ceda kepala hemisfer kanan didapatkan hemiparese sebelah kiri
tubuh, penilaian buruk dan mempunyai kerentanan terhadao sisi kolateral
sehingga kemungkinaan terjatuh ke sisi yang berlawaan tersebut.
 Pemeriksaan saraf kranial
Saraf I. Pada beberapa keadaan cedera kepala didaerah yang merusak anatomis
dan fisiologis saraf ini klien akan mengalami kelainan pada fungsi
penciuman/anosmia unilateral atau bilateral.
Saraf II. Hematoma palpebra pada klien cedera kepala akan menurunkan
lapangan penglihatan dan menggangu fungsi dari nervus optikus,. Perdarahan
di intrakranial, terutama hemoragia subarakhnoidal, dapat disertai dengan
perdarahan di retina. Anomali pembuluh darah didalam otak dapat
bermanifestasi juga di fundus. Tetapi dai segala malam kelainan di dalam
ruang intrakranial, tekanan intrakranial dapat dicerminkan pada fundus.
Saraf III,IV, dan VI. Gangguan mengangat kelopak mata terutama kliem denga
trauma yang merusak rongga orbitak. Pada kasus kasus trauma kepala dapat
dijumpai anisokoria. Gejala ini harus dianggap sebagai tanda serius jika
midriasis yang tidak bereaksi pada penyinaran. Paralisis otot-otot okular akan
menyusul pada tahap berikutnya.
Jika pada trauma kepala terdapat anisokoria, bukan midriasis, melainkan
miosis yang bergandengan dengan pupil yang normal pada sisi yang lain, maka
pupil yang motik adalah abnormal. Miosis ini disebabkan oleh lesi di lobus
frontalis ipsilateral yang mengelola pusay siliospinal. Hilangnya fungsi yang
itu berarti pusat siliospinal menjadi tidak aktif, sehingga pupil tidak berdilatasi
melainkan berkonstriksi.
Saraf V. Pada beberapa keadaan cedera kepala menyebabkan paralisis saraf
trigenimus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan
mengunyah.
Saraf VII. Persepsi pengecapan mengalami perubahan.
Saraf VIII. Perubahan fungsi pendengaran pada klien cedera kepala ringan
biasanya tidak didapatkan apabila trauma yang terjadi tidak melibatkan saraf
vestibulokoklearis.
Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik dan kesulitan membuka
mulut
Saraf XI. Bila tidak melibatkan trauma pada leher, mobilitas klien cukup baik
serta tidak ada artofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII. Indra pengecapan mengalami perubahan.
 Pengkajian sistem motorik.
 Pada inspeksi umum, didapatkan hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi)
karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau kelemahan
salah satu sisi tubuh, adalah tanda yang lain.
 Tonus otot, didapatkan menurun sampai hilang.
 Kekuatan otot, pada penilaian dengan menggunakan grade kekuatan otot
didapatkan grade 0.
 Keseimbangan dan koordinasi, didapatkan mengalami gangguan karena
hemiprase dan hemiplegia
 Pengkajian refleks.
 Pemeriksaan refleks profunda, pengetukan pada tendon, ligamentum atau
periosteum derajat refleks pada respons normal.
 Pemeriksaan refleks patologis, pada fase akut refleks fisiologis yang
lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan
muncul kembali didahului dengan refleks patologis.

 Sistem sensorik.
Dapat terjadi hemihipertensi. Pada persepsi terjadi ketidakmapuan untuk
menginterpretasikan sensasi. Disfungsi persepsi visual karena gangguan jaras
sensori primer diantara mata dan korteks visual. Gangguan hubungan visual-
spasial (mendapatkan hubungan dua atau lebih objek dalam area spasial)
sering terlihat pada klien dengan hemiplegia kiri.
Kehilangan sensori karena cedera kepala dapat berupa kerusakan sentuhan
ringan atau mungkin lebih berat, dengan kehilangan propriosepsi (kemampuan
untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh) serta kesulitan dalam
menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius.
 B4(Bladder)
Kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah, dan karakteristik urine,
termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan
retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal. Setelah
cedera kepala, klien mungkin mengalami inkontensia urine karena konfusi,
ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan
untuk menggunakan sistem perkemihan karena kerusakan kontrol motorik
dan postural. Kadang-kadang kontrol sfingter urinarius eksternal hilang
atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intemitten
dengan steril. Inkontinensia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan
neurologis luas.
 B5 (Bowel)
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun,
mual dan muntah pada fase akut. Mual sampai muntah dihubungakan
dengan peningkatan produksi asalam lambung sehingga menimbulkan
masalah pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi
akibat penurunan peristaltik usus. Adanya inkontensia alvi yang berkelanju
menunjukkan k erusakan neurologis luas.
Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi
pada mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada mulut atau
perubahan pada lidah dapat menunjukkan adanya dehidrasi. Pemeriksaan
bising usus untuk menilaiada atau tidaknya dan kualitas bsising usus harus
dikaji sebelum melakukan palpasi abdomen. Bising usus menuun atau
hilang dapat terjadi pada paralitik ileus dan peritonitis. Lakukan observasi
atau bising usus selama +2 menit. Penurunan motilitas usus dapat terjadi
akibat tertelannya udata yang berasal dari sekitar slang endotrakela dan
nasotrakeal.

Akibat trauma terhadap sistem metabolisme


Trauma

Tubuh perlu energi untuk perbaikan

Nutrisi berkurang

Penghancuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama

Hilang nitrogen meningkat

Kelelahan/kelemahan fisik

Gambar 5-7. Mekanisme perubahan yang terjadi pada klien trauma memberikan
manifestasi pada perubahan status nutrisi tubuh dan kelemahan fisik secara umu
dampak dari trauma kepala.

 B6 (Blone)
Difungsi motorik paling umum adalah kelemahan pada seluruh
ekstermitas. Kaji warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgor kulit. Adanya
perubahan kulit; warna \\menunjukkan adanya sianosis (ujung kuku,
ekstermitas, telinga, hidung, dan memban mukosa). Pucat pada wajah dan
membran mukosa dapat berhubungan dengan rendahnya kadar hemoglobin
atau syok. Pucat dan sianosis pada klien yang menggunakan ventilator
dapat terjadi akibat adanya hipoksemia. Warna kemerahan pada kulit dapat
menunjukkan adanya demam, dan infeksi. Integritas kulit untuk menilai
adanya lesi dan dekubitus. Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena
kelemahan, kehilangan sensori atau paalise/hemiplegi, mudah lelah
menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.

 Pemeriksaan diagnostik
Pemeiksaan diagnostik yang diperlukan pada klien dengan cedea kepala, meliputi
hal-hal di bawah ini.
1. CT-scan (dengan tanpa kontras)
2. MRI
3. Angiografi serebral
4. EEG berkala
5. Foto rontgen, medeteksi perubahan struktur tulang (fraktur) perubahan struktur
garis (pedarahan/edema), fragmen tulang.
6. PET, mendeteksi perubahan metabolisme otak.
7. Pemeriksaan CFS, lumbal pungsi: dapat dilakukan jika diduga terjadi
perdarahan subraraknoid.
8. Kadar elektrolit, untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai
peningkatan tekanan intrakranial.
9. Skrining toksikologi, untuk mendektesi pengaruh obat sehingga menyebabkan
penurunan kesadaran.
10. Analisis Gas Darah (AGD), adalah salah satu tes diagnostik untuk menentukan
status respirasi. Status respirasi yang dapat digambarkan melalui pemeriksaan
AGD ini adalah status oksigenisasi dan status asam basa.

 Pengkajian Panatalaksanaan Medis


Penatalaksanaan saat awal trauma pada cedera kepala selain mempertahan
fungsi ABC (Airway, breathing, circulation) dan menilai status neurologi
(disatibilitas dan pajanan), penurunan resiko iskemi serebri juga harus
dilakukan. Keadaan ini dapat dibantu dengan pemberikan oksigen dan glukosa
sekalipun pada otak yang mengalami trauma relatif memerlukan oksigen dan
glukosa yang lebih rendah.
Selain itu, perlu pula dikontrol kemungkinan tekanan intrakranial yang
meningkat disebabkan oleh edema serebri. Sekalipun tidak jarang memerlukan
tindakan operasi, tetapi usaha untuk menurunkan tekanan intrakranial yang
meningkat disebabkan oleh edema serebri. Sekalipun tidak jarang memerlukan
tindakan operasi, tetapi usaha untuk menurunkan tekanan intrakranial ini dapat
dilakukan dengan cara menurunkan PaCO2 dengan hipeventilasi yang
menurunkan asidosis intraserebral dan meningkatkan metabolisme
intraserebral.

 Diagnosis Keperawatan
1. Risiko tinggi peningkatan tekanan intrakranial yang berhubungan dengan
desak ruang sekunder dari kompersi korteks serebri akibat pendarahan, baik
bersifat hematom intraserebral, subdural, maupun epidural.
2. Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan depresi pada
pusat pernapasan di otak, kelemahan otot-otot pernapasan, ekspansi paru tidak
maksimal karena akumulasi udara/cairan dan perubahan perbandingan O2
dengan CO2, serta kegagalan ventilator.
3. Kebersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan penumpukan
sputum, peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri
dan keletihan, adanya jalan napas buatan pada trakea, ketidakmampuan
batuk/batuk efektif.
4. Perubahan kenyamanan: nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan
dan refleks spasme otot sekunder.
5. Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan edema pada otak.
6. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
perubahan kemampuan mencerna makan, peningkatan kebutuhan
metabolisme.
7. Gangguan komunikasi verbal, yang berbuhungan dengan terpasangnya
endotrakeal/slang traekostomi dan paralisis neuromuskular.
8. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan
dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
9. Keterbatasan aktivitas yang berhubungan dengan penurunan kesadaran
(sopororus koma)
10. Ansietas/takut yang berhubungan dengan krisis situsional; ancaman terhadap
konsep diri, takut mati/ketergantungan pada alat bantu/perubahan status
kesahatan/status ekonomi/fungsi peran, hubungan interpersonal/penularan.
11. Ansietas keluarga yang berhubungan dengan keadaan kritis pada klien.
12. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan misintepretasi informasi, tidak
mengenal sumber-sumber informasi, ketegangan akibat krisis situsional.
13. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik
terpasang bullow drainage.
14. Risiko gangguan intergritas kulit yang berhubungan dengan imobilisasi, tidak
adekuatnya aliran perifer.
15. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang berhubungan
dengan penggunaan alat bantu napas,
16. Risiko perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan
ketidakmampuan menelan cairan melalui oral, adanya tube dalam mulut,
kurang/menurunnya salivasi, dan tidak efektifnya kebersihan mulut.
17. Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan penurunan sistem pertahanan
primer (cedera pada jaringan paru, penurunan aktivitas silia bronkus), dan
tindakan invasif.
18. Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma.
 Rencana Intervensi

RESIKO TINGGI PENINGKATAN TIK BERHUBUNGAN DENGAN DESAK RUANG


SEKUNDER DARI KOMPRESI KORTEKS SEREBRI DARI ADANYA PERDARAHAN,
BAIK BERSIFAT INTRASEREBRAL HEMATOM, SUBDURAL HEMATOM, MAUPUN
EPIDURAL HEMATOMA
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam tidak terjadi peningkatan TIK pada klien.
Kriteria : klien tidak gelisah , klien tidak mengeluh nyeri kepala, mual-mual dan muntah,
GCS: 4, 5, 6, tidak terdapat papiledema. TTv dalam batas normal.
INTERVENSI RASIONALISASI
Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan Deteksi dini untuk mempriotaskan intervensi,
individu/penyebab koma/ penurunan mengkaji status neurologi/ tanda-tanda
perfusi jaringan dan kemungkinan kegagalan untuk menentukan perawatan
penyebab peningkatan TIK. kegawatan atau tindakan pembedahan.
Memomitor tanda-tanda vital tiap 4 jam. Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebral
terpelihara dengan baik atau fluktuasi ditandai
dengan tekanan darah sistemik, penurunan
dari autoregulator kebanyakan merupakan
tanda penurunan difusi lokal vaskularisasi
darah serebral. Dengan peningkatan tekanan
darah (diastolik) makan dibarengi dengan
peningkatan tekanan darah intrakarnial.
Adanya peningkatan besi. Bradikardi,
distrimia, dan dispnea merupakan tanda
terjadinya peningkatan TIK.
Evaluasi pupil, amati ukuran, ketajaman, Reaksi pupil dan pergerakan kembali dari
dan reaksi terhadap cahaya. bola mata merupakan tanda dari gangguan
saraf jika batang otak terkoyak. Reaksi pupil
diatur oleh saraf ketiga kranial (okulomotorik)
yang menunjukkan keutuhan batang otak,
ukuran pupil menunjukkan keseimbangan
antara parasimpatis dan simpatis. Respons
terhadap cahaya merupakan kombinasi fungsi
dari saraf kranial II dan III.
Monitor temperatur dan pengaturan suhu Panas merupakan reflek dari hipotalamus.
lingkungan. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan 02
akan menunjang peningkatan TIK.
Pertahankan kepala/leher pada posisi yang Perubahan kepala pada satu sisi dapat
netral, usahan dengan sedikit bantal. menimbulkan penekanan pada vena jugularis
Hindari penggunaan bantal yang tinggi dan menghamnat aliran darah otak
pada kepala. (menghambat drainase pada vena serebral),
untuk itu dapat meningkatkan tekanan
intrakanial.
Berikan periode istirahat antara tindakan Tindakan yang terus-menerus dapat
perawatan dan batasi lamanya prosedur. meningkatkan TIK oleh efek rangsangan
komulatif.
Kurangi rangsangan ekstra dan berikan Memberikan suasana yang tenang(colming
rasa nyaman seperti masase punggung, effect) dapat mengurangi respons psikologis
lingkungan yang tenang, sentuhan yang dan memberikan istirahat untuk
ramah dan suasana/pembicaraan yang mempertahankan TIK yang rendah.
gaduh.
Cegah/hindari terjadinya valsava manuver. Mengurangi tekanan intratorakal dan
intraabdominal sehingga menghindari
peningkatan TIK.
Bantu klien jika batuk, muntah. Aktivitas ini dapat meningkatkan
intratoraks/tekanan dalam torak dan tekanan
intraabdomen yang dapat meningkatkan
tekanan TIK.
Kaji peningkatan istirahat dan tingkah Tingkah nonverbal ini dapat merupakan
laku. indikasi peningkatan TIK atau memberikan
reflek nyeri yakni pasien tidak mampu
mengungkapkan keluhan secara verbal, nyeri
yang tidak menurun dapat meningkatkan TIK.
Palpasi pada pembesaran/pelebaran Dapat meningkatkan respons otomatik yang
blader, pertahankan drainase urine secara potensial menaikkan TIK.
paten jika digunakan dan juga monitor
terdapatnya konstipasi.
Berikan penjelasan pada klien (jika sadari) Meningkatkan kerja sama dalam
dan keluarga tentang sebab-akibat TIK meningkatkan perawatan klien dan
meningkat. mengurangi kecemasan.
Observasi tingkat kesadaran dengan GCS. Perubahan kesadaran menunjukkan
peningkatan TIK dan berguna menentukan
lokasi dan perkembangan penyakit.
Kolaborasi:
 Pemberian O2 sesuai indikasi; Mengurangi hipoksemia, yang dapat
meningkatkan vasodilatasi serebral dan
volume darah serta meningkatkan TIK.
 Kolaborasi untuk tindakan operatif Tindakan pembedahan untuk evakuasi darah
evakuasi darah dari dalam dilakukan bila kemungkinan terdapat tanda-
intrakranial; tanda defisit neurologis yang menandakan
peningkatan intrakranial.
 Berikan cairan intravena sesuai dengan Pemberian cairan mungkin diinginkan untuk
yang diindikasikan; mengurangi edema serebral, peningkatan
minimum pada pembuluh darah, tekanan
darah, dan TIK.
 Berikan obat diuretik osmotik Diuretik mungkin digunakan pada pase akut
untuk mengalirkan air dari brain cell serta
contohnya: manitol, furoscide; mengurangi edema serebral dengan TIK.
 Berikan steroid, contohnya Untuk menurunkan inflamasi (radang) dan
dextamethason, methyl prednisolone; mengurangi edema jaringan.

 Berikan analgesik narkotik, contohnya Mungkin diindikasikan untuk mengurangi


kodein; nyeri dan obat ini berefek negativ pada TIK
tetapi dapat digunakan dengan tujuan untuk
mencegah dan menurunkan sensasi nyeri.
 Berikan antipiretik, contohnya Menurangi/mengontrol hari dan pada
asetaminofen; metabolisme serebral/oksigen yang
diinginkan.
 Monitor hasil laboratorium sesuai Membantu memberikan informasi tentang
dengan indikasi seperti prothrombin, efektifitas pemberian obat.
LED.

KETIDAK EFEKTIFAN POLA PERNAPASAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN


DEPRESI PUSAT PENAPASAN, KELEMAHAN OTOT-OTOT PERNAPASAN, EKSPANSI
YANG TIDAK MAKSIMAL KARENA TRAUMA DAN PERUBAHAN PERBANDINGAN
02 DENGAN CO2, KEGAGALAN VENTILATOR
Tujuan: dalam waktu 3 x 24 jam setelah intervensi adanya peningkatan pola napas
kembali efektif.
Kriteria: memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. Mengalami perbaikan
pertukaran gas-gas pada paru. Adaptif mengatasi faktor-faktor penyebab.
INTERVENSI RASIONAL
Berikan posisi yang nyaman, biasanya Meningkatkan inspirasi maksimal,
dengan peninggian kepala tempat tidur. meningkatkan ekspansi paru, dan ventilasi
Balik kesisi yang sakit. Dorong klien untuk pada sisi yang tidak sakit.
duduk sebanyak mungkin.
Observasi fungsi pernapasan, catat Distress pernapasan dan perubahan pada
freskuensi pernapasan, dispnea atau tanda vital dapat terjadi sebagai akibat
perubahan tanda-tanda vital. stres fisiologi dan nyeri atau dapat
menunjukkan terjadinya syok sehubungan
dengan hipoksia.
Jelaskan pada klien bahwa tindakan Pengetahuan apa yang diharapkan dapat
tersebut dilakukan untuk menjamin mengurangi ansietas dan mengembangkan
keamanan. kepatuhan klien terhadap rencana
terapeutik.
Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor Pengetahuan apa yang diharapkan dapat
pencetus adanya sesak atau kolaps paru- mengembangkan kepatuhan klien terhadap
paru. rencana terapeutik.
Pertahankan perilaku tenang, bantu klien Membantu klien mengalami efek fisiologi
untuk kontrol diri dengan menggunakan hipoksia, yang dapat dimanifestasikan
pernapasan lebih lambat dan dalam. sebagai ketakutan/ansietas.
Periksalah alarm pada ventilator sebelum Ventilator yang mempunyai alarm yang
difungsikan. Jangan mematikan alarm. bisa dilihat dan didengar, misalnya alarm
kadar oksigen, tinggi/rendahnya tekanan
oksigen.
Letakkan kantung resusitasi disamping Kantung resusitasi/manual ventilasi sangat
tempat tidur dan manual ventilasi untuk berguna untuk mempertahankan fungsi
sewaktu-waktu dapat digunakan. pernapasan jika terjadi gangguan pada alat
ventilator secara mendadak.
Bantulah klien untuk mengontrol Melatih klien untuk mengatur napas
pernapasan jika ventilator tiba-tiba seperti napas dalam, napas pelan, napas
berhenti. perut, pengaturan posisi, dan teknik
relaksasi dapat membantu
memaksimalkan fungsi dari sistem
resopiratoria.
Perhatikan letak dan fungsi ventilator Memerhatikan letak dan fungsi ventilator
secara rutin. sebagai kesiapan perawat dalam
Pengecekan konsentrasi oksigen, memberikan tindakan pada penyakit
memeriksa tekanan oksigen dalam tabung,
primer, setelah menilaii hasil diagnostik,
monitor manometer untuk menganalisa
dan menyediakan sebagai cadangan.
batas/kadar oksigen.
Mengkaji tidal volume (10-15ml/kg).
Periksa fungsi spirometer.
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain: Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
Dengan dokter, radiologi, dan fisioterapi. untuk mengevaluasi perbaikan kondisi
 Pemberian antibiotika. klien atas pengembangan parunya.
 Pemberian analgetika.
 Fisioterapi dada.
 Konsul foto toraks.

NYERI YANG BERHUBUNGAN DENGAN TRAUMA JARINGAN DAN REFLEK


SPASME OTOT SEKUNDER
Tujuan: dalam waktu 3 x 24 jam nyeri berkurang/hilang.
Kriteria: secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Dapat
mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. Klien tidak
gelisah.
INTERVENSI RASIONAL
Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan Pendekatan dengan menggunakan relaksasi
pereda nyeri nonfarmakologi dan dan nonfarmakologi lainnya telah
noninvasif. menunjukkan keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
Lakukan managemen nyeri keperawatan
 Atur posisi fisilogis; Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan
O2 kejaringan yang mengalami iskemia.
 Istirahatkan klien; Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2
jaringan perifer sehingga akan meningkatkan
suplai darah dan oksigen ke otak yang
membutuhkan O2 untuk menurunkan iskemia
sekunder diri edema otak dan proses supurasi
otak.
 Manajemen lingkungan: lingkungan Lingkungan tenang akan menurunkan
tenang, kurangi cahaya, dan batasi stimulasi nyeri eksternal atau kesensitifan
pengunjung. terhadap cahaya dan menganjurkan klien
untuk beristirahat dan pembatasan
pengunjung akan membantu meningkatkan
kondisi O2 ruangan yang akan berkurang
apabila banyak pengunjung yang berada di
ruangan.
 Ajarkan teknik relaksasi pernapasan Meningkatkan asupan O2 sehingga akan
dalam; menurunkan nyeri sekunder dari iskemia
jaringan otak.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat

 Ajarkan teknik distraksi pada saat menurunkan stimulus internal dengan

nyeri; mekanisme peningkatan produksi endorfin


dan enkefalin yang dapat memblok reseptor
nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks
serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
Menajemen sentuhan pada saat nyeri berupa
sentuhan dukungan psikologis dapat

 Lakukan manajemen sentuhan. membantu menurunkan nyeri. Masase ringan


dapat meningkatkan aliran darah dan dengan
otomatis membantu suplai darah dan oksigen
ke area nyeri dan menurunkan sensasi nyeri.
Berikan kesempatan waktu istirahat bila Istirahat dan merelaksasi semua jaringan
terasa nyeri dan berikan posisi yang sehingga akan meningkatkan kenyamanan.
nyaman: misalnya waktu tidur,
belakangnya dipasang bantal kecil.
Tingkatkan pengetahuan tentang: sebab- Pengetahuan yang akan dirasakan membantu
sebab nyeri, dan menghubungkan berapa mengurangi nyerinya dan dapat membantu
lama nyeri akan berlangsung. mengembangkan kepatuhan klien terhadap
rencana terapeutik.
Kolaborasi dengan dokter, pemberian Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga
analgetik. nyeri akan berkurang.

RISIKO GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT YANG


BERHUBUNGAN DENGAN OUTPUT CAIRAN BERLEBIH VIA INHALASI, SEKUNDER
AKIBAT PENGGUNAAN ALAT BANTU NAPAS (RESPIRATOR)
Tujuan: dalam waktu 3 x 24 jam tidak ada tanda-tanda edema perifer/paru-paru.
Kriteria: klien dapat menunjukkan tekanan darah, berat badan, nadi, intake dan output
dalam batas normal.
INTERVENSI RASIONAL
Pertahankan secara ketat asupan dan Untuk mencegah dan mengidentifikasi secara
keluaran. dini terjadi kelebihan cairan.
Timbang berat badan setiap hari. Peningkatan berat badan merupakan indikasi
berkembangnya atau bertambahnya edema
sebagai manifestasi dari kelebihan cairan.
Kaji dan observasi suara napas, fokal Adanya ronkhi basah, fokal fremitus
fremitus, hasil torak foto. menandakan adanya edema paru-paru.
Monitor tanda vital, seperti tekanan Kekurangan cairan dapat menunjukan gejala
darah, nadi. peningkatan nadi dan tekanan darah menurun.
Catatlah perubahan turgor kulit, kondisi Penurunan kardiak output berpengatuh pada
mukosa mulut, dan karakter sputum. perfusi fungsi otak. Kekurangan cairan selalu
diindentifiksikan dengan turgor kulit
berkurang, mukosa mulut kering, dan sekret
yang kental.
Hitunglah jumlah ciran yang masuk dan Memberikan informasi tentang keadaan cairan
keluar. tubuh secara umum untuk
mempertahankannya tetap seimbang.
Kolaborasi:
 Berikan cairan berinfus jika Mempertahakan volume sirkulasi dan tekanan
diindikasikan; osmotik.
 Monitor kadar elektrolit jika Elektrolit, khususnya potasium dan sodium
diindikasikan. dapat berkurang jika klien mendapatkan
diuretika.

2.4 TRAUMA MEDULLA SPINALIS


 Pengertian
Medulla spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak
di dalam kanalis vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atas
region lumbalis.
 Anatomi dan Fisiologi

TINJAUAN ANATOMI
Koluma vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah struktur
lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra atau ruas
tulang belakang. Di antara tiap dua ruas tulang pada tulang belakang terdapat
bantalan tulang rawan, Panjang rangkaian tulang belakang pada orang dewasa
dapat mencapai 57 – 67 cm. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24 buah
diantaranya adalah tulang terpisah dan 9 ruas sisanya berganbung membentuk
2 tulang.
Medula spinalis yang keluar dari
foramen intervertebral dikelompokan
dan dinamai sesuai dengan daerah
dengan yang ditempatinya (dapat
dilihat pada Gambar 5-8).
Gambar 5-8. Anatomi dari tulang
belakang yang melindungi medula
spinalis. Keluarnya medula spinalis
dari tulang belakang (sumber : simon
dan Schuster, Fundamental of
th
Anatomy and Physiology, 4 ed,
New Jersey: Prentice Hall, Inc.,
1998)
Sendi kulumna vertebra
Sendi ini dibantuk oleh bantalan tulang rawan yangndiletekan di antara
setiap dua vertebra, dikuatkan oleh ligamentum yang berjalan di depan dan
dibelakang badan – badan vertebra sepanjang kolumna vertebralis. Massa
otot di setiap sisi membantu kestabilan tulang belakang sepenuhnya.
Diskus Intervertebralis atau cakram antar-ruas adalah bantalan tebal dari
tulang rawan fibrosayang terdapat di antara badan vertebra yang dapat
bergerak (dapat dilihat pada Gambar 5-9).

Gambar 5-9. (kiri) Anatomi ligamen dan diskus, tulang belakang, dan
sumsum tulang belakang. (kanan) Gambaran secara posterior dari sumsum
tulang belakang, terlihat lapisan meningeal, permukaan superfisial, dan
distribusi dari substansia nigra dan substansia alba (sumber: Simon dan
Shucter, Fundamental of Anatomy And Physiology, 4th ed, New Jersey :
Prentice Hall Inc., 1998)
 Etiologi
1. Kecelakaan di jalan raya (penyebab paling sering).
2. Olahraga.
3. Menyelam pada air yang dangkal.
4. Luka tembak atau luka tikam.
5. Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medulla spinalis seperti
spondiliosis servikal dengan mielopati, yang menghasilkan saluran sempit dan
mengakibatkan cedera progresif terhadap medulla spinalis dan akar, mielitis
akibat proses inplamasi infeksi maupun non-infeksi, osteoporosis yang
disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra, siringmielia, tumor infiltrasi
maupun kompresi, dan penyakit vascular.
 Klasifikasi
1. Cedera Tulang
a. Stabil. Bila kemampuan fragmen tulang tidak mempengaruhi kemampuan
untuk bergeser lebih jauh selain yang terjadi saat cedera. Komponen arkus
neural intak serta ligamen yang menghubungkan ruas tulang belakang,
terutama ligamen longitudinal posterior tidak robek. Cedera stabil
disebabkan oleh tenaga fleksi, ekstensi, dan kompresi yang sederhana
terhadap kolumna tulang belakang dan paling sering tampak pada daerah
thoraks bawah serta lumbal (fraktir baji badan ruas tulang belakang sering
disebabkan oleh fleksi akut pada tulang belakang).
b. Tidak stabil. Frraktur memengaruhi kemampuan untuk bergeser lebih jauh.
Hal ini disebabkan oleh adanya elemen rotasi terhadap cedera fleksi atau
ekstensi yang cukup untuk merobek ligamen longitudinal posterior serta
merusak keutuhan arkus neural, baik akibat fraktur pada fedekel da lamina,
maupun oleh dislokasi sendi apofiseal.
2. Cedera Neurologis
a. Tanpa defisit neurologis.
b. Disertai defisit neurologis, dapat terjadi di daerah punggung karena kanal
spiral terkecil terdapat di daerah ini.

 Mekanisme cedera
Perawat perlu mengenal mekanisme trauma yang trauma yang terjadi pada tulang
belakang yang memungkinkan gangguan pada medulla spinalis meliput :
1. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada
vertebra. Vertebra mengalami tekanan berbentuk remuk yang dapat
menyebabkan kerusakanatau tanpa kerusakan ligament posterior apabila
terdapat kerusakan ligament posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan
dapat terjadi subluksasi (dapat dilihat pada gambar 5-10).

Gambar 5-10. (kiri) fleksi dengan vertebra bentuk baji, (kanan) Ilustrasi
beberapa kecelakaan yang memungkinkan menimbulkan trauma pada
servikalis dengan mekanisme trauma fleksi dan rotasi (sumber: Jeffrey M.
Spivak et.al., Ortopaedics: A Study Guide, New York: The McGraw-Hill
Companies, 1999)

2. Fleksi dan rotasi


Trauma jenis ini merupakan suatu trauma fleksi yang bersama – sama dengan
rotasi. Terdapat strain dari ligament dan kapsul juga ditemukan fraktur faset.
Pada keadaan ini terjadi pergerakan ke depan / dislokasi vertebra di atasnya.
Semua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil (dapat dilihat pada Gambar 5-11).
3. Kompresi vertical (aksial)
Suatu trauma vertical yang secara langsung mengenai vertebra yang akan
menyebabkan kompresi aksial. Nukleus pilposus akan memecahkan
permukaanserta badan vertebra secara vertical dan menyebabkan vertebra
menjadi rekah (pecah). Pada trauma ini elemen posterior masaih intak
sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil (dapat dilihat pada Gamabar 5-12).

4. Hiperekstensi atau retrofleksi


Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasidistraksi dan
ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada
vertebra torako – lumbal. Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami
kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat
stabil (dapat dilihat pada Gambar 5-13).
5. Fleksi lateral
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan
menyebabkan fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra
dan sendi faser.
6. Fraktur dislokasi
Suatu trauma yang menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang dan
terjadi dislokasi pada ruas tulang belakang (dspst dilihat pada Gambar 5-14)

 Gejala Klinis
Cedera tulang belakang harus selalu diduga pada kasus dimana seteah cedera klien
mengeluh nyeri serta terbatasnya pergerakan klien dan punggung.
 Patofisiologi
I. Cedera Medula Spinalis Torakalis

Trauma pada daerah leher dapat bermanifestasi pada kerusakan struktur kolumna
vertebra, kompresi diskus, sobek ligamentum servikalis dan kompresi medulla
spinalis pada setiap sisinya dapat menekan spinal dan bermanifestasi pada
kompresi radiks dan distribusi saraf sesuai segmen dari tulang belakang servikal.
Cedera ini menyebabkan cedera spinal stabil dan cedera tidak stabil. Cedera stabil
adalah cedera yang komponen vertebranya tidak tergeser olehgerakan normal
sehingga sumsum tulang tidak rusak dan biasanya resikonya lebih rendah. Cedera
tidak stabil adalah cedera yang mengalami pergeseran leboh jauh dimana terjadi
perubahan struktur dari oseoligamentosa posterior (pedikulus, sendi – sendi
permukaan, arkus tulang posterior, ligament interspinosa dan supraspinosa),
komponen pertengahan (sepertiga bagian posterior badan vertebral, bagian
posterior dari diskus intervertebralis dan ligamen longitudinal posterior) dan
kolumna anterior diskus intervertebralis dan ligament longitudinal anterior).
Pada cedera hiperekstensi servikal, pukulan pda muka atau dahi akan memamksa
kepala ke belakang dan taka da yang menyangga oksiput hingga kepala itu
membentur bagian atas punggung. Ligamen anterior dan diskus dapat rusak atau
arkus saraf mungkin mengalami kerusakan.
Pada cedera fleksi akan meremukan badan vertebral menjadi baji; ini adalah cedera
yang stabil dan merupakan tipe fraktur vertebral yang paling sering ditemukan.
Jika ligament posterior tersobek , cedera bersifat tak stabil dan badan vertebra
bagian atas dapat miring ke depan di atas badan vertebra di bawahnya.
Trauma pada servikalasi Fraktur, subluksasi,
Trauma pada se
tipe ekstensi dislokasi, kompresi
tipe ekste
diskusi, robeknya
ligmentum, dan kompresi
akar saraf

Cedera spinal tidak stabil Cedera spina

Fraktur kompr
Ligamen un
Kompresi Risti injuri Spasme otot
korda
Spasme o
Tindakan Aktual/ Nyeri
dekompresi Resiko: Pola
dan napasn tdk Hambata
stabilisasi efektif. Kompresi diskus dan mobilisa
Curah kompresi akar saraf di
jantung sisinya
menurun
Fase asuhan
perioperatif Prognosis
penyakit

Paralisis ekstremitas
Respons Kecemasan atas
psikologis
II. Cedera Medula Spinalis Torako-Lumbal

Cedera vertebra torako – lumbal bisa disebakan oleh trauma


langsung pada torakal atau bersifat patologis seperti pada kondisi
osteoporosis(dapat dilihat pada Gambar 5-28) yang akan mengalami
fraktur kopresi akibat keruntuhan tulang belakang. Fraktur kompresidan
fraktur – dislokasi biasanya stabil. Tetapi kanalis spinalis pada segmen
torakal relative sempit, sehingga kerusakan korda sering ditemukan
dengan adanya manifestasi deficit neurologis.
Kompresivertikal (aksial); suatu trauma vertical yang secara
langsung mengenai vertebra yang akan menyebabkan kompresi aksial.
Nukleus pulpopus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra
secara vertical. Material diskus akan masuk dalam badan vertebra dan
menyankan vertebra menjadi pecah (Burst). Pada kondisi ini terjadi Brust
fraktur, kerusakan pda badan tulang belakang dan medulla spinalis secara
klinis akan lebih parah dimana apabila ligament posterior sobek akan
terjadi fraktur spinal tidak stabil.

Gambar 5-28. beberapa segmen torakal


yang mempunyai resiko tinggi mengalami
fraktur kompresi (insert) pada klien osteoporosis.
Gambar 5-29. Patofisiologi cedera medulla spinalis torako – lumbal ke
masalah keperawatan.

 Penatalaksanaan Medis
1. Terapi dilakukan untuk mempertahankan fungsi neurologis yang masih ada,
memaksimalkan pemulihan neurologis, tindakan cedera lain yang menyertai,
mencegah, serta mengobati komplikasi dan kerusakan neural lebih lanjut.
Reabduksi atas sublukasi (dislokasi sebagian pada sendi di salah satu tulang)
untuk mendekompresi koral spiral dan tindakan imobilisasi tulang belakang
untuk melindungi koral spiral.
2. Operasi lebih awal sebagai indikasi dekompresi neural, fiksasi internal, atau
debridemen luka terbuka.
3. Fiksasi internal elektif dilakukan pada klein dengan ketidakstabilan tulang
belakang, cedera ligament tanpa fraktur, deformitas tulang belakang progresif,
edera yang tidak dapat direabduksi, dan fraktur non-union.
4. Tetapi steroid, nomidipin, atau dopamine untuk perbaiki aliran darah koral
spiral. Dosis tertinggi metil prednisolon/bolus adalah 30mg/kgBB diikiuti
5,4mg/kgBB/jam untuk 23 jam berikutnya. Bila diberikan dala 8 jam sejak
cedera akan memperbaiki pemulihan neurologis. Gangliosida mungkin juga
akan memperbaiki pemulihan setelah cedera koral spiral.
5. Penilaian keadaan neurologis setiap jam, termasuk pengamatan fungsi
sensorik, motorik, dan penting untuk melacak deficit yang progresif atau
asenden.
6. Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, fungsi ventilasi, dan melacak
keadaan dekompensasi.
7. Pengelolaan cedera stabil tanpa deficit neurologis seperti angulasi atau baji
dari badan ruas tulang belakang, fraktur proses transverses, spinosus, dan
lainnya. Tindakannya simptomatis (istirahat baring hingga nyeri berkurang),
imobilisasi dengan fisioterapi untuk pemulihan kekuatan otot secara bertahap.
8. Cedera tak stabil disertai deficit neurologis bila terjadi pergeseran, fraktur
memerlukan reabduksi dan posisi yang sudah baik harus dipertahankan.
a. Metode reabduksi antara lain :
 Traksi memakai spit (tang) metal yang dipasang pada tengkorak beban
20kg tergantung dari tingkat ruas tulang belakang, mulai sekitar 2,5kg
pada fraktur C1.
 Manipulasi dengan anestesi umum.
 Reabduksi terbuak melalui operasi.
b. Metode imobilisasi antara lain :
 Ranjang khusus, rangka, atau selubung plester.
 Traksi tengkorak perlu beban sedang untuk mempertahankan cedera
yang sudah di reabduksi.
 Plester paris dan splin eksternal lain.
 Operasi.
9. Cedera stabil disertai deficit neurologis. Bila fraktur stabil, kerusakan neurologis
disebabkan oleh :
a. Pergeseran yang cukup besar yang terjadi saat cedera menyebabkan trauma
langsung terhadap koral spiral atau kerusakan vascular.
b. Tulang belakang yang sebetulnya sudah rusak akibat penyakit sebelumnya
seperti spondiliosis servical.
c. Fragmen tulang atau dishus terdorong ke kanan spiral. Pengelolaan kelompok
ini tergantung derajat kerusakan neurologis yang tampak pada saat pertama
kali diperiksa :
 Transeksi neurologis lengkap terbaik dirawat konservatif.
 Cedera di daerah servical, leher di imobilisasi dengan koral atau sepit
(kapiler) dan diberi metil prednisolon.
 Pemeriksaan penunjang MRI.
 Cedera neurologis tak lengap konservatif.
 Bila terdapat atau didasari kerusakan adanya spondiliosis servical,
traksi tengkorak, dan metil prednisolon.
 Bedah bila spondiliosis sudah ada sebelumnya.
 Bila tak ada perbaikan atau ada perbaikan tetapi keadaan meburuk
maka lakukan mielografi.
 Cedera tulang tak stabil.
 Bila lesinya total dilakukan reabduksi yang diikuti imobilisasi.
Melindungi dengan imobilisasi seperti penambahan perawatan para
legia.
 Bila deficit neurologis tak lengkap maka dilaukan reabduksi, diikuti
imobilisasi untuk sesuai jenis cederanya.
 Bila diperlukan operasi dekompesi kanal spiral dilakukan pada saat
yang sama.
 Cedera yang menyertai dan komplikasi :
o Cedera mayor berupa cedera kepala atau otak, toraks,
berhubungan dengan ominal dan vascular.
o Cedera berat yang dapat menyebabkan kematian, aspirasi, dan
shock.

 Pengelolaan Cedera
1. Pengelolaan hemodinamik.
a. Bila terjadi hipotensi, cari sumber perdarahan dan atasi shock
neurogenik akibat hilangnya aliran adrenergic ari sistem saraf
simapatis pada jantung dan vascular perifer setelah cedera diatas
tingkat T6. Terjadi hipotensi, bradikardia, dan hpotermi. Shock
neurogenik lebih mengganggu distribusi volume intravascular
daripada menyebabkan hipovalensi sejati sehingga perlu pertimbangan
terapi atropine, dopamine, atau fenilefrin jika pengatian volume
intavasular tidak bereaksi.
b. Pada fase akut setelah cedera dipasang beberap jalur intra vena perifer
(no 16) dan pengamatan tekanan darah melaui jalur arteri dipasang,
dan resusitasi cairan dimulai.
c. Bila hipotensi tak bereaksi tas cairan dan pemberian tranfusi, lakukan
kateterisasi pada arteri pulmonal untuk mengarahkan ke perbedaan
mekanisme hipovolemik, kardiogenik, atau neurogenik.
2. Pengelolaan sistem pernapasan.
a. Ganti posisi tubuh berulang.
b. Perangsangan batuk.
c. Pernapsan dalam.
d. Spirometri intensif.
e. Pernapasan tekanan (+) yang berkesinambungan masker adalah cara
mempertahankan ekspansi paru atau kapasitas residual fungsional.
f. Klien yang mengalami gangguan fungsi ventilasi dilakukan
trakeostomi.
3. Pengelolaan nutrisional dan sistem pencernaan.
a. Lakuakn pemeriksaan CT-Scan berhubungan dengan omen atau lavasi
peritoneal bila diduga ada perdarahan atau cedera berhubugan dengan
ominal.
b. Bila ada ileus lakukan pengisapan (suction) nasogatrik, penggantian
elektrolit, dan pengamatan status cairan.
c. Terapi nutrisiolnal awal yang harus di metabolisme (50-100% diatas
normal).
d. Bila ada hiperlalimentasi internal elemental, pasang Duocleno yang
fleksibel melaui atau dengan bantuan fluoroskopi (ileus).
e. Pencegahan ulkus dengan antaginis Hz atau antacid.
f. Bila mendapat gastric feeding, pasang duodenal feeding (NGT).
g. Beri difonoksilat hidroklorida dengan atropine sulfat bia mendapat
NGT untuk mencegah diare.
h. Jiak terjadi kehilangan fungsi spinchter anal beri Dulcolax.
4. Pengelolaan gangguan koagulasi.
a. Untuk mencegah terjadi nya thrombosis vena dan emboli paru beri
heparin dosis minimal (500 untuk subcutan, 2-3x sehari).
b. Ekspansi volume.
c. Stoking elastic tinggi paha.
d. Strokeing prenmatis anti emboli.
e. Anti platelet serta antikoagulasi untuk pencegahan.
5. Pengelolaan genitorenia.
a. Pasang kateter Dower.
b. Amati urine output.
6. Pengelolaan ulkus dekubitus.
a. Untuk cegah tekanan langsung pada kulit, kurang berfungsi jaringan,
dan kurangnya mobilitas, gunakan busa atau kuit kambing penyangga
tonjolan tulang.
b. Putar atau ganti posisi tubuh berulang.
c. Perawatan kulit yang baik.
7. Pengelolaan klien para plegia.
a. Respirasi dengan pemasangan endotrakeal, kemudian trakeostomi
serta perbaikan keadaan neurologi dengan menutup trakeostomi.
b. Perawatan kulit dengan mengubah posisi tidur klien setiap 2 jam.
c. Kandung kemih.
 Lakukan kompersi manual untuk mengosongkan kandung kemih
secara teratur agar mencegahterjadi inkontinensia overflow dan
dribbling.
 Kateterisasi intermitten.
 Kateterisasi indwelling.
 Tindakan bedah jika cara-cara tersebut gagal.
d. Buang air besar (BAB)
Untuk mendapatkan pengosongan rectum mendadak dilakukan cara :
 Tambahan diet serat.
 Gunakan laksatif.
 Pemberian supositoria.
 Enema untuk BAB atau pengosongan rectum teratur tanpa
inkontinensia mendadak.
e. Anggota gerak.
 Cegah kontraktur akibat pembedahan spastisitas kelompok otot
berlawan dengan latihan memperbaiki medikasi dan mencegah
pemisahan tendo tertentu.
 Nutrisi umum tinggi kalori.
Rehabilitasi klien yang mengalami paraplegia.
1. Rehabilitasi fisik.
a. Fisioterapi dan latihan peregangan otot yang masih aktif pada lengan atas
dan tubuh bagian bawah.
b. Pembiasaan terhadap alat dan perangkat rumah tangga.
c. Perlengkapan splint dan kapiler.
d. Transplantasi tendon.
2. Perbaiki mobilisasi.
a. Latihan dengan kapiler dan kruk untuk klien cedera tulang belakang
bawah.
b. Latihan kursi roda untuk klien dengan otot tulang belakang dan tungkai
yang tak berfungsi.
c. Kendaraan khusus untuk di jalan raya.
d. Rehabilitasi psikologis.
e. Penerimaan di rumah.

2.5 Asuhan Keperawatan Klien dengan Trauma Medulla Spinalis

Trauma pada tulang belakang adalah cedera yang mengenai servikalis, vertebralis
dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang. Chairuddin
Rasjad (1998) menegaskan bahwa semua trauma tulang belakang harus dianggap
suatu trauma yang hebat sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi
ke rumah sakit penderita harus diperlakukan secara hati – hati. Trauma pada tulang
belakang dapat mengenai jaringan lunak pada tulang belakang yaitu ligament dan
diskus, tulang belakang dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis).

Sebagian besar trauma tulang belakang yang mengenai tulang tidak disertai
kelainan pada medulla spinalis (80%) dan hanya (20%) yang disertai kelainan pada
medulla spinalis.
Penyebab cedera medulla spinalis akibat trauma langsung yang mengenai tulang
belakang dan melampaui batas kemampuan tilang belakang dalam melindungi
saraf – saraf yang berada di dalamnya. Traumatersebut meliputi kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan olahraga, kecelakaan industry, kecelakaan lain seperti jatuh dari
pohin atau bangunan, luka tusuk, luka tembak dan kejatuhan benda keras.

CEDERA MEDULA SPINALIS SERVIKALIS

 Pengkajian
Penting bagi perawat untuk mengetahui bahwa setiap adanya riwayat
trauma pada servikal memerlukan hal yang penting diwaspadai. Tingkat kehati –
hatian dari perawat yang tinggi dapat mencegah cedera spinal servikal yang stabil
dapat tidak menjadi cedera spinal yang tidak stabil karena pada setiap fase awal
kondisi trauma servikal,perawat adalah orang yang pertama dan paling sering
mekakuan intervensi.

Manipulasi pada tulang belakang yang tidak rasional dapat


merusak kestabilan dari struktur servikal (tulang, diskusm ligamentum dan
medulla spinalis).

Implikasi dari hal di atas adalah kewaspadaan perawat untuk menjaga


kesejajaran dari tulang bekang untuk menghindari resiko tinggi injuri pada korda,
maka pada saat pengkajian dan pada setiap intervensi yang diberikan tidak
merusak kestabilan dari tukang belakang.
Adanya riwayat trauma servikal harus dikaji sepenuhnnya untuk mencari
ada tidaknya cedera spinal. Untuk melakukan hal tersebut, pakaiannya mungkin
posisi kenetralan leher. Adanya keluhan nyeri atau kekakuan pada leher atau
punggung harus ditanggapi secara serius sekalipun klien dapat berjalan atau
bergerak tanpa banyak mengalami gangguan. Tanyakan megenai rasa baal,
paraestesia atau kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah.
Mekanisme trauma dari riwayat kecelakaan dapat memberi petunjuk yang
penting seperti jatuh dari tempat tinggi, cedera akibat terjun, benturan pada kepala,
tertimpa reruntuhan atau ambruknya langit – langit atau sentakan mendadak pada
leher akibat tubrukan dari belakang (whiplash injury) ini semua merupakan
penyebab kerusakan spinal yang sering ditemukan. Tanyakan apakah klien yang
mengalami cedera sebelumnya, menggunakan obat – obatan, atau jatuh setelah
menggunakan alkohol (dapat dilihat pada Gambar 5-16).

Gambar 5-16. Mekanisme trauma fleksi dan rotasi pada tulang belakang
servikalis yang disebabkan oleh jatuh dari tangga.

Pada status emergensi klien dengan riwayat servikal yang jelas dan
diindikasikan cedera spinal tidak stabil apabila pengkajian anamnesis dapat
dilakukan maka stasus jalan napas optimal dan anamesis diusahakan terfokus pada
pengkajian primer karena pada fase ini klien beresiko tinggi untuk mengalami
kompresi korda yang berdampak pada henti jantung – paru. Implikasi dari situasi
ini adalah pengkajian primer dilakukan disertai intervensi dengan suatu hal yang
prinsip untuk selalu menjaga posisi leher/servikal dalam posisi netral dan kalau
perlu klien dipasang ban servikal. Apabila pada kondisi di tempat kejadian di mana
klien mengalami cedera spinal servikal tetapi masih memakai helm, maka
diperlukan teknik melepas helm dengan tetap menjaga posisi leher dalam posisi
netral (dapat dilihat pda Gambar 5-17). Selanjutnya peran perawat dalam
melakukan transportasi dari tempat kejadian ke tempat intervensi lanjutan trauma
servikal di RS harus secara hati – hati, peran menitoring dan kolaborasi untuk
secepatnya untuk dilakukan stabilitas.
Gambar 5-17. Teknik melepas helm sampai terpasang ban servikal dengan
prinsip tetap menjaga posisi leher dalam posisi netral.

Pengkajian lanjutan dirumah sakit tetap memerlukan kondisi stabilisasi


pada servikal dan monitoring pada jalan napas. Pada setiap melakukan transportasi
klien, perawat tetap memprioritaskan kesejajaran dari kurvatura tulang belakang
dengan tujuan untuk menghindari resiko injuri pada spinal dengan teknik
pengangkatan cara log rolling (dapat dilihat pda Gambar 5-18) dan atau
menggunakan long backboard (dapat dilihat pada Gambar 5-19)
Gambar 5-18. Teknik pengangkatan log rollig tanpa ban leher. Teknik ini
mempunnyai prinsip memindahkan kolumia vertebralis sebagai satu unit
dengan kepala dan pelvis dengan tetap menjaga kesejajaran tulang belakang
untuk menghindari kompresi korda.

Gambar 5-19. Teknik log rolling


dan pengangkatan dengan menggunakan
long backboard dan klien terpasang ban
leher untuk menjaga kesejajaran kontur
tulang belakang untuk menghindari
kompresi korda akibat kesalahan
mengangkat.

 Pemeriksaan Fisik
Kaji keadaan umum (KU), tandatanda vital (TTV), adanya deficit
neurologis dan status kesedaran pada fase awal kejadian trauma, terutama pada
klien yang diindikasikan cedera spinal tidak stabil. Setiap didapatkan adanya
perubahan pada KU, TTV, deficit neurologis dan tingkat kesadaran secara
bermakna harus secepatnya dilakukan kolaborasi dengan dokter.
Defek neurologis ditentukan oleh lokasi dan kekuatan trauma, Syok spinal
terjadi bila trauma terjadi pada servikal atau setinggi toraksik. Teknik pemeriksaan
colok dubur dengan menilai reflex bulbokavernosus (dapat dilihta pada Gambar 5-
20) untuk merasakan adanya reflex jepitan pada sfingter ani pada jari akibat
stimulus nyeri yang kita berikan pada glans penis atau klitoris atau dengan
menarik kateter untuk menilai apakah klien syok spinal.

Gambar 5-20. Tes reflex bulbokavernosus pada pemeriksaan colok dubur.

Gejala awal syok, klien akan mengalami paralis, kehilangan reflex tendon
dan abdominal, reflex Babinski positif dan terjadi retensi urin dan retensi alvi,
dapat pula diikuti syok. Apabila adanya kompresi korda penialaian fungsi repirasi
di mana kapasitas vital (VC) menurun. Dalam keadaan ini diperlukan intubasi dan
ventilasi mekanik. Kelumpuhan saraf perifer memerlukan evaluasi sampai
diputuskan untuk dilakukan oprasi.
Klien dengan cedera spinal stabil, keadaan umum, TTV, deficit neurologis
dan status kesadaran biasanya tidak mengalami perubahan.

Pada pengkajian focus.


Lihat adanya deformitas pada leher. Kaji adanya memeas (pada fase
awal cedera) baik [ada leher, muka dan bagian belakang telinga. Tanda memar
pada wajah, mata atau dagu merupakan salah satu tanda adanya cedera
hiperekstensi pada leher (dapat dilihat Gambar 5-21). Memar pada muka atau
abrasi dangkal pada dahi menentukan adanya kekuatanyang menyebabkan
hiperekstensi. Leher mungkin berposisi miring atau klien dapat menyangga kepala
dengan tangannya.
Gambar 5-21. Tanda memar [ada muka, dagu, mata, belakang telinga dan
belakang leher pada klien cederea hiperekstensi ketika ban leher dilepas.

Bila klien terlentang, dada dan perut dapat diperiksa untuk mencari ada
tidaknya sedera yang menyertai, kemuadian tungkai dengan cept diperiksa untuk
mencari ada tidaknya tanda – tanda deficit neurologis.
Untuk memeriksa punggung klien diputas oada satu sisi (dapat dilihat pda
Gmabar 5-22) dengan sangat berhati hati dengan menggunakan teknik log rolling
(mengulingkan kayu).

Gambar 5-22. teknik pemeriksaan palpasi punggung untuk menilai adanya


deformitas pada punggung dengan cara log rolling.
Pada pemeriksaan primer pakaian klien tidak dilepas dan hanya diperiksan
dengan cara palpasi punggung (dapat dilihat pada Gambar 5-22). Pada
pemeriksaan sekunder di rumah sakit, pakaian perlu dibuka untuk menilai adanya
kelainan pada punggung. Adanya memar menunjukan kemungkinan tingkat
cedera. Prosesus spinous dipalpasi dengan hati – hati. Kadang – kadang suatu
celah dapat teraba bila ligament tersobek; keadaan ini atau hematoma pda spinal
merupakan tanda yang menakutkan (berbahaya). Tulang pada jaringan lunak
diperiksa dengan pelan – pelan untuk mencari ada tidaknya nyeri tekan, Gerakan
pada spinal dapat berbahaya karenadapat membahayakan korda jadi manipulasi
gerakan berlebihan harus dihindarisebelum diagnosis diitegakan.
Pemeriksaan neurologis penuh dilakukan pada semua hal, pemeriksaan
ini mungkin harus diulangi beberapa kali selama beberapa hari pertama. Pada
awalnya, selama fase syok spinal mungkin terdapat paralisis lengkap dan
hilangnya perasaan di bawah tingkat cedera. Keadaan ini dapat berlangsung selama
48 jam atau lebih dan selama periode ininsulit diketahui apakah lesi neurologis
lengkap atai tidak lengkap. Penting untuk menguji ada tidaknya reflex primitive
kulit anal dansensai perianal. Sekali reflex primitive muncul kembali, syok spinal
telah berakhir; kalau semua fungsi mototrik dan sensorik masih tidak ada, lesi
neurologis bersifat lengkap. Sensasi perianal yang utuh menunjukan lesi yang tidak
lengkap dan dapat terjadi penyembuhan lebih jauh.
TABLE 5-2. Pengkajian pada trauma servikal.

Segmen Fungsi fisiologis Kondisi Patologis


C1 Segmen keluar pleksus Beban berat yang mendadak di atas kepala dapet
kardiak dalam control menyebebkan kekuatan kompresi yang dapat
Jantung dan pernapasan. menyebebkan fraktur pada cicin atlas. Gangguan pada
segmen ini dapat merusak fungsi jantung – paru.
C2 Segmen keluar pleksus Fraktur C2 terutama yang mendadak pada kecelakaan
kardian dalan control mobil daimna kepala membentur kaca depan,
jantung dan pernapasan. memaksa leher berhiperekstensi. Kalau kedua
pedikulus mengalami frakrur dan bergeser secara
hebat, kerusakan akan menyebabkan kematian.
C3 Segmen keluar pleksus Cedera hiperekstensi C3, tulang tidak rusak tetapi
kardiak dalam control ligamne longitudinal anterior sobek. Kerusakan
jantung dan pernapasan. neurologis bervariasi dan mungkin tejadi akibat
kompresi antara diskus dan ligamentum falvum;
edema dan hematomeilia dapat menyebabkan sindrom
medulla spinalis sentral akut.
C4 Kontrol kepala, mulut, Sublukasi dan dislokasi pada segmen ini meruoakan
menaikan bahu dan cedera fleksi murni; tulang tetap utuh tetapi ligament
scapula. Kontrol gerakan posterior sobek. Satu vertebra miring ke depan dialas
diagfragma. vertebra yangada dibawahnya sehingga ruanf
interspinosa di bagian posterior terbuka.
C5 Fleksi bahu, fleksi siku. Segmen C5 – C6 merupakan kurvaturayang paling
menonjol dari servikal sehingga menpunyai resiko
tinggi cedera.
C6 Fleksi siku, rotasi dan Fraktur kompresi pada segmen ini sering disebabkan
abduksi bahu ekstensi ibu cedera fleksi; korpus terkompresi tetapi ligament
jari. posterior tetap utuh dan fraktur stabil.
C7 Ekstensi siku, gerakan Fraktur avusi pada prosesus spinosus C7 dapat terjadi
bahu, ekstensi ruas jari – oleh kontraksi otot yang hebat.
jari tangan

 Pemeriksaan Diagnostik
Gambaran anatomi dari servikal (dapat dilihat pada Gambar 5-23)
memberikan parameter pada perawat setiap adanya kelainan atau perubahan
yang didapat pada pemeriksaan diagnostik.
Gambar 5-23. Anatomi dari vertebra servikalis dengan kurvatura yang optimal
dari C1 – C7 dalam menopang kepala dan dalam melakukan mobilisasi leher.

Pada pemeriksaan radiologi servikal didapatkan :


1. Fraktur odontoid didapatkan gambaran pergeseran tengkorak ke depan.
2. Fraktur C2 didapatkan gambaran fraktur.

Gambar 5-24. (kiri) Fraktur odontoid dengansangat bergeser. (kanan) Fraktur


pendikulus atau batang lateral C2 akibar cedera fleksi.
3. Fraktur pada bagian vertebra.
4.Fraktur kompresi.

Gambar 5-25. (kiri ) Fraktur pada badan vertebra C5. (kanan) Fraktur kompresi
fleksi C5 tidak stabil dengan quadriplegia.

5. Sublukasi pada tulng belakang servikal.


6. Dislokasi pasa tulang belakang servikal
Gambar 5-26. (kiri) Dislokasi C4 – C5. (kanan) Sublukasasi pada C6 – C7.

Gambar 5-27. Pemeriksaan CT – scan didapatkan adanya fraktur pada tulang belakang
C5 (lihat tanda panah).

 Diagnosa Keperawatan
1. Aktual/resiko tinggi injuri (cedera) korda spinalis yang berhubungan dengan
kompresi korda sekunder dari cedera spinal servikal tidak stabil, manipulasi
berlebihan pda leher.
2. Aktual/resiko tinggi pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan
kelemahan otot – otot pernapasa, kelumpuhan otot diagfragma.
3. Aktual/resiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan
penurunan denyut jantung, dilatasi pembuluh darah, penurunan kontraksi otot
jantung sekunder dari hilangnya control pengiriman dari reflex baroreseptor
akibat kompresi korda.
4. Nyeri yang berhuungan dengan kompresi akar saraf servikalis, spasme otot
servikalis sekunder dari cedera spinal stabil dan tidak stabil.
5. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan tidak adekuatnya
pengirimanpesan kontol motoriksekunder dari kompresi akar saraf servikal.
6. Kecemasan yang berhubungan dengan prognosis penyakit sekunder dari
respons psikologis atau kondisi penyakit.

 Rencana Intervensi

Aktual/resiko tinggi injuri (cedera) korda spinalis yang berhubungan dengan


kompresi korda sekunder dari cedera spinal servikal tidak stabil, manipulasi berlebihan
pda leher.
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam resiko injuri tidak terjadi.
Kriteria hasil : TTV dalam batas normal, klien sadar GCS (4, 5, 6) tidak ada tanda –
tanda syok spinal.
Intervensi Rasionalisasi
Monitor TTV Penurunan denyut jantung dan tekanan
darah merupakan tanda wal dari hilangnya sensor
pengiriman dari reflex baroreseptor dampak dari
kompresi korda.
Monitor tiap jam akan adanya Cedera pada vertebra servikal dapat
syok spinal pada fase awal cedera selama mengakibatkan terjadi syok spinal. Syok spinal
48 jam. adalah tidak berfungsinya sistemsaraf otonom
dalam mengatur tonus pembuluh darah dan
kardiak output. Gambaran klasik berupa
hipotensi, bradikardi, paralisis, tes reflex
bulbokavernosus pada colok dubur didapatkan
penjepitan anus (+).
Pada awalnya, selama fase syok spinal,
mungkin terdapat paralisis lengkap dan
hilangnya perasaan di bawah tingkat cedera.
Keadaan ini dapat berlangsung selama 48 jam
dan selama periode in sulit diketahui apakah lesi
neurologis lengkap atau tidak lengkap.
Lakukan teknik pengangkatan Teknik ini mempunyai prinsip
cara log rolling (Gambaran 1-27) dan memindahkan kolumna vertebralis sebagai satu
atau menggunakan long backboard unit dengan kepala pelvis dengan tetap menjaga
(Gambar 1-28) pada setiap transportasi kesejajaran tulang belakang untuk menghindari
klien. kompresi korda.
Istirahatkan klien dan atur Posisi fisiologis menurunkan kompresi
posisi fisiologis saraf leher.
Imobilisasi leher terutama pada klien Pemasangan fiksasi kolar servikal dapat menjaga
yang mengalami cedera spinal tidak kestabilan dalam melakukam mobilitas leher.
stabil. Pada saat pemasangan colar cervical (ban leher)
perawat pentingmenjaga kesejajaran dari posisi
leher dalam posisi netral agar jangn terjadi
kompresi korda.

Beri penjelasan tentang kondisi klien. Usaha untuk meningkatkan kooperatif klien
terhadap intervensi yang diberikan dan
membantu menurunkan kecemasan klien
Kolaborasi dengan dokter :
- Pemeriksaaan radiologi Pemeriksaaan utama dalam menilai sejauh mana
kerusakan yang terjadi pada cedera spinal
servikal.
- Untuk dilakukan fiksasi dari luar Pemasangan halo – body cast dilakukam
dengan halo – body cast pada untuk menjaga kestabilan servikal. Teknik
klien dengan fraktur kompresi C3 pemasangan oleh medis dengan cara klien pada
– T1 (Apley, 1995) posisi terlentang dan kepalanya disangga oleh
seorng asisten, alat halo dipertahankan pada
posisi tepat dibawah bagian terlebar tengkorak.
Dengan anastesi local, empat pen steril
dimasukan ke lubang halo dan diskrupkan
kebagian luar tengkorak; pen kemudian dikunci
pada posisinya. Jaket gips diterapkam,
membentang dari bahu dan dibentuk di alas
krista iliaka. Halo di fiksasi pada gips badan.
- Untuk dilakukan dekompresi dan
stabilisasi terutama pada klien
dengan cedera spinal tidak stabil
atau mempunyai resiko tinggi
kompresi korda servikal.

Tindakan medis dekompresi untuk


memcegah terjadinya kompresi korda.
Dekompresi diikuti fiksasi dengan plat
yang dipasang pada korpus – korpus vertebra
yang utuh dapat menjaga kestabilan servikal
sampai masa penyembuhan dari kerusakan
servikal.

Aktual/resiko tinggi pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan


kelemahan otot – otot pernapasa, kelumpuhan otot diagfragma.
Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam tidak terjadi ketidakefektifan pola napas.
Kriteris hasil : RR dalam batas normal (12-20 x/menit), tidak ada tanda – tanda
sianosis, analisa gas darah dalam batas normal, pemeriksaan kapasitas paru normal.
Intervensi Rasionalisasi
Observasi fungsi pernapasan, Distress pernapasan dan perubahan
catat frekuensi pernapasan, dyspnea atau pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat
perubahan TTV. stress fisiologis dapat menunjukan terjadinya
spinal syok. Trauma pada C1 – C2
menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan
secara parsial karena otot pernapasan
mengalami kelumpuhan.
Pertahankan prilaku tenang, Membantu klien mengalami efek
bantu klien untuk Kontrol diri dengan fisiologis hipksia, yang dapat dimanifestasi
menggunakan pernapasan lebih lambat sebagai ketakutan/ansietas.
dan dalam.
Pertahankan jalan napas; posisi Klien dengan cedera servikal akan
kepala tanpa gerak membutuhkan bantuan untuk memcegah
aspirasi / mempertahankan jalan napas.
Observasi warna kulit. Menggambarkan adanya kegagalan
pernapasan yang memerlukan tindakan segera.
Kaji distensi perut dan spasme Kelainan penuh pada perut
otot. disebabkan karena kelumpuhan diafragma.
Lakukan pengukuran kapasitas Menentukan fungsi otot – otot
vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan. Pengkajian terus menerus untuk
pernapasan. mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.
Pantau AGD. Untuk mengetahui adanya kelainan
fungsi pertukaran gas sebagai contih
hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2
meningkat.
Berikan oksigen dengan cara yang Metode dipilih sesuai dengan keadaan
tepat. isufisiensi pernapasan.
Letakan kantung resusitasi Kantng resusitasi/manual ventilasi
disamping tempat tidur dan manual sangat berguna untuk mempertahankan fungsi
ventilasi untuk sewaktu – waktu dapat pernapasan jika terjadi gangguan pada alat
digunakan. ventilator secara mendadak.
Aktual/resiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan
penurunan denyut jantung, dilatasi pembuluh darah, penurunan kontraksi otot jantung
sekunder dari hilangnya control pengiriman dari reflex baroreseptor akibat kompresi
korda.
Tujuan : Dalam 2x24 jam tidak terjadi penurunan curah jantung.
Kriteria hasil : Frekuensi nadi dalam batas normal (12-20 x/menit), kualitas dan
irama nadi dalam batas normal, TD dalam batas normal 120-80 mmHg, CRT < 3 detik,
akral hangat.
Intervensi Rasional
Kaji dan lapor tanda penurunan Kejadian mortality dan morbidity
curah jantung. sehungan dengan cedera spinal C1 – C6 yang
tidak stabil meningkat sampai 48 jam pertama
pasca cedera.
Palpasi nadi perifer. Penurunan curah jantung dapat
menunjukan menurunnya nadi, radial,
popliteal, darsalis pedis dan postibial, nadi
mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk
dipalpasi.
Pantau adanya haluaran urine, Ginjal berespon untuk menurunkan
catat haluaran dan kepekatan urine. curah jantung dengan menahan cairan dan
natrium, haluaran urine biasanya menurn
selama 2 hari karena perpindahan cairan ke
jaringan tetapi dapat meningkat pada malam
hari sehingga airan berpindah kembali ke
sirkulasi bila klien tidur.
Kaji perubahan pada sensorik Dapat menunjukan tidak adekuatnya
contoh letargi, cemas dan depresi. perfusi serebral sekunder terhadap penurunan
curah jantung.
Berikan istirahat pisikologis Stress emosional menghasilkan
dengan lingkungan yang tenang. vasokontriksi, yang terkait dan meningkatkan
TD serta frekuensi / kerja jantung.
Berikan oksigen tambahan dengan Meningkatakan sediaan oksigen
kanula nasal / masker sesuai dengan untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek
kebutuhan. hipoksia/iskemia.
Pantau pemeriksaan EKG. Untuk menilai adanya kelainan irama
jantung akibat kehilangan control otonom dari
kerusakan pengiriman pesan oleh baroreseptor
efek dari kompresi korda.

Nyeri yang berhuungan dengan kompresi akar saraf servikalis, spasme otot
servikalis sekunder dari cedera spinal stabil dan tidak stabil.
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang / hilang atau teradaptasi.
Kriteria Hasil : Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diadaptasi, skala nyeri 0 – 1 dari skala (0 – 4) dapat mengidentifikasi aktivitas yang
meningkatkan atau menurunkan nyeri, klien tidak gelisah.
Intervensi Rasional
Jelaskan dan bantu klien dengan Pendekatan dengan menggunakan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan relaksasi san non farmakologi lainnya telah
nin – invasit. menunjukan keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
Lakukan menejemen nyeri
keperawatan : Posisi fisiologis akan menurunkan
1. Istirahatkan leher, atur posisi kompresi saraf leher. Pemasangan fiksasi
fisiologis dan pasang ban leher. kolar servikal dapat menjaga kestabilan
dalam melakukan mobilitas leher. Pada saat
pemasangan collar cervical (ban leher)
perawat penting menjaga kesejajaran dari
posisi tulang belakang agar jangan terjadi
kompresi akar saraf.
2. Lakukan masase pada otot leher. Masase ringan dapat meningkatkan
aliran darah dan membentu suplai darah dan
oksigen ke area ngeri leher akibat spasme
3. Ajarkan teknik relaksasi otot.
pernapasan dalam pada saat nyeri Meningkatkan asupan O2 sehingga
muncul. akan menurunkan nyeri sekunder dari
4. Manajemen lingkungan: iskemia.
lingkungan tenang dan batasi Lingkungan tenang akan
pengunjung. menurunkan stimulus nyeri eksternal dan
menganjurkan klien untuk beristirahat dan
pembatasan pengunjung akan membantu
meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan
berkurang apabila banyak pengunjung yang
5. Ajarkan teknik distraksi pada saat berada diruangan.
nyeri. Distraksi (pengalihan perhatian)
dapat menurunkan stimulus internal dengan
mekanisme peningkatan produksi endorphin
dan enkefalin yang dapat memblok reseptor
nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks
serebri sehingga menurunkan presepsi nyeri.
Tingkatkan pengetahuan tentang Pengetahuan yang akan dirasakan
penyebab nyeri dan menghubungkan berapa membantu mengurangi nyeri dandapat
lama nyeri akan berlangsung. membantu mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana terapeutik.

CEDERA MEDULLA SPINALIS TORAKO – LUMBAL

 Pengkajian
Penting bagi perawat untuk mengetahui bahwa setiap adanya riwayat
trauma pada vertebra merupakan hal yang penting diwaspadai. Tingkat kehati
– hatian perawat yang tinggi dapat mencegah cedera spinal stabil menjadi
cedera spinal tidak stabil karena pada setiap fase awal kondisi trauma, perawat
adalah orang yang pertama dan paling sering melakuakan intervensi, untuk itu
perlu teknik dalam melakukan pengkajian, proses pengangkatan dan
transportasi pada klien dengan trauma tulang belakang (dapat dilihat pada
Gambar 5-9).
Pengumpulan data subjektif maupun objektif pada gangguan system
musculoskeletal dan system persyarafan sehubungan dengan cedera tulang
belakang dari bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ
vital lainnya. Pengajian keperawatan cedera tulang belakang meliputi anamesis
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostic dan pengkajian
psikososial.
keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah nyeri, kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas,
inkontenensia defekasi dan urine, nyeri otot, hipertensi tepat diatas daerah
trauma, dan mengalami deformitas pada daerah trauma. untuk memperoleh
pengkajian klien digunakkan PQRST:
 Provoking incident, yang menjadi factor presipitasi nyeri adalah adanya
trauma pada tulang belakang.
 Quality of pain, seperti apa rasa nyeri dirasakan menusuk.
 Region, radiaton, relief, apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar dan dimana rasa sakit terjadi.
 severity scale of pain, sekala nyeri biasanya 3-4 (0 -4) pada penilaian skala
nyeri.
 time, berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari.

 Riwayat Penyakit Saat Ini


Adanya riwayat trauma yang mengenai tulang belakang akibat dari
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga, kecelakaan industri,
kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan, luka tusuk, luka
tembak, trauma karena tali pengaman dan kejatuhan benda keras.
pengkajian yang didapat meliputi hilangnya sensibilitas, paralisis (dimulai
dari paralisis layu disertai hilangnya sensibilitas yang total dan melemah /
menghilangnya reflex alat dalam). Ini merupakan gejala awal dari tahap
syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari samapai beberapa
minggu,ileus paralitik, retensi urine dan hilangnya reflex-refleks.
Perlu ditanyakan pada klien atau keluarga yang mengantar klien
tentang penggunaan obat-obatan adiktif dan penggunaan alcohol yang
sering terjadi pada beberapa klien yang suka ngebut-ngebutan.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat
penyakit degenerative pada tulang belakang seperti osteoporosis,
osteoarthritis, sponbilitis, sponbilolistesis, spinal stenosis yang
memungkinkan terjadinya kelainan pada tulang belakang. Penyakit lainnya
seperti hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, penggunaan
obat-obatan antikoagulan, aspirin, vasodilator, obat-obatan adiktif perlu
ditanyakan untuk menambah komprehensifnya pengjakian.
 Pengkajian Pisiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk
menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan
perubahan peran klien dalam keluarga. Apakah ada dampak yang timbul
pada klien, yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas secraa optimal dan pandangan
terhadp dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Adanya perubahan
berupa paralisi anggota gerak bawah memberikan manifestasi yang
berbeda pada setiap klien yang mengalami cedera tulang belakang.

 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Refleks:
 Pemeriksaan reflex dalam, reflex acilles menghilang dan reflex patella
biasanya melemah karena kelemahan pada otot hamstring.
 Pemeriksaan reflkes patologis, pada fase akut reflex fisiologis akan
menghilang. setelah beberapa hari reflex fisiologis akan muncul kembali
didahului dengan reflex patologis.
 reflex bulbokavernosus didapatkan posistif menandakan adanya syok spinal.

Pemeriksaan Sistem Perkemihan dan Pencernaan:


 Bila terjadi lesi pada kauda ekuina (kandung kemih dikontrol oleh pusat S2—
S4) atau dibawah pusat spinal kandung kemih akan menyebabkan interupsi
hubungan antara kandung kemih dan pusat spinal. pengosongan kandung
kemih secara peroidik tergantung diri reflex lokak dinding kandung kemih.
Pada keadaan ini pengosongan dilakukan oleh aksi otot-otot detrusor dan harus
diawali dengan kompresi secara manual pada dinding perut atau dengan
meregangkan perut. Pengosongan kandung kemih yang bersifat otomatis
seperti ini disebut kandung kemih otonom. Trauma pada kauda ekuina klien
mengalami hilangnya reflex kandung kemih yang bersifat sementara dank lien
mungkin mengalami intontenensia urine, ketidakmampuan
mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidak mampuan untuk menggunakan
urinal karena kerusakan control motoric dan postural. Selama periode ini
dilakukan kateterisasi intermintent dengan tehnik steril.
 Pada keaadan syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya ileus
paralitik, dimana keadaan klinis didapatkan hilangnya bowel sound, kembung
dan defekasi tidak ada. Ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal yang
akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pemenuhan nutrisi
berkurang karena adanya mual dan intake nutrisi yang kurang.
 Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada
mulut atau perubahan pada lidah dapat menunjukan adanya dehidrasi.

Pemeriksaan Motorik:
Pemeriksaan motoric dan paralisis alat-alat dalam tergantung dari ketinggian
terjadinya trauma. Gejala gangguan motoric sesual dengan distribusi segmental
dari saraf yang terkena (dapat dilihat pada Gambar 6-4).

Pemeriksaan Lokalis:
 Look adanya perubahan warna kulit; abrasi dan memar pada punggung. pada
klien yang telah lama dirawat dirumah sering didapatkan adanya
dekubituspada bokong ( dapat dilihat pada Gambar 5-30). adanya hambatan
untuk beraktifitas karena kelemahan, kehilangan sensorik, mudah lelah
menyebabkan masalah pada pola aktifitas dan istirahat.
 Feel prosesus spinosus dipalpasi untuk mengkaji adanya suatu celah yang
dapat diraba akibat sobeknya ligamentum posterior menandakan cedera yang
tidak stabil. sering didapatkan adanya nyeri tekan pada area lesi.
 Move gerakan tulang punggung atau spinal tidak boleh dikaji. Disfungsi
motoric paling umum adalah kelemahan dan kelumpuhan pada seluruh
ekstremitas bawah. Kekuatan otot pada penilaian dengan menggunakkan
derajat kekuatan otot didapatkan.
Gambar 5-30. Klinik klien yang mengalami fraktur kompresi dengan cedera pada
medulla spinalis L1 yang telah lama dirawat di rumah sering didapatkan adanya
decubitus pada bokong.

 Pemeriksaan Diagnostik
1. Rontgen Foto:
Pemeriksaan posisi AP, Lateral dan obliq dilakukan untuk menilai:
 Diameter antero posterior kanal spinal.
 kontur , bentuk dan kesejajaran vertebra.
 pergerakkan fragmen tulang dalam kanal spinal.
 keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus.
 ketinggian ruangan diskus interbertebralis.

Fraktur dapat menyebabkan fragmen tulang terpisah dari vertebra atau


mengalami penekanan disertai hilangnya ketinggian dari badan vertebra
yang seringkali disertai desakan dibagian anterior. mungkin terdapat
kehilangan kurvatura aspek posterior yang normal dari badan vertebra.
fragmen-fragemen tulang dapat bergeser ke posterior ke dalam kanalis
spinalis sehingga terjadi deficit neurologis.

Gambar 5-31. (A) radiologis fraktur brust L4 – L5. (B) fraktur


kompresi L4
Gambar 5-32. (A) faktur brust L1 dengan kerusakan digambar posterior. (B)
fraktur dislokasi pada T12 yang berat.

2. CT Scan dan MRI


CT dan MRI bermanfaat untuk menunjukan tingkat penyumbatan
kanalis spinalis. pada fraktur disloksasi cedera paling sering terjadi pada
sambungan torako-lumbal dan jasanya disertai dengan kerusakan pada bagian
terbawah korda atau kauda ekuina. Klien harus diperiksa secara hati-hati agar
tidak membahayakan korda atau akar safar lebih lanjut.

Gambar 5-33. CT Scan pada klien yang mengalami fraktur burst L2 disertai
adanya penyempitan pada kanalis spinalis.

Gambar 5-34. Kompresi vertical fraktur burst pada segmen L2. (A) terlihat
diskus intervertebral L1 dan L2 mengalami penyempitan disertai adanya serpihan
badan vertebra yang fraktur di L2. (B) MRI menggambarkan material diskus dan
tulang menekan kanalis spinalis. (C) CT Scan mengilustrasikan penyempitan
kanalis spinalis akibat fragmen tulang yang fraktur.

 Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus intervertebralis,
tekanan didaerah distribusi ujung saraf.
2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan paraplegia sekunder dari
kompresi spinal.
3. Gangguan pemenuhan eliminasi urine yang berhubungan dengan gangguan
fungsi miksi sekunder dari kompresi medulla spinalis.
4. Aktual/resiko tinggi atrofi otot dan kontraktur sendi yang berhubungan dengan
para plegia, kelemahan motoric.
5. Aktual/resiko tinggi gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan
penekatan setempat jaringan sekunder dari kelumpuhan gerak ekstremitas
bawah, para plegia.
6. Kecemasan yang berhubungan dengan prognosis kondisi sakit, rencana
pembedahan dan tirah baring lama.

 Rencana Intervensi

Nyeri yang berhubngan dengan penjepitan saraf pada diskus intervertebralis, tekanan di
darah distribusi ujung saraf.
Tujuan: Dalam wktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau teradatasi.
Kriteria hasil: Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat di adaptasi, skala nyeri
0-1 (0-4), dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri, klien
tidak gelisah.

Intervensi Rasional
Jelasnkan dan bantu klien dengan tindakan Pendekatan dengan gangguan relaksasi dan
pada nyeri nonfarmakologi dan non-invesif. nofarmakologi lainnya telah menunjukan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Pertahankan asupan untuk berat badan ideal. Pengendalian berat badan pada klien yang
proposi berat badan lebih (gemuk) akan
meningkatkan tekanan pada titik lumbal
sehingga akan meningkatkan respon nyeri.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan:
1. Istirahatkan klien Istirahat secara fisiologis akan menurunkan
kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme basal.

2. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan Meningkatkan asupan o2 sehingga akan


dalam pada saat n yeri muncul. menurunkan nyeri skunder dari iskemia
spinal.
3. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
4. Manajemen lingkungan: lingkungan menurunkan stimulasi internal.
tenang, batas pengunjung, dan
istirahatkan klien. Lingkungan tenang akan menurunkan
stimulus nyeri eksternal dan pembatasan
pengunjung akan membantu meningkatkan
kondisi o2 ruangkan yang akan berkurang
apabila banyak penunjang yang berada
dirunag.
Istirahat akan menurunkan kebutuhan o2
5. Lakukan manajemen sentuh. jaringan perifer.

Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa


sentuhan dukungan psikologis dapat
membantu menurunkan nyeri . masase ringan
dapat meningkatka aliran darah dan
6. Pasang korset lumbosakral. membantu suplai darah dan oksigen ke arah
nyeri.

Penahan lumbal yang lembur dapat memberi


keringanan pada lumbal karena titik beratnya
di tarik ke dekat tulang belakang.
Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab Pengetahuan yang akan dirasakan membantu
nyeri dan menghubungkan beberapa lama mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu
nyeri akan berlangsung. mengembangkan kepatuhan klien terhadap
rencana terapetik.
Kolaborsi dengan dokter, pemberian Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga
analgesik. nyeri akan berkurang.

Hambatan mobilisasi fisik yang berhubungan dengan pareplegia sekunder kompresi


spinal.
Tujuan: Dalam waktu 5x24 jam hambatan mobilisasi berkurang/hilang atau teradaptasi.
Kriteria hasil: klien dan keluarga terlihat mampu melakukan mobilisasi ekstremitas bawah
secara bertahap, kloen dapat mengenal cara melakukan mobilisasi dan secara kooperatif mau
melaksanakan teknik mobilisasi secara bertahap.
Interfensi Rasional
Kaji kemampuan mobilisasi ekstremitas Membantu dalam mengantisipasi dan
bawah. merencanakan pertemuan kebutuhan individu.
Kaji kemampuan pada ekstremitas bawah Kelemahan pada ekstremitas bawah diperiksa
untuk menilai adanya defisit neurologis untuk mencari nefisit neurologis.
terhadap kondisi motorik.
Koaborasi untuk dilakukan bedah perbaikan Pembedahan perbaikan( laminektomi) dan
(laminektomi) dan stabilisasi penggunaan stabilisasi fiksasi interma mencegah destruksi
dengan fiksasi interma. lanjut dari tulang belakang.

Gambar 5-35. Bedah perbaikan dan stabilisasi torak- lumbal pada klien fraktur burst torak-
lumbal.

Aktual/Risiko tinggi atrofi otot dan kontraktur sandi yang berhubungan dengan
paraplegia, kelemahan motorik.
Tujuan: Dalam waktu 5x24 jam tidak terjadi penurunan masa otot. Kontraktur sandi tidak
terjadi, klien mampu melakukan ROM pasif dan aktif.
Kriteria hasil: Klien dan keluarga terlihat mampu melakukan latihan ROM dan mobilisasi
ekstremotas bawahsecara bertahap. Klien dapat mengenal cara melakukan mobilisasi dan secara
kooperatif mau melaksanakan teknik mobilisasi secara bertahap.

Intervensi Rasional
Kaji kemampuan mobilisasi ekstremitas Membantu dalam mengantisipasi dan
bawah. merencanakan kebutuhan individual.
Kaji kemampuan pada ekstremitas bawah Kelemahan pada ekstremitas bawah di periksa
untuk menilai adanya defisit neurologis untuk mencari difisit neurologis.
terhadap kondisisi motorik.
Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga Memberi pengetahuan dan latihan yang sesuai
tenteng latihan ROM. dengan tingkat pengetahuan.
Lakukan latihan ROM aktif pada ekstremitas Membantu mengurangi kontraktur dari sandi-
bawah yang mengalami paraplegia. sandi yang mengalami paraplegia.
Libatkan keluarga dalam melakukan latihan Apabila pparaplegiapada klien menetap peran
ROM. keluarga dalam melatih ROM selama di rumah
sakit dapat membantu menurunkan resiko
kontraktur dan atrofi otot.
Atur posisi ekstremitas bawah (dapat dilihat Pengaturan yang baik sesuai dengan prinsip
pada gambar 5-35.). body aligment (kesejajaran) dapat dicegah
kontraktur dan deformitas sandi.

Gambar 5-36. (kiri) posisi klinis yang salah pada ekstremitas bawah. (kanan) posisi pengaturan
yang b enar dengan menghadapi posisi jari-jari kaki menghadap ke atas untuk mencegah
footdrop akibat kontraktur pada kaki.

Aktual/Resiko tinggi gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan penekanan


setempat jaringan sekunder dari kelumpuhan gerak ekstremitas bawah, paraplegia.
Tujuan: dalam waktu 5x24 jam resiko dekubitus tidak terjadi dan apa bila ada dekubitus, terjadi
perbaikan pada integritas jaringan lunak.
Kriteria hasil: klien terlihat mampu melakukan pencegahan dekubitus, luka pada dekubitus
membaik: dasar luka kemerahan, jaringan nekrotik hilang, terdapat penurunan luas luka
dekubitus.

Intervensi Rasional
Monitor resiko adanya dekubitus tiap hari. Mengidentifikasi kemajuan atau
penyimpanan dari tujuan yan diharapkan.
Lakukan mobilisasi miring kiri-kanan tiap 2 Mencegah penekanan setempat yang
jam. berlanjut pada nekrosis jaringan lunak.
Jaga kebersihan dan ganti seprai apabila kotor Mencegan stimulus keusakan pada area
atau basah. bokong yang beresiko terjadi dekubitus.
Melakukan prawatan luka dekubitus:
1. Bersihkan luka dengan cairan normal Pembersihan debris (sisa pagositosis,
saline. jaringan mati) akan meningkatkan
pertumbuhan dari kerusakan jaringan.

2. Lakukan nekrotomi. Nekrotomi dilakukan untuk menghilangkan


jaringan mati yang menghambat kerusakan
pertumbuhan jaringan.

3. Kompres luka dengan kasa lembab Perawatan luka lembap akan membantu
normal saline. proses epitalisasi jaringan.

Gambar 5-37. Nekrotomi jaringn nekrotik untuk menghilangkan jaringan mati yang
menghambat pertumbuhan jaringan.
Gambar 5-38. Kompres normal saline secara perawatan luka lembap akan membanu
meningkatkan proses epitelisasi jaringan.

Gangguan pemenuhan eliminasi urine yang berhubungan dengan gangguan fungsi miksi
skunder dari kompresi medula spinalis.
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam eliminasi urine dapat terpenuhi.
Kriteria hasil: klien trelihat mampu melakukan pemenuhan eliminasi urine secaa bertahap, klien
mengetahui cara latihan yang diberikan.

Intervensi Rasional
Kaji tingkat pengetahuan dak kemampuan klien dalam Mengidentifikasi kemajuan atau penyimpanan dari
melakukan eliminasi urine. tujauan yang diharapkan.
Lakukan pemasangan kateter. Kateteriasi akan mengeluarkan urine dari kandung
kemih dan meredakan inkontinensia urine.

Ajarkan bladder retraining Latihan kandun kemih atau bladder retraining


dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan pola
normal perkemihan dengan menghambat atau
menstimulasi pengeluaran air kemih. Agar bladder
retraining ini berhasil, klien harus menyadari dan
secara fisik mampu mengikuti program pelatihan.
Monitoring kondisi pengeluaran kateterisasi. Monitor awal untuk mendeteksi adanya infeksi saluran
kemih.

TABEL 5-3. Pedoman bladde retraining

No. Intervensi
1 Pelajari latihan untuk menguatkan dasar panggul.
2 Mulai jadwal berkemih pada bangun tidur, setiap 2 jam sepanjang siang dan sore hari,
sebelum tidur, dan setiap 4 jam pada malam hari.
3 Gunakan metode untuk mengawali berkemih (misalnya air mengalir dan menepuk paha
bagian dalam).
4 Lakukan metode untuk relaks guna untuk membantu pengosongan kandung kemih secara
total (misalnya membaca dan menarik napas dalam).
5 Jangan pernah mengambil keinginan untuk berkemih (hanya jika masalah klien
melibatkan pengeluaran urine yang jarang sehingga dapat mengakibatkan retensi).
6 Konsumsi cairan sekitar 30menit sebelum jadwal waktu berkemih.
7 Hidari teh, kopi, alkohol, dan minuman berkafein lainnya.
8 Minum obat-obatan diuretik yang sudah diprogramkan atau cairan untuk meningkatkan
diuresis ( seperti teh atau kopi) dini pada pagi hari.
9 Semakin memanjangkan atau memendekan periode antara berkemih.
10 Beri pakaian dalam pelindung untuk menempuh urine dan mengurangi rasa malu klien
(bukan popok)
11 Ikuti progrm pengontrolan berat tubuh apa bila masalahnya adalah obesitas.
12 Berikan umpan balik positif saat tercapai pengontolan berkemih.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Trauma adalah keadaan yang disebabakan oleh luka atau cedera. Definisi ini
memeberikan gambaran superpisial dari respon fisik terhadap cedera. Dalam
makalah ini penulis membahas dua jenis trauma yaitu trauma kepala dan trauma
medulla spinalis.

Trauma atau cedera kepala dikenal sebagai cedera otak adalah gangguan fungsi
normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Deficit
neurologis terjadi karena robeknya substansi alba, iskemia, dan pengaruh masa
karena hemoragik, serta edema serebral di sekitar jaringan otak.

Medulla spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak
di dalam kanalis vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atas
region lumbalis. Trauma medulla spinalis terbagi menjadi dua macam yaitu trauma
medula spinalis torakalis dan trauma medulla spinalis torkal-lumbal.

3.2 Saran

Trauma kepala dan trauma medulla spinalis merupakan trauma serius yang
menyerang sistem syaraf pusat. Oleh sebab itu, perawat harus memilki
kemampuan yang baik dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan
kebutuhan klien nya.
DAFTAR PUSTAKA

Mutaqqin,Arif.2008.Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dgn Gangguan

Sistem Persarafan.Jakarta : Salemba Medika

Batticaca, FransiscaB. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Persarafan.Jakarta : Salemba Medika

Mutaqqin,Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien dgn Gangguan

Sistem Persarafan.Jakarta : Salemba Medika

Sjamsuhidajat,R.2004.Ilmu Bedah Edisi 4.Jakarta : EGC