Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FISIOLOGI HEWAN

SISTEM GERAK PADA MOLUSKA DAN PISCES


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan
Dosen Pembimbing : Dr. Meti Indrowati S.Si., M.Si.

Disusun oleh :

1. Alfian Primahesa (K4316003)


2. Assifa Fadilla (K4316013)
3. Emira Putri Sazalianti (K4316025)
4. Ita Nur Rohmiyati (K4316037)
5. Ramadanti Prativi (K4316051)
6. Siti Siwi Wulandari (K4316061)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ”Sistem
Gerak pada Moluska dan Pisces” dengan tepat waktu guna memenuhi tugas mata
kuliah Fisiologi Hewan. Kami sebagai penyusun makalah ini ingin mengucapkan rasa
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini. Ucapan terima kasih itu kami sampaikan antara lain kepada :
1. Dr. Meti Indrowati S.Si.,M.Si. selaku dosen pengampu yang telah
memberikan bimbingan dan arahan kepada kami dalam penyusunan makalah
ini
2. Orang tua yang selalu mendukung dan memotivasi kami,
3. Teman-teman yang memberikan informasi dan saran kepada kami,
4. Serta berbagai pihak yang telah membantu selama proses penyusunan
makalah kami yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk
kemajuan penulisan makalah kami di masa yang akan datang. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.

Surakarta, 14 Oktober 2018

Penulis
Daftar Isi

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II Pembahasan
A. Sistem Gerak pada Moluska
B. Sistem Gerak pada Cumi – cumi vampir (Vampyroteuthis infernalis)
C. Sistem Gerak pada Pisces
D. Sistem Gerak Ikan Pari Manta (Manta sp)
BAB III Penutup
A. Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup memiliki kemampuan bergerak. Secara umum
gerak dapat diartikan berpindah tempat atau perubahan posisi sebagian atau
seluruh bagian dari tubuh makhluk hidup. Gerak adalah suatu tanggapan
terhadap rangsangan baik dari dalam maupun dari luar. Gerak dapat berupa
gerakan sebagian anggota tubuh maupun seluruh tubuh. Misalnya gerak
pindah tempat.
Makhluk hidup akan bergerak bila ada impuls atau rangsangan yang
mengenai sebagian atau seluruh bagian tubuhnya. Pada hewan dan manusia
dapat mewakili pengertian gerak secara umum dan dapat dilihat dengan kasat
mata/secara nyata. Gerak pada manusia dan hewan menggunakan alat gerak
yang tersusun dalam sistem gerak. tumbuhan tersebut.
Alat-alat gerak yang digunakan pada manusia dan hewan ada 2 macam
yaitu alat gerak pasif berupa rangka dan alat gerak aktif berupa otot. Kedua
alat gerak ini akan bekerja sama dalam melakukan pergerakan sehingga
membentuk suatu sistem yang disebut sistem gerak.
System gerak hewan invertebrate bergantung juga dengan tekanan
cairan di dalam tubuhnya, karena tidak semua hewan invertebrate memiliki
rangka untuk mempertahankan bentuk tubuh mereka. Hewan invertebrata,
misalnya pada cacing pipih dan cacing gilig, hewan golongan Annelida, dan
Coelenterata (Cnidaria) memiliki sistem rangka hidrostatik. Adanya
rangka hidrostatik memungkinkan gerakan peristaltis yang merupakan
pergerakan yang dihasilkan oleh kontraksi otot yang ritmik dari kepala sampai
ekor. Gerakan ini terjadi karena adanya otot sirkuler dan otot longitudinal
Invertebrata yang lain membutuhkan sistem rangka untuk melindungi
tubuh, yaitu eksoskeleton, yang terdiri dari:
1. Shell (cangkang), merupakan eksoskeleton yang tidak menutupi seluruh
tubuh hewan. Banyak ditemukan pada hewan Bivalvia dan Gastropoda.
2. Body case merupakan eksoskeleton yang menutup seluruh permukaan
tubuh hewan. Contohnya pada Arthropoda
Sistem gerak hewan vertebrata meliputi rangka sebagai alat gerak pasif
dan otot sebagai alat aktif. Pada Pisces, rangka sumbu tubuh ikan berfungsi
untuk melekatnya otot-otot pergerakan. Fungsi lain dari rangka untuk
melindungi organ dalam.
Untuk itu, kami akan membahas lebih detail system gerak pada
Moluska sebagai hewan invertebrate dan Pisces sebagai hewan Vertebrata.
B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana system gerak pada Moluska ?
1) Bagaimana system gerak pada cumi – cumi vampir (Vampyroteuthis
infernalis) ?
2) Bagaimana system gerak pada Pisces ?
3) Bagaimana system gerak pada ikan pari Manta (Manta sp)?
C. Tujuan
2) Mengetahui system gerak pada Moluska
3) Mengetahui system gerak pada cumi – cumi vampir (Vampyroteuthis
infernalis)
4) Mengetahui system gerak pada Pisces
5) Mengetahui system gerak pada ikan pari Manta (Manta sp)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Gerak pada Moluska
Moluska merupakan filum invertebrata dengan anggota yang sangat banyak.
Mereka memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi. Moluska terdiri dari 7
kelas, yakni Gastropoda, Bivalvia, Cephalopoda, Aplacophora, Monoplacophora,
Polyplacophora, dan Scaphopoda. Moluska memiliki beberapa cara dalam
melakukan pergerakan, yakni dengan melata diatas substrat, mengubur diri, dan
berenang. Gastropoda, monoplacophora, polyplacophora dan aplacophora
bergerak dengan cara melata diatas substrat. Bivalvia berberak dengan
menggunakan semacam kaki yang tertekan secara dorso-ventral. Pada
cephalopoda, pergerakan saat berenang terjadi akibat adanya organ semacam
pipa yang berguna untuk menghasilkan tekanan untuk mendorong mereka kearah
yang mereka tuju.
Gastropoda dicirikan dengan kaki ventral yang tampak seperti
badan/perutnya. Pergerakan mereka sangat unik, karena mereka menggunakan
gelombang/ombak(wave) untuk menciptakan suatu pergerakan. Gelombang ini
diciptakan oleh serangkaian kontraksi dan relaksasi otot yang menjalar di
sepanjang bagian ventral tubuhya. Pergerakan mereka juga didukung oleh adanya
sekret berupa mukus (Lai, del Alamo, Rodriguez-Rodriguez, & Lasheras,
2010)(Pyron & Brown, 2014)(Trueman, 1983).
Selain menggunakan kaki ventral, beberapa angota dari gastropoda bergerak
dengan menggunakan silia. Silia yang terdapat pada tiap spesies beragam
ukurannya. Semakin besar ukurannya, semakin besar kecepatan pergerakan yang
dihasilkan (Trueman, 1983).
B. System Gerak pada Cumi-cumi Vampir (Vampyroteuthis infernalis)
Sistem gerak pada cumi-cumi vampir secara umum serupa dengan cumi-
cumi pada umumnya. Sistem ini terdiri dari:
 2 Tentakel dan 8 lengan yang lebih pendek dari tentakel. Nanum, pada cumi-
cumi vampire organ ini diselubungi dengan selaput, sehingga bentuknya
menyerupai ubur-ubur.
 2 sirip di bagian samping
 Otot
 Saluran-saluran yang serupa pipa di bawah kepala cumi-cumi
 Organ tambahan berupa statocyst

Secara umum, cumi-cumi dapat bergerak menggunakan tentakel serta


lengannya, atau bergerak menggunakan sistem ototnya yang luar biasa. Cara
pertama dilakukan cumi-cumi vampire dengan mengembang dan mengempiskan
lengannya, seperti gerakan yang dilakukan ubur-ubur untuk berpindah tempat.
cara gerak ini ditunjang dengan sepasang sirip yang berfungsi sebagai
penyeimbang.
Selain itu, cumi-cumi vampire juga memiliki kemampuan gerak luar biasa
berkat adanya sistem yang sangat unik pada tubuhnya. Tubuh lunak cumi-cumi
vampire tertutupi oleh lapisan jaket tebal. Di bawah lapisan ini, air disedot dan
disemburkan keluar oleh otot-otot kuat, sehingga menjadikannya mampu
bergerak mundur.
Mekanisme pada cumi-cumi sangatlah rumit. Pada kedua sisi kepalanya
terdapat lubang mirip kantong. Air disedot melalui lubang ini dan masuk ke
dalam rongga berbentuk tabung atau silinder dalam tubuhnya. Lalu ia
menyemburkankan air ini keluar dengan tekanan tinggi melalui sebuah pipa kecil
yang terletak persis di bawah kepalanya, sehingga ia dapat bergerak cepat dalam
arah berlawanan akibat gaya reaktif, yakni gaya dorong yang berlawanan arah
dengan arah semburan air.
Cumi-cumi meloloskan diri dari musuh dengan gerakan sangat cepat akibat
kontraksi otot yang cepat tersebut. Jika gerakan cepat saja tidak cukup, awan
tinta pekat dan gelap dikeluarkan dari dalam tubuhnya, sehingga musuh terkejut
untuk beberapa saat. Ini memberikan waktu yang cukup bagi cumi-cumi vampir
yang tak terlihat di belakang awan tinta untuk segera meninggalkan tempat dan
meloloskan diri.
Sistem pertahanan dan cara berenang reaktif cumi-cumi vampir juga bekerja
selama berburu. Mereka dapat menyerang dan mengejar musuh dengan
kecepatan tinggi. Sistem saraf yang sangat rumit mengatur penegangan dan
pengenduran otot yang diperlukan selama berenang. Oleh karenanya, sistem
pernapasan mereka juga pastilah sempurna, sehingga memungkinkan kerja
metabolisme tubuh yang prima yang diperlukan bagi sistem pancaran air
(propulsi jet) pada cumi-cumi.
Untuk menunjang proses pergerakan yang cepat, cumi-cumi vampire memiliki
organ tambahan, yang disebut statocyst. Organ ini berfungsi untuk
menyeimbangkan gerakan cumi-cumi vampire, sehingga dapat bermanuver
dengan lincah. Organ statocyst terletak di sekitar tubuhnya, dan tersambung
secara langsung dengan otak, sehingga refleks dari gerakan yang dihasilkan juga
lebih efektif.
Cumi-cumi vampire tergolong hewan dengan gerakan yang raktif, didukung
dengan kulit bagian dalam yang tersusun atas banyak lapisan otot yang saling
bertumpukan. Otot ini dikelompokkan menjadi tiga jenis: longitudinal, sirkular
dan radial. Susunan otot yang saling memperkuat dan saling menyeimbangkan
ini memungkinkan gurita melakukan beragam gerakan. Ketika menyembur air
keluar, otot sirkular mengerut searah panjangnya. Namun, sifat volumenya yang
cenderung tetap menyebabkan otot tersebut melebar, dan ini biasanya
menjadikan tubuh gurita memanjang. Akan tetapi, otot longitudinal mencegah
pemanjangan ini. Otot radial tetap dalam keadaan terentang selama peristiwa ini
terjadi sehingga lapisan jaket menebal. Setelah air disemburkan, otot
radialmengerut dan memendek, sehingga menyebabkan lapisan jaket menipis,
dan rongga jaket pun terisi air kembali.
Sistem otot pada cumi-cumi vampire hampir menyerupai gurita. Tetapi ada
satu perbedaan, yaitu cumi-cumi memiliki lapisan urat otot yang disebut mantel
sebagai ganti otot longitudinal pada gurita. Mantel ini terdiri dari dua lapisan
yang menutupi bagian luar dan dalam tubuhnya, seperti halnya otot longitudinal.
Di antara kedua lapisan ini adalah otot sirkular. Otot radial terletak di antara
lapisan otot sirkular, dalam posisi tegak lurus (Hoving, Laptikhovsky, &
Robison, 2015)(Woods, Floerl, & Hayden, 2012).

C. Sistem Gerak pada Pisces (Ikan)


Ikan seperti organisme lainnya, memerlukan pergerakan untuk
mempertahankan eksistensi hidupnya. Pergerakan tersebut ditujukan untuk
mencari makanan, memijah, menyerang dan mempertahankan diri dari
musuhnya. Pergerakan tersebut dapat pasif atau aktif. Pergerakan aktif pada ikan
pada umumnya dilakukan dengan berenang. (Nessa, 1985)
a. Mekanisme Dasar Pergerakan Renang Ikan
Ada dua karakteristik utama dalam mekanisme dasar pergerakan renang ikan,
yaitu: (Nursall, 1979)
1. Gerakan kontralatelal, yaitu berupa gelombang metachronal yang berawal
dari ekor bagian belakang dengan peningkatan amplitudo yang semakin
membesar ke depan. Gerakan tersebut disebabkan oleh serangkaian kontraksi
urat daging (myomere).
2. Lintasan gerakan tubuh secara transversal yang timbul akibat gerakan tersebut
di atas dan ini akan menimbulkan daya tolak. Daya tolak tersebut dapat
digambarkan akibat terbentuknya suatu sudut antara bagian-bagian tubuh
yang bergerak dengan arah lintasan pergerakan ikan ter sebut. Sudut-sudut ini
bervariasi besarnya, dimana maksimum pada saat bagian tubuh terjauh dari
poros lintasan gerakan dan minimum pada saat memotong poros lintasan
gerakan. Selain kecepatan pergerakan tubuh ikan dari samping ke samping
memotong poros lintasan kecepatannya juga bervariasi. Kecepatan tersebut
minimum pada saat posisi terjauh dari poros pergerakan dan maksimum pada
saat memotong poros lintasan gerakan maju ikan. Besarnya daya tolak yang
timbul tergantung dari besarnya sudut yang terbentuk (sudut a) dan kecepatan
bagian tubuh melalui poros lintasan per gerakan maju. Daya tolak maksimum
pada saat bagian-bagian tubuh melalui poros lintasan gerakan maju dari ikan
tersebut.
Karakteristik tersebut di atas menunjukkan bahwa kecepatan
pergerakan tergantung pada gelombang metachronal dan lintasan maju dari
ikan. Jika gelombang tubuh ikan tepat sama dengan gelombang lintasan
gerakan maju ikan tersebut, maka berarti tidak terbentuk sudut a, sehingga
tidak ada daya tolak. Supaya timbul daya tolak tersebut diperlukan kecepatan
gelombang tubuh ikan lebih cepat dari gelombang lintasan gerakan maju ikan,
minimal perbandingan 4 lawan 5 (Lighthill, 1977)
Pola gelombang tubuh ikan yang terbentuk pada dasarnya sama, tetapi
bentuk pergerakan tubuh ikan untuk menimbulkan gelombang tersebut agak
berbeda akibat perbedaan bentuk dan kelenturan tubuh. Menurut Lagler et al.
(1977) berdasarkan bentuk pergerakan badan ikan sehubungan dengan gerak
renang ikan dapat dibedakan atas tiga bentuk yaitu:
1) Anguilliform atau bentuk sidat, yaitu ikan yang berenang seperti ular
merayap atau seperti sidat berenang. Gelombang badan nampak jelas
dengan amplitude yang besar.
2) Ostracoform atau bentuk ikan buntal (trunk fish) yaitu ikan yang
berenang
dengan kibasan ekor yang cukup besar, sehingga nampak ekor seperti
dayung.
3) Carangiform atau bentuk dongkrak, yaitu ikan yang berenang dengan
kendali maju kedepan oleh ayunan batang ekor. Bentuk carangiform
ini dalam beberapa hal dapat dikatakan merupakan bentuk antara
anguillaform dan ostracoform. Pola pergerakan carangiform dapat
dilihat pada Gambar 1. Bentuk carangiform ini merupakan bentuk
umum bagi kebanyakan ikan-ikan komersiil dan pada umumnya
perenang cepat (Lighthill, 1977). Bentuk pergerakan ikan tersebut
ternyata sangat jelas dipengaruhi oleh bentuk tubuh ikan, sedang
bentuk tubuh ikan merupakan interaksi antara bentuk rangka, massa,
urat daging dan adaptasi keduanya dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya dalam evolusi (Langler, 1977).
b. Peranan Urat Daging dalam Renang Ikan
Peranan urat daging dalam gerak renang ikan sangat penting terutama
dalam pergerakan tubuh ikan dan organ lainnya seperti sirip. Peranan urat
daging yang terbanyak disoroti oleh para pakar dalam analisis gerak renang
ikan adalah peranan myomere untuk menghasilkan gelombang tubuh
(metachronal) yang menimbulkan daya tolak dalam renang ikan.

Gambar 1. Bentuk tubuh selama satu siklus pergerakan pada ikan-ikan


carangiform
(Langler, 1977).
Mekanisme kontraksi myomere untuk menimbulkan gelombang gerak
tubuh ikan seperti pada Gambar 2. Pada Gambar 2 tersebut AB adalah garis
tengah badan ikan dengan A sebagai bagian kepala. Belahan horizontal pada
bagian depan dan belakang dari myomere dalam keadaan memegang
menghasilkan jajaran genjang abcd dan efgh. Myomere yang memegang
menghasilkan gaya yang mengakibatkan ikan melengkung. Ikan dalam
keadaan melengkung dan kejang tersebut menyebabkan myomere dan garis
tengah tubuh membentuk sudut Odc dan Oef dan serat urat daging dalam
myomere kurang lebih sejajar dengan AB. Jika serat urat daging berkontraksi,
maka akan menarik septum bagian belakang ke depan dan bagian depan ke
belakang. Kontraksi urat daging tersebut menghasilkan bagian garis tengah
tubuh melengkung ke arah titik pusat 0. Dalam keadaan kontraksi tersebut
myomere dan garis tengah tubuh ikan akan membentuk unsur seperti
digambarkan garis yang putus-putus.
Berdasarkan bentuk serat urat daging, maka dibedakan atas:
1. Bentuk lebar, yaitu serat yang berwarna putih dan sarcomerenya pendek.
2. Bentuk halus, yaitu serat yang berwarna merah dengan sarcomere yang
panjang dan banyak mengandung lemak.

Gambar2. Gerakan
myomere dalam keadaan tubuh melengkung (Langler, 1977).
Ukuran dari sarcomere ini sangat erat hubungannya dengan kecepatan
kontraksi urat daging, di mana ikan dengan sarcomere yang pendek
kontraksinya lebih cepat (Nursall, 1979).
c. Peranan Skip dalam Renang ikan
Salah satu peranan sirip yang penting adalah sebagai tenaga penggerak
dan keseimbangan dalam renang ikan. Pada ikan yang bentuknya stream line
oleh Langler (1977) digambarkan seperti kapal layang, dimana sirip ekor
sebagai kemudi dan sirip berpasangan sebagai sayap sedang sirip tunggal
sebagai pembantu kemudi. Perumpamaan tersebut menggambarkan besarnya
peranan sirip dalam pergerakan renang ikan. Semua jenis sirip kecuali sirip
perut dapatdigunakan oleh beberapa spesies sebagai organ utama dalam
pergerakan renang ikan. Peranan setiap sirip tidak sama pada semua ikan,
pada ikan bofin (Amia calva) yang memiliki sirip punggung yang panjang
maka yang memegang peranan terpenting untuk gerakan maju atau mundur
adalah sirip punggung. Sedang pada ikan Belut listrik (Electrophorus) yang
memegang peranan utama adalah sirip dubur, pada ikan Kupas-kupas
(Monacanthus) sirip dubur dan punggung sebagai tenaga penggerak utama,
pada beberapa jenis cucut yang memegang peranan utama adalah sirip dada
(Langler, 1977). Tetapi menurut Nursall (1979) yang paling penting
peranannya adalah sirip ekor seperti yang dijelaskan pada mekanisme dasar
gerakan renang ikan. Pada ikan-ikan yang tidak memiliki sirip berpasangan
maka pergerakan maju dan mundur sepenuhnya tergantung pada sirip ekor
myomere.
Peranan sirip ekor dalam gerakan renang ikan telah diteliti oleh
Bainbridge (dalam Nursall, 1979), di mana diperoleh hubungan linear yang
positip antara frekwensi kibasan ekor dengan kecepatan renang, seperti
digambarkan pada Gambar 3. Pergerakan renang ikan untuk turun naik,
membelok dan berhenti pada umumnya yang berperanan adalah sirip dada dan
sirip perut (Langler, 1979).
Gambar 3. Hubungan antara besarnya amplitudo kibasan ekor dengan jarak
yang ditempuh setiap kibasan (a) dan hubungan kecepatan gerakan renang
ikan dengan frekwensi kibasan ekor pada ikan Leuciscus leuciscus
(Bainbridge dalam Nursall 1979).

D. Sistem Gerak Ikan Pari Manta (Manta sp)


1. Sistem Gerak Ikan Pari secara Umum
Ikan pari memiliki sirip pectoral yang sangat membesar dan menempel
sepanjang tubuh mulai dari belakang kepala hingga di depan sirip pelvik.
Pada umumnya, ikan pari memiliki dua sirip median dorsal yang letaknya
jauh dari ekor, tetapi tidak ada pada ikan pari berduri (sting ray). Ikan pari
tidak memiliki sirip anal. Meski sirip ekor tidak ditemukan pada kebanyakan
ikan pari, tetapi berkembang baik pada ikan pari elektrik. Bagian dalam
dari sirip pelvik ikan pari jantan berubah menjadi klasper sebagai alat untuk
memindahkan sperma kepada hewan betina. Pada ikan pari duri (ray-
finned) siripnya disokong oleh duri lembut yang mudah terlihat, tidak
tertutup oleh struktur keras seperti pada elasmobranchii. Ikan pari berenang
dengan menggelombangkan sirip pectoralnya yang lebar.
2. Sistem Gerak Ikan Pari Manta (Manta sp)
Ikan pari manta memiliki fisik yang secara umum mirip dengan
kebanyakan ikan pari dengan sirip dada yang lebar serta ekor kecil seperti
cambuk. Sirip dadanya yang lebar membuat tubuhnya terlihat pipih.
Manta bergerak memakai sirip dadanya dengan cara mengombakkannya dari
bagian dekat kepala hingga ke belakang tubuh sehingga saat dilihat,
pari manta seolah-olah sedang terbang di dalam laut.
Ikan pari manta sanggup berenang ratusan kilometer dan
dikategorikan sebagai ikan pelagis. Ikan pari manta terkadang ditempeli ikan
remora ataupun diikuti oleh ikan pelagis lainnya yang berenang di bawahnya
seperti ikan kuwe (Caranx spp.). Ini menunjukkan hubungan simbiosis
komensalisme di mana ikan remora dan ikan kuwe mendapat perlindungan
atau bahkan transportasi gratis (ikan remora yang menempel), sedangkan
ikan pari manta tidak dirugikan. Perilaku berenang pari manta dilakukan
sendiri (solitaire) maupun dalam kelompok (schooling). Cara berenang
adalah dengan menggerakkan kedua sirip samping (pectoral fins) ke atas dan
ke bawah seperti sayap burung. Sedangkan chepalic fins atau cuping kepala
salah satunya berfungsi untuk bermanufer.
Ciri khas dari ikan pari manta adalah kemampuannya untuk
melompat keluar dari air dan ukuran tubuhnya yang besar. Tubuh ikan pari
manta yang besar menjadikan ikan ini semakin menarik perhatian sekitar
saat sedang melakukan lompatan. Ikan pari manta melakukan lompatan
diduga untuk menghindari diri dari pemangsa dan untuk melepaskan parasit
yang menempel pada tubuh. Selain itu, diperkirakan ikan pari manta
melakukan lompatan untuk berkomunikasi satu sama lain dan untuk
menunjukkan kekuatannya saat sedang mencari pasangan.
Dalam mencari makan, ikan pari manta akan berenang dengan
membuka mulut dan insang sehingga air masuk dan keluar dari insang.
Plankton akan tersaring dan masuk ke dalam tubuhnya. Sedangkan, saat
membersihkan tubuhnya, ikan pari manta akan berdiam diri di suatu
tempat untuk membiarkan ikan-ikan kecil memakan parasit atau kulit
mati di seluruh tubuhnya, dalam mulut dan insang mereka. Posisi badan
agak condong ke depan, mulut dan insang terbuka, sirip bergerak pelan
untuk mengimbangi daya apung, kadang berenang memutar untuk kembali
ke tempat semula. Tempat membersihkan diri tersebut biasa disebut
cleaning station yang berupa gundukan karang maupun cekungan di
mana terdapat banyak ikan kecil pembersih meliputi ikan wrasse (Labroides
dimidiatus, Labroides bicolor, Thalassoma lunare), ikan kepe-kepe
(Chaetodon kleinii) dan ikan sersan mayor (Abudefduf spp.). Perilaku ini
merupakan demonstrasi dari hubungan timbal balik atau simbiosis
mutualisme. Pari manta bersih dari parasit, sedangkan ikan pembersih
mendapatkan makanan. (Nurcahyo et al., 2016)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
 Moluska memiliki beberapa cara dalam melakukan pergerakan, yakni
dengan melata diatas substrat, mengubur diri, dan berenang. Gastropoda
dicirikan dengan kaki ventral yang tampak seperti badan/perutnya.
Pergerakan mereka sangat unik, karena mereka menggunakan
gelombang/ombak(wave) untuk menciptakan suatu pergerakan
 Secara umum, cumi-cumi dapat bergerak menggunakan tentakel serta
lengannya, atau bergerak menggunakan sistem ototnya yang luar biasa.
Cara pertama dilakukan cumi-cumi vampire dengan mengembang dan
mengempiskan lengannya, seperti gerakan yang dilakukan ubur-ubur untuk
berpindah tempat. cara gerak ini ditunjang dengan sepasang sirip yang
berfungsi sebagai penyeimbang
 Gerakan pada Pisces (Ikan) terbagi menjadi dua, yaitu (1) Gerakan
kontralatelal disebabkan oleh serangkaian kontraksi urat daging
(myomere), (2) Lintasan gerakan tubuh secara transversal yang timbul
akibat gerakan tersebut di atas dan ini akan menimbulkan daya tolak
 Ikan pari Manta bergerak memakai sirip dadanya dengan cara
mengombakkannya dari bagian dekat kepala hingga ke belakang tubuh
sehingga saat dilihat, pari manta seolah-olah sedang terbang di
dalam laut
DAFTAR PUSTAKA
Hoving, H. J. T., Laptikhovsky, V. V., & Robison, B. H. (2015). Vampire squid
reproductive strategy is unique among coleoid cephalopods. Current Biology,
25(8), R322–R323. https://doi.org/10.1016/j.cub.2015.02.018
Lai, J. H., del Alamo, J. C., Rodriguez-Rodriguez, J., & Lasheras, J. C. (2010). The
mechanics of the adhesive locomotion of terrestrial gastropods. Journal of
Experimental Biology, 213(22), 3920–3933. https://doi.org/10.1242/jeb.046706
Langler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. (1977).Ichthyology.
Sec. Ed. John Wiley & Sons. New York
Lighthill, SJ. (1977). Mathematical Theories of Fish Swimming. In: J.H. Steele (ed),
Fisheries Mathematics. Academic Press. London.
Nessa, Natsir. 1985. Mekanisme dan Daya Renang Ikan. Oseana. X(l) : 31-38. ISSN
0216-1877
Nurcahyo, H., Siahaan, D., Wahyudi, Y., Purnawati, B., Nurhamdani, Lazuardi, M.,
… Petta, C. (2016). Pari manta (Manta spp.) di perairan KKP Nusa Penida dan
Taman Nasional Komodo. Denpasar: Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan
Laut (BPSPL) Denpasar Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Nursall, J.R. (1979). Swimming and the origin of paired appendages. In: Milton S.
Love and Gregor M. Cailliet (eds), Reading in Ichthyology. Prentice-Hall of
India. New Delhi.
Pyron, M., & Brown, K. M. (2014). Introduction to Mollusca and the Class
Gastropoda. Thorp and Covich’s Freshwater Invertebrates: Ecology and
General Biology: Fourth Edition (Vol. 1). https://doi.org/10.1016/B978-0-12-
385026-3.00018-8
Trueman, E. R. (1983). Locomotion in molluscs. The Mollusca Volume 4 (Physiology,
Part 1) (Vol. 4). ACADEMIC PRESS, INC.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1016/B978-0-12-751404-8.50012-8
Woods, C. M. C., Floerl, O., & Hayden, B. J. (2012). Biofouling on Greenshell TM
mussel (Perna canaliculus) farms: A preliminary assessment and potential
implications for sustainable aquaculture practices. Aquaculture International,
20(3), 537–557. https://doi.org/10.1007/s10499-011-9484-2