Anda di halaman 1dari 8

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

5.6. RENCANA SOSIO DEMOGRAFI • Kepadatan penduduk sedang terdapat pada unit pengembangan pinggiran yaitu pada unit
5.6.1. KEPENDUDUKAN pengembangan V. Kondisi ini terjadi karena pada unit pengembangan ini luas lahan relatif
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk dengan metode modified comperative model, yaitu luas sehingga meskipun sebaran penduduknya tinggi namun kepadatannya masih dalam
proyeksi ratio antara wilayah pusat dan wilayah pinggir akan sesuai dengan kecenderungan yang kategori sedang.
ada (tidak tetap). Dengan metode tersebut penduduk Kota Surabaya sampai dengan tahun • Kepadatan penduduk rendah terdapat pada unit pengembangan transisi yaitu unit
perencanaan (2013) diperkirakan mencapai 2.682.203 jiwa. Metode ini digunakan kerena pengembangan VIII dan unit pengembangan pinggiran yaitu unit pengembangan I, II, III,
pertumbuhan antara wilayah pusat dengan pinggiran memiliki kecenderungan perkembangan IX, X, XI dan XII dengan sebaran penduduk rendah. Kondisi ini terjadi karena terdapatnya
yang berbeda. Kawasan pusat memiliki kecenderungan pertumbuhan penduduk menurun keseimbangan antara luas lahan dengan sebaran penduduknya, di samping itu
sedangkan kawasan pinggiran cenderung naik. Kawasan pusat meliputi Kecamatan Tegalsari, perkembangan wilayah tersebut yang relatif lambat dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Genteng, Bubutan dan Simokerto. Sedang di luar kecamatan yang disebut di atas diasumsikan Sebaran dan kepadatan penduduk disajikan pada tabel 5.22. serta Gambar 5.12.
sebagai wilayah pinggiran.
Perkiraan penduduk Kota Surabaya ini dimulai tahun 2000 (data penduduk eksisting 5.6.2. SOSIO DEMOGRAFI
terakhir tahun 2000 dengan 28 wilayah kecamatan). Sementara itu akhir tahun 2001 Kota Dalam perspektif tata ruang, adanya sifat ruang yang memiliki ‘keterbatasan’ sementara
Surabaya mengalami pemekaran wilayah menjadi 31 kecamatan, di mana kecamatan yang semakin banyak orang membutuhkannya, menyebabkan ruang menjadi ‘komoditas’ yang
mengalami pemekaran tersebut adalah : semakin diperebutkan secara kompetitif. Karena sifat masyarakat selalu terstratifikasi
1. Kecamatan Benowo menjadi Benowo dan Pakal. berdasarkan perbedaan akses dan kemampuan, maka timbul perbedaan kemampuan dalam
2. Kecamatan Kenjeran menjadi Kenjeran dan Bulak. penguasaan atau kepemilikan ruang. Perbedaan kemampuan memperebutkan ruang
3. Kecamatan Lakarsantri menjadi Lakarsantri dan Sambikerep. mengakibatkan munculnya masalah-masalah sosial, seperti ketimpangan sosial, ekonomi,
Estimasi penduduk sampai dengan tahun 2013 disajikan pada tabel 5.21. maupun segregasi permukiman. Produk ikutan dari kesenjangan seperti itu, adalah maraknya
Sampai dengan tahun 2013 penduduk Kota Surabaya diperkirakan mencapai 2.682.203 penyakit sosial, seperti kriminalitas, pedagang kali lima, perkampungan kumuh, pelacuran ABG,
jiwa dengan kepadatan kotor sebesar 82 jiwa/Ha. Berdasarkan unit pengembangannya, sebaran anak jalanan, dan gepeng.
penduduk tersebut dikategorikan ke dalam 3 klasifikasi sebagai berikut: Perubahan lahan dari peruntukan perumahan ke perkantoran, jasa dan perdagangan tak
• Kepadatan tinggi : 184 sampai 262 jiwa/Ha bedanya dengan perubahan ruang dari kehidupan sosial ke kehidupan ekonomi. Pada hal antara
• Kepadatan sedang: 105 sampai 184 jiwa/Ha keduanya mempunyai perbedaan sifat, karakteristik dan orientasi. Karena itu, berubahnya
• Kepadatan rendah: 26 sampai 105 jiwa/Ha peruntukan lahan ini sudah pasti secara langsung mempengaruhi dinamika warga penghuninya.
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, secara umum tampak adanya kecenderungan penduduk Di bidang fisik, sudah jelas ada perbedaan tatanan dan bentuk lingkungan. Di bidang ekonomi,
untuk tinggal pada daerah pinggiran yang intensitas penggunaan lahannya relatif rendah. pola hubungan sosial berkembang dengan mengedepankan prinsip-prinsip ekonomi. Di bidang
Kecenderungan kepadatan penduduk yang terjadi pada masing-masing unit pengembangan sosial, tatanan dan hirarkhi sosial berubah dengan tiba-tiba. Di bidang budaya, tolok ukur nilai,
diperkirakan sebagai berikut : termasuk ukuran baik-buruk, pantas-tidak pantas, layak-tak layak, akan berubah. Yang jelas,
• Kepadatan penduduk tinggi terdapat pada unit pengembangan inti yaitu pada unit kehidupan sosial warga akan sangat tinggi kemungkinannya dipengaruhi oleh stimulasi prinsip-
pengembangan IV, VI dan VII yang merupakan daerah di sekitar pusat kota. Demikian pula prinsip ekonomi. Perubahan peruntukan tersebut semakin diperparah oleh munculnya sektor
dengan persebaran penduduknya juga tinggi. Kondisi ini terjadi karena luas lahan pada unit informal yang biasanya selalu muncul bersamaan dengan munculnya pusat-pusat keramaian
pengembangan ini tidak mampu menampung sebaran penduduknya. Untuk mensiasati baru akibat dibukanya kegiatan perdagangan dan jasa misalnya.
kondisi ini sebaran diarahkan pada daerah pinggiran dan transisi melalui pemerataan
pembangunan sebagai salah satu alternatif mengurangi pergerakan penduduk yang
memusat.

V - 32
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

TABEL 5.21 PROYEKSI PENDUDUK TAHUN 2001 - 2013


PROYEKSI PENDUDUK TAHUN 2002/2013
NO KECAMATAN
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
1 Tegalsari 110.739 110.287 109.835 109.384 108.932 108.480 108.028 107.576 107.124 106.672 106.221 105.769
2 Genteng 61.881 61.629 61.376 61.124 60.871 60.619 60.366 60.114 59.861 59.609 59.356 59.104
3 Bubutan 101.199 100.786 100.373 99.960 99.547 99.134 98.721 98.308 97.896 97.483 97.070 96.657
4 Simokerto 102.568 102.149 101.731 101.312 100.893 100.475 100.056 99.638 99.219 98.801 98.382 97.964
5 Pabean Cantikan 89.593 90.341 91.090 91.838 92.587 93.335 94.083 94.832 95.580 96.329 97.077 97.825
6 Semampir 155.886 157.188 158.490 159.792 161.095 162.397 163.699 165.001 166.303 167.606 168.908 170.210
7 Krembangan 120.165 121.169 122.173 123.177 124.180 125.184 126.188 127.192 128.196 129.199 130.203 131.207
8 Kenjeran 76.929 77.572 78.214 78.857 79.500 80.142 80.785 81.428 82.070 82.713 83.355 83.998
9 Bulak 27.371 27.600 27.828 28.057 28.286 28.514 28.743 28.971 29.200 29.429 29.657 29.886
10Tambaksari 209.259 211.858 214.457 217.056 219.655 222.254 224.853 227.452 230.051 232.650 235.249 237.848
11Gubeng 143.246 145.025 146.805 148.584 150.363 152.142 153.921 155.700 157.479 159.259 161.038 162.817
12Rungkut 75.553 76.491 77.429 78.368 79.306 80.244 81.183 82.121 83.060 83.998 84.936 85.875
13Tenggilismejoyo 40.993 41.502 42.012 42.521 43.030 43.539 44.048 44.557 45.066 45.576 46.085 46.594
14Gunung anyar 31.322 31.711 32.100 32.489 32.878 33.267 33.656 34.045 34.434 34.823 35.212 35.601
15Sukolilo 74.117 75.037 75.958 76.878 77.799 78.719 79.640 80.561 81.481 82.402 83.322 84.243
16Mulyorejo 57.083 57.792 58.501 59.210 59.919 60.628 61.337 62.046 62.755 63.463 64.172 64.881
17Sawahan 201.136 202.353 203.570 204.787 206.004 207.220 208.437 209.654 210.871 212.088 213.304 214.521
18Wonokromo 175.516 176.578 177.640 178.702 179.763 180.825 181.887 182.949 184.011 185.072 186.134 187.196
19Karangpilang 49.793 50.094 50.395 50.696 50.998 51.299 51.600 51.901 52.203 52.504 52.805 53.106
20Dukuh Pakis 46.724 47.006 47.289 47.572 47.854 48.137 48.420 48.702 48.985 49.268 49.550 49.833
21Wiyung 39.580 39.820 40.059 40.299 40.538 40.778 41.017 41.257 41.496 41.735 41.975 42.214
22Wonocolo 61.701 62.074 62.447 62.820 63.194 63.567 63.940 64.313 64.687 65.060 65.433 65.807
23Gayungan 37.094 37.318 37.543 37.767 37.991 38.216 38.440 38.665 38.889 39.114 39.338 39.562
24Jambangan 31.868 32.061 32.253 32.446 32.639 32.832 33.025 33.217 33.410 33.603 33.796 33.989
25Tandes 86.495 88.085 89.675 91.266 92.856 94.447 96.037 97.627 99.218 100.808 102.399 103.989
26Sukomanunggal 85.069 86.633 88.197 89.761 91.325 92.890 94.454 96.018 97.582 99.146 100.711 102.275
27Asemrowo 30.650 31.214 31.777 32.341 32.905 33.468 34.032 34.595 35.159 35.723 36.286 36.850
28Benowo 19.310 19.665 20.020 20.375 20.730 21.085 21.441 21.796 22.151 22.506 22.861 23.216
29Pakal 32.345 32.940 33.534 34.129 34.724 35.319 35.913 36.508 37.103 37.698 38.292 38.887
30Lakarsantri 24.413 24.862 25.311 25.760 26.209 26.658 27.106 27.555 28.004 28.453 28.902 29.351
31Sambikerep 42.343 43.122 43.900 44.679 45.457 46.236 47.014 47.793 48.572 49.350 50.129 50.907
JUMLAH 2.441.941 2.461.962 2.481.984 2.502.006 2.522.028 2.542.050 2.562.072 2.582.094 2.602.116 2.622.137 2.642.159 2.662.181
Sumber : Hasil Analisa
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

TABEL 5.22. PERKIRAAN JUMLAH PENDUDUK SURABAYA


BERDASARKAN UNIT PENGEMBANGAN TAHUN 2013

UNIT TAHUN 2001 TAHUN 2005 TAHUN 2009 TAHUN 2013 KLASIFIKASI TH 2013
NO LUAS (HA)
PENGEMBANGAN PENDUDUK KEPADATAN PENDUDUK KEPADATAN PENDUDUK KEPADATAN PENDUDUK KEPADATAN PERSEBARAN KEPADATAN
UP I
1 Rungkut 2.108,16 75.553 36 79.306 38 83.060 39 86.813 41
2 Gunung Anyar 970,96 31.322 32 32.878 34 34.434 35 35.990 37
RENDAH RENDAH
3 Tenggilis Mejoyo 552,29 40.993 74 43.030 78 45.066 82 47.103 85
sub total 3.631,41 147.868 41 155.214 43 162.560 45 169.906 47
UP II
4 Mulyorejo 1.421,22 57.083 40 59.919 42 62.755 44 65.590 46
5 Sukolilo 2.368,28 74.117 31 77.799 33 81.481 34 85.163 36 RENDAH RENDAH
sub total 3.789,50 131.199 35 137.717 36 144.236 38 150.754 40
UP III
6 Bulak 677,52 27.371 40 28.286 42 29.200 43 30.115 44
7 Kenjeran 764,01 76.929 101 79.500 104 82.070 107 84.641 111 RENDAH RENDAH
sub total 1.441,53 104.300 72 107.785 75 111.270 77 114.755 80
UP IV
8 Tambaksari 899,60 211.858 236 219.655 244 230.051 256 240.447 267
9 Gubeng 799,90 143.246 179 150.363 188 157.479 197 164.596 206 TINGGI TINGGI
sub total 1.699,50 355.104 415 370.018 218 387.531 228 405.043 238
UP V
10 Semampir 876,75 157.188 179 161.095 184 166.303 190 171.512 196
11 Pabean Cantikan 679,55 90.341 133 92.587 136 95.580 141 98.574 145
TINGGI SEDANG
12 Krembangan 834,14 120.165 144 124.180 149 128.196 154 132.211 158
sub total 2.390,44 367.695 154 377.862 158 390.079 163 402.297 168
UP VI
13 Simokerto 258,78 102.568 396 100.893 390 99.219 383 97.545 377
14 Bubutan 386,27 101.199 262 99.547 258 97.896 253 96.244 249
15 Genteng 404,75 61.881 153 60.871 150 59.861 148 58.851 145 TINGGI TINGGI
16 Tegalsari 429,38 110.739 258 108.932 254 107.124 249 105.317 245
sub total 1.479,18 376.387 254 370.244 250 364.101 246 357.957 242
UP VII
17 Sawahan 692,89 201.136 290 206.004 297 210.871 304 215.738 311
18 Wonokromo 846,59 175.516 207 179.763 212 184.011 217 188.258 222 TINGGI TINGGI
sub total 1.539,48 376.652 245 385.767 251 394.881 257 403.996 262
UP VIII
19 Dukuh Pakis 993,51 46.724 47 47.854 48 48.985 49 50.116 50
20 Sukomanunggal 922,97 85.069 92 91.325 99 97.582 106 103.839 113 RENDAH RENDAH
sub total 1.916,48 131.793 69 139.180 73 146.567 76 153.955 80
UP IX
21 Jambangan 418,62 31.868 76 32.639 78 33.410 80 34.181 82
22 Wonocolo 678,14 61.701 91 63.194 93 64.687 95 66.180 98
RENDAH RENDAH
23 Gayungan 607,31 37.094 61 37.991 63 38.889 64 39.787 66
sub total 1.704,07 130.662 77 133.824 79 136.986 80 140.148 82
UP X
24 Wiyung 1.245,65 39.820 32 40.538 33 41.496 33 42.454 34
25 Karangpilang 922,53 49.793 54 50.998 55 52.203 57 53.407 58
RENDAH RENDAH
26 Lakarsantri 2.042,83 24.862 12 26.209 13 28.004 14 29.800 15
sub total 4.211,01 114.474 27 117.744 28 121.703 29 125.661 30
UP XI
27 Benowo 2.677,99 19.310 7 20.730 8 22.151 8 23.571 9
28 Tandes 1.106,72 88.085 80 92.856 84 99.218 90 105.579 95
RENDAH RENDAH
29 Asemrowo 1.544,10 30.650 20 32.905 21 35.159 23 37.413 24
sub total 5.328,81 138.046 26 146.491 27 156.527 29 166.563 31
UP XII
30 Pakal 1.901,26 32.345 17 34.724 18 37.103 20 39.482 21
31 Sambikerep 1.605,08 42.343 26 45.457 28 48.572 30 51.686 32 RENDAH RENDAH
sub total 3.506,34 74.688 21 80.181 23 85.674 24 91.168 26
JUMLAH 32.637,75 2.441.941 75 2.522.028 77 2.602.116 80 2.682.203 82 - -
Sumber : Hasil Analisa
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

Agar keberadaan sektor informal, misalnya PKL, tidak memperburuk lingkungan, maka • PKL dan kaum migran adalah sebuah potensi terpendam, yang bila dikelola dengan bijak
akan sangat strategis dan bijak apabila sejak awal sudah dilakukan penataan bersamaan dengan dapat menjadi sumber pemasukan bagi PAD Kota Surabaya.
penataan sektor formal. Artinya, sektor informal didesain sebagai bagian dari grand-design • Jika di Surabaya, retribusi yang ditarik dari seluruh sektor informal kota dapat masuk ke
sektor formal. Ketentuan desain ini kemudian dalam pelaksanaannya diperkuat dengan sosialisasi kas Pemkot, dan campur tangan oknum atau preman yang selama ini mengeksploitasi
dan kontrol yang tegas dan konsekuen. Salah satu karakteristik sektor informal (dalam hal ini PK- PKL dan migran dapat dieliminasi, maka tidak mustahil kehadiran PKL justru menjadi
5) adalah fleksibilitasnya. Kalau sektor informal ini ditata secara formal, maka akan justru salah satu sumber PAD yang strategis. Katakanlah jika di Surabaya ini ada 50 ribu PKL
kehilangan keinformalannya. Penyatuan desain sektor informal ke dalam grand-design sektor dan masing-masing per hari dikenai retribusi Rp 500 saja, maka dalam satu hari Pemkot
formal yang dimaksud adalah melalui pemberian ruang space khusus kepada sektor ini (bisa setidaknya dapat menarik retribusi sebesar Rp 25.000.000. Jika retribusi yang dikenakan
ruang terbuka atau bentuk lain asal tidak tersekat-sekat, berupa stan-stan sebagaimana layaknya Rp 1.000, maka per hari pendapatan yang diperoleh bisa mencapai Rp 50.000.000, atau
stan sektor formal. Di samping itu diberikan pula kebebasan mengatur dan mengelola setiap bulannya Rp 1.500.000.000.
performace dan model penjajaannya sesuai dengan karakteristik dagangannya. Yang perlu 2. PKL tidak bisa dibiarkan lepas kendali, melainkan perlu ditata sedemikian rupa agar tidak
diatur terbatas pada ketentuan-ketentuan umum saja, tidak terlalu detail, termasuk detail model menganggu ketertiban dan keindahan kota, seperti :
ruangnya. Mengingat sektor informal selalu muncul di lokasi keramaian, tempat banyak orang • Dengan keterbatasan jumlah personil, dana dan lahan yang dimiliki Pemkot Surabaya,
berkumpul atau jalan yang banyak dilalui orang, maka sebetulnya pilihan areanya bisa diatur maka upaya untuk menata PKL harus melibatkan pihak swasta atau dunia usaha,
dengan penataan arsitektur tertentu. Satu hal yang sering terlupakan adalah pembangunan khususnya pusat-pusat kegiatan ekonomi yang berskala besar seperti pasar modern,
sektor formal, misalnya pertokoan, plasa atau perkantoran, sesungguhnya secara tidak langsung pusat perkantoran, plaza atau mal serta industri. Kegiatan ekonomi / komersial tersebut
telah mengundang hadirnya PKL seperti warung-warung. Sebab, ternyata pekerja/karyawan secara tidak langsung merupakan salah satu lokasi potensial timbulnya PKL.
sektor formal tersebut sangat membutuhkan kehadiran sektor informal. Dan dalam banyak hal, • Agar upaya penataan PKL dapat berjalan dengan maksimal dan tidak harus dengan cara
masyarakat kita masih juga memerlukan PKL. Karena itu, eksistensi PKL tidak mungkin mengorban kepentingan PKL, maka ada baiknya jika pihak eksekutif dan legislatif Kota
dihilangkan, setidaknya untuk kondisi sekarang, melainkan harus dikelola dengan proporsional. Surabaya segera menyusun Perda yang mengatur peran serta swasta dalam upaya
Sebagai sebuah masalah sosial di kota besar, harus diakui bahwa upaya menata PKL dan penataan PKL.
menertibkan bangunan liar di Kota Surabaya bukanlah hal yang mudah. Program penanganan • Setiap mal atau pusat perkantoran dan kegiatan komersial lainnya, diwajibkan
yang bersifat parsial jelas hanya akan melahirkan masalah baru, sedangkan bentuk perlindungan menyediakan sebagian dari luas lahan mereka untuk menampung PKL. Lahan tersebut
dan sikap belas-kasihan yang berlebihan dikhawatirkan juga akan menimbulkan bentuk bukan diberikan gratis begitu saja kepada PKL, tetapi sesuai dengan hasil musyawarah
ketergantungan baru yang dapat menghilangkan mekanisme self-help kaum migran yang dengan paguyuban atau wakil para PKL, kemudian ditetapkan tarif sewa tertentu yang
terkategori miskin. Sementara itu, kegiatan penertiban kota yang semata-mata bersifat represif- menguntungkan bagi kedua belah pihak.
punitif, niscaya hanya akan melahirkan perlawanan dan mekanisme “kucing-kucingan” yang 3. Untuk mengeliminasi perkembangan jumlah PKL yang berlebihan di Kota Surabaya,
sama sekali tidak menyelesaikan masalah hingga akarnya. Untuk kepentingan Surabaya ke disarankan agar Pemkot tidak terjebak pada pendekatan yang sifatnya represif. Melainkan
depan agar upaya penataan PKL dan bangunan liar benar-benar komprehensif dan menyentuh mencoba mengembangkan semacam mekanisme deteksi dini yang efektif melalui
akar masalah, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut: keterlibatan dan peran aparat di tingkat kelurahan dan kecamatan. Sistem deteksi dini baru
1. Keberadaan PKL pada dasarnya bukanlah semata-mata beban atau gangguan bagi keindahan dapat berjalan dengan efektif jika pihak kelurahan atau minimal pihak kecamatan juga diberi
dan ketertiban kota, namun yang harus digali adalah : dukungan, baik fasilitas fisik maupun sumber daya manusianya.

V - 58
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

4. Upaya penataan PKL tidak hanya pada bentuk-bentuk penindakan atau operasi penertiban marak, juga karena secara administratif ulah mereka sebetulnya merugikan Pemkot
yang sifatnya represif, yang umumnya hanya melahirkan pembangkangan dan daya karena retribusi yang seharusnya dapat dijadikan sumber PAD ternyata justru hanya
resistensi para PKL. dinikmati oleh sekelompok kecil oknum yang tidak bertanggungjawab.
• Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana mengkombinasikan antara fungsi 7. Untuk mengalihkan dan menampung PKL-PKL yang sudah terlalu menganggu ruang publik,
pembinaan, fungsi pengawasan, dan fungsi preventif, serta fungsi penindakan itu sendiri maka salah satu zone yang bisa dijadikan alternatif adalah pasar. Namun demikian, sejak
untuk situasi khusus. Yang dimaksud fungsi pembinaan adalah bagaimana upaya yang awal perlu disadari bahwa tidak semua PKL bisa langsung dipindahkan ke dalam pasar,
dikembangkan Pemkot terhadap kelompok PKL binaan tidak hanya sekadar memberikan karena itu semua juga tergantung pada jenis barang dagangan yang diperjual-belikan para
bantuan modal usaha, tetapi juga difokuskan pada penataan PKL itu sendiri ke lahan- PKL. Bentuk dari program relokasi PKL ini antara lain bisa berupa pembangunan pasar atau
lahan yang tidak menganggu kepentingan publik. sentra PKL.
• Fungsi pengawasan merupakan upaya Pemkot untuk mendata dan mengawasi 8. PKL yang berada di kawasan-kawasan tertentu yang masih memungkinkan untuk ditoleransi,
perkembangan PKL serta bangunan liar, sedangkan fungsi preventif adalah upaya Pemkot maka kebijakan penataan yang realistis adalah dengan program rombongisasi atau
untuk mencegah arus urbanisasi agar tidak melampaui batas tertentu atau melebihi tendanisasi. Sekali pun program ini bukan jalan keluar yang terbaik bagi ketertiban kota,
kemampuan daya tampung kota dengan cara mengembangkan kerjasama dengan tetapi program ini boleh dikata paling realistis karena dapat mengkompromikan antar
wilayah hinterland sebagai upaya mengurangi kesenjangan desa-kota agar tidak makin kepentingan PKL agar tetap diperbolehkan berdagang di kawasan yang ramai, sementara di
mencolok. saat yang sama keindahan kawasan itu tetap dapat terjaga karena para PKL itu bersedia
• Fungsi penindakan, dalam beberapa kasus tetap diperlukan, tetapi dengan catatan diatur sedemikian rupa yang secara fisik tetap memiliki nilai estetika.
khusus ditujukan untuk PKL di kawasan tertentu yang dinilai sudah melewati batas 9. Strategi penanganan PKL dan persoalan urbanisasi berlebih yang paling ideal sesungguhnya
toleransi ketertiban dan kepentingan umum warga kota. adalah penanganan yang dimulai dari hulunya. Akar masalah sektor informal kota adalah
5. Sifat PKL adalah selalu hadir di pusat-pusat keramaian seperti plaza, pusat perkantoran, mal akibat adanya kesenjangan desa-kota, maka strategi penanganan masalah ini mau tidak mau
dan sejenisnya. Untuk mengeliminasi agar kesemrawutan yang ditimbulkan tidak terlalu harus pada tingkat regional atau paling-tidak melibatkan kerjasama dan dukungan kota-
mengumpul di pusat kota, maka disarankan agar Pemkot segera mengambil kebijakan untuk kabupaten yang lain khususnya yang menjadi hinterland Kota Surabaya. Terjadinya
menyebar pusat-pusat keramaian itu ke wilayah pinggiran kota. Insentif bagi investor yang urbanisasi berlebih (over urbanization) di Kota Surabaya adalah imbas dari persoalan yang
ingin membuka pusat keramaian di wilayah pinggiran kota perlu dikedepankan agar muncul di desa asal migran, sehingga sepanjang persoalan di daerah asal itu tidak ditangani
perkembangan dunia swasta dan industri tidak hanya menyerbu wilayah pusat kota, tetapi dengan baik, maka kebijakan “pintu tertutup” yang dikembangkan kota besar di mana pun
mereka bersedia membangun pusat keramaian baru di wilayah pinggiran. Bentuk insentif tidak akan pernah mampu mengurangi arus migrasi.
yang ditawarkan bisa berupa pengurangan pajak, kemudahan fasilitas pendukung (telpon, air 10. Kelemahan upaya penataan PKL dan bangunan liar di Surabaya adalah kurang atau bahkan
bersih, listrik, dan sejenisnya) atau kemudahan perijinan. tidak adanya koordinasi antar dinas terkait. Agar tercipta koordinasi antar dinas, dibutuhkan
6. Untuk mencegah agar PKL tidak menjadi obyek pemerasan dan eksploitasi yang dilakukan pembagian kerja (job discription) yang jelas, selain konsistensi antara kebijakan dan aturan
oknum aparat maupun preman setempat yang berkuasa di masing-masing kawasan maka : hukum yang berlaku dengan implementasinya di lapangan.
• Pemkot Surabaya seyogyanya juga mengembangkan program-program perlindungan 11. Untuk persoalan bangunan liar, Pemkot dapat mengambil langkah-langkah preventif yang
yang konsisten agar PKL tidak menjadi korban yang selalu dirugikan. efektif, melalui pemberian otoritas kepada pihak kecamatan didukung tim terpadu yang
• Ulah preman dan oknum aparat yang merugikan PKL dan migran miskin harus segera melibatkan minimal Dinas Bina Marga, Dinas Bangunan, Dinas Kependudukan dan Catatan
diputus, selain untuk mencegah agar sektor informal yang ilegal semacam ini tidak makin Sipil dan Dinas Satpol PP agar pihak kecamatan secara terus-menerus dapat melakukan

V - 58
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

pemantauan di lapangan, dan kemudian menindak sedini mungkin jika terjadi pelanggaran TABEL 5.23. PROGRAM INTERVENSI PRIORITAS

hukum atas daerah-daerah tertentu yang dinyatakan bebas dari bangunan liar.
PROGRAM INTERVENSI KEUNTUNGAN/TUJUAN KETERANGAN
12. Penataan kawasan stren kali dapat dilakukan dengan tegas dan konsisten, maka yang
Pemberian otoritas kepada Mencegah sejak dini Perlu didukung penempatan aparat
mendesak dibutuhkan adalah Perda yang mengatur peruntukan dan sanksi yang konsisten
kecamatan untuk menindak dan perkembangan PKL dan Dispol PP ke kecamatan
kepada seluruh warga masyarakat dan kekuatan komersial yang melanggar ketentuan yang mengembangkan mekanisme deteksi bangunan liar yang melampaui
dini terhadap PKL dan bangunan liar batas
telah digariskan. Selama ini, ada kesan kuat bahwa upaya penertiban kawasan sepanjang
stren kali masih dilakukan secara diskriminatif. Nomorisasi PKL Mengontrol pasang-surut Perlu melibatkan peran paguyuban PKL
perkembangan PKL secara
13. Bagi migran penghuni bangunan liar di sepanjang stren kali yang telah digusur hendaknya akurat
tidak sekadar diusir dan kemudian dipulangkan begitu saja ke daerah asal mereka tanpa ada Relokasi PKL di kawasan yang Penataan ketertiban lalu-lintas Sebaiknya diprioritaskan kepada PKL
ditetapkan bebas PKL yang berdagang VCD, barang bekas,
solusi yang menyentuh pada akar persoalan yang mereka hadapi. Dalam hal ini, ada baiknya dan barang lain yang spesifik
jika Pemkot Surabaya berusaha mengembangkan kerjasama dengan daerah-daerah asal Penghijauan dan pembangunan Mengeliminasi kemungkinan Bisa bekerjasama dengan swasta lewat
fasilitas publik (fasilitas olah raga, kembalinya migran miskin yang jalur promosi produk sekaligus
migran yang digusur untuk membuat program bersama semacam kesepakatan untuk taman, tempat bermain anak, menempati zone publik perbaikan fasos-fasum
memberi prioritas kepada migran yang tergusur tersebut agar mereka dapat memperoleh monumen, dan sebagainya) di lahan
stren kali
berbagai bantuan pembangunan, khususnya program Gerdu Taskin. Pembentukan forum kerjasama antar Menangani persoalan PKL dari Sebaiknya penanganan PKL memang
14. Agar kawasan sepanjang stren kali yang sudah ditertibkan tidak lagi ditempati bangunan- kab-kota untuk program penataan hulunya (daerah asal), sehingga dilakukan pada tingkat regional
PKL dan bangunan liar di bawah bisa dieliminasi kecenderungan
bangunan liar, maka ada baiknya jika kawasan tersebut segera diubah dan dibangun koordinasi Gubernur terjadinya urbanisasi berlebih
berbagai fasilitas publik, seperti taman kota, tempat bermain untuk anak-anak, lapangan Kerjasama dengan swasta untuk Mengurangi beban Pemkot, Sebaiknya didukung Perda yang
penyediaan lahan bagi PKL sekaligus meningkatkan peran mewajibkan swasta menyediakan
olah raga, dan sejenisnya yang dapat dimanfaatkan warga kota. swasta dalam penataan PKL sebagian lahan untuk PKL
15. Upaya penataan dan program intervensi yang hendak menyentuh eksistensi PKL ada baiknya Pemberdayaan PKL sebagai sumber Meningkatkan PAD Surabaya Perlu didukung tindakan tegas
PAD melalui pembangunan pasar kepolisian untuk memberantas preman
jika sejak dini terlebih dahulu diperbincangkan dengan para wakil PKL melalui forum PKL dan penarikan retribusi yang sering memalak PKL
paguyuban PKL di masing-masing lokasi. Diskusi dengan paguyuban PKL ini penting Sumber : Hasil Analisa

dilakukan agar kebijakan yang dirumuskan nantinya dapat lebih empatif terhadap
kelangsungan dan masa depan PKL itu sendiri sebagai obyek penertiban.
Program yang mesti dilakukan Pemkot untuk menangani dan menyelesaikan akar
persoalan PKL dan bangunan liar di Kota Surabaya, disajikan pada tabel 5.23 dan tabel 5.24.

V - 58
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

TABEL 5.24. ISU PRIORITAS DAN UPAYA PENATAAN PKL DAN BANGUNAN LIAR DI KOTA SURABAYA LANJUTAN TABEL 5.24.
PEMBAGIAN TUGAS ANTAR DINAS/ LEMBAGA PELAKSANA
NO ISU PRIORITAS PROGRAM PENATAAN DAN PENANGANAN LEMBAGA
PELAKSANA
NO ISU PRIORITAS PROGRAM PENATAAN DAN PENANGANAN LEMBAGA
PELAKSANA 4. • Tempat tinggal • Operasi yustisi secara periodik. • Dinas
migran miskin • Penyususnan perda untuk mengatur peruntukan kawasan Pertamanan.
1. Kinerja aparat • Perlu penertiban PKL dan bangunan liar secara terpadu, • Bakesbanglimas yang sepanjang stern kali dan ruang publik lainnya. • Dispenduk dan
penegak hukum konsisten dan terjadwal. • Dispol PP mengganggu • Kerjasama antara dinas bangunan, dinas Bina Marga, catatan sipil.
dalam penataan PKL • Penyidangan perkara di pengadilan bagi PKL dan • Polwiltabes ketertiban dan Dinas Utilitas, BPN, Dinas Pengairan Propinsi Jatim, • Dinas Binamarga
liar dan bangunan penghuni bangunan liar lainnya yang terbukti melanggar • Pengadila Negeri pelestarian Kecamatan, Dispol PP, dan Dinas Pengolahan tanah dan dan utilias.
liar seringkali tidak ketentuan. • Dinas Tata Kota lingkungan rumah untuk melakukan monitoring dan penindakan • Dinas tata kota.
konsisten dan • Penertiban semua bentuk pelanggaran terhadap tata • Bagian Hukum karena secara terpadu dan pengawasan perkembangan bangunan • Dinas Pengendali
parsial (temporer). ruang kota Surabaya (pabrik, FO, perkantoran, dan lain- • Kejaksaan cenderung liar di zone-zone publik. banjir.
lain) • Dinas Bangunan menempati • Program penghijauan dan pembangunan fasilitas publik ( • Dinas bangunan.
• Penempatan aparat dari Dispol PP ke Kecamatan. wilayah stern kali fasilitas olah raga, taman bermain anak, monumen dan • Bakesbang linmas.
• Penyusunan Juklak tentang pemberian kewenangan dinas dan ruang publik sejenisnya) diwilayah stern kali dan ruang hijau. • BPN.
terkait kepada kecamatan untuk penindakan PKL liar dan lainnya. • Dis pengolahan.
bangunan liar. • Kesenjangan tanah dan rumah.
2. Data pasang surut • Kegiatan pendataan, pengawasan, dan pelaporan • Kecamatan desa-kota • Dispol PP
perkembangan PKL perkembangan PKL liar dan bangunan liar secara kontinue • Dinas bangunan menyebabkan • Kecamatan.
dan bangunan liar ( per tri wulan) oleh tim terpadu yang melibatkan peran • Bagian terjadinya • Kejaksaan.
acapkali kurang kecamatan perekonomian urbanisasi • Pengadilan Tinggi.
valid dan tidak up to • Pemberian nomorisasi untuk PKL bekerjasama dengan • Dispol PP berlebih dan • Polwiltabes.
date. bagian perekonomian. • Bakesbanglinmas pembengkakan
• Pengadaan sarana transportasi ( sepeda motor dan mobil • Bagian sektor informal
patroli ) untuk mendukung tugas monitoring PKL dan pemerintahan dan bangunan
bangunan liar. • Dinas koperasi liar kota.
• Pendataan PKL binaan dan PKM
• Pendataan bangunan tidak ber-IMB 5 Kesenjangan desa- • Pembentukan forum kerjasama antar kota-kabupaten di • Bagian
kota menyebabkan wilayah Gerbangkertasusila untuk program penataan PKl. pemerintahan.
3 Kesemrawutan lalu- • Penertiban parkir dikawasan yang dinyatakan bebas PKL • Dinas terjadinya urbanisasi • Pengembangan sentra industri diperkotaan untuk • Dinas Tenaga -
lintas akibat • Operasi penertiban PKl di kawasan yang dinyatakan bebas perhubungan berlebih dan menampung kaum migran miskin dan kelompok marginal kerja & mobilitas
perkembangan PKL secara intensif • Bagian pembengkakan kota. penduduk.
jumlah PKL yang • Penyediaan lahan parkir bagi PKL binaan dikawasan yang perekonomian sektor informal dan • Penciptaan lapangan kerja baru dipedesaan melalui • 3.Dinas koperasi &
melewati daya diperbolehkan Pemkot • Dispol PP bangunan liar kota. program bantuan modal usaha dan pembangunan sentra PKM.
tampung yang • Relokasi terhadap PKL tertentu (vcd, barang bekas, dan • Bakesbanglinmas industri. • Bagian
tersedia. lain lain) yang menempati sebagian besar zone publik. • Dinas infokom perekonomian.
• Penataan PKL melalui program rombongisasi dan • PD Pasar 6 Kurangnya • Penyusunan Perda untuk mengatur kewajiban swasta ikut • Kadinda Surabaya.
tendanisasi dikawasan yang diijinkan Pemkot • Polwiltabes keterlivbatan swasta memfasilitasi keberadaan PKL di pusat-pusat keramaian. • Disperindag.
• Pengaturan jam kerja PKL dan penjagaan kebersihan • Dinas koperasi / dunia usaha • Kerjasama antara pihak kecamatan dengan pihak • Bagian.
melalui kerjasama dengan paguyuban PKL dan PKM terhadap upaya pengelola perkantoran dan pertokoan setempat untuk Perekonomian.
• Perencanaan area kota yang diperuntukkan bagi PKL dan • Dinas Tata kota penataan PKL. memfasilitasi penempatan PKL. • BUMN.
sosialisasi wilayah bebas PKL dan yang diperbolehkan bagi • Bappeko • Kerjasam dengan BUMN untuk menyalurkan dana • Dis Koperasi dan
PKL program CD (Community Development) bagi kegiatan PKM.
• Penertiban dan pemasangan rambu-rambu untuk daerah pemeberdayaan PKL. • Bakesbanglinmas.
bebas PKL • Dinas tata kota.
• Program untuk mengarahkan PKL agar bersedia masuk • Dinas bangunan.
kedalam pasar. 7. Intervensi mavia • Penegakan hukum secara transparan terhadap oknum • Dinas Infokom
dan oknum yang dan mafia yang meksploitasi dan memfasilitasi • Bakesbanglinmas
mengeksploitasi perkembangan PKL dan bangunan liar kota • Polwiltabes
sekaligus • Pengembangan forum coffe morning antara muspika dan • Dinas Bangunan
memfasilitasi paguyuban PKL untuk menempung berbagai keluhan PKL • Muspika
perkembangan PKL dan mewadahi kepentingan pemkot dalam upaya • Paguyuban PKL
dan bangunan liar penataan sektor informal kota • Bagian
• Pembukaan jalur hotline untuk menampung pengaduan perkonomian
PKL, dan kaum migran (kotak pos atau kotak telepon) • Dis koperasi dan
PKM

V - 58
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SURABAYA 2013

LANJUTAN TABEL 5.24. 5.7. RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH


NO ISU PRIORITAS PROGRAM PENATAAN DAN PENANGANAN LEMBAGA 5.7.1. TRANSPORTASI
PELAKSANA
5.7.1.1. TRANSPORTASI DARAT
8 Mekanisme infolutif • Pembangunan sentra-sentra atau pusat industri baru • Bagian
sektor informal kota dikawasan kota menengah di provinsi jawa timur untuk perekonomian
A. JARINGAN JALAN
yang menjadi daya mengeliminasi arus urbanisasi kekota besar (Surabaya). • Paguyuban PKL Berdasarkan Study For Arterial Road System Development In Gerbangkertosusila, rencana
tarik utama • Pengembangan kerjasama dengan paguyuban PKL untuk • Bagian Pemerintah
terjadinya migrasi membatasi perkembangan PKL dikawasan tertentu melalui • Disperindag pengembangan transportasinya adalah :
pendududk desa pembatasan kartu anggota paguyuban PKL. • Dinas koperasi • Jalan Tol Surabaya – Mojokerto
kekota.  Pelatihan efisiensi dan manajemen usaha kecil bagi PKL. dan PKM
• Jembatan Suramadu
9 Potensi PKL sebagai • Pembangunan pasar PKL untuk menampung PKL yang • Diaspeda.
alternatif sumber selama ini menempati zona publik, sekaligas intensifikasi • Bagian hukum. • Jalan Tol Eastern Middle Ring Road
PAD belum digarap penarikan retribusi terhadap PKL demi peningkatan PAD • Dispol PP. • Jalan Tol Waru – Tanjung Perak (Jalan tol utara – selatan).
dengan maksimal. kota Surabaya. • Polwiltabes.
• Pemberantasan mafia dan oknum aparat yang • PD Pasar. • Rencana pelebaran 6 – Lajur jalan tol Surabaya – Gempol.
mengeksploitasi PKL dengan dalih uang perlindungan atau • Paguyuban PKL. Di samping itu, rencana pembangunan jalan tol yang telah mendapatkan PKP adalah jalan tol
uang perlindungan. • Dinas koperasi
dan PKM. Aloha – Wonokromo – Tanjung Perak. Arahan untuk transportasi regional dan lokal kota
10 Para PKL rata-rata • Pelatihan ketrampilan dan tehnologi padat karya untuk • Disnaker. disajikan pada tabel 5.25. Lebih lanjut rencana jaringan jalan disajikan pada Gambar 5.13.
tidak memiliki mendukung proses deversifikasi usaha migran di sektor • PJTKI.
ketrampilan dan informal kota. • Perguruan tinggi Terkait dengan adanya rencana pembangunan jembatan Suramadu, ditinjau dari
keahlian alternatif • Kerjasama dengan PT untuk kegiatan pengabdian kepada negeri maupun kemungkinannya perwujudan rencana peningkatan dan pembangunan jalur-jalur transportasi
untuk mengembang masyarakat agar diarahkan pada pelatihan. swasta.
kan kegiatan usaha • Dinas koperasi regional di Kota Surabaya, perlu disusun skenario jangka pendek, menengah dan jangka
baru diluar sektor dan PKM.
panjang, sebagai berikut :
informal kota. • Disperindag.
11 Keterbatasan -
• Skenario jangka pendek :
 Pengembangan sistem insentif untuk merangsang
kesempatan kerja perkembangan dunia industri yang dapat menyerap Sebelum jalan Lingkar Timur direalisasikan, lalu lintas regional bisa memanfaatkan jalan
disektor formal kota. tenaga kerja berskala massal.
 Pemberian bantuan modal usaha bagi keluarga PKLyang tol Surabaya – Gempol dan Surabaya - Gresik berlanjut ke Jl. Sisingamaraja-Jl.Danakarya
berminat melakukan deversifikasi usaha( diluar profesi -Jl. Sidotopo dan Jl. Kenjeran. Alternatif ini bisa diwujudkan dengan menghilangkan
PKL).
 Program Pelatihan bagi PKL yang berminat menjadi TKI kendala pada jalan Sidotopo yaitu adanya bottle neck. Selain itu juga bisa melalui jalan
atau TKW. arteri / Jl. Gresik, melalui Jl. Tanjuk Perak Barat berlanjut ke Jl.Sisingamangaraja -
12  Keberadaan PKL  Memfasilitasi pembentukan paguyuban PKL dikawasan  Paguyuban PKL
binaan tidak atau yang menjadi sentral PKL.  Bagian
Jl.Danakarya - Jl. Sidotopo dan Jl. Kenjeran.
kurang terfokus.  Penetapan PKL binaan dimasing-masing klecamatan. perekonomian • Skenario jangka menengah :
 Partisipasi  Kampanye melalui media massa tentang perlunya  Kecamatan
masyarakat untuk dukungan masyarakat dalam program penataan PKL liar.  Dinas koperasi
Jika jalan Lingkar Tengah Timur sudah dapat direalisasikan, lalu lintas regional dari arah
ikut membantu  Pembukaan jalur pengaduan dari masyarakat ke Pemkot dan PKM selatan dapat melewati jalan ini, dan berlanjut ke Jl. Kenjeran. Kendala utama realisasi
mengurangi PKL tentang keberadaan bangunan liar.  Dinas Infokom
dan bangunan
 Kecamatan
jalan Lingkar Tengah Timur adalah pada pembebasan lahan di beberapa segmen karena
liar masih kurang
sebagian telah terbangun.
Sumber : Hasil Analisa
• Skenario jangka panjang :
Arus lalu lintas regional dari arah selatan diperkirakan akan optimal jika jalan Lingkar
Timur sudah terealisasikan. Kendala utamanya adalah pada biaya yang relatif mahal.
Skenario penunjang Jembatan Suramadu ini dapat dilihat visualisasinya pada Gambar 5.14.
Rencana Overpass Tambak Wedi, yang merupakan bagian dari pembangunan Jembatan
Suramadu, diarahkan sebagai salah satu rencana landmark Kota Surabaya divisualisasikan
pada Gambar 5.15 (Akses Jembatan Suramadu).

V - 58