Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“HAID, NIFAS DAN MENYUSUI”


Dosen Pembimbing : Imam Labib Habiburrahman., Lc

Disusun oleh : Kelompok 9

1. Nurmalita Ayu Savitri (170103068)

2. Putri Lutfiatul Ulum (170103070)

3. Rakhel Maharani PYB (170103071)

4. Ray Hannif Fadillah (170103071)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA


PURWOKERTO

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan petunjuk dan atas
limpahan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Agama Islam ini.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen selaku fasilitator mata
kuliah Agama Islam, yang selama ini telah membimbing kami dalam mempelajari materi–
materi tersebut.

Makalah ini kami susun sebagai tugas dalam perkuliahan pendidikan agama Islam.
Materi yang dimuat dalam makalah yakni mengenai “Haid, Nifas, dan Menyusui”. Selain dari
itu, makalah ini kami susun sebagai salah satu literatur untuk menambah pengetahuan
mahasiswa lainnya dalam mempelajari materi yang bersangkutan.

Kami menyadari substansi dan tehnik penulisan makalah ini masih sangat jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya kearah perbaikan sangat diharapkan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI
2
Kata Pengantar.................................................................................................. 2

Daftar Isi........................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN
1. HAID .............................................................................................. 5
1.1 Hakikat Haid .......................................................................... 5
1.2 Ciri-ciri Darah Haid ............................................................... 6
1.3 Tempo Haid.............................................................................7
1.4 Hal-hal Terkait dengan Haid................................................... 8
1.5 Riwayat-riwayat Hadits Tentang Darah Haid.......................... 9
2. NIFAS.................................................................................... ............... 9

2.1 Makna Nifas........................................................................... 9


2.2 Dalil Nifas dalam Hadis......................................................... 10
2.3 Hal yang Dilarang Dilakukan Wanita Sedang Nifas................11
3. MENYUSUI ..........................................................................................13

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 15
3.2 Saran.................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
3
1.1 Latar Belakang
Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk spesies manusia berjenis kelamin
betina. Lawan jenis dari wanita adalah pria. Wanita adalah kata yang umum digunakan
untuk menggambarkan perempuan dewasa. Perempuan yang sudah menikah biasa
dipanggil dengan sebutan ibu. Untuk perempuan yang belum menikah atau berada antara
umur +- 16 hingga 21 tahun disebut dengan anak gadis perempuan yang memiliki organ
reproduksi yang baik akan memiliki kemampuan mengandung, melahirkan dan
menyusui. Maka dari itu semua wanita akan mengalami 3 hal dalam kehidupan yaitu,
menstruasi (haid), masa nifas setelah melahirkan, memberikan ASI.
Haid pada umumnya dialami oleh seorang wanita pada usia antara 12 sampai
dengan 50 tahun, walaupun hal ini bukanlah batasan yang pasti. Masa nifas (puerperium)
adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai hingga alat-alat kandungan
kembali seperti prahamil. ASI (Air Susu Ibu) diproduksi secara alami oleh ibu dan
sebagai nutrisi dasar terlengkap untuk bayi selama beberapa bulan pertama hidup sang
bayi.
Dalam agama Islam tiga hal tersebut dibahas, hingga hukum-hukumnyapun
tertulis dalam Al -Qur'an. Untuk lebih memahami tentang hal tersebut kami selaku tim
penyusun ingin mencoba membahasnya dalam bentuk makalah dan presentasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pemahaman tentang haid, nifas, dan ASI dalam agama Islam?
2. Bagaimana pemahaman tentang hukum-hukum haid, nifas, dan ASI menurut
pandangan Islam?

1.3 Tujuan
1. Untuk memberikan pemahaman tentang haid, nifas, dan asi dalam agama Islam.
2. Untuk memberikan pemahaman tentang hukum-hukum haid, nifas, dan ASI menurut
pandangan islam.
3. Untuk mentafakuri hikmah kebesaran Allah melalui terjadinya haid, nifas dan ASI.

BAB II
PEMBAHASAN

4
1. HAID
1.1 Hakikat Haid

a. Hakikat Haid dari Segi Bahasa dan Istilah

Berdasarkan firman Allah Ta'ala:

‫ض قلسل هلكوُ أكذذىً كفاَسعتكنزللوُسا الننكساَء نفيِ اسلكمنحيِ ن‬


‫ض كولك تكسقكرلبوُهلنن كحتنكى‬ ‫ك كعنن اسلكمنحيِ ن‬ ‫كويكسسأ كللوُنك ك‬
‫ث أككمكرلكلم ا‬
‫ال‬ ‫طهنسركن فكأسلتوُهلنن نمسن كحسيِ ل‬
‫طهلسركن فكإ نكذا تك ك‬ ‫يك س‬

“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia


itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian
menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan
janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid).
Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka
itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:


‫صللةة‬ ‫صؤوةم لولل نرؤؤلمرر بةقل ل‬
‫ضاَةء ال ص‬ ‫صيِبرلناَ لذلةلك فلنرؤؤلمرر بةقل ل‬
‫ضاَةء ال ص‬ ‫ككاَلن ير ة‬

“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk


mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”
(HR. Al-Bukhari No. 321 dan Muslim No. 335)
b. Hakikat Haid Menurut Ilmu Alam

Secara alamiah, haid merupakan sisa-sisa tubuh dan makanan yang tidak bisa
diserap lagi. Oleh karena itu, baunya menyengat, warnanya menjijikkan, dan berbeda
dengan daerah biasa.

c. Hakikat Haid Secara Syar'i

Kalangan ahli fiqh mendefinisikan haid secara beragam dengan bahasa yang
berbeda-beda, namun maknanya satu, yaitu haid adalah darah yang dikeluarkan oleh
rahim seorang wanita setelah ia sampai pada waktu tertentu.

d. Haid Menurut Ulama Hanafiyah

5
Menurut ulama Hanafiyah, "Haid adalah nama untuk darah khusus, yaitu darah
yang keluar dari tempat khusus, yaitu kemaluan perempuan, tempat keluarnya anak
anak dan melakukan hubungan dengan cara-cara tertentu, jika ia menemukan darah
itu maka ia haid dan jika keluar di waktu itu maka ia istihadhah."

Al-Kasani mendefinisikan haid dalam kitabnya Al-Bada'i dengan definisi yang


lebih lengkap: "Haid dalam terminologi syaraf adalah nama untuk darah yang keluar
dari rahim yang tidak diikuti kelahiran, memiliki waktu-waktu tertentu dan tempo
yang sudah diketahui." Beliau menjelaskan tempat keluarnya haid dan perbedaannya
denga darah nifas, dan bahwa haid memiliki waktu-waktu tertentu dan durasi yang
sudah ditentukan.

e. Haid Menurut Ulama Malikiyah

Ulama Malikiyah mendefinisikan haid sebagai "Darah yang keluar sendiri dari
kemaluan wanita dan biasanya wanita yang sudah bisa hamil." Keluar sendiri berarti
tidak karena ada sebab melahirkan, malakukan hubungan, luka, pengobatan, sakit,
atau gangguan pada anggota tubuh sehingga bisa keluar darah istihadhah. Adapun
ucapan mereka, "keluar dari kemaluan" maksudnya untuk mengecualikan darah yang
keluar dari dubur karena ia bukan haid. Sedangkan maksud dari ucapan mereka,
"biasanya ia sudah bisa hamil", untuk mengecualikan wanita yang masih di bawah
usia baligh, yaitu sembilan tahun atau wanita yang sudah berumur tujuh puluh tahun,
karena ia bukan darah haid lagi.

1.2 Ciri-ciri Darah Haid

Ciri darah haid seperti yang dikisahkan Allah dalam firman-Nya, "Katakanlah
haid itu penyakit". Atha', Qatadah, dan As-Suddi mengatakan, ia adalah kotoran, dan
menurut bahasa adalah segala sesuatu yang tidak disukai.

Sedangkan menurut penjelasan Rasulullah, haid memiliki ciri; pertama,


berwarna hitam; kedua, terasa panas; ketiga, darahnya hitam seakan terbakar;
keempat, keluarnya perlahan-lahan dan tidak sekaligus; kelima, memiliki bau yang
sangat tidak enak, berbeda dengan daerah yang lain karena ia berasal dari sisa tubuh;
keenam, sangat kemerahan.

6
Inilah ciri-ciri utama darah haid berdasarkan nash Al-Qur'an dan hadis
Rasulullah. Namun, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa darah haid berbeda
dengan istihadhah. Setiap darah yang keluar dengan ciri-ciri di atas ia adalah haid,
dan yang tidak memiliki sifat seperti itu ia bukan haid, dan jika terjadi kemiripan
antara keduanya maka pada dasarnya taklif tetap dan tidak gugur dan taklif baru bisa
gugur jika ada penghalang, yaitu datangnya haid.

1.3 Tempo Haid

Terkait dengan permasalahan ini, mayoritas ulama mengatakan bahwa haid


memiliki batas waktu, baik maksimal atau minimalnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai lamanya masa haidh. Para fuqaha’
Madinah berkata “sesungguhnya masa haidh itu tidak lebih dari lima belas hari,
namun bisa saja jadi lebih dari lima belas hari, dan seterusnya. Sedangkan jika
ternyata lebih dari lima belas hari, maka itu tidak lagi disebut haidh, namun ia adalah
istihadhah. Ini adalah madzhab Malik dan sahabat-sahabatnya.

Muhammad bin Maslamah berkata, “Batas minimal suci adalah lima belas
hari.” Pandangan ini adalah pandangan sebagian besar ulama Baghdad dari kalangan
penganu madzhab Maliki. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i, Abu Hanifah dan
sahabat-sahabat mereka berdua serta Ats- Tsauri.

Berikut tiga pendapat seluruh ulama fiqh tentang batas minimal dan maksimal
tempo haid, yakni sebagai berikut:

1. Tempo minimal haid adalah tiga hari dan maksimal sepuluh hari, ini adalah
pendapat ulama Hanafiyah dan Syiah Zaidiyah.

2. Tempo minimal haid adalah sehari semalam dan maksimal adalah lima belas hari,
ini pendapat ulama Syafi'iyah dan ulama Hanabilah menurut pendapat yang
mahsyur dari mereka.

3. Tidak ada batas minimal khususnya dalam hal ibadah, ini ulama Malikiyah dan
Zhahiriyah dan maksimal lima belas hari menurut ulama terdahulu dari mazhab
ini dan tujuh belas hari menurut ulama terkini.

7
1.4 Hal-hal Terkait dengan Haid
a. Tanda-tanda Bersih dari Haid

Para ulama berbeda pendapat tentang tanda-tanda suci dari haid:

 Sebagian berpendapat tanda bersih dari haid adalah munculnya


lendir putih atau kering. Ini pendapat Ibnu Hubaib pengikut Imam
Malik, baik memang sudah menjadi kebiasaannya ia bersih dengan ciri
atau dengan kering, yang mana saja ia dapatkan itulah tanda bersihnya.

 Sebagian lagi berpendapat, jika ia biasa melihat lendir putih maka sah
bersihnya kecuali dengan hal itu. Dan jika biasanya ia tidak melihat
lendir putih maka cukup dengan kering saja.

Akar perbedaan pendapat mereka adalah karena sebagian mempertimbangkan


aspek kebiasaan dan sebagian mempertimbangkan aspek berhentinya darah saja.
Dikatakan kering jika sehelai kain dimasukkan ke dalam kemaluan dan keluar tanpa
ada sisa darah, walaupun basah karena lembabnya kemaluan.

Lendir putih adalah cairan putih seperti mani atau gumpalan bassah keluar dari
rahim ketika haid berhenti. Dan lendir lebih kuat untuk menunjukkan bersihnya
rahim, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Al Qamah bin Abi Al
Qamah, dari ibunya, budak Aisyah RA, Ummul mu'minin, ia berkata: "Para wanita
mengirim sehelai kain yang berisikan kapas di dalamnya ada bercak kekuningan
dari darah haid, mereka bertanya tentang hukum shalat, kemudian Aisyah
menjawab, 'Jangan tergesa-gesa sampai kalian melihat lendir putih, maksudnya
adalah tanda bersihnya haid.'"

1.5 Riwayat-riwayat hadits tentang darah haid

Aisyah r.a. berkata “ada seorang wanita muslimah yang tidak


memiliki pakaian, kecuali satu potong yang sudah terkena darah
haid. jika bajunya terkena tetesan darah haid, maka wanita itu

8
membersihkannya dengan cara meludahinya, lalu dengan
mengerik-ngeriknya dengan kuku” (HR. Bukhari)

Hadits ini merupakan dalil bahwa darah haid itu hukumnya najis, begitu juga
dengan darah nifas sedangkan selain darah haid dan nifas,maka dalil yang
mengategorikannya najis masih diperselisihkan dan simpang siur.

Oleh karenanya ,hukum darah-darah itu mengikuti hukum asal atau dalam
kaidah fiqih disebut dengan al-baraah al-ashliyyah atau al-istish-haab, sampai bertemu
dengan dalil hukum yang murni dari lebih pertentangan, baik oleh dalil yang lebih
kuat daripadanya maupun yang sederajat dengannya. Dan dalil yang seperti ini amat
sukar ditemukan.

Petunjuk Rasulullah pada Fatimah binti Hubaisy dengan sabdanya:

‫اذ اقبلت الحيِضت فاَتركي الصلة فاَذا ذهبت قدرهاَ فاَ غسلي عنك الدم وصلي )روه البخاَرى‬
(‫والمسلم‬

“ Jika haid itu datang tinggalkanlah shalat, kemudian jika (darah itu terus keluar)
melebihi batas (biasa), cucilah darah itu dan shalatlah”

(HR. Bukhari dan Muslim)

2. NIFAS
2.1 Makna Nifas
Secara etimologi kata nifas berarti melahirkan.Sedangkan menurut
terminologi/syara nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari
kandungan karna melahirkan. Pengertian lain dalam kitab bidayatul mujtahidin
mengartikan nifas adalah darah yang keluar bersamaan dengan lahirnya bayi atau
sesudanya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa darah nifas adalah darah
yang keluar dari rahim perempuan bersamaan pada saat melahirkan bayi atau
sesudahnya.
Menurut Imam Asy-Syafi'i, darah nifas adalah darah yang keluar dari rahim
wanita yang sebelumnya mengalami kehamilan, meskipun darah yang keluar hanya
berwujud segumpal darah.
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah masa nifas itu ada batas minimal
dan maksimalnya. Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya tentang sebutan yang
9
dijadikan kaitan hukum oleh Pembawa syari'at, halaman 37 Nifas tidak ada batas
minimal maupun maksimalnya. Andaikata ada seorang wanita mendapati darah lebih
dari 40, 60 atau 70 hari dan berhenti, maka itu adalah nifas. Namun jika berlanjut terus
maka itu darah kotor, dan bila demikian yang terjadi maka batasnya 40 hari, karena hal
itu merupakan batas umum sebagaimana dinyatakan oleh banyak hadist.
Atas dasar ini, jika darah nifasnya melebihi 40 hari, padahal menurut
kebiasaannya sudah berhenti setelah masa itu atau tampak tanda-tanda akan berhenti
dalam waktu dekat, hendaklah si wanita menunggu sampai berhenti. Jika tidak, maka
ia mandi ketika sempurna 40 hari karena selama itulah masa nifas pada umumnya.
Kecuali, kalau bertepatan dengan masa haidnya maka tetap menunggu sampai habis
masa haidnya. Jika berhenti setelah masa (40 hari) itu, maka hendaklah hal tersebut
dijadikan sebagai patokan kebiasaannya untuk dia pergunakan pada masa mendatang.

2.2 Dalil Nifas dalam Hadis

‫ كنت المراة من نساَء النبي صلى ا عليِه وسلم تقعد في‬:‫عن ام سلمة رضي ا عنهاَ قلث‬
‫النفاَ س اربعيِن ليِلة لياَمرهاَ النبي صلى ا عليِه وسلم بقضاَء صلة النفاَ س )روه ابو‬
(‫داود‬

“Dari Ummu Salamah ia berkata: Salah seorang wanita ari istri-istri nabi Saw.
mereka duduk (tidak shalat) di waktu nifas selama 40 malam. Nabi Saw, tidak
memerintahkan mengqadha shalat yang di tinggalkannya karena nifas.”
(HR. Abu Dawud)

Umumnya para ulama mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk


sebuah nifas bagi seorang wanita paling cepat adalah hanya sekejap atau hanya sekali
keluar. bila seorang wanita melahirkan dan darah berhenti begitu bayi lahir maka
selesailah nifasnya. dan dia langsung serta puasa sebagaimana biasanya.

Menurut as Syafi`iyah biasanya nifas itu empat puluh hari, sedangkan menurut
al Malikiyah dan juga as Syafi`iyah paling lama nifas itu adalah enam puluh hari.
menurut al Hanafiyah an al Hanabilah paling lama empat puluh hari. Bila lebih dari
empatpuluh hari maka darah istihadhah.

2.3 Hal-Hal yang Dilarang Dilakukan Wanita yang Sedang Nifas Dan Haid

10
Wanita yang sedang nifas sama dengan hal-hal yang diharamkan oleh wanita
yang sedang haidh, yaitu :

1. Salat
Seorang wanita yang sedang mendapatkan Nifas diharamkan untuk melakukan
salat. Begitu juga mengqada` salat. Sebab seorang wanita yang sedang mendapat nifas
telah gugur kewajibannya untuk melakukan salat. Dalilnya adalah hadis berikut ini:
`Dari Aisyah r.a berkata: `Dizaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat
nifas, lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah untuk
mengqada` salat (HR. Jama`ah).
Selain itu juga ada hadis lainnya:

‫إذا أقبلت الحيِضة فدعي الصلة‬

`Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu
mendapatkan nifas maka tinggalkan salat`

2. Berwudhu atau mandi janabah


As Syafi`iyah dan al Hanabilah mengatakan bahwa: `wanita yang sedang
mendapatkan haid diharamkan berwudu`dan mandi janabah. Adapun sekedar mandi
biasa yang tujuannya membersihkan badan, tentu saja tidak terlarang. Yang terlarang
disini adalah mandi janabah dengan niat mensucikan diri dan mengangkat hadats
besar, padahal dia tahu dirinya masih mengalami nifas atau haidh.

3. Puasa
Wanita yang sedang mendapatkan nifas dilarang menjalankan puasa dan untuk
itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain.
4. Tawaf
Seorang wanita yang sedang mendapatkan nifas dilarang melakukan tawaf.
Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan. Sebab tawaf itu
mensyaratkan seseorang suci dari hadas besar.

‫افعلوا ماَ تفعل الحاَج غيِر أن ل تطوفي حتى تطهري‬

11
Dari Aisyah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu
mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf disekeliling
ka`bah hingga kamu suci (HR. Mutafaqq `Alaih)

5. Menyentuh Mushaf dan Membawanya

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang menyentuh Al-


Quran :
‫ل يمسه إل المطهرون‬
Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.`(Al-Qariah ayat 79)

Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga
orang yang nifas dilarang menyentuh mushaf Al-Quran.

6. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran


Kecuali dalam hati atau doa/zikir yang lafaznya diambil dari ayat Al-Quran
secara tidak langsung.

‫ل تقرأ الجنب ول الحاَئض شيِئاَ من القرآن‬

Janganlah orang yang sedang junub atau haidh membaca sesuatu dari Al-
Quran. (HR. Abu Daud dan Tirmizy)

Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita nifas membaca Al-
Quran dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila
masa nifasnya terlalu lama. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak.
Pendapat ini adalah pendapat Malik.

7. Masuk ke Masjid
Dari Aisyah RA. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Tidak ku
halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. (HR. Bukhori, Abu Daud dan
Ibnu Khuzaemah.)

8. Bersetubuh

12
Wanita yang sedang mendapat nifas haram bersetubuh dengan suaminya.
Keharamannya ditetapkan oleh Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

‫طرهؤرلن فلإ ةلذا‬


‫ض لولل تلؤقلرربورهصن لحتصلى يل ؤ‬
‫ساَء ةفي اؤللمةحيِ ة‬ ‫ض قرؤل رهلو ألذذى لفاَؤعتلةزرلوؤا النن ل‬
‫سأ لرلونللك لعةن اؤللمةحيِ ة‬‫لويل ؤ‬
‫ال يرةحبب التصصواةبيِلن لويرةحبب اؤلرمتلطلنهةريلن‬ ‫ار إةصن ا‬ ‫ث أللملرركرم ا‬‫تلطلصهؤرلن فلأؤرتورهصن ةمؤن لحؤيِ ر‬

`Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu adalah


suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . Apabila mereka
telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah
kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri.` (QS. Al-baqarah :222)

Yang dimaksud dengan menjauhi mereka adalah tidak menyetubuhinya.

3. MENYUSUI
Memiliki buah hati atau momongan adalah suatu kebahagiaan bagi setiap orang tua,
kehadirannya merupakan anugerah dari Allah yang harus disyukuri sekaligus amanat yang
harus dijaga dengan baik. Sebaliknya, tak jarang ketidak-hadiran momongan menjadi
pemicu keretakan rumah tangga.
Salah satu bentuk syukur atas adanya buah hati adalah menjaga dan merawatnya
dengan sebaik mungkin, diantaranya dengan memberikan air susu ibu (ASI).
Sebagian wanita di tengah arus isu emansipasi dan kesetaraan gender yang mengalir
keluar dari batasnya kanalnya- menganggap menyusui sebagai beban. Dengan alasan
kesibukan, mereka rela tidak menyusui buah hatinya sendiri. Bahkan diantaranya tega
enggan menyusui anaknya hanya dengan alasan demi menjaga keindahan tubuhnya. Lalu
bagaimana Islam dan para ahli hukum Islam memandang praktek menyusui? Sebagai
agama yang komprehensif, Islam telah menyinggung masalah menyusui ini dalam Kitab-
Nya, tepatnya dalam Al Baqarah, 233 :

‫س إننل لوسسكعكهاَ كل‬ ‫ضاَكعةك كوكعكلى اسلكمسوُللوُند لكهل نرسزقلهلنن كونكسسكوُتلهلنن نباَسلكمسعلرو ن‬
‫ف كل تلككل ن ل‬
ْ‫ف نكسف س‬ ‫ضسعكن أكسوكلكدهلنن كحسوُلكسيِنن ككاَنملكسيِنن لنكمسن أككراكد أكسن يلتننم النر ك‬ ‫كواسلكوُالنكدا ل‬
‫ت يلسر ن‬
‫ض نمسنهلكماَ كوتككشاَلورر فككل لجكناَكح كعلكسيِنهكماَ كوإنسن أككرسدتلسم أكسن‬ ‫ك فكإنسن أككراكدا فن ك‬
‫صاَذل كعسن تككرا ر‬ ‫ث نمسثلل كذلن ك‬
‫ضاَنر كوالنكدةسْ بنكوُلكندكهاَ كوكل كمسوُللوُسْد لكهل بنكوُلكندنه كوكعكلى اسلكوُانر ن‬
‫تل ك‬
‫اك كواسعلكلموُا أكنن ن‬
‫اك بنكماَ تكسعكمللوُكن بك ن‬
(233 : ‫صيِسْر )البقرة‬ ‫ضلعوُا أكسوكلكدلكسم فككل لجكناَكح كعلكسيِلكسم إنكذا كسل نسمتلسم كماَ كءاتكسيِتلسم نباَسلكمسعلرو ن‬
‫ف كوات نلقوُا ن‬ ‫تكسستكسر ن‬

” Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang
ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian

13
kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani kecuali sesuai dengan kadar
kemampuannya. Janganlah seorang ibu (menjadi) menderita sengsara karena anaknya dan
seorang ayah (jangan menjadi menderita) karena anaknya, dan ahli warispun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kalian ingin
anak kalian disusui oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagi kalian apabila kalian
memberikan pembayaran sepatutnya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah
bahwa Allah Maha melihat apa yang kalian kerjakan.
” Siapakah “para ibu” yang dimaksud dalam ayat tersebut?
Ada tiga pendapat dalam memahami kata “para ibu” yang ada dalam ayat di atas :
1. Mujahid, Ad Dhahhak dan As Siddiy: maksud dari kata “para ibu” dalam ayat
tersebut adalah isteri-isteri yang telah dicerai oleh suaminya yang masih memiliki
anak kecil yang masih perlu disusui.
2. Al Wahidiy : makna kata “para ibu” di sini adalah wanita yang masih berstatus
sebagai isteri dan memiliki anak kecil untuk disusui.
3. Abu Hayyan dalam Bahr al Muhith : maksud dari kata “para ibu” di ayat tersebut
adalah umum, mencakup isteri aktif maupun isteri yang sudah dicerai.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Al-Qur'an membawa sebuah revolusi paling besar dalam pemberian martabat paling
terhormat kepada wanita. pada sebuah kesempatan, Rasulullah pernah bersabda "Wanita-
wanita itu adalah sodara sekandung kaum laki-laki." dalam pandangan islam betapa
pentingnya seorang wanita mengetahui ketentuan-ketentuan hukum islam yang mengatur
kodrat wanita. Seorang wanita pada masanya pasti mengalami siklus haid dan nifas dalam
hidupnya. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh
wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-
Estrogen atau LH-Progesteron. Haid menurut bahasa merupakan bentuk mashdar dari
14
hadha-haidh. Hadhat al-mar'ah haidhan, mahadhan, dan mahidhan berarti "ia haid". Kata
al-haidhah menunjukkan bilangan satu kali haid. Sedangkan al-hidhah adalah kata nama,
bentuk jamaknya al-hiyadh. Sedangkan Nifas dari segi bahasa berasal dari kata “na fi sa”
yang bermaksud melahirkan. Nifas adalah darah yang keluar dari rahim yang disebabkan
melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas merupakan darah yang tertahan dan tidak
bisa keluar dari rahim selama hamil. Menurut Imam Asy-Syafi'i, darah nifas adalah darah
yang keluar dari Rahim wanita yang sebelumnya mengalami kehamilan, meskipun darah
yang keluar hanya berwujud segumpal darah.

3.2 Saran

Sebagai muslimah kita tentunya harus mengetahui ketentuan-ketentuan hukum islam


yang mengatur kodrat manusia, salah satunya adalah tentang haid dan nifas. Setelah
membaca makalah ini diharapkan para pembaca khususnya muslimah dapat mengetahui
tentang haid dan nifas serta menyusui secara mendalam menurut pandangan islam.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/149/jtptunimus-gdl-arumsariwa-7423-3-
babii.pdf

2. https://mdiishlahulummah.files.wordpress.com/2011/04/bahs-nifas-dan-janin.pdf

3. http://www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/dakwah-lokal/Dokumen-Mas-Gigih/Darah
%20Kebiasaan%20Wanita.pdf

15