Anda di halaman 1dari 2

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi karena

kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Diagnosis diabetes melitus dapat
ditegakkan dengan dasar pemeriksaan glukosa dalam darah (Perkeni 2011). Diabetes melitus ini
akan menyebabkan terjadinya 3 perubahan patofisiologi dalam tubuh seperti mata, ginjal dan
ekstremitas bawah (Deroli, 2008).

Diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu timbulnya komplikasi diabetes yang dibagi menjadi
dua kategori, yaitu :

1) Komplikasi Akut Hipoglikemi dan hiperglikemi adalah komplikasi akut yang terjadi pada
diabetes melitus. Hipoglikemi adalah kadar glukosa darah kurang dari 50 mg/dL. Gejala umum
dari hipoglikemi yaitu lapar, gemetar, berkeringat, berdebar-debar, pusing dan pandangan kabur.
Hipoglikemi apabila tidak segera mendapatkan pertolongan dapat menimbulkan kerusakan pada
jaringan otak bahkan kematian. Komplikasi akut lainnya yaitu terjadinya hiperglikemi.
Hiperglikemi merupakan kenaikan gula darah secara tiba-tiba yang disebabkan karena stress,
infeksi dan obat-obatan tertentu. Gejala yang timbul saat terjadinya hiperglikemi adalah poliuria,
polifagi, polidipsi, kelelahan dan pandangan kabur (Depkes, 2005).

2) Komplikasi Kronis Komplikasi kronis ini dapat dibagi menjadi makrovaskuler dan
mikrovaskuler. Penyakit jantung koroner (PJK), penyakit pembuluh darah otak, penyakit
pembuluh darah perifer merupakan komplikasi makrovaskuler yang umum dialami bagi
penderita diabetes. Mengatur gaya hidup pasien diabetes adalah salah satu metode pencegahan
komplikasi makrovaskuler. Sedangkan untuk komplikasi mikrovaskuler umumnya terjadi karena
hiperglikemi presisten yang akan memicu dinding pembuluh darah melemah, menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah kecil seperti nefropati, retinopati dan neuropati (Depkes,
2005)

Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM). Diabetic foot
adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan dengan
neuropati dan penyakit vaskuler perifer pada tungkai bawah Banyak faktor yang ikut
berpengaruh dalam terbentuknya diabetic foot. Faktor yang dapat mempengaruhi kejadian
diabetic foot meliputi riwayat DM ≥ 10 tahun, jenis kelamin, kadar glukosa darah yang jelek,
gangguan penglihatan, trauma kaki, dan umur (Frykberg, 2006). Hiperglikemia pada DM yang
tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi kronis yaitu neuropati perifer
dan angiopati. Dengan adanya neuropati perifer dan angiopati, trauma ringan dapat menimbulkan
ulkus pada penderita DM. Ulkus pada penderita DM mudah terinfeksi karena respons kekebalan
tubuh pada penderita DM biasanya menurun.

Foot ulcer adalah infeksi, ulserasi atau destruksi jaringan ikat yang berhubungan dengan
neuropati dan kelainan vaskuler perifer pada tungkai bawah yang diakibatkan diabetes melitus.
Kekebalan tubuh pasien diabetes melitus menurun menyebabkan pasien dengan mudah terkena
infeksi. Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang ulcer pada kaki diabetes dapat
mengakibatkan ulcer menjadi lebih parah dan menjadi gangren (Decroli, 2008). Kulit pada
daerah ekstremitas bawah merupakan tempat yang sering mengalami infeksi. Foot ulcer yang
terinfeksi biasanya melibatkan banyak mikroorganisme seperti stafilokokus, streptokokus, batang
gram negatif dan bakteri anaerob (Perkeni, 2011). Mikroba yang berperan besar dalam ulcer dan
mengakibatkan infeksi adalah bakteri gram positif, gram negatif dan beberapa jamur (Mathangi,
2013).

Secara garis besar penyebab terjadinya komplikasi foot ulcer dipicu oleh beberapa hal yaitu
neuropati perifer, gangguan pembuluh darah, tekanan pada kaki dan resistensi terhadap infeksi.
Salah satu hal tersebut secara tunggal maupun gabungan berpotensi mengakibatkan foot ulcer
(Mathangi, 2013). Foot ulcer memiliki dua faktor utama yaitu neuropati perifer dan gangguan
pembuluh darah (Mendes, 2012).

1) Neuropati Perifer Neuropati perifer merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada pasien
diabetes dan berisiko terjadinya foot ulcer. Pasien dengan neuropati perifer harus mendapatkan
pengetahuan tentang perawatan kaki untuk menangani risiko foot ulcer (Perkeni, 2011).
Neuropati sensorik hilangnya rasa atau sensasi pada kaki sehingga tidak dapat merasakan dan
merupakan faktor utama terjadinya foot ulcer, neuropati motorik adanya tekanan tinggi pada kaki
yang dapat menimbulkan kelainan bentuk kaki dan yang terakhir neuropati autonom yang
berakibat terjadinya pecah-pecah pada telapak kaki, kaki kering sehingga mudah terjadi infeksi
(Mendes, 2012).

2) Gangguan Pembuluh Darah Gangguan pembuluh darah dapat menghambat kesembuhan dari
foot ulcer. Gangguan pembuluh darah jarang menyebabkan foot ulcer secara langsung, namun
bila infeksi sudah semakin parah dapat menghambat kesembuhan ulcer, hal itu disebabkan
terhambatnya penghantaran antibiotik menuju lokasi infeksi (Frykberg dkk, 2006).

3) Infeksi Luka terbuka yang sudah terkontaminasi bakteri merupakan jalan masuk infeksi yang
lebih parah (Rebolledo dkk, 2011). Kejadian infeksi sangat umum bagi pasien diabetes bahkan
lebih berat angka kejadiannya dibandingkan dengan pasien non-diabetik. Peningkatan gula darah
juga menghambat kerja leukosit sehingga penyembuhan ulkus menjadi lebih lama. Luka dapat
berkembang menjadi ulcer, gangrene maupun osteomyelitis apabila luka tidak ditangani dengan
tepat dan cepat kejadian amputasi dapat terjadi (Frykberg dkk ,2006).