Anda di halaman 1dari 2

“Mertuaku itu sering aneh-aneh. Aku jadi bingung mesti gimana.

Kalau keinginannya nggak dituruti, dia jadi mengurung diri di kamar, terus nggak mau
makan, ngambek, ngedumbel… jadi kaya orang ngomong sendiri gitu. Anakku yang kecil sering ngikutin perilaku neneknya, jadi ikut ngomong sendiri.
Kalau ditegur, dia menjawab, ‘Nenek aja ngomong sendiri’. Mertuaku itu sebenarnya kenapa, sih? Gila, ya?”

Pertanyaan ini dikemukakan oleh teman saya yang seorang perawat. Coba bayangkan, orang kesehatan yang terbiasa menangani lansia di tempat kerjanya
saja bingung, bagaimana dengan orang awam (non-kesehatan)?

Ketika berhadapan dengan pertanyaan seperti ini, satu hal yang tentunya perlu digaris bawahi, yaitu betapa pentingnya mengetahui dan memahami kondisi
psikologis lansia. Mengapa hal ini penting? Hal ini penting supaya lansia mencapai optimum aging. Atau dengan kata lain lansia memiliki kualitas hidup
yang optimal dan bisa tetap merasakan kebahagiaan di masa tuanya. Juga dengan adanya pemahaman yang cukup, kita (yang merawat lansia) dapat
bertindak tepat dan terhindar dari tekanan-tekanan psikologis yang sesungguhnya tidak perlu terjadi.

Dalam budaya masyarakat Indonesia, ibu atau ayah yang sudah lanjut usianya biasanya akan tinggal dan dirawat oleh anaknya, seperti yang dialami oleh
teman saya yang menanyakan tentang mertuanya. Ibu mertuanya memilih tinggal bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya karena sudah berusia lanjut.
Berinteraksi dengan lansia memang tidak mudah. Perilaku dan sikapnya sering kali berbeda dengan anak dan cucu-cucunya. Jadi, akan ada kemungkinan
muncul konflik-konflik kecil di dalam rumah tangga karena perbedaan persepsi dan pengetahuan tentang kondisi lansia.

Seseorang dapat disebut sebagai lansia dilihat dari beberapa hal, yaitu usia sesungguhnya, usia mentalnya, dan kondisi fisiknya. Umumnya seseorang yang
sudah berusia di atas 56 tahun sudah dapat dikatakan sebagai lansia, meskipun kemampuan fisik atau caranya bersikap atau penampilannya masih seperti
orang yang masih berusia 40 tahunan. Namun, seseorang yang usia sesungguhnya 50 tahun tapi kemampuan fisiknya lemah dan sering lupa, dapat juga
disebut lansia.

Dengan bertambahnya usia, berarti kondisi fisik lansia sudah tidak sebaik masa mudanya. Bahkan dapat dikatakan
80% lansia memiliki satu jenis penyakit. Seiring dengan menurunnya kondisi kesehatan fisik, kondisi psikologis juga mengalami perubahan. Lima
permasalahan psikologis yang dialami lansia, yaitu: 1) gangguan depresi, 2) gangguan kecemasan, 3) demensia, 4) insomnia, dan 5) delirium.
1) Gangguan depresi
Gangguan depresi pada lansia dapat kita ketahui bila ada perasaan tertekan dalam jangka waktu cukup lama, perasaan tidak gembira atau sedih, perasaan
tidak bergairah untuk melakukan aktivitas, perasaan mudah lelah, perasaan dirinya tidak berharga, perasaan bersalah dan tidak berguna, perasaan tidak
punya masa depan lagi, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, rasa percaya dirinya berkurang, nafsu makan berkurang, dan muncul keinginan untuk menghakhiri
hidup. Gangguan depresi disebabkan oleh kekecewaan-kekecewaan dan rasa tidak puas terhadap masa lalu.
2) Gangguan kecemasan
Cemas merupakan hal yang wajar dan dialami oleh semua orang. Namun, kecemasan dan rasa khawatir yang berlebihan, terjadi hampir setiap hati, selama
beberapa minggu hingga beberapa bulan mengarah pada suatu gangguan yang disebut gangguan kecemasan. Seorang lansia dikatakan mengalami
gangguan kecemasan jika seperti itu, serta diiringi rasa khawatir bahwa dirinya akan mengalami nasib buruk, gelisah, dan tidak dapat menjalani hari-
harinya dengan santai. Fisiknya pun terasa tidak nyaman, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak nafas, pusing, gemetar, atau pun ada keluhan lambung.
3) Demensia
Seseorang yang mengalami demensia, lebih sering disebut “pikun” oleh lingkungannya. Demensia ini merupakan sindrom yang disebabkan penyakit atau
gangguan otak yang bersifat kronis. Berarti ada gangguan pada fungsi otak yang berkaitan dengan kemampuan mengingat, berpikir, menerima informasi,
berhitung, mempelajari sesuatu, berbahasa, dan menilai sesuatu. Seorang lansia disebut mengalami demensia jika kemampuan mengingat dan berpikirnya
mengalami penurunan minimal selama enam bulan, sehingga mengganggu aktivitas hariannya seperti; mandi,makan, dan berpakaian.
4) Insomnia

Seorang lansia dikatakan mengalami insomnia jika kualitas tidurnya memburuk selama satu bulan. Ia sulit masuk ke
dalam tidur bahkan sulit mempertahankan tidunya (Jika terbangung dari tidur, sulit tidur lagi). Ketidak puasan terhadap kuantitas dan kualitas tidur lah
yang menyebabkan lansia merasa memiliki penderitaan yang berat sehingga mempengaruhi fungsi sosial dan aktivitasnya.
5) Delirium
Seorang lansia dikatakan mengalami delirim jika terdapat bukti disebabkan langsung oleh gangguan medik, timbul dalam waktu singkat dan berfluktuasi
sepanjang hari. Delirium merupakan kumpulan gejala mental organik akibat gangguan menyeluruh dari fungsi kognitif, yang ditandai dengan
memburuknya kondisi kesadaran, kewaspadaan, aktivitas psikomotor, siklus tidur, dan proses berpikir secara akut dan berfluktuatif. Gangguan kesadaran
ditunjukkan dengan kurangnya perhatian terhadap lingkungan disertai turunnya kemampuan untuk fokus, mempertahankan, dan memindahkan perhatian.
Perubahan fungsi kognitif ditunjukkan dengan adanya disorientasi waktu, tempat dan orang, gangguan berbahasa, gangguan pola tidur, dan gangguan
memori (terutama untuk mengingat peristiwa yang baru). Disorientasi waktu artinya seorang lansia sulit memahami waktu apakah saat itu malam hari, pagi
hari, atau siang hari. Disorientasi tempat artinya lansia sulit memahami dia sedang berada dimana, dan disorientasi orang artinya lansia tidak tahu siapa
orang yang ada di hadapannya. Jadi, jangan heran jika seorang lansia memanggil-manggil kita yang sedang lelap tertidur pada tengah malam hendak minta
diantar pulang ke rumahnya, atau mengatakan sedang berada di rumah sakit (padahal di rumah anaknya), atau mengenal anaknya sebagai tetangganya.
Masalah dan tingkat permasalahan yang dialami lansia tentunya berbeda-beda. Permasalahannya pun disebabkan oleh banyak faktor, seperti; mengalami
pensiun, kurang perhatian dari anak dan cucunya, tidak memiliki aktivitas, kehilangan pasangan hidup, tidak ada teman bicara, perannya mengalami
pergeseran, atau pun ketidak mampuan beradaptasi dengan situasi yang berubah.

Jika kita merawat lansia dengan keluhan-keluhan yang mirip dengan beberapa gangguan yang telah disebutkan tadi, ada baiknya kita mengkonsultasikan
permasalahan itu ke psikolog klinis dan psikiater (dokter spesialis kejiwaan), karena lansia akan menjalani terapi baik terapi dengan obat atau terapi
psikologi. Penanganan setiap individu pun dapat berbeda. Belum tentu penanganan yang dilakukan pada orang tua teman kita dapat diterapkan untuk orang
tua kita. Biarlah ahli kejiwaan yang menganalisis permasalahannya dan menentukan tritmen atau penanganan yang tepat.

Namun, apabila lansia belum/ tidak mengalami permasalahan psikologis, kita tetap perlu melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Misalnya, bagi lansia
yang pernah bekerja dan akhirnya mengalami masa pensiun, kita perlu memberi pemahaman-pemahaman yang positif tentang situasi yang ia hadapi, tetap
beri tanggung jawab terhadap keuangan pribadi (independensi keuangan), beri kesempatan untuk menjalankan hobi, dan dorong untuk mengembangkan
kreativitas diri. Bagi lansia yang kehilangan pasangan, berikan perhatian pada lansia tersebut agar ia tidak merasa kesepian, dekatkan lansia dengan
keluarga, dan beri kesempatan agar dapat berinteraksi dengan menantu dan cucunya. Dengan demikian lansia akan merasa dirinya masih berharga,
berguna, dan disayangi keluarganya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah mulai bisa memahami orang tua atau nenek/kakek Anda? Semoga artikel ini bermanfaat.