Anda di halaman 1dari 12

PSIKOLOGI PENDIDIKAN || Masalah Belajar dan Penanganannya

September 26, 2014


BAB I
PENDAHULUAN

Belajar merupakan salah satu usaha sadar manusia dalam mendidik dalam upaya
meningkatkan kemampuan kemudian diiringi oleh perubahan dan peningkatan kualitas dan
kuantitas pengetahuan manusia itu sendiri.
Belajar adalah salah satu aktivitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar. Belajar
diperoleh melalui lembaga pendidikan formal dan nonformal. Salah satu lembaga pendidikan
formal yang umum di Indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan
mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Tujuan belajar siswa sendiri adalah
untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang
optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual yang dimilikinya.
Biasanya kemampuan siswa dalam belajar seringkali dikaitkan dengan kemampuan
intelektualnya. Pengukuran kemampuan intelektual ini ditunjukkan oleh hasil tes IQ (Intelligence
Quotient) atau kecerdasan intelektual. Siswa dengan IQ > 110 tergolong kedalam siswa dengan
kemampuan diatas rata-rata, siswa dengan rentang IQ 90-109 tergolong kedalam rata-rata
normal, dan IQ < 90 tergolong kedalam rata-rata rendah atau siswa dengan kemampuan rendah.

Ada siswa dengan kecerdasan intelektual diatas rata-rata/rata-rata tinggi namun tidak
menunjukkan prestasi yang memuaskan yang sesuai dengan kemampuannya yang diharapkan
dalam belajar. Kemudian ada siswa yang mendapatkan kesempatan yang baik dalam belajar,
dengan kemampuan yang cukup baik, namun tidak menunjukkan prestasi yang cukup baik dalam
belajar. Dan ada pula siswa yang sangat bersungguh-sungguh dalam belajar dengan
kemampuan yang kurang dan prestasi belajarnya tetap saja kurang.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hambatan dan masalah dalam proses belajar siswa itu
sendiri, baik dalam prosesnya di sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu, guru selaku
pendidik dituntut untuk selalu dpat memberikan dorongan/motivasi kepada siswanya yang
kurang bersemangat dalam belajar dan meberikan solusi terhadap permasalahan belajar yang
dihadapi siswanya.

B. Rumusan Masalah
Dari Latar belakang masalah yang telah diuraikan, diberikan beberapa pokok rumusan masalah,
yaitu sebagai berikut:

1. Apakah pengertian masalah belajar?


2. Apa sajakah jenis-jenis masalah belajar?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab masalah belajar yang dihadapi siswa?
4. Bagaimanakah prosedur atau langkah-langkah penanganan masalah belajar yang dihadapi
siswa?

C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, diberikan beberapa tujuan dari perumusan masalah, yaitu sebagai
berikut:

1. Mendeskripsikan pengertian masalah belajar


2. Mendeskripsikan jenis-jenis masalah belajar
3. Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab masalah belajar
4. Mendeskripsikan prosedur atau langkah-langkah penanganan masalah belajar siswa.

BAB II
MASALAH BELAJAR DAN PENANGANANNYA

A. Pengertian Masalah Belajar

1. Pengertian Belajar
Skinner (1958) memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior
adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses
adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Skinner percaya bahwa proses adaptasi akan
mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinforcement). Ini berarti bahwa
belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Disamping itu
belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu untuk mencapai
suatu hasil.
Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua rumusan.
Rumusan pertama berbunyi: “…acquisition of any relatively permanent change in behavior as a
result of practice and experience” (Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process of
acquiring responses as a result of special practice (Belajar ialah proses memperoleh respons-
respons sebagai akibat adanya latihan khusus).

Menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning yang dikutip oleh Ngalim
Purwanto, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu
situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu
situasi. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dipahami secara umum bahwa belajar adalah
perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang yang relatif menetap
diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya
yang melibatkan proses kognitif.

2. Pengertian Masalah Belajar


Banyak ahli mengemukakan pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai
ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya
kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak
mengenakan.
Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya,
menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan.
Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan,
yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu
proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”. “Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari
pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya” (
Anita E, Wool Folk, 1995 : 196 ).

Menurut (Garry dan Kingsley, 1970 : 15 ) “Belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas),
ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan”.
Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa “belajar adalah suatu proses dimana suatu
organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”.

Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai
berikut.“Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat
kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan”. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya
yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa-siswa
yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa siswa-siswa yang memiliki
kemampuan diatas rata-rata normal, pandai atau cerdas.

B. Jenis-jenis Masalah Belajar


Dalam pengertian masalah belajar di atas, maka dapat dirincikan jenis-jenis siswa yang
mengalami permasalahan dalam belajar, yaitu sebagai berikut:

1. Siswa yang tidak mampu mencapai tujuan belajar atau hasil belajar sesuai dengan
pencapaian teman-teman seusianya yang ada dalam kelas yang sama. Sesuai dengan
tujuan belajar yang tercantum dalam Kurikulum bahwa siswa dikatakan lulus atau tuntas
dalam suatu pelajaran jika telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang
telah ditentukan oleh tiap-tiap guru bidang studi. KKM dibuat berdasarkan intake
(pencapaian) siswa di dalam kelas. Apabila seorang siswa tidak mencapai kriteria
tersebut, maka yang bersangkutan dikatakan bermasalah dalam pelajaran tersebut.
2. Siswa yang mengalami keterlambatan akademik, yakni siswa yang diperkirakan memiliki
intelegensi yang cukup tinggi tetapi tidak menggunakan kemampuannya secara optimal.
Belum tentu semua siswa yang terdapat dalam satu kelas memiliki kemampuan yang
sama, ada beberapa siswa dengan kemampuan intelegensi diatas rata-rata bahkan super.
Kondisi inilah yang menyebabkan si siswa cerdas ini harus menyesuaikan kebutuhan
asupan kecerdasannya dengan kemampuan teman-teman sekelasnya, sehingga siswa yang
seharusnya sudah berhak diatas teman-teman sebayanya dipaksa menerima kondisi
sekitarnya.
3. Siswa yang secara nyata tidak dapat mencapai kemampuannya sendiri (tingkat IQ yang
diatas rata-rata). Maksudnya, yaitu siswa yang memiliki intelegensi diatas rata-rata
normal tetapi tidak mencapai tujuan belajar yang optimal. Misalnya KKM pada Mata
Pelajaran A sebanyak 65, kemudian nilai yang dicapainya 70. Padahal seharusnya dengan
tingkat intelegensi seperti itu, yang bersangkutan bisa mendapat nilai minimal 80 bahkan
lebih.
4. Siswa yang sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memilki bakat
akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan
pendidikan atau pengajaran khusus. Siswa yang mengalami kondisi seperti ini yakni
siswa yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan sangat sering bermasalah
dalam pembelajaran. Seringkali Guru kehabisan ide untuk menangani siswa yang seperti
ini, bimbingan pelajaran tambahan atau ekstra menjadi salah satu alternatif penyelesaian
masalah semacam ini.
5. Siswa yang kekurangan motivasi dalam belajar, yakni keadaan atau kondisi siswa yang
kurang bersemangat dalam belajar seperti jera dan bermalas-malasan. Siswa yang seperti
ini biasanya didukung oleh kondisi atau lingkungan apatis, yang tidak peduli terhadap
perkembangan belajar siswa. Lingkungan keluarga yang apatis, yang tidak berperan
dalam proses belajar anak bisa menyebabkan si anak menjadi masa bodoh, sehingga
belajar menjadi kebutuhan yang sekedarnya saja. Lingkungan masyarakat yang
merupakan media sosialisasi turut berperan penting dalam proses memotivasi siswa itu
sendiri.
6. Siswa yang bersikap dan memiliki kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa
yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya,
seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau
bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya. Besarnya kesempatan yang
diberikan oleh Guru untuk menyelesaikan tugas menyebabkan siswa mengulur-ulur
pekerjaan yang seharusnya diselesaikan segera setelah diperintahkan, Guru yang terlalu
disiplin dan berwatak tegas juga menjadi faktor berkurangnya perhatian (attention) yang
seharusnya diberikan oleh siswa kepada Guru.
7. Siswa yang sering tidak mengikuti proses belajar mengajar di kelas, yaitu siswa-siswa
yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama
sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya. Seringkali materi pelajaran
yang telah disampaikan oleh Guru pada pertemuan jauh sebelumnya kemudian siswa
dituntut untuk mengikuti dan menguasai materi pelajaran dalam waktu yang relatif
singkat menyebabkan si siswa menjadi tertekan dan terbebani oleh materi belajar yang
banyak.
8. Siswa yang mengalami penyimpangan perilaku (kurangnya tata krama) dalam hubungan
intersosial. Pergaulan antar teman sepermainan yang tidak seumuran dan tidak
mengeyam bangku pendidikan menyebabkan si anak atau siswa terpengaruh dengan pola
perilaku dan pergaulan yang serampangan, seperti berbicara dengan nada yang tinggi
dengan orang yang lebih tua, sering membuat kegaduhan atau keributan di dalam
masyarakat. Kemudian siswa yang bersangkutan membawa perilaku buruknya tersebut
kedalam lingkungan sekolah yang lambat laun menyebabkan teman-teman lainnya
terpengaruh dengan pola perilakunya, baik dalam berbicara ataupun dalam
memperlakukan orang lain.

C. Faktor-faktor Penyebab Masalah Belajar

1. Hal-hal yang Berpengaruh Terhadap Proses Belajar


Dalam menunjang berhasilnya suatu proses belajar, terdapat beberapa hal pokok yang sangat
berpengaruh terhadap proses belajar itu sendiri, yaitu sebagai berikut:
1. Faktor intern belajar

Dalam belajar siswa mengalami beragam masalah, jika mereka dapat menyelesaikannya maka
mereka tidak akan mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar. Terdapat berbagi faktor
intern dalam diri siswa, yaitu:

 Sikap Terhadap Belajar


 Motivasi belajar
 Konsentrasi belajar
 Kemampuan mengolah bahan ajar
 Kemampuan menyimpan perolehan hasil ajar
 Menggali hasil belajar yang tersimpan
 Kemampuan berprestasi
 Rasa percaya diri siswa
 Intelegensi dan keberhasilan belajar
 Kebiasaan belajar
 Cita-cita siswa

2. Faktor ekstern belajar


Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat
terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain
aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Program
pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan faktor eksternal belajar.
Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor eksternal yang berpengaruh pada
aktivitas belajar. Faktor-faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:

 Guru sebagai pembina siswa dalam belajar


 Sarana dan prasarana pembelajarn
 Kebijakan penilaian
 Lingkungan sosial siswa di sekolah
 Kurikulum sekolah

2. Faktor-faktor Penyebab Masalah Belajar


Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja
akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan
munculnya kelainan perilaku (misbehaviour) siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam
kelas, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan minggat dari sekolah.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya masalah belajar terdiri dari dua macam,
yakni:

1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri
siswa itu sendiri.
2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan yang datang dari luar diri siswa itu
sendiri.

Kedua faktor ini meliputi ragam keadaan sebagai berikut:


1. Faktor intern siswa

Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yaitu:
1) Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas
intelektual/intelegensi siswa;
2) Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
3) Yang berdifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra
penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).
2. Faktor ekstern siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas
belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi:
1) Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara kedua orang tua, dan
rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2) Lingkungan sekitar/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan
teman sepermainan (pear group) yang nakal.
3) Lingkungan sekolah, contohnya kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat
pasar, kondisi guru dan alat-alat pendukung sarana belajar yang berkualitas rendah.
Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada pula faktor-faktor lain yang juga
menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantaranya faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai
faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar).
Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya
keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas:
1) Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca,
2) Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis,
3) Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.
Namun demikian, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya
memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-
rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin
hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak
(Lask, 1985, Reber, 1988).

D. Prosedur dan Langkah-langkah Penanganganan Masalah Belajar

1. Identifikasi Kasus
Pada hari Sabtu, 28 Mei 2011 berlokasi di SMP Negeri 2 Labuapi Penulis melakukan observasi
mengenai kendala-kendala yang dihadapi siswa dalam belajar.
Dengan tujuan untuk mengetahui kendala atau masalah dalam belajar, Penulis melakukan
pengamatan di salah satu kelas VIII.
Untuk mempermudah proses pengambilan sampel siswa yang kemungkinan memiliki masalah
dalam belajar, Penulis berpedoman pada nilai raport semester 1 (ganjil) pada kelas tersebut.
Pada Leger Raport Semester 1 ditunjukkan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris adalah salah
satu mata pelajaran dengan rata-rata kelas terendah. Oleh karena itu, Penulis mengambil 2
sampel (dalam hal ini siswa) yang mendapatkan nilai terendah dalam mata pelajaran tersebut
atau siswa dengan nilai di bawah rata-rata kelas pada mata pelajaran yang bersangkutan.

2. Identifikasi Masalah
Setelah menentukan sampel, Penulis mewancarai kedua sampel siswa ini untuk mendapatkan
poin yang menjadi kendala utama dalam belajar. Dari wawancara tersebut, secara umum sampel
A dan B memiliki kesamaan kendala, yaitu:

1. Kesulitan belajar yang utama pada mata pelajaran Bahasa Inggris.


2. Kendala utama dalam belajar Bahasa Inggris yaitu kurangnya menguasai kosakata
(vocabulary) yang merupakan dasar (basic) dalam Bahasa Inggris.
3. Kurangnya waktu yang dimanfaatkan untuk belajar, kebiasaan belajar hanya dilakukan
jika ada Pekerjaan Rumah (PR) dari Guru.

3. Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar


Dari poin-poin yang didapatkan melalui wawancara, dapat disimpulkan bahwa masalah utama
siswa adalah kurangnya motivasi belajar yang kemudian tergambar melalui kebiasaan siswa itu
sendiri, seperti tidak menghapal kosakata, kurangnya pemanfaatan waktu luang, belajar jika ada
tugas, atau ulangan, dan lain sebagainya. Mereka mengikuti proses belajar mengajar seperti
biasa, tetapi hasil dari proses belajar tersebut terlihat tidak cukup optimal, yang kemudian
tergambar melalui nilai akhir yang berada di bawah angka rata-rata kelas.

4. Identifikasi Alternantif Penanganan


Alternatif penanganan masalah belajar yang dalam hal ini kurangnya motivasi belajar
melibatkan beberapa pihak, yakni:

1) Pemerintah, dalam hal ini peran Pemerintah adalah meciptakan motivasi belajar siswa.
Hal ini berhubungan dengan posisi Pemerintah sebagai pemangku kebijakan, peran atau
tanggung jawab Pemerintah yakni menciptakan kebijakan yang berhubungan dengan upaya
peningkatan motivasi belajar siswa. Pemerintah harus membuat kebijakan yang memuat regulasi
yang pas dan kompeherensif. Misalnya penetapan buku wajib yang benar-benar harus
dipedomani oleh lembaga-lembaga pendidikan (sekolah), buku yang benar-benar beresensi jelas
(buku yang menarik, yang berisi pengetahuan sekaligus mampu meningkatkan motivasi siswa
dalam belajar), bukan hanya buku yang monoton, yang itu-itu saja yang menyebabkan siswa
menjadi jenuh dan enggan membacanya. Selain buku yang menarik, yang mampu memotivasi
siswa, buku-buku yang berisi data faktual juga dibutuhkan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Selain itu, Pemerintah yang memiliki wewenang untuk membuat kurikulum juga harus memuat
dasar motivasi di dalamnya sebelum sekolah diberi kebijakan untuk membuat kurikulumnya
sendiri, yang tentunya mengacu kepada pedoman kurikulum yang dibuat Pemerintah.

2) Guru, dalam hal ini Guru memeliki kapasitas dan peranan yang besar dalam memotivasi
siswa. Karena salah satu tugas Guru yakni sebagai agen pembelajaran, bagaimana seorang guru
bisa menciptakan transfer pelajaran sekaligus motivasi kepada siswa-siswanya. Peran guru dalam
memotivasi siswa dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut:

1. Guru melakukan sosialisasi tentang motivasi kepada siswa, motivasi yang diberikan bisa
dalam bentuk ceramah singkat yang diberikan sebelum memulai proses pembelajaran.
Selain itu, guru bersama guru mata pelajaran secara aktif berdiskusi dalam rangka
menciptakan motivasi sehingga siswa-siswanya tidak mengalami kekurangan motivasi.
Guru Bimbingan Konseling juga memiliki peranan yang cukup besar dalam hal
memotivasi siswa, guru secara berkelanjutan memberikan penyuluhan dan motivasi
kepada siswa baik secara perorangan (individu) maupun secara kelompok.
2. Perubahan strategi/metode belajar sesuai dengan kondisi real siswa. Saat ini, metode
belajar yang populer di Indonesia yang dikenal dengan PAIKEM (Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Aktif artinya ketika proses pembelajaran
guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif untuk bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Inovatif artinya bagaimana guru
menciptakan pembelajaran yang bisa membuat siswanya berpikir bahwa learning is fun,
sehingga tertanam didalam pikiran siswanya tidak akan ada lagi perasaan tertekan dengan
tenggat waktu pengumpulan tugas dan rasa bosan tentunya. Kreatif artinya agar guru
menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat
kemampuan siswa. Efektif artinya bagaimana guru mampu menciptakan apa yang harus
dikuasai oleh siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung tanpa menyia-nyiakan
waktu. Dan Menyenangkan artinya suasana belajar-mengajar yang menyenangkan
sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu
curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
3. Penggunaaan media belajar yang inovatif, yang mampu menarik perhatian dan meotivasi
siswa. Penggunaan perangkat tambahan seperti LCD Projector atau OHP selain
merupakan sarana untuk mempermudah penyampaian guru juga berfungsi sebagai sarana
untuk meningkatkan perhatian belajar siswa. Sebab ada siswa yang mampu belajar cepat
secara audio visual dan nonaudio visual.

3) Orang tua, dalam hal ini orang tua memiliki peranan yang paling penting dalam
memotivasi anaknya. Sebab sebagian besar waktu yang dihabiskan anak setelah sekolah yaitu di
rumah. Setiap orang tua memiliki cara yang berebeda-beda dalam hal memotivasi anak-anaknya.
Ada orang tua yang menunjang anaknya dengan sarana pelengkap belajar seperti pengadaan
komputer, buku referensi, maupun peralatan tambahan yang mampu digunakan untuk mengakses
internet. Adapula orang tua yang memberikan motivasi atau dorongan kepada anak-anaknya
melaui wejangan-wejangan, penggunaann model, dan lain sebagainya.

4) Masyarakat, dalam hal ini peranannya dalam menciptakan lingkungan yang kondusif,
aman, nyaman dan tenteram. Seminimal mungkin tidak menciptakan suasana buruk yang bisa
mempengaruhi bahkan merubah mental anak dalam hal ini siswa. Melakukan aksi-aksi yang
dapat merubah tatanan paradigma dalam kehidupan bermasayarakat, sehingga dapat mengubah
cara pandangan anak terhadap cara berperilaku. Lingkungan masyarakat memiliki peranan yang
sangat penting, bagaimana lingkungan memciptakan suasana bahwa siswa tidak hanya
merasakan suasana belajar di dalam lingkungan sekolah, tetapi juga merasakannya di dalam
lingkungan sekitar. Contohnya, Jogjakarta dan Malang merupakan kota dengan tujuan Pelajar
dan Mahasiswa terbanyak. Kita bisa melihat bagaimana masyarakatnya menjaga kondusifitas
suasana lingkungannya dan menjaga seminimal mungkin agar pelajarnya merasa bahwa
lingkungan saya mendukung untuk belajar dan saya harus belajar, karena tidak ada masyarakat
yang akan memberikan pengaruh buruk terhadap mereka.

Motivation is an essential condition of learning. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi
motivasi:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan
energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang
akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian
motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan
rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan
yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak
bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan
harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan
waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat
diperlukan. Dengan motivasi, pelajar (siswa) dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat
mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam kaitan itu perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi adalah
bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang
juga bisa tidak kurang sesuai. Hal ini guru harus hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi
motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi
tetapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa.

Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang
utama justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah
nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik.
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada
juga, banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya naik kelas saja. Ini
menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa
yang menginginkan angka baik. Namun demikian semua itu harus diingat oleh guru bahwa
pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang
bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru adalah bagaimana cara
memberikan angka-angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap
pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif saja tetapi juga
keterampilan dan afeksinya.

2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena hadiah
untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak
berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar
yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat
menggambar.

3. Saingan/kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa.
Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan dalam dunia industri
atau perdagangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.

4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya
sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai
salah satu bentuk motivasi yang cukup tinggi. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga
untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan
baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa si subjek belajar. Para
siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.

5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi
ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan
terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal
ini guru harus terbuka, maksudnya kalau ada ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.

6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa
untuk giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi
pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.

7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan
pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi
yang baik. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan
mempeartinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa
menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian
hukuman.

9. Hasrat untuk belajar


Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan
lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar
berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu
hasilnya akan lebih baik.

10. Minat
Motivasi sangat erat hubungannyadengan unsur minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan,
begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses
belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat
dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan


2. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
3. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik
4. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

11. Tujuan yang diakui


Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang
sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat
berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan di atas, sudah barang tentu masih
banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru adanya
bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat menghasilkan
hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk ,otivasi) siswa
itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajar itu bisa diarahkan
menjadi kegiatan belajar yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan
si subjek belajar.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masalah belajar adalah suatu keadaan atau kondisi yang dialami oleh siswa sehingga dapat
menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu ini dapat berkenaan dengan keadaan
dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan
lingkungan yang tidak merugikan dan memberikan dampak buruk bagi dirinya. Masalah-masalah
belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa dengan kemampuan rendah atau biasa-biasa saja, akan
tetapi juga dapat dialami oleh siswa dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata normal atau
tinggi.
Masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam belajar misalnya:

1. Siswa yang tidak mampu mencapai tujuan belajar atau hasil belajar sesuai dengan
pencapaian teman-teman seusianya yang ada dalam kelas yang sama.
2. Siswa yang mengalami keterlambatan akademik.
3. Siswa yang secara nyata tidak dapat mencapai kemampuannya sendiri.
4. Siswa yang sangat lambat dalam belajar.
5. Siswa yang kekurangan motivasi dalam belajar.
6. Siswa yang bersikap dan memiliki kebiasaan buruk dalam belajar.
7. Siswa yang sering tidak mengikuti proses belajar mengajar di kelas.
8. Siswa yang mengalami penyimpangan perilaku (kurangnya tata krama) dalam hubungan
intersosial

Faktor-faktor penyebab masalah belajar dapat berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (intern)
maupun dari luar diri siswa (ekstern).
Permasalahan utama yang dihadapi oleh sampel A dan B pada salah satu SMP (Sekolah
Menengah Pertama) yakni masalah kurangnya motivasi belajar. Adapun solusi penyelesainnya
yaitu dengan melibatkan pihak Pemerintah, Guru, Orang tua, dan lingkungan masyarakat yang
memiliki peranan masing-masing.
B. Saran

1.
1. Apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan Makalah ini,
sangat diharapkan akan adanya perbaikan.
2. Diharapkan kepada para Guru agar lebih menyelenggarakan pembelajaran yang
optimal terhadap anak didiknya dan memberikan pemahaman yang lebih luas
tentang arti belajar itu sendiri.
3. Diharapkan kepada Guru selaku pendidik untuk tidak hanya memfokuskan
fungsinya selaku pengajar dan fasilitator, tetapi juga perannya selaku motivator
sehingga sukses dalam proses pembelajaran.