Anda di halaman 1dari 11

UJIAN TENGAH SEMESTER SEMESTER GANJIL 2018/2019

Mata Kuliah : Instrumentasi & Pemisahan Kimia Dosen : Dr. Hermin Sulistyarti
Prodi : S2-Kimia Nama : Avander Alexander Nuban
Hari/Tgl. : 16 Oktober 2018 NIM : 186090200111004

1 Dasar :
a) Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan atributnya berdasarkan cahaya,
suara atau partikel yang dipancarkan, diserap atau dipantulkan oleh materi tersebut.
Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara
cahaya dan materi. Spektrometri adalah tehnik yang digunakan untuk mengukur jumlah
(konsentrasi) suatu zat berdasarkan spektroskopi. Spektrofotometri merupakan suatu
metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh
suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan
monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube.
b) Radiasi elektromagnetik yang digunakan pada daerah UV-Vis:
Prinsip kerja dari spektrofotometri UV-Visible adalah penyerapan cahaya oleh molekul-
molekul. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-Visible (tampak)
karena mereka mengandung elektron, baik berpasangan maupun sendiri yang dapat
dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi, panjang gelombang bila mana absorpsi itu
terjadi, bergantung pada kekuatan elektron itu terikat dalam molekul. Elektron dalam
suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat dan diperlukan radiasi berenergi tinggi
atau panjang gelombang rendah untuk eksitasinya.
Kisaran Panjang gelombang UV jauh = 10-200 nm
Kisaran Panjang gelombang UV dekat = 200-400 nm
Kisaran Panjang gelombang sinar tampak (visible) = 400-800 nm
c) Energi yang dimiliki sinar UV mampu menyebabkan perpindahan elektron (promosi
elektron) atau yang disebut transisi elektronik. Transisi elektronik dapat diartikan
sebagai perpindahan elektron dari satu orbital ke orbital yang lain. Disebut transisi
elektronik karena elektron yang menempati satu orbital dengan energi terendah dapat
berpindah ke orbital lain yang memiliki energi lebih tinggi jika menyerap energi,
begitupun sebaliknya elektron dapatberpindah dari orbital yang memiliki energi lebih
rendah jika melepaskan energi. Energi yang diterima atau diserap berupa radiasi
elektromagnetik.
Transisi elektronik yang terjadi dalam molekul yang terukur oleh spektrofotometri UV-
Vis :
 Transisi σ→σ* (mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang sekitar 150 nm)
 Transisi n→σ* (mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang daerah
ultraviolet kuarsa (200 – 400 nm)
 Transisi π→π * (mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang daerah 200 –
500 nm)
 Transisi n→π * (mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang daerah 250 –
600 nm)
d) Transisi yang meliputi elektron π, σ, dan n terjadi pada molekul organik dan sebagian
kecil anion anorganik. Suatu senyawa yang diukur atau akan ditentukan strukturnya
biasanya dalam bentuk encer. Pelarut yang biasa digunakan pada spektrofotometer UV
adalah pelarut yang tidak mengabsorbsi atau transparan pada panjang gelombang UV.
Pelarut yang biasa digunakan pada spektrofotometer adalah etanol karena sifatnya yang
transparan terhadap UV di atas 210 nm. Selain itu heksana (transparan di atas 210 nm),
air (transparan di atas 205) dan dioksana juga sering digunakan sebagai pelarut pada
spektrofotometer UV.
Air dan etanol termasuk pelarut polar sehingga dapat melarutkan senyawa-senyawa
yang bersifat polar sedangkan heksana termasuk pelarut nonpolar sehingga dapat
melarutkan senyawa-senyawa yang bersifat nonpolar. Penggunaan pelarut dengan
kepolaran yang berbeda menyebabkan posisi puncak absorbsi suatu senyawa bergeser.
Dengan kata lain kepolaran pelarut berpengaruh pada λmaks suatu senyawa. Kepolaran
pelarut mempengaruhi λmaks karena kepolaran molekul biasanya berubah jika suatu
elektron bergerak dari satu orbital ke orbital lainnya. Pengaruh pelarut biasanya
mencapai hingga 20 nm jika digunakan pelarut senyawa-senyawa karbonil.
Pada umumnya transisi π→π* menghasilkan keadaan tereksitasi yang lebih polar dari
keadaan dasar molekul itu. Interaksi dipol-dipol antara molekul dalam keadaan
tereksitasi dengan molekul-molekul pelarut yang polar, menyebabkan tingkat energi
molekul dalam keadaan tereksitasi menjadi turun. Akibatnya transisi π→π* suatu
molekul dalam pelarut polar memerlukan energi yang lebih kecil dari transisi π→π*
molekul itu dalam pelarut nonpolar. Pergantian pelarut heksana dengan etanol
menggeser λmaks suatu senyawa ke nilai yang lebih besar dengan pergeseran sebesar 10–
20 nm.
Dengan bertambahnya kepolaran pelarut pada transisi π→ π *, bentuk puncak bergeser
ke panjang gelombang yang lebih pendek (pergeseran biru atau hipsokromik),
sedangkan jika bergeser kepanjang gelombang yang lebih panjang (pergeseran merah
atau batokromik). Pergeseran Batokromik; merupakan pergeseran absorban ke daerah
panjang gelombang yang lebih panjang karena adanya substitusi atau efek pelarut.
Pergeseran Hipsokromik; merupakan pergeseran absorban ke daerah panjang
gelombang yang lebih pendek karena adanya substitusi atau efek pelarut. Pergeseran
biru disebabkan bertambahnya solvasi pasangan elektron hingga berakibat energinya
turun. Pergeseran merah terjadi akibat bertambahnya kepolaran pelarut (~ 5 nm),
disebabkan gaya polarisasi antara pelarut dan spesies, sehingga berakibat menurunnya
selisih tingkat energi eksitasi dan tingkat tidak tereksitasi.
e) Kromofor merupakan gugus tak jenuh (pada ikatan kovalen) yang bertanggung jawab
terhadap terjadinya absorbsi elektronik (misalnya C=C, C=O, dan NO2).
Auksokrom merupakan gugus jenuh dengan adanya elektron bebas (tidak terikat),
dimana jika gugus ini bergabung dengan kromofor, akan mempengaruhi panjang
gelombang dan intensitas absorban (misalnya, OH, NH2, NHR, dan NR2)
f) Warna Komplementer adalah Warna yang terlihat berhubungan dengan spektrum
absorbsi dari material , tetapi bersifat tidak langsung, apa yang dilihat ialah cahaya yang
ditransmisikan melalui materi (Hurst, 2004).
Hubungan warna komplementer dengan Panjang gelombang:
Panjang Warna warna yang Warna komplementer
gelombang (nm) diserap (warna yang terlihat)
400 – 435 Ungu Hijau kekuningan
435 – 480 Biru Kuning
480 – 490 Biru kehijauan Jingga
490 – 500 Hijau kebiruan Merah
500 – 560 Hijau Ungu kemerahan
560 – 580 Hijau kekuningan Ungu
580 – 595 Kuning Biru
595 – 610 Jingga Biru kehijauan
610 – 800 Merah Hijau kebiruan
Intrumensasi :
a. Skema instrumentasi spektrofotometer UV-Vis single beam dan double beam

Skematik single-beam UV-Vis spektrofotometer

Skematik double beam UV-Vis spektrofotometer


Komponen dari spektrofotometer UV-Vis :
 Sumber cahaya (Lampu) : memancarkan semua warna cahaya (yaitu, cahaya
putih).
 Monokromator : memilih satu panjang gelombang dan panjang gelombang yang
dikirimkan melalui sampel. untuk memecah radiasi polikromatis dengan pita energi
yang lebar yang dihasilkan sumber radiasi menjadi radiasi dengan pita energi yang
lebih sempit atau menjadi radiasi monokromatis.
 Kuvet : sebagai tempat/wadah sampel
 Detektor : mendeteksi panjang gelombang cahaya yang telah melewati sampel.
 Amplifier : meningkatkan sinyal sehingga lebih mudah untuk baca terhadap
kebisingan latar belakang.
b. Skema dan Prinsip kerja detektor:
1. Detector photomuliplier tube

Prinsip kerja :
1. Cahaya masuk dari jendela masuk
2. Cahaya tereksitasi dalam fotokatoda, sehingga foto elektron dipancarkan
kedalam vakum (efek fotolistrik eksternal)
3. Foto elektron dipercepat dan difokuskan dengan elektroda pemfokus kedalam
dynode pertama dimana fotoelektron digandakan, atau terjadi proses emisi
sekunder elektron. Emisi sekunder elektron mengalami perulangan secara
berturut-turut pada setiap dynode
4. Penggandaan elektron sekunder dipancarkan dari dynode terakhir akhirnya
dikumpulkan oleh anoda
2. Detector Charge coupled device (CCD)

Prinsip kerja :
1. Lensa menerima cahaya dan meneruskan ke CCD
2. Fotodioda pada CCD merespon cahaya yang mengenainya. Cahaya ini direspon
fotodioda dengan menghasilkan muatan sesuai dengan spektrum warna yang
diterimanya.
3. Muatan tersebut akhirnya ditransfer ke kapasitor.dan tiap kapasitor dapat
mentansfer muatan listrik dari satu kapasitor ke kapasitor lain.
4. Muatan listrik tersebut masuk ke analog signal chain untuk diolah di ADC.
Semua proses ini dikontrol oleh sebuah clock signal.

3. Detector photodiode array

Prinsip kerja :
Cahaya yang masuk ke dalam PDA akan mengeksitasi electron ari lapisan SiO2.
Apabila terdapat radiasi pengion pada lapisan kosong, membentuk ion-ion baru,
dan electron yang akan bergerak ke tutub positif dan negative sehingga terbentuk
arus listrik.
4. Fast scanning monochromator-double beam

Aplikasi :
a. Dasar pemilihan panjang gelombang untuk pengukuran adalah tergantung sampel, yang
mana menggunakan prosedur yang sensitif terhadap panajng gelombang, pilih Panjang
gelombang dimana instrument memberikan absorbansi terbesar. Biasanya warna
sampel memberikan indikasi yang baik untuk mengetahui daerah Panjang gelombang
yang digunakan. Misalnya, sebuah larutan kuning menyerap cahaya di daerah Panjang
gelombang 400-500 nm, larutan berwarna merah menyerap Panjang gelombang antara
500-600 nm, dan larutan berwarna biru menyerap cahaya dalalm kisaran 600-700 nm.
b. Panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang dimana terjadi penyerapan
yang maksimal.
Pengukuran harus dilakukan menggunakan λ maks karena Panjang gelombang yang
digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai
absorbansi maksimal. Ada beberapa alasan mengapa harus dilakukan pada panjang
gelombang maksimal: Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal
karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap
satuan konsenytrasi larutan adalah yang paling besar. Disekitar panjang gelombang
maksimal, bentuk kurva absorbansi linier, sehingga memenuhi hukum lambert-beer.
Jika dilakukan pengukuran ulang, akan menghasilkan hasil yang cukup konstan
c. Dilakukan kalibrasi Spektrofotometer UV-Vis karena Kalibrasi adalah proses
pengecekan dan pengaturan akurasi dari alat ukur dengan cara membandingkannya
dengan standar/tolak ukur.
Dengan adanya proses kalibrasi pada spektrofotometer UV-Vis ini maka akan
membantu pemakai untuk memperoleh hasil yang kaurat dan presisi.
Cara kalibrasi :
 Dilakukan dengan larutan blangko (berisi pelarut murni yang digunakan dalam
sampel) dengan kuvet yang sama.
 Setiap perubahan panjang gelombang diusahakan dilakukan proses kalibrasi.
 Proses kalibrasi pada pengukuran dalam waktu yang lama untuk satu macam
panjang gelombang, dilakukan secara periodik selang waktu per 30 menit
d. cara memilih pelarut yang sesuai : tergantung pada sampel yang dianalisis dan harus
memilih pelarut berdasarkan rentang analisis absorbansi pelarut yaitu kisaran UV atau
visible.
e. Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa besarnya serapan (A) dengan besarnya
konsentrasi (c) dari zat uji. Secara matematis Hukum Lambert-Beer dinyatakan dengan
persamaan:
A = εbc
Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa serapan (A) tidak memiliki satuan dan
biasanya dinyatakan dengan unit absorbansi. Absorptivitas Molar pada persamaan di
atas adalah karakteristik suatu zat yang menginformasikan berapa banyak cahaya yang
diserap oleh molekul zat tersebut pada panjang gelombang tertentu. Semakin besar nilai
Absorptivitas Molar suatu zat maka semakin banyak cahaya yang diabsorbsi olehnya,
atau dengan kata lain nilai serapan (A) akan semakin besar. Hukum Lambert-Beer di
atas berlaku pada larutan dengan konsentrasi kurang dari sama dengan 0.01 M untuk
sebagian besar zat. Secara umum, uji kuantitatif suatu sampel harus memberikan
serapan antara 0.2 – 0.8, atau toleransinya 0.1 – 0.9. Jika nilai serapan sampel kurang
dari persyaratan tersebut, maka tidak bisa menggunakan metode spektrofotometri untuk
mengkuantifikasinya. Atau jika nilai serapan sampel lebih dari persyaratan tersebut,
biasanya harus mengencerkan sampel sehingga hasil pengencerannya memberikan
serapan pada range nilai serapan yang dipersyaratkan.

f. Diketahui : Absorbansi (A) = 0,47 ; absortivitas molar = 0,25 M-1cm-1 dan tebal kuvet
= 1 cm.
𝐴 0,47
𝑐= = = 1,88 𝑀
𝜺𝒃 𝟎, 𝟐𝟓𝒙𝟏

2 Fluoresens Spektrofotometri:
a) Spektrofotometri fluoresensi merupakan suatu prosedur yang menggunakan
pengukuran intensitas cahaya fluoresensi yang dipancarkan oleh zat uji dibandingkan
dengan yang dipancarkan oleh suatu baku tertentu. Pada umumnya cahaya yang
diemisikan oleh larutan berfluoresensi mempunyai intensitas maksimum pada panjang
gelombang yang biasanya 20 nm hingga 30 nm lebih panjang dari panjang gelombang
radiasi eksitasi (gelombang pita penyerapan sinar yang membangkitkannya).
Pengukuran intensitas fluoresensi dapat dilakukan dengan suatu fluorometer filter
sederhana. Instrument yang dipergunakan bermacam-macam mulai dari yang paling
sederhana (filter fluorometer) sampai ke yang sangat kompleks yaitu spektrofotometer.
b) Diagram jablonski :

Gambar diagram Jablonski yang menunjukan terjadinya proses fluoresensi dan


fosforesensi. Ketika suatu atom atau molekul mengabsorbsi energi cahaya sebesar hνA
maka elektron-elektron pada kondisi dasar (ground sate) S0 akan berpindah ke tingkat
energi yang lebih tinggi ke tinggat S1 atau S2. Waktu yang dibutuhkan untuk proses
tersebut kurang dari 1piko detik. Atom akan mengalami konversi internal atau
relaksasi pada kondisi S1 dalam waktu yang sangat singkat sekitar 10-1ns, kemudian
atom tersebut akan melepaskan sejumlah energi sebesar hνf yang berupa cahaya.
Karenanya energi atom semakin lama semakin berkurang dan akan kembali menuju
ke tingkat energi dasar S0 untuk mencapai keadaan suhu yang setimbang (thermally
equilibrium). Emisi fluoresensi dalam bentuk spektrum yang lebar terjadi akibat
perpindahan tingkat energi S1 menuju ke sub-tingkat energi S0 yang berbeda-beda
yang menunjukan tingkat keadaan energi dasar vibrasi atom 0, 1, dan 2 berdasarkan
prinsip Frank-Condon
c) ”stokes-shift” dan fungsinya untk analisis spektrofotometri fluoresensi :
 Stokes-shift adalah perbedaan (dalam panjang gelombang atau unit (frekuensi)
antara posisi maksimum band penyerapan dan spektrum emisi (fluoresensi dan
Raman menjadi dua contoh) dari transisi elektronik yang sama. Atau cahaya yang
dipancarkan oleh elektron yang kembali ke ground state itu memiliki energi yang
lebih rendah dibandingkan dengan cahaya yang diabsorbsi ( Selisih energi yang
diserap dan energi yang dipancarkan).
 Penyebab utama pergeseran Stokes adalah peluruhan cepat dari elektron yang
terksitasi ke tingkat energi dengan vibrasi terendah dari keadaan tereksitasi S1.
Selain itu, emisi fluoresensi biasanya disertai dengan transisi ke tingkat energi
vibrasi yang lebih tinggi dari keadaan dasar, yang mengakibatkan hilangnya energi
dari vibrasi energi yang berlebih. Peristiwa lain, seperti efek orientasi pelarut,
reaksi keadaan tereksitasi, pembentukan kompleks, dan transfer energi resonansi
juga bisa berkontribusi terhadap panjang gelombang emisi yang lebih panjang.
Dalam prakteknya, Stokes shift diukur sebagai perbedaan antara λ max dalam
keadaan tereksitasi dan spektra emisi dari flurofor atau fluorokrom. Kehadiran
Stokes shift adalah faktor kritis penentu sensitivitas dari analisis fluorosense.
d) Syarat molekul yang di analisis dengan fluorosensi, antara lain :
Supaya terjadi fluoresensi, harus terjadi peresapan cahaya yang kuat oleh suatu molekul.
Hal ini dapat terjadi pada senyawa aromatic, senyawa heterosiklik dan molekul dengan
system konjugasi. Senyawa dengan transisi elektronik π -- π *, mempunyai
kemungkinan yang lebih besar untuk berfluoresensi daripada transisi n -- π *. Misalnya,
benzen dapat berfluoresensi sedangkan piridina tidak. Williams (4), telah menyusun
tabel dari beberapa senyawa yang dapat berfluoresensi. Beberapa diantaranya adalah :
Senyawa pH Panjang gelombang, nm Konsentrasi minimum (ppm)
Eksitasi Fluoresensi
Asam p-amino-salisilat 11 300 405 0,004
Sianokobalamin 7 275 305 0,003
Kinina 1 250, 350 450 0,002
Reserpina 1 300 375 0,008
Kloropromazina 11 350 480 0,1
Dengan suatu pereaksi tertentu, senyawa yang tidak berfluoresensi dapat diubah
menjadi senyawa yang berfluoresensi. Metode ini penting baik untuk senyawa organic
maupun aorganik, dan banyak senyawa anorganik membentuk kompleks yang mudah
beerfluoresensi dengan pereaksi organic. Misalnya, kepekan pada penetapan So dapat
dipertinggi sampai 0,002 μg dengan meggunakan 2,3-diaminonaftalena sebagai
pembentuk kompleks. Vitamin B1 dalam sediaan Farmasi atau makanan dapat
ditetapkan secara spektrofluorimetri setelah dioksidasi menjadi tiokrom yang mudah
berfluoresensi.
Fluorofor merupakan bagian dari molekul yang bertanggung jawab untuk
fluoresensinya yaitu keadaan dimana suatu senyawa yang dapat memancarkan kembali
cahaya pada eksitasi cahaya
e) Instrumentasi fluoressensi:

Komponen-komponen fluoresensi :
 Sumber energi eksitasi
Banyak terdapat sumber radiasi. Lampu merkuri relatif stabil dan memancarkan energi
terutama pada panjang gelombang diskret. Lampu tungsten memberikan energi kontinyu
di daerah tampak. Lampu pancar xenon bertekanan tinggi seringkali digunakan pada
spektrofluorometer karena alat tersebut merupakan sebuah sumber dengan intensitas tinggi
yang menghasilkan energi kontinyu dengan intensitas tinggi dari ultraviolet sampai
inframerah.
 Kuvet untuk sample
Sel spesimen yang digunakan dalam pengukuran fluoresensi dapat berupa tabung bulat
atau sel empat persegi panjang (kuvet), sama seperti yang digunakan pada spektrofotometri
resapan, terkecuali keempat sisi vertikalnya dipoles. Ukuran spesimen uji yang sesuai
adalah 2 ml sampai 3 ml, tetapi beberapa instrumen dapat disesuaikan dengan sel-sel kecil
yang memuat 100 μl hingga 300 μl atau dengan pipa kapiler yang hanya memerlukan
jumlah spesimen yang kecil. Spektrofotometer harus dioperasikan sesuai dengan petunjuk
pabrik pembuat.
 Detektor
Detector berupa fotosel yang sangat peka misalnya fotomultiplier merah untuk panjang
gelombang lebih besar dari pada 500 nm. Pada umumnya fluorometer menggunakan
tabung-tabung fotomultiplier sebagai detektor, banyak tipe dari jenis tersebut yang tersedia
dan masing-masing mempunyai ciri khusus yang berkenaan dengan daerah spektral
dengan kepekaan maksimum, menguntungkan dan derau secara elektrik. Arus foto
diperbesar dan dibaca pada sebuah meter atau perekam.
 Sepasang filter atau monokromator untuk menyeleksi panjang gelombang eksitasi
dan emisi.
Monokromator (M1) untuk menyinari sampel dengan panjang gelombang tertentu.
Monokromator kedua (M2) yang pada iradiasi konstan dapat dipakai menentukan
panjang gelombang spectrum fluoresensi sampel.
 Amplifier untuk mengandakan radiasi dan meneruskan ke pembacaan
f) Prosedur analisis, yaitu mula-mula dibuat kurva kalibrasi (grafik hubungan fluoresensi
dengan konsentrasi). Tahap selanjutnya adalah mengukur intensitas fluoresensi dari zat
yang diperiksa, lalu membaca konsentrasi dari kurva kalibrasi tersebut. Selama
pengukuran, kondisi percobaan harus dijaga supaya tetap konstan. Pengotoran dapat
menurunkan efisiensi dari fluoresensi sehingga mengurangi sensifitas (quenching). Analisa
campuran dilakukan dengan memilih radiasi eksitasi pada panjang gelombang yang
berbeda dimana masing-masing komponen campuran tersebut. Bila tidak mungkin,
pengukuran dilakukan pada panjang gelombang yang berbeda dimana masing-masing
komponen campuran tersebut berfluoresensi.
Contoh analisis kuantitatif :
 Pada larutan dengan konsentrasi tinggi, sebagian besar cahaya diserap lapisan
larutan yang paling dulu kontak dengan radiasi eksitasi, sehingga fluoresensi hanya
terjadi pada bagian yang menyerap cahaya tersebut. Dengan demikian, pada
analisis kuantitatif harus didunakan larutan yang encer (serapan tidak lebih dari
0,02) supaya dapat memenuhi persamaan fluoresensi. F = 2,3IoQabc atau F = kc
Analisis kuantitatif untuk mengukur kadar Kinin Sulfat:
 Disiapkan larutan standard kinin yaitu 0.1, 0.15, 0.2, 0.25, 0.3 ppm dengan
pengenceran dari larutan stok dengan 0,1 N H2SO4
 Larutan kinin sulfat 1 µg/ml dimasukkan ke dalam kuvet, kemudian ditempatkan
ke dalam ruang pengukuran pada spektrofluorometer.
 Besar intensitas fluororesensi maksimum untuk monokromator eksitasi dari
literatur dimasukkan pada alat spektrofluorometer.
 Besar intensitas fluororesensi maksimum monokromator emisi dari literatur
dimasukkan pada alat spektrofluorometer.
 Dilakukan pengukuran intensitas fluororesensi (pada monokromator eksitasi)
untuk blanko (asam sulfat 0,1 N).
 Dilakukan pengukuran intensitas fluororesensi (pada monokromator eksitasi)
untuk masing-masing larutan yang diencerkan.
 Dilakukan pengukuran intensitas fluororesensi (pada monokromator eksitasi)
untuk sampel.
Data pengamatan:
 Tabel pengamatan
Bahan Intensitas pada λ=450 nm
Blanko 0,4
Sampel 31
0,1 ppm 14
0,15 ppm 19.9
0,2 ppm 26
0,25 ppm 32
0,3 ppm 39

Panjang gelombang (λ) eksitasi : 350 nm


Panjang gelombang(λ) emisi : 300-400 nm
Panjang Gelombang (λ) max : 450 nm
Alat : Shimadzu Data Recorder DR-3
 Pengolahan data pengenceran:
Pengenceran Larutan awal : 100 ppm
o Dibuat Larutan Stok : 1 ppm
Perhitungan
V1.M1 = V2.M2
V1.100 ppm = 100 mL. 1ppm
V1 = 1 mL
o Larutan standar : 0,1 ppm
V1.M1 = V2.M2
V1.1 ppm = 25 mL. 0,1ppm
V1 = 2,5 mL
o Larutan standar : 0,15 ppm
V1.M1 = V2.M2
V1.1 ppm = 25 mL. 0,15ppm
V1 = 3,75 mL
o Larutan standar : 0,2 ppm
V1.M1 = V2.M2
V1.1 ppm = 25 mL. 0,2ppm
V1 = 5 mL
o Larutan Standar : 0,25 ppm
V1.M1 = V2.M2
V1.1 ppm = 25 mL. 0,25ppm
V1 = 6,25 mL
o Larutan Standar : 0,3 ppm
V1.M1 = V2.M2
V1.1 ppm = 25 mL. 0,3ppm
V1 = 7,5 mL
 Tabel pengolahan data :
Bahan Intensitas pada λ=450 nm Intensitas Bahan-Blanko pada
λ=450nm
Blanko 0,4 -
Sampel 31 30,6
0,1 ppm 14 13,6
0,15 ppm 19.9 19,5
0,2 ppm 26 25,6
0,25 ppm 32 31,6
0,3 ppm 39 38,6
 Dari grafik didapatkan persamaan regresi:
y = bx + a
I = m.C + Io
I = 124,2 C + 0,94
Dengan perhitungan kalkulator didapat R2 = 1
Maka dapat diketahui konsentrasi sampel dengan cara substitusi nilai
intensitas sampel dikurangi blanko pada panjang gelombang 450nm.
I sampel = 30,6
I = 124,2 C + 0,94
I = 124,2 C + 0,94
C = 0,23 ppm
Dengan faktor pengenceran : 20 kali
Maka konsentrasi sebenarnya dari larutan sampel yaitu kinin sulfat adalah sebesar
0,23 x 20 = 4,6 ppm