Anda di halaman 1dari 16

MANUSIA DAN ALAM SEMESTA

Tugas Mata Kuliah

Etika Bisnis dan Profesi

OLEH :

KELOMPOK 12 :

1. Rr. Tiara Amelia (170810301197)

2. Firda Imro’atuz Zuhro (170810301237)

3. Nuril Isnaini (170810301269)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS JEMBER

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Manusia dan Alam
Semesta ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jember, 1 September 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 2

2.1 Hakikat Kebenaran ......................................................................................... 2

2.2 Hakikat Eksistensi .......................................................................................... 3

2.3 Hakikat Manusia ............................................................................................. 4

2.4 Hakikat Otak dan Kecerdasan ........................................................................ 7

2.5 Hakikat Pikiran dan Kesadaran ..................................................................... 10

2.6 Tujuan dan Makna Kehidupan ...................................................................... 12

2.7 Alam Semesta Sebagai Suatu Kesatuan Sistem .......................................... 14

2.8 Spiritual dan Etika ......................................................................................... 15

BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 17

3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 18

ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya proses

interaksi dengan manusia di sekitarnya. Asumsi ini bisa dipahami mengingat eksistensi

manusia di muka bumi ini bukanlah berada pada ruang hampa tapi sebaliknya mereka

eksis pada ruang sosial yang diikat oleh ikatan persaudaraan yang kuat. Termasuk

dengan sinergitas dengan alam semesta.

Alam semesta merupakan realitas yang dihadapi oleh manusia, yang sampai

kini baru sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan diungkap oleh manusia dan

hanya dilihat sebagai materi/substansi yang terbentang luas dan tak bernyawa, yang

misterinya mampu dipecahkan dengan pendekatan ilmiah dan rasional. Manusia telah

memiliki lapisan kesadaran mental/emosional yang telah berkembang. Sementara

hewan belum mencapi tingkat/lapisan kesadaran ini. Kondisi pikiran pada lapis ketiga

ini sangat menentukan apakah kepribadian manusia dapat berkembang kelapisan

kesadaran yang lebih tinggi (Tingkat kesadaran transcendental), tetapi stagnan atau

bahkan turun pada lapisan kesadaran yang lebih rendah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia?

2. Apa hakikat kecerdasan dan kesadaran diri yang dimiliki manusia?

3. Bagaimana keterkaitan manusia dengan alam semesta?

4. Bagaimana keterkaitan antara perilaku etis dengan tingkat kesadaran

spiritual?

1
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 HAKIKAT KEBENARAN

Dalam kehidupan di dunia ini ada empat kebenaran besar yang telah

dinyatakan oleh E.F Schumacher yaitu :

a. Kebenaran (hakikat) tentang eksistensi (dunia / alamsemesta)

b. Kebenaran tentang alat(tools) yang dipakai untuk memahami dunia

c. Kebenaran tentang cara belajar tentang dunia

d. Yang dimaksud dengan hidup di dunia

Kebenaran tentang eksistensi menyangkut kebenaran tentang adanya empat

tingkat eksistensi dunia, yaitu :benda, tumbuh – tumbuhan, hewan, dan manusia.

Dalam pengujian kebernaran di dunia alam semesta ini banyak para ilmuan yang

menjelaskannya dengan cara untuk mengujinya berbeda – beda.

Namun kesimpulannya Hakikat kebenaran alam semesta tidak hanya terbatas

pada sesuatu yang bersifat fisik, sebagaimana diyakini oleh sementara ilmuwan,

dengan kemajuan ilmu fisika dan adanya ketertarikan paran ilmuwan untuk memulai

mengkaji hal – hal spiritual dengan lebih rasional, maka mulai diyakini bahwa hal – hal

yang tidak tampak oleh pancra indra juga merupakan bagian tak terpisahkan dari

hakikat keberadaan.

2.2 HAKIKAT EKSISTENSI (DUNIA/ALAM SEMESTA)

Alam semesta (universe, kosmos, al-kaun) merupakan realitas yang dihadapi

oleh manusia, yang sampai kini baru sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan

diungkap oleh manusia. Bagi seorang ilmuwan akan menyadari bahwa manusia

diciptakan bukanlah untuk menaklukkan seluruh alam semesta.

2
- Schumacer telah mengingatkan para ilmuwan tentang adanya tingkatan –

tingkatan eksistensi alam semesta sebagai berikut:

1. Benda, dapat dituliskan =P

Tingkat pertama adalah benda mati, yang hanya memiliki unsur P

(Substansi, materi)

2. Tumbuhan, dapat dituliskan = P+X

Tingkat kedua adalah tumbuh – tumbuhan, yang mempunyai unsur P dan

unsur X (Kehidupan)

3. Hewan, dapat dituliskan = P+X+Y

Tingkat ketiga adalah golongan hewan, yang memiliki unsur P, X, dan Y

(Kesadaran)

4. Manusia, dapat dituliskan = P+X+Y+Z

Tingkat keempat adalah golongan manusia, yang memiliki semua unsur, P,

X, Y, dan Z (Unsur kesadaran transedental/spiritual)

- Seorang sosiolog, Pitirim Alexandrovich Sorokin, mencoba menjelaskan

perubahan – perubahan besar (krisis) dan fluktuasi yang terjadi dalam

kehidupan umat manusia ini berdasarkan tiga skema, yaitu:

1. Indriawi, berpandangan bahwa semua nilai etika bersifat relative dan bahwa

persepsi indriawi merupakan satu-satunya sumber pengetahuan dan

kebenaran.

2. Ideasional, berpandangan bahwa realitas sejati berada di luar dunia materi

(berada pada alam spiritual) dan bahwa pengetahuan dapat diperoleh

melalui pengalaman batin.

3. Idealistis, merupakan perpaduan harmonis antara Indriawi dan Ideasional.

Chopra mengemukakan tiga tingkat keberadaan, yaitu:

3
1. Domain fisik, domain substansi, materi, dan alam semesta yang dapat

diketahui melalui panca indra, dimana segalanya dibatasi oleh ruang dan

waktu.

2. Domain kuantum, segalanya terdiri dari atas informasi dan energi.

3. Domain nonlokal, dimana tidak ada lagi identitas individual, semuanya

membaur, luluh, dan menyatu.

2.3 HAKIKAT MANUSIA

McDavid dan Harari (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2001) mengelompokkan

empat teori psikologi dikaitkan dengan konsepsinya tentang manusia, sebagai berikut:

1. Psikoanalis, yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkab oleh

keinginan-keinginan terpendam (homo valensi).

2. Behaviorisme, yang menganggap manusia sebagai makhluk yang digerakkan

semuanya oleh lingkungan (homo mechanicus). Teori ini menyebut manusia

sebagai manusia mesin karena perilaku manusia sepenuhnya

ditentukan/dibentuk oleh lingkungan. Teori ini juga disebut teori belajar karena

menurut mereka, seluruh perilaku manusia – kecuali insting – adalah hasil

belajar (dari lingkungan).

3. Kognitif, yang menganggap manusia sebagai makhluk berpikir yang aktif

mengorganisasikan dan mengolah stimulasi yang diterimanya (homo sapiens).

Manusia tidak lagi dianggap sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif

terhadap lingkungannya.

4. Humanisme, yang melukiskan manusia sebagai pelaku aktif dalam

merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (homo ludens).

4
Berikut skema yang dibuat oleh Ardana (2005) tentang hubungan antar lapisan

keberadaan manusia yang dikemukan oleh para ilmuwan.

Tabel 1.1

Skema Lapisan Keberadaan Manusia oleh para Ilmuwan

Steiner Hawley Schumacher Agustian dan Kustara


Fisik P
Tubuh (body) Fisik
Eterik X
Astral
Hati (Heart)
Ego Jiwa (mind,
Y
Manas psikismental)
Kepala (Head)
Buddhi
Atma Semangat (Spirit) Z Roh (Soul, spirit)

Manusia adalah bagian dari alam semesta. Segala sesuatu yang ada di alam

semesta (makrokosmos) juga ada di alam manusia (mikrokosmos). Oleh karena itu,

alam semesta dan alam manusia sebenarnya sama-sama mempunyai tiga lapisan

keberadaan, yaitu fisik (body), energi pikiran (mind), dan kesadaran murni (roh, soul,

spirit).

Selain itu, ada beberapa pandangan tentang Manusia dari beberapa perspektif,

yaitu:

a. Perspektif filsafat

1. Menurut filsuf Plato : Manusia adalah makhluk berakal dan akal manusia

berfungsi mengarahkan budi.

2. Menurut filsuf Aristoteles: Manusia adalah binatang yang berfikir.

b. Perspektif antropologi

Manusia tergolong primata yang paling sempurna jasmani dan rohani, sehingga

tidak tertutup kemungkinan melahirkan perilaku dalam berbagai bentuk dan

implikasinya.

5
c. Perspektif psikologi modern

1. Bagi Aliran Behaviorisme, manusia adalah makhluk netral. Ketika manusia

dilahirkan, pada dasarnya tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan

berkembang berdasarkan stimulasi dalam lingkungannya.

2. Bagi Aliran Psikoanalisis; manusia adalah makhluk yang hidup atas

bekerjanya dorongan seksualitas yang memberi daya pada eqo (kesadran

terhadap realitas kehidupan dan super eqo (kesadran normatif).

d. Perspektif Psikologi humanistik

Manusia pada dasarnya punya potensi yang baik dan kemampuan yang tak

terhingga serta memiliki otoritas atas kehidupannya sendiri. Manusia memiliki

kualitas insani yang unik yaitu (kemampuan abstraksi, daya analisis dan

sisntesis, imajinasi, kreativitas, kebebasan kehendak, tanggungjawab,

aktualisasi diri, sikap etis dan estetika.

e. Perspektif psikologi tranpersonal

Perspektif ini merupakan lanjutan dari psikologi humanistik. Yaitu ; Manusia

memiliki potensi luhur dalam bentuk dimensi spiritual dan fenomena kesadaran

transendental (manusia memiliki pengalaman subjektif transendental dan

pengalaman spiritual).

f. Perspektif Pendidikan

Manusia adalah homo edukatif. Ketidakberdayaan manusia ketika lahir

menjadi peluang bahwa manusia adalah makhluk yang dapat dididik.

g. Perspektif Sosiologi

Manusia adalah homo sosio yaitu makhluk bermasyarakat.

6
2.4 HAKIKAT OTAK (BRAIN) DAN KECERDASAN (INTELLIGENCE)

Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks. Otak memiliki kemampuan

luar biasa, antra lain : Memproduksi pikiran-sadar, melakukan pilihan bebas,

menyimpan ingatan, memungkinkan memiliki perasaan, menjembatani kehidupan

spiritual dengan kehidupan materi/fisik. kemampuan peradaban, persentuhan,

penglihatan, penciuman, bahasa, mengendalikan berbagai organ tubuh, dan

sebagainya.

Menurut Agus Nggermanto (2001), paling tidak ada Sembilan subkomponen

didalam otak manusia, yaitu 1. neocortex, 2. corpus callasum, 3. cerebellum, 4.otak

reptile, 5. hippocampus, 6. amigdala, 7. pituitary gland, 8. hypothalamus, dan 9

thalamus. Neocortex merupakan lapisan otak paling luar yang hanya diimiliki oleh

manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk lain. Lapisan ini memungkinkan manusia

mempunyai berbagai kemampuan seperti menulis, membaca, melakukan perhitungan

rumit, menguasai bahasa, melukis dan sebagainya.

2.5 HAKIKAT PIKIRAN (MIND) DAN KESADARAN

Manusia mempunyai satu titik sumber sinergi yang mendorong atau

menstimulasi seluruh aktivitas tubuh untuk berinteraksi dengan dunia. Hal ini

dibuktikan bahwa pada waktu mempuyai kesadaran yang penuh ada sesuatu yang

berperan padanya. Manusia dengan dikaruniai akal budi merupakan mahluk hidup

yang sadar dengan dirinya. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam

diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya.

Descartes, seorang filsuf modern asal Prancis, secara garis besar ia

berpendapat bahwa pikiran manusia merupakan entitas yang lebih tinggi tingkatannya

dari pada tubuh. Pikiran mempunyai prioritas atas tubuh. Fakta bahwa kita dapat

berpikir menunjukkan bahwa manusia merupakan entitas yang memiliki kesadaran.

7
Ada relasi internal antara kesadaran dan pikiran. Pikiran juga memiliki prioritas atas

dunia. Tanpa pikiran tidak ada realitas eksternal. Dengan demikian pikiran terpisah dari

dunia. Pikiran adalah entitas yang mandiri. Pikiran juga terlepas dari tubuh. Argumen

Descartes banyak dikenal sebagai teori tentang dualisme tubuh dan jiwa.

2.6 TUJUAN DAN MAKNA KEHIDUPAN

Siapapun pasti sependapat dan tidak ada yang membantah bahwa tujuan hidup

umat manusia adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Bahkan Djalaluddin Rahmat

(2004) mengatakan bahwa secara agama filsafat dan ilmu pengetahuan, orang harus

memilih hidup bahagia. Namun dalam kebahagiaan sehari-hari apalagi dalam era

dewasa ini yang dipengaruhi oleh filsafat materialism, makin banyak orang yang

merasa tidak bahagia.

Tidak mudah mengukur tingkat kesadaran manusia yang dimiliki seseorang

berdasarkan ukuran objektif atau pendekatan ilmiah yang bias digunakan oleh ilmu

pengetahuan pada umumnya.

Sejalan dengan evolusi kesadaran yang dikemukakan Sutrisno, Ibnu Arabi (dalam

Frager, 1991) membagi empat tingkat kesadaran berdasarkan pengalaman dan

pemahaman akan hakikat kehidupan sebagai berikut :

1. Tingkat pertama: Jalan syari’ah yaitu tahap dimana seseorang taat asas

mengikuti hokum-hukum moral (hukum keagamaan) dalam kehidupan sehari-

hari. Dalam kaitannya dengan upaya mencari harta benda/kekayaan materi,

hukum moral ini diikuti untuk menilai sah atau tidaknya apa yang menjadi

milikku dan milikmu.

2. Tingkat kedua: Jalan thariqah yaitu tahap dimana seseorang mencoba mencari

kebenaran melalui jalan tanpa rambu (upaya menggali kebenaran melalui

8
pengalaman langsung, melampaui hukuman moral keagamaan). Pada tahap ini

tingkat kesadaran seseorang melampaui tingkat syari’ah.

3. Tingkat ketiga: Jalan haqiqah, yaitu tahapan dimana seseorang telah

memahami makna terdalam dari praktik syari’ah dan thariqah

4. Tingkat keempat: Jalan ma’rifah, yaitu tahap dimana seseorang telah memiliki

kearifan dan pengetahuan terdalam tentang kebenaran spiritual. Pada tahap ini,

kesadaran seseorang telah mencapai tahap tertinggi, dimana orang seperti ini

telah menyadari bahwa tidak ada lagi aku dan kamu.

2.7 ALAM SEMESTA SEBAGAI SATU KESATUAN SISTEM

Alam semesta ( universe, kosmos, al-kaun) merupakan realitas yang dihadapi

oleh manusia, yang sampai kini baru sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan

diungkap oleh manusia. Bagi seorang ilmuwan akan menyadari bahwa manusia

diciptakan bukanlah untuk menaklukkan seluruh alam semesta.

Faktor lain yang mendorong manusia untuk senantiasa meneliti alam semesta

karena ada rasa ingin tahu (curiosity) sehingga diwujudkan dalam bentuk bertanya

dan berfikir. Alam semesta beserta seluruh isinya sebenarnya merupakan satu

kesatuan sistem. Pengertian sistem menurut kamus bahasa Indonesia karangan

poerwadarminta (1976):

a. Sekelompok bagian (alat dan sebagainya) yang bekerja sama untuk melakukan

suatu maksud, misalnya urat syaraf dalam tubuh.

b. Sekelompok pendapat, peristiwa, kepercayaan, dan sebagainya yang disusun

dan diatur baik-baik, misalnya filsafat.

c. Cara (Metode) yang teratur untuk melakukan sesuatu, misalnya pengajaran

bahasa.

9
Logiyanto (1988) menyebutkan bahwa setiap sistem mempunyai

karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut :

a. Mempunyai komponen-komponen

b. Ada batasan suatu sistem

c. Ada lingkungan luar sistem

d. Ada penghubung

e. Ada sasaran atau tujuan

Inti dari pemamaham konsep sistem adalah bahwa setiap elemen (bagian,

unsur, subsistem) saling bekerja sama, saling mendukung, saling memerlukan, saling

memengaruhi satu dengan lainnya dalam kerangka mencapai tujuan system secara

keseluruhan.

2.8 SPIRITUALITAS DAN ETIKA

Sebenarnya, kajian etika erat kaitannya dengan pengembangan karakter.

Namun pengembangan karakter harus dilakukan melalui pengembangan keempat

kecerdasan manusia-PQ, IQ, EQ dan SQ-secara seimbang dan utuh banyak pakar

etika yang masih membedakan antara etika dengan spiritualitas, padahal keduanya

mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipilah-pilah. Menurut mereka,

etika adalah adat, kebiasaan, an ilmu yang mempelajari hubungan perilaku manusia

yang bersifat horizontal-yaitu hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan

lembaga /institusi, manusia dengan alam, dan lembaga/organisasi dengan

lembaga/organisasi lainnya. Sementara itu, spritualitas berhubungan dengan perilaku

manusia yang bersifat vertical, dalam merupakan bidang kajian etika.

Sejatinya manusia harus menyadari bahwa kesempatan hidup didunia ini

hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai tingkat kesadaran Tuhan

(kesadaran transcendental/kesadaran spiritual). Bila kesadaran Spiritual tercapai,

10
maka kesadaran etis dengan sendirinya tercapai. Dalam perjalaan mendaki puncak

kesadaran spiritual ini syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh orang yang

bersangkutan harus menjalani perilaku hidup yang etis dan hidup sesuai dengan

norma-norma dengan moral-moral yang telah dianjurkan oleh setiap agama.

11
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Dalam kehidupan di dunia ini ada empat kebenaran besar yang telah

dinyatakan oleh E.F Schumacher yaitu :

e. Kebenaran (hakikat) tentang eksistensi (dunia / alamsemesta)

f. Kebenaran tentang alat(tools) yang dipakai untuk memahami dunia

g. Kebenaran tentang cara belajar tentang dunia

h. Yang dimaksud dengan hidup di dunia

Kebenaran tentang eksistensi menyangkut kebenaran tentang adanya empat

tingkat eksistensi dunia, yaitu :benda, tumbuh – tumbuhan, hewan, dan manusia.

Dalam pengujian kebernaran di dunia alam semesta ini banyak sekali para ilmuan

yang menguji dan menjelaskannya dengan cara yang berbeda- beda.

Hakikat kebenaran alam semesta tidak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat

fisik, sebagaimana diyakini oleh sementara ilmuwan, dengan kemajuan ilmu fisika dan

adanya ketertarikan paran ilmuwan untuk memulai mengkaji hal – hal spiritual dengan

lebih rasional, maka mulai diyakini bahwa hal – hal yang tidak tampak oleh panca indra

juga merupakan bagian tak terpisahkan dari hakikat keberadaan.

Namun kesimpulannya Manusia dan alam semesta mempunyai hubungan yang

sangat erat. Alam semesta dan manusia adalah satu. Dalam pemahaman manusia

dan alam tidak jauh berbeda. Dalam hal ini adanya alam semesta tidak hanya untuk

menunjang kehidupan manusia. Ini karena manusia bukan ada di luar bagian alam

semesta, namun ia adalah satu kesatuan dengan alam semesta. Jadi gambaran

tentang alam semesta bisa didevinisikan dari gambaran tentang manusia atau

sebaliknya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Agoes Sukrisno & I Cenik Ardana. 2009. Etika Bisnis dan Profesi Tantangan Membangun
Manusia Seutuhnya. Jakarta: Salemba Empat

https://yudistirafrance.files.wordpress.com/2010/12/manusia-dan-alam-semesta-new.doc

13