Anda di halaman 1dari 20

REVISI

MAKALAH KEPEMIMPINAN

KEPALA ADMINISTRASI SEKOLAH


DOSEN PENGAMPU : Sriadhi Mpd,M,Kom,Ph.D

Nama : Ananda Azhari Dalimunthe

Nim : 5183351023

Nama : Muslimin hadi wibowo

Nim : 5181151001

TEKNOLOGI INFORMATIKA DAN KOMPUTER


FAKULTAS TEKNIK – S1

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas kasih
karunianya yang telah diberikan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik dan tepat waktu . Makalah ini di buat berdasarkan tugas yang diberikan oleh
Dosen mata kuliah Kepemimpinan Materi yang dirangkum di dalam Makalah yang
berjudul “Kepala Administrasi Sekolah“ ini memiliki bahasa – bahasa yang
sederhana sehingga pembaca dengan mudah memahami isinya.

Kami berterima kasih kepada dosen Matakuliah”Kepemimpinan”yang telah


memberikan kepercayaan kepada kami, sehingga tugas ini dapat terselesaikan dengan
tepat waktu.

Kami menyadari bahwa Makalah ini jauh dari sempurna , sehingga kami
membutuhkan saran dan masukan untuk dapat membuat makalah ini menjadi lebih
baik lagi dan layak untuk dibaca oleh masyarakat luas.

Medan, September2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. LatarBelakang 2

B.Tujuan 3

C.Manfaat 4

BAB II PEMBAHASAN 6

BAB III PENUTUP 10

DAFTAR PUSTAKA 12
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kepala sekolah memegang peranan penting dalam perkembangan sekolah. Oleh


karena itu, ia harus memiliki jiwa kepemimpinan untuk mengatur para guru pegawai
tata usaha dan pegawai sekolah lainnya. Dalam hal ini, kepala sekolah tidak hanya
mengatur para guru saja, melainkan juga ketatausahaan sekolah siswa, hubungan
sekolah dengan masyarakat dan orang tua siswa.

Tercapai tidaknya tujuan sekolah sepenuhnya bergantung pada bijaksana yang


terapkan kepala sekolah terhadap seluruh personal sekolah.

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai pimpinan organisasi pendidikan di


sekolah, kepala sekolah harus memiliki berbagai persyaratan agar ia dapat
menjalankan tugasnya dengan baik. Masing-masing persyaratan ini saling berkaitan
antar yang satu dengan yang lainnya. Diantaranya adalah memiliki ijazah,
kemampuan mengajar, kepribadian yang baik serta memiliki pengalaman kerja.

Di antara pemimpin-pemimpin pendidikan yang bermacam-macam jenis dan


tingkatannya, kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat
penting.Karena lebih dekat dan langsung berhubungan dengan pelaksanaan program
pendidikan tiap-tiap sekolah.Dapat dilaksanakan atau tidaknya suatu program
pendidikan dan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan itu, sangat bergantung pada
kecakapan dan kebijaksanaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan.

Mengingat pentingnya peranan dan fungsi kepala sekolah itu, maka di dalam
makalah ini akan di bahas secara detail tentang kepala sekolah, fungsi kepala sekolah
dahulu dan sekarang, syarat-syarat minimal kepala sekolah, serta peranan kepala
sekolah sebagai administrator.
B.Tujuan

Untuk mengetahui serta memahami peranan kepala sekolah sebagai


administrator.

C. Manfaat

Agar lebih memahami tentang kepala sekolah sebagai administrator serta


dapat mempelajari tentang materi tersebut.

BAB II

RINGKASAN BUKU

A. Fungsi Kepala Sekolah Dahulu dan Sekarang


Jika kita bandingkan antara tugas kepala sekolah pada masa penjajahan Belanda di
Indonesia dengan tugas kepala sekolah dewasa ini, dapat kita lihat betapa jelas
perbedaannya .Kita semua mengetahui bahwa tujuan pendidikan di masa penjajahan
Belanda di sesuaikan dengan tujuan kolonialisme Belanda.Sedangkan tujuan
pendidikan di Indonesia ini harus sesuai dengan dasar dan tujuan Negara Republik
Indonesia (Ngalim Purwanto, 1987; 101).
Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah di masa penjajahan Belanda tidak
seluas dan seberat tugas dan tanggung jawab kepala sekolah di masa sekarang. Pada
masa itu kepala sekolah lebih merupakan seorang “kepala”(lihat kembali uraian
tentang perbedaan “kepala” dan pemimpin ). Ia telah dapat dikatakan berhasil sebagai
pemimpin sekolah jika ia dapat bertindak memerintah dan mengawasi anak buah
/guru –gurunya,menjalankan tugas sebaik-baiknya sesuai dengan peraturan-peraturan
serta ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dan ditetapkan dari atasannya
(Ngalim Purwanto, 1987; 101)
Dalam tugasnya sehari-hari,dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun,lebih
banyak merupakan tugas-tugas rutin daripada tugas-tugas yang merupakan inisiatif
dan kreatif baru bagi perkembangan dan kemajuan sekolah dan dipimpinya . Betapa
tidak! Bukankah segala sesuatu telah diatur dan disediakan oleh atasan,dalam hal ini
oleh pemerintah?Gedung sekolah dan perlengkapannya telah tersedia;ia tidak perlu
terlalu pusing memikirkan kekurangan ruanganatau bangku-bangku murid,dsb.Alat-
alat pelajaran,termasuk buku tulis,buku-buku pelajaran dan perpustakaan untuk guru
maupun murid-murid telah tersedia dan ditetapkan oleh pemerintah. Di samping itu,
kepala sekolah tidak perlu terlalu pusing memikirkan gaji dan kenaikan tingkat guru-
gurunya, apalagi honorarium,uang vakasi, dsb (Ngalim Purwanto, 1987; 102).
Terhadap sekolah pada masa penjajahan Belanda tidak dituntut adanya hubungan
dan kerja sama dengan masyarakat.Bahkan sebaliknya, sekolah merupakan lembaga
pendidikan yang terpisah dari kehidupan masyarakat lingkungannya. Oleh sebab itu,
sebagai kepala sekolah pada masa itu, tidak perlu memikirkan bagaimana membentuk
organisasi BP3 (Badan Pembantu Pembinaan Pendidikan) atau POMG(Persatuan
Orang tua Murid dan Guru), bagaimana menyusun anggaran dasar BP3/POMG dan
peraturan/ketentuan-ketentuan yang dapat mengatur hubungan kerja sama yang baik
antara sekolah dan masyarakat, khususnya orang tua murid, dalam membina dan
memajukan sekolahnya. Pemikiran tentang perkembangan atau perubahan kurikulum
pun tidak menjadi tanggung jawab kepala sekolah karena hal itu adalah tanggung
jawab pemerintah dan telah ditetapkan oleh pemerintah. Kepala sekolah dan guru-
guru tinggal menjalankan seperti apa adanya saja (Ngalim Purwanto, 1987; 102).
Ini berlainan dengan kepala sekolah sekarang setelah Indonesia merdeka.
Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah mengalami perkembangan dan
perubahan, baik dalam sifat maupun luasnya. Sesuai dengan pendidikan di Negara
kita Indonesia yang bersifat nasional-demokratis, maka sikap dan sifat kepemimpinan
kepala sekolah pun harus berubah dan mengarah kepada kepemimpinan pendidikan
yang demokratis. Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah makin luas dan makin
banyak bidangnya.Kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas kelancaran
jalannya sekolah secara teknis-akademis saja.Benar bahwa hal itu adalah tugas dan
tanggung jawab yang pokok bagi seorang kepala sekolah.Akan tetapi, mengingat
situasi dan kondisi serta pertumbuhan persekolahan di Negara kita dewasa ini, banyak
masalah baru yang timbul yang harus menjadi tanggung jawab kepala sekolah untuk
di pecahkan dan dilaksanakannya. Kekurangan ruang belajar, gedung sekolah yang
sudah rusak , perlengkapan gedung yang sangat kurang dan tidak memenuhi syarat,
tidak adanya alat-alat pelajaran, buku-buku pelajaran yang hampir setiap tahun
berubah, cara penampungan murid baru yang setiap tahun bertambah, kekurangan
tenaga guru dan kesulitan pengangkatannya, dsb.,dsb.,semua ini memerlukan
pemikiran dan menambah tugas serta tanggung jawab kepala sekolah (Ngalim
Purwanto, 1987; 102).
Memang benar, masalah-masalah pendidikan seperti dikemukakan di atas pada
umumnya merupakan masalah nasional sehingga pemecahannya pun harus secara
nasional:oleh pemerintah, aparat pendidikan, bersama-sama dengan masyarakat.
Akan tetapi, sebagai kepala sekolah yang justru langsung terlibat dan berkecimpung
di dalam arus masalah-masalah tersebut, dia tidak boleh sama sekali lepas tangan dan
menyerahkannya semata-mata kepada pemerintah.Inisiatif dan kreativitas yang
mengarah kepada perkembangan dan kemajuan sekolah terhadap sekolah yang
dipimpinnya (Ngalim Purwanto, 1987; 103).
Dalam usaha memajukan sekolah dan menanggulangi kesulitan-kesulitan yang
dialami sekolah, baik yang bersifat material seperti: perbaikan gedung sekolah,
penambahan ruang, alat-alat perlengkapan, dsb.maupun yang bersangkutan dengan
pendidikan anak-anak, kepala sekolah tidak dapat bekerja sendiri hanya dengan guru-
gurunya saja. Hubungan dan kerja sama yang baik dan produktif antara sekolah dan
masyarakat perlu dibina. Misalnya pembentukan BP3/POMG yang benar-benar di
manfaatkan untuk kemajuan dan pembinaan sekolah, mengadakan hubungan kerja
sama dan instansi-instansi lain yang erat hubungannya dengan pendidikan anak-anak,
baik negeri maupun swasta (Ngalim Purwanto, 1987; 103).
Syarat-syarat minimal seorang kepala sekolah
Untuk menjalankan tugas sebagai kepala sekolah yang baik diperlukan seseorang
yang memiliki syarat-syarat tertentu. Di samping syarat-syarat ijazah ( yang
merupakan syarat formal ), juga pengalaman kerja dan kepribadian yang baik perlu
di perhatikan . Dalam peraturan yang berlaku di Departemen P dan K, untuk setiap
tingkatan dan jenis sekolah sudah di tetapkan syarat-syarat yang diperlukan untuk
pengangkatan seorang kepala sekolah. Seperti telah kita ketahui bahwa untuk kepala
sekolah taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) serendah-rendahnya
berijazah SGA/SPG atau SGTK (SPG jurusan B). Maka ijazah yang diperlukan bagi
seorang kepala sekolah pun hendaknya sesuai dengan jurusan atau jenis sekolah yang
di pimpinnya (Ngalim Purwanto, 1987; 103-104).
Syarat-syarat lain di samping ijazah dan pengalaman bekerja adalah kepribadian
dan kecakapan yang dimilikinya. Seorang kepala sekolah hendaknya memiliki
kepribadian yang baik dan sesuai dengan kepemimpinan yang akan dipegangnya.
Seorang kepala sekolah hendaknya memiliki sifat-sifat jujur,adil dan dapat di
percaya,suka menolong dan membantu guru dalam menjalankan tugas dan mengatasi
kesulitan-kesulitannya ,bersifat sabar dan memiliki kestabilan emosi,percaya kepada
diri sendiri dan dapat mempercayai guru-guru atau pegawai-pegawainya,bersifat
luwes dan ramah,mempunyai sifat tegas dan konsekuen yang tidat kaku,dan lain
sebagainya (Ngalim Purwanto, 1987; 105).
Jika kita simpulkan apa yang telah diuraikan, maka menurut Ngalim Purwanto
(1987; 106) bahwa syarat-syarat minimal bagi seorang kepala sekolah adalah sebagai
berikut:

1) Memiliki ijazah yang sesuai dengan ketentuan/peraturan yang telah ditetapkan oleh
pemerintah.
2) Mempunyai pengalaman bekerja yang cukup, terutama di sekolah yang sejenis
dengan sekolah yang dipimpinnya.
3) Memiliki kepribadian yang baik, terutama sikap dan sifat-sifat kepribadian yang
diperlukan bagi kepentingan pendidikan.
4) Mempunyai keahlian dan berpengetahuan luas, terutama mengenai bidang-bidang
pengetahuan dan pekerjaan yang diperlukan bagi sekolah yang dipimpinnya.
5) Mempunyai ide dan inisiatif yang baik untuk kemajuan dan pengembangan
sekolahnya.

B. Kepala sekolah sebagai administrator

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan bertanggung jawab terhadap


kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolahnya.Oleh karena itu,
untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, kepala sekolah hendaknya
memahami, menguasai, dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenaan
dengan fungsinya sebagai administrator pendidikan (Ngalim Purwanto, 1987; 106).

Telah diketahui sebelumnya bahwa dalam setiap kegiatan administrasi


mengandung di dalamnya fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian,
pengordinasian, pengawasan, pegawaian, dan pembiayaan.Kepala sekolah sebagai
administrator hendaknya mampu mengaplikasikan fungsi-fungsi tersebut ke dalam
pengelolaan sekolah yang dipimpinnya (Ngalim Purwanto, 1987; 106).

 Fungsi Kepala Sekolah sebagai Administrator

Menurut Ngalim Purwanto (1987; 106-112) kepala sekolah sebagai administrator


harus mampu mengaplikasikan fungsi-fungsi sebagai berikut:

a. Membuat perencanaan
Salah satu fungsi utama dan pertama yang menjadi tanggung jawab kepala
sekolah adalah membuat atau menyusun perencanaan. Perencanaan merupakan salah
satu syarat mutlak bagi setiap organisasi atau lembaga dan bagi setiap kegiatan, baik
perseorangan maupun kelompok. Tanpa perencanaan atau planning, pelaksanaan
suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan juga kegagalan (Ngalim
Purwanto, 1987; 106-107).
Oleh karena itu, setiap kepala sekolah paling tidak harus membuat rencana
tahunan.Setiap tahun, menjelang dimulainya tahun ajaran baru, kepala sekolah
hendaknya sudah siap menyusun rencana yang akan dilaksanakan untuk tahun ajaran
berikutnya (Ngalim Purwanto, 1987; 107).

Menurut Ngalim Purwanto (1987;107), maka rencana atau program tahunan


hendaknya mencakup bidang-bidang seperti berikut:

1) Program pengajaran, seperti antara lain kebutuhan tenaga guru sehubungan


dengan kepindahan dll.; pembagian tugas mengajar; pengadaan buku-buku pelajaran,
alat-alat pelajaran, dan alat peraga; pengadaan atau pengembangan laboratorium
sekolah; pengadaan atau pengembangan perpustakaan sekolah;system penilaian hasil
belajar; kegiatan-kegiatan kokurikuler; dan lain-lain.
2) Kesiswaan atau kemuridan, antara lain syarat-syarat dan prosedur penerimaan
murid baru, pengelompokan siswa atau murid dan pembagian kelas, bimbingan atau
konseling murid, pelayanan kesehatan murid (UKS), dan sebagainya.
3) Kepegawaian, seperti penerimaan dan penempatan guru atau pegawai baru,
pembagian tugas/pekerjaan guru dan pegawai sekolah, usaha kesejahteraan guru dan
pegawai sekolah, mutasi dan atau promosi guru dan pegawai sekolah, dan
sebagainya.
4) Keuangan, yang mencakup pengadaan dan pengelolaan keuangan untuk berbagai
kegiatan yang telah direncanakan, baik uang yang berasal dari pemerintah, atau dari
POMG atau BP3, ataupun sumber lainnya. Khususnya berkenaan dengan pengelolaan
keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari
faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan
kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para
gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran
yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru
(http://ortujcis.wordpress.com/2008/07/20/tujuh-peran-kepala-sekolah).
5) Perlengkapan, yang meliputi perbaikan atau rehabilitasi gedung sekolah,
penambahan ruang kelas, perbaikan atau pembuatan pagar pekarangan sekolah,
perbaikan atau pembuatan lapangan olah raga, perbaikan atau pengadaan bangku
murid, dan sebagainya.
Perlu diperhatikan, bahwa dalam penyusunan rencana tahun ini, guru-guru dan
pegawai sekolah hendaknya diikutsertakan. Ikut sertanya guru-guru dan pegawai
sekolah dapat membantu pemikiran dan ide-ide serta pemecahan masalah yang
mungkin tidak terpikirkan atau tidak dapat dipecahkan sendiri oleh kepala sekolah. Di
samping itu, dengan diikutsertakannya guru-guru dan pegawai sekolah, mereka akan
merasa bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah mereka
rencanakan dan mereka sepakati bersama (Ngalim Purwanto, 1987; 107).
b. Menyusun organisasi sekolah
Organisasi merupakan fungsi administrasi dan manajemen yang penting pula
di samping perencanaan. Di samping sebagai alat, organisasi dapat pula dipandang
sebagai wadah atau struktur dan sebagai proses (Ngalim Purwanto, 1987; 108).
Penyusunan organisasi merupakan tanggungjawab kepala sekolah sebagai
administrator pendidikan.Sebelumnya ditetapkan, penyusunan organisasi itu
sebaiknya dibahas bersama-sama dengan seluruh anggota agar hasil yang diperoleh
benar-benar merupakan kesepakatan bersama.Selain menyusun struktur organisasi,
kepala sekolah juga bertugas untuk mendelegasikan tugas-tugas dan wewenang
kepada setiap anggota administrasi sekolah sesuai dengan struktur organisasi yang
ada.
Sebagai wadah, organisasi merupakan tempat kegiatan-kegiatan administrasi
itu dilaksanakan. Dan jika dipandang sebagai proses, maka organisasi merupakan
kegiatan-kegiatan atau menyusun dan menetapkan hubungan-hubungan kerja
antarpersonel. Kewajiban-kewajiban, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing
bagian atau personel yang termasuk di dalam organisasi itu disusun da ditetapkan
menjadi pola-pola kegiatan yang tertuju kepada tercapainya tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan (Ngalim Purwanto, 1987; 108).

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan perlu menyusun organisasi


sekolah yang dipimpinnya, dan melaksanakan pembagian tugas serta wewenangnya
kepada guru-guru dan pegawai sekolah sesuai dengan struktur organisasi sekolah
yang telah disusun dan disepakati bersama (Ngalim Purwanto, 1987; 108)

Menurut Ngalim Purwanto (1987; 108-109) untuk menyusun organisasi


sekolah yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Mempunyai tujuan yang jelas.


2) Para anggota menerima dan memahami tujuan tersebut.
3) Adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindakan, kesatuan
pikiran, dsb.
4) Adanya kesatuan perintah (unity of command); para bawahan/anggota hanya
mempunyai seorang atasan langsung, dan daripadanya ia menerima perintah atau
bimbingan, serta kepadanya ia harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya.
5) Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang di dalam
organisasi itu,. Sebab, tidak adanya keseimbangan tersebut akan memudahkan
timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan seperti:
- jika wewenang lebih besar daripada tanggung jawab, mudah menimbulkan
penyalahgunaan wewenang;
- jika tanggung jawab lebih besar daripada wewenang, mudah menimbulkan
banyak kemacetan, merasa tidak aman atau ragu-ragu dalam tindakan.
6) Adanya pembagian tugas pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, keahlian,
dan atau bakat masing-masing.
7) Struktur organisasi hendaknya disusun sesederhana mungkin, sesuai dengan
kebutuhan koordinasi, pengawasan, dan pengendalian.
8) Pola organisasi hendaknya permanen. Artinya, meskipun struktur organisasi
dapat dan memang harus diubah sesuai dengan tuntutan perkembangan, fleksibilitas
dalam penyesuaian itu jangan bersifat prinsip.oleh karena itu, pola dasar struktur
organisasi perlu dibuat sedemikian rupa sehiingga sedapat mungkin permanen.
9) adanya jaminan keamanan dalam bekerja (security of tenure); bawahan atau
anggota tidak merasa gelisah karena takut dipecat, ditindak sewenang-wenang, dsb.
10) garis-garis kekuasaan dan tanggung jawab serta hierarki tata kerjanya jelas
tergambar di dalam struktur atau bahan organisasi.
C. Bertindak Sebagai Koordinator dan Pengarah
Adanya bermacam-macam tugas dan pekerjaan yang dilakukan oleh banyak
orang, seperti tergambar di dalam struktur organisasi sekolah, memerlukan adanya
koordinasi serta pengarahan yang baik dan berkelanjutan dapat menghindarkan
kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat antar personal sekolah. Dengan
kata lain, adanya pengoordinasian yang baik memungkinkan semua bagian atau
personal bekerja sama saling membantu kearah satu tujuan yang telah ditetapkan
seperti kerja sama antara urusan antara urusan kurikulum dan pengajaran dengan
guru-guru, kerja sama antara urusan bimbingan dan konseling dengan para wali kelas,
kerja sama antara bagian tata usaha dengan wali kelas dan guru-guru, dan sebagainya
(Ngalim Purwanto, 1987; 111).
D. Melaksanakan Pengelolaan Kepegawaian
Pengelolaan kepegawaian mencakup didalamnya penerimaan dan penempatan
guru atau pegawai sekolah, pembagian tugas pekerjaan guru dan pegawai sekolah,
usaha kesejahteraan guru dan pegawai sekolah, mutasi dan atau promosi guru dan
pegawai sekolah, dsb.Tugas-tugas yang menyangkut pengelolaan kepegawaian ini
sebagian besar dikerjakan oleh bagian tata usaha sekolah seperti pengusulan guru dan
atau pegawai guru, kenaikan pangkat guru-guru dan pegawai sekolah, dan sebagainya
(Ngalim Purwanto, 1987; 111).
Agar pekerjaan sekolah dapat dilakukan dengan senang, bergairah, dan
berhasil baik, maka dalam memberikan atau membagi tugas pekerjaan personal,
kepala sekolah hendaknya memperhatikan kesesuaian antara beban dan jenis tugas
dengan kondisi serta kemampuan pelaksanaannya seperti antara lain:
  Jenis kelamin (pria atau wanita)
  Kesehatan fisik (kuat-tidaknya melakukan pekerjaan itu)
  Latar belakang pendidikan atau ijazah yang dimiliki
  Kemampuan dan pengalaman kerja
  Bakat, minat, dan hobi
Hal lain yang termasuk kegiatan pengelolaan kepegawaian ialah masalah
kesejahteraan personel. Yang dmaksud dengan kesejahteraan personel bukan hanya
kesejahteraan yang berupa materi atau uang, tetapi juga kesejahteraan yang bersifat
rohani dan jasmani, yang dapat mendorong para personel sekolah bekerja lebih giat
dan bergairah. Menurut Ngalim Purwanto (1987; 112) banyak cara yang dilakukan
kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan personel sekolah, seperti:
  Membentuk semacam ikatan keluarga sekolah yang bersifat social
  Membentuk koperasi keluarga personel sekolah
  Mengadakan kegiatan-kegiatan seperti olahraga, diskusi-diskusi yang
berhubungan dengan pengembangan profesi guru-guru atau pegawai sekolah
  Member kesempatan dan bantuan dalam rangka pengembangan karier, seperti
kesempatan melanjutkan plajaran, kesempatan mengikuti penataran-penataran, Selma
tidak menganggu atau merugikan jalannya sekolah
  Mengusulkan dan mengurus kenaikan gaji atau pangkat guru-guru dan pegawai
tepat pada waktunya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Dan semuanya memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang baik dan sebagainya
disertai pengawasan dan pembinaan yang tepat dan berkelanjutan.
Peran kepala sekolah sebagai administrator
Peranan kepala sekolah sebagai administrator memiliki dua tugas
utama.Pertama, sebagai pengendali struktur organisasi, yaitu mengendalikan
bagaimana cara pelaporan, dengan siapa tugas tersebut harus dikerjakan dandengan
siapa beriteraksi dalam megerjakan tugas tersebut. Kedua,melaksanakan administrasi
substansi yang mencakup administrasi kurikulum,kesiswaan, personalia, keuangan,
sarana hubungan dengan masyarakat, dan administrasi umum.
(http://etd.eprints.ums.ac.id/6767/1/Q100030096.pdf ).

Peranan Kepala Sekolah dalam Pengembangan Program Pelayanan Murid


Walaupun kepemimpinan kepala sekolah penting di bidang-bidang lain, bagi
program pelayanan ia sering sangat menentukan. Menurut Oteng Sutisna (1989, 82)
factor-faktor tersebut antara lain:
1) Pelayanan murid adalah bidang yang sensitive, menyentuh masalah-masalah
yang bisa membangkitkan perasaan-perasaan yang kuat
2) Ada banyak salah tafsir dan ketaksetujuan yang jujur tentang isyu-isyu tertentu
3) Bidang pelayanan murid melibat banyak kegiatan, dan masalah perumusan dan
koordinasi sulit
Dalam hubungan dengan fungsi pelayanan murid ini, masalah-masalah yang dihadapi
oleh semua kepala sekolah menurut Oteng Sutisna (1989, 82) antara lain:
1) Disiplin
2) Menyediakan bimbingan dan penyuluhan
3) Putus sekolah
4) Absensi
5) Hubungan guru-murid
6) Hubungan sekolah-orang tua
7) Kegiatan murid
8) Murid lamban
9) Melaporkan kemajuan murid
10) Melanjutkkan studi ke pendidikan yang lebih tinggi
Bagi kepala sekolah yang ingin memecahkan masalah ini adalah suatu permulaan
yang baik nampaknya terletak pada cara kepala sekolah sendiri memandang program
pelayanan murid itu. Kepala sekolah harus menerima dan mengkomunikasikan
melalui kepemimpinannya suatu titik pandangan bahwa sekolah hadir untuk
kepentingan anak didik, sama seperti Negara hadir untuk kepentingan warganya
(Oteng Sutisno, 1989; 83).
Tanggung Jawab Kepala Sekolah Dalam Memlihara Disiplin Yang Efektif
1) Memajukan pendekatan positif terhadap disiplin
Kepala sekolah selaku pemimpin sekolahnnya, harus mengambil pimpinan dalam
memajukan pendekatan positif terhadap disiplin.
Menurut Oteng Sutisno (1989; 114) bahwa factor-faktor dan praktek-praktek yang
menolong dalam pengembangan pola-pola perilaku yang baik di sekolah adalah:
a) Harus ada pemahaman dan pengakuan oleh guru dan murid tentang maksud dan
nilai dari norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku.
b) Tekanan hendaknya diletakkan pada disiplin-diri oleh guru dan murid.
c) Guru dan muridnya hendaknya bekerja sama dalam membangun, memelihara,
dan memperbaiki aturan-aturan dan norma-norma.

2) Memelihara Tata Tertib


Sekolah-sekolah tentu harus berusaha untuk mencari sebab-sebab kelakuan
murid yang melanggar tata tertib dan mengobati sebab-sebab kelakuan serupa itu dan
bukan gejalanya. Kebijaksanaan untuk menangani perkara-perkara ini hendaknya
tegas, dan tanggung jawab para guru dan anggota staf lain dibidang ini hendaknya
dipahami. Guru yang cakap bisa dan hendaknya melakuka control terhadap muridnya
(Oteng Sutisna, 1989; 116-117).

Peranan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Potensi Pengajaran dan


Belajar yang Terdapat di Perpustakaan Sekolah
Menurut Oteng Sutisna (1989; 156) bahwa kepala sekolah mempunyai
tanggung jawab yang penting dalam mengembangkan potensi pengajaran dan belajar
ang terdapat di perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
1) Untuk bertindak selaku penganjur penambahan bantuan keuangan bagi
pengembangan fasilitas perpustakaan.
2) Untuk memupuk pemahaman diantara para guru dan personil perpustakaan
tentang maksud-maksud perpustakaan sebagai sumber belajar primer maupun
suplementer.
3) untuk menggalangkan penggunaan sumber-sumber perpustakaan yang optimum
melalui penggunaan fasilitas-fasilitas dengan tanpa bayar.
4) Untuk menyediakan dana-dana yang diperlukan buat pengadaan tempat
penyimpanan, perlengkapan, fasilitas, dan perbekalan bagi pengelolaan perpustakaan,
dan buat penambahan dan perbaikan buku-buku
5) Untuk menoordinasi penggunaan bahan dan fasilitas perpustakaan, laboratorium
belajar, dan alat pengajaran diri pribadi untuk menjamin manfaat yang maksimum
bagi semua guru dan murid.

Peranan Kepala Sekolah Tentang Penggunaan dan Pemeliharaan Gedung


Sekolah
Peranan kepala sekolah dalam hal ini adalah menetapkan jadwal kegiatan
didalam gedung, merencanakan penggunaan seluruh gedung, dan mengatur
pemeliharaannya.Kepala sekolah sudah tentu tidak bisa melakukan sendiri semua
pekerjaan ini. Selain personil pemeliharaan gedung ada anggota-anggota staf lain
yang bisa dilibatkan oleh kepala sekolah dalam kegiatan pemeliharaan gedung
sekolah. Salah satu masalah yang dihadapi oleh kepala sekolah dari hari kehari adalah
penggunaan gedung oleh murid.Tanggung jawab pokok kepala sekolah dalam hal ini
adalah untuk membantu murid-murid memiliki perasaan bangga itu yang bisa datang
dari suatu gedung yang bersih, rapi, dan menarik (Oteng Sutisna, 1989; 157-158).
Menurut 0teng Sutisna (1989; 158) ada lima hal yang sangat penting untuk
diperhatikan oleh para kepala sekolah dalam manajemen gedung sekolah adalah
sebagai berikut:
1) Memajukan iklim belajar
2) Memajukan kesehatan dan keamanan
3) Memelihara gedung secara ekonomis
4) Melindungi barang-barang milik sekolah
5) Memajukan citra masyarakat yang sesuai

Peranan Kepala Sekolah dalam Pelayanan Kesehatan dan Keamanan


Kepala sekolah berurusan dengan kesehatan sekolah disebabkan semua murid
berada dalam tanggung jawabnya.Logis bahwa hal jatuh sakit dan kecelakaan bisa
terjadi.Kepala sekolah harus memahami bagaimana masalah-masalah ini hendaknya
ditangani.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kami uraikan adalah sebagai berikut :

1) Terhadap sekolah pada masa penjajahan Belanda tidak dituntut adanya


hubungan dan kerja sama dengan masyarakat, bahkan sebaliknya sekolah merupakan
lembaga pendidikan yang terpisah dari kehidupan masyarakat lingkungannya. Oleh
sebab itu kepala sekolah pada masa itu tidak perlu memikirkan bagaimana
membentuk organisasi BP3, dan sebagainya.Sedangkan kepala sekolah sekarang
setelah Indonesia merdeka tugas dan tanggung jawab kepala sekolah makin luas dan
makin banyak bidangnya.
2) Syarat-syarat minimal dari seorang kepala sekolah adalah ijazah (yang
merupakan syarat forma), pengalaman bekerja, dan kepribadian yang baik,
mempunyai keahlian dan berpengetahuan luas, dan sebagainya.
3) Sebagai administrasi pendidikan, kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung
jawab melaksanakan fungsi-fungsi administrasi yang diterapkan ke dalam kegiatan-
kegiatan sekolah yang dipimpinnya seperti membuat rencana atau program tahunan,
menyusun organisasi sekolah, melaksankan pengoordinasian dan pengarahan, dan
melaksanakan pengelolaan kepegawaian.
4) Bidang-bidang yang tercakup di dalam program tahunan yang dibuat ole kepala
sekolah meliputi program pengajaran, kesiswaan atau kemuridan, kepegawaian,
keuangan, dan perlengkapan atau sarana dan prasarana sekolah.
5) Dalam menyusun organisasi sekolah perlu diperhatikan prinsip-prinsip
pengorganisasian yang baik, dan di dalam pelaksanaannya, diperlukan
pengoordinasian serta pengarahan yang kontinyu dan pimpinan sekolah.
6) Pengelolaan kepegawaianyang dalam ilmu administrasi biasa disebut
manajemenmerupakan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah yang sangat penting
karena manajemen merupakan inti keseluruhan kegiatan administrasi. Pengelolaan
kepegawaian yang menjadi tugas dan tanggung jawab kepala sekolah meliputi
penerimaan, penempatan, dan pemberiantugas guru dan pegawai sekolah; usaha dan
peningkatan kesejahteraan guru-guru dan pegawai sekolah, baik yang bersifat
material, jasmani, rohani; dan peningkatan mutu professional serta pengembangan
karier mereka.

Saran

Diharapkan kepada pembaca agar mempergunakan makalah ini sebagai bahan


kajian dalam memahami administrasi pendidikan khususnya masalah fungsi dan
tanggungjawab kepala sekolah sebagai administrator. Selain itu kami sangat
mengharapkan kritik demi kesempurnaan makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA

Http://etd.eprints.ums.ac.id/6767/1/Q100030096.pdf

Purwanto, Ngalim, 1987. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT.


Remaja Rosdakarya

Purwanto, Ngalim, 1979. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Mutiara


Sutisna, Oteng, 1989. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa