Anda di halaman 1dari 5

TUGAS 1

NAMA : NOFRIZAL

NIM : 030830736/ PADANG

Banyak orang berpendapat bahwa sebenarnya fear of crime itu sangat perseptual,
tergantung bagaimana individu yang bersangkutan mengukur kerentanan dirinya untuk
menjadi korban kejahatan. Setiap orang mempunyai saat-saat rawan dalam
kehidupannya dan pelaku tidak boleh melakukan kejahatan hanya karena adanya saat-
saat rawan tersebut.

1). Dapatkah Anda menjelaskan pernyataan tersebut dengan dilengkapi contoh


ilustrasi Anda agar jawaban Anda lebih jelas?

Korban kejahatan (fear of crime) adalah posisi individu di dalam kehidupan sosial
(usia, jenis kelamin, pendapatannya, lokasi geografisnya, gaya hidup, dll).
Karakteristik sosial ekonomi inilah yang mempengaruhi informasi tentang
kejahatan, yaitu dari :
Pengalaman langsung (sebagai korban atau saksi), Hubungan interpersonal
dengan individu lainnya secara langsung atau pengalaman langsung, Media
massa.
Tiga hal yang dikemukakan di atas merupakan sikap dan kepentingan yang
mempengaruhi informasi terhadap individu, contohnya bagaimana individu
cenderung berprasangka melihat pelaku kejahatan yang ditayangkan dalam
berita di media massa tentang kejahatan, dan berfikir bahwa orang tersebut
jahat. Informasi yang didapatkan tentang kejahatan merupakan faktor yang
menyebabkan rasa takut menjadi korban kejahatan (fear of crime) terhadap
kejahatan yang mempengaruhi intensitas aktivitas masyarakat di tempat yang
pernah terjadi kejahatan. korban kejahatan (fear of crime) telah menjauhkan
seseorang dari kualitas hidup yang lebih baik dan membawa dampak negatif
yang mempengaruhi kehidupan sosial dan kesejahteraan ekonomi, sehingga
banyak aktivitas yang seharusnya dapat mereka kerjakan secara baik menjadi
terhambat karena timbulnya kejahatan yang menjadikan mereka memiliki rasa
takut menjadi korban kejahatan.

Contoh Kasus :

Tiga pelajar di Yogyakarta menjadi korban penyayatan oleh pemotor tak


dikenal. Waktu dan lokasi kejadian berbeda. Karena peristiwa itu, warga di sana
menjadi resah. Mereka takut mengalami kejadian serupa, yakni tangan disayat
pakai silet atau cutter oleh pemotor sambil berlalu. Salah satu yang takut adalah
pemotor yang merupakan warga Kota Yogyakarta, Agung Wijaya. Ia mengaku
tidak nyaman usai mengetahui kejadian itu.

Kejadian tersebut sempat diberitakan oleh hampir semua Media Nasional


dan lokal baik media cetak, maupun elektronik dan hal tersebut jelas membuat
sebagian besar masyarakat menjadi resah dan takut. Kejadian diatas dapat
menggambarkan situasi dimana masyarakat dihinggapi perasaaan Fear of Crime
atau ketakutan terhadap kejahatan yang sewaktu-waktu akan mengancam
dirinya. Kejadian tersebut diatas menimbulkan trauma, yang pada akhirnya
secara tidak langsung dapat merugikan perkembangan dan kegiatan ekonomi
yang tengah berkembang. The Fear Of Crime (Rasa Takut Terhadap Kejahatan)
dapat berwujud : takut keluar rumah, takut diserang di rumah, takut jalan malam,
dan lain-lain.

Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain : Mengetahui orang lain jadi korban
(vicarious victimization) yang diperbesar oleh media massa, Rasa takut yang
berlebihan (inordinate level of fear) dari kelompok tertentu (manula & wanita)
yang berpotensi menjadi korban kejahatan, Tidak tertib sosial & penurunan
komunitas (terganggunya kohesi sosial, ketidak pastian, suasana memburuk,
rasial, situasi tak terkendali, dan lain-lain),

Dari contoh kejadian di atas yang memfokuskan pada korban wanita, dapat
dilihat bahwa kejahatan tersebut dinilai tidak hanya menyinggung masyarakat
pada umumnya, tetapi dampak spesifik yaitu terutama kepada mahasiwi dan
pelajar pada khususnya. Dari kasus penyayatan tersebut ternyata dapat
berdampak pada takut akan kejahatan yang berbasis gender, dimana korban
yang dianggap rentan kejahatan oleh masyarakat, yaitu perempuan dan jelas
menjadi lebih mendapatkan dampak takut yang lebih besar daripada laki-laki

2). Perdagangan anak untuk tujuan prostitusi adalah mengeksploitasi anak dengan
menjadikannya sebagai pekerja seks dalam bisnis pelacuran. Coba jelaskan
mengapa hal tersebut dikelompokkan dalam eksploitasi anak?

Definisi Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) :

1. Pemakaian anak perempuan dan anak laki-laki dalam kegiatan seksual yang
dibayar dengan uang tunai atau dalam bentuk barang (umumnya dikenal sebagai
prostitusi anak) di jalanan atau di dalam gedung, di tempat-tempat seperti rumah
pelacuran, diskotek, panti pijat, bar, hotel dan restoran.
2. Wisata seks anak.
3. Pembuatan, promosi dan distribusi pornografi yang melibatkan anak-anak.
4. Pemakaian anak-anak dalam pertunjukan seks (publik/ swasta).

Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa eksploitasi
seksual komersial anak terjadi karena adanya permintaan. Pencegahan dan hukuman
kriminal memang penting, tetapi setiap usaha-usaha untuk menghapuskan ESKA juga
harus mengakui pentingnya untuk menentang dan mengutuk tingkah laku, keyakinan
dan sikap-sikap yang mendukung dan membenarkan permintaan ini.

Jaringan perdagangan anak untuk dilacurkan/ eksploitasi anak, mencakup beberapa


jenis, yaitu :
1. Sederhana, yaitu calon korban dijual oleh penjual (bisa orangtua, suami atau
orangtua angkat) langsung kepada pembeli atau melalui perantara tertentu.
2. Agak kompleks, yaitu calon korban didatangi atau diajak teman/ tetangga/ saudara/
pacar untuk mencari pekerjaan yang halal di toko, kafe, rumah makan ke kota
besar dengan iming-iming gaji yang besar. Dalam kenyataanya mereka langsung
dijual kepada pembeli di kota tujuan tetapi adapula yang menuju lokasi transit lalu
diperkosa dan kemudian baru dijual kepada pembeli langsung.
3. Kompleks, yaitu calon korban didatangi calo/perantara (orang yang dipekerjaanya
mendatangi desa-desa untuk mencari gadis-gadis yang beranjak dewasa untuk di
setor atau di jual ke pengumpul atau langsung kepada germo/mucikari) dengan
janji mencarikan pekerjaan halal di kota besar dengan gaji besar dan menanggung
semua pengeluaran transportasi dan akomodasi, meskipun nantinya menjadi
hutang yang harus dibayar mahal oleh korban.

Bentuk-bentuk lainnya yang utama dan saling terkait dari Eksploitasi Seksual Komersial
Anak (ESKA) menurut End Child Prostitution, Child Pornography and the Trafficking of
Children for Sexual Purpose adalah pelacuran anak, pornografi anak dan perdagangan
anak untuk tujuan seksual. Bentuk-bentuk eksploitasi seksual anak lainnya termasuk
pariwisata seks anak dan dalam beberapa kasus adalah perkawinan anak. anak-anak
juga dapat dieksploitasi secara seksual dan komersial dengan cara-cara lain yang lebih
kabur seperti perbudakan di dalam rumah atau kerja ijan. Dalam kasus-kasus itu,
seorang anak di kontrak untuk bekerja tetapi majikan percaya bahwa anak tersebut juga
dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan seksual.
ESKA merupakan fenomena yang baru dalam perlindungan anak, dimana
permasalahan pelacuran telah melibatkan anak-anak sebagai korbannya. Anak yang
dilacurkan adalah korban dari sindikasi kriminal yang memanfaatkan anak-anak
sebagai pemuas nafsu pihak-pihak yang terlibat dalam industri seks. Keterlibatan anak-
anak dalam pelacuran merupakan fakta dimana anak-anak tidak hanya diperdagangkan
untuk pelacuran, tetapi juga untuk pornografi, pengemis, pembantu rumah tangga,
perdagangan narkoba dan pekerjaan eksploitatif lainnya.