Anda di halaman 1dari 3

Nama : Agustina Putri Sonia

NIM : 16.G1.0176
Progdi : Akuntansi

MENGENAL SOSOK MGR. ALBERTUS


SOEGIJAPRANATA, SJ

Mgr. A. Soegijapranata SJ lahir di Surakarta tanggal 25 November 1896 dengan


nama Soegija. Bukan berasal dari keluarga yang mampu, namun anak kelima dari
sembilan bersaudara ini diharapkan mampu mewujudkan harapan besar orang tuanya.
Memiliki ayah yang seorang abdi dalem keraton membuat ia dididik untuk olah batin,
olah seni, hidup sederhana, dan bermati raga.Mendapat pendidikan tentang seni
tradisional dan nilai-nilai kejawaan ia dapat dari ayahnya. Sedangkan mengenai
keluhuran budi dan sopan santun ia dapat dari ibunya. Jadi, Soegija di dalam
keluarganya mendapat pendidikan yang baik dalam olah seni dan olah batin.

Soegija pindah ke Yogyakarta dan bersekolah di HIS Wirogunan. Bertemu


Rama Frans van Lith SJ yang saat itu berkunjung ke sekolahnya untuk mencari murid-
murid guna belajar di sekolah guru yang didirikan Rama van Lith di Muntilan membuat
Soegija akhirnya pergi ke Muntilan.Persoalan muncul saat Soegija minta dibaptis. Ia
mendapat penentangan dari orang tuanya. NamunSoegija akhirnya dibaptis tanpa izin
orang tua karena argumentasinya. Tak diduga bahwa akhirnya Orang tuanya menyetujui
dan berpesan agar hidupnya selaras dengan keyakinan barunya.

Soegija memutuskan menjadi Imam dan melanjutkan studinya di novisiat


Serikat Yesus di Mariendaal. Ia menlanjutkan studi dengan belajar filsafat lalu
menjalani tahun kolose selama tiga tahun menjadi pamong di Sekolah Guru di
Muntilan. Soegija bertolak kembali ke Nederland untuk persiapan imamatnya dengan
belajar teologi. Tanggal 25 Mei ia menerima tahbisan subdiakonat dan sehari setelahnya
ia menerima tahbisan diakonat.Tanggal 15 Agustus 1931 Frater Albertus Soegija SJ
ditahbiskan menjadi imam dan menambahka namanya dengan “pranata”.

Mgr. A. Soegijapranata, SJ diangkat memjadi Uskup Vikariat Apostolik


Semarang pada Perang Dunia II. Pada saat itu Jepang mulai masuk ke Indonesia dan
pada tanggal 8 Maret 1942 Gubernur Jenderal dan Panglima tentara Hindia
Belandamenyerah total kepada Panglima tentara Jepang.Berbagai macam persoalan
datang menghampiri Mgr. Soegijapranata diantaranya semua fasilitas gereja,
pendidikan, dan kesehatan yang pengelolaan dan pelayanannya dilaksanakan oleh para
misionaris suster dan bruder dari Belanda. Bahkan semua warga negara Belanda
termasuk di dalamnya para Uskup, imam, dan bruder serta suster ditangkap dan
diinternir oleh tentara Jepang. Mgr. Soegijapranata tidak tinggal diam ia menghalangi
perampasan oleh pihak Jepang, juga mengambil langkah menghentikan pertempuran
dan menangani situasi kacau dan tidak adanya bahan makanan akibat peperangan. Ia
tidak berhenti berjuang dan terus mendukung nusa, bangsa, dan negara. Hingga Mgr.
Soegijapranata akhirnya diangkat sebagai Uskup Angkatan Perang Republik Indonesia.
Dalam internal Gereja Katolik Indonesia ia berjuang membentuk Hierarki Gereja
Katolik Indonesia yang baru terwujud 21 tahun berikutnya.Pada akhir April 1963 Mgr.
Soegijapranata melakukan agenda perjalanan ke Eropa untuk berobat dan setelah itu
menghadiri sidang lanjutan Konsili Vatikan II serta agenda-agenda lain yang dalam
perjalanan waktu bertambah.Mgr. A. Soegijapranata SJ wafat pada tanggal 22 Juli 1963
di Belanda dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang.

Dalam kisah Mgr. Soegijapranata banyak yang dapat kita contoh. Sikap
keluhuran budi, sopan santun, dan cinta seni daerah ia tunjukan pada masa kecilnya.
Sikap peduli terhadap sesama, gereja dan tanah air serta peran aktifnya dalam
perjuangan bangsa juga gereja serta sikap toleransi juga cinta tanah air. Keluhuran budi
dan sopan santun merupakan sikap yang perlu diteladani. Karena pada masa sekarang
ini banyak kaum muda dan anak-anak yang bahkan tidak memiliki sopan santun juga
keluhuran budi. Berani membentak orang tua, tidak pernah berdoa bahkan berperilaku
kasar terhadap orang yang lebih tua merupakan akibat dari tidak adanya sikap sopan
santun dan keluhuran budi. Biasanya sikap tersebut dapat terbentuk akibat anak yang
kurang mendapat perhatian dari orang tua. Sikap-sikap itu tidak diajarakan dari kecil
dengan sebab orang tua yang sibuk. Orang tua disini memang penting dalam
membentuk sikap dan karakter anak. Tidak hanya orang tua gurupun juga berperan
membimbing sikap dan karakter anak, menjadi cinta tanah air cintohnya. Dengan begitu
sikap yang lainpun dapat berkembangjika didukung oleh lingkungan yang baik.Seperti
pada kisah Mgr. Soegijapranata yang dididik oleh orang tuanya dengan baik sehingga
memiliki sikap yang baik pula serta beberapa tokoh yang banyak menginspirasinya.
Dalam kehidupan sehari-hari sikap tersebut dapat kita terapkan dangan
melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu. Membuang sampah pada tempatnya
merupakan hal peduli terhadap lingkungan. Rajin beribadah merupakan hal yang
berkaitan dengan keagamaan. Mempelajari seni tradisional merupakan rasa cinta tanah
air. Menjadi anggota sebuah organisasi merupakan wujud peran aktif dalam kehidupan
bermasyarakat. Dan masih banyak lagi yang dapat kita teladani dan kembangkan. Tapu
yang pasti Mgr. Soegijapranata mengajak kita menjadi generasi yang peduli dan aktif
terhadap masyarakat serta bangsa Indonesia.