Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

JUDUL : MANAJEMEN PERKEBUNAN KELAPA


SAWIT
NAMA : PREGI PANDUWATI
NIM : 1602010
DOSEN : Dr. SALMIYATI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI PELALAWAN (ST2P)

KABUPATEN PELALAWAN

TP. 2017/2018
PRAKTIKUM I

A. Judul : Manajemen perkebunan kelapa sawit


B. Tujuan : Untuk mengetahui bentuk pemanenan, perawatan dan pemupukan
di perkebunan PT. Agrita Sari Prima
C. Pendahuluan
C.1 Latar belakang
Kelapa sawit (Elais Guinensis Jacg) merupakan tanaman yang
tumbuh dengan baik pada iklim tropis, salah satunya di Indonesia.
Produksi kelapa sawit di Indonesia cukup tinggi yaitu sebanyak
32.500.000 ton pada tahun 2015 (BPS, 2016). Kelapa sawit dapat diolah
untuk menghasilkan minyak, yaitu minyak sawit kasar atau Crude Palm
Oil (CPO) yang diperoleh dari bagian daging buah (mesocarp) dan minyak
inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO) yang diperoleh dari bagian inti
sawit. CPO dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan produk olahan
nabati salah satunya adalah minyak goreng.
Minyak goreng dapat digunakan sebagai medium penghantar panas
dan menambah cita rasa dalam pemanasan atau penggorengan bahan
pangan. Kebutuhan akan minyak goreng di Indonesia cukup tinggi baik
dalam skala rumah tangga maupun industri. Tingginya kebutuhan terhadap
minyak goreng menyebabkan banyak industri minyak goreng baru yang
bermunculan di Indonesia sehingga meningkatkan persaingan antar
industry minyak goreng.
Oleh karena itu proses pengolahan dan pengendalian mutu yang
baik diperlukan untuk mempertahankan kualitas produk minyak goreng
sehingga perusahaan dapat bertahan dalam persaingan yang ketat. Untuk
menghasilkan produksi minyak kelapa sawit yang berkualitas maka
diperlukan perawatan pada lahan perkebunan yang maksimal. Agar kelapa
sawit juga menghasilkan buah sawit yang kita inginkan.
Untuk mengetahui bagaimana lahan perkebunan kelapa sawit pada
sebuah PT, maka ada baiknya perlu dilakukan kuliah lapangan atau
praktikum lapangan ke PT tersebut. Oleh sebab itu pada praktikum kali ini
akan dilakukan pengamatan lapangan pada perkebunan kelapa sawit pada
PT Agrita Sari Prima, Pelalawan.

D. Landasan teori
Tanaman Kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) berasal dari benua
afrika. Kelapa sawit banyak dijumpai dihutan tropis Negara Kamerun,
pantai Gading Ghana, Liberia, Nigeria, Sierra Leone, Togo, Angola, dan
Kongo. Penduduk setempat menggunakan kelapa sawit untuk memasak
dan bahan untuk kecantikan. Warna dan rasa minyak yang dihasilkan
bervariasi. Minyak kelapa sawit mengandung karotenoid yang cukup
tinggi, karotenoid merupakan pigmen yang menghasilkan warna merah.
Selain itu, terdapat komponen utama yaitu asam lemak jenuh palmitat
yang menyebabkan minyak bertekstur kental-semi padat dan menjadi
lemak padat di daerah beriklim sedang. Minyak kelapa sawit merupakan
bahan baku yang penting untuk berbagai masakan tradisional di Afrika
Barat. Mulai abad ke-14 hingga ke-17, buah sawit di bawa dari Afrika ke
Amerika, mencapai ke Amerika bagian timur ( Rustam & Agus, 2012)
Kelapa sawit mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1848 oleh
pemerintah Belanda. Saat itu, tanaman kelapa sawit dianggap salah satu
jenis tanaman hias. Dikembang biakkan pertama kali di kebun raya Bogor
yang bernama Buitenzorg menanam 4 tanaman kelapa sawit, 2 berasal dari
Bourboun (Mauritius) dan 2 lainnya dari Hortus Botanicus, Belanda. Uji
coba penanaman kelapa sawit pertama di Indonesia dilakukan di
Banyumas, Jawa Tengah seluas 5,6 Ha dan Karesidenan Palembang,
Sumatra Selatan seluas 2,02 Ha. Hasil uji coba menunjukkan bahwa
tanaman kelapa sawit telah berbuah pada tahun keempat dengan tinggi
batang 1,5 meter. Sementara dinegeri asalnya baru berbuah pada tahun
keenam atau ketujuh. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor ( Rustam
& Agus, 2012)
Kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan komoditas
ekspor yang relatif menonjol dari subsektor tanaman perkebunan. Bagian
tanaman kelapa sawit yang bernilai ekonomis adalah buahnya. Buah
kelapa sawit tersusun pada tandan buah, yang di sebut TBS (Tandan Buah
Segar). Pada buah kelapa sawit (brondolan) melalui proses industry
pengolahan kelapa sawit menghasilkan dua jenis minyak, diantaranya
minyak yang berasal dari daging buah (mesokarp) berwarna merah yang
dikenal sebagai minyak kelapa sawit kasar atau crude palm oil (CPO), dan
minyak yang kedua yaitu berasal dari inti kelapa sawit, tidak berwarna
yang dikenal sebagai minyak inti kelapa sawit atau Ipalm kernel oil
(PKO), sebagai hasil sampingannya adalah bungkil inti kelapa sawit (palm
kernel meal atau pellet). Bungkil inti kelapa sawit adalah inti kelapa sawit
yang telah mengalami proses ekstraksi dan pengeringan (Maruli, 2011)
Minyak kelapa sawit mempunyai keunggulan dibandingkan dengan
minyak nabati lainnya seperti minyak kelapa, kedelai atau minyak biji
bunga matahari. Keunggulan kelapa sawit antara lain produksi perhektare
tinggi, umur ekonomis panjang, risiko kecil, persedian yang cukup dan
penggunaan beraneka ragam. Penggunaan minyak kelapa sawit dewasa ini
cukup luas sebagai bahan industri (minyak goring, mentega, farmasi,
kosmetik, sabun, pakan ternak dan ada banyak lagi sekarang yang bias
dijadikan coklat ataupun manisan kelapa sawit). Minyak kelapa sawit juga
dapat digunakan untuk bahan pembuatan biodiesel dan peluang
pemasarannya senantiasa terbuka luas, baik untuk pasar didalam maupun
luar negeri (Maruli, 2011)
Memanen kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang
penting pada pengolahan tanaman kelapa sawit dan ujung dari semua
kegiatan kebun adalah memanen. Keberhasilan panen akan menunjang
pencapaian dan produktivitas tanaman demikian pula sebaliknya. Guna
memperoleh rendemen buah sawit yang tinggi maka mutu tandan buah
segar (TBS) sawit dan pelaksaan pemanenan tidak boleh dilakukan secara
sembarangan.

E. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis
dan camera handphone. Serta bahan yang digunakan yaitu pemateri.
F. Cara kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang di perlukan.
2.

G. Hasil pengamatan dan pembahasan


G.1 Hasil pengamatan

H. Pembahasan

I. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum
J. Referensi