Anda di halaman 1dari 10

Nama : Delia Wahyu Pangesti

Nim : 170342615524
Prodi : Biologi
Off : I
Kel : Hewan

JUDUL :

Manfaat Green Fluorescent Protein Ubur-ubur

KERANGKA

A PENDAHULUAN

Ubur-Ubur di laut banyak dihindari dari pada dimanfaatkan, ubur-ubur dihindari


karena memiliki sengatan, populasi ubur-ubur cukup melimah karena ubur- ubur hidup di laut
dan sebagian besar bumikita adalah laut.
Para peneliti telah berhasil mengisolasi Green Fluerescent Protein yang terdapat
pada ubur-ubur hal ini dilakukan untuk membantu dalam bidang kesehatan karenadi zaman
ini penyakit manusia semakin beragam.
Meskipun ubur-ubur ditakuti oleh para perenang di pantai, tapi ternyata ubur-ubur
jika diolah dapat berfungsi dalam bidang kesehatan, hasil isolasi ini dapat digunakan untuk
mendeteksi penyakit pada manusia
Dengan melakukan serangkain uji coba dan pengaplikasian GFP ditemukanlah ubur
ubur yang dapat menghasilkan GFP, dan percobaan GFP pada manusia mulai dilakukan
Penelitian dilakukan oleh Osamu Shimomura (Marine Biological Laboratory, Woods
Hole), Martin Chalfie (Colombia University, New York) dan Roger Tsien (The University of
California, San Diego). Yang menghasilkan Green Fluorescent Protein, sehinnga extra
protein tersebut dapat masuk kedalam jaringan yang dituju.
Untuk mengenalkan Ubur-ubur dan mengenalkan GFP agar mengetahui fungsi dari
protein ubur-ubur yang lain, dan juga dapat menambah pengetahuan kita tentang
pemanfaatanya untuk manusia.
B GREEN FLUORECENT PROTEIN

a. Pengertian GFP merupakan singkatan dari Green Fluorescent Protein


(Biokimia) Setiap kelas protein yang diproduksi oleh ubur-ubur
bercahaya dari Aequorea genus, yang digunakan dalam penelitian
biologi untuk melacak biosintesis dan gerakan protein dalam
organisme hidup.

b. Secara Etimologi GFP merupakan adalah protein yang terdiri dari 238
residu asam amino (26,9 kDa) yang menunjukkan fluoresensi hijau
terang saat terpapar cahaya biru ke kisaran ultraviolet. Meskipun
banyak organisme laut lainnya memiliki protein fluoresen hijau yang
serupa, (wiki)

c. Gen Gkreen Fluorescent Protein (GFP) terdapat pada beberapa jenis


uburubur. Gen ini mengkode protein yang mampu berpendar
memancarkan warna hijau jika dieksitasi dengan sinar ultraviolet.
(Tanjung Z.A 2010)

d. Penemu GFP, GFP merupakan salah satu penemuan Dr. Frank


Johnson dan rekan labnya, kepada ubur-ubur saat Dr. Frank Johnson
mempelajari bioluminescence yang dilakukan pada tahun 1961,
penelitiana dilakukan pulau kecil di Laboratorium Friday Harbor
University of Washington, dekat Victoria, British Columbia, Kanada.
(Roger Y. Tsien)
C PENGENALAN UBUR-UBUR

Menurut KBBI ubur ubur merupakan binatang yang badanya mirip pinggang agar-
agar dan berjumbai-jumbai, biasanya terapung di permukaan laut, ubur-ubur dapat
menimbulkan rasa gatal bagi makhluk yang menyentuhnya, Ubur-ubur memiliki ciri-ciri
fisik yang meliputi unsur pembentuk, bentuk tubuh, sistem pencernaan, sistem saraf, cara
bergerak, dan kelengkapan fisik lainnya. Berikut uraiandari ciri-ciri yang dimaksud.

a. Ubur-ubur terbuat lebih dari 95% air,

ubur ubur mengandung 95% air (Nova Mujiono) dalam tubuh ubur ubur 95%
dari tubuhnya merupakan air, 5% sisanya merupakan organ pada ubur-ubur,
Tubuh ubur-ubur lunak seperti jelly hal ini disebabkan karena ubur-ubur tidak
memiiki cangkang senhingga rentan dan mudah rusak, mereka membutuhkan air
untuk hidup karena sebagian besar tubuhnya terdiri dari air.

b. Ubur-ubur merupakan simetri radial

Tubuh ubur-ubur simetris jika diukur dari bagian tengah dari bagian tubuh atas
hingga ujung tentakel. Hewan ini juga memiliki tubuh bagian atas dan bawah
tapi tidak ada pebedaan antara dua sisi, bentuk tubuh seperti ini sangat
berbeda.jika dibangdingkan dengan bentuk tubuh hewan yang lain seperti
reptil, aves, maupun atrhopoda yang memiki tubuh simetri biateral.

c. Ubur-ubur memiliki sistem pencernaan yang sederhana

Pencernaan ubur-ubur cukup sederhana, ubur-ubur memasukan makanan


melalui mulutnya yang terletak di sisi bawah bagian badan yang berbntuk
seperti lonceng, kemudian makanan dicerna dalam organ yang disebut rongga
gastrovasculas, sisa makanan kemudian di keluarkan kembali melalui mulut.

d. Bergerak seperti jet air


Ubur ubur bergerak menggunakan otot yang menarik tubuhnya, sehingga air
didalam rongga tubuhnya akan keluar dan mendorongnya, mesogleanya yang
elastis mengembalikan bentuknya seperti semula dan ubur-ubur dapat
mengulangi gerakannya lagi. (wiki)

e. Ubur-ubur tidak memiliki otak, darah, dan sistem saraf

Ubur-ubur tidak punya otak atau sistem saraf pusat. Akan tetapi mereka punya
jaring saraf yang terdiri dari neuron yang dapat merespon pada berbagai
rangsangan. Knidositnya memiliki silia yang dapat mendeteksi kontak fisik
dan indra yang dapat mendeteksi zat kimia seperti bau, kombinasi ini
memungkinkan knidosit menembak sasaran yang tepat. Knidosit juga
terangsang dan ikut menembak apabila knidosit di dekatnya juga menembak..
NATIONAL GEOGRAPIC INDONESIA
D MANFAAT GFP
1 Kesehatan
a. Virimaging
1. Penelitian
E CARA MENGISOLASI GFP PADA UBUR-UBUR
1 Persiapan
Pada tahap persiapan ada tiga hal yang harus diperhatikan yang pertama
merupakan pencarian ubur ubur di laut, karena tidak semua ditinggali oleh
ubur ubur, yang kedua penangkapan pada tahap ini dalam penangkapan ubur
ubur harus sesuai etika penangkapan, yang ketiga pemilihan ubur ubur, karena
tidak semua ubur ubur mengandung Gen Green Fluorescent Protein
a. Pencarian, pada tahap pencarian kita dapat mencarinya di lut yang
terdapat ubur ubur salah satunya di Indonesia ubur ubur banyak
ditemukan di daerah pantai Kijing Kecamatan Sungai Kunyit
Kalimantan Barat. Di pantai ini ubur ubur dapat ditangkap pada
kedalaman kurag lebih 20-30 meter, habitat ubur ubur di pantai ini
banyak terkena sinar matahari (Wahyu Sulistyowibowo 2013)
b. Penangkapan pada tahap penangkapan kita memerlukan alat yang tepat
untuk menangkapnya, salah satu alat yang tepat adalah jaring ikan,
dengan menggunakan jaring ikan maka saat dilakukan penagkapan
ubur ubur akan tetap utuh bentuknya dengan demikian akan
memudahkan kita saat melakukan tahap selanjutnya.
c. Pemilihan , setelah mendapatkan sampel ubur ubur kemudian ubur
ubur dibawa menggunakan kotak es menuju laboratorium, identifikasi
ubur ubur dilakukan dengan pengamaatan morfologi, kemudian
dicocockan dengan literature “Marine Conservation Society” (Tanjung
Z.A 2010) dilakukan pemilihan, pada tahap ini tidak semua jenis ubur
ubur mengandung protein GFP, Aequorea Victoria merupakan salah
satu jenis yang telah teruji mengandung GFP,
2 Pembuatan
a. Pengisolasian
isolasi DNA Genom Ubur-Ubur Sebanyak 200 mg ubur-ubur diberi
liquid nitrogen kemudian digerus sampai berbentuk serbuk. Setelahitu
DNA genom dari serbuk ubur-ubur diisolasi sesuai protokol Qiagen
Genomic Midi Kit (QIAGEN GmBH, Jerman).

b. Pencekan
DNA hasil isolasi dicek dengan gel elektroforesis agarosa 0,8%, 50
mA, selama 45 menit. Kuantifikasi DNA dilakukan dengan
spektrofotometer λ260/280 nm.
c. Pengidentifikasian Identifikasi gen Green Fluorescens Protein (GFP)
dengan Polymerase Chain reaction (PCR)DNA genom ubur-ubur
diamplifikasi menggunakan empat macam oligo nukleotida primer
spesifik untuk gen GF dengan PCR. Oligo DNA primer didesain
secara spesifik berdasarkan sekuen gen GFP pada Aequoria victoria.
Keempat primer ini akan menempel di lokasi-lokasi spesifik pada gen
GFP DNA ubur-ubur yang telah diekstraksi dikeluarkan dari freezer
20C lalu dicairkan dengan digenggam menggunakan tangan kemudian
divortex dan spindown DNA ubur-ubur ini digunakan sebagai cetakan
(template
d. Pengektrasi
Tahap selanjutnya dibuat campuran reaksi untuk PCR yang terdiri
dari DNA genom, PCR kit (Roche®), serta primer spesifik untuk gen
GFPPCR dilakukan dengan Thermalcycler menggunakan program
predenaturasi 94ºC selama 4 menit sebanyak satu siklus, denaturasi
94ºC, annealing suhu bervariasi, dan elongasi 72ºC masing-masing
selama 1 menit sebanyak 30 siklus serta tahap terakhir elongasi 72ºC
selama 1 menit sebanyak satu siklus. Pada reaksi PCR digunakan
plasmid pCambia yang membawa gen GFP sebagai kontrol positif.
F JENIS UBUR-UBUR YANG DAPAT MENGHASILKAN GFP

1. Kelas Hydrozoa
a. Genus Aequorea,
b. Genus Mitrocoma,
c. Genus Obelia,
d. Genus Phialidium.
Hanya sebagian anggota Kelas Hydrozoa ubur-ubur yang memiliki
GFP antara lain genus Aequorea, Mitrocoma, Obelia, dan Phialidium.
Di Indonesia terdapat banyak jenis ubur-ubur tetapi belum pernah ada
penelitian mengenai keberadaan gen GFP pada ubur-ubur lokal. Di
Pantai Marina Semarang, didapatkan informasi dari nelayan setempat
bahwa banyak terdapat ubur-ubur yang mampu berpendar pada malam
hari sehingga diduga memiliki gen GFP.
G PENUTUP

Selama ini digunakan gen GFP yang berasal dari Aequorea victoria yang
dikemas dalam bentuk plasmid misalnya plasmid pCambia yang harganya mahal.
Oleh karena itu, utnuk mengurangi biaya penelitian, diperlukan adanya alternatif baru
sumber gen GFP yang berasal dari ubur-ubur asli Indonesia. Sehingga dapat menekan
biaya penelitian GFP khususnya di Indonesia.
H DAFTAR RUJUKAN

1) Alford, S.C., Wu, J., Zhao, Y., Campbell, R.E. & Knöpfel, T., Biol. Cell 105 (2013),
p. 14.
2) Zhao, Y. et al, Science 333 (2011), p. 1888.
3) Wu, J. et al, ACS Chem. Neurosci. 4 (2013), p. 963.
4) The authors acknowledge funding from Alberta Innovates, NSERC, and
CIHR.Chalfie, M. and S.R. Kain. 2006.
5) Green Fluorescent Protein Properties, Applications, and Protocols. John Wiley and
Sons,
6) Inc. New Jersey, pp. 4, 40. Chalfie, M., T. Y. Euskirchen,W.W. Ward, and
D.C.Prasher. 1994.
7) Green Fluorescent Protein as a Marker for Gene Expression. Science 263: 802-805.
Hajra, S. 2008.
Use of Living Colors in Biology. University Of Texas, p. 2.Watkins,J.N. and A.K.
Campbell.1995. GFP gene; green-fluorescent protein.