Anda di halaman 1dari 29

MODUL 5

SISTEM PEMBERIAN INSENTIF

5.1 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum modul 5 ini adalah agar praktikan:
1. Memahami dan mampu mengetahui sistem pemberian insentif
2. Mampu membandingkan perbedaan perhitungan insentif berdasar metode-metode
pemberian insentif.

5.2 Landasan Teori

Dasar penetapan besarnya insentif yang dibayarkan adalah efesiensi kerja operator yang
diukur menurut output yang dihasilkan dibandingkan dengan standar output yang
dihasilkan. Selain itu ada beberapa faktor tidak langsung yang dapat digunakan sebagai
penetapan besarnya insentif, seperti kehadiran (absensi), disiplin kerja, kreativitas, dll.

Tujuan utama dari pemberian insentif adalah untuk meningkatkan dan menjaga motivasi
pekerja dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produktivitas kerjanya
(wignjosoebroto,2003).

Beberapa cara perhitungan dan pembayaran insentif menurut Wignjosoebroto:

Sistem Upah Insentif Berdasarkan Hari Kerja

Pekerja dibayar menurut upah dasar yang tergantung pada jumlah jam kerja dan besarnya
ditentukan berdasarkan evaluasi kerja tidak peduli efesiensi yang dicapai pekerja
menerima upah yang besarnya didasarkan pada jumlah jam kerja.

Kelebihan dari sistem upah insentif berdasarkan hari kerja yaitu tidak ada pemaksaan
mengikuti standar, sederhana, mudah diaplikasikan dan bersifat langsung. Sedangkan
kekurangannya yaitu kecepatan produksi cenderung lambat, jadwal produksi dan
evaluasi sulit ditetapkan.

Sistem upah insentif berdasarkan hari kerja ini menggunakan waktu seperti : jam, hari,
minggu, bulan, tahun atau periode tertentu lain yang disetujui bersama sebagai dasar
pembayaran untuk pekerjaan yang memerlukan keahlian tinggi, kerja reparasi, pekerjaan

131
dengan jumlah lot yang kecil atau pekerjaan-pekerjaan buruh tidak langsung bagian
produksi.

Metode ini disebut juga Metode Tarif Harian (Day Rate Method). Dapat dibedakan
dalam dua macam rencana upah insentif, yaitu :

A. Differential Day Rate Plan


Differential Day Rate Plan menggunakan dua macam tarif dalam menentukan besarnya
upah yang akan diterima oleh seorang pekerja, yaitu tarif yang lebih rendah bagi yang
bekerja tapi tidak mencapai jumlah output yang ditetapkan, dan upah yang lebih tinggi
bagi pekerja yang mencapai standar output yang ditetapkan. Formulasi upah yang berhak
diterima seorang pekerja menurut metode ini adalah sebagai berikut.
1. Upah bawah standar (UBS) = jam nyata x tarif bawah standar
2. Upah atas standar (UAS) = jam nyata x tarif atas standar

Jika standar produksi dalam satu hari dengan 8 jam kerja adalah 100 unit, sedang tarif
bagi yang mencapai standar produksi tersebut akan dibayar 20% lebih besar dari upah
dasar per jam Rp 100,- tiap jam. Jika pekerja A dalam satu hari menghasilkan 110 unit
dan pekerja B menghasilkan 95 unit, maka dalam satu hari masing-masing pekerja akan
menerima :

 Upah pekerja A (UAS) = 120% x Rp 100,- x 8 = Rp 960,-


 Upah pekerja B (UBS) = Rp 100,- x 8 = Rp 800,-

Keuntungan yang dapat diambil dari penerapan rencana ini, yaitu mudah sistem
pembayarannya. Sedangkan kerugian atau kesulitan yang mungkin dihadapi adalah
adanya kecenderungan para pekerja untuk mencapai upah atas standar hanya dengan
menghasilkan output sedikit saja lebihnya atau sama dengan jumlah standar yang
ditetapkan, sehingga sulit mencapai tingkat produktivitas yang terbaik.

B. Measured Day Rate


Measured Day Rate merupakan pengembangan dari rencana waktu Taylor dan Gannt.
Pada cara ini upah seorang pekerja dikelompokkan menjadi dua, yaitu upah tetap dan
upah variabel. Upah tetap merupakan upah yang jumlahnya tetap untuk tiap-tiap periode.
Ditentukan berdasarkan skillI yang dibutuhkan, tanggung jawab, kemampuan mental,
kondisi pekerjaan dan penggunaan kemampuan fisik. Sedangkan upah variabel adalah

132
upah yang besarnya tergantung dari penilaian pengawas, yaitu terhadap produktivitas,
kualitas kerja ketergantungan pada pekerja lain dan kecakapan dalam bekerja. Dalam
metode ini, upah diperhitungkan dengan mengaitkan jumlah jam kerja terhadap upah per
jam :
E = Ta x R
Dimana :
E = upah yang diterima (dalam rupiah)
Ta = waktu aktual (dalam jam)
R = tarif per jam (dalam rupiah)

Salah satu alat untuk menghitung jam nyata yang dihabiskan oleh pekerja dalam bekerja
adalah dengan kartu absensi. Dari kartu ini dapat dilihat berapa jam seorang pekerja itu
telah hadir dalam periode tertentu, sehingga dengan mengalikan jumlah jam kehadiran
tersebut dengan tingkat upah per jam yang telah disepakati.

Misalnya upah dasar pekerja adalah Rp 5000,- jika produktivitas, kuliatas kerja,
ketergantungan pada pekerja lain dan kecakapan dari seorang pekerja mencapai 100%,
maka pekerja akan memperoleh tambahan upah sebesar 20% dari upah dasarnya. Bila
suatu hari kerja pada seseorang pekerja memiliki nilai 75% dari hasil penilaian faktor
tersebut, maka pekerja tersebut akan memperoleh tambahan upah sebesar :

75% x 20% x Rp 5000,- = Rp 750,-

Sehingga upah yang diterima adalah :

Rp 5000,- + Rp 750,- = Rp 5750,-

Sistem Upah Insentif Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan

Pada rencana upah insentif ini para pekerja dibayar sesuai dengan produk yang
dihasilkan. Makin banyak produksi yang dihasilkan maka akan semakin besar imbalan
yang diperoleh. Upah insentif berdasarkan produksi yang dihasilkan dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu :

1. Sistem upah insentif yang dikaitkan dengan jumlah produksi pekerja per satuan
waktu.
2. Sistem upah insentif yang didasarkan pada waktu yang dihemat oleh pekerja per unit
produk yang dihasilkan.

133
Sistem Upah Insentif Berdasarkan Jumlah Produksi

Pada perencanaan pemberian insentif berdasarkan unit hasil kerja didasarkan pada ide
dasar pembayaran upah yaitu semua pembayaran upah operator secara langsung terkait
dengan unit produksi yang dihasilkan.

Kelebihan menggunakan sistem upah berdasarkan jumlah produksi :

 Para tenaga kerja yang terampil akan mempunyai semangat tinggi dan akan
menunjukkan kelebihan keterampilannya, karena besar kecilnya unit yang
dihasilkan akan menentukan besar kecilnya upah yang akan diterima,
 Adanya kecenderungan pekerja untuk lebih semangat agar memperoleh upah
yang besar.

Kerugian menggunakan sistem upah berdasarkan jumlah produksi :

 Para pekerja akan bekerja dengan terburu-buru sehingga kualitas barang kurang
terjaga,
 Para pekerja yang kurang terampil akan selalu memperoleh upah yang rendah
akibatnya mereka kurang mempunyai semangat kerja.

Ada beberapa cara perhitungan yang dikenal dengan rencana upah insentif berdasarkan
produk yang dihasilkan :

A. Upah Per potong Proporsional (Straight Piecework Plan)

Sistem ini paling banyak digunakan. Dalam hal ini pekerjaan dibayarkan berdasarkan
seluruh produk yang dihasilkannya dikalikan tarif upah per potong didasarkan atas
penyelidikan waktu untuk menentukan waktu standarnya. Misalnya dalam keadaan
normal para pekerja bisa menghasilkan 200 unit selama 8 jam. Ini dipakai sebagai
standar untuk penentuan tarif. Jadi kalau upah yang umum per potong/unitnya adalah Rp
500,- : 200 = Rp 2,50. Jadi kalau ada seseorang karyawan yang bisa menghasilkan 240
unit dalam 8 jam, maka ia akan menerima 240 x Rp 2,50 = Rp 600,-. Tetapi kalau ada
seorang karyawan yang dalam satu hari kerjanya hanya bisa menghasilkan 180 unit, ia
tetap menerima upah minimal yaitu Rp 500,-. Cara semacam ini dimaksudkan untuk
melindungi karyawan yang kurang mampu berprestasi.

134
B. Upah Per potong Taylor (Taylor Differential Piece – Rate Plan)

Dalam sistem upah berdasarkan tarif potong ini Taylor berpandangan bahwa kepentingan
para pekerja sama pentingnya dengan kepentingan pengusahanya, yang oleh Babbage
dan Ure disebut sebagai mutuality of interest yakni bahwa kesejahteraan pekerja dan
pengusaha tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bertitik tolak dari pandangan seperti
diungkapkan diatas, Taylor kemudian memperkenalkan suatu sistem upah yang dikenal
dengan sebutan Taylor’s Differential Piece Rates atau sistem upah dengan “tarif
potongan berbeda”. Karena Taylor juga merintis digunakannya studi gerak (motion
study), maka upah yang diperkenalkannya pun memprasyaratkan digunakannya waktu
standar untuk setiap pekerjaan. Tarif upah dibagi menjadi dua kelompok yang secara
garis besar terdiri dari : tarif tinggi dan tarif rendah, yang dikaitkan dengan prestasi kerja
masing-masing pekerja. Tarif upah tinggi diberikan kepada para pekerja yang mampu
mencapai prestasi standar atau diatas standar, sedangkan tarif upah rendah diberikan
kepada para pekerja yang tidak rajin. Bahkan bilamana seorang pekerja terlalu sering
menunjukkan restasi dibawah standar, yang bersangkutan bisa dikenakan sanksi
berdasarkan perjanjian kerjanya dan kemungkinan juga akan diberhentikan. Disamping
hal-hal yang telah diuraikan diatas, alasan lain yang menyebabkan mengapa dewasa ini
sistem Taylor jarang digunakan adalah bahwa sistem ini tidak memberi jaminan upah
pokok harian sebagaimana diberikan oleh beberapa pola upah lainnya.

Ketentuan dari sistem upah ini adalah sebagai berikut :

 Upah didasarkan kepada tarif per unit produk dengan tarif per produk berbeda-beda.
 Sistem upah per potong Taylor ini didasarkan atas pengaturan tarif yang berbeda
untuk karyawan yang bekerja diatas dan dibawah rata-rata. Mereka yang berhasil
mencapai output rata-rata (standar) atau melebihinya akan menerima upah per potong
yang lebih besar dari mereka yang bekerja dibawah rata-rata.

Contoh :

- Upah normal/minggu = $ 80 (1minggu = 40 jam)


- Upah normal/jam = $ 2
- Output standar/minggu = 4 unit produk = 10 jam kerja/unit
- Ada dua jenis rate upah
 Standar dan diatas standar $ 20/unit

135
 Di bawah standar $ 15/unit

Tabel 5.1 Contoh Pendistribusian Upah Insentif


Menurut Upah Perpotong Taylor
UPAH PER
UPAH
UNIT UPAH/
KERJA/
KARYAWAN PRODUK MINGGU
MINGGU
YANG
(UNIT)
DIHASILKAN

A 3.6 $ 15.00 $ 54.00

B 4.0 $ 20.00 $ 80.00

C 6.0 $ 20.00 $120.00

D 8.0 $ 20.00 $ 160.00

C. Upah Per potong Kelompok (Group Piecework Plan)

Kadang-kadang dalam mengerjakan suatu produk diperlukan kerja sama dari beberapa
karyawan. Lalu bagaimana cara menghitung upahnya ? cara pemecahannya adalah
dengan menentukan suatu standar untuk kelompok. Mereka yang berada diatas standar
kelompok akan dibayar sebanyak unit yang dihasilkan dengan tarif per unit. Sedangkan
yang bekerja dibawah standar akan dibayar dengan jam kerja dikalikan dengan tarif per
jamnya.

Contoh :

- Standar kelompok untuk 3 pekerja adalah 25 unit per jam, atau 200 per hari kerja
(8jam kerja).
- Tarif per unit adalah Rp 2,50,-
- Tarif per jam untuk 3 jabatan adalah :

A = Rp 31,25

B = Rp 18,75

C = Rp 12,50

136
Apabila kelompok menghasilkan 300 unit dalam satu hari kerja (8jam), maka
penerimaan keseluruhan untuk 3 orang tersebut adalah = 300 x Rp 2,50 = Rp 750,00.
Upah berdasarkan jam kerja untuk ke-3 pekerja tersebut adalah :

A = 8 x Rp 31,25 = Rp 250,00

B = 8 x Rp 18,75 = Rp 150,00

C = 8 x Rp 12,50 = Rp 100,00+

= Rp 500,00

Apabila kelompok menghasilkan 300 unit dalam satu hari kerja (8jam), maka
penerimaan keseluruhan untuk 3 orang tersebut adalah = 300 x Rp 2,50 = Rp 750,00.
Upah berdasarkan jam kerja untuk ke-3 pekerja tersebut adalah :

A = 8 x Rp 31,25 = Rp 250,00

B = 8 x Rp 18,75 = Rp 150,00

C = 8 x Rp 12,50 = Rp 100,00

Jadi masing-masing pekerja akan menerima upah :

A = Rp 250,00 + Rp 125,00 = Rp 375,00

B = Rp 150,00 + Rp 75,00 = Rp 225,00

C = Rp 100,00 + Rp50,00 = Rp 150,00

D. Metode Menurut Tugas dan Bonus Gantt

Metode ini merupakan perbaikan dari metode Taylor dengan menggantikan tarif
produksi di bawah standar. Gannt mengatakan upah minimum per jam, sebagai jaminan
terhadap pekerja. Upah jam minimum sama dengan upah jam normal, jika pekerja tetap
di bawah prestasi standar. Bagi pekerja yang dapat menyelesaikan dalam waktu standar
yang telah ditetapkan, akan menerima suatu premi atau bonus, pekerja yang telah
melakukan tugasnya dalam waktu standar mendapatkan tambahan bonus dalam
perbandingan dengan waktu yang dihemat. Sistem upah dari Gannt ini bertitil tolak dari
137
suatu tugas tertentu dengan waktu yang telah ditetapkan. Jika tugas itu dapat diselesaikan
dalam waktu yang telah ditetapkan, maka pekerja menerima bonus. Itulah sebabnya
sistem upah dari Gannt disebut Task and Bonus System.

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

 Untuk upah dibawah standar


E = Ta . R
 Untuk upah di atas standar
E = R . Ts + P% . Ts . R

Di mana :

E = upah yang diterima.


R = tarif upah per satuan waktu.
Ta = waktu aktual atau jumlah jam kerja.
Ts = waktu standar atau jumlah jam kerja standar.
P = persen bonus.

Contoh :

 Upah normal/minggu = $ 80 ( 1 minggu = 40 )


 Upah normal/jam + $ 2
 Output standar/minggu = 4 unit produk = 10 jam kerja/unit
 Upah/minggu yang dijamin = $ 80
 Pendapatan:
a. Standar atau diatas standar = upah untuk waktu yang diijinkan + insentif
b. Di bawah standar = upah/minggu yang dijamin
 Insentif = 20% dari upah untuk waktu yang diijinkan

138
Tabel 5.2 Contoh Pendistribusian Upah Insentif Menurut
Metode Menurut Tugas dan Bonus Gantt
K
UPAH
A TOTAL UPAH
UNTUK TOTAL
R HASIL JAM BURUH
JAM PENGHE
Y KERJA/ KERJA INSENT PER
KERJA MATAN
A MINGGU YANG IF UNIT
YANG JAM
W (UNIT) DIIJIN PRODUK
DIIJIN KERJA
A KAN
KAN
N
A 3.6 36 $ 80.00 - $ 80.00 $ 22.22

B 4.0 40 $ 80.00 $ 16.00 $ 96.00 $ 24.00

C 6.0 60 $ 120.00 $ 24.00 $ 144.00 $ 24.00

D 8.0 80 $ 160.00 $ 32.00 $ 192.00 $ 24.00

60 = 6.0 X 10 120 = 60 X $ 2
24 = 20% X 120 144 = 120 + 24

Banyak sekali jenis rencana upah insentif yang dapat diterapkan pada pekerja
operasional, khususnya jika perusahaan dapat merancang rencana-rencana yang sesuai
dengan kondisinya sendiri dengan menggunakan unsur-unsur dasar yang terdiri dari
keluaran, penghematan waktu, waktu kerja, dan waktu standar. Semua rencana semacam
itu harus dapat dipahami oleh karyawan dan dijamin tidak akan berubah kecuali jika
perlengkapan atau metode mengalami perubahan besar.

Keuntungan dari rencana ini adalah :

 Dapat diterapkan pada semua jenis pekerjaan yang dapat dihitung standarnya.
 Pekerja dapat menghitung sendiri pendapatannya.
 Uang tambahan yang di dapat cukup besar.

139
Kerugian dari sistem ini adalah dalam menentukan standar harus teliti, yaitu dengan
memisahkan pekerja yang berpengalaman dan yang belum berpengalaman.

E. Metode Merrick

Metode ini memberikan tarif rendah bagi pekerja yang hanya mencapai produksi
dibawah 83% standar yang telah ditetapkan. Tarif menengah yaitu 10% lebih tinggi dari
tarif rendah untuk pekerja yang berprestasi di antara 83% sampai dengan 100% dari
standar tersebut, dan 20% lebih tinggi dari tarif rendah untuk pekerja yang dapat
mencapai standar.

Rumus yang dapat digunakan :

 Jika pekerja dapat mencapai 83% dari standar


E = N x Rp
 Jika pekerja dapat mencapai 83% sampai 100% dari standar
E = N x 110% x Rp
 Jika pekerja dapat mencapai lebih dari 100% dari standar
E = N x 120% x RP

Di mana :
E = upah yang diterima
N = jumlah produk yang dihasilkan
RP = tarif upah per unit produksi

Metode ini cukup baik untuk merangsang kemampuan pekerja secara bertahap, akan
tetapi kurang sederhana dan memerlukan petugas khusus.

F. Metode Efisiensi Dari Emerson

Metode efisiensi dari Emerson termasuk agak sulit terutama bagi para pekerja, karena
bonus yang akan diberikan terbagi dalam banyak kelompok efisiensi mulai dari 67%
sampai dengan 100% atau lebih, dengan nilai bonus dari 0,25% sampai 20%.

140
Tabel 5.3. Daftar Presentase Bonus Menurut Emerson
Efisiensi ( % ) Bonus ( % ) Efisiensi ( % ) Bonus ( % )

67,00 – 71,09 0,25 89,40 – 90,49 10

71,10 – 73, 09 0,50 90,50 – 91,49 11

73,10 – 75,69 1 91,50 – 92,49 12

75,70 – 78,29 2 92,50 – 93,49 13

78,30 – 80,39 3 93,50 – 94,49 14

80,40 – 82,29 4 94,50 – 95,49 15

82,30 – 83,89 5 95,50 – 96,49 16

83,90 – 85,39 6 96,50 – 97,49 17

85,40 – 86,79 7 97,50 – 98,49 18

86,80 – 88,09 8 98,50 – 99,49 19

88,10 – 89,39 9 99,50 – 100,0 20

Penggunaan rumus :
 Jika efisiensi pekerja mencapai 67% sampai 100%
E = Ta . R + P . Ta . R
 Jika pekerja mencapai nilai efisiensi 100% atau lebih
E = Ta . R + ( Ts – Ta ) . R + 0,20 Ta . R
 Jika prestasi mencapai di atas standar
E = Ts . R + 0,2 Ta . R

Di mana :
E = upah yang diterima
Ta = waktu aktual atau jumlah jam kerja

141
Ts = waktu standar atau jumlah jam standar
R = tarif upah per satuan waktu
P = persen bonus

Keuntungannya :
 Merangsang pekerja untuk meningkatkan prestasi berupa pengalaman dan
kemampuan kerja.
 Untuk mengetahui kemajuan hasil kerja pekerja.

Kerugian dari metode ini adalah pekerja sulit untuk menghitung pendapatannya sendiri.

Sistem Upah Insentif Berdasarkan Waktu yang Dihemat

Seperti halnya rencana upah yang lain sistem upah ini bertujuan untuk menurunkan
ongkos produksi dan menambah penghasilan pekerja. Yang menentukan besar kecilnya
upah akan dibayarkan kepada masing- masing tenaga kerja, tergantung pada sedikit
waktu kerja yang mereka terima.
Keuntungan menggunakan sistem upah berdasarkan waktu yang dihemat:
 Para tenaga kerja tidak perlu terburu-buru didalam menjalankan pekerjaan,
karena banyak sedikitnya unit mampu mereka selesaikan tidak terpengaruh
kepada besar kecilnya upah yang diterima, dengan demikian kualitas barang
yang diproduksi akan dapat terjaga,
 Bagi para pekerja yang kurang terampil sistem upah ini dapat memberi
ketenangan dalam bekerja karena walaupun mereka kurang bisa menyelesaikan
unit yang banyak mereka akan tetap memperoleh upah yang sama oleh tenaga
kerja lain.

Kerugian menggunakan sistem upah berdasarkan waktu yang dihemat :


 Para tenaga kerja yang terampil akan mengalami kekecewaan, karena kelebihan
mereka tidak dapat dimanfaatkan untuk memperoleh upah yang besar sehingga
tenaga kerja yang terampil kurang begitu bersemangat.

142
 Adanya kecendrungan para pekerja untuk bekerja lamban, karena besar kecilnya
unit yang dihasilkan tidak terpengaruh pada besar kecilnya upah yang mereka
terima beberapa metode tentang sistem upah insentif berdasarkan waktu yang
dihemat ini antara lain :

A. Premi 100 % ( The One Hundred Percent Premium Plan )


Dapat dikatakan bahwa pola bonus 100 persen ini identik dengan sistem kerja output
oriented, kecuali bahwa penghargaannya dinyatakan dalam bentuk waktu bukan uang.
Dengan demikian pola ini pun memberikan jaminan pokok tarif harian. Yaitu apabila
pekerja memproduksi di bawah standar tetap si pekerja dijamin mendapatkan upah
pokok, dan jika pekerja dapat melampaui batas produksi standar maka si pekerja
tentunya akan mendapatkan bonus yang telah ditentukan.
Contoh :
- Upah normal / minggu = $ 80 ( 1 minggu = 40 jam )
- Upah normal / jam = $ 2 ***
- Output standar / minggu = 4 unit produk = 10 jam kerja / unit
- Upah / minggu yang dijamin = $ 80

Tabel 5.4 Contoh Pendistribusian Upah Insentif Menurut Premi 100%


K
A PENG
TOTAL
R HASIL HEMA UPAH
JAM PENGH PREMI/ UPAH/
Y KERJA/ TAN DASAR
KERJA/ EMATA INSENT MINGGU
A MINGGU JAM MINIM
UNIT N JAM IF
W (UNIT) KERJ AL
KERJA
A A
N
A 3.6 11.1 - - $ 80.00 - $ 80.00

B 4.0 10.0 - - $ 80.00 - $ 80.00

C 6.0 6.7 3.3 20* $ 80.00 $ 40.00* $ 120.00

D 8.0 5.0 5.0 40 $ 80.00 $ 80.00 $ 160.00

143
B. Sistem Insentif Halsey ( The Halsey Plan )
Sistem insentif Halsey ini memberikan insentif yang didasarkan pada jumlah waktu yang
dihemat, dengan persentase premi 50 % dari waktu yang di hemat. Alasannya adalah
tidak adanya standar kerja yang tepat sekali. Pola premi berdasarkan Halsey merupakan
salah satu pola upah deviasi dari pola piece work. Pada pola ini bonus yang dihasilkan
dari total waktu yang disisihkan dibagi untuk para pekerja dan perusahaan dengan
perbandingan secara bervariasi antara1/3 sampai ½ (yang umum adalah 50-50) maka dari
itu sering disebut sebagai Halsey 50-50 plan.
Rumusnya adalah sebagai berikut :
Jika pekerja berhasil mencapai atau melebihi standar :
 Total upah (Yw) = 1 + p (x-1)
1+𝑝 (𝑥−1)
 Biaya upah (Yc) = 𝑋

 Bonus = (Yw – 1) x R x jam tenaga kerja

Di mana :
X = efesiensi kerja.
Yw = total upah.
Tc = biaya upah.
R = Tarif dalam rupiah per jam.
P = 0,5

C. Sistem Insentif Bedaux ( The Bedaux Plan )


Pola upah ini disebut Bedaux Plan yaitu dengan menggunakan faktor pembagi sebagai
bonus bagi pekerja dari jumlah waktu yang dapat dihemat. Sebelumnya standar kerja
dinyatakan dalam point yang telah ditetapkan dan besarnya bonus yang diberikan
tergantung dari kebijaksanaan perusahaan. Pekerja yang tidak berhasil mencapai standar
akan mendapatkan upah yang dijami, sedangkan pekerja yang dapat melampaui standar
akan mendapatkan premi 100%.
Formula dari metode Bedaux adalah sebagai berikut :
 Total upah (Yw) = 1 + p (x-1)
1+𝑝 (𝑥−1)
 Biaya upah (Yc) = 𝑋

 Bonus = (Yw – 1) x R x jam tenaga kerja

144
Dimana :
X = efesiensi kerja
Yw = total upah.
Tc = biaya upah.
R = Tarif dalam rupiah per jam.
P = 0,5

D. Sistem Insentif Rowan ( The Rowan Plan )


Pada tipe ini insentif dari x=1,0 dan kenaikan dalam % tertentu dalam pembayaran upah
diatas standard akan sama dengan % besarnya penghematan waktu yang ditetapkan. Tipe
Incentive Rowan Plan bisa juga dimulai pada tingkat efesiensi x<1,8 bilamana S = 1,0
maka :
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑−𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑔𝑢𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛
Bonus (%) = x 100%
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑

Atau bisa juga dinyatakan dalam kaitannya dengan efesiensi (x) sebagai berikut :
1−1/𝑥
Bonus = = 1 - 1/x
1

Selanjutnya penerimaan upah pekerja (Yw) disini dinyatakan sebagai :


Yw = 1 + Bonus = 1 + 1 – 1/x = 2 – 1/x
Untuk Rowan Plan dengan S<1,0 (dalam incentive plan yang sebenarnya S=0,625),
maka
Yw = 2 S/x

5.3 Prosedur Praktikum


Langkah-langkah yang harus dilakukan praktikan untuk menyelesaikan Modul 5 ini
adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan 2 alternatif perbaikan yang dilakukan di modul 4, diskusikanlah
dengan anggota kelompok untuk membuat incentive plan.
2. Bandingkan waktu standard antara 2 alternatif perbaikan.
3. Bandingkan waktu aktual antara 2 alternatif perbaikan.
4. Hitunglah perhitungan insentif berdasar The Halsey & Bedaux Plan.
5. Hitunglah perhitungan insentif berdasar The Rowan Plan.
6. Bandingkan kedua metode perhitungan insentif tersebut.
7. Buatlah analisa berdasar kedua metode tersebut.

145
5.4 Pengumpulan Data

Tabel 5.5 Pengumpulan Data Waktu Kumulatif Stasiun 1 Alternatif Perbaikan 1


LEMBAR PENGAMATAN STASIUN 1
Pekerjaan : Merakit Kaki Robot Tanggal : 14 November 2016
Nama Operator : Dhimas Pamungkas Jam : 13.00-14.40
Nama Stasiun Kerja : Satu Timer : Nurul Hanifah
Siklus ke-i (detik)
Siklus ke-i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Data Waktu Komulatif / Split 0 16 29 43 58 70 83 97 111 123 136 150 165 179 191 205 220 232 247 263 283 297 309 322 336 349 362 377 394 408 424
Data Waktu Siklus 16 13 14 15 12 13 14 14 12 13 14 15 14 12 14 15 12 15 16 20 14 12 13 14 13 13 15 17 14 16
Waktu Siklus Rata-rata 14,13333
Waktu Kumulatif ke 30 424
Faktor penyesuaian 1,1
Waktu Normal 15,54667
Waktu Baku/Standar 19,80467
Tabel 5.6 Pengumpulan Data Waktu Kumulatif Stasiun 2 Alternatif Perbaikan 1
LEMBAR PENGAMATAN STASIUN 2
Pekerjaan : Merakit Badan Robot Tanggal : 14 November 2016
Nama Operator : Cyntia Dea Jam : 13.00-14.40
Nama Stasiun Kerja : Dua Timer : Nurul Hanifah
Siklus ke-i (detik)
Siklus ke-i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Data Waktu Komulatif / Split 0 54 89 119 149 183 208 238 270 305 336 364 394 422 454 488 522 558 590 622 648 680 710 738 769 798 831 865 897 926 959
Data Waktu Siklus 54 35 30 30 34 25 30 32 35 31 28 30 28 32 34 34 36 32 32 26 32 30 28 31 29 33 34 32 29 33
Waktu Siklus Rata-rata 31,96667
Waktu Kumulatif ke 30 959
Faktor penyesuaian 1,09
Waktu Normal 34,84367
Waktu Baku/Standar 44,38684
Tabel 5.7 Pengumpulan Data Waktu Kumulatif Stasiun 3 Alternatif Perbaikan 1
LEMBAR PENGAMATAN STASIUN 3
Pekerjaan : Merakit Kaki Robot Tanggal : 14 November 2016
Nama Operator : Dicky Setyo P. Jam : 13.00-14.40
Nama Stasiun Kerja : Tiga Timer : Nurul Hanifah
Siklus ke-i (detik)
Siklus ke-i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Data Waktu Komulatif / Split 0 23 49 72 92 122 146 172 197 221 249 275 295 319 345 373 393 417 443 469 499 523 549 574 602 628 648 672 702 729 754
Data Waktu Siklus 23 26 23 20 30 24 26 25 24 28 26 20 24 26 28 20 24 26 26 30 24 26 25 28 26 20 24 30 27 25
Waktu Siklus Rata-rata 25,13333
Waktu Kumulatif ke 30 754
Faktor penyesuaian 1,1
Waktu Normal 27,64667
Waktu Baku/Standar 35,21868

146
Tabel 5.8 Pengumpulan Data Waktu Kumulatif Stasiun 1 Alternatif Perbaikan 2
LEMBAR PENGAMATAN STASIUN 1
Pekerjaan : Merakit Kaki Robot Tanggal : 14 November 2016
Nama Operator : Dhimas Pamungkas Jam : 13.00-14.40
Nama Stasiun Kerja : Satu Timer : Nurul Hanifah
Siklus ke-i (detik)
Siklus ke-i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Data Waktu Komulatif / Split 0 23 45 62 81 100 120 139 157 177 198 216 235 254 276 295 312 334 354 375 394 416 436 453 472 490 510 532 551 568 586
Data Waktu Siklus 23 22 17 19 19 20 19 18 20 21 18 19 19 22 19 17 22 20 21 19 22 20 17 19 18 20 22 19 17 18
Waktu Siklus Rata-rata 19,53333
Waktu Kumulatif ke 30 586
Faktor penyesuaian 1,1
Waktu Normal 21,48667
Waktu Baku/Standar 27,37155
Tabel 5.9 Pengumpulan Data Waktu Kumulatif Stasiun 2 Alternatif Perbaikan 2
LEMBAR PENGAMATAN STASIUN 2
Pekerjaan : Merakit Badan Robot Tanggal : 14 November 2016
Nama Operator : Cyntia Dea Jam : 13.00-14.40
Nama Stasiun Kerja : Dua Timer : Nurul Hanifah
Siklus ke-i (detik)
Siklus ke-i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Data Waktu Komulatif / Split 0 19 30 43 63 76 90 106 119 130 142 156 172 186 201 221 234 249 263 279 294 307 323 341 361 375 391 408 423 442 460
Data Waktu Siklus 19 11 13 20 13 14 16 13 11 12 14 16 14 15 20 13 15 14 16 15 13 16 18 20 14 16 17 15 19 18
Waktu Siklus Rata-rata 15,33333
Waktu Kumulatif ke 30 460
Faktor penyesuaian 1,09
Waktu Normal 16,71333
Waktu Baku/Standar 21,29087
Tabel 5.10 Pengumpulan Data Waktu Kumulatif Stasiun 3 Alternatif Perbaikan 2
LEMBAR PENGAMATAN STASIUN 3
Pekerjaan : Merakit Kaki Robot Tanggal : 14 November 2016
Nama Operator : Dicky Setyo P. Jam : 13.00-14.40
Nama Stasiun Kerja : Tiga Timer : Nurul Hanifah
Siklus ke-i (detik)
Siklus ke-i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Data Waktu Komulatif / Split 0 25 52 71 90 110 131 151 175 197 216 235 259 284 303 321 341 359 378 398 420 439 460 484 506 524 547 571 592 611 633
Data Waktu Siklus 25 27 19 19 20 21 20 24 22 19 19 24 25 19 18 20 18 19 20 22 19 21 24 22 18 23 24 21 19 22
Waktu Siklus Rata-rata 21,1
Waktu Kumulatif ke 30 633
Faktor penyesuaian 1,1
Waktu Normal 23,21
Waktu Baku/Standar 29,56688

147
Tabel 5.11 Allowance

Faktor Pekerjaan Kelonggaran (%)

Tenaga yang 4
Duduk
dikeluarkan
sikap kerja (duduk) bekerja duduk, ringan 1

gerkan kerja (normal) Ayunan Bebas 0

kelelahan mata mata melihat ke part lego yang belum di rakit dan 7,5
(sayup) ke lego yang sudah di rakit

Keadaan Temperatur 2
temperatur 26-28⁰ celcius
(normal)
Keadaan Atmosper Ventilasi kurang baik, ada bau-bauan (tidak 4
(cukup) berbahaya)
Keadaan Lingkungan 3
Bising
(normal)
Total 21,5

5.4.1 Perhitungan waktu standard dan waktu aktual alternatif 1


Tabel 5.12 Performance Rating Stasiun 1 Alternatif 1
Keterangan Kategori Nilai
Skill Good +0,06
Effort Good +0,05
Condition Good +0,02
Consistency Average +0,00
Total +0,13

Σx1 424
Waktu siklus1 = =
N 30

= 14,1 detik = 0,0039 jam

P1 = 1 + (F1 + F2 + F3 + F4)

= 1 + (0,13) = 1,13

Waktu normal1 = waktu siklus1 x P1

= 0,0039 x 1,13

= 0,0044 jam

148
Tabel 5.13 Performance Rating Stasiun 2 Alternatif 1
Keterangan Kategori Nilai
Skill Good +0,06
Effort Good +0,02
Condition Good +0,02
Consistency Average +0,00
Total +0,10

Σx2 959
Waktu siklus2 = =
N 30

= 31,96 detik = 0,0088 jam

P2 = 1 + (F1 + F2 + F3 + F4)

= 1 + (0,10) = 1,10

Waktu normal2 = waktu siklus2 x P2

= 0,0088 x 1,10

= 0,0096 jam

Tabel 5.14 Performance Rating Stasiun 3 Alternatif 1


Keterangan Kategori Nilai
Skill Good +0,06
Effort Good +0,02
Condition Good +0,02
Consistency Good +0,01
Total +0,11

Σx3 754
Waktu siklus3 = =
N 30

= 25,13 detik = 0,0069 jam

P3 = 1 + (F1 + F2 + F3 + F4)

= 1 + (0,11) = 1,11

Waktu normal3 = waktu siklus3 x P3

= 0,0069 x 1,11

= 0,0076 jam

149
Total Waktu Normal Keseluruhan Alternatif 1

Wn = Wn1 + Wn2 + Wn3

= 0,0044 + 0,0096 + 0,0076 = 0,0216 jam


100%
Wb = Wntotal x 100% − 𝐴𝑙𝑙𝑜𝑤𝑎𝑛𝑐𝑒

100%
= 0,0216 x 100% − 21,5%

= 0,0275 jam

5.4.2 Perhitungan insentif kerja alternatif 1 berdasar metode Rowan Plan

 Efisiensi (x)

Wb sebelum perbaikan –Wb sesudah perbaikan


x= x 100%
Wb sebelum perbaikan

0,0299 – 0,0275
= x 100% = 8%
0,0299

= 100% + 8%

= 108% = 1,08

 Biaya upah (Yc)


2
Yc = 𝑥

2
= 1,08 = Rp1,85

 Total upah (Yw)

Yw = 2 – 1/1,08

= 2 – 1/1,08 = Rp1,07

5.4.3 Perhitungan insentif kerja alternatif 1 berdasar metode The Halsey & Bedaux

5.4.3.1 Sistem Insentif Halsey ( P = 0,5)

 Efisiensi (x)

Wb sebelum perbaikan –Wb sesudah perbaikan


x= x 100%
Wb sebelum perbaikan

0,0299 – 0,0275
= x 100% = 8%
0,0299

150
= 100% + 8%

= 108% = 1,08

 Biaya upah (Yc)

1+𝑝 (𝑥−1)
Yc = 𝑥

1+0,5 (1,08−1)
= = Rp0,96
1,08

 Total upah (Yw)

Yw = 1 + p (x – 1)

= 1 + 0,5 (1,08 – 1) = Rp1,04

5.4.3.2 Sistem Insentif Bedaux ( P = 0,75)

 Efisiensi (x)

Wb sebelum perbaikan –Wb sesudah perbaikan


x= x 100%
Wb sebelum perbaikan

0,0299 – 0,0275
= x 100% = 8%
0,0299

= 100% + 8%

= 108% = 1,08

 Biaya upah (Yc)

1+𝑝 (𝑥−1)
Yc = 𝑥

1+0,75 (1,08−1)
= = Rp0,98
1,08

 Total upah (Yw)

Yw = 1 + p (x – 1)

= 1 + 0,75 (1,08 – 1) = Rp1,06

151
5.4.4 Perhitungan waktu standard dan waktu aktual alternatif 2
Tabel 5.15 Performance Rating Stasiun 1 Alternatif 2
Keterangan Kategori Nilai
Skill Excellent +0,08
Effort Excellent +0,08
Condition Good +0,02
Consistency Good +0,01
Total +0,19

Σx1 586
Waktu siklus1 = =
N 30

= 19,53 detik = 0,0054 jam

P1 = 1 + (F1 + F2 + F3 + F4)

= 1 + (0,19) = 1,19

Waktu normal1 = waktu siklus1 x P1

= 0,0054 x 1,19

= 0,0064 jam

Tabel 5.16 Performance Rating Stasiun 2 Alternatif 2


Keterangan Kategori Nilai
Skill Excellent +0,08
Effort Excellent +0,08
Condition Good +0,02
Consistency Good +0,01
Total +0,19

Σx2 460
Waktu siklus2 = =
N 30

= 15,33 detik = 0,0042 jam

P2 = 1 + (F1 + F2 + F3 + F4)

= 1 + (0,19) = 1,19

Waktu normal2 = waktu siklus2 x P2

= 0,0042 x 1,19

= 0,0049 jam

152
Tabel 5.17 Performance Rating Stasiun 3 Alternatif 2
Keterangan Kategori Nilai
Skill Excellent +0,08
Effort Good +0,02
Condition Good +0,02
Consistency Good +0,01
Total +0,13

Σx3 633
Waktu siklus3 = =
N 30

= 21,1 detik = 0,0058 jam

P3 = 1 + (F1 + F2 + F3 + F4)

= 1 + (0,13) = 1,13

Waktu normal3 = waktu siklus3 x P3

= 0,0058 x 1,13

= 0,0065 jam

Total Waktu Normal Keseluruhan Alternatif 2


Wn = Wn1 + Wn2 + Wn3

= 0,0064 + 0,0049 + 0,0065 = 0,0178 jam


100%
Wb = Wntotal x 100% − 𝐴𝑙𝑙𝑜𝑤𝑎𝑛𝑐𝑒

100%
= 0,0178 x 100% − 21,5%

= 0,0226 jam

5.4.5 Perhitungan insentif kerja alternatif 2 berdasar metode Rowan Plan

 Efisiensi (x)

Wb sebelum perbaikan –Wb sesudah perbaikan


x= x 100%
Wb sebelum perbaikan

0,0299 – 0,0226
= x 100% = 24,2%
0,0299

= 100% + 24,2%

= 124,2% = 1,242

153
 Biaya upah (Yc)
2
Yc = 𝑥

2
= 1,242 = Rp1,61

 Total upah (Yw)

Yw = 2 – 1/x

= 2 – 1/1,242 = Rp1,194

5.4.6 Perhitungan insentif kerja alternatif 2 berdasar metode The Halsey & Bedaux

5.4.6.1 Sistem Insentif Halsey ( P = 0,5)

 Efisiensi (x)

Wb sebelum perbaikan –Wb sesudah perbaikan


x= x 100%
Wb sebelum perbaikan

0,0299 – 0,0226
= x 100% = 24,4%
0,0299

= 100% + 24,4%

= 124,2% = 1,242

 Biaya upah (Yc)

1+𝑝 (𝑥−1)
Yc = 𝑥

1+0,5 (1,242−1)
= = Rp0,9
1,242

 Total upah (Yw)

Yw = 1 + p (x – 1)

= 1 + 0,5 (1,242 – 1) = Rp1,121

5.4.6.2 Sistem Insentif Bedaux ( P = 0,75)

 Efisiensi (x)

Wb sebelum perbaikan –Wb sesudah perbaikan


x= Wb sebelum perbaikan
x 100%

154
0,0299 – 0,0226
= x 100% = 24,4%
0,0299

= 100% + 24,4%

= 124,2% = 1,242

 Biaya upah (Yc)

1+𝑝 (𝑥−1)
Yc = 𝑥

1+0,75 (1,242−1)
= = Rp0,95
1,242

 Total upah (Yw)

Yw = 1 + p (x – 1)

= 1 + 0,75 (1,242 – 1) = Rp1,181

5.5 Hasil dan Pembahasan

Diketahui : UMR Pasuruan = Rp1.757.000

Hari Kerja = 22 hari / bulan

Jam Tenaga Kerja = 8 jam

Jam kerja 1 bulan = 22 x 8 = 176 jam


𝑈𝑀𝑅
R = 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎

Rp.1.757.000
= 176

= Rp9.982,95 /jam

5.5.1 Metode Rowan Plan

5.5.1.1 Insentif alternative perbaikan 1

 Bonus

Bonus = (Yw – 1) x R x Jam Tenaga Kerja

= (1,07 – 1) x 9.982,95 x 8

= Rp5.590

 Total Penerimaan

155
Total Penerimaan = UMR + Bonus

= Rp1.757.000 + (Rp5.590)

= Rp1.762.590

5.5.1.2 Insentif alternative perbaikan 2

 Bonus

Bonus = (Yw – 1) x R x Jam Tenaga Kerja

= (1,194 – 1) x 9.982,95 x 8

= Rp15.493

 Total Penerimaan

Total Penerimaan = UMR + Bonus

= Rp1.757.000 + (Rp15.493)

= Rp1.772.493

5.5.2 Metode Halsey & Bedaux

5.5.2 Insentif alternative perbaikan 1

5.5.2.1 Sistem Insentif Halsey

 Bonus

Bonus = (Yw – 1) x R x Jam Tenaga Kerja

= (1,04 – 1) x 9.982,95 x 8

= Rp3.194

 Total Penerimaan

Total Penerimaan = UMR + Bonus

= Rp1.757.000 + (Rp3.194)

= Rp1.760.194

5.5.2.2 Sistem Insentif Bedaux

156
 Bonus

Bonus = (Yw – 1) x R x Jam Tenaga Kerja

= (1,06 – 1) x 9.982,95 x 8

= Rp4.791

 Total Penerimaan

Total Penerimaan = UMR + Bonus

= Rp1.757.000 + (Rp4.791)

= Rp1.761.791

5.5.2 Insentif alternative perbaikan 2

5.5.2.1 Sistem Insentif Halsey

 Bonus

Bonus = (Yw – 1) x R x Jam Tenaga Kerja

= (1,121 – 1) x 9.982,95 x 8

= Rp9.663

 Total Penerimaan

Total Penerimaan = UMR + Bonus

= Rp1.757.000 + (Rp9.663)

= Rp1.766.663

5.5.2.2 Sistem Insentif Bedaux

 Bonus

Bonus = (Yw – 1) x R x Jam Tenaga Kerja

= (1,181 – 1) x 9.982,95 x 8

= Rp14.455

 Total Penerimaan

157
Total Penerimaan = UMR + Bonus

= Rp1.757.000 + (Rp14.455)

= Rp1.771.455

5.5.3 Analisa perbandingan insentif Rowan Plan dan The Halsey & Bedaux

Tabel 5.14 Analisa perbandingan insentif


Keterangan Rowan Plan Halsey Bedaux

Alternatif 1 Rp1.762.590 Rp1.760.194 Rp1.761.791

Alternatif 2 Rp1.772.493 Rp1.766.663 Rp1.771.455

Interpretasi :
Data insentif hasil pengolahan yang didapatkan adalah untuk alternatif 1
menggunakan metode Rowan Plan sebesar Rp1.762.590, metode Halsey sebesar
Rp1.760.194, metode Bedaux sebesar Rp1.761.791 dan untuk alternatif 2 menggunakan
metode Rowan Plan sebesar Rp1.772.493, metode Halsey sebesar Rp1.766.663, metode
Bedaux sebesar Rp1.771.455. Apabila suatu perusahaan ingin menggunakan sistem
insentif, kami menyarankan untuk menggunakan sistem insentif dari alternatif 1 karena
biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dibandingkan sistem insentif dari alternatif 2.

158
5.6 Kesimpulan

Dari pelaksanaan praktikum modul 5 ini kami dapat mengetahui bahwa:

1. Sistem pemberian insentif adalah sebuah metode sistematis yang bertujuan untuk
mengetahui berapa jumlah gaji / fee dan bonus yang dibayarkan kepada operator
sesuai dengan efisiensi dari pekerjaan operator tersebut. Ada beberapa cara
perhitungan dan pembayaran insentif yaitu : berdasarkan hari kerja, berdasarkan
produksi yang dihasilkan,dan berdasarkan waktu yang dihemat. Pada modul ini lebih
diajarkan menghitung sistem pemberian instentif menggunakan metode Rowan Plan,
Halsey, dan Bedaux.
2. Hasil perhitungan insentif menggunakan metode Rowan Plan, Halsey, dan Bedaux
terhadap alternatif 1 dan alternatif 2 didapatkan adalah untuk alternatif 1
menggunakan metode Rowan Plan sebesar Rp1.762.590, metode Halsey sebesar
Rp1.760.194, metode Bedaux sebesar Rp1.761.791 dan untuk alternatif 2
menggunakan metode Rowan Plan sebesar Rp1.772.493, metode Halsey sebesar
Rp1.766.663, metode Bedaux sebesar Rp1.771.455. Apabila suatu perusahaan ingin
menggunakan sistem insentif, kami menyarankan untuk menggunakan sistem insentif
dari alternatif 1 karena biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dibandingkan sistem
insentif dari alternatif 2.

159