Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINAJAUAN TEORI

1. Pengertian
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume erotrosit atau adar Hb
sampai dibwah rentang nilai yang berlaku untu orang sehat (Behrman E Richard, IKA
Nelson; 1680). Anemia adalah berkurangnya hingga dibawa nilai normal jumlah SDM ,
kualitas hemogoblin, dan volume packed red blood cell (hematrokit) per 100 ml darah.
(syilivia A. Price. 2006)

Anemia adalah suatu kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah yang
mengandung hemoglobin untuk menyebarkan oksigen ke seluruh organ tubuh. Dengan
kondisi tersebut, penderita biasanya akan merasa letih dan lelah, sehingga tidak dapat
melakukan aktivitas secara optimal.

Anemia dapat terjadi dalam jangka waktu pendek maupun panjang, dengan
tingkat keparahan ringan sampai berat. Pengobatan kondisi ini bervariasi tergantung pada
penyebabnya. Anemia dapat diobati dengan mengonsumsi suplemen secara rutin atau
prosedur pengobatan khusus.

Anemia adalah istilah yang merujuk pada rendahnya hitung sel darah merah
dan kadar hemaktorit dibwah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan
merupakan pencerminn keadan suatu penyakit (gangguan) fungsi tubuh. Secara fisiologis
anemia terjadi apa bila terdapat kekurangan jumlaah hemogoblin untuk mengangkut
oksigen ke jaringan. Anemia tidak merupakan akibat dari bebagai proses patologik yang
mendasari( Smeltzer C suzanne, Buku ajar keperawtan meidical bedah Brunner dan
Suddartth; 935 ).

 Klasifikasi Anemia
Klasifikasi anemia dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.) Anemia Aplastik
Anemia aplastik merupakan anemia normokromik normositer yang disebabkan
oleh disfungsi sumsum tulang, sedemikian sehingga sel darah yang mati tidak di
ganti. Anemia aplastik ini juga merupakan anemia yang disertai dengan
pansitopenia pada darah tepi yang disebabkan oleh kelainan primer pada sumsum
tulang dalam bentuk aplasia atau hipoplasia tanpa ada infiltrasi, supresi, atau
pendesakan sumsum tulang. (Handayani & Andi, 2008)

2.) Anemia Defisiensi Besi


Anemia ini dapat terjadi akibat pasokan zat besi dari makanan yang tidak
memadai merupakan masalah gizi yang paling dominan di Amerika Serikat, dan
merupakan masalah gangguan mineral yang paling sering ditemukan. Bayi
prematur terutama merupakan kelompok yang berisiko karena kurangnya pasokan
zat besi pada saat janin. Remaja juga menghadapi risiko karena laju
pertumbuhannya yang cepat dikombinasikan dengan kebiasaan makan yang buruk
(Wong, 2008).

3.) Anemia Megaloblastik


Menurut Handayani & Andi tahun 2008, anemia yang disebabkan oleh defisiensi
vitamin B12 dan defisiensi asam folat memperlihatkan perubahan-perubahan
sumsum tulang dan darah perifer yang identik. Asam folat merupakan bahan
esensial untuk sintesis DNA (Desoxyribonucleic acid) dan RNA (Ribonucleid
acid), yang penting sekali untuk metabolisme sel dan pematangan sel. Jadi bila
terjadi defisiensi asam folat, maka pematangan sel akan terganggu (Ngastiah,
2005)

4.) Anemia Hemolitik


Menurut Handayani & Andi tahun 2008, Anemia hemolitik adalah anemia yang
disebabkan oleh proses hemolisis, yaitu pemecahan eritrosit dalam pembuluh
darah sebelum waktunya. Umur eritrosit adalah 100-120 hari (Ngastiah, 2005).

5.) Anemia sel sabit


Anemia sel sabit merupakan suatu gangguan resesif otosom yang disebabkan oleh
pewaris dua salinan gen hemoglobin defektif, satu buah dari masing-masing orang
tua. Hemoglobin yang cacat itu disebut hemoglobin S (HbS), menjadi kaku dan
membentuk konfigurasi seperti sabit apabila terpajan oksigen berkadar rendah.
(Handayani & Andi, 2008)
2. Etiologi
Anemia bukanlh suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity), tetapi
merupakan gejala bebrbagai macam penyakit dasar ( underlying disease). Pada dasanya
anemia disebaabkaan oleh karena: 1) gangguan peembeentukkan eriitrrosit oleh sumsum
tulang; 2). Kehilangan darah keluar tubuh (perdarhan);3) prpses pengahncuran erotrosit
oleh tubuh sebelum wktunya (hemolisis).

3. Patofisiologi
Menurut wiwik dan Harry Wibowo patofisiologi pada klien anemia adalah
timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilanan sel
darah merah yang berlebihan atau keduanya, kegagalan sum-sum tulang dapat terjadi
akibat nutrisi.

Timbulnya anemia mencerminkaan adanya keagaglan sumsum atau


kehilangan sel darah merah secara berlbihan, atau kedaunyaa titik. Kegagala sumsum
dappat tejadi akibat kekuraangan nutrisi, pejanan toksik, invansi tumor, atau kebanykkan
akibaat penyenan yang tidak dikethui. Sel darah merah dapat hilang melalui perderahan
ataau hemplissis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel drah merah yang tidk sesui
dengan kethaanan sel darah merah yang mnyababkan dekstuksi sel darah merah,

Kesimpulan mngenai apakah suatu anemia, pada pasieen disebabkan oleh


pengahncuran sel darah meerahatau produksi sel daraah merah, yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperoleh dengn dasar:
1) Hitumg retikulosit dalam sirkulasi darah
2) Derajat poliferasi sel darah meerah mudah dalam sumsum tulang dan cara
peematanganya, sperti yang terlihat dalam biopsi,
3) Dan ada tidaknya hiperbilirubenemia dan hemoglobinemia.
4. Manifestasi Klinis
Karena system organ dapat terkena, maka pada anemia dapat menimbulkan
manifestasi klinis yang luas tergantung pada kecepatan timbulnya anemi usia mekanisme
komplensasi tingkat aktifitasnya, keadaan penyakit yang mendasarinya dan beratnya
anemia. Secara umum, gejalah anemia adalah :
1.) Hb menurun ( <10 g / dl) Trombositosis / trombositopenia, panistopenia
2.) Penurunan BB kelemahan
3.) Tachicardia, TD menurun pengisian kapiler lambat, ektremitas dingin, palpitasi, kulit
pucat
4.) Mudah lelah : Sering istirahat, nafas pendek, proses menghisap yang buruk (bayi)
5.) Sakit kepala, pusing, kunang-kunang, peka rangsang.

5. Penatalaksaan
Pada setiap kasus anemia perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.) Terapi spesifik sebaiknya diberikan setelah diagnosis ditegakkan.
2.) Terapi diberikan atas indikasi yang jelas, rasional, dan efisien.

Jenis-jenis terapi yang dapat diberikan adalah:


1.) Terapi gawat darurat
Pada kasus anemia dengan payah jantung atau ancaman payah jantung, maka harus
segera diberikan terapi darurat dengan transfusi sel darah merah dimampatkan (PRC)
untuk mencegah perburukan payah jantung tersebut.
2.) Terapi kauzal
Terapi kauzal merupakan terapi untuk mengobati penyakit dasar yang menjadi
penyebab anemia. Misalnya anemia defisiensi besi yang disebabkan oleh infeksi
cacing tambang harus diberikan obat anti cacing tambang.
3.) Terapi empiria
Terapi yang terpaksa diberikan sebelum diagnosis dapat dipastikan, jika terapi ini
berhasil, berarti diagnosis dapat dilakukan. Terapi ini hanya dilakukan jika tidak
tersedia fasilitas diagnosis yang mencukupi.
Wiwik Handayani, 2008.

6. Komplikasi
1.) Perkembangan otot buruk
2.) Daya konsentrasi menurun
3.) Hasil uji perkembangan menurun
4.) Kemampuan mengelola informasi yang didengar menurun
5.) Sepsis
6.) Sensitisasi terhadap antigen donor yang beraksi silang menyebabkan perdarahan yang
tidak terkendali
7.) Cangkokan vs penyakit hospes (timbul setelah pencangkokan sum-sum tulang).
8.) Kegagalan cangkok sum-sum

7. Pencegahan
1.) Makanan yang kaya akan zat besi seperti (Daging sapi, kacang-kacangan, sereal
yang diperkaya zat besi, sayuran berdaun hijau gelap, dan buah kering)
2.) Makanan yang kaya akan asam folat, seperti (Buah-buahan, sayuran berdaun hijau
gelap, kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, gandum, sereal, pasta, dan nasi)
3.) Makanan yang kaya akan vitamin B12, seperti (Daging, susu, keju, sereal, dan
makanan dari kedelai (tempe atau tahu).
4.) Makanan yang kaya akan vitamin C, seperti (Jeruk, merica, brokoli, tomat, melon,
dan stroberi). Makanan-makanan tersebut dapat membantu penyerapan zat besi.