Anda di halaman 1dari 11

3.

KONVEKSI
Perpindahan panas adalah salah satu faktor yang sangat menentukan
operasional suatu pabrik Kimia. Penyelesaian soal-soal perpindahan kalor secara
kuantitatif biasanya didasarkan pada neraca energi dan perkiraan laju perpindahan
kalor. Perpindahan panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara 2
bagian benda. Panas akan berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur yang lebih
rendah. Panas dapat berpindah dengan 3 cara, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Pada peristiwa konduksi, panas akan berpindah tanpa diiukti aliran medium
perpindahan panas. Panas akaan berpindah secara estafet dari satu partikel ke partikel
yang lainnya dalam medium tersebut. Pada peristiwa konveksi, perpindahan panas
terjadi karena terbawa aliran fluida. Secara termodinamika, konveksi dinyatakan
sebagai aliran entalpi, bukan aliran panas. Pada peristiwa radiasi, energi berpindah
melalui gelombang elektromagnetik.
Ada beberapa alat penukar panas yang umum digunakan pada industri. Alat-
alat penukar panas tersebut antara lain: double pipe, shell and tube, plate-frame,
spiral, dan lamella.Penukar panas jenis plate and frame mulai dikembangkan pada
akhir tahun 1950-N. Banyak penelitian yang telah dilakukan pada penukar panas jenis
ini, namun umumnya fluida operasi yang digunakan adalah air.
Misalnya fluida yang digunakan adalah udara, udara dimanfaatkan sebagai
fluida operasi karena kalor yang dihasilkan flue gas dari operasi suatu pabrik belum
dimanfaatkan secara maksimal. Percobaan ini juga merupakan salah satu usaha
pengakjian lebih dalam mengenai flue gas.
Hasil percobaan diharapkan tampil dalam bentuk korelasi NNU = a.NREb.
Dengan demikian didapat korelasi antara bilangan Reynolds dengan bilangan Nusselt.
Pengoperasian suatu pabrik tidak lepas dari proses perpindahan panas yang
terjadi antara dua fluida yang berbeda temperaturnya. Alat yang digunakan adalah
penukar panas (heat exchanger). Penukar panas adalah peralatan proses yang
digunakan untuk memindahkan panas dari dua fluida yang berbeda dimana
perpindahan panasnya dapat terjadi secara langsusng (kedua fluida mengalami
pengontakan) ataupun secara tidak langsung (dibatasi oleh suatu dinidng pemisah/
sekat). Fluida yang mengalami pertukaran panas dapat berupa fasa cair-cair, cair-gas,
dan gas-gas.
Dalam melakukan perancangan penukar panas harus diperhitungkan factor
perpindahan panas pada fluida dan kebutuhan daya pompa mekanis untuk mengatasi
gaya gesek dan menggerakkan fluida. Penukar panas untuk fluida kerja yang
memiliki rapat massa besar (fluida cair), energi yang hilang akibat gesekan reletif
lebih kecil daripada energi yang dibutuhkan sehingga pengaruh yang merugikan ini
jarang diperhitungkan.
Sedangkan untuk fluida yang rapat massanya rendah seperti gas, penambahan
energy mekanik dapat lebih besar dari laju panas yang dipertukarkan. Pada sistem
embangkit daya termal, energi mekanik dapat mencapai 4 sampai 10 kali energi panas
yang dibutuhkan.
Transfer panas melalui pergerakan dan pencampuran molekuler dari suatu liquid atau gas
disebut dengan konveksi.
Konveksi melibatkan transfer panas oleh pergerakan dan pencampuran secara
macroskopis suatu fluida. Teorema konveksi natural digunakan apabila pergerakan
dan pencampuran ini disebabkan oleh variasi densitas yang dihasilkan oleh perbedaan
temperature diantara fluida. Teorema forced convection digunakan apabila
pencampuran dan pergerakan tersebut disebabkan oleh gaya luar, seperti pompa.
Transfer panas dari suatu air radiator yang panas menuju sebuah ruangan adalah
sebuah contoh transfer panas oleh konveksi natural. Transfer panas dari permukaan
heat exchanger menuju bulk dari fluida yang dipompakan ke dalam heat exchanger
adalah suatu contoh dari forced convection.
Transfer panas melalui konveksi lebih sulit untuk dianalisa disbanding dengan
konduksi, karena tidak ada single property dari media transfer, seperti thermal
konduktivity pada konduksi, dapat digunakan untuk menggambarkan mekanismenya.
Perpindahan panas melalui konveksi sangat bervariasi pada setiap keadaan
(tergantung pada kondisi aliran fluidanya), dan ini ssering kali dipasangkan dengan
model aliran fluidanya. Dalam prakteknya, analisa transfer panas oleh konveksi
dilakukan secara empiris (dengan observasi langsung).
Transfer panas secara konveksi diperlakukan secara empiris dikarenakan
beberapa factor yang mempengaruhi macetnya film tipis, yaitu :
 Fluid Velocity (kecepatan fluida)
 Fluid viscosity (kekentalan fluida)
 Heat flux
 Surface roughness
 Type of flow (single-phase/two-phase)

Konveksi melibatkan transfer panas diantara suatu permukaan dengan


temperature (Ts) dan fluida pada temperature bulk (Tb). Definisi nyata dari sebuah
variasi bulk temperature (Tb) bergantung pada detail dari situasi yang terjadi. Untuk
aliran yang bersebelahan dengan permukaan yang panas atau yang dingin, T b adalah
temperature fluida yang agak jauh dari permukaan. Untuk boiling atau kondensasi, Tb
adalah temperature saturation dari fluida. Untuk aliran di dalam sebuah pipa, T b
adalah temperature rata-rata yang terukur pada sebuah particular crosssection dari
pipa.
Hubungan dasar untuk transfer panas oleh konveksi memiliki bentuk yang
mirip dengan transfer panas secara konduksi, yaitu :
Q = h A T

Dimana :
Q = rate of heat transfer (Btu/hr)
h = convective heat transfer coefficient (Btu/hr-ft2-°F)
A = surface area for heat transfer (ft2)
T = temperature difference (°F)
Koefisien konveksi (h) sangat bergantung pada physical properties fluida dan
keadaan fisika. Secara khas, koefisien konveksi transfer panas untuk aliran laminar
relative rendah apabila dibandingkan koefisien konveksi untuk aliran turbulent. Hal
ini dikarenakan aliran turbulent memiliki lebih sedikit hambatan film layer fluida
pada permukaan transfer panas. Nilai h telah diukur dan ditabulasi untuk fluida-
dluida yang umum ditemui dan kondisi aliran yang terjadi pada transfer panas secara
konveksi.
Banyak aplikasi yang menyertakan transfer panas secara konveksi seperti pada
perpipaan, tubes, atau pada beberapa peralatan silindris lainnya. Dalam beberapa
keadaan, area permukaan transfer panas normalnya dijelaskan pada persamaan
konveksi (Q = h A T) variasinya terjadi pada aliran panas masuk ke silinder. Dengan
kata lain, perbedaan temperatur terjadi diantara bagian dalam dan luar pipa, sama
dengan perbedaan temperature di sepanjang pipa, mengharuskan penggunaan
beberapa nilai temperature rata-rata untuk dapat menganalisa masalah yang terjadi.
Perbedaan temperature rata-rata ini disebut sebagai Log Mean Temperature
Difference (LMTD).

Definisi LMTD ini memberikan dua asumsi yang penting, yaitu :


1. Panas spesifik fluida tidak memberika variasi yang signifikan dengan
temperature, dan
2. Koefisien konveksi relative konstan di sepanjang heat exchanger.

Overall Heat Transfer Coefficient


Banyak proses transfer panas yang ditemui dalam nuclear facilities melibatkan
kombinasi dari konduksi dan konveksi dalam satu system. Sebagai contoh,
perpindahan panas didalam sebuah generator steam melibatkan konveksi dari bulk
reactor pendingin menuju permukaan bagian dalam tube pada steam generator,
konduksi di sepanjang dinding tube, dan konveksi dari permukaan tube bagian luar
menuju sisi fluida.

Pada kondisi kombinasi perpindahan panas untuk heat exchanger, terdapat dua
nilai untuk h. koefisien konveksi (h) untuk film fluida dibagian dalam tube dan
sebuah koefisien konveksi untuk film fluida dibagian luar tubes. Konduktivitas
thermal (k) dan ketebalan dinding tube (x) harus duperhitungkan. Suatu overall heat
transfer coefficient (Uo) harus di tentukan di awal. Biasanya hunbungan yang terjadi
adalah antara total rate of heat transfer (Q) pada cross-sectional area for heat
transfer (Ao) dan overall heat transfer coefficient (Uo). Hubungan overall heat
transfer coefficient pada konduksi dan konveksi terlihat pada figure 6.

Menggunakan kembali persamaan konveksi ;

Dimana nilai Uo dapat dilihat pada fig.6.


Sebuah contoh penggunaan konsep ini pada koordinat silindris diilustrasikan
oleh figure 7. Dimana diperlihatkan sebuah kombinasi proses transfer panas.

Menggunakan gambar di atas dapat mewakili aliran didalam sebuah pipa,


perpindahan panas oleh konveksi terjadi antara temperature T 1 dan T2; perpindahan
panas secara konduksi terjadi antara temperature T2 dan T3; dan perpindahan panas
secara konveksi terjadi lagi pada temperature T3 dan T4. Dengan demikian, terdapat
tiga proses yang terlibat. Masing-masing memiliki koefisient heat transfer, cross-
sectional area untuk perpindahan panas, dan perbedaan temperature. Hubungan
mendasar untuk ketiga proses ini dapat di tunjukkan menggunakan persamaan berikut
ini :
dapat ditunjukkan sebagai jumlah dari To tiap-tiap proses.

Apabila persamaan dasar untuk tiap proses digabungkan menjadi temperature


difference secara keseluruhan dan di substitusikan ke dalam persamaan di atas, akan
dihasilkan;

Persamaan di atas untuk overall transfer coefficient dalam koordinat silindris


relative masih sulit untuk digunakan. Persamaan tersebut dapat disederhanakan tanpa
menghilangkan akurasi perhitungan apabila tube yang digunakan memiliki dinding
yang tipis, dalam artian perbandingan ketebalan dinding tube jauh lebih kecil
daripada diameter tube. Untuk sebuah tube berdinding tipis, luas area permukaan
bagian dalam (A1), area permukaan bagian luar (A2), dan Log Mean surface Area
(A1m), masing-masing nilainya saling mendekati (sama). Asumsi bahwa A 1, A2, dan
A1m adalah sama dan juga sama dengan Ao membolehkan kita untuk memodifikasinya
menjadi persamaan yang lebih sederhana.

Proses perpindahan panas secara konveksi bergantung erat pada properties


fluida yang digunakan. Dalam keadaan yang selalu memiliki hubungan, the
convective heat transfer coefficient (h), the overall coefficient (Uo), dan properties
fluida yang lainnya dapat mempengaruhi apabila dilakukan perubahan temperature
yang besar dengan menggunakan peralatan proses perpindahan panas secara
konveksi. Hal ini sangat sesuai jika properties fluida sangat tergantung pada
temperature. Pada kondisi yang seperti itu, temperature untuk setiap perubahan
properties harus diubah ke dalam bentuk nilai rata-rata, meskipun menggunakan
temperature yang berbeda pada bagian dalam atau bagian luar tubes.
Untuk aliran internal, temperature bulk atau temperature rata-rata diperoleh
melalui analisa dengan menggunakan prinsip konservasi energy. Untuk aliran
eksternal, sebuah temperature rata-rata film biasanya dihitung, dengan sebuah
temperature rata-rata free stream dan temperatur permukaan zat padat. Pada setiap
keadaan, sebuah temperature rata-rata digunakan untuk menentukan properties fluida
untuk digunakan dalam permasalahan perpindahan panas. Contoh berikut ini
menunjukkan penggunaan beberapa prinsip dengan memecahkan permasalahan
koefisien perpindahan panas secara konveksi dimana temperature bulk harus
dihitung.
Problem solving

Sebuah dinding flat di bawa ke lingkungan. Dinding tersebut dilapisi oleh


sebuah layer of insulation setebal 1 in. Dimana konduktivitas thermalnya sebesar 0.8
Btu/hr.ft.oF. Temperatur dinding pada bagian dalam insulation adalah 600 oF. Dinding
tersebut kehilangan panas ke lingkungan secara konveksi pada permukaan insulation.
Nilai rata-rata koefisien konveksi perpindahan panas pada permukaan insulation
adalah 950 Btu/hr.ft2.oF. Hitunglah temperature bulk lingkungan (Tb) apabila
permukaan luar insulation tidak melebihi 105 oF.
Kesimpulan Perpindahan Panas Secara Konveksi
1. Convection heat transfer is the transfer of thermal energy by the mixing and
motion of a fluid or gas.
2. Konveksi dapat dikatakan natural konveksi atau forced convection adalah
dengan meninjau apa yang menyebabkan medium masuk ke dalam motion.
3. Apabila konduksi dan konveksi terjadi dalam satu system, penyelesaiannya
haruslah dengan menentukan overall heat transfer coefficient (Uo).
4. Persamaan dasar perpindahan panas secara konveksi adalah :