Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

PERENCANAAN IPAL

4.1 Opsi / Pilihan Teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah


Dalam pengolahan air limbah terdapat berbagai macam unit-unit pengolahan yang dapat
digunakan, dan secara umum dapat diklasifikasi menjadi 2 macam unit pengolahan, antara lain
ialah unit operasi dan unit proses. Unit operasi digunakan dalam pengolahan air limbah melalui
pemanfaatan gaya-gaya fisik. Unitunti operasi yang umum digunakan dalam pengolahan air
limbah diantaranya ialah; screening, pereduksi ukuran partikel, ekualisasi debit aliran, koagulasi
dan flokulasi, grit removal, Sedimentasi, high-rate Clarification, accelerated gravity separation,
flotation, transfer oksigen, aerasi, dan volatilisasi & stripping VOCs (Metclaf & Eddy, 2004)

Unit pengolahan lainnya yaitu unit proses digunakan dalam pengolahan air limbah
melalui pemanfaatan reaksi-reaksi kimia. Unit-unit proses penting yang umum digunakan dalam
pengolahan air limbah antara lain adalah chemical precipitation, desinfection and oxidation,
advanced oxidation process, ion exchange, serta netralisasi, pengontrolan skala, dan stabilisasi
bahan kimia.

Pada satu kesatuan instalasi pengolahan air limbah, unit operasi dan proses bersinergi
dalam satu sistem untuk menghasilkan level pengolahan air limbah melalui tahapan yang
berbeda-beda . Tahapan tersebut antara lain ialah pra-pengolahan (preliminary treatment),
pengolahan primer (primary treatment), pengolahan sekunder (secondary treatment), dan
pengolahan tersier (tertiary treatment/advanced treatment).

A. Pra-pengolahan (preliminary treatment)

Pada tahapan pra-pengolahan, mater-materi padatan disishkan karena berpotensi mengganggu


alat-alay pengolahan yang digunakan, atau dapat menyebabkan permasalahan dalam hal
perawatan dan operasional pengolahan dalam isntalasi air limbah. Mater-materi padatan
tersebut antara lain ialah kayu, benda-benda besar mengapung, grit dan minyak & lemak. Unit-
unit yang biasa digunakan dalam tahapan ini antara lain ialah:

a) Unit Screening & Shredding


Unit Screening yang umum digunakan dalam instalasi pengolahan air limbah adalah jenis
coarse screen yang selanjytnya biasa disebut dengan bar racks atau bar screen. Coarse
screen ini digunakan untuk melindungi pompa, keran (valve), pipa, dan alat-alat
pengolahan lain dari bahaya penyumbatan oleh material-material padatan besar, dan
umunya diletakkan sebelum aliran mendekati (di depan) pompa atau unit grit removal.
Dan untuk instalasi pengolahan air limbah skala kecil hingga sedang, jenis hand-cleaned
coarse screen adalah yang paling umum diterapkan.
b) Communitor
Pada unit screening terkadang terjadi proses pencacahan yang dilanjutkan dengan
pengembalian air limbah ke alirannya. Untuk tujuan ini, umumnya digunakan alat
pencacah yang disebut communitor. Communitor biasanya diletakkan sejalan dengan jalur
aliran dan mengintersepsi padatan kasar serta memecahnya menjadi berukuran kurang
lebih 8 mm (Peavy, Rowe dan Tchobanoglus, 1985)
Pencacah terdiri dari drum cast iron atau bahan lain yang berlubang-lubang, berotasi
pada sumbuh vertikal dengan motor pengerak dan reduction gearbox diatasnya. Cara
kerja dari comminutor ini adalah padatan yang terbawa aliran masuk ke drum dan
dipotong oleh gigi-gigi pemotongyang dipasang pada plat pemotong permanen yang
kemudian turun melalui sifon menuju saluran unit berikutnya.
b) Pengolahan Primer
Pada tahap pengolahan primer umumnya diterapkan pengolahan secara fisik, contohnya
ialah koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi. Tahapan ini pada intinya ialah menyisihkan materi
tersuspensi dan materi organik dalam air limbah.

a) Unit Koagulasi (Continous Rapid Mixing)


Unit koagulasi dilakukan melalui mekanisme continuos rapid mixing berfungsi untuk
mencampur bahan kimia ke dalam air limbah. Tujuan dari proses ini adalah untu
meningkatkan densitas dari partikel koloid yang terdispersi dalam air limbah sehingga
partikel tersebut dapat mengendap dan selanjutnya dapat disisihkan secara fisik. Saat
kaogulan dicampurkan ke dalam air limbah, maka akan terjadi destabilisasi koloid.
Mekanisme continous rapid mixing dibutuhkan untuk menciptakan pencampuran dan
agitasi yang intens pengolah dan untuk menciptakan kontak cukup antar koagulan
dengan partikel tersuspensi.
b) Unit Flokulasi (Slow Mixing)
Nerupakan unti operasi pengolahan air limbah yang digunakan untuk menyatukan
mikroflok-mikroflok yang terbentuk dari proses koagulasi menjadi flok dalam ukuran
yang lebih besar, sehingga dapat mengendap akibat densitasnya meningkat. Dalam
operasi ini, mekanisme pencampuran atau agitasi dilakukan dalam kecepatan yang relatif
lebih rendah dibandingkan pada unit koagulasi agar flok-flok yang sudah terbentuk tidak
mudah pecah.
c) Unit Aerasi
Aerasi merupakan salah satu proses dari transfer gas yang lebih dikhususkna pada
transfer oksigen dari fase gas ke fasa cair. Fungs utama aerasi dalam pengolahan air
adalah melarukan oksigen ke dalam air untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut
dalam air dan melepaskna kandungan gas-gas yang terlarut dalam air serta membantu
pengaduka air. Peavy (1985) menyatakan bahwa aerasi digunakan untuk menambhakan
oksigen ke dalam air buangan. Selanjutnya kinerja unit aerasi akan dibahas pada
parameter kinerja unit pengolahan.
d) Unit Sedimentasi Primer
Sedimentasi primer adalah unit operasi yang di desain untuk mengkonsentrasikan dan
menghilangkan padatan organik tersuspensi dari air limbah. Sedimentasi primer
berlangsung dalam kondisi bak yangrelatif tenang dan dalam kondisi normal. Unit operasi
ini mampu menghilangkan 50-70% padatan tersuspensi dan 25-40% BOD5 (Metcalf %
Eddy, 2004). Secara umum, tipe sedimentasi primer terdiri atas 3 jenis yaitu (1)
Horizontal Flow (2) Inclined Surface (3) Solids Contact. Pada penjernih (clarifier) jenis
aliran horizontal, yang secara fisik dapat berupa persegi panjang (rectangular), persegi
empat (square), maupun sirkular (circular).
Menurut Qasim (1985), keuntungan penggunaan pernjernih persegi panjang
dibandingkan penjernih sirkular diantaranya.
1. Membutuhkan area yang lebih sedikit ketika beberapa unti dioperasikan
2. Memberikan keuntungan ekonomi dengan menggunakan common walls untuk
beberapa unit
3. Lebih mudah dalam mengontrol bau
4. Menyediakan waktu perjalanan yang kebih panjang untuk terjadinya
pengendapan
5. Menyediakan lebih sedikit sirkuit pendek
6. Menghasilkan kehilangan yang lebih sedikit dibagian inlet dan outlet
7. Membutuhkan konsumsi tenaga yang lebih sedikit untuk oengumpulan dan
penghilangan lumpur.

Meskipun demikian, keuntungan tersebut juga diikuti kerugian diantaranya:

1. Adanya kemungkinan area mati


2. Sensitif terhadap peningkatan debit secara tiba-tiba

Pada bebrapa instalasi pengolahan air limbah, setelah dilakukan pengolahan pada
tahapan primer, diterapkan pula pengolahan primer lanjutan (advanced primary
treatment). Fungsi diterapkannya tahap pengolahan ini ialah untuk meningkatkan level
penyisihan padatan tersuspensi dan materi organik dalam air limbah.

Sedangkan pada sedimentasi sekunder biomassa yang dihailkan dari pengolahan


sekunder memrepresentatifkan sejumlah beban organik yang harus dihilangkan agar
dapat meme nuhi standar effluent yang telah diterapkan. Pada sistem lumpur aktif,
padatan yang dihasilkan dari pengolahan sekunder tersebut dihilangkan dengan
menggunakan unir operasi sedimentasi sekunder.

c) Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)

Effluent yang berasal dari pengolahan primer masih mengandung 40 sampai 50 persen
jumlah padatan tersuspensi dan secara virtual padatan terlarut dan padatan inorganik (Peavy,
rowe, & Tchobanoglus, 1987). Untuk memenuhi standar baku mutu, fraksi organik ini, baik
padatan tersuspensi maupun padatan terlarut harus direduksi. Penghilangan organik ini
mengacu pada pengolahan sekunder, yang dapat terdiri dari proses kimia-fisika maupun proses
biologis. Kombinasi dari operasi kimia-fisika seperti koagulasi, microscreening, filtrasi, oksidasi
kimia, adsorpsi karbon, dan proses lain dapat digunakan untuk menghilangkan padatan dan
mereduksi BOD sampai pada batas yang diterima. Meskipun demikian, proses ini merupakanopsi
yang berbiaya tinggi secara kapital maupun operasional sehingga jarang digunakan. Pada
prakteknya, proses biologi merupakan proses yang umum digunakan sebagai pengolahan
sekunder bagi air limbah perkotaan.

Mekanisme pengolahan secra bologi layak untuk dilakukan pada air limbah karena
hampir seluruh air limbah menganudng konstituen-konstituen yang dapat terdegradasi secara
biologi (biodegradable). Sasaran dari pengolahan air limbah secara biologi antara lain adalah:

1. Mentransformasi konstituen terlarut dan biodegradable particulat menjadi produk akhir


yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan,
2. Menyatukan padatan koloid tersuspensi dan yang bersifat non settleable menjadi flok atau
biofilm
3. Mentrasnsformasi atau menyisihkan kandungan nutrien, dan
4. Pada beberapa penerapan pengolahan , menyisihkan konstituen organik spesifik dengan
kandungan yang kecil dalam air limbah (Metcalf & Eddy , 2004)

Prinsip dasar pengolahan secara biologi adalah mengubah bahan-bahan pencemar


tersuspensi maupun terlarut dalam air limbah, menjadi bentuk ;ain berupa gas maupun jaringan
sel yang dapat dipisahkan secara disik seperti pengendapan (Metcalf & Eddy, 2004). Proses
pengolahan air limbah secara biologi dapat dibagi menjadi 2 kategori utama:
A. Suspended Growth
Pada proses suspended growth, mikroorganisme yang berperan dalam pengolahan berada
dalam suspensi likuid air limbah melalui pencampuran yang sesuai. Proses suspended
growth yang banyak diterapkan pada pengolahan air limbah domestik dioperasikan
dalam keadaan aerob melalui proses activated-sludge. Pada proses suspended growth
penerapan yang umum digunakan adalah proses activated-sludge.
B. Attach Growth
Pada proses attached growth mikroorganisme yang berperan mengkonversi materi
organik atau, hidup dan berkembang menyatu pada material inert tertentu. Materi
organik dan disisihkan saat air limbah mengalir melewati aterial inert tersebut.
Materi yang digunakan sebagai tempat hidup dan pertumbuhan mikroorganisme antara
lain ialah batu, gravel, pasir, kayu, plastik, dan materi sintetik. Proses attached growth
dapat berlangsung aerobik maupun anaerobik, dan material inert yang digunakan sebagai
tempat hidup organisme dapat terendap sepenuhnya dalam air limbah ataupun tidak
terendam. Penerapan proses attached growth yang umum dilakukan adalah trickling filer.
Pada trickling filter, air limbah dialirkan secara merata dari atas tangki yang berisi
material inertnya. Batu merupakan material inert (Packing material) yang umum
digunakan pada trickling filter.

Terdapat beberapa macam pengolahan biologis. Proses pengolahan dasar dari activated
sludge dibagi menjadi 3 jenis, antara lain adalah:

A. Prosen dengan reaktor yang menggunakan mikroorganisme yang dijaga dalam suspensi
dengan adanya operasi aerasi
B. Pemisahan antara padat dengan likuid, umumnya dilakukan pada tangki sedimentasi
C. Sistem recylce dengan mengembalikan padatan dari unit pemisahan untuk kembali ke
reaktor. Proses yang terjadi ialah air limbah yang masuk kedalam reaktor aerasi
dicampur dengan recycle activated sludge .
Alternatif Pengolahan 1 (Kolam Anaerob)

3 nutrient

7 9
5 6 8 10 Effluent
`
1 2

Air Resirkulasi lumpur

lumpur
4
Limbah

11 12 13 Padatan
Lumpur

Gambar 4. 1 Diagram Alir Alternatif Pengolahan Air Limbah 1

Keterangan;

1. Saluran Pembawa 7. Bak Pengendap I 13. Sludge Drying Bed


2. Sumur Pengumpul 8. Kolam Anaerob
3. Pompa 9. Secondary Clarifier
4. Bar Screen 10. Desinfeksi
5. Grit Chamber 11 Thickener
6. Bak Ekualisasi 12 Digester

Merupakan Preliminary Treatment

Merupakan Primary Treatment

Merupakan Secondary Treatment

Merupakan Advanced Treatment

Tabel 4. 1 Kelebihan dan Kekurangan Alternatif Pengolahan 1

Kelebihan Kekurangan
- Kebutuhan energi relatif rendah - Waktu yang dibutuhkan untuk
karena tidak memerlukan aerasi mendapatkan jumlah lumpur yang
- Peroduksi lumpur sedikit, relatif lebih cukup relatif lama
stabil dan mudah dikeringkan - Sesitif terhadap perubahan
- Tidak memerlukan banyak bahan lingkungan dan operasional
tambah untuk memperlancar proses - Terdapat kemungkinan timbulnya
penguraian bau dan gas yang bersifta korosif
- Dapat dibebani dengan air limbah - Diperluka pengolahan tambahan agar
yang mempunyai kandungan bahan air hasil olahan memenuhi standar
organik yang tinggi yang berlaku
Sumber :
Alternatif Pengolahan 2 (Lumpur Aktif konvensional)

3 nutrient

7 9
5 6 8 10 Effluent
`
1 2

Air Resirkulasi lumpur

lumpur
4
Limbah

11 12 13 Padatan
Lumpur

Gambar 4. 2 Diagram Alir Alternatif Pengolahan Air Limbah 2

Keterangan:

1. Saluran Pembawa 7. Bak Pengendap I 13. Sludge Drying Bed


2. Sumur Pengumpul 8. Aeration Tank
3. Pompa 9. Secondary Clarifier
4. Bar Screen 10. Desinfeksi
5. Grit Chamber 11 Thickener
6. Bak Ekualisasi 12 Digester

Merupakan Preliminary Treatment

Merupakan Primary Treatment

Merupakan Secondary Treatment

Merupakan Advanced Treatment

Tabel 4. 2 Kelebihan dan Kekurangan Alternatif Pengolahan 2

Kelebihan Kekurangan
- Tahan terhadap hydraulic shock load - Konsumsi energi tinggi, memerlukan
- Dapat dioperasikan pada berbagai suplai listrik yang konstan
konsentrasi organik - Memerluka modal dan biaya
- Reduksi BOD dan Patogen tinggi operasiona; yang tinggi
- Memungkinkan penyisihan nutrien - Memerlukan operasi dan perawatan
- Dapat dimodifikasi untuk oleh tenaga ahli
menyesuaikan batas pembuangan - Sensitif terhadap bahan kimia yang
- Produksi lumpur kecil. Lumpur telah rumiy dan masalah mikroorganisme
stabil - Memerlukan desain dan konstruksi
- Kebutuhan lahan sedang (Dapat yang urmit
dibangun dalam tanah) - Effluent dan lumpur masih diperlukan
- Mudah dioperasikan pengolahan tingkat lanjut
Sumber:
Alternatif Pengolahan 3 (Trickling Filter)

3 nutrient

7 9
5 6 8 10 Effluent
`
1 2

lumpur
Air Resirkulasi lumpur
4
Limbah

11 12 13 Padatan
Lumpur

Gambar 4. 3 Diagram Alir Alternatif Pengolahan Air Limbah 3

Keterangan:

1. Saluran Pembawa 7. Bak Pengendap I 13. Sludge Drying Bed


2. Sumur Pengumpul 8. Trickling Filter
3. Pompa 9. Secondary Clarifier
4. Bar Screen 10. Desinfeksi
5. Grit Chamber 11 Thickener
6. Bak Ekualisasi 12 Digester

Merupakan Preliminary Treatment

Merupakan Primary Treatment

Merupakan Secondary Treatment

Merupakan Advanced Treatment

Tabel 4. 3 Kelebihan dan Kekurangan Alternatif 3 (Trickling Filter)

Kelebihan Kekurangan
- Membutuhkan energi lebih sedikit - Timbul lalat dan bau yang berasal
- Lumpur lebih mudah dipekatkan dari reaktor.
- Lebih cepat pulih dari shock loading - Sering terjadi pengelupasan biofilm
- Tidak membutuhkan lahan yang luas dalam jumlah yang besar
- Biaya konstruksi relatif murah - Memerlukan proses stabilisasi
lumpur
- Biaya operasional dan pemeliharaan
yang relatif mahal
- Kehilangan tekanan cukup besar
(antara 1,8-3,6 atm)
Sumber: Valentina (2008)
4.2 Sistem Pengolahan Air Limbah Terpilih

Beberapa alternatif pengolahan air buangan yang dapat dipilih sehubungan dengan beban
pengolahan yang harus diolah sehingga dapat menghasilkan efluen yang sesuai dengan baku
mutu air limbah yang ditentukan. Adapun kriteria pemilihan suatu alternatif pengolahan adalah:

a) Efisiensi Pengolahan
Efisiensi pengolahan berhubungan dengan kemampuan proses tersebut dalam
mengolah air limbah. Efisiensi pengolahan bertujuan untuk dapat menghasilkan
effluent yang memenuhi persyaratan sesuai baku mutu yang telah ditetapkan
sebelum dimanfaatkan kembali maupun dibuang ke badan air.
b) Aspek Teknis
Aspek teknis meliputi kemudahan dari segi konstruksi, ketersediaan tenaga ahli,
untuk mendapatkan bahan-bahan konstruksi, operasi maupun pemeliharan.
 Segi Konstruksi
Menyangkut teknis pelaksanaan, ketersediaan tenaga ahli, kemudahan material
konstruksi, dan instalasi bangunan. Menyangkut teknis pelaksanaan,
ketersediaan tenaga ahli, kemudahan material konstruksi, dan instalasi
bangunan.
 Segi Operasi dan Pemeliharaan
Menyangkut ketersediaan tenaga ahli, kemudahan pengoperasian dan
pemeliharaan instalasi
c) Aspek ekonomi
Aspek ekonomis meliputi pembiayaan dalam hal konstruksi, operasi maupun
pemeliharaan dari instalasi bangunan pengolahan air buangan.
d) Aspek Lingkungan
Aspek lingkungan meliputi kemungkinan adanya gangguan terhadap penduduk dan
lingkungan, yaitu yang berhubungan dengan keseimbangan ekologis, serta
penggunaan lahan.
Tabel 4. 4 Perbandingan Aspek Teknis untuk ke 3 Alternatif Pengolahan

Aspek Teknis Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3


Kemudahan Operasional Kebutuhan energi Metode penangan Tidak membutuhkan
relatif rendah karena limbah yang sulit, dan pengawasan yang ketat
tidak memerlukan teknologi
aerasi

Sumber daya manusia Tidak memerlukan Memerlukan tenaga Memerlukan tenaga


tenaga operasional profesional yang lebih terlatih untuk operasi
yang banyak banyak dan terlatih pengolahannya karena
karena sistem sistem operasional yang
operasional yang cukup sulit
cukup sulit
Jumlah lumpur Produksi lumpur Lumpur yang Menghasilkan lumpur
sedikit relatif lebih dihasilkan relatif lebih relatif banyak
stabil dan mudah besar
dioperasikan

Efisiensi Penyisihan Pengurangan BOD dan Mempunyai efisiensi BOD 80-95%


COD bisa mencapai removal BOD yang
70%-90& tinggi (antara 80-85%)
Sumber: Fair, Gordon Maskew et.al., Elements of Water Supply and Waste Water Disposal, John Willey and Sons Inc.,
1971

Tabel 4. 5 Perbandingan Aspek Non-Teknis untuk ke 3 Alternatif Pengolahan

Aspek Non Teknis Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3


Ketersediaan Lahan Memerlukan lahan Memerlukan area Tidak memerluka
yang luas dengan yang luas lahan yang luas
kedalaman kolam
yang tinggi
Biaya Biaya operasional Biaya Biaya
rendah karena pemeliharaan pemeliharaan
energi yang rendah ekonomis dan
digunakan relatif praktis
rendah

Konstruksi Unit pengolahan Unit pengolahan Unit pengolahan


yang digunakan yang digunakan yang digunakan
memerlukan memerlukan memerlukan
pemeliharaan yang pemeliharaan yang pemeliharaan yang
intensif intensif intensif

Operasi Sistem operasional Effluent yang Effluent berbau,


dipengarhui oleh dihasilkan baik kemungkinan
perubahan karena daya larut timbulnya
lingkungan karena oksigen dalam air serangga (lalat),
cuaca limbah lebih besar tidak dapat diisi
mempengaruhi sehingga dengan beban
temperatur air mengoptimalkan volume yang tinggi
maka dar itu kinerja
diperlukan mikroorganisme
pengolahan
tambahan
S
Sumber:
1) Lita, Valentina, (2008), Perancangan Bangunan Instalasi, Universitas Indonesia. Jakarta
2)Indriyati, (2007), Unjuk Kerja Reaktor Anaerob Lekat Diam Terendam dengan Media Penyangga Potongan Bambu,
Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan
3)Ishartanto, Amy,W, (2009), Pengaruh Aerasi dan Penambahan Bakteri (Bacillus sp) dalam Mereduksi Bahan
Pencemar Organik Air Limbah Domestik, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
4) Indriyati, (2003), Proses Pembenihan (Seeding) dan Aklimatisasi Pada Reaktor Tipe Fixed Bed, Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Lingkungan.

Dari ketiga alternatif pengolahan air limbah ini dipilih satu alternatif paling efektif
menurut aspek teknis maupun non teknis, yaitu pengolahan biologis dengan menggunakan
aeration tank. Pemilihan ini didasarkan pada efisiensi removal BOD yang tinggi serta dapat
dimodifikasi sesuai dengan karakteristik air buangan.

Alternatif Pengolahan 2 (Lumpur Aktif konvensional)

3 nutrient

7 9
5 6 8 10 Effluent
`
1 2

Air Resirkulasi lumpur


lumpur

4
Limbah

11 12 13 Padatan
Lumpur

Gambar 4. 4 Alternatif Pengolahan Terpilih

Keterangan

1. Saluran Pembawa 8. Aeration Tank


2. Sumur Pengumpul 9. Secondary clarifier
3. Pompa 10. Desinfeksi
4. Bar Screen 11. Thickener
5. Grit Chamber 12. Digester
6. Bak Ekualisasi 13. Sludge Drying Bed/Filter Press
7. Bak Pengendap I

Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba tersuspensi yang
pertama kali dilakukan di Inggris pada awal abad 19. Pada dasarnya merupakan pengolahan
aerobik yang mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4 dan sel biomassa baru.Sel
mikroba yang berada pada lumpur aktif membentuk flok yang akan mengendap di tangki
penjernihan (Gariel Bitton, 1994). Anna dan Malter (1994) berpendapat keberhasilan
pengolahan limbah secara biologi dalam batas tertentu diatur oleh kemampuan bakteri untuk
membentuk flok, dengan demikian akan memudahkan pemisahan partikel dan air limbah.

Proses lumpur aktif dalam pengolahan air limbah dilakukan dengan biakan tersuspensi
(Ningtyas, 2015). Proses lumpur aktif mampu menghasilkan kualitas air yang dihasilkan tinggi.
Namun kekurangan metode ini yaitu sulit diaplikasikan dibandingkan dengan metode
penanganan limbah yang lain karena memerlukan konsumsi energi yang tinggi untuk proses
aerasi dan teknologinya yang rumit (Sperling, 2007). Dewasa ini, proses lumpur aktif sering
digunakan dalam penanganan limbah hasil dari reaktor anaerob dan proses ini diduga dapat
mengurangi konsumsi enegi dan sisa lumpur yang dihasilkan menjadi lebih sedikit. Metode
lumpur aktif dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan BOD, nitrifikasi, dan denitrifikasi
(Anderson, 2010).

Gambar 4. 5 Efisiensi Pengolahan dari Alternatif Terpilih

No Unit Pengolahan Efisiensi Penyisihan Referensi

1 Bar Screen TSS : 25-50% Tchobanoglus dan


Burton, 2014
2 Grit Chambers BOD : 0-5% Tchobanoglus dan
COD : 0-5% Burton, 2014
TSS : 0-10%
3 Tangki Aliran Rata-rata BOD : 30-40% Qasim, 1985
TSS : 50-70%
4 Bak Pengendap BOD : 30-40% Tchobanoglus dan
COD : 30-40% Burton, 2014
TSS : 50-65 %
5 Activated Sludge BOD : 80-90% Tchobanoglus dan
COD : 80-85% Burton, 2014
TSS : 80-90%
NH3 : 8-15%
6 Secondary Clarifier BOD : 80-90% Qasim, 1985
COD : 80-90%
7 Sludge Digester - Tchobanoglus dan
Burton, 2014
8 Sludge Drying Bed - Tchobanoglus dan
Burton, 2014
9 Thickening - Tchobanoglus dan
Burton, 2014
10 Desinfeksi - Tchobanoglus dan
Burton, 2014