Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Semakin meningkatnya umur harapan hidup (UHH) menyebabkan

bertambahnya jumlah lanjut usia (lansia). Hal ini dapat menimbulkan perubahan

pola penyakit, dari penyakit infeksi menjadi penyakit degenerative seperti

hipertensi.1,2 Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi peningkatan

UHHdari 69,43 tahun pada tahun 2010 menjadi 69,65 tahun pada tahun 2011

dengan persentase populasi lansia adalah 7,58% dari total penduduk Indonesia.

Lansia perempuan lebih banyak daripada laki-laki.Jenis keluhan yang paling

banyak dialami lansia terkait dengan penyakit kronis, seperti asam urat,darah

tinggi, rematik, darah rendah dan diabetes. Penyakit yang paling banyak diderita

oleh pasien rawat jalan dalam kelompok usia 45-64 tahun dan di atas 65 tahun

adalah hipertensi.3

Hipertensi didefinisikan sebagai keadaan dimana tekanan darah sistolik

(TDS) ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik (TDD) ≥ 90 mmHg yang diukur

oleh tenaga kesehatan minimal dua kali pengukuran ataumengkonsumsi obat

antihipertensi. Penyakit ini dikategorikan sebagai the silent disease karena

penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan

tekanan darahnya.1

Hampir 1 miliar atau sekitar seperempat dari seluruh populasi orang

dewasa di dunia menyandang tekanan darah tinggi.Pada populasi lansia, separuh

populasi hipertensi berusia diatas 60 tahun. Pada tahun 2025 diperkirakan

1
penderita tekanan darah tinggi mencapai hampir 1,6 miliar orang di dunia.

Hipertensi menyumbang 18,5% kematian.Hipertensi menjadi penyebab kematian

nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis dan jumlahnya mencapai 6,8 % dari

proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia.1

Menurut data riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi

hipertensi di Indonesia adalah sebesar 26,5%.4 Faktor risiko yang berperan dalam

terjadinya hipertensi adalah status gizi. Risiko hipertensi meningkat sebesar 2,79

kali, gemuk 2,15 kali dan normal 1,44 kali dibandingkan dengan mereka yang

berstatus gizi kurus.

1.2.Rumusan Masalah

1. Apa saja faktor yang mengakibatkan terjadinya Hipertensi?


2. Apakah perubahan usia menjadi salah satu faktor risiko penyebab
Hipertensi?
3. Bagaimana tingkat pengetahuan pasien dan keluarga dalam menyikapi
Hipertensi?
4. Bagaimana hasil dari terapi yang telah diberikan kepada penderita
Hipertensi?

1.3 Aspek Disiplin dan Ilmu yang Terkait dengan Pendekatan Diagnosis
Holistik Komprehensif Pada Pasien Hipertensi
Untuk pengendalian permasalahan Hipertensi pada tingkat individu dan
masyarakat secara komprehentif dan holistik yang disesuaikan dengan Standar
Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), maka mahasiswa program profesi dokter
Universitas Muslim Indonesia melakukan kegiatan kepanitraan klinik pada bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas di layanan primer
(Puskesmas) dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dilandasi oleh
profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta
komunikasi efektif. Selain itu kompetensi mempunyai landasan berupa

2
pengelolaan informasi, landasan ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan klinis,
dan pengelolaan masalah kesehatan.Kompetensi tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Profesionalitas yang luhur (Kompetensi 1): untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan permasalahan dalam pengendalian Hipertensi secara individual,
masyarakat maupun pihak terkait ditinjau dari nilai agama, etik, moral dan
peraturan perundangan.
2. Mawas diri dan pengembangan diri (Kompetensi 2): Mahasiswa mampu
mengenali dan mengatasi masalah keterbatasan fisis, psikis, sosial dan budaya
sendiri dalam penanganan Hipertensi, melakukan rujukan sesuai dengan
Standar Kompetensi Dokter Indonesia yang berlaku serta mengembangkan
pengetahuan.
3. Komunikasi efektif (Kompetensi 3): Mahasiswa mampu melakukan
komunikasi, pemberian informasi dan edukasi pada individu, keluarga,
masyarakat dan mitra kerja dalam pengendalian Hipertensi.
4. Pengelolaan Informasi (Kompetensi 4): Mahasiswa mampu memanfaatkan
teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan dalam praktik
kedokteran.
5. Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran (Kompetensi 5): Mahasiswa mampu
menyelesaikan masalah pengendalian Hipertensi secara holistik dan
komprehensif baik secara individu, keluarga maupun komunitas berdasarkan
landasan ilmiah yang mutakhir untuk mendapatkan hasil yang optimum.
6. Keterampilan Klinis (Kompetensi 6): Mahasiswa mampu melakukan prosedur
klinis yang berkaitan dengan masalah Hipertensi dengan menerapkan prinsip
keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan keselamatan orang lain.
7. Pengelolaan Masalah Kesehatan (Kompetensi 7): Mahasiswa mampu
mengelola masalah kesehatan individu, keluarga maupun masyarakat secara
komprehensif, holistik, koordinatif, kolaboratif dan berkesinambungan dalam
konteks pelayanan kesehatan primer.

3
1.4 Tujuan dan Manfaat Studi Kasus
Prinsip pelayanan dokter keluarga pada pasien ini adalah memberikan
tatalaksana masalah kesehatan dengan memandang pasien sebagai individu yang
utuh terdiri dari unsur biopsikososial, serta penerapan prinsip pencegahan
penyakit promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Proses pelayanan dokter
keluarga dapat lebih berkualitas bila didasarkan pada hasil penelitian ilmu
kedokteran terkini (evidence based medicine).

1.4.1 Tujuan Umum:


Tujuan dari penulisan laporan Studi Kasus ini adalah dapat menerapkan
penatalaksanaan pasien Hipertensi dengan pendekatan kedokteran keluarga secara
komprehensif dan holistik, sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia
(SKDI), berbasis evidence based medicine (EBM) pada pasien dengan
mengidentifikasi faktor risiko dan masalah klinis serta prinsip penatalaksanaan
pasien Hipertensi dengan pendekatan diagnostik holistik di Puskesmas Pertiwi
Makassar.

1.4.2 Tujuan Khusus


1. Untuk penerapan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang,
serta menginterpretasikan hasilnya dalam mendiagnosis Hipertensi dan Nyeri
Sendi.
2. Untuk melakukan prosedur tatalaksana Hipertensi sesuai Standar Kompetensi
Dokter Indonesia.
3. Untuk melakukan komunikasi, pemberian informasi dan edukasi pada tingkat
individu, keluarga, masyarakat dan mitra kerja dalam pengendalian
Hipertensi.
4. Untuk menggunakan landasan Ilmu Kedokteran Klinis dan Kesehatan
Masyarakat dalam melakukan upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif dalam pengendalian Hipertensi.
5. Untuk memanfaatkan sumber informasi terkini dan melakukan kajian ilmiah
dari data di lapangan untuk melakukan pengendalian Hipertensi.

4
1.4.3 Manfaat Studi Kasus
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan acuan (referensi) bagi studi kasus lebih lanjut sekaligus
sebagai bahan atau sumber bacaan di perpustakaan.
2. Bagi Penderita (pasien)
Menambah wawasan akan Hipertensi yang meliputi proses penyakit dan
penanganan menyeluruh sehingga dapat memberikan keyakinan untuk
menghindari faktor pencetus.
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemerintah
daerah dan instansi kesehatan beserta paramedis yang terlibat di dalamnya
mengenai pendekatan diagnosis holistik penderita hipertensi.
4. Bagi Pembelajar Studi Kasus (Mahasiswa)
Sebagai pengalaman berharga bagi penulis sendiri dalam rangka memperluas
wawasan dan pengetahuan mengenai Evidence Based Medicine dan
pendekatan diagnosis holistik hipertensi serta dalam hal penulisan studi
kasus.

1.5. Indikator Keberhasilan Tindakan


Indikator keberhasilan tindakan setelah dilakukan penatalaksanaan pasien
dengan prinsip pelayanan dokter keluarga yang holistik berbasis Kedokteran
Keluarga adalah:
1. Pasien mampu mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor penyebab
Hipertensi.
2. Kepatuhan penderita datang berobat untuk mengontrol etiologi hipertensi di
layanan primer (Puskesmas) sudah teratur atau penderita bersedia menerima
petugas kesehatan yang berkunjung pada saat dilakukan Kunjungan Rumah /
Home Care.
3. Pasien memahami komplikasi yang dapat terjadi dari hipertensi.
4. Perbaikan gejala sisa dapat dievaluasi setelah dilakukan terapi farmakologi
serta fisioterapi.

5
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian keberhasilan tindakan
pengobatan didasarkan atas berkurangnya atau tidak ada lagi keluhan dari pasien,
perbaikan gejala sisa dapat dievaluasi setelah dilakukan setelah dilakukan terapi
farmakologi serta fisioterapi.

6
BAB II
ANALISIS KEPUSTAKAAN BERDASARKAN KASUS

2.1 KERANGKA TEORI

Gambaran Penyebab Hipertensi

Usia

Jenis Kelamin

Ras/Etnik

HIPERTENSI
Life style

Obesitas
1. Penyakit Jantung
2. Stroke
Dislipidemia 3. Penyakit Ginjal Kronis
4. Penyakit Arteri Perifer
5. Retinopati

Gambar 1. Gambaran Penyebab Hipertensi

7
KONSEP MANDALA
2.2. Pendekatan Konsep Mandala

Gaya Hidup
- Kebiasaan mengkonsumsi
makanan berlemak
- Jarang berolahraga Lingkungan Psiko-Sosio-Ekonomi
- Pasien sudah menikah dan memiliki 4
orang anak
- Kurangnya pengawasan dari anggota
keluarga terhadap aktivitas pasien
dirumah.
Perilaku Kesehatan - Masalah keluarga yang mungkin
- Hygiene pribadi dan menjadi penyebab stress adalah
lingkungan kurang baik Keluarga anaknya yang tidak dapat melanjutkan
- Pasien minum obat
- Riwayat keluarga pendidikannya
menderita hipertensi - Kehidupan sosial dengan lingkungan
hipertensi secara teratur baik
- Pasien tidak rutin periksa
- Bersikap suportif dan
- Pendapatan keluarga tergolong kurang
kolesterol mengingatkan pasien
- untuk meminum obat
secara rutin
Lingkungan Kerja
Pelayanan Kesehatan -Pasien seorang ibu rumah tangga
-Jarak rumah dengan puskesmas yang sering melakukan aktivitas
dekat Pasien fisik seperti menyapu, mencuci,
-keluarga memiliki asuransi memasak, dll
kesehatan BPJS Keluhan sering tegang
pada leher belakang dan
nyeri pada lutut kanan.
--
Faktor Biologi TD 150/90 mmHg Lingkungan Fisik
- Riwayat keluarga dengan Kolesterol 224 mg/dL - Ventilasi dan sinar
penyakit yang sama. IMT 26,1 kg/m2 matahari kurang
- Usia pasien yang rentan - Kebersihan rumah
terkena penyakit kurang
- Pasien tergolong obesitas - Rumah pasien yang
bertingkat
Komunitas
- Pemukiman
. Sanitasi
dengan
yang kurang
baik

Gambar 2. Konsep Mandala

8
2.3. Pendekatan Diagnosis Holistik pada Pelayanan Kedokteran Keluarga di
Layanan Primer
Pengertian holistik adalah memandang manusia sebagai mahluk
biopsikososio-kultural pada ekosistemnya.Sebagai makhluk biologis manusia
adalah merupakan sistem organ, terbentuk dari jaringan serta sel-sel yang
kompleks fungsionalnya.
Diagnostik holistik adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan
dasar dan penyebab penyakit (disease), luka (injury) serta kegawatan yang
diperoleh dari alasan kedatangan, keluhan personal, riwayat penyakit pasien,
pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang,penilaian risiko
internal/individual dan eksternal dalam kehidupan pasien serta keluarganya.
Sesuai dengan arah yang digariskan dalam Sistem Kesehatan Nasional 2004,
maka dokter keluarga secara bertahap akan diperankan sebagai pelaku pelayanan
pertama (layanan primer).
Tujuan Diagnosis Holistik:
1. Penyembuhan penyakit dengan pengobatan yang tepat
2. Hilangnya keluhan yang dirasakan pasien
3. Pembatasan kecacatan lanjut
4. Penyelesaian pemicu dalam keluarga (masalah sosial dalam kehidupannya)
5. Jangka waktu pengobatan pendek
6. Tercapainya percepatan perbaikan fungsi sosial
7. Terproteksi dari risiko yang ditemukan
8. Terwujudnya partisipasi keluarga dalam penyelesaian masalah
Diagnosa secara holistik sangat penting dilakukan sebelum melakukan terapi,
tujuannya yakni:
1. Menentukan kedalaman letak penyakit
2. Menentukan kekuatan serangan patogen penyakit
3. Menentukan kekuatan daya tahan tubuh yang meliputi kekuatan fungsi organ
4. Menentukan urutan tatacara terapi dan teknik terapi yang akan dipilihnya
5. Menentukan interfal kunjungan terapi. (Modul Pelatihan dan Sertifikasi
ASPETRI Jateng 2011)

9
Diagnosis Holistik memiliki standar dasar pelaksanaan yaitu :
1. Membentuk hubungan interpersonal antar petugas administrasi (penerimaan,
pencatatan biodata) dengan pasien
2. Membentuk hubungan interpersonal antara paramedis dengan pasien
3. Melakukan pemeriksaan saringan (Triage), data diisikan dengan lembaran
penyaring
4. Membentuk hubungan interpersonal anatara dokter dengan pasien
5. Melakukan anamnesis
6. Melakukan pemeriksaan fisik
7. Penentuan derajat keparahan penyakit berdasarkan gejala, komplikasi,
prognosis, dan kemungkinan untuk dilakukan intervensi
8. Menentukan resiko individual  diagnosis klinis sangat dipengaruhi faktor
individual termasuk perilaku pasien
9. Menentukan pemicu psikososial  dari pekerjaan maupun komunitas
kehidupan pasien
10. Menilai aspek fungsi social.

Dasar-dasar dalam pengembangan pelayanan/pendekatan kedokteran keluarga di


layanan primer antara lain :
1. Pelayanan kesehatan menyeluruh (holistik) yang mengutamakan upaya
promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
2. Pelayanan kesehatan perorangan yang memandang seseorang sebagai bagian
dari keluarga dan lingkungan komunitasnya
3. Pelayanan yang mempertimbangkan keadaan dan upaya kesehatan secara
terpadu dan paripurna (komprehensif).
4. Pelayanan medis yang bersinambung
5. Pelayanan medis yang terpadu
Pelayanan komprehensif yaitu pelayanan yang memasukkan pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus
(preventive & spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan
kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation)

10
dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko-legal etika
kedokteran.
Pelayanan medis yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan
bersinambung, yang melaksanakan pelayanan kedokteran secara efisien, proaktif
dan terus menerus demi kesehatan pasien.
Pelayanan medis yang terpadu, artinya pelayanan yang disediakan dokter
keluarga bersifat terpadu, selain merupakan kemitraan antara dokter dengan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan kemitraan lintas
program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan kedokteran, baik
dari formal maupun informal.
Prinsip pelayanan Kedokteran Keluarga di Layanan Primer adalah:
a. Comprehensive care and holistic approach
b. Continuous care
c. Prevention first
d. Coordinative and collaborative care
e. Personal care as the integral part of his/her family
f. Family, community, and environment consideration
g. Ethics and law awareness
h. Cost effective care and quality assurance
i. Can be audited and accountable care
Pendekatan menyeluruh (holistic approach), yaitu peduli bahwa pasien
adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan
spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
Untuk melakukan pendekatan diagnosis holistik, maka perlu kita melihat dari
beberapa aspek yaitu:
1. Aspek Personal: Keluhan utama, harapan dan kekhawatiran
2. Aspek Klinis: Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan
diagnosis kerja dan diagnosis banding
3. Aspek Internal: Kepribadian seseorang akan mempengaruhi perilaku.
Karakteristik pribadi amat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, sosial ekonomi, kultur, etnis, dan lingkungan.

11
4. Aspek Eksternal: Psikososial dan ekonomi keluarga.
5. Derajat Fungsi Sosial:
o Derajat 1: Tidak ada kesulitan, dimana pasien dapat hidup mandiri
o Derajat 2: Pasien mengalami sedikit kesulitan
o Derajat 3: Ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa dilakukan,
hanya dapat melakukan kerja ringan
o Derajat 4: Banyak kesulitan, dapat melakukan aktifitas kerja, bergantung
pada keluarga
o Derajat 5: Tidak dapat melakukan kegiatan

2.4. HIPERTENSI
2.4.1. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari
140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat
(tenang).7 Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih
tinggi dari 140 / 90 mmHg.6
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi
berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang.Faktor pemicu hipertensi
dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis
kelamin, dan umur. Faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya
aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung
natrium dan lemak jenuh.7
Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kelemahan
jantung, penyakit jantung koroner (PJK), gangguan ginjal dan lain-lain yang
berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan jantung
yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. Hipertensi atau yang disebut the
silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko paling berpengaruh penyebab
penyakit jantung (cardiovascular).7,8

12
2.4.2. Epidemiologi Hipertensi
Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi pada
pendudukumur 18 tahun ke atas tahun 2007 di Indonesia adalah sebesar 31,7%.
Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39,6%)
dan terendah di Papua Barat (20,1%). Sedangkan jika dibandingkan dengan tahun
2013 terjadi penurunan sebesar 5,9% (dari 31,7% menjadi 25,8%). Penurunan ini
bisa terjadi berbagai macam faktor, seperti alat pengukur tensi yang berbeda,
masyarakat yang sudah mulai sadar akan bahaya penyakit hipertensi. Prevalensi
tertinggi di Provinsi Bangka Belitung (30,9%), dan Papua yang terendah
(16,8)%). Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui kuesioner
terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4persen, yang didiagnosis tenaga
kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5 persen. Jadi, ada 0,1 persen yang
minum obatsendiri.22
Selanjutnya gambaran di tahun 2013 dengan menggunakan unit analisis
individumenunjukkan bahwa secara nasional 25,8% penduduk Indonesia
menderita penyakit hipertensi. Jika saat ini penduduk Indonesia sebesar
252.124.458 jiwa maka terdapat 65.048.110 jiwa yang menderita hipertensi.Suatu
kondisi yang cukup mengejutkan.Terdapat 13 provinsi yang persentasenya
melebihi angka nasional, dengan tertinggi di Provinsi Bangka Belitung (30,9%)
atau secara absolut sebanyak 30,9% x 1.380.762jiwa = 426.655 jiwa.22
Secara absolut jumlah penderita hipertensi di 5 provinsi dengan prevalensi
hipertensi tertinggi berdasarkan Hasil Riskesdas 2013 adalah sebagai berikut:
No Provinsi Jumlah % Absolut
Penduduk Hipertensi Hipertensi
1 Bangka Belitung 1.380.762 30,9 426.655 jiwa
2 Kalimantan Selatan 3.913.908 30,8 1.205.483 jiwa
3 Kalimantan Timur 4.115.741 29,6 1.218.259 jiwa
4 Jawa Barat 46.300.543 29,4 13.612.359 jiwa
5 Gorontalo 1.134.498 29,4 33.542jiwa
*berdasarkan estimasi penduduk sasaran program pembangunan kesehatan tahun 2014, Pusdatin

Tabel 1.5 Provinsi dengan Prevalensi Hipertensi Tertinggi dalam Jumlah Absolut (Jiwa)

13
Gambar 3. Prevalensi Hipertensi Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan gambar di atas prevalensi hipertensi berdasarkan jenis kelamin tahun
2007maupun tahun 2013 prevalensi hipertensi perempuan lebih tinggi disbanding
laki-laki.22

14
Berdasarkan epidemiologi penyakit hipertensi diatas, maka penyakit
Hipertensi terjadi karena interaksi antara agen penyakit, pejamu (manusia) dan
lingkungan, yaitu suatu keadaan saling mempengaruhi antara agen penyakit,
manusia dan lingkungan secara bersama-sama dan keadaan tersebut memperberat
satu sama lain sehingga memudahkan agen penyakit untuk menyebabkan
hipertensi. Penjelasan keterkaitan antara 3 faktor tersebut sebagai berikut:
A. Host (Penjamu)
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit hipertensi pada penjamu :
a. Daya Tahan Tubuh
Penyakit Hipertensi dipengaruhi oleh daya tahan tubuh manusia itu
sendiri.Daya tahan tubuh seseorang sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi,
aktifitas, dan istirahat. Kesibukan yang padat juga membuat orang kurang
berolagraga dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok , minum alkohol,
atau kopi sehingga daya tahan tubuh menjadi menurun dan memiliki resiko
terjadinya penyakit hipertensi.23
b. Genetik/keturunan
Pakar juga menemukan hubungan antara riwayat keluarga penderita
hipertensi (genetik) dengan resiko untuk juga menderita penyakit ini.23
c. Umur
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami
kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun
dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian
berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Tetapi di atas usia
tersebut, justru wanita (setelah mengalami menapouse ) berpeluang lebih besar.23
Para pakar menduga perubahan hormonal berperan besar dalam terjadinya
hipertensi di kalangan wanita usia lanjut. Namun sekarang penyakit hipertensi
tidak memandang golongan umur.23

15
d. Jenis Kelamin
Pada umumnya lebih banyak pria menderita hipertensi dibandingkan
dengan perempuan. Wanita > Pria pada usia> 50 tahun. Pria > wanita pada usia<
50 tahun.23
e. Adat Kebiasaan
Kebiasaan- kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman kesehatan
bagi orang tersebut seperti:
Gaya hidup modern, kerja keras dalam situasi penuh tekanan, dan stres
terjadi yang berkepanjangan adalah hal yang paling umum serta membuat orang
kurang berolagraga , dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok, minum
alkohol atau kopi, padahal semuanya termasuk dalam daftar penyebab yang
meningkatkan resiko hipertensi.
· Terbiasa untuk memakan makanan yang asin, sehingga sulit untuk dapat
menerima makanan yang agak tawar. Konsumsi garam ini sulit dikontrol,
terutama jika kita terbiasa mengonsumsi makanan di luar rumah (warung,
restoran, hotel, dan lain-lain).23
· Pola makan yang salah, dan salah dalam memilih makanan. Makanan yang
diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi, dapat
meningkatkan tekanan darah kerana mengandung natrium dalam jumlah yang
berlebih.23
f. Pekerjaan
Orang yang mengalami pekerjaan penuh tekanan, misalnya penyandang
jabatan yang menuntut tanggung jawab besar tanpa disertai wewenang
pengambilan keputusan, akan mengalami tekanan darah yang lebih tinggi selama
jam kerjanya, dibandingkan dengan rekan mereka yang pekerjaannya lebih ringan.
Stres yang terlalu besar dapat memicu terjadinya hipertensi, penyakit jantung, dan
stroke.23
g. Ras/Suku
Ras/Suku : Di USA, orang kulit hitam > kulit putih. Di Indonesia penyakit
hipertensi terjadi secara bervariasi.23

16
B. Agent (Penyebab Penyakit)
Agent adalah suatu substansi tertentu yang keberadaannya atau
ketidakberadaannya dapat menimbulkan penyakit atau mempengaruhi perjalanan
suatu penyakit. Untuk penyakit hipertensi yang menjadi agen adalah :

a. Faktor Nutrisi
· Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih
dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Dalam kenyataannya,
konsumsi berlebih karena budaya masak-memasak masyarakat kita yang
umumnya boros menggunakan garam, serta kebiasaan memakan makanan yang
mengandung banyak garam sehingga sulit untuk dapat menerima makanan yang
agak tawar.23
· Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di
dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler
ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya
volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah,
sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.23
· Minuman berkafein dan beralkohol. Minuman berkafein seperti kopi dan
alkohol juga dapat meningkatkan resiko hipertensi.Konsumsi Makanan cepat saji
juga merupakan salah satu penyebab Hipertensi, karena mengandung penyedap
yang berlebihan.23
b. Faktor Kimia
Mengkonsumsi obat-obatan seperti kokain, Pil KB Kortikosteroid,
Siklosporin, Eritropoietin, Penyalahgunaan Alkohol, Kayu manis (dalam jumlah
sangat besar).23
c. Faktor Biologi
Penyebab tekanan darah tinggi sebagian besar diketahui, namun peniliti
telah membuktikan bahwa tekanan darah tinggi berhubungan dengan resistensi
insulin dan/ atau peningkatan kadar insulin (hiperinsulinemia). Keduanya tekanan
darah tinggi dan resistensi insulin merupakan karakteristik dari sindroma
metabolik , kelompok abnormalitas yang terdiri dari obesitas, peningkatan

17
trigliserid, dan HDL rendah (kolesterol baik) dan terganggunya keseimbangan
hormon yang merupakan faktor pengatur tekanan darah.23
Walaupun sepertinya hipertensi merupakan penyakit keturunan, namun
hubungannya tidak sederhana. Hipertensi merupakan hasil dari interaksi gen yang
beragam, sehingga tidak ada tes genetik yang dapat mengidentifikasi orang yang
berisiko untuk terjadi hipertensi secara konsisten.23
Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian
telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap
sebagai faktor resiko terjadi hipertensi.23
d. Faktor Fisik
· Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih
tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat.Gaya
hidup yang tidak aktif (malas berolah raga) bisa memicu terjadinya hipertensi
pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.23
· Berat badan yang berlebih akan membuat seseorang susah bergerak dengan
bebas. Jantungnya harus bekerja lebih keras untuk memompa darah agar bisa
menggerakkan berlebih dari tubuh terdebut. Karena itu obesitas termasuk salah
satu yang meningkatkan resiko hipertensi.23

C. Environment (Lingkungan)
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia serta
pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan
manusia.23
Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup misalnya gaya hidup
kurang baik seperti gaya hidupnya penuh dengan tekanan (Stres). Stres yang
terlalu besar dapat memicu terjadinya berbagai penyakit seperti hipertensi.Dalam
kondisi tertekan adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan darah agar tubuh siap beraksi. Gaya hidup
yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan;
bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang
diturunkan.23

18
Terdapatnya perbedaan keadaan geografis, dimana daerah Pantai lebih
berisiko terjadinya penyakit hipertensi dibading dengan daerah pegunungan,
karena daerah pantai lebih banyak terdapat natrium bersama klorida dalam garam
dapur sehingga Konsumsi natrium pada penduduk pantai lebih besar dari pada
daerah pegunungan.
Penyakit hipertensi ditemukan di semua daerah di Indonesia dengan
prevalensi yang cukup tinggi.Dimana daerah perkotaan lebih dengan gaya hidup
modern lebih berisiko terjadinya penyakit hipertensi dibandingkan dengamn
daerah pedesaan.

2.4.3. Klasifikasi Hipertensi


Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik,
hipertensi diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi sistolik (isolated systolic
hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan
tekanan diastolik dan umumnya ditemukan pada usia lanjut. Tekanan sistolik
berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung berkontraksi
(denyut jantung).Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri dan
tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya
lebih besar.9
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan
tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan
pada anak-anak dan dewasa muda.Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh
darah kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan
terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan
diastoliknya.Tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung
berada dalam keadaan relaksasi di antara dua denyutan. Hipertensi campuran
merupakan peningkatan pada tekanan sistolik dan diastolik.9
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,
disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak faktor
yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan

19
saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan
Na dan Ca intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti
obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.9
2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus.
Penyebab spesifiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing,
feokromositoma, koartasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan
kehamilan, dan lain-lain.9
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII),
klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal,
prehipertensi, hipertensi derajat I dan derajat II.9

Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi

2.4.4. Patofisiologi
Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah
secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi, yang berusaha untuk
mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang reflek
kardiovaskular melalui sistem saraf termasuk sistem kontrol yang bereaksi segera.
Kestabilan tekanan darah jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang
mengatur jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ terutama
ginjal.10,11
1) Perubahan anatomi dan fisiologi pembuluh darah

20
Aterosklerosis adalah kelainan pada pembuluh darah yang ditandai dengan
penebalan dan hilangnya elastisitas arteri. Aterosklerosis merupakan proses
multifaktorial. Terjadi inflamasi pada dinding pembuluh darah dan terbentuk
deposit substansi lemak, kolesterol, produk sampah seluler, kalsium dan
berbagai substansi lainnya dalam lapisan pembuluh darah. Pertumbuhan ini
disebut plak. Pertumbuhan plak di bawah lapisan tunika intima akan
memperkecil lumen pembuluh darah, obstruksi luminal, kelainan aliran darah,
pengurangan suplai oksigen pada organ atau bagian tubuh tertentu. 11
Sel endotel pembuluh darah juga memiliki peran penting dalam
pengontrolan pembuluh darah jantung dengan cara memproduksi sejumlah
vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida endotelium. Disfungsi
endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi primer.11
2) Sistem renin-angiotensin
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II
dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). Angiotensin II
inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui
dua aksi utama.12
a. Meningkatkan sekresi Anti-Diuretic Hormone (ADH) dan rasa haus. Dengan
meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara
menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat,
yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.12
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Untuk mengatur
volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan
darah.12
3) Sistem saraf simpatis

21
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
di pusat vasomotor, pada medula di otak.Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen.Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.13

Gambar 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah

2.4.5 Faktor-faktor Risiko Hipertensi


Faktor resiko terjadinya hipertensi antara lain:

22
1) Usia
Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki
meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita meningkat
pada usia lebih dari 55 tahun.14
2) Ras/etnik
Hipertensi bisa mengenai siapa saja. Bagaimanapun, biasa sering muncul pada
etnik Afrika Amerika dewasa daripada Kaukasia atau Amerika Hispanik.14
3) Jenis Kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada
wanita.14
4) Kebiasaan Gaya Hidup tidak Sehat
Gaya hidup tidak sehat yang dapat meningkatkan hipertensi, antara lain minum
minuman beralkohol, kurang berolahraga, dan merokok.14
a. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan
hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok
menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru
dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Di otak, nikotin akan
memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau
adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung
untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi.14
Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan
darah karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kandungan
bahan kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding pembuluh
darah.14,15
Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan
oksigen dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat
karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup
ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.16
Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan
oksigen dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat

23
karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup
ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.16
b. Kurangnya aktifitas fisik
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah.Pada
orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai
frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi.Hal tersebut mengakibatkan otot
jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.Makin keras usaha otot
jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan
pada dinding arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer yang
menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat
meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan risiko
hipertensi meningkat.17,18
Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur
memiliki efek antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah sekitar 6-15
mmHg pada penderita hipertensi. Olahraga banyak dihubungkan dengan
pengelolaan hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat
menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi.18
2.4.6 Diagnosis Hipertensi
Diagnosis hipertensi dengan pemeriksaan fisik paling akurat menggunakan
sphygmomanometer air raksa.Sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali pengukuran
dalam posisi duduk dengan siku lengan menekuk di atas meja dengan posisi
telapak tangan menghadap ke atas dan posisi lengan sebaiknya setinggi
jantung.Pengukuran dilakukan dalam keadaan tenang. Pasien diharapkan tidak
mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat mempengaruhi tekanan darah
misalnya kopi, soda, makanan tinggi kolesterol, alkohol dan sebagainya.19
Pasien yang terdiagnosa hipertensi dapat dilakukan tindakan lebih lanjut yakni :
1) Menentukan sejauh mana penyakit hipertansi yang diderita
Tujuan pertama program diagnosis adalah menentukan dengan tepat sejauh
mana penyakit ini telah berkembang, apakah hipertensinya ganas atau tidak,
apakah arteri dan organ-organ internal terpengaruh, dan lain- lain.19

24
2) Mengisolasi penyebabnya
Tujuan kedua dari program diagnosis adalah mengisolasi penyebab
spesifiknya.19
3) Pencarian faktor risiko tambahan
Aspek lain yang penting dalam pemeriksaan, yaitu pencarian faktor-faktor
risiko tambahan yang tidak boleh diabaikan.19
4) Pemeriksaan dasar
Setelah terdiagnosis hipertensi maka akan dilakukan pemeriksaan dasar, seperti
kardiologis, radiologis, tes laboratorium, EKG (electrocardiography) dan
rontgen.19
5) Tes khusus
Tes yang dilakukan antara lain adalah :
a. X- ray khusus (angiografi) yang mencakup penyuntikan suatu zat warna
yang digunakan untuk memvisualisasi jaringan arteri aorta, renal dan
adrenal.19
b.Memeriksa saraf sensoris dan perifer dengan suatu alat electroencefalografi
(EEG), alat ini menyerupai electrocardiography (ECG atau EKG).19

2.4.7 Komplikasi Hipertensi


Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya
sehingga menimbulkan komplikasi. Komplikasi tersebut dapat menyerang
berbagai target organ tubuh yaitu otak, mata, jantung, pembuluh darah arteri, serta
ginjal. Sebagai dampak terjadinya komplikasi hipertensi, kualitas hidup penderita
menjadi rendah dan kemungkinan terburuknya adalah terjadinya kematian pada
penderita akibat komplikasi hipertensi yang dimilikinya.20
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab
kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan
tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya
autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif, down regulation,
dan lain-lain. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan

25
sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ
target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi
transforming growth factor-β (TGF-β).20,21
Umumnya, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ yang umum
ditemui pada pasien hipertensi adalah:
1) Jantung
- hipertrofi ventrikel kiri
- angina atau infark miokardium
- gagal jantung
2) Otak
- stroke atau transient ishemic attack
3) Penyakit ginjal kronis
4) Penyakit Arteri Perifer
5) Retinopati

26
BAB III
METODOLOGI DAN LOKASI STUDI KASUS

1.1. METODOLOGI STUDI KASUS


Studi kasus ini menggunakan desain studi Kohort untuk mempelajari
hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan
memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian
mengikuti sepanjang periode waktu tertentu untuk melihat subjek dalam
kelompok yang mengalami efek penyakit atau masalah kesehatan untuk
melakukan penerapan pelayanan dokter layanan primer secara paripurna dan
holistik terutama tentang penatalaksanaan Hipertensi dengan pendekatan
diagnosis holistik di puskesmas Tamangapa pada tanggal 31 Juli 2018.
Cara pengumpulan data dengan melakukan wawancara dan pengamatan
terhadap pasien dan keluarganya dengan cara melakukan home visit untuk
mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.

3.2. LOKASI DAN WAKTU STUDI KASUS


3.2.1. Waktu Studi Kasus
Studi kasus dilakukan pertama kali saat penderita datang berobat di
puskesmas Tamangapa pada tanggal 31 Juli 2018. Selanjutnya dilakukan home
visit untuk mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.
3.2.2. Lokasi Studi Kasus
Studi kasus bertempat di Puskesmas Maccini Sawah Kota Makassar,
Provinsi Sulawesi Selatan.
3.2.3.Gambaran Umum Lokasi Studi Kasus
3.2.3.1. Letak geografis
Puskesmas Tamangapa berada dalam wilayah Kecamatan Manggala,
dengan wilayah kerja meliputi Kelurahan Tamangapa. Kelurahan Tamangapa
terdiri dari 7 RW dan 30 RT, dengan luas wilayah 7,62 km2.

27
Gambar 5. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tamangapa

Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Tamangapa adalah:


a. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Manggala
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa
c. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa
d. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Bangkala

3.2.3.2.Keadaan Demografis
A. Kependudukan
Puskesmas Tamangapa terletak di Kecamatan Manggala, yang terdiri atas
6 kelurahan. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2015, jumlah penduduk
Kecamatan Manggala adalah sebesar 135.049 jiwa. Adapun kepadatan
pendudukdi kecamatan ini sebesar 5.594 jiwa per km2. Jumlah penduduk paling
sedikit berada pada Kelurahan Tamangapa, sementara kelurahan paling padat
yaitu Antang.

28
Tabel 3. Komposisi penduduk wilayah kerja Puskesmas Tamangapa

B. Jenis kelamin
Secara keseluruhan penduduk laki-laki lebih banyak dibanding penduduk
perempuan. Hal ini dapat dilihat dari nilai sex rasionya di atas 100. Jika dilihat
pada tiap-tiap rumah tangga, sebagian besar kelurahan di Kecamatan Manggala
memiliki jumlah penduduk perempuan yang lebih besar dibandingkan penduduk
laki-laki, kecuali pada Kelurahan Tamangapa dan Batua.
Kelurahan Luas Wilayah Rumah Pria Wanita Jumlah
(km2) Tangga
Tamangapa 7,62 2.793 6.106 5.637 11.743
Bangkala 4,30 5.277 11.522 11.639 23.161
Manggala 4.44 5.362 12.748 13.054 25.802
Borong 1,92 3.669 9.205 9.753 18.958
Antang 3.94 7.642 19.195 19.563 38.758
Batua 1.92 4.808 9.765 5.862 15.627
Total 24,16 29.550 69.541 65.508 135.049

Tabel 4. Komposisi penduduk di Kecamatan Tamangapa

29
C. Tingkat pendidikan dan mata pencaharian
Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa
bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, tamat SD, tidak
tamat SD, hingga tidak sekolah. Adapun mata pencaharian penduduk sebagian
besar berturut-turut adalah pegawai negeri sipil (PNS), pegawai swasta,
wiraswasta, TNI, petani dan buruh.
3.2.3.3.Sarana Kesehatan
A. Data dasar puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang selanjutnya disebut PUSKESMAS
adalah fasilitas pelayananan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat
pertama esensial dan pengembangan, dan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama berupa rawat jalan, pelayanan gawat darurat, one day care,dan home care
berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan.
Pada wilayah kerja Puskesmas Tamangapa terdapat dua buah Puskesmas
Pembantu (Pustu) dan 16 Posyandu yang memiliki 101 orang kader Posyandu.
B. Jumlah sarana pelayanan kesehatan
Puskesmas Tamangapa memiliki 12 ruangan yang terdiri atas Ruang
Periksa/Ruang Dokter, Ruang Tindakan, Ruang Kepala Puskesmas,
Apotek,/Kamar Obat, Ruang Gizi dan PSM, Poliklinik Gigi, Ruang P2 dan
Kesling, Ruang Tata Usaha, Ruang KIA dan KB, Ruang Laboratorium dan 2 buah
WC.
3.2.3.4. Tenaga Kesehatan
Kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan di Puskesmas Tamangapa
menentukan kualitas pemberian pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam hal
ini menyangkut jumlah, tingkat pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti oleh
setiap petugas kesehatan. Kriteria personalia yang mengisi struktur organisasi

30
puskesmas disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing unit
puskesmas.
No. Tenaga Kesehatan Jumlah
1. Dokter Umum 3
2. Dokter Gigi 1
3. Perawat 7
4. Bidan 3
5. Kesehatan Masyarakat 3
6. Laboratorium 1
7. Gizi 1
8. Farmasi 1
9. Pekarya Kesehatan 1
10. Perawat Gigi 1
Jumlah 22
Tabel 5. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tamangapa
3.2.3.5. Struktur organisasi dan tenaga kerja

3.2.3.5.1 Visi
Dalam menetapkan Visinya Puskesmas Maccini sawah
berpedoman dan memperhatikan Visi Kemetrian Kesehatan Republik
Indonesia yaitu “ Masyarakat Sehat, Mandiri, dan Berkeadilan “ serta
Visi Dinas Kesehatan Kota Makassar yaitu “ Makassar Sehat Menuju
Kota Dunia “ Bahwa sebagai upaya penjabaran Visi Kementrian
Kesehatan RI dan Visi Dinas Kesehatan Kota Makassar, maka Visi
Puskesmas Maccini sawah adalah : “ MEWUJUDKAN
MASYARAKAT MACCINI SAWAH SEHAT. “

Gambar 6. Struktur organisasi dan tenaga kerja

31
Struktur Organisasi Puskesmas Tamangapa berdasarkan peraturan
Walikota Makassar No. 41 tahun 2012 terdiri atas:
- Kepala Puskesmas
- Kepala Subag Tata Usaha
- Unit Pelayanan Teknis Fungsional Puskesmas
• Unit Kesehatan Masyarakat
• Unit Kesehatan Perorangan
- Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas
• Unit Puskesmas Pembantu ( Pustu )
• Unit Puskesmas Keliling ( Puskel )
• Unit Bidan Komunitas
3.2.3.5.Visi dan Misi
A. Visi Puskesmas

Puskesmas Tamangapa menjadi pusat pelayanan kesehatan dasar yang


bermutu, terjangkau dan berorientasi masyarakat menuju Makassar Kota Dunia.

B. Misi Puskesmas

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan bermutu, paripurna dan


terjangkau oleh seluruh masyarakat.

 Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan


sehingga masyarakat bisa mandiri.
 Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam pelayanan
kesehatan.
 Menjadikan Puskesmas sebagai pusat pengembangan pembangunan
kesehatan masyarakat.
 Meningkatkan kesejahteraan pihak yang terkait dalam pelayanan
kesehatan.
 Menjalin kemitraan dengan semua pihak yang terkait dalam pelayanan
kesehatan dalam pengembangan kesehatan masyarakat.

32
3.2.3.6 Upaya Kesehatan
1. Enam Upaya Kesehatan Wajib, yaitu :
• Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencna
• Upaya Kesehatan Lingkungan
• Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
• Upaya pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
• Upaya Promosi Kesehatan
• Upaya Pengobatan
2. Tiga Upaya Kesehatan Pengembangan, yaitu :
• Upaya Kesehatan Sekolah
• Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
• Upaya Kesehatan Usia Lanjut

3.2.3.7. 10 Penyakit Utama di Puskesmas


Sepuluh penyakit umum terbanyak yang tercatat di Puskesmas
Tamangapa Makassar bulan April 2017 adalah:
Jumlah
No. Jenis Penyakit
(kasus)
1. ISPA 96
2. Batuk 41
3. Dermatitis 37
4. Diare 29
5. Gastritis 20
6. Hipertensi 18
7. Luka Bakar Kecelakaan Lalu Lintas (Vulnus) 16
8. Konjungtivitis 14
9. Artritis 11
10 Demam Tifoid 10
Tabel 6. Daftar 10 penyakit di Puskesmas Tamangapa

33
3.2.3.8. Alur Pelayanan

Pasien

Loket

Rujuk Pasien
Kamar Periksa

- Poli umum
- Poli gigi Laboratorium

Ruang Tindakan

Apotik

Pasien
Gambar 7. Alur Pelayanan Puskesmas Tamangapa

34
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. LAPORAN KASUS


4.1.1. PASIEN
4.1.1.1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.A
Usia : 62 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Parinring No.41

4.1.1.2. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Tegang pada leher belakang
Riwayat Penyakit:
Pasien datang ke Puskesmas Maccini Sawah dengan keluhan tegang
pada leher belakang. Pasien diketahui memiliki riwayat hipertensi sejak 2
tahun yang lalu saat pasien memeriksakan dirinya di puskesmas dengan
keluhan sering mengalami sakit kepala. Pada awalnya pasien hanya
minum obat-obatan herbal untuk mengurangi keluhan tersebut namun
tidak ada perubahan. Sejak kunjungan ke puskesmas pasien teratur
meminum obat yang diberikan.
Riwayat Penyakit Sebelumnya:
DM (-), Alergi (-)
Riwayat Penyakit Keluarga:
Riwayat keluarga dengan penyakit serupa: Ibu (+), Anak laki-laki (+)

35
4.1.1.3. PEMERIKSAAN FISIS
Keadaan umum : Composmentis
Tek. Darah : 140/80 mmHg
Frek. Nadi : 82x/menit
Frek Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36.5 C
BB : 50 kg
TB : 154 cm
IMT : 21.09 kg/m2 (Normal)

4.1.1.4.PEMERIKSAAN STATUS GENERALIS :


Kepala :
- Ekspresi wajah : normal
- Bentuk dan ukuran : normal
- Rambut : normal
- Edema : (-)
Mata :
- Simetris
- Alis : normal
- Exophtalmus : (-)
- Ptosis : (-)
- Strabismus : (-)
- Edema palpebra : (-)
- Konjungtiva : anemis (-/-), hiperemis (-/-)
- Sklera : ikterik (-/-), hiperemis (-/-), pterygium (-/-)
- Pupil : isokor, bulat, refleks (+/+)
- Kornea : normal
Telinga :
- Bentuk : normal
- Lubang telinga : normal, sekret (-/-)
- Nyeri tekan : (-)

36
- Pendengaran : normal
Hidung :
- Simetris, deviasi septum (-)
- Perdarahan (-), secret (-)
Mulut :
- Simetris
- Bibir : sianosis (-)
- Gusi : hiperemis (-), perdarahan (-)
- Lidah : glositis (-), atrofi papil lidah (-)
- Mukosa : kering
Leher :
- JVP : normal
Thoraks :
Cor
- Inspeksi : iktus cordis tidak tampak
- Palpasi : iktus cordis teraba di ICS 5 midklavikula sinistra
- Perkusi : redup
- Auskultasi : S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo
- Inspeksi : bentuk simetris, pergerakan dinding dada simetris,
penggunaan otot bantu nafas (-), pelebaran sela iga (-), frekuensi pernapasan 20
x/menit.
- Palpasi : pergerakan dinding dada simetris, fremitus raba
dan vocal simetris, provokasi nyeri (-).
- Perkusi : sonor di kedua lapang paru, nyeri ketok (-)
- Auskultasi : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-).
Abdomen :
- Inspeksi : distensi (-), skar (-).
- Auskultasi : bising usus (+) normal
- Palpasi : nyeri tekan (-), pembesaran organ (-)
- Perkusi : timpani

37
Inguinal-genital-anus : tidak diperiksa
Ekstremitas atas :
- Akral hangat : (+/+)
- Kulit : normal
- Deformitas : (-/-)
- Sendi : dalam batas normal
- Edema : (-/-)
- Sianosis : (-/-)
- Kekuatan : normal
Ektremitas bawah :
- Akral hangat : (+/+)
- Kulit : normal
- Deformitas : (-/-)
- Sendi : nyeri pada daerah genu sinistra, krepitasi (-)
- Edema : (-/-)
- Sianosis : (-/-)
- Kekuatan : normal
4.1.1.5. PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DIDAPATKAN
Kolesterol : 224 mg/dL
Asam Urat : 5,7 mg/dL
4.1.1.6. DIAGNOSIS KERJA
Hipertensi grade 1 + Dislipidemia
4.1.1.7.PENATALAKSANAAN
 Non Farmakologi
a. Diet rendah lemak, rendah garam
b. Berolahraga, menurunkan berat badan
c. Makan makanan bergizi
 Farmakologi
a. Amlodipin 5 mg 0-0-1
b. Simvastatin 0-0-1
c. Neurodex 1 dd I

38
4.1.1.8.PROGNOSIS
Quo ad vitam dan fungsional : dubia ad bonam
4.1.2. KELUARGA
 GENOGRAM

Pasien

Keterangan:
Hipertensi

Tidak menderita Hipertensi

 ANGGOTA KELUARGA
Nama Kepala Keluarga : Tn. W
Umur : 68 Tahun
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaan : Wiraswasta
Bentuk Keluarga : Nuclear Family

39
NAMA Umur / STATUS
JK DALAM PENDIDIKAN PEKERJAAN
KELUARGA
Tn.S 68 tahun Kepala Keluarga SD Wiraswasta
Laki-laki
Ny.A 62 tahun Ibu rumah SD Ibu rumah
Perempuan tangga tangga

F 40 tahun Anak 1 S2 PNS


Laki-laki
R 38 tahun Anak 2 S1 IRT
Perempuan
M 36 tahun Anak 3 S1 IRT
Perempuan
D 35 tahun Anak 4 S1 Wiraswasta
Perempuan
H 33 Tahun Anak 5 S1 PNS
Laki-laki
Z 30 Tahun Anak 6 S2 PNS
Laki-laki
A 27 Tahun Anak 7 S1 Pegawai
Laki-laki Swasta

 Penilaian Status sosial dan kesejahteraan hidup


 Lingkungan tempat tinggal
Status kepemilikan rumah : Milik sendiri

Daerah perumahan : Padat penduduk


Luas rumah 15m x 11m
Bertingkat Tidak

40
Jumlah penghuni rumah 4 orang
Luas halaman -
Lantai rumah terbuat dari Semen
Dinding rumah terbuat dari Tembok
Kondisi dalam rumah Sangat baik
Penerangan listrik Ada
Jambang Ada
Ketersediaan air bersih Ada (PDAM dan sumur)

 Kepemilikan barang – barang berharga


o Ny. A memiliki beberapa barang elektronik di rumahnya antara
lain yaitu, 1 buah televisi, 1 buah kulkas, 1 buah kipas angin, 1
buah rice cooker.
 Penilaian perilaku kesehatan keluarga
o Ny. A sering melakukan kontrol di puskesmas Tamangapa setiap
bulannya dan aktif melaksanakan kegiatan PROLANIS. Apabila
sakit, Ny. A sering berobat ke puskesmas dengan menggunakan
jaminan kesehatan berupa kartu BPJS
 Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga
o Pekerjaan sehari-hari pasien adalah seorang ibu rumah
tangga.Pasien ini tinggal di rumah yang terletak di Jl. Parinring.
Sekitar rumah yaitu bagian samping kiri dan kanannya berbatasan
dengan rumah batu, dan berada di lingkungan perumahan yang
cukup padat.
 Pola Konsumsi Makanan
o Pola makan 2-3 kali sehari dengan menu yang tidak tentu. Ny. A
membatasi penggunaan garam namun masih suka mengonsumsi
gorengan dan makanan berlemak.
 Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga

41
o Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sesama anggota
keluarga yang lainnya. Dengan seluruh anggota keluarga, terjalin
komunikasi yang baik dan cukup lancar.
 Lingkungan
o Lingkungan tempat tinggal sudah cukup baik. Tata pemukiman di
sekitar rumah terlalu padat. Sinar matahari kurang dapat masuk ke
dalam rumah, penerangan dalam rumah cukup. Ventilasi kurang.
Kebersihan dan kerapian rumah kurang rapi. Rumah memiliki
jamban. Air minum bersumber dari PDAM dan sumur bor.
Data sarana pelayanan kesehatan dan lingkungan kehidupan keluarga
Faktor Keterangan Kesimpulan tentang faktor
pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan Puskesmas Pelayanan dengan
kesehatan yang menggunakan kartu BPJS
digunakan oleh
keluarga
Cara mencapai Naik Bentor Jarak puskesmas den kediaman
sarana pelayanan Ny. A cukup dekat
kesehatan tersebut
Tarif pelayanan Gratis Semua pelayanan dengan
kesehatan yang menggunakan BPJS kelas 1
dirasakan
Kualitas pelayanan Baik Pasien merasa pelayanan baik
kesehatan yang karena dimulai dari
dirasakan pendaftaran , pengambilan
kartu, konsul dokter,
pengambilan obat berjalan
dengan lancar.

4.1.3. Analisa Kedokteran Keluarga


1. Fungsi Fisiologis (APGAR)

42
Fungsi fisiologis adalah suatu penentu sehat tidaknya suatu keluarga yang
dikembangkan oleh Rosan, Guyman dan Leyton, dengan menilai 5 Fungsi pokok
keluarga, antara lain:
- Adaptasi : Tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang
dibutuhkan.
- Partnership : Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap komunikasi dalam
mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
- Growth : Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang
diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan semua
anggota keluarga.
- Affection : Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang serta
interaksi emosional yang berlangsung.
- Resolve : Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan dalam
membagi waktu, kekayaan dan ruang atas keluarga.
Penilaian:
Hampir Selalu = skor 2
Kadang-kadang = skor 1
Hampir tidak pernah = skor 0
Total Skor:
8-10 = Fungsi keluarga sehat
4-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
0-3 = Fungsi keluarga sakit

Tabel 12. Penilaian Fungsi Fisiologis (APGAR) Keluarga Penderita Hipertensi


Penilaian
Hampir
Hampir Kadang-
No Pertanyaan Tidak
Selalu Kadang
Pernah
(2) (1)
(0)
1. Adaptasi √

43
Jika obat Anda habis / jadwal kontrol
laboratorium tiba apakah ada
anggota keluarga yang bersedia
mengantarkan Anda ke Puskesmas?
2. Partnership (Kemitraan)
Jika Anda lupa minum obat, apakah
ada anggota keluarga yang selalu √
mengingatkan untuk konsumsi obat
secara rutin?
3. Growth (Pertumbuhan)
Jika Anda tidak memasak karena
keterbatasan anda akibat penyakit √
yang anda derita, apakah anak anda
mau mengerti dengan anda?
4. Affection (Kasih Sayang)
Jika Anda merasa cemas akibat
penyakit anda, apakah anggota

keluarga yang lain selalu
mendampingi Anda dalam mengatasi
kecemasan tersebut?
5. Resolve (Kebersamaan)
Anda disarankan untuk mengurangi
konsumsi makanan yang berlemak
dan rendah garam. Apakah anggota √
keluarga yang lain mengkonsumsi
menu yang sama dan makan
bersama?
Total Skor 6
Dari tabel APGAR diatas total Skor adalah 8 ini menunjukkan Fungsi keluarga
kurang sehat.
2. Fungsi Patologis (SCREEM)

44
Aspek sumber daya patologi
- Sosial:
Pasien baik dalam bermasyarakat dengan tetangga.
- Cultural:
Pasien memiliki seorang suami dan 7 orang anak
- Religious:
Keluarga pasien rajin melakukan sholat 5 waktu dan puasa.
- Economy:
Keluarga pasien merasa kebutuhan ekonomi telah tercukupi.
- Education:
Tingkat pendidikan tertinggi di keluarga pasien yaitu S2
- Medication:
Pasien dan keluarga menggunakan sarana pelayanan kesehatan dari puskesmas
dan memiliki asuransi kesehatan BPJS.

4.2. PEMBAHASAN
Studi kasus dilakukan pada pasien wanita berumur 62 tahun dengan
keluhan tegang pada leher belakang. Pasien diketahui memiliki riwayat hipertensi
sejak 2 tahun yang lalu saat pasien memeriksakan dirinya di puskesmas dengan
keluhan sering mengalami sakit kepala. Pada awalnya pasien hanya minum obat-
obatan herbal untuk mengurangi keluhan tersebut namun tidak ada
perubahan.Sejak kunjungan ke puskesmas pasien teratur meminum obat yang
diberikan.
Diagnosis hipertensi ditegakkan atas dasar anamnesis, pemfis dan
pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis didapatkan gejala tegang pada
leher belakang dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tensi 140/80
mmHg. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan kolesterol darah melebihi normal
sehingga pasien didiagnosis dislipidemia. Berdasarkan Joint National Committee
VII (JNC VII), termasuk hipertensi stage I apabila tekanan darah sistolik ≥140 -
159 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90-99 mmHg. Berdasarkan indeks massa
tubuh (IMT), pasien ini masuk ke dalam normal karena memiliki IMT 21,09.

45
Penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien saat berkunjung di
puskesmas Tamangapa sesuai dengan keluhan yang dialami dan hasil pemeriksaan
laboratorium diberikan terapi medikamentosa yaitu Amlodipin sekali sehari dan
Simvastatin sekali sehari
Edukasi yang diberikan berupa cara mengontrol tekanan darah, makanan
yang perlu dihindari, komplikasi dari hipertensi yang mungkin terjadi dan
pentingnya pemeriksaan diri serta mengendalikan penyakit yang dialami oleh
pasien.
Pasien mengaku aktif dalam mengikuti kegiatan PROLANIS di puskesmas
Tamangapa. Dengan ikutnya pasien dalam PROLANIS, pasien akan diberikan
obat hipertensi untuk satu bulan, jadi pasien tidak perlu bolak balik setiap tiga
hari ke puskesmas. Manfaat lain yaitu setiap jumat seluruh pasien prolanis akan
mengikuti senam, dimana senam ini memang dikhususkan untuk pasien HT dan
DM.
4.2.1. Analisa Kasus
Pendekatan Kedokteran Keluarga Pada Pasien Hipertensi
Skor Resume Hasil Akhir Skor
Masalah Upaya Penyelesaian
Awal Perbaikan Akhir
Faktor biologis
- Hipertensi 2 - Edukasi mengenai penyakit - Terselenggara penyuluhan 4
merupakan penyakit dan pencegahannya melalui - Keluarga memahami
genetic penyuluhan gaya hidup bahwa penyakit hipertensi
sehat dengan makanan yg dapat dicegah
bergizi dan olahraga teratur - Keluarga mau menerapkan
gaya hidup sehat
Faktor ekonomi dan
pemenuhan kebutuhan
- Memiliki tabungan 4 - Motivasi mengenai - Keluarga menyisihkan 4
perlunya memiliki pendapatan untuk
tabungan tabungan
- Kehidupan sosial
dengan lingkungan 3 - Nasehat untuk bertawakkal - Memiliki rasa Tawakkal
kepada Allah, dan yakinkan kepada Allah, dan 4
bahwa semua akan baik- menjalin hubungan yang
baik saja. Serta sesekali baik dengan tetangga

46
bertegur sapa dengan
tetangga
Faktor perilaku
kesehatan
- Higiene pribadi yang 3 - Edukasi tentang pentingnya - Anggota keluarga paham 4
kurang dan PHBS dirumah untuk akan pentingnya PHBS
lingkungan yang mencegah infeksi. dan mau
kurang bersih mengaplikasikan dengan
baik PHBS dilingkungan
dan rumah mereka
- Minum obat teratur 4 - Edukasi untuk minum obat - Pasien selalu minum obat 5
sesuai anjuran dokter teratur sesuai anjuran
dokter

Faktor Psikososial
- Kurangnya perhatian 2 - Menyarankan kepada - Anggota keluarga 4
keluarga pasien anggota keluarga untuk bersedia memberi
terhadap penyakit lebih perhatian dengan perhatian lebih kepada
yang diderita pasien kondisi pasien pasien
- Motivasi untuk
sembuh sangatlah 2 - Memotivasi pasien serta - Pasien termotivasi untuk 4
kurang menjelaskan kepada pasien sembuh
bahwa penyakitnya dapat
sembuh apabila pasien
berobat secara teratur
Total Skor 20 29
Rata-rata Skor 2,8 4,1

Tabel 7. Skoring Kemampuan Pasien dan Keluarga dalam Penyelesaian


Masalah dalam keluarga
Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan masalah
Skor 1 :Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi.
Skor2 :Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, tidak ada sumber
(hanya keinginan), penyelesaian masalah dilakukan
sepenuhnyaoleh provider.
Skor 3 :Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang
belum
dimanfaatkan, penyelesaian masalah dilakukan sebagianbesar oleh
provider.
47
Skor 4 : Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih tergantung
pada upaya provider.
Skor 5 : Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga

4.2.2. Diagnosis Holistik, Tanggal Intervensi, Dan Penatalaksanaan


Selanjutnya
Pertemuan ke 1 : 31 Juli 2018
Saat kedatangan yang pertama dilakukan beberapa hal yaitu :
1. Memperkenalkan diri dengan pasien.
2. Menjalin hubungan yang baik dengan pasien.
3. Menjelaskan maksud kedatangan dan meminta persetujuan pasien
4. Menganamnesa pasien, mulai dari identitas sampai riwayat psiko-sosio-
ekonomi dan melakukan pemeriksaan fisik.
5. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan dan mempersiapkan alat
yang akan dipergunakan.
6. Memastikan pasien telah mengerti tujuan prosedur pemeriksaan.
7. Meminta persetujuan pemeriksaan kepada pihak pasien.
8. Membuat diagnosis holistik pada pasien.
9. Mengevaluasi pemberian penatalaksanaan farmakologis.

4.2.3. Anamnesis Holistik


Aspek Personal
Saat kami mendatangi rumah pasien, pasien seorang diri berada di rumah.
Suami pasien sedang bekerja dan anaknya sedang bekerja. Pasien baru pertama
kali mendapat kunjungan rumah untuk mengontrol keadaan pasien, disamping itu
pasien sangat begitu senang karena ada teman berbagi cerita. Pasien masih
memiliki harapan untuk bisa beraktifitas seperti sedia kala.
Aspek Klinik
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan
penunjang, didapatkan diagnosis Hipertensi + Dislipidemia.

48
Aspek Faktor Risiko Internal
Keluarga pasien ada yang memiliki riwayat hipertensi, yaitu ibu dan anak
laki-laki. Dulunya pasien sering meminum obat herbal untuk menurunkan tekanan
darahnya.Pasien kurang menerapkan pola hidup sehat berupa pola makan yang
baik dan olahraga teratur. Dari segi usia pasien juga sudah tergolong lansia
sehingga sangat rentan dengan berbagai penyakit.
Aspek Faktor Risiko Eksternal
Tidak ada pelaku rawat dari keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Keluarga
pasien kurang memerhatikan kondisi penyakit pasien, kurangnya komunikasi
antara pasien dan anggota keluarga dikarenakan kesibukan dari anak dan
suaminya sebagai keluarga sehingga tidak mengingatkan untuk berobat,
kontrol tekanan darah atau minum obat, dan kurang memperhatikan pola diet
pasien.
Aspek Fungsional
Ny. A sudah kurang mampu melakukan sendiri aktivitas dan menjalankan
fungsi sosial dalam kehidupannya.Ny. A banyak menghabiskan waktu di dalam
rumah saja.
Derajat Fungsional
Derajat 3 yaitu ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa dilakukan,
hanya dapat melakukan kerja ringan.
Rencana Pelaksanaan (Plan Of Action)
- Pertemuan ke-1: Puskesmas Tamangapa Jalan Tamangapa , 31 Juli 2018
pukul 10.00 WITA.
- Pertemuan ke-2: Rumah pasien Jalan Parinring, 31 Juli 2018 pukul 12.00
WITA.

Hasil yang
Aspek Kegiatan Sasaran Waktu Biaya Ket.
diharapkan
Aspek Memberikan edukasi kepada Pasien Pada saat Pasien dapat sadar Tidak Tidak
personal pasien mengenai hipertensi dan kunjungan dan mengerti akan ada menolak
komplikasiserta memberikan rumah pentingnya rutin
informasi mengenai mengonsumsi anti

49
perkembangan penyakitnya. hipertensi
Aspek Memberikan obat anti Pasien Pada saat Tekanan darah Tidak Tidak
klinik hipertensi dan obat kolesterol kunjungan dapat terkontrol, ada menolak
untuk mengontrol tekanan darah rumah kolesterol dapat
dan kadar kolesterol pasien terkontrol
Aspek Mengajarkan bagaimana pola Pasien Pada saat Tekanan darah Tidak Tidak
risiko makan yang baik, kunjungan dapat terkontrol, ada menolak
internal menganjurkan untuk menjaga rumah Kolesterol dapat
hygenitas diri terkontrol
Aspek Menganjurkan keluarga Keluarga Pada saat Keluarga Tidak Tidak
risiko memberi dukungan kepada kunjungan memberi ada menolak
external pasien agar selalu menjaga rumah perhatian dan
kesehatannya dan selalu dukungan lebih
mengingatkan pasien untuk kepada pasien dan
minum obat dan kontrol pasien lebih
tekanan darah, dan mendukung termotivasi untuk
pola diet pasien. sembuh

Menganjurkan kepada keluarga


pasien untuk meningkat-kan
komunikasi yang baik dengan
pasien
Aspek Menganjurkan untuk rajin Pasien Pada saat Agar kondisi Tidak Tidak
fungsional berolahraga serta menghindari kunjungan tubuh selalu sehat ada menolak
hal-hal yang bisa mencederai rumah dan bugar
pasien.

Tabel 8. Rencana Pelaksanaan (Plan Of Action)


4.2.4. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum baik, Tanda Vital: Tekanan Darah: 140/80 mmHg, Nadi :
82 x/menit, Pernapasan : 20 x/menit, Suhu : 36,5oC.

4.2.5.Pemeriksaan Penunjang
Kolesterol : 226 mg/dL
Asam Urat : 5,7 mg/dL
4.2.6. Diagnosis Holistik (Bio-Psiko-Sosial)
Diagnosa Klinis:
Hipertensi grade 1 + Dislipidemia

50
Diagnosa Psikososial:
- Kurangnya kesadaran akan keteraturan minum obat.
- Kurangnya perhatian dari anggota keluarga terhadap kondisi
kesehatan pasien.

4.2.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara kedokteran keluarga pada pasien ini meliputi
pencegahan primer, pencegahan sekunder (terapi untuk pasien dan keluarga
pasien).
Pencegahan Primer
Pencegahan primer diperlukan agar orang sehat tidak menderita penyakit
Hipertensi antara lain:
- Mengontrol tekanan darah
 Melakukan diet rendah garam
- Mencegah kolesterol:
 Melakukan diet rendah lemak
 Rajin berolahraga
Pencegahan Sekunder
1. Pengobatan farmakologi berupa:
- Anti hipertensi : Amlodipin 1x5mg
- Anti Kolesterol: Simvastatin 20mg 1x1
- Neurodex 1x1
Pencegahan Tersier :Rehabilitasi fisik, mental dan sosial.

Terapi Untuk Keluarga


Terapi untuk keluarga hanya berupa terapi non farmakologi terutama yang
berkaitan dengan emosi, psikis dan proses pengobatan pasien.Dimana anggota
keluarga diberikan pemahaman agar bisa memberikan dukungan dan motivasi
kepada pasien untuk berobat secara teratur dan membantu memantau terapi
pasien.Selain itu apabila kita kembali mengingat bahwa silsilah keluarga ini

51
dengan resiko penyakit yang tinggi sehingga, penting mengingatkan ke anggota
keluarga untuk menjaga pola makan serta melakukan kebiasaan hidup yang sehat.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
- Diagnosa klinis :
Hipertensi + Dislipidemia.
- Diagnosis psikososial :
Kurangnya kesadaran akan pentingnya berobat teratur serta kurangnya
perhatian dari anggota keluarga terhadap kondisi kesehatan pasien.
- Gambaran dari Genogram:
Ibu dan anak laki-laki pasien memiliki riwayat Hipertensi

5.2. SARAN
Dari beberapa masalah yang dapat ditemukan pada Ny. A, maka disarankan
untuk :
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang mencetuskan Hipertensi.
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentangHipertensi dan
Disipidemia serta komplikasi yang ditimbulkan pada saat tidak teratur
mengonsumsi obat.
- Memberi edukasi pada pasien tentang jenis fisioterapi ringan yang dapat
dilakukan sendiri di rumah.
- Menyarankan kepada keluarga untuk selalu memberi perhatian dan
dukungan lebih kepada pasien dan pasien lebih termotivasi untuk sembuh.
Menjelaskan kepada pasien untuk minum obat secara teratur dan
mengontrol penyakitnya secara rutin di pelayanan kesehatan terdekat.

52
LAMPIRAN

53
DAFTAR PUSTAKA

1. Sugiharto A. Faktor – Faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada


Masyarakat[tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro;2007.
2. Sarasaty RF. Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi pada
Kelompok Lanjut Usia di Kelurahan Sawah Baru Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan Tahun2001.Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah; 2012
3. Kementerian Kesehatan RI. Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Tahun
2011. Jakarta: Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI;2012.
4. Muhadi, JNC 8: Evidence-based Guideline Penanganan Pasien Hipertensi
Dewasa. Divisi Kardiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. CDK-236/ vol. 43 no. 1, th. 2016
5. http://eprints.undip.ac.id/43896/3/Gilang_YA_G2A009181_Bab2KTI.pdf.
Hipertensi. Universitas Diponegoro. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017
6. Sudoyo, Aru W., et. al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Kelima Jilid 1.
Interna Publishing. Jakarta; 2009.
7. Brashers, Valentina. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan &
Manajemen, Ed 2 (Terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta;
2004.
8. Soedirjo. Hipertensi dan Klinis. Farmacia. Jakarta; 2008.
9. WHO. Hypertension Report. WHO Technical Report Series. Geneva; 2007.
10. Leny Gunawan. Hipertensi : Tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Percetakan
Kanisus; 2001.
11. Nurlaely Fitriana. Hipertensi pada Lansia [internet]. c2010 [cited 2012 Nov
18]. Available from: http://nurlaelyn07.alumni.ipb.ac.id/author/
12. Smeltzer & Bare. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC. 2002.
13. Yogiantoro, Mohammad. Hipertensi Essensial. In: Sudoyo AW, Setyohadi B,
Alwi I, K MS, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi
V. Jakarta: Pusat Penerbitan Departeman Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2009.
P. 1079

54
14. Tugasworo D. Patogenesis aterosklerosis. Semarang: BP UNDIP. 2010: 3-14.
15. Anggie Hanifa. Prevalensi Hipertensi Sebagai Penyebab Penyakit Ginjal
Kronik Di Unit Hemodialisis RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2009
[internet]. c2010 [cited 2012 Aug 22]. p: 4-13. Available from:
http://repository.usu.ac.id
16. Guyton,AC. Hall,JE. Buku ajar fisiologi kedokteran .Jakarta: EGC. 2007.
17. Smeltzer & Bare. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC. 2002.
18. National Heart Lung and Blood Institute. What Is High Blood Pressure?
[internet]. c2009 [cited 2013 Jan 11]. Available from :
(http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/Hbp/HBP_WhatIs.html)
19. Lam Murni BR Sagala. Perawatan Penderita Hipertensi di Rumah oleh
Keluarga Suku Batak dan Suku Jawa di Kelurahan Lau Cimba Kabanjahe
[internet]. c2011 [cited 2012 Des 29]. p: 10-3. Available from:
http://repository.usu.ac.id/
20. Mayo Clinic Staff. High Blood Pressure (Hypertension) [internet]. c2012 Jan
[cited 2012 Des 29]. Available from: http://www.mayoclinic.com/health/high-
blood-pressure/risk-factors/
21. Efendi Sianturi. Strategi Pencegahan Hipertensi Esensial Melalui Pendekatan
Faktor Risiko di RSU dr. Pirngadi Kota Medan [internet]. c2004 [cited 2012
Des 29]. p: 10-64, 91. Available from: http://repository.usu.ac.id/
22. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Hipertensi. 2013. Jakarta.
Hal. 3-5
23. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18866/1/ikm-okt20059%20(4
).pdf (diakses pada tanggal 1 Agustus 2018)

55