Anda di halaman 1dari 3

Electroencephalogram (EEG)

Pengertian

Elektro Enselo Grafi (Electroencephalogram/EEG) adalah suatu alat yang mempelajari


gambar dari rekaman aktifitas listrik di otak, termasuk teknik perekaman EEG dan
interpretasinya. Neuron-neuron di korteks otak mengeluarkan gelombang-gelombang listrik
dengan voltase yang sangat kecil (mV), yang kemudian dialirkan ke mesin EEG untuk
diamplifikasi sehingga terekamlah elektroenselogram yang ukurannya cukup untuk dapat
ditangkap oleh mata pembaca EEG sebagai gelombang alfa, beta, theta dsb.
(http://elektromedik.blogspot.co.id/2008/04/eeg-elektro-encelografi.html)

Elektroensefalogram (EEG) adalah salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur
aktivitas kelistrikan dari otak untuk mendeteksi adanya kelainan dari otak. Tindakan ini
menggunakan sensor khusus yaitu elektroda yang dipasang di kepala dan dihubungkan melalui
kabel menuju komputer. EEG akan merekam aktivitas elektrik dari otak, yang
direpresentasikan dalam bentuk garis gelombang.
(https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/elektroenselografi)

Prinsip Kerja

Dalam bekerja, otak kita akan mengirimkan spektrum/sinyal-sinyal ke organ yang kita
hendaki untuk bergerak. Melalui sistem saraf sinyal-sinyal ini dilanjutkan hingga organ dapat
menerjemahkan menjadi respon gerak. Sinyal-sinyal ini berwujud gelombang elektrik yang
ukurannya sangat mikro. Sinyal inilah yang berusaha ditangkap dan direkam dengan bantuan
komputer sehingga aktifitas otak dapat teridentifikasi. Proses pemindaian sinyal otak ini tidak
seperti pada MRI atau Rontgen yang menggunakan teknologi cahaya. Pada EEG
(Electroencephalogram) pemindaian dilakukan dengan menyalurkan gelombang elektrik otak
kedalam kabel dan modulator yang peka terhadap gelombang elektrik. Nah, ketika otak bekerja
maka sistem pemindai EEG (Electroencephalogram) akan dapat merekam aktifitas eletrik otak
yang outputnya berbentuk gelombang grafik.

Gambaran Umum Penggunaan EEG

Pemeriksaan EEG umum dilakukan dengan indikasi sebagai berikut:

 Epilepsi
 Demensia
 Norkolepsi
 Abnormalitas sistem saraf
 Abnormalitas pada otak atau tulang belakang
 Kelainan mental

Pasien yang menunjukkan adanya kelainan pada otak diindikasikan untuk melakukan
tes EEG untuk diagnosa lebih lanjut. Bagaimanapun, EEG juga dipakai untuk memeriksa hal-
hal lain selain keperluan diagnosis. EEG dapat menentukan seberapa besar kemungkinan
pasien yang sedang dalam status koma dapat kembali sadar, juga memonitor aktivitas dari
jantung di bawah pengaruh anastesi.

Nizarrachman Hadi – 1113097000020


Fisika Instrumentasi 2013
Hasil dari tes Electroencephalogram dapat diperoleh pada hari yang sama, atau
selambat lambatnya satu hari setelahnya. Penentuan diagnosis abnormal atau normal
ditentukan oleh pola dari gelombang elektrik otak. Terdapat beberapa tipe gelombang elektrik
otak yang dapat dihasilkan dari tes EEG, di antaranya adalah:

 Gelombang alpha – gelombang alpha memiliki frekuensi sebesar 8 sampai 12 siklus


per detik. Gelombang ini hanya terjadi ketika dalam keadaan sadar sepenuhnya ataupun
dengan saat mata tertutup.
 Gelombang beta – gelombang beta memiliki frekuensi sebesar 13 sampai 30 siklus,
dan terjadi ketika dalam keadaan sadar.
 Gelombang delta – gelombang delta terjadi ketika tidur. Gelombang ini juta umum
ditemukan pada anak kecil.
 Gelombang theta – Seperti gelombang delta, gelombang theta terjadi dalam fase tidur,
dan memiliki 4 sampai 7 siklus per detik

Aktivitas normal otak memiliki gelombang alpha atau beta ketika tidur dan memiliki
pola aktivitas otak yang sama antar kedua belah otak. Otak tidak seharusnya mengalami sebuah
ledakan aktivitas atau sesuatu yang dapat memperlambat aktivitas kelistrikan otak. Saat tes
dilakukan, pasien akan dirangsang dengan cahaya untuk mengetahui respon dari otak, ketika
otak merespon dalam level normal maka aktivitas kelistrikan otak dapat dikatakan dalam
kondisi baik.

Sebaliknya, aktivitas kelistrikan otak dikatakan tidak normal ketika kedua belah otak
memiliki pola gelombang yang berbeda atau menunjukan adanya aktivitas kelistrikan yang
tajam. Ketika gelombang delta dan theta ditemukan saat pasien dalam kondisi sadar, maka hal
ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa. Sebuah lonjakan tajam dari gelombang aktivitas
otak harus menjadi perhatian dokter karena dapat menunjukan adanya gejala tumor otak,
epilepsi, infeksi atau stroke. Sebaliknya, ketika tidak ada gelombang otak yang terdeteksi,
maka pasien dapat diindikasikan dalam keadaan koma.

Selain mendeteksi keberadaan suatu kelainan, EEG juga menentukan abnormalitas


dalam aktivitas otak. hal ini sangat penting untuk menetukan tipe dari epilepsi atau kejang yang
dialami pasien. Namun, ketika EEG dipasang pada pasien epileps, sela-sela waktu pasien
kejang dapat menunjukan hasil rekaman yang normal.

Bagaimana tindakan ini bekerja?

Ketika pasien disarankan untuk melaksanakan tes EEG, beberapa persiapan penting
untuk dilakukan sehari sebelum tes berlangsung. Pasien harus menghindari konsumsi dari zat
sedatif, obat penenang, obat-obatan yang berefeksamping mengantuk, kopi, teh, soda, dan
cokelat. Kepala juga harus dipastikan dalam kondisi bersih, karena dalam tindakan ini akan
ditempelkan piringan metal pada kulit kepala. Hindari penggunaan minyak, kondisioner, krim,
atau spray rambut sebelum pergi ke rumah sakit. Beberapa dokter juga menyarankan untuk
mengurangi lama tidur beberpa jam sebelum melakukan tes karena nantinya pasien akan
diminta untuk tidur selama proses tes berlangsung.

EEG biasa dilakukan di rumah sakit di bawah pengawasan dari petugas EEG. Pasien
berbaring dan tindakan dimulai dengan menempelken piringan metal atau elektroda pada
beberapa titik di kepala pasien. Piringan metal ini dilekatkan menggunakan pasta yang lengket,
ataupun jarum. Terkadang, beberapa elektroda yang ditempelkan pada kepala digantikan

Nizarrachman Hadi – 1113097000020


Fisika Instrumentasi 2013
dengan sebuah penutup kepala yang dimana terdapat elektroda elektroda yang telah terpasang.
Elektroda ini akan dihubungkan dengan komputer, di mana aktivitas elektrik dari otak dapat
terekam.

Ketika tindakan sedang berlangsung pasien akan diminta untuk diam berbaring dan
tidak tidak diperbolehkan untuk berbicara. Petugas EEG akan mengamati dari jendela dan
meminta pasien unutk melakukan beberapa hal yang diperlukan untuk keperluan diagnosis,
seperti:

 Bernapas dalam dan cepat selama 20 menit


 Melihat pancaran cahaya
 Tidur (jika pasien sulit untuk tidur, obat penenang dapat diberikan)

Tes biasa dilakukan selama 1 sampai 2 jam. Namun, ketika tes dilakukan diperlukan untuk
mengamati masalah yang berhubungan dengan tidur, maka tes dilakukan selama pasien
tertidur.

Tes EEG tidak menimbulkan sakit kepada pasien. Namun, ketika tes ini menggunakan
jarum sebagai pengganti pasta lengket, sensasi tusukan dapat dirasakan pasien selama jarum
dipasang. Ketika menggunakan pasta, pasta mungkin tertinggal di rambut pasien yang
digunakan untuk menempelkan elektroda pada kulit kepala.

Komplikasi dan Risiko

Pemeriksaan EEG merupakan tes yang aman dengan risiko komplikasi yang sangat
kecil karena jumlah arus listrik yang dialirkan tidak akan mencapai keseluruhan tubuh. Satu-
satunya kemungkinan komplikasi yang mempengaruhi pasien dengan gangguan kejang, seperti
pancaran cahaya yang merupakan bagian dari tes dapat memicu serangan kejang. Dengan
demikian, petugas EEG melakukan beberapa tes sebagai tindakan pencegahan ketika
melakukan tes pada pasien dengan epilepsi atau gangguan kejang lainnya.

Referensi
1. https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/elektroenselografi (akses pada
tanggal 28 Maret 2016)
2. http://elektromedik.blogspot.co.id/2008/04/eeg-elektro-encelografi.html (akses
pada tanggal 28 Maret 2016)
3. http://mediaonlinenews.com/kesehatan/pengertian-eeg-electroencephalogram
(akses pada tanggal 28 Maret 2016)

Nizarrachman Hadi – 1113097000020


Fisika Instrumentasi 2013