Anda di halaman 1dari 83

Peta Jalan

Pengembangan
SMK2017-2019

2030

2019

2018

2017

DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Peta Jalan
Pengembangan
SMK2017-2019

2030

2019

2018

2017

DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2 Peta Jalan Pengembangan SMK
Kata Pengantar
T
antangan global saat ini menuntut tanggapan yang berakar dalam semangat bekerja kita bersa-
ma. Saya percaya bahwa risiko dan peluang yang kita hadapi untuk menyerukan perubahan par-
adigma kebekerjaan hanya dapat tertanam dalam masyarakat kita melalui pendidikan menengah
kejuruan dan pembelajaran. Peran pendidikan kejuruan sebagai katalis untuk membangun masa de-
pan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan untuk semua telah memperoleh peningkatan pengakuan.
Pendidikan Menengah Kejuruan untuk Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2030 merupakan
komitmen Indonesia terhadap komitmen dunia untuk menindaklanjuti Sustainable Development Goals
(SDGs 2030) yang salah satu klausul berbunyi ”By 2030, substantially increase the number of youth and
adults who have relevant skills, including technical and vocational skills, for employment, decent jobs
and entrepreneurship”

Untuk membangun prestasi dan menciptakan momentum baru ketika menuju 2030, Kement-
erian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun Peta Jalan Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan
untuk Pembangunan Berkelanjutan. Peta Jalan ini disusun melalui proses diskusi dan wawancara den-
gan melibatkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, dunia usaha/dunia industri, para ahli serta
praktisi pendidikan menengah kejuruan..

Peta jalan ini ditujukan untuk semua pemangku kepentingan - Pemerintah, organisasi mas-
yarakat sipil, sektor swasta, media, komunitas akademik dan penelitian, organisasi antar pemerintah dan
instansi terkait lainnya yang memfasilitasi dan mendukung pendidikan menegah kejuruan. Peta Jalan
menjelaskan Sasaran dan Tujuan, Area Aksi Prioritas untuk memungkinkan fokus strategis dan komit-
men stakeholder, bersama-sama dengan implementasi dan strategi pemantauan.

Saya berharap bahwa Peta Jalan Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan yang telah ditetapkan
ini, akan berhasil dalam memobilisasi masyarakat pemangku kepentingan untuk Pendidikan Menen-
gah Kejuruan untuk Pembangunan Berkelanjutan dan memberikan panduan praktis untuk pelaksanaan
yang efektif. Kita semua memiliki andil dalam di keberhasilannya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Prof. Muhajir Effendy

5iii Peta Jalan Pengembangan SMK


6 Peta Jalan Pengembangan SMK
Daftar Isi
Kata Pengantar iii
DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Posisi SMK dalam Sistem Pendidikan Nasional 3
B. Kebijakan Pemerintah 5
C. Tujuan Peta Jalan 6
D. Manfaat Peta Jalan 7
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan 7
2. Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi 7
3. Menteri Perindustrian 7
4. Menteri Tenaga Kerja 7
5. Menteri Perhubungan 7
6. Menteri Kelautan dan Perikanan 7
7. Menteri Badan Usaha Milik Negara 8
8. Menteri Energi dan Sumber Daya Meniral 8
9. Menteri Kesehatan 8
10. Menteri Keuangan 8
11. Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi 8
12. Gubernur Seluruh Indonesia 8
E. Metode Penyusunan Peta Jalan 9

BAB II SMK: MENDIDIK GENERASI MUDA MENJADI TERAMPIL 11


A. Pengertian Pendidikan Kejuruan 12
B. Pendidikan Kejuruan dalam Pembangunan Bangsa 15
C. Hubungan Struktur Pendidikan dan Tenaga Kerja 16
D. Spektrum SMK 17
E. Dalil Pendidikan Kejuruan 27

BAB III KONDISI DAN TANTANGAN SMK 29


A. Kondisi Umum SMK 30
1. Rasio SMK : SMA 31
2. APK SMK 32
3. Spektrum Keahlian SMK 32
4. Kondisi SMK 32
5. Nilai Akreditasi SMK 34
B. Analisis Lingkungan Strategis, Permasalahan dan Tantangan 36
1. Analisis Lingkungan Strategis 36
2. Permasalahan dan Tantangan Pembangunan 41
Sekolah Menengah Kejuruan Periode 2015—2019

7iv Peta Jalan Pengembangan SMK


BAB IV VISI, MISI DAN PROGRAM UTAMA 57
A. Visi Direktorat Pembinaan SMK 2015-2019 58
B. Misi Direktorat PSMK 2015-2019 59
C. Program Utama Direktorat PSMK 2015-2019 60

BAB V TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN 63


A. Pengembangan SMK 65
B. Tingkat Kebekerjaan Lulusan SMK 66
C. Peningkatan Ketercapaian Standar Nasional Pendidikan 67
D. Kerangka Pendanaan 73

8v Peta Jalan Pengembangan SMK


01

PENDAHULUAN

1 Peta Jalan Pengembangan SMK


2 Peta Jalan Pengembangan SMK
Posisi SMK dalam
Sistem Pendidikan Nasional
D alam undang-undang No.20 tahun 2003 ten-
tang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan
bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan ter-
melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Jalur
pendidikan adalah wahana yang dilalui perserta
didik untuk mengembangkan potensi dirinya da-
encana untuk mewujudkan suasana belajar dan lam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan
proses pembelajaran agar peserta didik secara ak- tujuan pendidikan. Terdapat tiga jalur pendidikan
tif mengembangkan potensi dirinya untuk memi- yaitu, jalur pendidikan formal, nonformal dan in-
liki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
bangsa dan Negara”. Berdasarkan pengertian pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah
tersebut dapat difahami bahwa pendidikan itu jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang
harus disadari arti pentingnya, dan direncanakan dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjen-
secara sistematis, agar suasana belajar dan pros- jang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan
es pembelajaran berjalan secara optimal. Den gan keluarga dan lingkungan.
terbentuknya suasana dan proses pembelajaran Jenjang pendidikan adalah tahapan pen-
tersebut, peserta didik akan aktif mengembang- didikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat
kan potensi sesuai dengan bakat dan minatnya. perkembangan peserta didik, tujuan yang akan di-
Dengan berkembangnya potensi peserta didik, capai, dan kemampuan yang akan dikembangkan.
maka mereka akan memiliki kekuatan spiritual Jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan dasar,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, ke- pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
cerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang Selanjutnya jenis pendidikan adalah kelompok
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan neg- yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendi-
ara. dikan dan suatu satuan pendidikan. Satuan pendi-
Selanjutnya pada pasal 3 Undang-undang dikan adalah kelompok layanan pendidikan yang
tersebut dinyatakan bahwa, “pendidikan nasi- menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal,
onal berfungsi mengembangkan kemampuan nonformal dan informal pada setiap jenjang dan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa jenis pendidikan. Jenis pendidikan meliputi, pen-
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan didikan umum, kejuruan, vokasi, profesional, aka-
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkemban- demik, keagamaan dan khsusus.
gnya potensi peserta didik agar menjadi manusia Berdasarkan hal tersebut di atas, Sekolah Me-
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang nengah Kejuruan (SMK), termasuk pada jalur pen-
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap didikan formal, jenjang pendidikan menengah
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang dan jenis pendidikan kejuruan. Dalam jalur pendi-
demokratis serta bertanggungjawab. dikan formal posisi SMK dalam sistem pendidikan
Pendidikan di Indonesia diselenggarakan nasional ditunjukkan pada gambar 1.1.

3 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 1. 1. Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan yang ada pada Sistem Pendidikan Nasional

4 Peta Jalan Pengembangan SMK


Kebijakan Pemerintah
P emerintah selalu berusaha untuk membangun
pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan.
Pada tahun 2016, Presiden Repuablik Indonesia
Berdasarkan instruksi Presiden tersebut, maka dis-
usunlah Peta Jalan Pengembangan SMK. Petajalan
atau Roadmap adalah: Any plan or guide to show
mengeluarkan kebijakan yang berupa Instruk- how something is arranged or can be accomplished”.
si Presiden No 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Peta jalan adalah, suatu rencana atau panduan
Sekolah Menengah Kejuruan Dalam Rangka Pen- yang menunjukkan segala sesuatu diatur dan
ingkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya dapat dicapai. Menuurt GIZ(2016) roadmap atau
Manusia Indonesia. peta jalan “merupakan desain perencanaan yang
Revitalisasi berarti membuat segala sesuatu inspiratif dan bisa menjadi rujukan bagi pengem-
yang tadinya belum vital menjadi lebih vital. bangan serta pelaksanaan Pendidikan Kejuruan
Dalam hal revitalisasi SMK, revitalisasi Sekolah untuk saat ini dan masa yang akan datang”. Dalam
Menengah Kejuruan adalah suatu upaya mem- hal ini petajalan pengembangan SMK yang akan
bangun SMK menjadi semakin berdaya dalam dibuat aalah pera jalan tahun 2017/2018 sampai
menghasilkan lulusan yang berkualitas, memiliki dengan tahun 2019/2020.
daya saing yang tinggi, dan mampu bekerja secara
profesional, dan adaptif terhadap perubahan ilmu
dan teknologi.
Dalam kebijakan tersebut presiden Presiden
republik Indonesia, menintruksikan kepada 12
Menteri Kabinet Kerja, Kepala Badan Sertifikasi
Profesi, dan 34 Gubernur di Seluruh Indonesia, un-
tuk 1) mengambil langkah-langkah yang diperlu-
kan sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan
masing-masing untuk merevitaslisasi SMK guna
meningkatkan kualitas dan daya saing sumber
daya manusia; 2) Menyusun peta kebutuhan tena-
ga kerja bagi lulusan SMK sesuai dengan tugas
fungsi dan kewenangan masing-masing yang per-
pedoman pada peta jalan pengembangan.
Dalam instruksi presiden tersebut, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan diberi tugas khusus
yaitu:
1. Membuat Peta Jalan (roadmap) Pengem
bangan SMK
2. Menyempurnakan dan melaraskan kurikulum
SMK dengan komptensi sesuai kebutuhan
pengguna lulusan (link ant match)
3. Meningkatkan jumlah dan komptensi bagi
pendidik dan tenaga kependidikan SMK
4. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga/
Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah,
dan Dunia Usaha/Industri
5. Meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK
dan Akreditasi SMK
6. Membentuk kelompok kerja pengembangan
SMK

5 Peta Jalan Pengembangan SMK


Tujuan Peta Jalan
P eta Jalan merupakan desain perencanaan yang inspiratif dan bisa menjadi rujukan bagi
pengembangan serta pelaksanaan Pendidikan Kejuruan untuk saat ini dan masa yang akan datang.

Peta Jalan disusun dengan tujuan :


1. Memberi petunjuk arah perubahan dan merumuskan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk
meningkatkan kualitas Pendidikan Kejuruan di Indonesia.
2. Menjadi pedoman dalam mengintegrasikan berbagai bidang pengembangan pendidikan kejuruan
dalam satu rencana yang memiliki visi, prioritas, target, strategi serta tahapan pencapaian yang
jelas.
3. Mendukung pelaksanaan Renstra (2015 – 2019);
4. Menjadi acuan/ referensi bagi pengembangan Renstra Kemdikbud yang akan datang (2020 – 2024,
2025 – 2030)
5. Mendukung kebijakan-kebijakan pembangunan sektor pendidikan kejuruan

Sumber gambar : www.pengertian-pendidikan ahiya.com

6 Peta Jalan Pengembangan SMK


Manfaat Peta Jalan
P eta Jalan ini diharapkan dapat digunakan se-
bagai acuan oleh stakeholder terkait, terdiri
dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK yang
meliputi tingkat kompetensi, jenis, jumlah,
lokasi, dan waktu;
Kementerian teknis terkait, pemerintah daerah, b. Sebagai acuan dalam menyusun member-
dinas pendidikan, dunia usaha/dunia industri dan ikan kemudahan bagi siswa SMK untuk
institusi pendidikan dalam mengembangkan Se- melakukan praktek kerja di Balai Latihan
kolah Menengah Kejuruan di Indonesia. Instutusi Kerja (BLK);
yang terkait adalah sebagai berikut, c. Sebagai acuan dalam menyusun melaku-
kan revitalisasi BLK yang meliputi infras-
1. Kementerian Pendidikan dan Kebu- truktur, sarana prasarana, program pelati-
dayaaan: han, dan sertifikasi; dan
d. Sebagai acuan dalam menyusun memper-
Sebagai acuan dalam pengembangan kebija- cepat penyelesaian Standar Kompetensi
kan peningkatan kualitas pendidikan kejuruan se- Kerja Nasional Indonesia
hingga tercipta kondisi pendidikan kejuruan yang
mampu menghasilkan lulusan yang memenuhi 5. Menteri Perhubungan
kebutuhan dunia usaha/dunia kerja, sebagian bisa
melanjutkan ke pendidikan Vokasi dan dan mam- a. Sebagai acuan meningkatkan akses sert-
pu berwirausaha. ifikasi lulusan SMK yang terkait dengan
bidang perhubungan;
2. Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi b. Sebagai acuan meningkatkan bimbingan
bagi SMK yang kejuruannya terkait dengan
a. Sebagai acuan dalam mempercepat penye- perhubungan;
diaan guru kejuruan SMK melalui pendi- c. Sebagai acuan memberikan kemudahan
dikan, penyetaraanm dan pengakuan akses bagi siswa, pendidik, dan tenaga
b. Sebagai pedoman dalam mengembangan kependidikan untuk melakukan PKL dan
program studi di Perguruan Tinggi untuk magang, termasuk berbagi sumber daya
menghasilkan guru kejuruan yang dibu- (resources sharing); dan
tuhkan SMK d. Sebagai acuan mempercepat penyelesaian
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indone-
3. Menteri Perindustrian sia.

a. Sebagai acuan dalam proyeksi pengem- 6. Menteri Kelautan dan Perikanan


bangan jenis komptensi, dan lokasi indus-
tri khususnya yang terkait dengan lulusan a. Sebagai acuan dalam meningkatkan akses
SMK sertifikasi lulusan SMK yang terkait dengan
b. Sebagai pedoman dalam memberikan ak- bidang kelautan dan perikanan;
ses yang lebih luas bagi siswa SMK untuk b. Sebagai acuan dalam meningkatkan bimb-
melakukan praktik kerja Lapangan dan pro- ingan bagi SMK yang kejuruannya terkait
gram magang bagi pendidikan dan tenaga dengan kelautan dan perikanan;
kependidikan SMK c. Sebagai acuan dalam memberikan kemu-
c. Sebagai acuan bagi industri untuk mem- dahan akses bagi siswa, pendidik, dan tena-
berikan dukungan dalam pengembangan ga kependidikan untuk melakukan PKL dan
teaching factory dan infrastruktur magang; dan
d. Sebagai acuan dalam mempercepat
4. Menteri Tenaga Kerja penyelesaian Standar Kompetensi Kerja
a. Sebagai acuan dalam menyusun proyeksi Nasional Indonesia.

7 Peta Jalan Pengembangan SMK


7. Menteri Badan Usaha Milik Negara d. Sebagai panduan dalam mempercepat
penyelesaian Standar Kompetensi Kerja
a. Sebagai pedoman bagi Badan Usaha Milik Nasional Indonesia.
Negara (BUMN) untuk menyerap lulusan
SMK sesuai dengan kompetensi yang dib- 10. Menteri Keuangan
utuhkan SMK;
b. Sebagai pedoman bagi BUMN untuk mem- a. Sebagai pedoman dalam menyusun Nor-
berikan akses yang lebih luas bagi siswa ma, Standar, Prosedur, dan Kriteria penge-
SMK untuk melakukan PKL dan magang lolaan keuangan teaching factory di SMK
bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang efektif, efisien, dan akuntabel; dan
SMK; dan b. Sebagai pedoman dalam melakukan de-
c. Sebagai pedoman bagi BUMN untuk mem- regulasi peraturan yang menghambat
berikan dukungan dalam pengembangan pengembangan SMK.
teaching factory dan infrastruktur.
11. Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi
8. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
a. Sebagai pedoman dalam mempercepat
a. Sebagai acuan dalam meningkatkan akses sertifikasi kompetensi bagi lulusan SMK;
sertifikasi lulusan SMK yang terkait dengan b. Sebagai pedoman dalam mempercepat
bidang energi dan sumber daya mineral; sertifikasi kompetensi bagi pendidik dan
b. Sebagai acuan dalam menyusun proyeksi tenaga pendidik SMK; dan mempercepat
pengembangan, jenis, kompetensi (job ti- pemberian lisensi bagi SMK sebagai lemba-
tle), dan lokasi industri energi yang terkait ga sertifikasi profesi pihak pertama
dengan lulusan SMK;
c. Sebagai acuan dalam meningkatkan dan 12. Gubernur Seluruh Indonesia
mendorong industri energi untuk member-
ikan akses yang lebih luas bagi siswa SMK a. Sebagai acuan untuk memberikan kemu-
untuk melakukan PKL dan magang bagi dahan kepada masyarakat untuk mendapa-
pendidik dan tenaga kependidikan SMK; tkan layanan pendidikan SMK yang ber-
dan mutu sesuai dengan potensi wilayahnya
d. Sebagai acuan dalam meningkatkan dan masingmasing;
mempercepat penyelesaian Standar Kom- b. Sebagai acuan untuk menyediakan pen-
petensi Kerja Nasional Indonesia. didik, tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana SMK yang memadai dan berkual-
9. Menteri Kesehatan itas;
c. Sebagai acuan untuk melakukan penataan
a. Sebagai panduan dalam menyusun proyek- kelembagaan SMK yang meliputi program
si pengembangan, jenis, kompetensi (job kejuruan yang dibuka dan lokasi SMK•, dan
title), dan lokasi fasilitas kesehatan yang d. Sebagai acuan untuk mengembangkan
terkait dengan lulusan SMK; SMK unggulan sesuai dengan potensi
b. Sebagai panduan dalam mendorong ru- wilayah masing-masing.
mah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya
untuk memberikan akses yang lebih luas
bagi siswa SMK untuk melakukan PKL dan
magang bagi pendidik dan tenaga kepen-
didikan SMK;
c. Sebagai panduan dalam memberikan ke-
sempatan yang luas kepada lulusan SMK
bidang kesehatan untuk bekerja sebagai
asisten tenaga kesehatan di rumah sakit
atau fasilitas kesehatan lainnya; dan

8 Peta Jalan Pengembangan SMK


Metode S ecara operasional, Sekolah Menengah Kejuru-
an adalah sekolah yang mendidik, mengajar
dan melatih penduduk usia sekolah SMK, untuk
dapat bekerja di bidang tertentu, melanjutkan ke

Penyusunan pendidikan yang lebih tinggi dan berwirasusaha.


Berdasarkan hal tersebut, maka penyusunan peta
jalan SMK tahun 2017/2018 – 2019/2020 didasar-

Peta Jalan
kan terutama pada proyeksi usia penduduk yang
akan masuk sekolah menengah kejuruan, dengan
mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja di
dunia usaha dan industri, peluang lulusan melan-
jutkan ke perguruan tinggi, dan peluang lulusan
untuk berwirausaha.
Data yang digunakan adalah data dokumneta-
si dari Biro Pusat Statistik, Lembaga Demografi UI,
Rentra Direktorat Pembinaan Pendidikan Kejuruan
(2015 – 2019), Statistik SMK dan proyeksi perkem-
bangan tahun 2018-2020 berdasarkan data yang
telah ada.

9 Peta Jalan Pengembangan SMK


10 Peta Jalan Pengembangan SMK
02

SMK: MENDIDIK GENERASI


MUDA MENJADI TERAMPIL

11 Peta Jalan Pengembangan SMK


Pengertian Pendidikan Kejuruan
Di negara-negara berkembang General or vocational education? This
pada umumnya menyeleng- is a “tough choice” in many develop-
garakan dua jenis pendidikan ing countries. In the human capital
utama yaitu pendidikan framework, general education creates
umum (general education) ‘general human capital’ and vocational
dan pendidikan kejuruan and technical education ‘specific human
(vocational education). Seper- capital’ Vocational education has an
ti dinyatakan oleh Jandhyala advantage, imbibing specific job-rel-
B.G. Tilak (2002), dalam “The evant skills, that can make the worker
Handbook on Educational more readily suitable for a given job
Research in the Asia Pacific and would make him/her thus more
Region” sebagai berikut. productive”

P endidikan umum atau pendidikan kejuruan.


Hal ini merupakan pilihan di beberapa negara
berkembang. Dalam pemikiran sumber daya ma-
ja dan 3. Kebiasaan berfikir (dalam pekerjaan).
Wenrich and Galloway (1988) mengemuka-
kan bahwa pendidikan kejuruan sama dengan
nusia/modal manusia, pendidikan umum akan pendidikan teknik dan sama dengan pendidikan
menghasilkan sumber daya manusia yang ma- okupasi. The term vocational education, technical
sih bersifat umum dan pendidikan kejuruan atau education, occupational education are used inter-
pendidikan teknik akan menghasilkan sumber changeably. These terms may have different conno-
daya manusia yang spesifik. Pendidikan kejuru- tations for some readers. However, all three terms
an memiliki beberapa keuntungan karena dapat refer to education for work. Istilah pendidikan keju-
menghasilkan sumber daya manusia yang ter- ruan, pendidikan teknik, dan pendidikan okupasi
ampil dan relevan, siap kerja dan produktif. digunakan secara bergantian. Istilah-istilah terse-
Dalam hal pendidikan kejuruan Prosser and but mempunyai konotasi yang berbeda-beda bagi
Quigley (1950) sebagai bapak pendidikan kejuru- pembaca, namun ke tiga istilah tersebut merupa-
an (vocational education) menyatakan “vocational kan pendidikan untuk bekerja.
education is essentially a matter of establishing cer- Wenrich and Galloway (1988) lebih jauh
tain habits through repetitive training both in think- mengemukakan bahwa “Vocational education
ing and in doing, it is primarily concerned with what might be defined as specialized education that pre-
these habits shall be and how they shall be taught. pares the leaner for entrance into a particular occu-
When consider the matter a little further we find pation or family occupation or to upgrade employed
there are general group of habits requires 1. Habits workers”. Pendidikan Kejuruan dapat diartikan
giving adaption to working environment 2. Process sebagai pendidikan yang spesial yang berfungsi
habits 3. Thinking habit”. Esensi dari pendidikan ke- menyiapkan peserta didik untuk memasuki peker-
juruan adalah mengajarkan kebiasaan berfikir dan jaan tertentu, atau pekerjaan keluarga atau untuk
bekerja melalui pelatihan yang berulang-ulang. meningkatkan kemampuan tenaga kerja.
Terdapat tiga kebiasaan yang harus diajarkan yai- Calhoun; 1982 menyatakan bahwa “Vocation-
tu: 1. Kebiasaan beradaptasi dengan lingkungan al education as organized educational programs
kerja; 2. Kebiasaan dalam proses pelaksanaan ker- which are directly related to The preparation of in-

12 Peta Jalan Pengembangan SMK


dividuals for paid or unpaid employment, or for ad- position in society through mastering his environ-
ditional preparation for a career requiry other than ment with technology. Additionally, vocational edu-
a baccalaureate of advanced degree” Pendidikan cation is geared to the needs of the job market and
kejuruan adalah suatu program pendidikan yang thus is often seen as contributing to national eco-
menyiapkan individu peserta didik menjadi tena- nomic strength
ga kerja yang profesional, juga siap untuk dapat
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih Pendidikan kejuruan itu identik dengan belajar
tinggi. “bagaimana untuk bekerja”, pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan memiliki arti yang luas, berupaya bagaimana untuk meningkatkan kom-
dan bukan sekedar Sekolah Menengah Kejuruan petensi teknik dan posisi seseorang di lingkun-
seperti di Indonesia. Lebih lanjut Wenrich and Gal- gannya melalui penguasaan teknologi dan pendi-
loway (1988) menyatakan: dikan kejuruan berkaitan erat dengan kebutuhan
pasar kerja. oleh karena itu sering dipandang se-
A large university with its many professional bagai sesuatu yang memberikan kontribusi yang
school-medicine, dentistry, law, engineer- kuat terhadap ekonomi nasional.
ing, social work, public health, and educa-
tion-could appropriately be call a vocational Pavlova (2009: 45) mendeskripsikan pendapat
school. Series terms, then, is used to denote Sanders dan Stevenson tentang pendidikan keju-
specialized education aimed at preparation ruan sebagai berikut:
for employment - vocational education, tech-
nical education, and professional education. ( ......conceptualisations of vocational edu-
Wenrich and Galloway 1988) cation are related to skill in using tools and
machines (Sanders, 2001),Steven (2003) vo-
Universitas yang luas yang memiliki berbagai cational education is identified a number of
program pendidkan profesional, seperti fakul- dichotomies in these underlying assump-
tas kedokteran, kedokteran gigi, hukum, teknik, tions. These include general knowledge ver-
pekerja sosial, kesehatan masyarakat, dan pendi- sus specific knowledge; theoretical knowl-
dikan, dapat dinyatakan sebagai sekolah kejuruan. edge versus practical/functional knowledge;
Pendidikan tersebut dikonotasikan sebagai pen- conceptual understanding versus proficiency
didikan vocational yang berfungsi menyiapkan in skills; creative abilities versus reproductive
tenaga kerja. Pendidikan ini sering dinamakan abilities;ratio intellectual skills versus physical
pendidikan kejuruan atau vokasi, pendidikan skills; preparation for life versus preparation
teknik dan pendidikan profesional. for work.

Clarke & Winch (2007:9) mendefinisikan “ vo- Pendapat di atas memiliki makna bahwa pendi-
cational education is confined to preparing young dikan kejuruan berkaitan erat dengan keterampi-
people and adults for working life, a process often re- lan menggunakan alat atau mesin, pendidikan
garded as of a rather technical and practical nature”. kejuruan diidentifikasikan pada asumsi dikotomi
Yang maknanya Pendidikan kejuruan adalah pen- yaitu pengetahuan umum lawan pengetahuan
didikan yang menyiapkan anak-anak muda orang khusus; pengetahuan teori lawan praktik; pema-
dewasa untuk memasuki lapangan kerja, pendi- haman konsep lawan pemilikan keterampilan; ke-
dikan kejuruan adalah suatu proses dalam pembe- mampuan kreatif lawan kemampuan reproduktif,
lajarannya berkaitan dengan masalah teknik dan keterampilan intelektual lawan kemampuan fisik;
praktik. persiapan untuk kehidupan lawan persiapan un-
tuk bekerja.
Henry dan Thompson dalam Berg (2002: 45) Menurut pendapat beberapa para ahli dapat
mendeskripsikan tentang pendidikan kejuruan disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan mer-
sebagai berikut: upakan pendidikan menengah yang memper-
siapkan peserta didik untuk menjadi tenaga kerja
Vocational education is “learning how to work”, vo- dan mandiri dalam bidang tertentu, juga harus
cational education has been an effort to improve berdasarkan tiga filosofi sentral, yaitu; (1) realitas
technical competence and to raise an individual’s kompetensi yang diajarkan di pendidikan kejuru-

13 Peta Jalan Pengembangan SMK


an sama dengan dunia Usaha dan Industri, (2) ke- pendidikan vokasi, atau pendidikan profesi, atau
benaran pendidikan kejuruan yang ada di sekolah menjadi guru SMK dan wirausaha. Manajemen
sama dengan di dunia usaha dan industri, (3) nilai SMK untuk bisa menghasilakn lulusan BMW terse-
pendidikan kejuruan yang ada di sekolah sama but digambarkan seperti gambar 1.2.
dengan di dunia usaha dan industri. Pendidikan Di Indonesia, antara pendidikan kejuruan,
kejuruan juga harus memberikan pengalaman vokasi dan profesional dibedakan. Berdasarkan
bekerja efektif dan efisien, memiliki pengetahuan Undang-undang No. 20 tahun 2003 dijelaskan se-
dan keterampilan psikomotorik dan selalu mengi- bagai berikut.
kuti perkembangan teknologi dunia, melakukan 1. PENDIDIKAN KEJURUAN: merupakan pen-
pengembangan, menjaga pengetahuan dan ket- didikan menengah yang mempersiapkan
erampilan dari diri sendiri agar selalu sesuai den- peserta didik terutama untuk bekerja dalam
gan yang ada di dunia kerja (Budiyono, 2012). bidang tertentu .
Seperti telah dikemukakan bahwa, menurut 2. PENDIDIKAN VOKASI : merupakan pendidikan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tinggi yang mempersiapkan peserta didik un-
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tuk memiliki pekerjaan dengan keahlian ter-
PENDIDIKAN KEJURUAN: merupakan pendidikan apan tertentu maksimal setara dengan pro-
menengah yang mempersiapkan peserta didik gram sarjana.
terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. 3. PENDIDIKAN PROFESI: merupakan pendi-
Namun berdasarkan fakta yang ada, lulusan SMK dikan tinggi setelah program sarjana yang
tidak hanya dapat bekerja pada bidang tertentu, mempersiapkan peserta didik untuk memiliki
tetapi juga bisa melanjutkan ke perguruan tinggi pekerjaan dengan persyaratan keahlian khu-
dan wirausaha. Oleh karena itu lulusan SMK bisa sus.
BMW, yaitu bekerja di dunia kerja dan dunia indus-
tri, melanjutkan ke perguruan tinggi khususnya ke

Gambar 2.2. Manajemen SMK menghasilkan BMW (Bekerja, Melanjutkan dan Wirausaha)

14 Peta Jalan Pengembangan SMK


Pendidikan Kejuruan dalam
Pembangunan Bangsa
1. Modern technology requires fewer highly qual-
Telah menjadi keyakinan semua bangsa di dunia, ified middle and lower level skilled personnel.
bahwa pendidikan mempunyai peran yang Vocational education can produce exactly this
sangat besar dalam kemajuan bangsa. George kind of manpower.
Bush (dalam Suyanto 2000 : 9) seorang mantan
presiden negara paling maju di dunia, masih Teknologi yang modern membutuhkan tena-
tetap mengakui bahwa investasi dalam ga kerja tingkat bawah dan menengah yang
pendidikan merupakan hal yang penting berkualitas dan terampil. Pendidikan kejuru-
dalam kemajuan bangsa. an merupakan institusi pendidikan yang pasti
dapat memproduksi tenaga kerja yang dibu-
tuhkan tersebut .
“As a nation, we now invest more in 2. Vocational and technical secondary education
education than in defense” can establish a closer relationship between
school and work.

Pendidikan kejuruan dan teknik tingkat me-

O leh sebab itu, di era global seperti saat


ini, manakala suatu pemerintahan tidak
mempedulikan pembangunan sektor pendidikan
nengah dapat menghubungkan antara seko-
lah dan dunia kerja. (dengan demikian mas-
yarakat yang akan bekerja harus mengikuti
secara serius dan berkelanjutan, mudah dipredik- pembelajaran pada pendidikan kejuruan, dan
si bahwa pemerintahan negara itu dalam jangka dunia kerja yang membutuhkan tenaga kerja
panjang justru akan menjebak mayoritas rakyatn- bisa lewat pendidikan kejuruan)
ya memasuki dunia keterbelakangan dalam berb-
agai aspek kehidupan (Suyanto, 2000 : 3). 3. Vocational education is considered helpful in
Unesco (2009) menyatakan bahwa “Education developing what can be termed as ‘skill-culture’
is critical for achieving environmental and ethi- and attitude towards manual work.
cal awareness, values and attitudes and behavior
consistent with sustainable development and for Pendidikan kejuruan membantu pembentu-
effective public participation in decision-making. kan budaya terampil dan membentuk sikap
Both formal and non-formal education are indis- kerja dalam pekerjaan yang manual.
pensable to sustainable development” Pendidikan
merupakan wahana untuk membangun lingkun- Urgensi pendidikan kejuruan dapat dika-
gan dan kesadaran etika, nilai, sikap dan perilaku ji dari fungsinya. Djojonegoro (dalam Sudira,
yang konsisten untuk pembangunan berkelan- 2009) menjelaskan pendidikan kejuruan memiliki
jutan, dan merupakan sarana yang efektif untuk multi-fungsi yang kalau dilaksanakan dengan baik
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pem- akan berkontribusi besar terhadap pencapaian
buatan keputusan. Baik pendidikan formal mau- tujuan pembangunan nasional. Fungsi-fungsi itu
pun nonformal dapat berperan dalam pembangu- meliputi: (1) sosialisasi yaitu, transmisi dan konk-
nan berkelanjutan. ritisasi nilai-nilai ekonomi, solidaritas, religi, seni,
Jandhyala B.G. Tilak (2002) dalam buku yang dan jasa; (2) kontrol sosial yaitu, kontrol perilaku
berjudul Vocational Education And Training In Asia, dengan norma-norma kerjasama, keteraturan, ke-
menyatakan bahwa: bersihan, kedisiplinan, kejujuran, keterbukaan; (3)

15 Peta Jalan Pengembangan SMK


seleksi dan alokasi yaitu, mempersiapkan, memi- lanjut, penyiapan diri bermasyarakat, berbangsa,
lih, dan menempatkan calon tenaga kerja sesuai bernegara, penyesuaian diri terhadap peruba-
dengan permintaan pasar kerja; (4) asimilasi dan han dan lingkungan; (2) bagi dunia kerja dapat
konservasi budaya yaitu, absorbsi antar budaya memperoleh tenaga kerja berkualitas tinggi, me-
masyarakat serta pemeliharaan budaya lokal; (5) ringankan biaya usaha, membantu memajukan
mempromosikan perubahan demi perbaikan. dan mengembangkan usaha; (3) bagi masyarakat
Pendidikan kejuruan tidak sekedar mendidik dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
melatih keterampilan yang ada, tetapi juga harus meningkatkan produktivitas nasional, mening-
berfungsi sebagai pendorong perubahan. Pendi- katkan penghasilan negara, dan mengurangi pen-
dikan kejuruan berfungsi sebagai proses akultur- gangguran.
asi atau penyesuaian diri dengan perubahan dan Pendidikan kejuruan telah terbukti mempu-
enkulturasi atau pembawa perubahan bagi mas- nyai peran yang besar dalam pembangunan In-
yarakat. Karenanya pendidikan kejuruan tidak ha- dustri, seperti di Jerman. Dalam hal ini Gatot Hari
nya adaptif tetapi juga harus antisipatif. Priyowiryanto, (dalam Kompas, 20 April 2002)
Selain didasarkan kepada fungsinya, urgensi menyatakan “Jerman menjadi negara industri
pendidikan kejuruan dapat dikaji dari manfaat- yang tangguh karena didukung tenaga terampil
nya. Pendidikan kejuruan menurut Sudira (2009) lulusan sekolah kejuruan. Sekitar 80% sekolah me-
memiliki tiga manfaat utama yaitu: (1) bagi pe- nengah di Jerman adalah sekolah kejuruan, 20%
serta didik sebagai peningkatan kualitas diri, sisanya adalah sekolah umum”
peningkatan peluang mendapatkan pekerjaan,
peningkatan peluang berwirausaha, peningkatan
penghasilan, penyiapan bekal pendidikan lebih

Hubungan Struktur
Pendidikan dan
Tenaga Kerja
S alah satu pendekatan dalam perencanaan pen-
didikan adalah, pendekatan kebutuhan tenaga
kerja (man power planing). Dalam pendekatan ini,
fil pekerjaan tersebut. Berbagai jenis dan jenjang
pendidikan disiapkan agar lulusannya dapat me-
masuki dunia kerja sesuai dengan jenis dan jen-
pendidikan pada setiap jenjang direncanakan dan jangnya. Hubungan antar struktur/jenjang pendi-
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga dikan dengan struktur tenaga kerja ditunjukkan
kerja. Karena profil pekerjaan di dunia kerja dan pada gambar 2.3 berikut.
dunia industri bervariasi dan berstrata, maka pen-
didikan yang disiapkan juga harus mengikuti pro-

16 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 2. 3. Hubungan struktur pendidikan dan tenaga kerja

Berdasarkan gambar 2.3 tersebut dapat di- lebih dulu, sedangkan lulusan SMK, Diploma/Po-
jelaskan sebagai berikut. Dengan berkembangnya liteknik dan Spesialis yang akan memasuki dunia
teknologi yang dimanfaatkan untuk membantu kerja tidak perlu dilatih, karena pendidikan terse-
pelaksanaan pekerjaan di dunia kerja dan dunia but harus sudah menghasilkan lulusan yang siap
industri, maka struktur tenaga kerja berubah dari pakai (ready for use).
piramida (segitga) menjadi belah ketupat. Pada Seperti telah dikemukakan, dengan berkem-
struktur tenaga kerja yang berbentuk piramida, bangnya ilmu dan teknologi, terjadi perubahan
jumlah tenaga kerja yang terbanyak adalah lulu- dalam profil pekerjaan, di mana sebelum ada te-
san SD, berangsur-angsur jumlahnya semakin knologi yang mutakhir pekerjaan lebih banyak
sedikit pada lulusan SMP, SMA, dan Perguruan dikerjakan dengan tenaga fisik manusia (otot),
Tinggi. Sedangkan struktur tenaga kerja yang ber- dan sekarang lebih banyak dikerjakan dengan
bentuk piramida, jumlah tenaga kerja yang ter- otak/fikiran. Hasil penelitian Sugiyono (1990),
banyak adalah lulusan SMK, dan berangsur angsur menyatakan bahwa profil tenaga kerja di industri
semakin sedikit untuk lulusan Diploma dan SMK, permesinan modern sudah berubah dari kemam-
lulusan perguruan tinggi dan lulusan SD. Lulusan puan mengoperasionalkan mesin secara manual,
SD menjadi tenaga kasar, lulusan SMP menjadi menjadi kemampuan membuat perintah kerja
tenaga kerja semi skill/juru teknik pembantu, lulu- pada mesin. Dengan demikian profil tenaga ker-
san SMK/SMA menjadi tenaga Juru Teknik, lulusan ja utama saat ini adalah kemampuan membuat
Diploma menjadi Teknisi dan lulusan Perguruan perintah pada mesin. Untuk memiliki kemampuan
Tinggi spesialis I, II dan III menjadi tenaga Profe- membuat perintah pada mesin, maka kompetensi
sional. tenaga kerja harus tahu program dan bahasa me-
Berdasarkan gambar 2.3 tersebut juga dapat sin.
diketahui bahwa, lulusan SMP dan SMA yang mau
masuk ke dunia kerja, perlu diberi pelatihan ter-

17 Peta Jalan Pengembangan SMK


Spektrum S esuai dengan konsep vocational education,
pendidikan vocational itu sebenarnya berada
pada jenjang pendidikan menengah dan pendi-
dikan tinggi, dari program diploma sampai den-

SMK gan spesialis. Namun di Indonesia pendidikan


kejuruan ada pada jenjang pendidikan menen-
gah yang dinamakan SMK. Jenis-jenis pendidikan
kejuruan disusun dalam spectrum pendidikan
kejuruan. Spektrum pendidikan kejuruan ditu-
angkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendi-
dikan Dasar dan Menengah Nomor : 4678/D/KEP/
MK/2016 Tanggal : 2 September 2016. Spektrum
keahlian pendidikan menengah kejuruan, ditun-
jukkan pada tabel 2.1 berikut.

18 Peta Jalan Pengembangan SMK


TABEL 2.1 SPEKTRUM KEAHLIANPENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN (SMK)

19 Peta Jalan Pengembangan SMK


20 Peta Jalan Pengembangan SMK
21 Peta Jalan Pengembangan SMK
22 Peta Jalan Pengembangan SMK
23 Peta Jalan Pengembangan SMK
24 Peta Jalan Pengembangan SMK
25 Peta Jalan Pengembangan SMK
26 Peta Jalan Pengembangan SMK
Dalil Pendidikan Kejuruan
P rosser A. Charles and Quigley Thos (1950) yang
merupakan Bapak Pendidikan Kejuruan (Voca-
tional Education), memberikan 16 dalil atau prin-
5. That effective vocational education for
any profession, calling, trade, occupation
or job can only be given to the selected
sip dasar pendidikan kejuruan. Pendidikan Kejuru- group of individuals who need it, want it
an akan berhasil bila memenuhi 16 prinsip dasar/ and are able to profit by it. Pendidikan ke-
daliltersebut. Prinsip-prinsip dasar pendidikan ke- juruan untuk satu jenis keahlian, posisi, dan
juruan adalah sebagai berikut. keterampilan akan efektif hanya jika diber-
ikan pada kelompok individu yg merasa
1. Vocational education will be efficient in memerlukan, menginginkan dan mendapt-
proportion as the environment in which kan keuntungan dari padanya.
the leaner is trained is a replica of the en-
vironment in which he must subsequent- 6. Vocational education will be effective in
ly work. Pendidikan kejuruan akan efisien proportion as the specific training experi-
apabila disediakan lingkungan belajar ence for forming right habits of doing and
yang sesuai dengan masalah yang sama thinking are repeated to the point that the
atau merupakan replika/tiruan terhadap habits developed are those of the finished
lingkungan di mana mereka natinya beker- skill necessary for gainful employment.
ja. Penataran kejuruan akan efektif bila pen-
galaman penataran yang dilakukan akan
2. Effective vocational training can only be melatih membiasakan bekerja dan berfikir
given where the training jobs are carried secara teratur, sehingga merupakan sarana
on in the same way which the same opera- yang betul-betul diperlukan untuk mening-
tion, the same tool and the same machines katkan prestasi kerja.
in the occupational itself. Latihan kejuruan
dapat diberikan secara efektif hanya jika la- 7. That vocational education will be effec-
tihan dilaksanakan dengan cara yang sama, tive in proportion as the instructor has
operasi sama, peralatan sama dengan ma- successful experience in the application
cam kerja yang akan dilaksanakan kelak. of skill and knowledge to the operation
and processes he undertakes to teach.
3. Vocational education will be effective in Pendidikan kejuruan yang efektif apabila
proportion as it trains the individual di- instruktur telah mempunyai pengalaman
rectly and specifically in the thinking hab- yang berhasil di dalam menerapkan keter-
its and the manipulative habits required in ampilan dan pengetahuan mengenai oper-
the occupation itself. Pendidikan kejuruan asi dan proses.
akan efektif apabila individu dilatih secara
langsung dan spesifik untuk membiasakan 8. For every occupation there is a minimum
cara bekerja dan berfikir secara teratur. of productive ability which an individual
must possess in order to secure or retain
4. Vocational education will be effective in employment in that occupation. If vo-
proportion as it enables each individual cational education is not carried to that
to capitalize his interests, aptitudes and point with that individual, it is neither
intrinsic intelligence to the highest pos- personally nor socially effective. Untuk
sible degree. Pendidikan akan efektif jika setiap jenis pekerjaan, indidividu minimum
membantu individu untuk mencapai ci- harus memiliki kemampuan berproduksi
ta-cita, kemampuan, dan keinginan yang agar bisa memp ertahankan diri sebagai
lebih tinggi. karyawan pada pekerjaan tersebut.

27 Peta Jalan Pengembangan SMK


9. Vocational education must recognize apabila diselenggarakan dan diberikan
condition as they are and must train in- pada manusia yang pada saat itu memer-
dividuals to meet more efficient ways of lukan dan mareka mendapat keuntungan
conducting the occupation may be known dari program tersebut.
and that better working condition are
highly desirable. Pendidikan kejuruan ha- 14. Vocational education will be socially ef-
rus memahami posisinya di masyarakat, ficient in proportion as in its methods of
melatih individu untuk memenuhi tuntut- instruction and its personal relation with
an pasar tenaga kerja dan menciptakan learner it take into consideration the par-
kondisi kerja yang lebih baik. ticular characteristic of any particular
group which it serves. Pendidikan kejuruan
10. The effective establishment of process secara sosial akan efisien apabila metode
habits in any leaner will be secured pro- pembelajaran memperhatikan kepribadi-
portion as the training is given on actual an siswa dan karakteristik kelompok yang
jobs and not on exercises or pseudo jobs. dilayani.
Kebiasaan kerja akan terjadi, apabila pendi-
dikan kejuruan memberi pelatihan dengan 15. The administration of vocational edu-
pekerjaanyang nyata, dan bukan sekedar cation will be efficient in proportion as
pekerjaan untuk latihan atau pekerjaan its is elastic and fluid rather than rigid
yang bersifat tiruan. and standardized. Administrasi dalam
pendisikan kejuruan akan efisien bila dilak-
11. The only reliable source of content for sanakan dengan fleksibel, dinamis dan ti-
specific training in an occupation is in the dak kaku.
experience of master of that occupation.
Hanya dengan memberi pelatihan yang 16. While every reasonable effort should be
bersumber dari dunia kerja yang konsisten, made to reduce per capita cost , there is a
meraka akan memiliki pengalaman tuntas minimum below which effective vocation-
dalam pekerjaan. al education cannot be given, and if the
course does not permit of this minimum
12. For every occupation there is a body of of per capita cost, vocational education
content which is peculiar to that occupa- shoul not be attempted. Walaupun setiap
tion and which practically has no func- usaha perlu dilaksanakan sehemat mun-
tioning value in any other occupation. gkin, pembiayaan pendidikan kejuruan
Untuk setiap jenis pekerjaan, terdapat satu yang kurang dari batas minimum tidak bisa
batang tubuh isi, satu materi yang sangat dilaksanakan secara efektif, dan jika pen-
tepat untuk satu jenis pekerjaan, belum gajaran tidak bisa menjangkau biaya min-
tentu cocok untukpekerjaan yang lain. imumnya, sebaiknya pendidikan kejuruan
tidak perlu dilaksanakan.
13. Vocational education will render efficient
social service in proportion as it needs the
specific training needs of any group at the
time that they need it and in such a way
that they can most effectively profit by
the instruction. Pendidikan kejuruan akan
menuju pada pelayanan sosial yang efisien

28 Peta Jalan Pengembangan SMK


03

KONDISI DAN TANTANGAN


SMK

Penyusunan petajalan SMK tahun 2017/2018 – 2019/2020 didasarkan pada kondi-


si awal SMK dan tantangan yang dihadapai di masa yang akan datang. Berikut ini
dikemukakan kondisi awal SMK secara nasional dan tantangan yang dihadapi.

29 Peta Jalan Pengembangan SMK


Kondisi Umum SMK
K ondisi secara umum SMK pada tahun 2017
ini masuk dalam RPJMN-III 2015-2019 masuk
dalam tema pembangunan pendidikan yang di-
yang berbasis pada SDA yang tersedia, SDM yang
berkualitas serta kemampuan IPTEK.

arahkan dalam memantapkan pembangunan Secara rinci untuk pembangunan pendidikan SMK
secara menyeluruh dengan menekankan pemba- sampai dengan tahun 2016 disajikan dalam gam-
ngunan keunggulan kompetetitif perekonomian bar berikut;

Gambar 3.1. Pembangunan Pendidikan SMK 2009 s.d. 2016

P ada akhir tahun 2016 berbasarkan laporan da-


lam Buku Data SMK tahun 2016 terlihat bahwa
jumlah SMK saat ini ada 13.637 sekolah, Jumlah
akan tetapi untuk jumlah guru turun 0,9%. Dari
data juga terlihat tamatan yang berhasil dilulus-
kan pada tahun 2016 adalah sebanyak 1.277.564
Siswa 4.681.776, dan jumlah guru 258.407 orang. siswa. Pada akhir tahun 2016 secara umum rasio
Hal ini sudah menunjukkan pertumbuhan dan Siswa dibanding Guru sebesar 18 : 1 dan ini masih
peningkatan yang sangat berarti dari tahun se- terlalu besar sedangkan menurut PP No. 74 Tahun
belumnya walaupun jumlah guru ada penurunan, 2008 Pasal 17 rasio untuk SMK seharusnya 15:1.
jumlah SMK naik 7,2%, jumlah Siswa naik 7,4%,

30 Peta Jalan Pengembangan SMK


Intervensi yang telah dilakukan Direktorat 1. Rasio SMK : SMA
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan dari peri-
ode 2010 s.d. 2014 telah melakukan yaitu: Perbandingan rasio jumlah siswa SMK dan SMA
1) beasiswa; 2) revitalisasi sarpras; 3) pembelaja- dari tahun 2014 s.d 2016 disajikan dalam Gambar
ran berbasis TIK; 4) pengembangan teaching dan Tabel sebagai berikut. Dari data yang diper-
industry; 5) penambahan guru produktif; 6) ke- oleh mulai tahun 2015 rasio SMK dan SMA baru
mitraan dengan Perguruan Tinggi; 7) kemitraan mulai terbalik dengan jumlah siswa SMK (50,6%)
dengan industri; 8) penambahan RKB/USB; dan 9) lebih banyak dari SMA (49,4%), dan pada akhir ta-
peningkatan citra SMK. hun 2016 rasio SMK : SMA menjadi 52,1% : 47,9%.

Gambar 3.2. Rasio Perbandingan Jumlah Siswa SMK dan SMA

Sumber : diolah dari Data SMK dan SMA Tahun 2014 s.d. 2016

31 Peta Jalan Pengembangan SMK


2. APK SMK 4. Kondisi SMK

Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan pro-


porsi anak Sekolah pada suatu jenjang tertentu
adalam kelompok usia yang sesuai dengan jen-
jang pendidikan tersebut. Pada pendidikan jen-
jang SMK, data APK dari tahun 2014 s.d. 2016 disa-
jikan dalam tabel dan gambar berikut.
Dari data di bawah, dapat terlihat bahwa data
APK pada tahun 2016 sudah naik tajam (32,6%)
walaupun belum sesuai dengan target yang di-
harapkan. Pada renstra yang sebelumnya pada
tahun 2014 diharapkan sudah APK mencapai 35%
akan tetapi baru terpenuhi 31,9%. Oleh karena
itu diperlukan dorongan yang lebih serius untuk
meningkatkan jumlah siswa SMK.

Sumber: Dit. Data SMK tahun pelajaran 2016/2017

Hingga akhir 2016 jumlah SMK di Indonesia


sudah mencapai 13.637 sekolah, dengan jumlah
siswa sebesar 4.681.776 orang. Jumlah murid SMK
yang besar tersebut terbagi dalam 150 ribu rom-
bongan belajar. Sehingga pada saat ini rasio untuk
1 rombel diisi oleh 31,13 siswa dan ini sudah da-
lam masuk dalam kategori yang ideal jika di band-
ing dengan SNP adalah 1 rombel : 32 siswa. Jika
Gambar 3.3. APK SMK Tahun 2014 s.d. 2016 dalam satu sekolah rata-rata ada 3 paket keahlian
yang dibuka maka saat ini ada 40.911 paket.
Data perbandingan jumlah SMK Negeri dan
SMK Swasta di Indonesia masih didominasi oleh
sekolah swasta dengan perbandingan negeri dan
swasta seberar 25,54% : 74,46%. Dengan per-
3. Spektrum Keahlian SMK bandingan ini tentunya akan berpengaruh terha-
dap mutu yang diselenggarakan oleh pendidikan
Spektrum keahlian SMK yang merupakan ac- SMK dimana rata-rata sekolah SMK Swaswa masih
uan dalam pembukaan dan penyelenggaraan kurang dalam hal sarana dan prasarana yang ada.
bidang/program/paket keahlian pada SMK ter- Selain itu jika dilihat dari proporsi jumlah mu-
us meneruh dikembangkan disesuaikan dengan rid untuk sekolah negeri dan swasta juga sedikit
kebutuhan pasar kerja. Jumlah Spektrum Keah- terbalik, untuk sekolah negeri yang 26% menam-
lian SMK berubah menuntut perubahan jaman, pung murid sebanyak 43% sedangkan yang seko-
perkembangan jumlah spektrum pada tahun 2014 lah swasta sebanyak 74% hanya menampung 57%
jumlah spektrum ada 128 kompetensi keahlian, siswa. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata secara
sedangkan pada tahun 2016 sudah mencapai 142 umum untuk sekolah negeri jumlah siswanya
kompetensi keahlian. Walaupun demikian belum lebih banyak dibanding dengan sekolah swasta.
sepenuhnya bidang keahlian yang dibutuhkan Rata-rata pada satu sekolah negeri menampung
pada industri atau tempat kerja sudah terpenuhi sebanyak 575 siswa dan pada satu sekolah swasta
semuanya. menampung sebanyak 264 siswa.

32 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.3. Prosentase perbandingan kondisi SMK Negeri dan SMK Swasta

Dari data juga terlihat bahwa kondisi SMK


jika dilihat dari ruang kelas, rata-rata untuk
SMK Swasta hanya mempunyai 1 ruang
praktik dan untuk SMK Negeri memiliki 3
ruang praktik. Secara lebih rinci dapat
dilihat dalam tabel berikut.

33 Peta Jalan Pengembangan SMK


*sumber : data SMK 2016/2017 Tabel 3.3. Kondisi SMK Tahun 2016

5. Nilai Akreditasi SMK


Pencapaian nilai akreditasi sekolah untuk SMK dikit yang telah di akreditasi. Dari data terlihat
pada tahun 2016 disajikan dalam tabel dan gam- baru 41% yang telah dilakukan akreditasi dan
bar berikut. Berdasarkan penilaian dari BAN SM masih ada 59% belum dilakukan akreditasi. Jika
untuk nilai akreditasi SMK yang mendapat nilai dilihat dari total terlihat yang dapat nilai akreditasi
A (2.864 sekolah), B (2.352 sekolah), C (347 seko- A baru 21% sehingga mutu SMK masih perlu un-
lah) dan tidak terakreditasi ada (36 Sekolah). Jika tuk ditingkatkan lagi agar nilai akreditasi A dapat
dilihat dari total SMK yang ada pada tahun 2016 meningkat lagi.
sebanyak 13.637 SMK sehingga masih sangat se-

Tabel 3.5. Nilai Akreditasi Berbagai Jenjang Sekolah

Data rata-rata ketercapaian pada setiap stan- untuk nilai yang tertinggi pada pada standar isi,
dar akreditasi disajikan dalam gambar berikut. Dari pembiayaan dan penilaian dengan nilai 86. Pada
gambar terlihat bahwa pada standar PTK nilainya nilai standar yang sudah tinggi perlu untuk diper-
paling rendah hanya dapat nilai 79 sedangkan tahankan lagi.

34 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.4. Rata-Rata Ketercapaian Standar Nasional Pendidikan Pada SMK
Secara Nasional Tahun 2016

35 Peta Jalan Pengembangan SMK


Analisis Lingkungan Strategis,
Permasalahan dan Tantangan
1. Analisis Lingkungan Strategis rendahnya tingkat ketergantungan mas-
yarakat pada pemerintah. Namun demiki-
Analisis lingkungan strategis dibutuhkan un- an apabila Indonesia gagal dalam memper-
tuk menggambarkan berbagai isu strategik di siapkan penduduk produktif tersebut maka
luar dunia pendidikan yang patut diperhatikan akan berdampak pada sangat tingginya
sebagai acuan dalam pembangunan pendidikan tingkat ketergantungan masyarakat akibat
selanjutnya. dari pengangguran.

a. Trend Pertumbuhan Ekonomi c. Spektrum Tenaga Kerja di Indonesia



Indonesia diramalkan akan menjadi salah Kondisi tenaga kerja di Indonesia saat ini
satu bangsa besar di dunia. Berdasarkan masih didominasi oleh lulusan pendidikan
analisis yang dilakukan analisis yang dilaku- dasar dengan populasi mencapai 31% dari
kan oleh McKinsey Global Institute pada ta- penduduk bekerja saat ini. Sementara lulu-
hun 2012, pada tahun 2013 Indonesia akan san SMK baru dapat berkontribusi sebesar
naik menjadi negara ke 7 dengan tingkat 13% masih di bawah lulusan SMA (21%)
ekonomi terbesar di dunia (2012 berada pada bulan Februari 2016. Hal ini dapat
pada urutan 16 dunia). Dengan masyarakat dimaklumi karena jumlah angkatan kerja
pada kelompok konsumsi akan tumbuh lulusam SMK lebih kecil dari lulusan SMA.
signifikan dari 45 juta menjadi 135 juta Dengan perubahan rasio 40% SMA : 60%
penduduk dan 71% penduduk di perko- SMK akan merubah jumlah ketenagak-
taan akan menghasilkan 86% Pendapatan erjaan tingkat SMK. Jika dilihat dari data
Domestik Bruto (PDB) (sebelumnya hanya jumlah SMK yang menganggur ada 9,82%
53% penduduk yang menghasilkan 74% dan untuk SMA ada 6,96%. Oleh karena
PDB). Namun demikian Indonesia perlu perlu untuk didorong peningkatan mutu
menetap 58 juta tenaga kerja berketrampi- pendidikan di SMK agar semakin menurun
lan untuk dapat mencapai kondisi tersebut. jumlah pengangguran yang ada.
SMK adalah merupakan solusi utama dalam
mencetak tenaga kerja terampil melalui d. Permintaan terhadap pekerja terampil
pendidikan formal. cenderung terus meningkat

b. Perkembangan Demografi di Indonesia Peningkatan jumlah pekerja menurut data


BPS per februari dari tahun 2013 s.d. 2016
Berbasis pada tren pertumbuhan pen- pada jenjang SMK relative fluktuatif. Data
duduk Indonesia saat ini, pada tahun 2025 terlihat bahwa pada tahun 2016 ada 12
Indonesia akan mendapat bonus demogra- juta lulusan SMK yang bekerja diberbagai
fi. (lihat Gambar 3.6.) yang berdampak bidang. Rata-rata peningkatan lulusan
pada tingginya penduduk usia produk- SMK pertahun yang bekerja ada 679 ribu
tif di Indonesia. Dengan asumsi bahwa sedangkan lulusan SMK rata-rata 1 juta.
seluruh penduduk produktif memiliki ket- Jadi pemerintah masih perlu meningkat-
erampilan yang memadai maka Indonesia kan jumlah bidang pekerjaan pada setiap
akan mendapat masa keemasan dengan bidang sehingga dapat mengurangi pen-
gangguran.

36 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.6. Bonus Demografi Indonesia dan data pendudukan Usia 15 s.d. 19 pada tahun 2017 s.d. 2019.

Sumber : Diolah dari BPS Februari 2016

37 Peta Jalan Pengembangan SMK


Sumber gambar : FT-C6paparsemar.com

e. Persaingan dalam Masyarakat Ekonomi yarakat dalam pembangunan, rendahn-


ASEAN ya kepatuhan hukum dan peraturan
perundang-undangan, rendahnya sporti-
Dibuka persaingan bebas melalui berlakun- vitas dalam berkompetisi, dan banyak ke-
ya ASEAN Economic Community (AEC) atau jadian negatif lainnya menjadi serangkaian
Masyarakat Ekonomi ASEAN membuat per- fenomena dan realita yang dihadapi oleh
saingan antar negara ASEAN meningkat. generasi muda saat ini.
Seluruh negara ASEAN didorong untuk
membuka pintu seluas-luasnya terhadap g. Kondisi Jati Diri Bangsa
masuknya berbagai produk ekonomi yang
ada. Dalam bertahan terhadap masuknya Sesuai dengan Visi Pemerintah 2015-2019
berbagai produk-produk dan tenaga kerja yaitu “Membangun Indonesia yang Mandi-
asing , Indonesia harus memperkuat posi- ri, Berdaulat, dan Berkepribadian Berlan-
si produk-produk dan tenaga kerja dalam daskan Gotong Royong” seakan mengin-
negeri dalam persaingan tersebut. SMK gatkan kembali kepada masyarakat untuk
merupakan salah satu penggerak yang di- bersama-sama kembali membangun jati
harapkan dapat memperkuat posisi Indo- diri bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia
nesia dalam menghadapi persaingan terse- dikenal sebagai bangsa yang memiliki
but. nilai-nilai menghargai keragaman, bera-
khlak mulia, bermoral, beretika dan ber-
f. Perkembangan Kondisi Sosial gotong-royong. Nilai-nilai itu hidup dalam
Masyarakat keseharian personal maupun komunal,
yang membentuk jati diri bangsa. Namun,
Generasi muda saat ini dihadapkan pada perkembangan terkini dari kehidupan so-
kondisi sosial yang mengkhawatirkan. Per- sial masyarakat mengindikasikan adanya
masalahan korupsi yang terjadi dan meli- pelemahan jati diri tersebut. Sebagian nilai
batkan banyak pejabat negara (dalam CPI mulia bangsa Indonesia kurang tampak da-
tahun 2013, Indonesia menduduki posisi lam kehidupan personaldan komunal. Bah-
peringkat 114 dari 177 negara), rendahnya kan, sebagian pihak sudah khawatir bahwa
toleransi antar umat beragama, penggu- nilai tersebut tidak diakui lagi sebagai se-
naan obat-obat terlarang dan pornografi suatu yang ideal atau menjadi pedoman
yang meningkat sudah berdampak pada hidup.
anak-anak kecil, rendahnya partisipasi mas-

38 Peta Jalan Pengembangan SMK


Sumber: diolah dari BPS 2016

39 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.7. Kebutuhan Tenaga Kerja Jenjang SMK pada Lapnagan Pekerjaan Utama

40 Peta Jalan Pengembangan SMK


2. Permasalahan dan lanjutnya, pertisipasi pendidikan di SMK
masih terkonsentrasi pada anak-anak dari
Tantangan Pembangunan rumah tangga dengan latar belakang so-
Sekolah Menengah Kejuruan sial-ekonomi yang lebih baik dan dari daer-
ah perkotaan (WorldBank, 2012). Berdasar-
Periode 2015—2019 kan karakteristik anak-anak yang tidak
bersekolah, jelas bahwa tantangan utama
Sejumlah permasalahan dalam membangun pen- peningkatan partisipasi pendidikan SMK
didikan dan kebudayaan yang perlu mendapat adalah dengan mencegah putus sekolah
perhatian dalam kurun waktu lima tahun men- anak-anak dari kuintil termiskin, terutama
datang akan diuraikan pada bagian berikut ini. di daerah pedesaan.

1. Belum seluruh penduduk memperoleh b. Keterbatasan jumlah SMK.


layanan akses pendidikan menengah yang
berkualitas Sampai saat ini belum seluruh kecamatan
di Indonesia memiliki sekolah menengah
Periode pembangunan 2015-2019, pemer- (lihat Gambar 1.13). Kondisi ini berdampak
intah telah mencanangkan wajib belajar 12 pada munculnya kantung-kantung putus
tahun. Namun demikian sampai dengan ta- sekolah di berbagai wilayah Indonesia khu-
hun 2014 capaian APK SMA/MA/SMK yang susnya di daerah 3 T (Terdepan, Terluar, Ter-
masih rendah yaitu sebesar 79,2%. Bebera- tinggal).
pa permasalahan yang mendasari dijabar-
kan sebagai berikut: c. Keterbatasan kapasitas SMK.

a. Terbatasnya kemampuan masyarakat den- Kapasitas pendidikan menengah saat ini


gan latar belakang ekonomi lemah untuk belum memadai untuk dapat menampung
mengakses pendidikan menengah. seluruh lulusan SMP. Rasio lulusan SMP
terhadap rombel Kelas 1 SM dapat dilihat
Kohor rata-rata lama sekolah penduduk pada Tabel 1.3. Berdasarkan analisis rasio
usia 16-18 tahun menurut kelompok jumlah lulusan SMP terhadap ketersediaan
pengeluaran keluarga tahun 2010 menun- rombel di Kelas 1 SM saat ini sebagaimana
jukan hanya kurang dari 50% masyakat digambarkan pada tabel, kapasitas yang
miskin dan 60% masyarakat rentan miskin tersedia di pendidikan menengah han-
yang dapat melanjutkan ke pendidikan ya mampu menampung rata-rata 76 %
menengah. Pengembangan pendidikan dari lulusan SMP/MTs. Kondisi ini semakin
SMK perlu berkontribusi pada membantu mengkonfirmasi belum siapnya satuan-
penyelesaian akses pendidikan pada seg- pendidikan menengah dalam menampung
men masyarakat miskin dan rentan miskin. lulusan SMP/MTs. Di tingkat provinsi, sem-
Selain itu menurut SUSENAS 2013, hampir bilan (9) provinsi berada pada kondisi yang
90% anak-anak dari keluarga kuintil terkaya cukup mengkhawatirkan karena hanya
mencapai Kelas 9, dibandingkan dengan dapat menampung kurang dari 75 % lulu-
kurang dari 56% dari kuintil termiskin. Se- san SMP/MTs.

41 Peta Jalan Pengembangan SMK


42
Gambar 3.8. Perkembangan APK SM per Penghasilan Ortu

Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.9. Proporsi Kecamatan yang Tidak Mempunyai Sekolah Menengah tahun 2013 Sumber: Dapodikmen 2013

43 Peta Jalan Pengembangan SMK


2. Masih Rendahnya kualitas pembelajaran di SMK

Salah satu penyebab Kualitas pendidikan kejuruan sangat dipengaruhi oleh kualitas konten
dan proses pembelajaran. Setidak–nya terdapat empat faktor utama penyebab rendahnya
kualitas proses pembelajaran pendidikan kejuruan di Indonesia, yaitu:

Tabel 3.8. Rasio Jumlah Lulusan SMP terhadap Ketersediaan Jumlah Rombongan Belajar (rombel) Kelas 1 SM

44 Peta Jalan Pengembangan SMK


3. Masih Lemahnya pelaksanaan kurikulum hampir 6 bulan untuk masuk ke lapangan
pekerjaan. Oleh karena itu, untuk mem-
Penerapan kurikulum 2013 secara cukup persingkat waktu tunggu bagi lulusan SMK
masif pada tahun 2014 berdampingan untuk memasuki lapangan pekerjaan maka
dengan masih diterapkannya kurikulum peningkatan kualitas lulusan harus segera
2006, menimbulkan beberapa masalah. ditingkatkan baik dengan pembekalan
Kurikulum 2013 dinilai sebagian pihak be- khusus maupun dengan sertifikasi lulusan
lum cukup dikaji dan belum mengalami berstandar internasional. Sehingga memu-
uji coba yang memadai untuk diterapkan dahkan Dunia Usaha/Dunia Industri cepat
secara demikian masif. Masalah bertambah menyerap lulusan SMK pada tahun kelulu-
karena keterbatasan materi ajar serta masih san.
rendahnya pemahaman pendidik, kepala
sekolah, dan orang tua. Oleh karena itu per- c. Masih Lemahnya penjaminan mutu pendi-
lu dilakukan evaluasi secara menyeluruh dikan.
terhadap pelaksanaan kurikulum 2013. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia
belum dilengkapi dengan sistem penja-
a. Masih Lemahnya sistem penilaian pendi- minan mutu pendidikan yang akurat dan
dikan komprehensif. Peningkatan mutu pendi-
Sistem penilaian pendidikan yang kompre- dikan yang dilakukan tidak dikawal oleh
hensif dan terpercaya belum sepenuhnya proses penjaminan mutu pendidikan se-
terbangun. Hal ini antara lain dapat dilihat hingga standar penyelenggaraan pendi-
dengan belum adanya: (i) keandalan dan dikan yang telah ditetapkan dalam Standar
kesahihan sistem ujian nasional; (ii) min- Nasional Pendidikan belum dapat dipenuhi
imnya upaya untuk memperkuat lembaga dan dijamin keterlaksanaannya
penilaian pendidikan yang independen; (iii)
belum direviunya peran, struktur dan sum-
ber daya pusat penilaian pendidikan; (iv)
belum dimanfaatkannya hasil pemantau-
an capaian belajar siswa sebagai informasi
peningkatan kualitas pembelajaran secara
berkesinambungan; serta (v) terbatasnya
kemampuan pendidik dalam memberikan
penilaian formatif.

b. Masih lamanya masa tunggu lulusan SMK


masuk ke lapangan kerja.
Ketidakselarasan antara dunia kerja dengan
kualitas lulusan SMK merupakan salah satu
faktor yang mendorong masih rendahn- Gambar 3.10. Tingkat pengangguran terbuka dan rata-rata
pendapatan per bulan menurut pendidikan yang ditamatkan,
ya penyerapan lulusan SMK pada dunia
Agustus 2013
kerja pada tahun kelulusan yaitu setiap
bulan agustus. Merupakan penyebab ma-
sih tingginya pengangguran terbuka dan
rata-rata bagi lulusan SMK. Pada gambar
1.14 dapat diketahui bahwa pengangguran
terbuka SMK sebesar 11.24% atau sebesar
1.6% untuk pengangguran rata-rata. Hal
ini cukup besar jika dibandingkan dengan
lulusan lainnya. Pengangguran dari lulu-
san SMK pada sekitar bulan agustus dibe-
babkan masih adanya waktu tunggu bagi
lulusan SMK yang cukup lama kurang lebih

45 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.11. Peta Sebaran Guru dan Peserta Didik

4. Masih Kurangnya Guru SMK yang


Berkualitas

Pendidik adalah salah saktu faktor utama jukkan pada Gambar 1.15 bahwa tidak ada
yang mempengaruhi kualitas pendidikan perbedaan signifikan atas rata-rata nilai
di suatu negara. Berdasarkan Undang-Un- Ujian Kompetensi Guru dari guru yang ber-
dang nomor 20 tahun 2003, pendidik terdi- pendidikan S1 dan S2/ S3 dan guru yang
ri dari guru, dosen, konselor, pamong bela- berpendidikan D3 dan dibawah D3.
jar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, Jika dilihat berdasarkan Peraturan Pemer-
dan sebutan lainnya yang berpartisipasi intah nomor 74 TAHUN 2008 tentang Guru
dalam penyelenggaraan pendidikan. Se– Pasal 17 bahwa setelah tahun 2015 mene-
suai mandat Peraturan Pemerintah No.74 tapkan bahwa guru SMK tetap pemegang
tahun 2008, semua pendidik di sekolah sertifikat pendidik berhak mendapatkan
menengah harus mempunyai kualifikasi tunjangan profesi apabila mengajar di sat-
minimal S1/D4 pada tahun 2015. Kualifikasi uan pendidikan yang rasio minimal jumlah
ini diperlukan agar pendidik mempunyai peserta didik terhadap gurunya 15:1. Ada-
pengetahuan yang mencukup tentang pun sebaran rasio antara jumlah peserta
mata pelajaran yang diampu. Akan tetapi, didik dengan guru SMK di Indonesia dapat
sampai pada tahun 2013, masih terdapat dilihat pada gambar 1.16. Dari gambar
9% pendidik SMA dan SMK yang memiliki tersebut dapat diketahui bahwa seluruh
kualifikasi di bawah S1/D4. jawa memiliki rasio peserta didik dengan
Akan tetapi, dari segi kompetensi, guru guru SMK lebih dari 20, sedangkan untuk
yang berpendidikan S1 dan S2/S3 ternyata wilayah papua, sebagian Kalimantan dan
mempunyai kompetensi yang tidak terlalu sedikit Sumatera memiliki rasio peserta di-
jauh berbeda dengan guru yang berpen- dik dengan guru SMK berkisaran antara 10-
didikan D3 dan di bawah D3. Hal ini ditun- 12.

46 Peta Jalan Pengembangan SMK


Tabel 1.3 menunjukkan jumlah guru SMA dan SMK yang berkualifikasi S1 dan di bawah S1
pada tahun 2013.

Gambar 3.12. Rata-Rata Nilai Ujian Kompetensi Guru

47 Peta Jalan Pengembangan SMK


Selanjutnya jika lihat kebutuhan guru pro-
duktif SMK berdasarkan bidang keahlian
yang ada dibandingkan dengan kebutuhan
ideal, Indonesia masih mengalami kekuran-
gan guru produktif sebagaimana dijelaskan
pada gambar 3.13.

Gambar 3.13. Kebutuhan Guru Produktif SMK


Sumber: Dit.PTK Dikmen, 2013

48 Peta Jalan Pengembangan SMK


Dari gambar grafik tersebut dapat diketa-
hui bahwa kekurangan terbanyak guru
produktif SMK teknologi dan Rekayasa dan
Bisnis Manajemen. Adapun rincian selisih
kebutuhan guru produktif SMK dapat di-
jelaskan pada tabel 3.10.

Tabel 3.10. Kebutuhan Guru Produktif SMK

49 Peta Jalan Pengembangan SMK


5. Gejala memudarnya karakter siswa dan
jati diri bangsa

Peningkatan kasus-kasus narkotika, perke-


lahian antarpelajar, antarkelompok mas- 6. Tata Kelola Pendidikan Menengah
yarakat, pergaulan bebas, bisa ditafsirkan Kejuruan
sebagai gejala memudarnya pemahaman,
penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Sesuai amanat Undang-Undang No. 23
luhur budaya bangsa. Demikian pula haln- tahun 2014 tentang Pemerintahan Daer-
ya dengan menurunnya kualitas pembela- ah, kewenangan pengelolaan pendidikan
jaran dalam pendidikan dan penggunaan menengah tidak lagi berada pada tingkat
bahasa Indonesia dalam aktifitas kesehar- kabupaten/kota tapi telah di tempatkan di
ian serta menurunnya kecintaan terhadap provinsi. Manajemen pengelolaan pendi-
produk dalam negeri menunjukan semakin dikan menengah serta penerbitan izin pen-
lemahnya jati diri bangsa dalam menjun- didikan menengah merupakan dua urusan
jung sifat saling menghargai keragaman, yang saat ini menjadi tanggung jawab pe-
toleransi, etika, moral dan gotong royong. merintah provinsi. Dalam hal pengelolaan
Keterbukaan informasi memang memba- guru, menurut Undang-Undang No. 23 ta-
wa banyak kemajuan, namun juga membu- hun 2014 pemerintah provinsi telah diber-
ka akses yang luas ke berbagai muatan in- ikan kewenangan untuk dapat memindah-
formasi yang tidak sesuai dengan karakter kan guru dan tenaga kependidikan antar
Indonesia. daerah kabupaten/kota dalam 1 provinsi.
Khusus untuk pengelolaan guru dan tena-
Pemerintah selama ini telah melakukan ga kependidikan jenjang pendidikan me-
upaya untuk meningkatkan pemahaman nengah juga menjadi tanggung jawab pe-
masyarakat terhadap pentingnya karak- merintah provinsi. Perubahan peranan ini
tersiswa dan jati diri bangsa yang berba- perlu disikapi dengan positif karena pem-
sis pada keragaman dan kearifan lokal berian kewenangan yang lebih luas kepada
serta penerapannya dalam kehidupan se- Provinsi sebagai wakil pemerintah pusat
hari-hari. Namun berbagai permasalahan memberikan peluang untuk memperbaiki
masih dihadapi antara lain: (i) adanya ke- tata kelola Pendidikan Menengah. Dalam
cenderungan menurunnya pemahaman, Undang-Undang pemerintahan daerah
penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang lama provinsi hanya memiliki peran
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari;(ii) yang sangat terbatas dan kurang strategis
menurunnya kualitas penggunaan bahasa dalam pengelolaan pendidikan menengah.
Indonesia dan rasa cinta terhadap produk
dalam negeri;(iii) rendahnya kesadaran Telah terjadi Pro-kontra dalam alih penge-
akan keberagaman budaya, nilai-nilai seja- lolaan SMK dari Kabupaten/Kota ke provin-
rah dan kearifan lokal serta penghormatan si.
terhadap adat, tradisi, dan kepercayaan;
(iv) menurunnya daya juang dan budaya a) Jawa Tengah (16 –Feb 2016): pemprov mu-
kerja (etos kerja), sikap tenggang rasa dan lai mempersiapkan kebijakan alih kelola
toleransi terhadap perbedaan yang dapat SMA/SMA
memicu terjadinya konflik sosial; dan (v) b) Jawa Timur (7 Maret 2016): Walikota Blitar
menguatnya nilai-nilai priomordialisme mengajukan gugatn ke Mahkamah Konsti-
dan fundamentalisme yang dapat mengan- tusi terkait kebijakan alih kelola SMA/SMK
cam disintegrasi bangsa oleh pemprov
c) Surabaya Jawa Timur 28 Maret 2016; Ribuan

50 Peta Jalan Pengembangan SMK


pelajar Surabaya menolak alih kelola SMA/ Isu mengenai pembiayaan juga mencakup
SMK oleh provinsi, khawatir biaya pendi- efisiensi dari penggunaan anggaran. Se-
dikan, SPP ataupun buku tidak tejangkau cara umum, anggaran pendidikan setiap
d) Bali, 16 Juli 2016; Pemprov Bali mulai tahunnya mengalami peningkatan. Belanja
melakukan verivikasi data personal, pera- pemerintah untuk pendidikan meningkat
latan, pembiayaan dan dokumen SMA/SMK hampir 3 kali sejak tahun 2001 sebagaima-
se Bali na terlihat dari Gambar 3.14. Akan tetapi,
e) Sumatera Selatan: 30 September 2016: Ke- peningkatan anggaran diindikasikan han-
bijakan alih kelola SMA/SMK di Sumatera ya berdampak sedikit dalam peningkatan
Selatan dinilai rentan dipengaruhi kepent- kualitas pendidikan. Salah satu penye-
ingan politik untuk mobilisasi pemilh saat babnya adalah adanya inefisiensi dalam
pilkada pembiayaan pendidikan yang mencakup
f ) Jambi; 12 Oktober 2016: adanya kekhawa- hal-hal seperti misalnya pengelolaan dan
tiran terhadp pembiayaan tenaga pendi- penyebaran guru yang kurang efektif, pro-
dikan honorer jka pengelolaan SMA/SMK gram sertifikasi guru yang tidak efektif,
dilakukan pemprov dan kelemahan sistem pembiayaan pro-
g) Jawa Barat; 2 November 2016; Alih kelola gram-program besar seperti BOS. Meng-
akan mengubah status guru menjadi PNS ingat kebutuhan anggaran yang semakin
pemprov dan akan memperoleh tunjangan meningkat, adanya inefisiensi ini dapat
perbaikan dari pemprov Jabar menyebabkan anggaran yang ada tidak
mencukupi sesuai yang terlihat di Gambar
3.15.

Gambar 3.14. Anggaran Pendidikan Indonesia Gambar 3.15. Perkiraan Pendidikan Indonesia 2013 - 2020

51 Peta Jalan Pengembangan SMK


7. Belum optimalnya tata kelola organisasi tenaga teknisi dan laboran masih rendah,
Direktorat Pembinaan SMK dan 7) Kepemilikan teknisi perawatan per-
alatan dan gedung rendah. Secara lebih
Akuntabilitas pengelolaan keuangan dan jelas dapat dilihat dalam gambar sebagai
peningkatan kinerja instansi tetap merupa- berikut:
kan agenda utama kementerian ke depan.
Kementerian harus menjaga agar kualitas
Laporan keuangan Kemendikbud tetap
Wajar Tanpa Pengecualian. Demikian pula
dengan akuntabilitas pengelolaan kinerja
Kementerian/Lembaga dengan kategori B
(baik) memberi tantangan kepada kemen-
terian untuk terus meningkatkan kinerja
dari perencanaan hingga pelaksanaan pro-
gram kerja dan anggaran. Konsistensi da-
lam pelaksanaan reformasi birokrasi perlu Gambar 3.16. Standar Kompetensi Lulusan SMK
dilakukan untuk mendorong Kemendikbud
menjadi kementerian yang selalu member-
ikan layanan prima kepada masyarakat,
merupakan wilayah bebas korupsi dan
transparan kepada publik.

8. Hasil Penilaian BAN SM

Hasil penilaian pada standar kompetensi


lulusan SMK dalam pencapaian UN pada
beberapa komponen menunjukkan hasil
yang masih rendah. Seperti terlihat pada
gambar dibawah terlihat bahwa prestasi
pencapaian nilai kelulusan UN untuk mata
pelajaran Matematika masih rendah. Pe-
nilaian pada mata pelajaran Bahasa Inggris
juga masih rendah. Selian itu hasil lulusan
yang bekerja di DU/DI yang sesuai dengan
kompetensi keahliannya masih rendah.
Dari hasil penilaian pada Standar Pendidik
dan Tendik SMK ditunjukkan pada gambar
di samping.

Berdasarkan hasil diperoleh terlihat bahwa
pada penilaian standar pendidik dan ten-
dik SMK yang masih rendah terlihat pada:
1) Penguasaan mapel dan pengembangan
ilmiah guru rendah, 2) Sertifikat keahlian
guru produktif belum sesuai maple, 3) Mi-
nat kewirausahaan Kepala SMK melalui
kegiatan produksi/jasa sebagai sumber
belajar siswa masih rendah, 4) Kesesuaian
latar belakang pendidikan tenaga admin
rendah, 5) Pemenuhan kualifikasi akademik
kepala perpustakaan rendah, 6) Pemenu-
han kualifikasi akademik dan sertifikat

52 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 3.17. Butir penilaian yang rendah pada Standar Pendidik dan Tendik SMK

Gambar 3.18. Penilain Standar Pengelolaan SMK

53 Peta Jalan Pengembangan SMK


Semua masalah yang diuraikan di atas adalah tan- pemantauan dan pengendalian mutu pen-
tangan untuk diatasi. Berbagai masalah di atas didikan; memperkuat lembaga penilaian
dapat dinyatakan dalam perspektif tantangan, se- pendidikan yang independen dan kredibel.
bagai langkah-langkah atau upaya yang akan atau
seharusnya dilaksanakan 4. Peningkatan Jumlah dan Kualitas Guru

1. Pelaksanaan wajib belajar pendidikan 12 a) Jumlah dan distribusi guru masih per-
tahun yang berkualitas lu ditata secara lebih baik, dengan cara:
meningkatkan kapasitas daerah dalam
Peningkatan akses pendidikan menengah, mengelola perekrutan, penempatan dan
dengan cara: menyediakan akses pendi- peningkatan mutu guru secara efektif dan
dikan menengah di seluruh kecamatan; efisien; mengawasi proses pengangkatan
menyediakan bantuan biaya pendidikan guru di daerah berdasarkan kriteria mutu
kepada seluruh kelompok masyarakat dan kebutuhan wilayah; meningkatkan
melalui Bantuan Operasional Sekolah koordinasi penyelenggaraan pendidikan
(BOS) serta pemberian Kartu Indonesia oleh LPTK dengan rencana penyediaan
Pintar (KIP) kepada masyarakat tidak mam- guru di daerah.
pu; menyediakan afirmasi khusus kepada b) Kualitas, kompetensi, dan profesionalisme
anak di daerah 3T dan berkebutuhan khu- guru masih harus ditingkatkan, dengan
sus; menyadarkan masyarakat mengenai cara: meningkatkan kualifikasi guru; mem-
pentinya pendidikan menengah; mening- perkuat sistem uji kompetensi guru dan
katkan peran masyarakat/swasta dalam mengitegrasikan dengan sistem sertifikasi
menyediakan layanan pendidikan me– guru; menerapkan sistem penilaian kiner-
nengah. ja guru yang sahih, andal, transparan dan
berkesinambungan; meningkatkan kom-
2. Relevansi Pendidikan Kejuruan petensi guru secaran berkelanjutan.
c) Kurangnya kapasitas LPTK dalam menye-
Relevansi pendidikan kejuruan belum ses- diakan guru berkualitas dengan cara:
uai dengan kebutuhan dunia kerja dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas sum-
cara: menyelaraskan ketersediaan paket ber daya LPTK; memperkuat sistem rekrut-
keahlian SMK dengan kebutuhan dunia men calon guru.
kerja; mengembangkan kurikulum yang se-
suai dengan kebutuhan dunia kerja/sesuai 5. Penguatan Karakter Siswa dan Jati Diri
dengan KKNI. Bangsa

3. Penguatan Kurikulum dan Pelaksanaannya Tantangan dalam penguatan karakter
siswa dan jati diri bangsa adalah bagaima-
Penguatan Kurikulum dan Pelaksanaannya na pemahaman terhadap sejarah dan
dengan cara: mengawasi dan mengevalua- nilai-nilai luhur budaya bangsa menjadi
si penerapan kurikulum secara ketat, kom- landasan untuk memperkuat kehidupan
prehensif, dan kontinyu; mengembangkan yang harmonis. Bagaimana meningkatkan
kompetensi guru mengenai praktik-praktik kesadaran dan pemahaman masyarakat
yang baik pembelajaran di sekolah; mem- terhadap pentingnya bahasa, adat, tra-
perkuat kerjasama antara pemerintah, disi, nilai sejarah dan kearifan lokal yang
guru, kepala sekolah, pengawas dan mas- bersifat positif sebagai perekat persatuan
yarakat dalam mengawal penerapan kuri- bangsa, serta meningkatkan kemampuan
kulum. masyarakat dalam mengadopsi budaya
Penguatan Sistem Penilaian Pendidikan, global yang positif dan produktif. Relevan
dengan cara: meningkatkan kompetensi dengan semua ini adalah apa yang disebut
guru dalam penilaian pendidikan di seko- revolusi mental sebagai bentuk strategi
lah; memperkuat kredibilitas sistem ujian kebudayaan. Kebudayaan Indonesia harus
nasional dan pemanfaat hasil ujian untuk dikembangkan guna meningkatkan kuali-

54 Peta Jalan Pengembangan SMK


tas hidup, memperkuat kepribadian bangsa meninjau kembali berbagai aturan peng-
dankebanggaan nasional, memperkukuh gunaan dana transfer APBN untuk men-
persatuan bangsa, meningkatkan pema- dorong peningkatan mutu pendidikan;
haman tentang nilai-nilai kesejarahan dan mengawasi dan mengevaluasi penggu-
wawasan kebangsaan serta meningkatkan naan anggaran pendidikan oleh daerah.
kesejahteraan masyarakat.
Tantangan pula untuk meningkatkan pen- 7. Memperbaiki tata kelola organisasi Direk-
didikan kewargaan dan pendidikan karak- torat Pembinaan SMK
ter siswa, adalah bagaimana mengopti-
malkan pendidikan agama, kewargaan Tantangan ke depan yang dihadapi adalah
dan karakter sebagai wadah pembentukan meningkatkan kualitas pelayanan pub-
karakter bangsa di sekolah; memberdaya- lik; menjamin akuntabilitas pengelolaan
kan masyarakat dalam mengawasi penega- keuangan dan anggaran; memperkuat
kan hukum; melakukan pembinaan peng- manajemen kinerja pembangunan; mem-
gunaan bahasa Indonesia yang baik dan perkuat manajemen aparatur sipil negara.
benar; meningkatkan penelitian, penilaian,
dan penentuan kelayakan berbagai media
komunikasi dan informasi.

6. Optimalisasi Pemanfaatan Anggaran


Pendidikan Belum Efektif
dan Efisien

Tantangan ke depan yang dihadapi adalah

55 Peta Jalan Pengembangan SMK


56 Peta Jalan Pengembangan SMK
04

VISI, MISI DAN


PROGRAM UTAMA

Sejalan dengan visi dan misi Kemdikbud 2015-2019, berikut ini dikemukakan
visi, misi dan program utama Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK)

57 Peta Jalan Pengembangan SMK


Visi Direktorat Pembinaan SMK
2015-2019
“Terbentuknya Insan dan Ekosistem Pendidikan Kejuruan yang Berkarakter dengan
Berlandaskan Gotong Royong, sehingga mampu menghasilkan lulusan SMK yang bisa
BMW”

Penjelasan lulusan SMK bisa BMW

B Singkatan dari bekerja. Tujuan utama lulusan SMK adalah bisa bekerja, di dunia
usaha, dunia indutri dan rumah tangga. Sehingga lulusan SMK harus bisa bekarja
sesuai dengan komptensi keahliannya

M
Singkatan dari melanjutkan. Lulusan SMK sebagian harus juga melanjutka ke pen-
didikan vokasi atau ke perguruan tinggi pendidikan teknik dan kejuruan. Dengan
adanya lulusan SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi, maka lulusannya di-
harapkan dapat menjadi guru SMK yang profesional dan dan mampu mengem-
bangan ilmu pendidikan kejuruan

W Singkatandari Wirausaha. Pekerjaan wirausaha adalah pekerjaan yang tidak terba-


tas jumlahnya. Oleh karena itu lulusan SMK tidak hanya tergantung pada dunia us-
aha dan dunia industri saja, tetapi juga mampu mandiri, untuk berwirausaha dan
menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

58 Peta Jalan Pengembangan SMK


Misi Direktorat Pembinaan
SMK 2015-2019

Sejalan dengan visi 1. Mewujudkan Pelaku Pendidikan Kejuruan yang Kuat


tersebut, maka misi
Direktorat Pembinaan 2. Mewujudkan Akses Sekolah Menengah Kejuruan yang
Sekolah Menengah Meluas, Merata, dan Berkeadilan
Kejuruan adalah sebagai
berikut: 3. Meningkatkan tingkat ketercapaian standar nasional
pendidikan untuk SMK

4. Mengembangan iklim kewirausaan yang kondusif di SMK

5. Mediator kerjasama antara SMK dengan dunia kerja dan


dunia industri serta intansi yang lain

6. Mendorong dan kerjasama dengan instansi yang di


instruksikan presiden untuk melaksanakan program
revitasilisasi yang ditugaskan secaar efektif

7. Mewujudkan Penguatan Tata Kelola serta Peningkatan


Efektivitas Birokrasi dan Pelibatan Publik

59 Peta Jalan Pengembangan SMK


Program Utama Direktorat PSMK
2015-2019
Program utama untuk melaksanakan Program utama untuk melaksanakan
misi pertama yaitu: Mewujudkan Pelaku misi ketiga yaitu: Meningkatkan tingkat
Pendidikan Kejuruan yang Kuat ketercapaian standar nasional pendi
dikan untuk SMK
a. Memperkuat pemerintah provinsi dalam
melakukan pengelolaan pendidikan me- a. Mengembangkan kurikulum sesuai den-
nengah khususnya SMK gan kebuthan dunia kerja dan dunia in-
b. Mengatur alokasi dana dari pemerintah pu- dutri, serta kebutuhan untuk pengemban-
sat untuk pendidikan ke provinsi dan kebu- gan wirausaha bagi lulusan SMK
patan/kota secara proporsional b. Meningkatkan dan mengembangkan pem-
c. Pemberdayaan Kepala SMK dalam penge- belajaran berkarakter produktif dan ke-
lolaan SMK agar mampu menghasilkan lu- wirausahaan; pembelajaran teaching facto-
lusan yang bisa BMW ry dan teaching industri
d. Pemberdayaan pengawasan dan pengen- c. Meningkatkan jumlah dan kompetensi
dalian mutu SMK agar mampu menghasil- guru, khususnya untuk guru produktif dan
kan lulusan yang bisa BMW adaptif; Meningkatkan komptensi Kepala
e. Peningkatan peran serta masyarakat dalam SMK terutama dalam kompetensi kewirau-
pembiayaan pembiayaan pendidikan, sara- sahaan; meningkatkan komptensi penga-
na dan prasarna di SMK was SMK khususnya dalam komtensi pene-
f. Meger antar SMK yang jumlah siswanya ku- litian dan pengembangan; Meningkatkan
rang dari 200 kompetensi tenaga laboratorium dan
teknisi; pustawana dan tenaga administrasi
Program utama untuk melaksanakan sekolah
misi kedua yaitu: mewujudkan Akses Sekolah d. Memperbarui, dan mengadakan sarana
Menengah Kejuruan yang Meluas, Merata, dan dan prasarna pembelajaran khususnya sar-
Berkeadilan pras praktik yang relevan, mencukupi jum-
lah, handal dan memenuhi standar industri
a. Mendorong masyarakat untuk sekolah di e. Meningkatkan profesionalisme dan fasilita-
SMK si pengelolaan pendidikan SMK di tingkat
b. Menambah kompetensi/paket keahlian provinsi sebagai dampak dari UU No 23 ta-
baru yang sesuai dengan kebutuhan dunia hun 2014 tentang pemerintah daerah. Fasil-
usaha dan dunia industri serta peluang un- itasi yang utama adalah pendanaan untuk
tuk berwirausaha gaji dan penembangan sarana dan prasar-
c. Menambah ruang kelas baru dan atau na pembelajaran. (Kebijakan alih kelola se-
membangun SMK baru untuk me ingkat- kolah yang pelaksanaannya dimulai tahun
kan APK SMK dan kebutuhan tenaga kerja 2017 ini, ternyata sudah membawa kor-
di masyarakat ban. Wujudnya tertundanya pembayaran
d. Memberi bantuan dana pada masyarakat gaji puluhan ribu guru yang berstatus PNS
yang kurang mampu secara ekonomi diberbagai tempat seperti di Jawa Tengah
e. Memberi beasiswa kepada siswa yang ber- dan awa Barat, Supriyoko dam KR 12 Janu-
prestasi lokal, nasional dan internasional ari 2017)
f. Meningkatkan kualitas pengelolaan pada
satuan pendidikan SMK yang meliputi:

60 Peta Jalan Pengembangan SMK


seleksi murid baru yang mampu menyelek- Program utama untuk melaksanakan
si calon murid yang memiliki potensi karak- misi kelima yaitu: mediator kerjasama
ter produktif, kewirausahaan, dan potensi antara SMK dengan dunia kerja dan dunia
profesional; pembelajaran praktif yang industri serta intansi yang lain
mengarah pada teaching factory; pengen-
dalian mutu yang efektif, uji komptensi a. Mengeluarakan PP atau undang-undang
lulusan, dan penyaluran lulusan di dudi; yang mengatur pada setiap dunia usaha
memfasilitasi lulusan yang akan berwirau- dan industri untuk wajib membantu SMK
saha dan melanjutkan ke perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum SMK,
g. Pengembangan sistem penilaian yang ber- tempat praktik seiswa SMK dan uji kompe-
basis pada karakter produktif dan kewirau- tensi siswa
sahaan; uji kompetensi dan sertifikasi lulu- b. Mengiventasisasi melakukan clustrur dun-
san iakerja dan dunia industri baik dalam mau-
h. Pengembangan sumber dana sehingga pun luar negeri yang dapat digunakan un-
mampu membiayai SMK untuk beropera- tuk kerjasama dengan SMK
si dalam menghasilkan lulusan yang bisa c. Membantu dan memfasilitasi kerja sama
bekerja dan berwirausaha secara profe- antar SMK dengan Lembaga Sertifikasi Pro-
sional, dan sebagian bisa melajutkan ke fesi
perguruan tinggi. Secara teoritis biaya un-
tuk SMK 3 kali biaya untuk SMA. Program utama untuk melaksanakan misi
i. Dalam hal ini Prosser A. Charles and Quig- keenam; yaitu mendorong dan kerjasama den-
ley Thos (1950) menyatakan “While every gan instansi yang ditintruksikan presiden un-
reasonable effort should be made to reduce tuk melaksanakan program revitasilisasi SMK
per capita cost, there is a minimum below yang ditugaskan secaar efektif.
which effective vocational education cannot
be given, and if the course does not permit of a. Mendorong kementerian Perindustrian un-
this minimum of per capita cost, vocational tuk melakukan proyeksi pengembangan
education shoul not be attempted” Walau- jenis kompetensi, dan lokasi industri khu-
pun setiap usaha perlu dilaksanakan seh- susnya yang terkait dengan lulusan SMK;
emat mungkin, pembiayaan pendidikan Mendorong untuk memberikan akses yang
kejuruan yang kurang dari batas minimum lebih luas bagi siswa SMK untuk melakukan
tidak bisa dilaksanakan secara efektif, dan praktik kerja Lapangan dan program ma-
jika pengajaran tidak bisa menjangkau bi- gang bagi pendidikan dan tenaga kependi-
aya minimumnya, sebaiknya pendidikan dikan SMK
kejuruan tidak perlu dilaksanakan. b. Mendorong dan kerjasama dengan ke-
j. Peningkatan pencapaian standar kompe- menterian tenaga kerja untuk menyusun
tensi lulusan, dilakukan dengan pemenu- proyeksi kebutuhan tenaga kerja lulusan
han 7 standar yang lain, kerjasama denga SMK yang meliputi tingkat kompetensi, je-
dudi dan lembaga sertifikasi nasional. nis, jumlah, lokasi, dan waktu; melakukan
kerjasama untuk memberikan kemudahan
Program utama untuk melaksanakan bagi siswa SMK untuk melakukan praktek
misi keempat yaitu: Mengembangan kerja di Balai Latihan Kerja (BLK);
iklim kewirausaan yang kondusif di SMK c. Mendorong dan kerjasama pada kemen-
terian perhubungan untuk memberikan
a. Meningkatkan pembelajaran berbasis ke- kemudahan akses bagi siswa, pendidik, dan
wirausahaan tenaga kependidikan untuk melakukan PKL
b. Pengembangan unit produksi dan business dan magang, termasuk berbagi sumber
center pada setiap SMK daya (resources sharing); meningkatkan
c. Membantu ijin dan mencari modal bagi lu- akses sertifikasi lulusan SMK yang terkait
lusan yang akan berwirausaha dengan bidang perhubungan; meningkat-
kan bimbingan bagi SMK yang kejuruannya
terkait dengan perhubungan;

61 Peta Jalan Pengembangan SMK


d. Mendorong dan kerjasama dengan ke- i. Mendorong dan kerjasama dengan Badan
menterian Kelautan dan Perikanan untuk: Nasional Sertifikasi Profesi untuk: memper-
akses sertifikasi lulusan SMK yang terkait cepat sertifikasi kompetensi bagi lulusan
dengan bidang kelautan dan perikanan; SMK; mempercepat sertifikasi kompetensi
meningkatkan bimbingan bagi SMK yang bagi pendidik dan tenaga pendidik SMK;
kejuruannya terkait dengan kelautan dan dan mempercepat pemberian lisensi bagi
perikanan; memberikan kemudahan akses SMK sebagai lembaga sertifikasi profesi pi-
bagi siswa, pendidik, dan tenaga kependi- hak pertama
dikan untuk melakukan PKL dan magang; j. Mendorong dan kerjasama dengan Gu-
e. Mendorong dan kerjasama dengan ke- bernur di seluruh Indonesia untuk: mem-
menterian Badan Usaha Milik Negara un- berikan kemudahan kepada masyarakat
tuk: menyerap lulusan SMK sesuai dengan untuk mendapatkan layanan pendidikan
kompetensi yang dibutuhkan SMK; untuk SMK yang bermutu sesuai dengan potensi
memberikan akses yang lebih luas bagi wilayahnya masingmasing; menyediakan
siswa SMK untuk melakukan PKL dan ma- pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan
gang bagi pendidik dan tenaga kependi- prasarana SMK yang memadai dan berkual-
dikan SMK; memberikan dukungan dalam itas; melakukan penataan kelembagaan
pengembangan teaching factory dan infra- SMK yang meliputi program kejuruan yang
struktur dibuka dan lokasi SMK;
f. Mendorong dan kerjasama dengan ke-
menterian Energi dan Sumber Daya Min- Program utama untuk melaksanakan misi
eral untuk: meningkatkan akses sertifikasi kedelapan yaitu: mewujudkan Penguatan Tata
lulusan SMK yang terkait dengan bidang Kelola serta Peningkatan Efektivitas Birokrasi
energi dan sumber daya mineral; meny- dan Pelibatan Publik
usun proyeksi pengembangan, jenis, kom-
petensi (job title), dan lokasi industri energi a. Pengelolaan data pokok pendidikan me-
yang terkait dengan lulusan SMK; member- nengah kejuruan
ikan akses yang lebih luas bagi siswa SMK b. Perencanaan, pemantauan dan evaluasi
untuk melakukan PKL dan magang bagi pelaksanaan program dan kinerja lembaga
pendidik dan tenaga kependidikan SMK c. Penyediaan layanan informasi kebijakan
g. Mendorong dan kerjasama dengan ke- d. Pengembangan e-Bantuan. Implementasi
menterian Kesehatan untuk menyusun e-bantuan SMK untuk proses penyaluran
proyeksi pengembangan, jenis, kompeten- bantuan dan pelaporannya dengan meli-
si (job title), dan lokasi fasilitas kesehatan batkan ekosistem sekolah, disdik prov/kab/
yang terkait dengan lulusan SMK; men- kota dan masyarakat
dorong rumah sakit dan fasilitas keseha-
tan lainnya untuk memberikan akses yang
lebih luas bagi siswa SMK untuk melakukan
PKL dan magang bagi pendidik dan tenaga
kependidikan SMK; memberikan kesempa-
tan yang luas kepada lulusan SMK bidang
kesehatan untuk bekerja sebagai asisten
tenaga kesehatan di rumah sakit atau fasili-
tas kesehatan lainnya
h. Mendorong dan kerjasama dengan ke-
menterian keuangan untuk menyusun Nor-
ma, Standar, Prosedur, dan Kriteria penge-
lolaan keuangan teaching factory di SMK
yang efektif, efisien, dan akuntabel

62 Peta Jalan Pengembangan SMK


05

TARGET KINERJA DAN


KERANGKA PENDANAAN

63 Peta Jalan Pengembangan SMK


I nstruksi Presiden No 9 tahun 2016 tentang Revit-
alisasi Sekolah Menengah Kejuruan dilakukan da-
lam rangka peningkatan kualitas dan daya saing
sumber daya manusia indonesia. Sumber daya
manusia yang berkualitas adalah sumber daya
menusia yang memiliki pengetahuan, ketrampi-
lan tinggi dan sikap yang baik sehingga mampu
bekerja secara tepat, cepat, akurat dan memuas-
kan. Sumber daya manusia yang memiliki daya
saing tingg, adalah sumber daya manusia yang
tidak kalah berkompetisi dalam berbagai aktivitas
dengan sumber daya manusia dari negara lain.

Sumber daya yang dihasilkan oleh lulusan SMK


adalah sumberdaya mansia yang menuurt KKNI
pada level 2. Indikator sumber daya manusia pada
level 2 adalah:

1. Memiliki pengetahuan faktual, yaitu penge-


tahuan yang mendukung pelaksanaan kerja
yang teramati dan terukur
2. Bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri
dan tidak bertanggung jawab atas pekerjaan
orang lain
3. Mampu melaksanakan satu tugas spesifik,
dengan menggunakan alat, dan informasi,
dan prosedur kerja yang lazim dilakukan, ser-
ta menunjukkan kinerja dengan mutu yang
terukur, di bawah pengawasan langsung
atasannya.

Berdasarkan program utama yang telah disiam-


paikan pada bab sebelumnya, dan penjelasan
tentang SDM yang berkualitas dan berdayasaing
tersebut, berikut ini dikemukakan target kinerja
dan kerangka pendanaan untuk tahun 2017/2018
sd 2019/2020

64 Peta Jalan Pengembangan SMK


Pengembangan SMK
P engembangan SMK tahun 2017 sd tahun 2019
ditunjukkan pada gambar 5.1.
Jumlah SMK tahun 2019 = 16.303, jumlah SMK
yang akan mendapat sertifikasi internasional =
1000 SMK. Ruang kelas baru 4100 ruang, Unit
Berdasarkan gambar 5.1 tersebut terlihat bahwa Sekolah Baru 250 unit, peralatan 4500 unit, BOS
jumlah SMK tahun 2017 = 14.511. SMK yang akan untuk 5.327.316 siswa, biasiswa untuk 19.655
mendapat sertifikasi internasional = 1000 SMK. siswa, Jumlah siswa = 5.543.532, Jumlah lulusan
Ruang kelas baru 4100 ruang, Unit Sekolah Baru 1.607.624 lulusan, jumlah guru 276,786. Semua
250 unit, peralatan 4500 unit, BOS untuk 5.106.953 SMK sudah melaksanakan Kurikulum 13.
siswa, biasiswa untuk 19.655 siswa, Jumlah siswa
= 5.232.713, Jumlah lulusan 1.569.814 lulusan,
Jumlah guru 266,299. Semua SMK sudah melak-
sanakan Kurikulum 13

Jumlah SMK tahun 2018 = 15.381, jumlah SMK


yang akan mendapat sertifikasi internasional =
1000 SMK. Ruang kelas baru 4100 ruang, Unit Se-
kolah Baru 250 unit, peralatan 4500 unit, BOS un-
tuk 5.209.146 siswa, biasiswa untuk 19.655 siswa,
Jumlah siswa = 5.23.713, Jumlah lulusan 1.566.242
lulusan, jumlah guru 272.130. Semua SMK sudah
melaksanakan Kurikulum 13.

Gambar 5.1. Pengembangan SMK di Indonesia tahun 2017 sd 2019

65 Peta Jalan Pengembangan SMK


Tingkat Kebekerjaan Lulusan SMK
T ingkat kebekerjaan berarti seberapa tinggi
peluang lulusan SMK untuk bekera. Peluang
lulusan SMK untuk bekerja antara lain akan dipen-
juta. Pada tahun 2017 jumlah lulusan = 1.569.814,
tahun 2018 = 1.566.242, tahun 2019 = 1.607.624.
Sementara kebutuhan tenaga kerja dari berbagai
garuhi oleh: keseimbangan antara jumlah lulusan sektor menurut kementerian Perindustrian ditun-
(supply) dan jumlah peluang kerja (demand); rel- jukkan pada tabel 5.1. Berdasarkan data yang ter-
evansi komptensi keahlian lulusan dengan jenis tera dalam tabel 5.1 tersebut terlihat kebutuhan
pekerjaan, dan kompetensi lulusan dengan profil tenaga kerja tahun 2017 = 589.448, tahun = 2018
pekerjaan. = 604.568 tahuan 2019 = 619.372, tahun 2020 =
Data berikut menunjukkan supply and de- 607.777. Data lulusan SMK dan kebutuhan akan
mand. Jumlah lulusan SMK tiap tahun lebih dari 1,5 tenaga kerja dapat dibandingkan pada tabel 5.2

66 Peta Jalan Pengembangan SMK


Tabel 5.2.
Perbandingan lulusan SMK dengan Kebutuhan Tenaga Industri Nasional Tahun 2017sd 2019

Berdasarkan data lulusan dan kebutuhan


tenaga kerja lulusan SMK untuk industri
tersebut, terlihat lulusan SMK yang terserap
di sektor industri rata-rata diatas 37%. Sek-
tor lain belum ada prediksi kebutuhan
tenaga kerja untuk n SMK. Berdasarkan hal
tersebut, maka pengembangan tujuan SMK
bisa BMW sudah tepat, karena bila peluang
kerja lebih kecil dari lulusan, maka, maka
lulusan yang lain akan melanjutkan ke per-
guruan tinggi dan wirausaha. Untuk tahun
2018 target yang bekerja 80%, melanjut-
kan 10% dan wirausaha 10%, tahun 2019
yang bekerja, 75%, melanjutkan 10% dan
wirausahan 15%

67 Peta Jalan Pengembangan SMK


Peningkatan Ketercapaian Standar
Nasional Pendidikan

Gambar 5.2. Standar nasional pendidikan dalam suatu sistem SMK

S etelah jumlah SMK bertambah, maka


diperlukan peningkatan ketercapaian
standar nasional pendidikan. Walaupun
standar nasional pendidikan itu merupakan
standar minimal, tetapi tingkat tercapaian
standar nansional pendidikan dapat digu-
nakan sebagai ukuran kinerja SMK. Setiap
standar dapat diususn dalam suatu sistem
(input, proses, output), sehingga dapat di-
gambarkan seperti gambar 5.2 di atas.

68 Peta Jalan Pengembangan SMK


Berdasarkan sistem tersebut, maka untuk meng- standar isi dinaikkan menjadi 86 % dan ta-
hasilkan lulusan yang bisa BMW yang berkarakter hun 2017 88% dan tahun 2019 90%. Pada
produktif dan wirausaha maka diperlukan kegia- tahun 2017 semua SMK sudah menerapkan
tan sebagai berikut. kurikulu 2013. Isi kurikulum tentang ke-
wirausahaan perlu diperbanyak
1. Sistem Seleksi Murid Baru
3. Peningkatan Standar Proses
Untuk seleksi siswa baru di SMK, selain di-
dasarkan pada hasil ujian nasional, ada bai- Hasil akreditasi nasional tahun 2016,
knya diujicobakan test masuk untuk mem- menunjukkan nilai ketercapaian standar
peroleh calon murid yang mempunyai proses rata-rata 83%. Rata-rata ketercapa-
karakter produktif dan wirausaha. Untuk ian standar isi pada setiap provinsi ditun-
tahun 2017 test dpat diujicobakan pada 10 jukkan pada gambar 5.3. Dalam gambar
SMK unggulan yang tersebar di Indonesia. tingkat ketercapaian standar proses yang
Bila hasil uji coba pada tahun 2018 berhasil, tertinggi adalah SMK di provinsi Daerah
maka dapat dicobakan pada 20 SMK ung- Istimewa Yogyakarta dengan rata-rata 95%
gulan dan terendah di provinsi Sulawesi Tengga-
ra dengan rata-rata 71%. Berdasarkan hal
2. Peningkatan Standar Isi tersebut, maka terget ppencapaian standar
proses pada tahun 2017 = 85%, tahun 2018
Hasil akreditasi nasional tahun 2016, = 87% dan tahun 2019 = 90%. Peningka-
menunjukkan nilai ketercapaian standar isi tan pencapaian standar proses difokuskan
rata-rata 86%. Untuk SMK-SMK Swasta ting- pada standar proses pembelajaran produk-
kat ketercapaian standar isi tentu masih tif, dan pada SMK yang ketercapaiannya
banyak yang dibawah itu. Oleh karena itu. di bawah 80%. Proses pembelajaran berk-
Kurang ketercapaian standar isi terutama arakter produktif dan kewirausahaan perlu
pada pembelajaran yang produktif. Untuk diutamakan
itu pada tahun 2017 tingkat ketercapaian

Gambar 5.3. Tingkat ketercapaian standar proses SMK tiap provinsi tahun 2016

69 Peta Jalan Pengembangan SMK


4. Peningkatan Standar Komptensi Lulusan a. Kepemilikan IMB dan izin penggu-
naan bangunan rendah.
Hasil akreditasi nasional tahun 2016, b. Kepemilikan Ruang Pembelajaran
menunjukkan nilai ketercapaian standar Umum (RPU) rendah.
kompetensi lulusan rata-rata 82%. Nilai c. Kepemilikan Unit Produksi/Business
yang rendah pada standar ini adalah: Lulu- Center sebagai wahana kewirau-
san yang bekerja di DU/DI yang sesuai den- sahaan yang pasar usahanya luas
gan kompetensi keahliannya masih rendah. masih rendah.
Standar ini merupakan standar yang paling d. Kepemilikan Bursa Kerja Khusus
penting, karena terkait tingkat kebeeker- (BKK) masih rendah
jaan lulusan. Bila lulusan tidak kompeten
maka akan sulit mencari pekerjaan. Untuk Sarana dan prasarna yang dimiliki oleh SMK Swas-
meningkatkan ketercapaian standar kom- ta sebagin masih rendah, oleh karena Balai Latihan
petensi lulusan, diperlukan peningkatan Pendidikan Teknik yang telah ada, perlu difung-
standar yang lain, yaitu standar isi, proses, sikan lagi untuk praktik bagi SMK-SMK yang saran
ketenagaan khusunya guru, sarpras, pem- dan prasaranya masih rendah. Diharapkan mulai
biayaan, pengelolaan, dan sistem evaluasi. tahun 2018 VLPT yang ada dapat difungsikan lagi,
Target peningkatan Standar Kompetensi dan mulai tahun 2017 digarapkan setiap provinsi
Lulusan SMK pada tahun 2017 = 84%, ta- sudah merencanakan pendirian Balai Latihan Pen-
hun 2018 = 86% dan tahun 2019 = 88%. didikan Teknik dan Kejuruan, sehingga mulai ta-
hun 2019 sudah ada 2 provinsi yang PADnya ting-
5. Peningkatan Standar Pendidikan dan gi dapat membangun BLPTK. Berkaitan dengan
Tenaga Kependidikan ketercapaian standar sarana dan prasarana, pada
tahun 2017 tingkat ketercapaian standar sarana
Hasil akreditasi nasional tahun 2016, diharapkan mencapai 84%, tahun 2018 tercapai
menunjukkan nilai ketercapaian standar 86% dan tahun 2019 tercapai 88% dengan fokus
kompetensi lulusan rata-rata 79%. Stan- pada selain 4 hal tersebut jga pada sarpras untuk
dar ini tingkat ketercapainnya yang paling pembelajaran produktif,
rendah diantara standar nasional pendi-
dikan yang lain. Pada tahun 2017 diper- 7. Peningkatan Ketercapaian Standar Penge-
lukan guru SMK sebanyak 268.295 guru, lolaan
tahun 2018 diperlukan 271.138 guru dan
tahun 2019 diperlukan 276.788. Peningka- Hasil akreditasi nasional tahun 2016,
tan jumlah dan kompetensi guru difokus- menunjukkan nilai ketercapaian standar sa-
kan pada guru produktif. rana dan prasarana rata-rata 81%. Standar
pengelolaan yang ketercapainnya masih
Kepala sekolah, pengawas sekolah, teknisi, endah adalah sebagai berikut.
laboran, pustakawan dan tenaga dministra- a. Kegiatan pelatihan kejuruan bagi
si yang merupakan tenaga kependidikan teknisi atau laboran rendah.
juga perlu ditingkatkan kualifikasi dan b. Kerjasama dengan DU/DI dalam ma-
kompetensinya. Peningkatan kompeten- gang guru rendah.
si dilakukan melalui pelatihan, workshop, c. Penerapan sistem manajemen mutu
seminar dan studi banding rendah.
d. Pemilikan unit produksi/busines
6. Peningkatan Standar Sarana dan Prasara- center masih rendah.
na e. Bursa Kerja Khusus SMK belum mak-
simal menyalurkan lulusan ke DU/DI.
Hasil akreditasi nasional tahun 2016, f. Berdasarkan data tersebut, maka
menunjukkan nilai ketercapaian standar peningkatan ketercapaian standar
sarana dan prasarana rata-rata 82%. Nilai pengelolaan diarahkan pada 5 as-
standar sarana dan prasarna yang masih pek tersebut. Target ketercapaian
rendah adalah: standar pengelolaan SMK pada ta-

70 Peta Jalan Pengembangan SMK


hun 2017 = 83%, tahun 2018 = 85% provinsi ditunjukkan pada gambar 5.5
dan tahun 2019 = 87%. berikut. . Tingkat ketercaaian standar pem-
biayaan yang tertinggi adalah provinsi Riau
Selain itu dengan adanya alih fungsi pengelolaan (93%) dan Terendah Provinsi Nusa Tengara
SMK dari kabupaten/kota d ke provinsi, maak Timur (735) . Target peningkatan standar
diperlukan manajemen perubahan. Pemerintah pembiayaan pada tahun 2017 = 88%, tahun
pusat perlu memberikan pelatihan dalam mana- 2018 = 90% dan tahun 2019 = 92%. Untuk
jemen perubahan itu, dan memberikan dukun- menghasilkan lulusan yang kompeten dan
gan atau pengalihan dana dari kabupeten/kota ke diakui dudi, maka diperlukan uji kompe-
provinsi. tensi/sertifikasi lulusan SMK.

8. Peningkatan Ketercapaian Standar 10. Pencapaian Target Peringkat Akreditasi


Pembiayaan
Dari data yang diperoleh untuk akreditasi
Hasil akreditasi nasional tahun 2016, SMK berdasarkan nilai yang diperoleh saat
menunjukkan nilai ketercapaian standar ini hasil peringkat Akreditasi A (21%), B
sarana dan prasarana rata-rata 86%. Ting- (17%), C (3%), TT (0,3%) dan belum diakred-
kat ketercapaian standar pembiayaan tiap itasi ada 59%. Dengan kondisi ini maka
provinsi ditunjukkan pada gambar 5.4 perlu diprogramkan untuk meningkatkan
berikut. Tingkat ketercaaian standar pem- sekolah yang diakreditasi paling tidak 70%
biayaan yang tertinggi adalah provinsi Ka- Sekolah, peringkat akreditasi A menjadi
limantan Utara dan Terendah Provinsi Nusa 35%, B menjadi 25% dan C menjadi 10%.
Tengara Timur. Target peningkatan standar
pembiayaan pada tahun 2017 = 88%, tahun
2018 = 90% dan tahun 2019 = 92%. Pem- 11. Implementasi Kerjasama
biayaan SMK diarahkan unruk peningkatan
sarpras dan bahan untuk pembelajaran Pada tahun 2017 sebaiknya telah terjadi
produktif kerjasama yang diikat dengan MoU antara
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
9. Peningkatan Ketercapaian Standar Pe- dengan Kementerian lain, Badan dan Dun-
nilaian ia Kerja dan Dunia Industri, Asosiasi profesi
guna mensukseskan pelakaan revitasi sasi
Hasil akreditasi nasional tahun 2016, SMK. Masing-masing institusi segera mer-
menunjukkan nilai ketercapaian standar ancang dan melaksanakan tugas sesuai
sarana dan prasarana rata-rata 86%. Ting- dengan yang perannya masing-masing.
kat ketercapaian standar pembiayaan tiap

71 Peta Jalan Pengembangan SMK


Gambar 5.4 Tingkat ketercapaian standar pembiayaan SMK tiap provinsi

Gambar 5.6 Tingkat ketercapaian standar penilaian SMK tiap provinsi

72 Peta Jalan Pengembangan SMK


Perkiraan Pendanaan
P erkiraan Pendanaan yang dibutuhkan dalam
kerangka pengeluaran jang menengah yang
disusun oleh setiap unit utama/esselon I terha-
Kebutuhan anggaran yang dibutuhkan Direktoran
PSMK pada periode 2017 – 2019 diperkirakan se-
besar Rp 37,42 triliun. Dalam rangka tercapainya
dap program dan kegiatan yang dilakukan maka program Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
perkiraan kebutuhan anggaran ditunjukkan diperlukan peran serta Pemerintah Provinsi, Kabu-
sebagai berikut: paten dan Kota, masyarakat, orang tua, dan dunia
usaha.

73 Peta Jalan Pengembangan SMK