Anda di halaman 1dari 11

STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN RITUAL ADAT PERNIKAHAN DI KARATON

NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Zaria T. W., Maya S. P., Rendi Y., Iin M., Heni Z., Lukluk M. S. 1

1 Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

ABSTRAK
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Merupakan salah satu kerajaan yang ada di Indonesia dan
masih melakukan ritual adat sampai sekarang. Salah satu ritual adat yang dilakukan yaitu ritual adat
pernikahan. Namun secara etnobotani belum diketahui tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat
pernikahan ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis tumbuhan, makna tumbuhan dan
bagaimana cara pemanfaatan tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat pernikahan di Karaton
Ngayogyakarta Hadiningrat. Metode penelitian yang digunakan merupakan gabungan dari metode
kualitatif dan kuantitatif yaitu berupa studi dokumen, Purposive sampling dan Snowball sampling.
Hasilnya menunjukkan tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat pernikahan di Karaton
Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat 25 spesies dengan 15 famili. Berdasarkan habitus tumbuhan yang
digunakan terdiri atas 4 pohon, 9 perdu, dan 12 herba. Berdasarkan bagian organ tumbuhan yang
digunakan terdiri atas bunga 5, buah 4, daun 13, tangkai daun 1, batang 3 dan akar 2.

Kata kunci : Etnobotani, Tumbuhan Ritual, Adat Pernikahan, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
I. PENDAHULUAN pelaksanaannnya upacara ini merupakan
Karaton mempunyai kebudayaan upacara terbesar dan paling meriah bila
yang khas sebagai identitas sosialnya. dibandingkan dengan upacara inisiasi yang
Berbagai macam lambang diketemukan lain. Sebagai ritual domestik yang utama,
dalam segala segi kehidupan. Dimulai dari pernikahan merupakan peristiwa puncak
bentuk dan cara mengatur bangunan, yang dialami suatu rumah ketika rumah
mengatur tanaman pohon yang disakralkan, sepenuhnya menyandang peran publiknya
mengatur tempat duduk, menyimpan, dan (Rochani, 2009). Ritual adat pernikahan
memelihara pusaka, macam pakaian, tingkah yang ada di Karaton Ngayogyakarta
laku, pemilihan warna dan sebagainya. Hadiningrat sebagian besar menggunakan
Karaton juga menyimpan dan melestarikan tumbuhan baik yang digunakan sebagai
nilai-nilai adat istiadat. Oleh karena itu elemen dekoratif, sesajen maupun hidangan.
kearifan lokal yang ada di karaton harus Tumbuhan yang digunakan dalam
tetap dipertahankan dalam mendukung ritual adat pernikahan di Karaton
kelestarian adat istiadat secara turun Yogyakarta ini sebagian besar ditanam di
temurun yang mengacu pada keterampilan lingkungan karaton. Tumbuhan yang
dan pengetahuan sesuai dengan norma yang ditanam di karaton ini mempunyai fungsi,
berlaku dalam masyarakat (Sunjata et al., makna dan manfaat, sehingga apabila satu
1995). diantara tumbuhan itu ada yang mati maka
Salah satu karaton yang masih segera diganti. Fungsi tumbuhan di
berdiri di Indonesia yaitu Karaton lingkungan Karaton pada dasarnya sebagai
Ngayogyakarta Hadiningrat, yang saat ini perindang dan tanaman hias, diambil
masih melakukan ritual adat istiadat secara manfaat dan maknanya (Sunjata et al.,
turun temurun. Salah satu ritual adat yang 1995). Tumbuhan yang digunakan dalam
ada di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ritual adat pernikahan ini secara etnobiologi
adalah ritual adat pernikahan. Pernikahan belum diketahui secara luas sehingga perlu
merupakan fase penting pada proses dilakukan penelitian mengenai jenis-jenis
pengintegrasian manusia di dalam tata alam tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat
yang sakral. Pernikahan adalah menutupi pernikahan tersebut.
taraf hidup lama dan membuka taraf hidup
yang baru. Oleh karena itu dalam
II. METODE PENELITIAN berdasarkan rekomendasi Tepas Panitrapura
Penelitian ini di laksanakan pada (Sugiyono, 2007).
bulan November di Karaton Ngayogyakarta Selanjutnya dilakukan penelitian
Hadiningrat. kuantitatif yaitu pengumpulan data tentang
Adapun alat yang digunakan dalam tumbuhan ritual dengan cara wawancara
penelitian ini adalah alat tulis dan kamera. semi terstruktur (Martin, 1995). Pemilihan
2.1 Teknik Pengambilan Sampel informan pada tahap wawancara ini
Secara garis besar metode yang dilakukan dengan metode snowball
dilakukan pada penelitian ini merupakan sampling yaitu teknik pemilihan informan
gabungan metode penelitian kualitatif dan berdasarkan rekomendasi informan kunci.
penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif Informasi tentang calon informan berikutnya
dilakukan dengan cara studi dokumen dan didapat dari informan sebelumnya
wawancara semi terstruktur. (Sugiyono, 2007). Kemudian data yang
Studi dokumen dilakukan di Tepas sudah terkumpul dianalisis.
Widyabudaya yang merupakan sebuah 2.2 Teknik Analisis Data
perpustakaan khusus dokumen atau buku Analisis data dalam penelitian ini
tentang ritual yang ada di Karaton menggunakan teknis analisis kualitatif yaitu
Ngayogyakarta Hadinigrat. Selain itu, studi analisis konten (content analysis). Menurut
dokumen juga dilakukan secara online. Berelson dalam Soejono dan Abdurrahman
Selanjutnya, wawancara semi terstruktur (1999), analisis konten adalah suatu teknik
dengan teknik pemilihan informan penelitian untuk menghasilkan deskripsi
menggunakan metode Purposive sampling yang objektif, sistematik, dan bersifat
yaitu teknik pemilihan informan dengan komunikatif mengenai isi yang terungkap
pertimbangan tertentu, dalam hal ini orang dalam komunikasi. Data kualitatif didapat
yang dianggap paling tahu tentang dari hasil wawancara dengan informan dan
tumbuhan ritual pernikahan di Karaton studi dokumen untuk mengetahui jenis
Ngayogyakarta. Tokoh yang dipilih melalui tumbuhan, organ yang digunakan, sumber
metode ini untuk diwawancarai adalah perolehan dan cara pemanfaatan tumbuhan
Tepas Panitrapura. Melalui tahap awal ini yang digunakan dalam ritual adat
diketahui data-data calon informan untuk pernikahan di Karaton Ngayogyakarta.
tahap selanjutnya yang layak diwawancarai
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4 Batang 3
6 Buah 4
3.1 Jenis-jenis Tumbuhan Ritual Adat
1 Bunga 5
Pernikahan 2 Daun 13
Tabel 3.1.1 Habitus Tumbuhan yang 3 Tangkai Daun 1
Jumlah 28
Digunakan Dalam Ritual Adat Pernikahan
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat 3.2 Adat Pernikahan Di Karaton
No Habitus Jumlah Ngayogyakarta Hadiningrat
3 Herba 12
2 Perdu 9 Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
1 Pohon 4 berdiri setelah perjanjian Giyanti atau
Jumlah 25
palihan nagari pada tanggal 29 Rabiulakir
1680 atau 13 Februari 1755 antara Sri Sunan
Tabel 3.1.2 Famili Tumbuhan yang
Paku Buwana III dengan Pangeran
Digunakan Dalam Ritual Adat Pernikahan
Mangkubumi (Nitinegoro, 1980). Karaton
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Ngayogyakarta merupakan istana kesultanan
No Famili Jumlah
1 Annonaceae 1 Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi
2 Arecaceae 3 di pusat kota Yogyakarta, Daerah Istimewa
3 Caricaceae 1
Yogyakarta. Pada tahun 1950, Kasultanan
4 Euphorbiaceae 1
5 Fabaceae 4 tersebut telah menjadi bagian dari Negara
6 Magnoliaceae 1
Kesatuan Republik Indonesia, namun
7 Moraceae 3
8 Musaceae 1 sekalipun begitu, tradisi kesultanan masih
9 Oleaceae 1 dijalankan sampai saat ini, salah satunya
10 Pandanaceae 1
11 Piperaceae 1 tradisi adat ritual pernikahan (Permadi,
12 Poaceae 3 2013). Beberapa rangkaian ritual yang ada
13 Rosaceae 1
14 Rutaceae 1 di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yaitu
15 Zingiberaceae 2 adat tarub, adat nyantri, adat siraman, adat
Jumlah 25
midodareni, adat akad, adat panggih, adat

Tabel 3.1.3 Organ Tumbuhan yang pondhongan, adat kirab, adat resepsi, dan

Digunakan Dalam Ritual Adat Pernikahan adat pamitan (Yosodipuro, 1996).

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Adat tarub merupakan langkah


pertama dalam adat pernikahan di dalam
No Organ Jumlah
5 Akar 2 Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal ini
juga sebagai tanda dimulainya sebuah berada di dalam kamar, tidak boleh bertemu
pernikahan di Karaton. Pemasangan tarub dengan mempelai pria dan tidak boleh
digunakan sebuah Janur kuning dan keluar kamar serta tidak boleh tidur sebelum
beberapa sesajen untuk kelancaran acara jam 12 malam. Pada adat midodareni ini
tersebut. Janur dalam adat tarub ini calon pengantin tidak dirias.
digunakan untuk bleketepe dan rumbai- Adat akad, pada prosesi adat akad ini
rumbai. Bleketepe adalah janur yang calon pengantin boleh dirias dengan riasan
dianyam dan di gunakan sebagai hiasan. yang sederhana. Setelah prosesi akad
Hiasan dari janur ada berbagai macam terdapat acara dimana keluarga laki-laki
diantaranya pecut-pecutan, walang- membawa pisang setangkep yang diartikan
walangan, keris-kerisan dan burung- sebagai tebusan untuk mempelai wanita.
burungan. Sesajen yang disediakan ada 4 Adat Panggih ini menggunakan bunga
jenis, yaitu; Sanggan, Tumpeng robyong, setaman yang digunakan untuk membasuh
tumpeng gundhul, dan tumpeng megono kaki. Calon pengantin wanita dirias
(Yosodipuro, 1996). Selanjutnya dilakukan menggunakan beberapa bunga yaitu bunga
adat nyantri, yaitu menantu raja di bawa ke kanthil dan bunga melati. Berdasarkan
karaton. wawancara dengan salah satu penghageng di
Adat siraman berfungsi sebagai Tepas Widya Budaya riasan bunga tersebut
pembersih jiwa dan raga bagi calon diletakkan di kepala bagian belakang dan
pengantin. Air yang digunakan untuk dibiarkan menjuntai sampai ke punggung
siraman terdiri dari air dan bunga setaman atau disebut dengan bokor mengkurep.
yang meliputi bunga kenanga, bunga mawar, Kemudian berdasarkan wawancara dengan
bunga melati dan bungan kanthil. salah satu penghageng di kaputren, dalam
Berdasarkan wawancara dengan salah satu adat panggih ini terdapat prosesi lempar-
penghageng di kaputren, pada adat siraman lemparan atau balang-balangan antara
ini tempat duduk calon pengantin mempelai wanita dan mempelai pria. Proses
menggunakan beberapa dedaunan sebagai balang-balangan ini menggunakan daun
lapisan duduk, antara lain daun beringin, sirih yang ditali dengan lawe. Jumlah sirih
daun apa-apa, daun alang-alang dan daun yang digunakan ada lima lembar dengan tiga
kluwih. Kemudian dilanjutkan dengan adat lembar sirih dipegang mempelai pria dan
midodareni yaitu mempelai wanita harus
dua lembar sirih dipegang mempelai wanita sumber rejeki yang dihasilkan akan lebih
(Yosodipuro, 1996). dan tidak kekurangan segala sesuatunya.
Adat pondhongan yaitu mempelai Daun apa – apa dianggap sebagai daun
pria beserta paman dari mempelai wanita penghalang rintangan yang memiliki arti
menggendong mempelai wanita dari tarub bahwa perngharapan agar rangkaian acara
menuju ke tempat duduk pengantin. Adat ini yang akan dilaksanakana akan berjalan
dilakukan jika menantu raja seorang laki- lancar tidak ada halangan yang menganggu.
laki, dengan tujuan menandakan bahwa Pisang raja dapat diartikan sebagai harapan
derajat mempelai wanita lebih tinggi agar mencapai kesejahteraan dan
daripada mempelai laki-laki. Setelah adat kebahagiaan. Daun dadap srep berasal dari
pondhongan dilanjutkan dengan adat kirab suku kata “rep” yang artinya dingin, sejuk,
ini dilaksanakan menggunakan kereta teduh, damai, tenang tidak ada gangguan
karaton. Kirab pada umumnya merupakan apapun.
acara arak-arakan atau mengelilingi karaton. Kemudian dari studi dokumen yang
Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan telah dilakukan di Tepas Widya Budaya
pengantin kepada masyarakat karaton. Pada makna filosofis dari pohon beringin yaitu
proses kirab juga menggunakan hiasan pada dianggap sebagai lambang pengayoman raja
kereta meliputi bunga setaman dan bunga atau para kawulanya. Selain itu pohon
melati. Kemudian diteruskan dengan adat beringin banyak mengandung makna yang
resepsi dan yang terakhir yaitu adat pamitan. tidak terlepas dari kepercayaan lama bahwa
Pada adat pamitan ini pengantin masyarakat jawa kuna mengenal pengertian
menggunakan aksesoris sederhana tidak pohon beringin sebagai pohon hayat, yaitu
menggunakan hiasan yang mewah. pohon yang mampu memberikan hayat atau
Berdasarkan wawancara dengan kehidupan kepada manusia dan berfungsi
salah satu pengahageng di Tepas Widya sebagai pemberi pengayoman dan
Budaya, Tepas Tandha Yekti, dan Kaputren, perlindungan serta mempertebal semangat
semua tumbuhan yang digunakan memiliki dan keyakinan masyarakat. Tebu wulung,
arti atau makna tersendiri. Misalnya Kluwih Pandan wangi dan bunga melati penting bagi
dalam bahasa jawa bererti “luwih-luwih” pembuatan sesaji yang beraneka
yang artinya “lebih”. Kluwih ini dapat (Rintaiswara, 2005).
diartikan sebagai permohonan terhadap
Janur digunakan untuk membuat hanya mengandalkan bantuan internet
rangkaian tarub. Hal ini memiliki makna dikarenakan peneliti tidak dapat melakukan
bahwa janur yang berwarnakuning sebagai identifikasi objek tumbuhan secara
lambang jernihnya fikiran. Suku kata “ja” langsung. Berdasarkan hasil wawancara
diartikan tegak, sedangkan sukukata “nur” dengan penghageng kaputren sebagian besar
diartikan permulaan, sehingga kata janur tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat
dimaksudkan benih manusia itu pada pernikahan ini ditanam di dalam kaputren.
mulanya tegak (lurus), bersih dan suci. Buah Sedangkan kaputren merupakan daerah
kelapa gading yang masih muda disebut tempat tinggal putri raja dan hanya wanita
cengkir gadhing yang memiliki makna yang diperbolehkan masuk. Selain itu
sebagai permohonan berkah kebaikan dan terdapat beberapa persyaratan yang harus
keselamatan. Sedangkan kelapa gading dipenuhi untuk dapat masuk ke dalam
secara umum digunakan sebagai hiasan, kaputren, mulai dari perijinan sampai
maknanya yaitu sebagai contoh akan pakaian yang digunakan.
kehendak raja kepada semua orang yang
melihatnya seupaya memiliki fikiran yang
jernih, suci, lurus serta harapan untuk
panjang umur seperti bentuk pohon kelapa
gading yang lurus tidak bercabang dan
berwarna gading (Sunjata et al., 1995).
Dikarenakan keterbatasan informasi dari
informan dan sumber dokumen yang peneliti
dapat, sehingga peneliti tidak dapat
menyebutkan makna filosofis dari semua
tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat
pernikahan ini.
Tumbuhan yang digunakan dalam
ritual adat pernikahan di Karaton
Ngayogyakarta Hadiningrat dapat dilihat
secara rinci pada tabel dibawah ini.
Penamaan ilmiah dalam tabel dibawah ini
Tabel 3.2.1 Spesies Tumbuhan yang Digunakan Dalam Ritual Adat Pernikahan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Beserta
Pemanfaatannya
Nama Tumbuhan Pemanfaatan
Bagian dari Status
No Famili Habitus Organ
Nama Lokal Indonesia Nama Ilmiah ritual adat Tumbuhan
Tumbuhan
pernikahan
Ficus benjamina Tarub,
1. Beringin Beringin Moraceae Pohon Daun Budidaya
L Midodareni

Desmodium
2. Opo-opo Apa-apa Fabaceae Herba Daun Siraman Budidaya
pulchellum

Imperata Bukan
3. Alang-alang Alang-alang Poaceae Herba Daun Siraman
cylindrical Budidaya
Artocarpus
4. Kluwih Kluweh Moraceae Pohon Daun Siraman Budidaya
camansi
Cananga Perdu Siraman, Tarub,
5. Kenanga Kenanga Annonaceae Bunga Budidaya
odorata Midodareni
Siraman,
6. Mawar Mawar Rossa sp. Rosaceae Perdu Bunga Budidaya
Midodareni
Cempaka Siraman, Tarub,
7. Kanthil Michelia alba Magnoliaceae Perdu Bunga Budidaya
putih Midodareni
Jasminum Siraman, Tarub,
8. Melati Melati Oleaceae Perdu Bunga Budidaya
sambac Midodareni
Kelapa Nucifera
9. Kelapa gading Arecaceae Pohon Buah Tarub Budidaya
gading eburnea
Musa Buah, Daun Tarub, Siraman,
10. Pisang raja Pisang raja Musaceae Herba Budidaya
paradiadica dan Batang Midodareni
Dhadhap Erythrina Tarub, Siraman,
11. Dhadhap srep Fabaceae Herba Daun Budidaya
srep subumbrans Midodareni
12. Tebu wulung Tebu Saccharum Poaceae Herba Batang Tarub Bukan
wulung officinarum Budidaya
13. Pandan Pandan Pandanus sp. Pandanaceae Herba Daun Siraman Budidaya
Sesbania Bukan
14. Turi Turi Fabaceae Perdu Daun Siraman
grandiflora Budidaya
Herba
15. Awar-awar Awar-awar Ficus septic Moraceae Daun Siraman Budidaya
Euphorbiacea
16. Kroton Puring Codiaeum sp. Perdu Daun Midodareni Budidaya
e
Caesalpinia
17. Patramengolo Merak Fabaceae Perdu Bunga Midodareni Budidaya
pulcherrima
Tangkai
18. Papaya Papaya Carica papaya Caricaceae Herba Midodareni Budidaya
daun muda
Kaempferia
19. Kencur Kencur Zingiberaceae Herba Akar Midodareni Budidaya
galanga
20. Lengkuas Lengkuas Alpinia galanga Zingiberaceae Herba Akar Midodareni Budidaya
21. Jeruk purut Jeruk purut Citrus hystrix Rutaceae Perdu Daun Midodareni Budidaya
22. Serai Serai Cymbopogon sp. Poaceae Herba Batang Midodareni Budidaya
Bukan
23. Pinang Pinang Areca catechu Arecaceae Perdu Buah Midodareni
Budidaya
24. Sirih Sirih Piper betle Piperaceae Herba Daun Panggih, Tarub Budidaya
Daun dan
25. Kelapa Kelapa Cocos sp. Arecaceae Pohon Siraman, Tarub Budidaya
Buah
IV. KESIMPULAN Kraton : Suatu Kajian Terhadap
Berdasarkan hasil pengamatan dan Serrat Salokapati. Jakarta : CV Dewi
pembahasan dapat disimpulkan bahwa Sari.
tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat Yosodipuro, Marmien Sardjono. 1996. Rias
pernikahan di Karaton Ngayogyakarta Pengantin Gaya Yogyakarta dengan
Hadingrat sebanyak 25 spesies dengan 15 Segala Upacaranya. Yogyakarta :
famili. Berdasarkan habitus tumbuhan yang Kanisius.
digunakan terdiri atas 4 pohon, 9 perdu, dan Rintaiswara. 2005. Karaton Ngayogyakarta
12 herba. Berdasarkan bagian organ Hadiningrat Pusat Budaya Jawa.
tumbuhan yang digunakan terdiri atas bunga Yogyakarta : KHP Widya Budaya
5, buah 4, daun 13, tangkai daun 1, batang 3, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
akar 2. Martin, G. J. 1995. Ethnobotany, A People
V. SARAN and Plants Conservation Manual.
Penelitian ini merupakan penelitian London : Chapman and Hall.
yang mengkaji jenis-jenis tumbuhan yang Permadi, Dimas Nugroho Aziz, Ahmad
digunakan dalam ritual adat pernikahan di Yanu Alif fianto, Fenty
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh Fahminnansih. 2013. Penciptaan
karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan Buku Ilustrasi Regalia Keraton
mengkaji lebih dalam dan disertai Ngayogyakarta Hadiningrat Sebagai
dokumentasi yang lebih lengkap. Upaya Pengenalan Filosofi
VI. UCAPAN TERIMAKASIH Kepemimpinan Jawa Kepada
Terimakasih penulis ucapkan kepada Remaja. Jurnal Desain Komunikasi
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat atas Visual. 4 (2)
bantuan dan kerjasamanya selama penelitian Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian
berlangsung. Terimakasih kepada Ibu Eka Kualitatif. Bandung : Alfabeta
Sulistyowati atas bimbingannya dalam Nitinegoro, R. M. Soemardjo. 1980. Sejarah
menyelesaikan penelitian ini. Berdirinya Kota Kebudayaan
VII. DAFTAR PUSTAKA Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sunjata, I. W. Pantja, Tushadi, Sri Retna Yogyakarta : Foundation of Higher
Astuti. 1995. Makna Simbolik Education PUTRAJAYA.
Tumbuh – Tumbuhan dan Bangunan
Soejono dan Abdurrahman. 1999. Metode
Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Rochani, Dewi. 2009. Refleksi Metafisik
Pada Simbol Majang dan Tarub
dalam Perkawinan Adat Jawa (Gaya
Yogyakarta). Jurnal Filsafat. 19 (3)