Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, semakin hari pencinta hewan kesayangan khususnya anjing dan kucing
semakin meningkat, dengan meningkatnya pecinta hewan kesayangan maka kesadaran akan
kesehatan hewan kesayangan juga semakin meningkat. Hal ini juga meningkatkan tuntutan
kemampuan seorang dokter hewan untuk bisa mengatasi masalah apapun yang terjadi pada
pasiennya. Salah satu penyakit yang dapat terjadi pada hewan kesayangan yaitu Kencing Batu
(Urolithiasis). Penyakit ini sering terjadi pada hewan peliharaan yang mengkonsumsi kalsium
tinggi namun minim konsumsi air. Keberadaan batu dapat menyebabkan hewan melakukan
buang air kecil dalam volume kecil namun sering, menyebabkan kencing darah kebiruan, atau
tidak mampu buang air kecil. Hewan yang mengalami batu kencing tentu akan mengalami
kesakitan dan harus segera ditindak lanjuti. Apabila sudah kronis, maka harus segera dilakukan
pembedahan.

Teknik pembedahan merupakan pengobatan atau terapi yang mengusahakan pulihnya


ke kondisi normal dari akibat suatu gangguan dalam tubuh dengan menggunakan alat, tangan
dan mekanis. Pembedahan yang sering dilakukan terkait dengan adanya gangguan pada vesica
urinaria ini adalah cystotomy. Cystotomy merupakan suatu tindak pembedahan atau operasi
yang membuka kandung kemih (Vesica Urinaria) dan kemudian menutupnya lagi seperti
semula. Cystotomy penting dipelajari karena merupakan terapi akhir dari penanganan
gangguan yang ada di Vesica Urinaria. Cystotomy dilakukan terutama untuk mengeluarkan
kalkuli yang ada pada kandung kemih dan uretra, juga dapat dilakukan ketika adanya tumor
pada kandung kemih, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing, tujuan biopsi,
memperbaiki ureter ektopik atau kandung kemih pecah, dan membantu dalam diagnosis untuk
mengobati infeksi saluran kencing. Sebelum dilakukan pembedahan pada sistem perkencingan,
perlu dilakukan evaluasi status pasien seperti keadaan cairan tubuh pasien. Evaluasi yang bisa
dilakukan adalah urinalisis evaluasi fungsi ginjal, dan hemogram (gambaran darah).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja persiapan operasi cystotomy ?
1.2.2 Bagaimana teknik operasi cystotomy ?
1.2.3 Bagaimana perawatan pasca operasi cystotomy ?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui apa saja persiapan operasi cystotomy
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana teknik operasi cystotomy
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana perawatan pasca operasi cystotomy
1.4 Manfaat Penulisan

Penulis berharap paper ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya mahasiswa
Fakultas Kedokteran Hewan yang mengambil mata kuliah Bedah Khusus Veteriner, agar
memahami mengenai Cystotomy dan teknik pembedahnnya. Selain itu juga diharapkan paper
ini mampu menjadi referensi pembuatan paper lainnya dengan topik serupa.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Preoperasi
2.1.1 Persiapan Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan operasi adalah meja bedah,
meja sorong, alat pencukur rambut (Clipper dan Silet), scaple, arteri klem, gunting
ujung tumpul dan runcing, gunting bengkok, spuit, forcep, needle, needle holder
pinset anatomis, pinset sirurgis, drapping, Balfour Abdominal Retractor dan
stetoskop. Alat-alat tersebut dicuci bersih terlebih dahulu, kemudian dikeringkan,
dan ditata di dalam wadah. Alat-alat tersebut dibungkus dengan 2 lapis kain.
Peralatan yang sudah terbungkus kemudian dimasukkan di sterilisasi dengan suhu
100°C selama 60 menit.
Bahan yang digunakan adalah cat-gut, sarung tangan, benang nilon, tampon,
alkohol 70%, iodium tintur, aquades, NaCl fisiologis, Penisilin kristal, penisilin oil,
vitamin B kompleks, xylazin, ketamin dan atropin sulfat.

Gambar 1. Peralatan operasi cystotomy.


( Sumber : Internet )

3
Gambar 2. Meja Bedah.

( Sumber : Internet )

2.1.2 Persiapan Ruang Operasi


Ruangan operasi dibersihkan dan didesinfeksi menggunakan KMnO4 5%
cair yang dicampur dengan formalin 10% dengan perbandingan 1:2. Meja operasi
dibersihkan dengan menggunakan desinfektan berupa alkohol 70% dan dibiarkan
selama 15 menit. Kemudian setelah steril dapat dilakukan prosedur operasi.
2.1.3 Persiapan Operator dan Pasien
Persiapan Operator yaitu seorang operator harus memiliki beberapa kesiapan
seperti menggunakan seperangkat alat pelindung diri (APD) yang memiliki tujuan
untuk sterilitas prosedur pelaksanaan operasi, selain itu seorang operator juga harus
memiliki kesiapan diri dalam melaksanakan tindakan operasi.
Persiapan pasien sebelum tindakan operasi dilaksanakan yaitu : signalement,
anamnesa, pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi, pemeriksaan laboratorium yang meliputi Complete Blood Count (CBC),
test biokimia serum, urinalysis dan EKG. Selain itu radiograph (x-ray) atau
abdominal ultrasound dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab penyakit.
Hewan yang telah siap dioperasi, dipuasakan selama 8-12 jam dengan tujuan untuk
menghindari dampak pemberian anestesi dan untuk membersihkan saluran cerna.

4
Gambar 3. Adanya kalkuli pada Vesica Urinaria.

( Sumber : Mudasir Ahmad Shah, 2018 )

2.1.4 Premedikasi dan Anastesi


Premedikasi merupakan suatu tindakan pemberian obat sebelum pemberian
anestesi yang dapat menginduksi jalannya anestesi. Premedikasi dilakukan
beberapa saat sebelum anestesi di lakukan. Tujuan premedikasi adalah untuk
mengurangi kecemasan, memperlancar induksi, mengurangi keadaan gawat
premedikasi juga dapat mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradikardia dan
muntah selama anestesi.
Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat dengan dosis 0,04-0,1
mg/kg bb secara SC. Sebagai anestesi digunakan ketamin yang dikombinasikan
dengan xylazin disuntikkan 10 menit setelah atropin sulfat dengan dosis 1-4 mg/kg
bb dan 2-4 mg/kg bb secara IM. Selain itu anastesi perlu dijaga dengan memberikan
isoflourance + oksigen 100% melalui selang.
2.2 Operasi

Operasi cystotomy dilakukan dengan posisi hewan telentang (Dorsal Recumbency),


lakukan insisi pada region abdomen secara bertahap, insisi dilakukan pada garis median
posterior abdomen berturut-turut insisi pada kulit, jaringan subkutan, linea alba. kemudian
membuka kandung kemih (Vesica Urinaria). Setelah membuka kandung kemih, batu
(Uroliths) dikeluarkan dari kandung kemih. Jika dicurigai mengalami tumor, sampel dari
dinding kandung kemih dapat dihilangkan dan dikirim ke laboratorium untuk diteliti. Ketika
infeksi diduga bagian dari dinding kandung kemih dan sampel dari batu yang telah dikeluarkan
disiapkan untuk dikultur sehingga dapat diketahui jenis bakteri dan kepekaan antibiotik untuk

5
menentukan antibiotik bakteri yang paling sensitif terhadap bakteri tersebut. Setelah itu, Vesica
Urinaria ditutup yag dilanjutkan penutupan peritoneum, sisi dalam integument, dan terakhir
integument itu sendiri. Dinding abdomen ditutup berturut-turut dari linea alba.

2.3 Pasca Operasi

Setelah dioperasi, hewan diberikan obat anti-inflamasi atau anti nyeri (Analgesik),
seperti fentanyl (2-5 mg/kg) dalam infus sangat efektif untuk mengurangi sakit selama
beberapa hari setelah operasi dan antibiotik juga diberikan sehari 3 kali selama 5 hari atau lebih
sampai tidak terjadi infeksi. Luka tempat insisi harus dijaga kebersihannya dengan memberikan
antiseptic setiap hari. Bila hewan tidak membaik setelah operasi atau mulai merasa buruk
seperti nafsu makan berkurang dan lesu segera lakukan pemeriksaan untuk menguatkan
diagnosa penyebab infeksi atau gangguan lainnya.

6
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Teknik Operasi Cystotomy pada Anjing

Cystotomy adalah prosedur operasi untuk membuka Vesica Urinaria. Cystotomy


dilakukan terutama untuk mengeluarkan kalkuli, dimana penyebab dari kalkuli yang terdapat
pada Vesica Urinaria adalah akumulasi dari mineral yaitu kalsium. Indikasi melakukan
Cystotomy adalah untuk mengambil kalkuli yang ada pada Vesica Urinaria dan uretra, tumor
Vesica Urinaria, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing, untuk tujuan
biopsy, memperbaiki ureter ektopik, dan untuk mengesplorasi ruptur Vesika Urinaria yang
merupakan abnormalitas yang paling sering terjadi pada hewan kecil. Hasil akhir dari ruptur
Vesika Urinaria juga mengakibatkan terjadinya kebocoran urine ke dalam rongga abdomen.
Sebelum dilakukan cystotomy perlu dilakukan pemeriksaan kondisi umum pasien dan adanya
tanda-tanda uremia, oleh karena itu terapi cairan sangat perlu diberikan untuk menunjang status
pasien (Fossum, 2002). Adapun teknik-teknik operasi cystotomy pada anjing yaitu sebagai
berikut :

a. Tahap pertama, posisikan hewan dengan posisi telentang (dorsal recumbency), kemudian
cukur semua rambut yang menghalangi sampai benar-benar bersih. Untuk hewan jantan,
pencukuran rambut yang ada pada daerah praeputium harus dilakukan dengan sangat hati-
hati. Selanjutnya dipasangi kain penutup operasi (drap).

Gambar 4. Posisikan pasien dalam posisi telentang (Dorsal Recumbency) pada kasus kucing
dengan obstruksi uretra berulang dan uroliths kalsium oksalat.
( Sumber :Pope, Eric R., 2016 )

7
b. Tahap kedua, lakukan insisi pada region abdomen secara bertahap sampai mencapai
bagian praeputium. Aplikasikan alat Balfour Abdominal Retractor untuk mempertahankan
posisi abdomen agar terbuka selalu selama pembedahan. Sebelum mengeluarkan
komponen abdomen, lapisi bagian luar dengan kasa laparotomi steril guna mencegah
terjadinya kontaminasi. Cari Vesica Urinaria, dan arahkan ke posisi menghadap operator.
Pastikan hewan sebelumnya berada dalam posisi sudah dipuasakan dengan waktu tertentu
guna mencegah terjadinya pengisian vesica urinaria selama pembedahan berlangsung.

Gambar 5. Daerah insisi pada abdomen anjing.


( Sumber : Steve Garnett, 2017 )

Gambar 6. Alat Balfour Abdominal Retractor untuk mempertahankan posisi abdomen agar
terbuka selalu selama pembedahan.
( Sumber :Pope, Eric R., 2016 )

8
c. Tahap ketiga, insisi perlahan Vesica Urinaria dan lanjutkan dengan gunting Metzenbaum
Perluas sayatan dengan rapi pada bagian ventral Vesica Urinaria. Untuk luas insisi
tergantung dari besarnya kalkuli atau tumor.

A B

Gambar 7. A. Buat sayatan tusuk ke dalam lumen kandung kemih garis


tengah ventral. B. Perluas Sayatan dengan menggunakan Gunting Metzenbaum.
( Sumber :Pope, Eric R., 2016 )

Gambar 8. Insisi pada Vesica Urinaria berindikasi tumor.


( Sumber : Steve Garnett, 2017 )

d. Tahap keempat, angkat semua benda asing (kalkuli) yang ada sampai benar-benar tuntas.
Jika dicurigai mengalami tumor, sampel dari dinding kandung kemih dapat dihilangkan
dan dikirim ke laboratorium untuk diteliti. Jika diduga infeksi, bagian dari dinding
kandung kemih dan sampel dari batu yang telah dikeluarkan yang disiapkan untuk dikultur
untuk mengetahui jenis bakteri dan kepekaan antibiotik. Apabila kandung kemih penuh
berisi urin perlu dilakukan aspirasi urin agar tidak tumpah kedalam rongga abdomen. Insisi
kandung kemih dibuka selanjutnya dilakukan sesuai dengan tujuan operasinya. Bilamana

9
ada kalkuli lakukan pengeluaran kalkuli seluruhnya. Kateterisasi perlu dilakukan dari
urethra untuk mendorong kalkuli masuk kedalam kandung kemih. Bilas kandung kemih
sampai bersih dengan menggunakan NaCl fisiologis.

Gambar 9. Pengangkatan kalkuli pada Vesica Urinaria. Bladder stone yang sudah
dikeluarkan dari kandung kemih (tanda panah).
( Sumber :Pope, Eric R., 2016 )

Gambar 10. Pembedahan pada Vesica Urinaria karena tumor.


( Sumber : Steve Garnett, 2017 )
e. Tahap kelima, lakukan penutupan atau penjahitan pasca insisi dengan menggunakan jenis
jahitan simple continous pattern menggunakan benang absorbable (cat gut).

10
Gambar 11. Penjahitan pada daerah insisi cystotomy pada kandung kemih dengan pola
jahitan simple continous pattern.
( Sumber :Pope, Eric R., 2016 )
f. Tahap keenam, pastikan tidak ada lagi pendarahan, bersihkan darah yang masuk keruang
abdomen dengan kasa steril, lalu kemudian reposisi kembali semua komponen abdomen.
Selanjutnya dilakukan penutupan atau penjahitan peritoneum, sisi dalam integument, dan
terakhir integument itu sendiri. Dinding abdomen ditutup berturut-turut dari linea alba
dengan benang vicryl 2-0 dengan pola simple interrupted, jaringan subkutan dijahit dengan
simple continous menggunakan benang plain cat gut atau 2-0 dan kulit luar dijahit dengan
benang non absorble pola simple interrupted.

Gambar 12. Penutupan jaringan subkutan.


( Sumber : I. U Khan, 2013 )

11
Gambar 13. Penjaitan luka.
( Sumber : I. U Khan, 2013 )

3.1 Perawatan Pasca Operasi

Pasca operasi cystotomy produksi urin hewan terus dimonitor dengan disertai
pemberian cairan infus Ringer Laktat. Analisis kalkuli perlu dilakukan untuk mencegah
terjadinya kalkuli ulangan. Jika hewan peliharaan mengalami batu di kandung kemih atau
uretra, maka perlu dilakukan diet. Diet bisa bervariasi berdasarkan jenis spesifik batu yang
terdapat dalam batu ginjal. Amati sayatan dua kali sehari jika terjadi kemerahan,
pembengkakan atau radang dari luka insisi. Terapi penunjang bisa diberikan untuk
mempercepat proses kesembuhan seperti membatasi gerak yang berlebihan untuk menjaga
jahitan tidak lepas. Perhatikan apakah terjadi perubahan warna pada urin serta pada saat hewan
buang air kecil tampaknya mudah atau sulit. Jika terjadi komplikasi, harus segera lakukan
tindakan. Jahitan pada kulit biasanya sudah bisa dibuka 7-14 hari setelah operasi.

Selain itu, diberikan obat anti-inflamasi atau anti nyeri (analgesik), seperti fentanyl (2-
5 mg/kg/jam) dalam infus sangat efektif untuk mengurangi sakit selama beberapa hari setelah
operasi dan antibiotik juga diberikan sehari 3 kali selama 5 hari atau lebih sampai tidak terjadi
infeksi. Seringkali dilakukan pemasangan kateter selama 4-5 hari. Luka tempat insisi harus
dijaga kebersihannya dengan memberikan antiseptika setiap hari.

Walaupun Vesica Urinaria strukturnya lemah, insisi pada Vesica Urinaria akan cepat
sembuh, dan kesembuhannya dapat mencapai 100% dalam 14-21 hari. Vesica Urinaria akan
membesar setelah prosedur cystotomy, hal ini terjadi karena adanya kombinasi regenerasi
ephitelial, sintesis dan remodeling jaringan luka, hipertropi dan proliferasi otot polos, dan
Vesica Urinaria yang meregang.

12
Dalam kasus yang jarang terjadi, setelah cystotomy kandung kemih mungkin dapat
mengalami kebocoran yang mengakibatkan urin masuk ke perut. Jika hal ini terjadi hewan
mungkin mulai merasa kurang nyaman dan menunjukan tanda-tanda berupa perut yang buncit.
Bila hewan mengalami hal tersebut dengan kondisi yang semakin buruk seperti nafsu makan
berkurang dan lesu segera lakukan pemeriksaan untuk menguatkan diagnosa penyebab
gangguan tersebut. Jika sudah bisa dipastikan bahwa kandung kemih bocor, maka bisa segera
dilakukan operasi untuk memperbaiki.

13
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Cystotomy adalah prosedur operasi untuk membuka Vesica Urinaria. Cystotomy


dilakukan terutama untuk mengeluarkan kalkuli yang ada pada Vesica Urinaria dan uretra,
tumor Vesica Urinaria, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing, untuk
tujuan biopsy, memperbaiki ureter ektopik dan Vesica Urinaria pecah, dan membantu dalam
diagnosis untuk mengobati infeksi saluran kencing. Pada praoperasi cystotomy yang dilakukan
diantaranya : persiapan alat dan bahan, mempersiapkan ruang operasi, mempersiapkan operator
dan pasien serta melakukan premedikasi dan anestesi. Setelah semua persiapan telah disiapkan
maka operasi pembedahan dapat dilakukan.

Terapi penunjang bisa diberikan untuk mempercepat proses kesembuhan seperti


membatasi gerak yang berlebihan untuk menjaga jahitan tidak lepas. Amati bekas sayatan dua
kali sehari untuk menjaga agar tidak terjadinya peradangan pada bekas insisi. Perhatikan
apakah terjadi perubahan warna pada urin serta pada saat hewan buang air kecil tampaknya
mudah atau sulit. Jika terjadi komplikasi, harus segera lakukan tindakan.

4.2 Saran

Kesembuhan dari cystotomy yang dilakukan tergantung dari individu hewan yang
dioperasi serta perawatan pascaoperasi yang dilakukan oleh client. Bila hewan tidak membaik
setelah operasi atau mulai merasa buruk seperti nafsu makan berkurang dan lesu segera lakukan
pemeriksaan untuk menguatkan diagnosa penyebab gangguan tersebut, agar hewan segera
mendapatkan pertolongan jika gangguan tersebut berasal dari operasi cystotomy sebelumnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Appel.S, Otto, Simon. J, Weese J.S. (2012). “Cystotomy practices and complications among
general small animal practitioners in Ontario, Canada”.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3280787/ (diakses pada 15 September
2018).
Armapal, H.P Aithal. 2012. Tube Cystotomy for the Management of Urolithiasis with Phalitis
in Two Dogs. Indian Veterinary Research Institute, Izatnagar-243122 (UP), India.
Brun, M.V.,Oliveira,S.T., Messina,S.A., Stedile,R., Oliveira R.P.. 2008. Laparoscopic
Cystotomy For Urolith Removal In Dogs: Three Case Reports.Arq. Bras. Med. Vet.
Zootec., v.60, n.1, p.103-108.

Colopy, Sara. 2016. Cystotomy, OVH for Pyometra, and GDV. University of
Wisconsin,Madison, WI.

Diamond D. Dr. (2015). “Cystotomy (Opening the Bladder) in Dogs”.


http://www.petplace.com/dogs/cystotomy-in-dogs/page1.aspx (diakses pada 15
September 2018).
Fossum, T.W. (2002) Small Animal Surgery, ed 2nd Mosby, St. Lois London. Philandelphia
sydney. Toronto.

Garnett, Steve. 2017. Surgery Of The Urinary Tract In Dogs And Cats. Dogs and Cats
Veterinary Referral and Emergency.

Khan, I.U., dkk. 2013. Evaluation of Different Suturing Techniques for Cystotomy Closure in
Canines. Terdapat dalam : The Journal of Animal & Plant Sciences, 23(4): 2013, Page:
981-985, ISSN: 1018-7081.

Merkley F, David. Bladder/Urethral Stone(s) Surgical Philosophy. Diplomate American


College of Veterinary Surgeons. Veterinary Surgical Specialists of Nebraska.

Pope, Eric R. 2016. Procedures Pro Cystotomy. Ross University. Page: 30-34

Schauvliege S. , Seymour C., Brearley J.C, Gasthuys F. (2010). “Anesthesia for cystotomy in
a dog with pancreatitis and a portosystemic shunt”. Department of Surgery and
Anesthesiology of Domestic Animals, Faculty of Veterinary Medicine, Ghent
University, Salisburylaan 133, B-9820 Merelbeke.

15
Schauvliege, S. 2010. Anesthesia for cystotomy in a dog with pancreatitis and a portosystemic
shunt. University of Cambridge, Madingley Road, Cambridge, UK.

Shah, Mudasir Ahmad. 2018. Surgical Management of Urolithiasis in Male Dogs: A Clinical
Review of 10 Cases. The Indian Journal of Veterinary Sciences & Biotechnology
(2018) Volume 13, Issue 3, 75-78.

Sudisma, I.G.N., Putra Pemayun, I.G.A.G, Jaya Warditha, A.A.G., dan Gorda, I.W. 2006. Ilmu
Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Denpasar: Pelawa Sari Denpasar.

16
LAMPIRAN
JURNAL

17