Anda di halaman 1dari 21

SOAL PENGELOLAAN SEDIAAN FARMASI

PROGRAM STUDI APOTEKER


ANGKATAN I TAHUN 2018
Dosen : Prof. Dr. Almahdy A, Apt

1. Dalam pengadaan sediaan farmasi, apotek dapat melakukan konsinyasi dengan PBF.
Produk apa saja yang sering dikonsinyasikan?
a. Obat dan BMHP yang cepat kadaluarsa
b. Perbekalan farmasi yang baru beredar
c. Sediaan farmasi yang cepat laku
d. Perbekalan farmasi yang diminati di pasaran
e. Sediaan farmasi yang tidak laku di pasaran

2. Pengkombinasian metode VEN dan ABC dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan obat
dari suatu instalasi kesehatan, misalnya saja pengkombinasian Vital-Always,
Nonessenstial-Control, Essensial-Better, Vital-Control dan masih banyak lagi. Jika
dilihat dari macam-macam obat dibawah ini, kelompok obat mana yang termasuk ke
dalam Vital-Control?
a. Vitamin B Kompleks
b. Caladine
c. Paracetamol
d. ISDN
e. Vitamin D

3. Sebuah rumah sakit melakukan perencanaan pengadaan eritromisin gel. Metode yang
digunakan adalah dengan melakukan analisis dan berdasarkan penggunaan periode
sebelumnya. System pengadaan yang dilakukan yaitu…
a. Epidemiologi
b. Konsumsi
c. Analisis ABC
d. Analisis VEN
e. Kombinasi ABC dan VEN

4. Perencanaan obat emergency dan obat bebas terbatas di rumah sakit selama satu tahun
berjalan ada kelebihan stok item obat dan kekurangan life saving drugs. Metode apa
yang tepat agar tidak terjadi kekurangan obat dan kelebihan stok?
a. Analisis ABC
b. Analisis VEN
c. Analisis ABC dan VEN
d. Metode epidemiologi
e. Metode Konsumsi

5. Berdasarkan hasil penelitian di Kota padang, kasus penderita TB paru terbesar yaitu
pada usia 45-64 tahun yaitu sebanyak 9100 penderita, namun jika dilihat dari jumlah
anggota populasi untuk tiap kelompok usia angka persentasi tertinggi penderita ada
pada kelompok usia lebih dari 65 tahun yaitu sebesar 21,77%. Pada penelitian ini
semua gender ikut serta, baik laki-laki dan perempuan. Penelitian tersebut dilakukan
pada tahun 2013 dimana pada tahun tersebut kasus tuberkulosis paru semakin
meningkat dari tiap bulannya. Berdasarkan hal tersebut, suatu fasilitas di Kota Padang
akan melakukan perencanaan dan pemilihan obat. Metode yang tepat untuk kasus
tersebut adalah...
a. Konsumsi
b. Pendapatan Daerah
c. Epidemiologi
d. Usia
e. Jenis Kelamin

6. Berikut adalah kriteria pemilihan obat dalam menetapkan formularium rumah sakit,
kecuali…
a. Memiliki rasio manfaat-resiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita
b. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
c. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
d. Konsep penggunaannya bukan berdasarkan obat yang paling dibutuhkan pasien
e. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien

7. Obat-obatan tertentu pada pusat pelayanan kesehatan yang jumlahnya dilebihkan,


dikenal dengan istilah...
a. Butter stock
b. Buffing shock
c. Buffer stock
d. Buffer shock
e. Baffer stock

8. Jika suatu rumah sakit baru dibangun, maka sistem pengadaan perbekalan farmasi
menggunakan metode...
a. Konsumsi
b. Epidemiologi
c. Kombinasi konsumsi dan epidemiologi
d. Formularium
e. Epidemiologi dan formularium

9. Pendistribusian sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan berdasarkan resep perorngan


yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali
dosis/pasien disebut…
a. UDD
b. Sistem peresepan
c. Floor stock
d. Sistem peresepan individu
e. Kombinasi

10. Yang tidak termauk dalam pengelolaan obat di fasilitasi kesehatan adalah…
a. Pengadaan
b. Perencanaan
c. Pemasaran
d. Distribusi
e. Penyimpanan
11. Pemilihan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai biasanya
berdasarkan pada formularium dan standar pengobatan/pedoman diagnosa dan terapi
yang terdapat pada rumah sakit. Kriteria pertama pemilihan Obat untuk masuk
Formularium Rumah Sakit menurut Permenkes no 72 tahun 2016 adalah :
a. menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien
b. mengutamakan penggunaan Obat generik
c. praktis dalam penyerahan, penggunaan dan penyimpanan
d. mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas
e. memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita

12. Jika suatu saat pola penyakit pada pasien berubah, bagaimana perencanaan perbekalan
sediaan farmasi pada rumah sakit tersebut?
a. Dilakukan pemesanan langsung ke supplier
b. Pasien menebus obat ke luar
c. Apoteker langsung merubah formularium rumah sakit
d. Dilakukan diskusi bersama tim KFT dalam update formularium rumah sakit
e. Dilakukan perubahan formularium atas persetujuan apoteker

13. Rumah sakit dalam melaksanakan pengadaan sediaan farmasi, memiliki beberapa
metode perencanaan untuk pengadaan. Metode perencanaan sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan dengan menggunakan data pasien, waktu tunggu pasien, kejadian
penyakit yang umum, dan pola perawatan standar dari penyakit yang ada adalah ....
a. Konsumsi
b. ABC
c. VEN
d. Epidemiologi
e. Ekonomi

14. Diantara beberapa tahap kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi, tahap mana yang
bertujuan untuk mengatur jumlah perbekalan farmasi ?
a. Pengadaan
b. Penghapusan, Monitoring dan evaluasi
c. Pengadaan, Penyimpanan
d. Perencanaan, Pengendalian, Pelaporan dan pencacatan
e. Perencanaan, Penerimaan, Pendistribusian

15. Seorang apoteker pada IFRS Rumah Sakit Andalas sedang melakukan penataan
penyimpanan sediaan farmasi pada IFRS. Apoteker tersebut berkoordinasi dengan
tenaga teknis kefarmasian (TTK) dalam mengelola penataan sediaan farmasi, apoteker
memerintahkan TTK untuk menyusun obat-obat berdasarkan masa kadaluarsa obat
terdekat diletakan dipaling depan terlebih dahulu agar dapat diberikan ke pasien,
metode apakah yang digunakan tersebut?
a. FIFO
b. FEFO
c. Alfabetis
d. ABC
e. VEN
16. Tujuan pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di rumah sakit menurut
Permenkes No. 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan di Rumah Sakit adalah agar
obat yang diperlukan tersedia setiap saat dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu
yang terjamin dan harga yang terjangkau untuk mendukung pelayanan yang bermutu,
salah satunya dengan menerapkan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah
direncanakan dan disetujui, kegiatan itu adalah...
a. Perencanaan
b. Pemilihan
c. Pengadaan
d. Penerimaan
e. Pengendalian

17. Pengiriman pelaporan kefarmasian wajib dilakukan oleh pihak rumah sakit, dan
pelaporan tersebut dilakukan secara berjenjang. Kemanakah tujuan pelaporan yang
dimaksud pada pernyataan diatas menurut Pemenkes No. 72 tahun 2016?
a. Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinas kesehatan Provinsi & Kementrian Kesehatan
b. Dinas Kesehatan Kab/Kota, kepala BPOM & dinas kesehatan provinsi
c. Kepala BPOM, dinas kesehatan kab/kota, dinas kesehatan provinsi
d. Dinas kesehatan kab/kota & dinas kesehatan provinsi
e. Dinas kesehatan kab/kota, dinas kesehatan provinsi, kepala BPOM &
Kementrian Kesehatan

18. Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, harus dilakukan
Pengendalian Mutu Pelayananan Kefarmasian yang meliputi ....
a. Monitoring
b. Evaluasi
c. monitoring dan evaluasi (monev)
d. Motivasi
e. PIO

19. Pemilihan obat dapat dilakukan dengan menggunakan metode VEN dan ABC.
Penggolongan metode analisis VEN dan ABC berdasarkan pada..
a. Berdasarkan harga obat
b. Berdasarkan khasiat obat
c. Berdasarkan konsumsi obat
d. Berdasarkan harga dan khasiat obat
e. Berdasarkan epidemiologi penyakit

20. Pengelolaan perbekalan obat emergensi di rumah sakit harus dapat menyediakan lokasi
penyimpanan. Obat emergensi dibutuhkan untuk kondisi kegawatdaruratan. Tempat
penyimpanan harus mudah diakses dan terhindar dari penyalahgunaan dan pencurian.
Berikut ini hal yang harus dijamin dalam pengelolaan obat emergensi yaitu...
a. Jumlah dan jenis obat sesuai dengan daftar obat emergensi yang telah ditetapkan;
b. Tidak boleh bercampur dengan persediaan obat untuk kebutuhan lain
c. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti
d. Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluwarsa dan dilarang untuk dipinjam
untuk kebutuhan lain.
e. Semua benar

21. Sesuai dengan Kebijaksaan Obat Nasional (KONAS) pengelolaan obat salah satunya
bertujuan agar pasien mendaptkan obat-obat yang mutunya terjamin. Untuk menjamin
pasien mendapatkan mutu-mutu obat yang terjamin maka dilakukan pengawasan
terhadap pemilihan obat diinstalasi kesehatan, terutama instalasi farmai. Untuk
mengawasi pemilihan obat dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu :
a. Metode Vital, Essential, dan Non-sessential.
b. Metode Always, Better, dan control
c. Metode VEN dan ABC
d. Metode Langsung
e. Metode Tidak langsung

22. Sistem distribusi untuk pasien rawat jalan merupakan kegiatan pendistribusian
perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan rawat jalan di rumah sakit yang
diselenggarakan secara sentralisasi atau desentralisasi dengan sistem resep perorangan
oleh pelayanan farmasi rumah sakit, hal diatas dijelaskan berdasarkan...
a. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009
b. Undang-undang No. 35 Tahun 2009
c. Keputusan Menkes RI No. 1197/Menkes/SK/X/2004
d. Keputusan Menkes No. 1747/Menkes/SK/XII/2000
e. Keputusan Menkes RI No. 1333/Menkes/SK/XII/1999

23. Permenkes No 35 Tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di Apotek, telah
diubah menjadi Pemenkes N0 35 Tahun 2016. Namun, masih belum memenuhi
kebutuhan hukum di masyarakat, sehingga dilaksanakan lagi perubahan menjadi
a. Permenkes No 72 Tahun 2016
b. Permenkes No 73 Tahun 2016
c. Permenkes No 74 Tahun 2016
d. Permenkes No 75 Tahun 2016
e. Permenkes No.76 Tahun 2016

24. Apotek “Hexa Farma” yang bekerjasama dengan klinik pratama “Keluarga Sehat”
memiliki stok obat salbutamol nasal spray sebanyak 28 buah. Sudah 10 bulan tidak ada
resep obat tersebut, baik dari klinik “Keluarga Sehat” maupun klinik lainnya.
Sedangkan masa expire obat tersebut masih 3 tahun 4 bulan lagi. Bagaimana jika obat
tersebut dijual ke apotek lain?
a. Tidak, sebaiknya di return ke PBF
b. Boleh, jika dijual ke apotek lain dalam sistem apotek sirkulasi
c. Boleh, jika ada apotek yang mau
d. Tidak, karena masa expire obat masih lama
e. Tidak, karena baru 10 bulan obat tersebut berada di apotek

25. Apotek Andalas Utama merupakan apotek yang ramai pasiennya karena berada dekat
dari rumah sakit. Dari 2 jenis analisa perbekalan (VEN dan ABC), apotek ini memilih
Analisa ABC. Berikut manfaat analisa ABC, kecuali...
a. Dapat memanfaatkan model kerja
b. Membantu manajemen dalam penentuan tingkat persediaan
c. Sumber daya produksi dapat dimanfaatkan secara efisien
d. Dapat memanfaatkan alokasi dana yang tersedia
e. Dapat memfokuskan pada jenis persediaan utama yang memberikan untung besar
26. Disuatu apotek ditemukan beberapa obat sudah expire 1 bulan yang lalu. PSA
memutuskan agar segera memusnahkan obat tersebut. Sesuai PMK No. 35 Tahun 2014,
pemusnahan obat di apotek dilakukan oleh...
a. APA, disaksikan oleh petugas DKK
b. APA, disaksikan oleh pihak kepolisian dan BPOM
c. APA, PSA, dan TTK
d. APA dan TTK
e. Boleh TTK asalkan diketahui oleh PSA, DKK, dan BPOM

27. PBF wajib menyimpan/ membukukan setiap berkas pengadaan, penyimpanan, dan
penyaluran perbekalan farmasi. Berkas yang dimaksud adalah...
a. Surat pesanan, faktur penerimaan, faktur pengiriman, SIA
b. Faktur penerimaan, faktur pengiriman, faktur barang kembali, SIA
c. Surat pesanan dan kartu stok obat
d. Surat pesanan dan SIA
e. Surat pesanan, faktur penerimaan, faktur pengiriman, kartu stok obat

28. Seorang tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek menerima sediaan farmasi dari
Pabrik Besar Farmasi (PBF) berdasarkan surat pesanan, akan tetapi obat yang datang
tidak sesuai dengan surat pesanan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh tenaga farmasi?
a. Menandatangani faktur meskipun obat tidak sesuai dengan pesanan
b. Mengembalikan obat yang tidak sesuai pesanan dan menandatangani faktur yang
ada
c. Membuat surat pesanan baru untuk obat yang akan dipesan
d. Meandatangani faktur baru setelah barang ditukar sesuai pesanan
e. Membuat surat pesanan yang sesuai dengan faktur yang ada

29. Seorang tenaga kefarmasian di apotek diberi peringatan karena melakukan kesalahan
terhadap pelayanan obat. Pada resep tertulis obat pasien adalah klorpromazin yang
merupakan obat antiemetik, sedangkan yang diberikan ke pasien adalah klorpropamid
yang merupakan obat antidiabetes. Kasus ini menggambarkan kesalahan obat yang
termasuk dalam kelompok obat?
a. FEFO
b. FIFO
c. Look-Alike
d. Sound-Alike
e. Obat Keras

30. Evi adalah seorang APA di apotek “Tunas Muda” yang berada di kota Padang. Seperti
biasa dua minggu sekali evi mengontrol ketersediaan obat di apoteknya dengan
melihat kartu stok dan mencocokan dengan sediaan yang ada di apoteknya. Hari ini
dia menemukan ada kekosongan stock untuk obat golongan Narkotika, Evi pun
melaporkan ke PSA. Karena apotek “Tunas Muda” cukup sering menerima resep
narkotika, maka PSA nya memerintahkan Evi untuk melakukan pengadaan obat
golongan narkotika tersebut. Apoteker Evi kemudian membuat surat pemesanan untuk
item obat tersebut. Berikut adalah nama PBF di kota Padang, ke PBF manakah surat
pemesanan untuk obat golongan narkotika di ajukan?
a. Parit Padang
b. Tempo
c. Kimia Farma
d. Kerta Niaga
e. Gading Lestari Farma

31. Dalam kegiatan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat, seorang apoteker
penanggung jawab wajib melakukan dokumentasi dengan baik. Dokumentasi
dilaksanakan secara baik dengan maksud....

a. Untuk dapat menjamin pelaksanaan pengadaan dan distribusi sesuai


ketentuan perundang-undangan.
b. Untuk dapat menjamin penyediaan data dan informasi yang akurat dan aktual pada
pemesanan, penerimaan, keadaan stok, penyaluran, dan sebagainya.
c. Untuk dapat menjaga tingkat stok pada kondisi yang dapat menjamin kelancaran
pelayanan.
d. Untuk dapat melakukan dokumentasi yang benar dan lengkap dan mencatat semua
kegiatan yang dilaksanakan dalam pengelolaan pengadaan dan penyaluran obat.
e. Semua benar

32. Seorang pasien 56 tahun datang ke apotek menderita osteoporosis, gout dan
osteoarthritis dan osteoporosis. Dia diberikan resep obat sediaan kalsium, allopurinol.
Sebagai seorang apoteker harus melakukan kajian resep administratif, farmasetik dan
klinis. Apakah yang termasuk skrining administratif?
a. Nama dan kekuatan sediaan
b. Interaksi obat
c. Bentuk sediaan
d. Nama dan usia pasien
e. Kompatibilitas

33. Pada Apotek Kasih Ibu, terdapat tumpukan resep-resep obat yang disimpan sejak tahun
2010. Sesuai PERMENKES No. 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Farmasi di
Apotek, resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 tahun dapat dimusnahkan
dan pemusnahannya disertakan dengan berita acara pemusnahan resep. Pada instansi
apakah berita acara pemusnahan resep dialporkan?
a. Badan POM
b. Balai POM
c. PBF
d. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
e. Menteri Kesehatan
34. Sebuah apotek memesan suatu sediaan farmasi jenis narkotika. Sebagai apoteker
penanggung jawab apotek yang harus anda lakukan dalam hal penyimpanan narkotika
menurut permenkes RI.No.28/MENKES/PER/I/1978 ...
a. Menyimpan sediaan jenis narkotika dengan lemari yang memiliki dua kunci yang
berbeda
b. Disimpan bersama sediaan jenis lain didalam lemari khusus
c. Lemari penyimpanan dibuat dari jenis kayu atau bahan lain yang khusus
d. B dan C benar
e. A dan C benar

35. Anda adalah seorang apoteker yang sedang praktek di sebuah apotek di kota padang.
Anda melihat seorang ibu berjalan ke apotek anda dengan wajah panik sambil memapah
seorang bocah laki-laki yang mengalami kesulitan bernafas. Kemudian sang ibu
menunjukkan sebuah inhaler lengkap dengan tabungnya dengan maksud ingin membeli
Ventolin®. Sebagai seorang apoteker, apa yang akan anda lakukan?
a. Menolak permintaan si ibu, karena Ventolin® merupakan obat keras
b. Menolak permintaan si ibu, karena Ventolin® harus diresepkan oleh dokter
c. Menolak permintaan si ibu, karena sediaan inhaler tidak boleh dijual bebas di
apotek
d. Menyerahkan Ventolin® yang merupakan obat dalam daftar obat wajib
apotek
e. Menyerahkan Ventolin® yang merupakan obat bebas terbatas

36. Bu Sari ingin menebus resep obat anak beliau di Apotek Hamasah. Sesampai di Apotek,
resep diserahkan ke petugas apotek. Beberapa saat kemudian, resep bu Sari dicek
dengan seksama oleh petugas didalam ruangan apotek, kemudian dicatat beberapa hal
dari resep tersebut. Kemudian setelah menunggu, nama bu Sari dipanggil dan obat
diserahkan kepada beliau sambil dijelaskan tentang kegunaan obatnya, cara
pemakaianya, cara penyimpanan dan ciri-ciri obatnya. Bu Sari juga sempat
menanyakan tentang beberapa keluhan dan kondisi anak beliau, petugas apotek
menjawab dan menjelaskan dengan terang. Berdasarkan ilustrasi diatas, pelayanan
kefarmasian apa saja yang sudah diperoleh bu Sari di Apotek Hamasah? (Berdasarkan
Permenkes No 73 Tahun 2016)
a. Pelayanan informasi obat, pelayanan kefarmasian di rumah, dan PTO
b. Konseling, PTO, dan MESO
c. Dispensing, PIO, dan Konseling
d. Pengkajian resep, PTO dan pelayanan kefarmasian di Rumah
e. PIO, PTO dan MESO

37. Apotek merupakan salah satu sarana bagi seorang apoteker untuk menjalankan
pekerjaan kefarmasiannya. Bentuk pekerjaan yang diberikan oleh apoteker sendiri
terdiri atas bidang farmasi klinis dan manajerial berupa penyedian perbekalan sediaan
farmasi. Salah satu bentuk pengelolaan perbekalan adalah pemusnahan. Dari beberapa
pertanyaan dibawah ini tentang pemusnahan yang manakah yang paling tepat?
a. Obat kadaluarsa dimusnahkan sesuai dengan bentuk sediaan dan resep yang
disimpan melebihi waktu 3 tahun juga ikut dimusnahkan
b. Obat yang kadaluarsa dan rusak dimusnahkan sesuai bentuk sediaan dan tidak perlu
di isi berita acara
c. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 tahun dapat dimusnahkan
d. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 tahun dapat dimusnahkan serta
obat yang rusak dan kadaluarsa dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk
sediaan
e. Tidak ada pernyataan yang tepat

38. Seorang pasien berumur 40 tahun datang ke apotek membeli obat dengan resep yang
diberikan oleh dokter, Kegiatan yang bukan termasuk pelayanan farmasi klinik yang
dilakukan apoteker di apotek adalah...
a. Pengkajian resep
b. Dispensing
c. Konseling
d. Home pharmacy care
e. Pelayanan Informasi Obat

39. Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) yaitu memastikan bahwa kualitas produk yang
dicapai melalui CDOB dipertahankan sepanjang jalur distribusi. Berikut merupakan
aspek-aspek CDOB, kecuali….
a. Personalia
b. Dokumentasi
c. Pengadaan dan Penyaluran
d. Penyimpanan dan Penarikan Kembali
e. Semua salah

40. PBF dapat menyalurkan obat kepada instansi pemerintah yang dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. PBF hanya dapat melaksanakan penyaluran
obat keras kepada …
a. Toko obat
b. Apotek yang tidak mempunyai APA
c. Apotek yang mempunyai APA
d. Toko kelontong
e. Toko kosmetik

41. Sebuah apotek akan melakukan pemusnahan resep yang telah disimpan selama 5 tahun.
Menurut Permenkes RI No. 73 Tahun 2016, pemusnahan resep yang mengandung obat
narkotika dan psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh...
a. Kepala BPOM
b. Dinas kesehatan kabupaten/kota
c. Dokter yang membuat resep
d. Tenaga kefarmasian lain
e. Pemilik Saham Apotek

42. Yang tidak termasuk panitia pemusnahan narkotika adalah:


a. APA
b. Asisten Apoteker
c. Petugas Balai POM
d. Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabutapten/Kota setempat
e. PSA

43. Distributor obat X mengantarkan obat parasetamol 500 mg dan amoksisilin 500 mg ke
apotek. Yang perlu di lakukan oleh apoteker penerima obat di apotek adalah…
a. Cek kesesuaian obat yang datang dan surat pesanan
b. Langsung membayar faktur
c. Menentukan harga jual obat
d. Meyimpan obat ke gudang
e. Salah semua

44. Seorang apoteker melakukan evaluasi dalam rangka pengendalian persediaan obat di
apotek. Berdasarkan eveluasi yang dilakukan diketahui bahwa terdapat 5 jenis obat
yang tidak digunakan sejak 3 bulan yang lalu sehingga terjadi penumpukan sediaan.
Hal ini disebut ?
a. Safety stock
b. Death stock
c. Out of stoct
d. Stock of opname
e. ready stock

45. Seluruh Posyandu di Indonesia menerima obat-obat vaksin untuk kegiatan imunisasi
sebagai program pemerintah dalam pencegahan penyakit polio. Namun, pada satu
daerah di kota Padang program tersebut tidak memberikan hasil seperti yang
diharapkan pemerintah. tingkat kejadian kasus polio tidak menunjukkan penurunan.
Setelah ditelusuri, ternyata obat tersebut diletakkan dalam suatu ruangan dengan suhu
25°C. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi masalah dalam pengelolaan sediaan
farmasi pada tahap....
a. Perencanaan dan pemilihan
b. Pengadaan obat
c. Penyimpanan obat
d. Distribusi obat
e. Penggunaan dan pengawasan obat
46. Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi dan BahanMedis Habis Pakai.Kriteria
obat yang harus dimusnahkan menurut permenkes adalah, kecuali…
a. Produk tidak memenuhi persyaratan mutu
b. Produk telah kadaluwarsa
c. Produk tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau
kepentingan ilmu pengetahuan
d. Produk dicabut izin edarnya
e. Produk sudah tidak laku di pasaran

47. Puskesmas pembantu (pustu) di salah satu desa di Kecamatan Kota Padang meminta
sejumlah stok obat ke puskesmas induk di Kecamatan Kota Padang , ternyata stok obat
di puskesmas sudah habis, apa yang harus dilakukan oleh seorang Apoteker….
a. Membuat surat Pendistribusian obat ke Dinkes Kota
b. Membuat surat Permintaan obat ke Dinkes Kota
c. Membuat surat Penerimaan obat ke Dinkes Kota
d. Membuat surat Pengendalian obat ke Dinkes Kota
e. Membuat surat Penyimpanan obat ke Dinkes Kota

48. Ditemukan sejumlah Paracetamol 500mg di Puskesmas X dengan tanggal kadaluarsa 3


bulan lagi. Asisten Apoteker melaporkan temuan tersebut kepada Apoteker 2 minggu
kemudian, apa yang harus dilakukan oleh Apoteker terhadap obat tersebut….
a. Menghubungi dokter untuk meresepkan paracetamol sebanyak-banyaknya
sebelum kadaluarsa
b. Menghubungi DINKES untuk pengembalian obat
c. Menghubungi pihak PBF untuk pengembalian obat
d. Langsung dimusnahkan saat itu juga
e. Tetap disimpan di ruang penyimpanan obat sampai waktu pemusnahan

49. Seorang apoteker yang baru bekerja d puskesmas dan di beri tugas pengelolaan larutan
metadon untuk program terapi ketergantungan. Dimana tempat yg digunakan untuk
penyimpanan metadon?
a. Dilemari obat keras sediaan cair
b. Etalase
c. Lemari pendingin 2-8
d. Lemari pisikotropik
e. Lemari narkotik

50. Suatu fasilitas kesehatan sering mengalami kehabisan jenis obat tertentu, sehingga obat
yang dibutuhkan oleh pasien tidak dapat diberikan akibatnya pasien terpaksa membeli
obat di apotek lain. Seringnya hal ini terjadi, banyak pasien mengeluhkan hal yang di
alami kepada pimpinan suatu fasilitas kesehatan. Hal tersebut membuat pemimpin
menegur apoteker penanggung jawabnya karena masalah yang ditimbulkan.
Berdasarkan kasus tersebut, masalah yang terjadi dalam pengelolaan sediaan farmasi
pada tahap....
a. Perencanaan dan pemilihan obat
b. Pengadaan obat
c. Distribusi obat
d. Penggunaan dan pengawasan obat
e. Penyimpanan obat

51. Suatu sistem distribusi yang sangat di anjurkan oleh PERMENKES No.72 tahun 2016
untuk pasien rawat inap mengingat tingkat kesalahan obat dapat diminimalkan sampai
kurang dari 5% adalah...
a. Resep Individu
b. Floor stock
c. Unit dose dispensing
d. One daily dose
e. Individual precription

52. Puskesmas disalah satu kecamatan melakukan penerimaan resep dan peracikan yg
dilakukan oleh orang yang bukan ahli di bidang ini. Sedangkan pekerjaan kefarmasian
seperti memproduksi, distribusi dan pelayanan sediaan farmasi harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai kewenangan untuk itu. Dimana hal tersebut sudah
di atur dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang
kesehatan. Dalam bab dan pasal berapakah hal tersebut sudah di atur oleh pemerintah....
a. Bab I Pasal 1
b. Bab III Pasal 4
c. Bab V pasal 42
d. Bab VI pasal 63
e. Bab X pasal 82

53. Apoteker X memesan diazepam 2 fls dari pbf. Kemudian datang hanya 1 fls. Tindakan
apa yang seharusnya apoteker tersebut lakukan?
a. mengklarifikasi kesalahan tersebut dengan PBF
b. mengganti surat pesanan sesuai barang yang datang
c. memesan barang kembali dengan kekurangannya
d. melapor kepihak berwenang
e. membuat surat pesanan baru

54. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan penting dalam meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Permenkes yang mengatur tentang standar
pelayanan kefarmasian di puskesmas yaitu…
a. Permenkes No 72 tahun 2016
b. Permenkes No 73 tahun 2016
c. Permenkes No 73 tahun 2014
d. Permenkes No 74 tahun 2016
e. Permenkes No 74 tahun 2014
55. Seorang apoteker di Puskesmas akan melakukan pengadaan obat amoksisilin 500 mg,
perhitungan ini berdasarkan pada pemakaian obat bulan sebelumnya. Metoda yang
digunakan dalam pengadaan obat adalah….
a. Epidemiologi
b. Usia
c. Konsumsi
d. ABC
e. VEN

56. Seorang pasien yang baru didiagnosis menderita DM tipe I datang ke apotek Andalas
Farma dan bertanya pada apoteker S. Pasien menjelaskan bahwa ia baru menggunakan
hormon insulin sebagai salah satu terapinya. Ia bertanya pada apoteker S terkait lama
penyimpanan hormon insulin dan temperatur penyimpanannya. Maka informasi yang
dapat diberikan oleh apoteker S pada pasien ini adalah….
a. Insulin yang baru dapat disimpan selama tiga bulan pada suhu di bawah 0⁰C
b. insulin yang baru dapat disimpan selama enam bulan pada suhu 2- 8⁰C
c. Insulin dapat disimpan pada suhu kamar pada temperatur 15-20⁰C bila seluruh isi
vial akan digunakan dalam satu bulan
d. A dan B benar
e. B dan C benar

57. Seorang pasien datang dengan membawa resep berisikan librium dan dumolid.
Apoteker dapat menemukan obat ini pada bagian ….. dari apotek tersebut.
a. Etalase luar
b. Etalase dalam
c. Freezer
d. Lemari obat psikotropik
e. Lemari obat narkotik

58. Dalam proses perencanaan obat pertahun, Puskesmas diminta menyediakan data
pemakaian obat dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan
Obat (LPLPO). Selanjutnya yang akan melakukan analisa kebutuhan obat di Puskesmas
diwilayah kerjanya adalah ...
a. UPOPPK (Unit Pengelola Obat Publik dalam Perbekalan Kesehatan
Kabupaten/Kota)
b. Petugas yang bekerja di Puskesmas
c. Apoteker yang ada di Puskesmas
d. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
e. Staff Farmasi di Puskesmas

59. Dalam peningkatan pelayan kefarmasian, puskesmas harus memiliki sarana dan
prasarana yang menunjang. Berikut adalah sarana dan prasarana penunjang pelayanan
kefarmasian di puskesmas diantaranya, kecuali ….
a. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
b. Keranjang tempat penyerahan obat ke pasien
c. Tempat penyimpanan obat khusus
d. Tempat peracikan obat dan peralatan penunjang
e. Sumber informasi yang memadai untu pelayanan informasi obat

60. Salah satu tanggung jawab puskesmas adalah bertanggung jawab terhadap
terlaksananya pencatatan pelaporan obat yang tertib dan lengkap serta tepat waktu
untuk mendukung pelaksanaan seluruh pengelolaan obat. Hal - hal penting dalam
pencatatan dan pelaporan tersebut kecuali ….
a. Sarana pencatatan dan pelaporan
b. Alur pelaporan
c. Periode Pelaporan
d. Laporan pengelolaan obat
e. Pengendalian Persediaan

61. Tujuh dari 11 kecamatan di Kota Padang, Sumatera Barat tercatat sebagai daerah yang
berpotensi rawan bencana seperti banjir. Kondisi banjir menyebabkan keterbatasan air
bersih, akibatnya anak-anak usia dibawah 5 tahun banyak mengalami diare yang
disertai muntah sering disebut muntah berak (muntaber), gejalanya biasanya buang air
terus menerus, muntah, dan kejang perut. Dinas Kesehatan kota Padang mengambil
tindakan untuk menyediakan buffer stock obat pada masing-masing puskesmas. Obat
yang tepat pada kasus tersebut adalah...
a. Betadine
b. Amoxicillin
c. Paracetamol
d. Oralit
e. Diazepam
62. Seorang mahasiswa apoteker datang ke puskesmas X untuk mencari informasi
mengenai pengelolaan sediaan farmasi di puskesmas. Berdasarkan hasil laporan dari
apoteker, penduduk yang berobat ke puskesmas tersebut banyak yang mengalami diare
pada dua minggu terakhir dikarenakan sanitasi lingkungan yang tidak memadai.
Berdasarkan laporan diatas, cara penentuan kebutuhan obat yang digunakan didasarkan
pada....
a. Metoda konsumsi
b. Metoda ABC
c. Metoda Epidemiologi
d. Pendapatan daerah
e. Benar semua
63. Puskesmas Pauh memiliki obat Codein Hcl dan Luminal. Obat ini masa expirednya
Juni 2017, maka dilakukan pemusnahan terhadap obat tersebut. Pemusnahan dilakukan
oleh …..
a. Asisten Apoteker disaksikan oleh Kepala Puskesmas
b. Asisten Apoteker disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kota
c. Apoteker disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kota
d. Apoteker disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kota
e. Apoteker disaksikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi
64. Kendala yang sering terjadi dalam penggunaan sistem e-purchasing adalah
keterlambatan kedatangan pemesanan obat atau alat kesehatan di Puskesmas. Apa yang
sebaiknya dilakukan seorang apoteker, agar tidak terjadi kekurangan atau kekosongan
obat di Puskesmas tersebut?
a. Mendesak pihak terkait
b. Melebihkan pemesanan obat atau alat kesehatan 10% - 20%
c. Memberikan copy resep kepada pasien jika terjadi kekosongan
d. Membeli obat yang kurang langsung ke PBF
e. Semua benar
65. Untuk mengukur kinerja pelayanan kefarmasian di Puskesmas digunakan indikator
dalam mengukur tingkat keberhasilan pelayanan kefarmasian di Puskesmas antara lain,
kecuali?
a. Sumber daya manusia
b. Tingkat kepuasan konsumen
c. Dimensi waktu
d. Lama pelayanan diukur dengan waktu (yang telah ditetapkan)
e. Prosedur tetap (Protap) Pelayanan Kefarmasian
66. Permintaan obat untuk menunjang kebutuhan obat di Puskesmas diajukan oleh......
kepada kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan format LPLPO.
a. Apoteker
b. Asisten apoteker
c. Kepala puskesmas
d. Penanggung jawab di gudang
e. Benar semua
67. Apoteker wajib ikut serta dalam memonitori dalam hal pengendalian limbah Rumah
Sakit. Limbah Rumah Sakit termasuk limbah klinis yang berasal dari pelayanan medis,
perawatan gigi, farmasi, penelitian, pengobatan, perawatan, infeksius, jaringan tubuh,
dan zat berbahaya lainnya. Limbah tersebut harus dipisahkan sesuai dengan jenis dan
sifatnya, agar memudahkan dalam pembuangan dan pemusnahannya. Untuk
pembuangan limbah klinis harus dilakukan cara seperti dibawah ini, kecuali:
a. Yang berbentuk padat menggunakan incinerator (sistem pembakaran)
b. Yang berbentuk padat dan merupakan limbah infeksius tidak perlu disterilisasi
terlebih dahulu sebelum dimusnahkan menggunakan incinerator (sistem
pembakaran)
c. Yang berbentuk cair menggunakan sistem pengolahan air limbah
d. Yang berbentuk gas menggunakan alat pengendali gas Scrubber pada incinerator.
e. Yang berbentuk gas menggunakan alat pengendali Wet Scrubber pada
bangunan cerobong asap dapur dan boiler

68. Dalam pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai di
Rumah Sakit Penerimaan merupakan suatu rangkaian untuk menjamin kesesuaian
jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat
kontrak atau surat penerimaan dengan kondisi fisik yang diterima. Dalam hal ini ada
beberapa hal yang harus diperhatikan agar proses penerimaan barang di Rumah Sakit
berjalan sesuai yang di inginkan, kecuali....
a. Harus mempunyai MSDS (Material Safety Data Sheet) untuk bahan yang
berbahaya
b. Harus mempunyai sertifkat asli untuk alat kesehatan
c. Spesifikasi obat / BMHP sesuai dengan yang ada pada pesanan
d. Penerimaan harus dilakukan/disaksikan oleh Apoteker atau TTK yang bertanggung
jawab pada logistik farmasi.
e. Tidak memperhatikan suhu pengiriman untuk barang-barang tertentu

69. Penyampaian obat dari apoteker ke pasien adalah bagian terakhir distribusi obat. Di
apotek, proses penyampaian ini dapat dilakukan langsung dari apoteker ke pasien.
Namun, hal ini tidak dapat terjadi di rumah sakit terhadap pasien rawat inap karena
jarak yang jauh antara penderita yang berada di ruangan dan apoteker yang ada di
instalasi farmasi. Berkaitan dengan tanggung jawab penyampaian dan distribusi obat
dari IFRS ke daerah perawatan pasien maka dibuat sistem distribusi obat. Berdasarkan
ada atau tidaknya satelit farmasi, sistem distribusi obat di rumah sakit dibagi menjadi
…..
a. Sistem sentralisasi dan desentralisasi
b. Sistem distribusi obat resep individual atau permintaan tetap
c. Sistem distribusi obat persediaan lengkap di ruang
d. Sistem distribusi obat kombinasi resep individual dan persediaan lengkap di
ruang
e. Sistem distribusi obat dosis unit

70. Seorang apoteker di suatu rumah sakit akan melakukan pengadaan tablet paracetamol
500 mg dan tablet amoxicillin 500 mg. Untuk menentukan jumlah obat yang akan
dipesan apoteker tersebut melakukan pengumpulan, pengolahan dan menganalisa data
dari pemakaian obat periode sebelumnya. Berdasarkan data tersebut apoteker dapat
menentukan jumlah obat yang akan dipesan. Apakah nama metode yang digunakan
oleh apoteker tersebut?
a. Epidemiologi
b. Observasi
c. Konsumsi
d. ABC
e. VEN

71. Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka


menyalurkan/menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien dengan tetap
menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu. Rumah Sakit harus
menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin terlaksananya pengawasan dan
pengendalian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di unit
pelayanan. Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara, kecuali...
a. Sistem persediaan lengkap di ruangan (floor stock)
b. Sistem resep perorangan
c. Sistem unit dosis
d. Sistem kombinasi
e. Sistem komputerisasi

72. Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan berdasarkan


pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan obat agar dihasilkan
Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat memenuhi kebutuhan
pengobatan yang rasional. Berikut ini adalah kriteria pemilihan obat untuk
Formularium Rumah Sakit, kecuali:
a. memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
pasien
b. praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
c. mutu terjamin
d. memiliki kemasan obat yang menarik
e. mengutamakan penggunaan Obat generik

73. Pelayanan farmasi diselenggarakan dengan visi, misi, tujuan dan bagan organisasi yang
mencerminkan penyelenggaraan berdasarkan filosofi pelayanan kefarmasian. Bagan
organisasi adalah bagan yang menggambarkan pembagian tugas, koordinasi dan
kewenangan serta fungsi kerangka organisasi minimal mengakomodasi
penyelenggaraan pengelolaan perbekalan, farmasi klinis dan managemen mutu, dan
harus selalu dinamis sesuai perubahan yang tetap menjaga mutu sesuai harapan
pelanggan. Pelayanan farmasi harus mencerminkan kualitas kefarmasian yang bermutu
tinggi melalui cara pelayanan farmasi rumah sakit yang baik. Pelayanan kefarmasian di
rumah sakit adalah sebagai berikut, kecuali . . . . .
a. Melakukan perencanaan, pengadaaan dan penyimpanan obat, alat kesehatan sesuai
formularium rumah sakit
b. Melakukan kegiatan peracikan obat sesuai permintaan dokter dan pasien baik untuk
pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan
c. Pendistribusian obat dan alat kesehatan farmasi
d. Memberikan pelayanan informasi obat dan melayani konsultasi obat
e. Mampu mendukung kegiatan pelayanan unit kesehatan lainnya selama 24 jam

74. Suatu rumah sakit tipe C ingin melakukan pemusnahan sediaan farmasi yang telah
kadaluarsa.. Akan tetapi, rumah sakit ini tidak memiliki insenerator yang memadai
dikarenakan cerobong insenerator yang rendah (dibawah 14 m) sehingga jika
pemusnahan tetap dilakukan, hasil pembakaran akan mencemari lingkungan sekitar
rumah sakit tersebut. Lalu, bagaimanakah solusi untuk rumah sakit ini agar dapat
melaksanakan pemusnahan sediaan farmasi yang telah kadaluarsa tersebut?
a. Melaksanakan pemusnahan sediaan farmasi oleh pihak ketiga dengan mengadakan
suatu kerjasama
b. Melaksanakan pemusnahan sediaan farmasi dengan pihak ketiga sebagai
fasilitator dan pemusnahan tetap dilakukan oleh pihak rumah sakit (pihak
pertama)
c. Sediaan farmasi dilaporkan ke Dinas Kesehatan Pusat sehingga dapat diserahkan
ke rumah sakit yang membutuhkan sediaan tersebut
d. Sediaan farmasi dimusnahkan dengan pembakaran tanpa insenerator
e. Menghubungi Dinas Kesehatan Pusat dan meminta dana untuk pengadaan
insenerator yang memadai

75. Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi penyimpanan obat emergensi untuk
kondisi kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus mudah diakses dan terhindar
dari penyalahgunaan dan pencurian. Pengelolaan obat emergensi harus menjamin,
kecuali :
a. Jumlah dan jenis obat sesuai dengan daftar obat emergensi yang telah ditetapkan.
b. boleh bercampur dengan persediaan obat untuk kebutuhan lain.
c. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti.
d. Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluwarsa.
e. Dilarang untuk dipinjam untuk kebutuhan lain.

76. Di Rumah Sakit terdapat Panitia Farmasi dan Terapi (PFT). Panitia ini difungsikan
rumah sakit untuk mencapai terapi obat yang rasional. Adapun yang termasuk peranan
Panitia Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit adalah
a. Penghentian obat berbahaya
b. Daftar Obat Darurat
c. Memantau ROM
d. Melakukan EPO dan Melaporkan MESO
e. Semua benar

77. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap formularium Rumah Sakit, maka di
RSUD Rasidin harus mempunyai kebijakan terkait dengan penambahan atau
pengurangan Obat dalam Formularium Rumah Sakit dengan mempertimbangkan
indikasi penggunaaan, efektivitas, risiko, dan biaya. Evaluasi dan perubahan mengenai
formularium di RSUD tersebut dilakukan setiap:
a. 3 bulan
b. 6 bulan
c. 1 tahun
d. 2 tahun
e. 3 tahun

78. Pengadaan obat di rumah sakit bertujuan untuk menjamin ketersediaan, jumlah dan
waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai standar mutu. Ketika
melakukan suatu pengadaan obat ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti
berikut ini, kecuali:
a. Bahan Baku Obat dengan Sertifikat Analisa
b. Bahan berbahaya disertakan Material Safety Data Sheet (MSDS)
c. Anggaran yang tersedia
d. Masa kadaluarsa (expired date)
e. Nomor izin edar

79. Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan sesuain
kebutuhan. Pelayanan melalui pengaturan system pesanan atau pengadaan,
penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk
a. Menghindari terjadinya kelebihan obat
b. Menghindari kekurangan dan kekosongan obat
c. Menghindari obat-obatan yang rusak dan kadaluarsa
d. Menghindari kehilangan serta pengembalian pesanan
e. Menghindari kontaminasi dengan obat-obatan lain

80. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil
yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Standar Pelayanan
Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga
kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Peraturan yang
mengatur standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit adalah . . . .
a. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009
b. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014
c. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009
d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016
e. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

81. Perencanaan perbekalan farmasi adalah salah satu fungsi yang menentukan dalam
proses pengadaan perbekalan farmasi di rumah sakit. Tahap perencanaan ini
diantaranya meliputi evaluasi perencanaan yakni setelah dilakukannya perhitungan
kebutuhan perbekalan farmasi untuk tahun yang akan datang, dilakukan peninjauan
kembali terhadap hasil yang didapatkan. Cara atau teknik evaluasi yang dapat dilakukan
yakni...
a. Analisa nilai ABC, untuk evaluasi aspek ekonomi
b. Pertimbangan atau kriteria VEN, untuk evaluasi medik/terapi
c. Kombinasi ABC dan VEN
d. Revisi daftar perbekalan farmasi
e. Semua benar

82. Seorang dokter di RS menemukan penyakit yang obat-obatnya tidak tercantum dalam
Formularium Rumah Sakit dan obatnya juga tidak tersedia. Apa yang harus dilakukan
dokter tersebut agar obat-obat tersebut bisa tersedia?
a. Berkoordinasi dengan kepala IFRS untuk pengadaan obat langsung
b. Langsung menghubungi PBF untuk pemesanan obat
c. Berkoordinasi dengan pejabat pengadaan obat, alkes dan BMHP di rumah sakit
untuk membeli obat di e-katalo
d. membuat amprah dan mengisi surat berformat khusus, ditandatangani dokter
bersangkutan, diseujui dan ditanda tangani KFT dan Komisi Komite Medik,
baru dilakukan pemesanan langsung.
e. berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk pengadaan obat tersebut
83. Didalam suatu rumah sakit dikenal dengan adanya sistem formularium. Sistem
formularium adalah metoda yang digunakan oleh staf medik di rumah sakit yang
bekerja melalui Tim Farmasi dan Terapi untuk mengevaluasi, menilai, dan memilih dari
berbagai bahan obat dan sediaan obat yang ada, yang paling efektif bagi pengobatan
penderita. Sistem formularium yang dikelola dengan baik memberikan keuntungan bagi
rumah sakit, antara lain :
a. Merupakan pendidikan terapi obat yang tepat bagi staf medik
b. Memberikan manfaat dalam pengurangan biaya dengan sistem pembelian dan
pengendalian persediaan yang efisien
c. Pembatasan jumlah obat dan produk obat yang secara teratur tersedia di apotek akan
memberikan keuntungan bagi pelayanan penderita dan keuntungan secara ekonomi
d. Membantu menyakinkan mutu dan ketepatan penggunaan obat dalam rumah sakit
e. semua benar

84. Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem
pelayanan kesehatan rumah sakit karena merupakan pelayanan langsung yang
bertanggungjawab penuh terhadap pasien terkait dengan sediaan farmasi dan orientasi
kesembuhan pasien melalui ketepatan pemberian obat. Sebagai pedoman bagi tenaga
kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian maka dibuatlah standar
pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi . . . . .
a. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
b. Pelayanan farmasi klinik
c. Pengelolaan sediaan farmasi; alat kesehatan; bahan medis habis pakai dan
pelayanan farmasi klinik
d. Pelayanan resep, PIO, PTO, konseling dan visite
e. Semua jawaban benar

85. Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan menyalurkan/menyerahkan sediaan


farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dari tempat penyimpanan sampai
kepada unit pelayanan/pasien. Salah satu cara pendistribusian obat di RSUD dr. Rasidin
Padang adalah dengan penyediaan persediaan obat diruang perawatan dan seorang
apoteker harus melakukan pengawasan dan pengendalian mengenai obat tersebut.
Sistem distribusi apakah yang digunakan oleh RSUD dr. Rasidin tersebut?
a. Sistem resep perorangan
b. Sistem unit dosis
c. Sistem Floor stock
d. Sistem kombinasi
e. Sistem stok perawat

86. Pelayanan kefarmasian terdiri diri dua aspek, yakni yang bersifat manajerial berupa
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dan
kegiatan pelayanan farmasi klinik. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada
aspek manajerial di Apotek terdapat tujuh kegiatan, adapun di rumah sakit terdapat
sembilan jenis kegiatan. Kegiatan manajerial yang manakah yang ditidak dilakukan di
Apotek....
a. Pemilihan
b. Perencanaan
c. Pengadaan
d. Penerimaan
e. Penyimpanan
87. Menurut UU No. 44 2009 Tentang Rumah Sakit, sistem pengelolaan alat kesehatan,
sediaan farmasi, dan bahan medis habis pakai di rumah sakit yang dilakukan instalasi
farmasi harus menggunakan ...
a. metoda konsumsi
b. metoda epidemiologi
c. standar pelayanan kefarmasian
d. sistem satu pintu
e. sistem dua pintu

88. Salah satu kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai adalah pemilihan. Pemilihan merupakan kegiatan untuk menetapkan jenis
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan
kebutuhan. Berikut ini yang bukan pertimbangan dalam Pemilihan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai adalah
a. formularium dan standar pengobatan/pedoman diagnosa dan terapi;
b. harga
c. efektifitas dan keamanan;
d. ketersediaan di rumah sakit
e. pola penyakit

89. Menurut Permenkes RI No.72 tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di
Rumah Sakit, pemusnahan untuk sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai dapat dilakukan apabila produk tidak memenuhi persyaratan mutu, telah
kadaluarsa, tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan dan
dicabut izin edarnya.
RSUD dr. Rasidin Padang belum pernah melakukan pemusnahan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan kesehatan, dan bahan medis habis pakai semenjak 13 tahun yang lalu
dan akan direncakan untuk dilakukan pada tahun 2018 ini, maka hal pertama yang harus
dilakukan oleh Apoteker penanggungjawabnya adalah....
a. Membuat daftar sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan media habis pakai
yang akan dimusnahkan
b. Menyiapkan berita acara pemusnahan
c. Mengkoordinasikan jumlah,metode dan tempat kepada pihak yang terkait
d. Menyiapkan tempat pemusnahan
e. Melakukan pemusnahan

90. Kondisi penyimpanan untuk obat/bahan obat harus sesuai dengan rekomendasi dari
industry farmasi yang memproduksi obat/bahan obat. Untuk barang-barang CCP (Cold
Chain Product) disimpan pada chiller dengan suhu…
a. 2-80 C
b. -1 0 C
c. -150 C
d. 10-150 C
e. -80 C