Anda di halaman 1dari 12

Analisa Dispepsia Fungsional dan Penatalaksanaannya

Alvin Anthonius 102011020

Eveline Sora 102013025

Gabriel Cahyani Harefa 102013165

Herlin Indah Bangalino 102015022

Shita Apilla Elya 102014083

Rio Yosua Saputra 102014088

Jonathan B. Gilbert 102014109

Hariani 102014120

Natasha Natalia Gunawan 102014198

Kelompok A2

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Abstrak

Dispepsia merupakan istilah yang digunakan untuk suatu sindrom atau kumpulan
gejala atau keluhan yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual,
muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut rasa penuh atau begah. Keluhan ini tidak selalu
sama pada tiap pasien dan bahkan pada satu pasien pun keluhan dapat berganti atau bervariasi
baik dari jenis keluhan maupun kualitasnya. Penyebab sindrom dispepsia ini dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu kelompok penyakit organik (seperti tukak peptik, gastritis, batu kandung
empedu, dll) dan kelompok dimana sarana penunjang (seperti radiologi, endoskopi dan
laboratorium) tidak dapat memperlihatkan adanya gangguan patologis struktural atau
biokimiawi. Dengan kata lain, kelompok terakhir ini disebut sebagai gangguan fungsional.

Kata kunci: dispepsia fungsional, gaster, regurgitasi, heart burn

Abstract
Dyspepsia is a term used for a syndrome or collection of symptoms or complaints
consisting of pain or discomfort in the pit of the stomach, bloating, nausea, vomiting,
belching, sense of satiety, or fullness stomach full flavor. These complaints are not always the
same in all patients, and even in one patient any complaints can be changed or varied in kind
or quality complaints. The cause of dyspepsia syndrome is divided into two groups, namely
the organic diseases (such as peptic ulcer, gastritis, gall bladder stones, etc) and where the
group supporting infrastructure (such as radiology, endoscopy and laboratory) can not show
any structural or biochemical pathological disorders. In other words, the latter group is
referred to as a functional disorder .
Keywords : functional dyspepsia, stomach, regurgitation, heart burn
Pendahuluan

Dispepsia berasal dari bahasa yunani dys yang berarti buruk dan peptein yang berarti
pencernaan, adalah kumpulan gejala (syndrome) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak
nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa penuh, sendawa,
regurgitasi, dan rasa panas yang menjalar ke dada. Dalam konsensus Roma II tahun 2000
disepakati bahwa definisi dispepsia adalah rasa sakit atau tidak nyaman yang bersumber dari
bagian atas abdomen. Di kalangan masyarakat awam, mungkin kita mengenal dispepsia
sebagai maag (lambung) sebagai penyakit yang sering terjadi dan wajar jika terlambat makan.
Keluhan ini tidak selalu sama pada tiap pasien dan bahkan pada satu pasien pun keluhan
dapat berganti atau bervariasi baik dari jenis keluhan maupun kualitasnya. Jadi dispepsia

1
bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan suatu sindrom yang harus dicari
penyebabnya.1

Anamnesis

Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui riwayat


penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, teratur dan
lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari anamnesis untuk menegakkan
diagnosis. Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu identitas nama, umur, jenis
kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan), riwayat penyakit (keluhan
utama yang menyebabkan pasien dibawa berobat) serta riwayat perjalanan penyakit yang
mencakup cerita kronologis, rinci dan jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan
sampai dibawa berobat, pengobatan sebelumnya dan hasilnya serta perkembangan
penyakitnya.2
Pada kasus hasil anamnesis didapatkan perempuan berusia 25 tahun, datang dengan
keluhan nyeri ulu hati sejak 3 hari yang lalu. Biasanya pasien minum promag dan keluhan
berkurang. Pencetus yang sering adalah terlambat makan dan makan makanan pedas.
Penurunan berat badan, riwayat muntah dan BAB hitam disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Untuk memudahkan pemeriksaan fisik, kita dapat membagi abdomen dalam beberapa
region abdomen, yang pertama dengan menarik garis tegak lurus terhadap garis median
melalui umbilicus. Dengan ini terbagilah abdomen menjadi 4 kuadran: kanan atas, kanan
bawah, kiri atas, dan kiri bawah. Pembagian yang lebih spesifik dengan menarik dua garis
sejajar dengan garis median dan dua garis transversal yaitu yang menghubungkan dua titik
paling bawah dari arcus costae dan satu garis lagi yang menghubungkan kedua SIAS.
Berdasarkan pembagian yang lebih rinci ini, abdomen menjadi 9 regio yaitu: regio
epigastrium, hipokondrium kanan, hipokondrium kiri, umbilicus, lumbal kanan, lumbal kiri,
suprapubik, iliaka kanan dan iliaka kiri. Ada beberapa titik dan garis yang sudah disepakati
seperti titik mc burney di 1/3 lateral dari garis yang menghubungkan SIAS dan umbilicus.
Kemudia garis schuffner yaitu garis yang menghubungkan arcus costa kiri ke umbilicus dan
diteruskan ke SIAS, dibagi menjadi 8 titik, dengan umbilicus sebagai titik 4. Saat melakukan
pemeriksaan fisik, sebaiknya kantong kemih dikosongkan terlebih dahulu. Yang akan

2
diperiksaan ialah bagian abdomen pada keempat quadran abdomen dengan melakukan teknik
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi:

(1) Inspeksi, memperhatikan kulit bagian abdomen (jaringan parut, striae, dilatasi
vena). Kontur abdomen (cekung, rata, cembung), kesimetrisan abdomen, benjolan atau
massa, gerakan peristatik usus. Pada keadaan normal, dinding abdomen simetris dan tidak
terlihat gerak peristaltik.
(2) Palpasi, dilakukan dengan lembut untuk mengetahui adanya : nyeri tekan
abdomen, nyeri lepas, massa, rigiditas otot menggunakan ruas distal jari-jari. Palpasi dalam
dilakukan untuk mengetahui batas-batas abdomen, cari pembesaran massa tumor, apakah
hati, limpa, empedu membesar, kemudian periksa ginjal apakah ballottement positif atau
negatif.
(3) Perkusi, membantu untuk mengetahui distribusi gas dalam abdomen, massa padat,
atau cairan serta batas-batas organ (kantung empedu, menentukan ukuran hati dan limpa),
menentukan penyebab distensi abdomen: penuh gas (timfani), massa tumor (redup-pekak)
dan asites. Perkusi membantu menentukan apakah abdomen lebih banyak air atau gas. Pada
keadaan normal suara timfani, kecuali hati suara pekak. Bertambahnya bunyi timfani
menandakan adanya udara bebas, seperti pada perforasi usus. Dalam keadaan adanya cairan
dalam rongga perut, perkusi di atas dinding perut mungkin timfani dan di sampingnya pekak.
Dengan memindah mindahkan pasien miring ke satu sisi, maka bunyi pekak ini akan
berpindah pindah(shifting dullness). Fenomena papan catur, perkusi dinding perut ditemukan
timfani dan redup yang berpindah seperti pada peritonitis TBC.
(4) Auskultasi ,mendengarkan bising usus pasien, apakah normal (5-34 kali per
menit), hiperperistaltik, atau bising usus dibawah normal.3
Hasil pemeriksaan fisik pada kasus, ditemukan nyeri tekan ringan regio epigastrium.

Pemeriksaan Penunjang

- Laboratorium : mengidentifikasi adanya faktor infeksi (leukositosis), pankreatitis


(amilase, lipase), keganasan saluran cerna (CEA, CA 19-9, AFP).
- Endoskopi (esofagogastroduodenoskopi) : pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk
dikerjakan bila dispepsia tersebut disertai oleh keadaan yang disebut alarm symptoms
yaitu penurunan berat badan, anemia, muntah hebat dengan dugaan adanya obstruksi,
muntah darah, melena atau keluhan sudah berlangsung lama dan terjadi pada usia
lebih dari 45 tahun. Keadaan ini sangat mengarah pada gangguan organik, terutama

3
keganasan, sehingga memerlukan eksplorasi diagnosis secepatnya. Teknik
pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi dengan akurat adanya kelainan struktural/
intra lumen saluran cerna bagian atas seperti adanya tukak atau ulkus, tumor, dsb,
serta dapat disertai pengambilan contoh jaringan (biopsi) dari jaringan yang dicurigai
untuk memperoleh gambaran histopatologiknya atau untuk keperluan lain seperti
mengidentifikasi adanya kuman Helicobacter pylori.
- Radiologi (pemeriksaan barium meal) : pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi
kelainan struktural dinding atau mukosa saluran cerna bagian atas seperti adanya
tukak atau gambaran ke arah tumor. Pemeriksaan ini terutama bermanfaat pada
kelainan yang bersifat penyempitan atau/ stenotik/ obstruktif dimana skop endoskopi
tidak dapat melewatinya.1
Pada kasus hasil lab belum ada.

Diagnosis Banding

Dispepsia Organik

Dispepsia organik dan dispepsia fungsional pertama-tama, ditentukan dengan ada


tidaknya tanda alarm, yaitu usia > 45 tahun, hematemesis melena, berat badan turun > 10 kg,
anoreksia, riwayat ulkus peptik, muntah presisten, dan anemia. Pada pasien tanpa tanda
alarm, diberikan terapi epirik selama 2 minggu dan dilihat adakah dispepsianya membaik
atau tidak. Jika tidak membaik, dilakukan investigasi misalnya esofagogastroduodenoscopy
(EGD), radiologi dan laboratorium. Jika pada endoskopi ditemukan kelainan struktural, atau
kelainan biokimiawi lain, maka pasien tersebut termasuk golongan dispepsia organik.
Sementara jika tidak ditemukan apa-apa kelainan, maka pasien tersebut tergolong dalam
dispepsia fungsional.1 Beberapa jenis kelainan organik di saluran cerna bagian atas yang
dapat menyebabkan dispepsia :

1. Dispepsia ec Ulkus Peptik


Definisi ulkus atau tukak peptik adalah defek berukuran diatas 5mm, kedalaman
mencapai lapisan submukosa. Ulkus peptik dapat menembus mukosa muskularis sampai
lapisan serosa sehingga dapat terjadi perforasi. Ulkus peptik terdiri dari ulkus lambung dan
ulkus duodenum. Patogenesis terjadi karena faktor agresif lebih kuat dari faktor defensive.
Faktor agresif yaitu H.pylori dan OAINS. Selain itu pengaruh rokok, stres, malnutrisi, diet
tinggi garam, defisiensi vitamin, genetic. Sebaliknya, faktor defensive yaitu Preepitel yaitu
ketebalan mukus dan bikarbonat, epitel yaitu kecepatan perbaikan mukosa yang rusak dimana

4
sel sehat bermigrasi ke ulkus, subepitel yaitu mikrosirkulasi, prostaglandin endogen
menekan ekstravasasi leukosit yang merangsang reaksi inflamasi jaringan.
Diagnosis bila ada keluhan dispepsia: mual, muntah, kembung, nyeri ulu hati,
sendawa, rasa terbakar, rasa penuh, cepat kenyang. Tipe gejala yang dirasakan adalah tipe
ulkus, dominan rasa nyeri. Biasanya terjadi penurunan berat badan. Pada tukak duodeni
gejala biasanya menghilang setelah makan, atau pemberian antasida (Hunger pain food
relieve). Pada tukak gaster biasanya pada sebelah kiri, malah timbul setelah makan.
Hasil radiologi yang ditemukan di sini adalah kawah dengan batas jelas disertai
lipatan mukosa teratur, pada keganasan biasanya ditandai dengan filling defect, sedangkan
pada ulkus jinak, gambaran radioopak radial terlihat bersatu kearah ulkus. Gambaran
endoskopi untuk ulkus jinak berupa luka terbuka dengan pinggiran teratur, mukosa licin dan
normal. Sugesti bahwa seseorang memiliki ulkus adalah: (1) adanya riwayat ulkus dalam
keluarga. (2) Rasa sakit klasik dengan keluhan spesifik. (3) faktor predisposisi seperti
pemakaian OAINS. (4) adanya penyakit kronis, (5) adanya hasil positif kuman Hp.4

2. Dyspepsia ec Pankreatitis
Radang pancreas dapat terjadi karena defisiensi lithostatin, peningkatan tekanan pada
saluran pancreas, konsumsi alcohol yang kronis menimbulkan kerusakan sel asinar.
Gambaran klinis yang ditemukan pada pasien pancreatitis adalah nyeri epigastrium yang
biasanya terjadi pada abdomen tengah atau kiri atas, nyeri dapat dipicu oleh alcohol atau
makan makanan berlemak banyak, diare dan steatore, distensi dan kembung karena bakteri
membentuk gas yang banyak, penurunan berat badan dan ikterus sebagai akibat stenosis
bilier. PP tes amylase lipase, analisis lemak tinja. Amilase meningkat pada pancreatitis akut,
ca pancreas, peptic ulcer. Menurun pada pancreas kronik, gagal jantung, dan kehamilan.
Konfirmasi bila kenaikan serum 3x diatas normal. Lipase meningkat, lebih spesifik.Analisis
lemak tinja penting untuk menyingkirkan penyebab lain dari steatore, mengetahui insufisiensi
eksokrin pancreas. Foto abdomen polos tampak kalsifikasi pancreas. USG ditemukan dilatasi
duktus pankreatikus, pseudokista, kalsifikasi, kelainan lain yang difus. 4

3. Dispepsia ec Gastritis
Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung. Gastritis berdasarkan manifestasi
klinisnya dibagi menjadi gastritis akut dan kronik. (1) Gastritis akut, penyebab terbanyak
adalah infeksi Helicobacter pylori (Hp). Didapati rasa nyeri epigastrium mendadak, disetai
mual dan muntah. Pemeriksaan endoskopi memperlihatkan eritem, eksudatif, flat and raised

5
erosion, pendarahan dan edema. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan infiltrasi
neutrofil dengan edema dan hyperemia. (2) Gastritis kronis, menunjukkan dominasi limfosit
dan sel plasma pada gambaran histopatologisnya. Penyebab terbanyak gastritis kronik ialah
infeksi Helicobacter pylori dan OAINS.
Gastritis kronik akibat Helicobacter pylori merupakan penyebab tersering sekitar 80%
dari gastritis kronis H. pylori asimtomatik, 10-20% berkembang menjadi ulkus peptic dan
0,1-4 % menjadi karsinoma lambung. Pada tingkat sekresi asam lambung normal, kolonisasi
Hp kebanyakan pada antrum. Pemeriksaan yang dianjurkan adalah serologi Hp yaitu IgG dan
IgM, uji nafas urea dan antigen tinja.
Gastropati obat antiinflamasi non steroid (OAINS) dapat terjadi bila riwayat ulkus
peptikum, usia diatas 60 tahun, terapi lebih dari 1 macam OAINS dan terapi OAINS bersama
steroid. Gejala klinik, bisa asimtomatik (30-40%), namun umumnya bermanifestasi sebagai
sindroma dispepsia, terutama rasa nyeri. Gejala klinik yang ditimbulkan pada gastritis ialah
keluhan nyeri ulu hati disertai mual muntah, yang membaik oleh antasida tetapi sebagai
penegak diagnosis kita harus melakukan endoskopi dan histopatologi dan menemukan hasil
seperti yang dijelaskan diatas.4,5
4. Dyspepsia ec Kolesistitis

Kolestisitis adalah radang dinding kantung empedu. Gejala klinis yang dirasakan
adalah nyeri kolik abdomen kanan atas, demam. Pasien umumnya perempuan dengan
kelebihan berat badan. Diagnosis ditegakkan dengan USG yang memperlihatkan besar,
bentuk, penebalan dinding kantung empedu, batu dan saluran empedu ekstra hepatik.4

Diagnosis Kerja

Dispepsia fungsional menurut konsensus Roma III tahun 2006 adalah: (1) adanya
satu atau lebih keluhan rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, nyeri ulu hati, rasa terbakar
di epigastrium. (2) tidak ada bukti kelainan structural (endoskopi). (3) keluhan ini terjadi
selama 3 bulan dalam waktu 6 bulan terakhir sebelum diagnosis ditetapkan.1,5 Waktu
ditujukan untuk meminimalisir kemungkinan adanya penyebab organik. Seperti dalam
algoritma penanganan dispepsia, bila ada alarm symptomps seperti mual dan muntah,
penurunan berat badan, hematemesis melena, anemia, disfagia, dan terapi empiric gagal maka
menunjukkan kemungkinan adanya penyebab organik.1,4

6
Dalam usaha mencoba ke pengobatan, dispepsia fungsional dibagi ke 3 kelompok,
yaitu (1) dispepsia tipe ulkus, yang dominan adalah nyeri epigastrik. (2) dispepsia tipe
dismotilitas, yang dominan adalah keluhan kembung, mual, rasa penuh. (3) dispepsia
nonspesifik, tidak ada keluhan dominan.1

Etiopatofisiologi
Penyebab dispepsia bisa dikarenakan banyak hal: (1) Esofago-gastro-duodenal, seperti
tukak peptic, gastritis kronis, gastritis NSAID, keganasan. (2) Obat, seperti OAINS, teofilin,
antibiotic. (3) hepatobilier, seperti hepatitis, kolesistitis, kolelithiasis, keganasan. (4)
pancreas, yaitu pancreatitis dan keganasan. (5) penyakit sistemik lain, diabetes atau tiroid. (6)
gangguan fungsional.

- Sekresi Asam Lambung

Umumnya mempunyai tingkat sekresi asam lambung, baik sekresi basal maupun dengan
stimulasi pentagastrin, yang rata- rata normal. Diduga adanya peningkatan sensitivitas
mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak diperut.

- Infeksi Helicobacter pylori

Peran infeksi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional belum sepenuhnya


dimengerti dan diterima. Kekerapan infeksi H. pylori pada dispepsia fungsional sekitar 50%
dan tidak berbeda bermakna dengan angka kekerapan infeksi H. pylori pada kelompok orang
sehat. Mulai ada kecenderungan untuk melakukan eradikasi H. pylori pada dispepsia
fungsional dengan H. pylori positif yang gagal dengan pengobatan konservatif baku.
Pemeriksaan helicobacter bisa dilihat dengan pewarnaan gram dari mukosa gaster, urea
breath test, dan igG yang meningkat.

- Dismotilitas

Beragam studi melaporkan bahwa pada dispepsia fungsional, terjadi perlambatan


pengosongan lambung dan hipomotilitas antrum (hingga 50% kasus), gangguan akomodasi
lambung waktu makan, disritmia gaster, dan hipersensitivitas visceral. Tetapi tidak ada
korelasi antara beratnya keluhan dengan derajat perlambatan pengosongan lambung.
Dispepsia fungsional yang mengalami keterlambatan pengosongan lambung biasa
menunjukkan gejala klinis nyeri ulu hati, cepat penuh, kembung. Sedangkan kasus dengan
hipersensivitas terhadap distensi lambung biasanya mengeluh nyeri, sendawa, dan penurunan

7
berat badan. Pada dispepsia fungsional juga dilaporkan bahwa terjadi penurunan kemampuan
relaksasi fundus post prandial.

- Ambang Rangsang Persepsi

Dinding usus mempunyai berbagai reseptor, termasuk reseptor kimiawi, reseptor


mekanik, dan nociceptors. Berdasarkan studi, pasien dispepsia dicurigai mempunyai
hipersensitivitas viseral terhadap distensi balon di gaster atau duodenum, meskipun
mekanisme pastinya masih belum dipahami.

- Disfungsi Autonom

Disfungsi persarafan vagal diduga berperan dalam hipersensitivitas gastrointestinal pada


kasus dispepsia fungsional. Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam kegagalan
relaksasi bagian proksimal lambung sewaktu menerima makanan, sehingga menimbulkan
gangguan akomodasi lambung dan rasa cepat kenyang.

- Aktivitas Mioelektrik Lambung

Adanya disritmia mioelektrik lambung pada pemeriksaan elektrogastrografi terdeteksi pada


beberapa kasus dispepsia fungsional, seperti takigastria, bradigastria, tetapi bersifat
inkonsisten.

- Peranan Hormonal

Peranan hormon masih belum jelas diketahui dalam patogenesis dispepsia fungsional.
Dilaporkan adanya penurunan kadar hormone motilin yang menyebabkan gangguan motilitas
antroduodenal. Dalam beberapa percobaan, progesteron, estradiol, dan prolaktin
memengaruhi kontraktilitas otot polos dan memperlambat waktu transit gastrointestinal.

- Diet dan Faktor Lingkungan


Intoleransi makanan dilaporkan lebih sering terjadi pada kasus dispepsia fungsional
dibanding kasus kontrol.

- Psikologis
Adanya stres akut dapat mempengaruhi fungsi gastrointestinal dan mencetuskan keluhan
pada orang sehat. Dilaporakan adanya kontraktilitas lambung yang mendahului keluhan mual
setelah stimulus stres sentral. Tapi korelasi antara faktor psikologik stres kehidupan, fungsi

8
otonom dan motilitas tetap masih kontroversial. Tidak didapatkan personaliti yang
karakteritik untuk kelompok dispepsia fungsional ini dibandingkan kelompok kontrol. Walau
dilaporkan dalam studi terbatas adanya kecendrungan pada kasus dispepsia fungsional
terdapat masa kecil yang tidak bahagia, adanya sexual abuse atau adanya gangguan psikiatrik.
1,4

Epidemiologi

Dispepsia merupakan keluhan umum yang dalam waktu tertentu dapat dialami oleh
seseorang. Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 15-30% orang
dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari. Dari data pustaka negara barat
didapatkan angka prevalensinya berkisar 7-14%. Tetapi hanya 10-12% saja yang akan
mencari pertolongan medis. Angka insiden dispepsia diperkirakan antara 1-8%. Belum ada
data epidemiologi di Indonesia.1

Gejala Klinis

Karena bervariasinya jenis keluhan dan kuantitas atau kualitasnya pada setiap pasien
maka dispepsia fungsional dibagi menjadi 3 subgrup berdasarkan keluhan yang paling
mencolok atau dominan, hal ini bertujuan untuk mempermudah diperoleh gambaran klinis
pasien yang kita hadapi serta pemilihan alternatif pengobatan awalnya.

- Bila nyeri ulu hati yang dominan dan disertai nyeri pada malam hari, maka
dikategorikan sebagai dispepsia fungsional tipe seperti ulkus (ulcer like dyspepsia).
- Bila kembung, mual, cepat kenyang merupakan keluhan yang paling sering
dikemukakan, maka dikategorikan sebagai dispepsia fungsional tipe seperti
dismotilitas (dismotility like dyspepsia).
- Bila tidak ada keluhan yang bersifat dominan, maka dikategorikan sebagai dispepsia
nonspesifik.1

Penatalaksanaan

Non-Medika Mentosa

Belum ada penelitian yang formal dan bermakna untuk menilai efektifitas dietetic dan
modifikasi pola hidup pada kasus dyspepsia fungsional. Tidak ada dietetik baku yang
mengasilkan penyembuhan keluhan secara bermakna. Prinsip dasar menghindari
makanan pencetus serangan merupakan pegangan yang lebih bermanfaat. Makanan yang

9
merangsang, seperti pedas, asam, tinggi lemak, sebaiknya dipakai sebagai pegangan
umum secara proporsional dan jangan sampai menurunkan/mempengaruhi kulitas hidup
penderita.1

Medika Mentosa

- Antasida : obat yang paling umum di konsumsi oleh penderita dispepsia, tapi dalam
studi meta-analisis, obat ini tidak lebih unggul dibandingkan plasebo.
- Penyekat H2 Reseptor : dari data studi acak ganda tersamar, didapatkan hasil yang
kontroversi. Sebagian gagal memperlihatkan manfaatnya pada dispepsia fungsional,
dan sebagian lagi berhasil. Secara meta-analisis diperkirakan manfaat terapinya 20%
diatas plasebo. Efek nya menghilangkan rasa nyeri di ulu hati dan tidak memperbaiki
keluhan umum yang lainnya.
- Penghambat Pompa Proton : respons terbaik terlihat pada kelompok dispepsia
fungsional tipe seperti ulkus dan tipe seperti refluks di bandingkan tipe seperti
dismotilitas.
- Sitoproteksi : misoprostol, sukralfat, tidak banyak studinya untuk memperoleh
manfaat yang dapat dinilai.
- Obat Golongan Prokinetik : meningkatkan peristaltic melalui jalur ransangan reseptor
serotonin, asetilkolon, dopamine, dan motilin. Dalam golongan ini termasuk
metoklopramid, cisaprid dan domperidon. Penggunaan obat golongan ini dalam
berbagai penelitian, memperlihatkan ketidaksesuaian antara perbaikan tingkat
motilitas dengan perbaikan symptom pasien. Misalnya, terdapat perbaikan tingkat
motilitas tapi tidak disertai dengan adanya perbaikan keluhan yang bermakna atau
sebaliknya.
- Metoklopramid : antagonis reseptor dopamine D2 dan antagonis reseptor serotonin (5-
HT3) yang tampaknya cukup bermanfaat pada dispepsia fungsional, tapi terbatas
studinya dan hambatan efek samping neurologiknya terutama gejala ekstrapiramidal.
- Domperidon : antagonis dopamine D2 yang tidak melewati sawar otak sehingga tidak
menimbulkan efek samping ektrapiramidal. Obat ini lebih unggul dibandingkan
placebo dalam menurunkan keluhan.
- Cisapride : antagonis reseptor 5-HTA dan antagonis 5-HT3. Bereaksi pada
pengosongan lambung dan disritmia lambung. Masalah saat ini adalah setelah
diketahui efek samping pada aritmia jantung, terutama perpanjangan masa Q-T, di

10
beberapa negara obat ini ditarik dari perederan sedangkan di Indonesia tetap tersedia
dalam mekanisme khusus (obat tersedia hanya di apotik rumah sakit).1

Prognosis

Dispepsia fungsional yang ditegakkan setelah pemeriksaan klinis dan penunjang yang
akurat, mempunya prognosis yang baik.1

Kesimpulan

Dispepsia merupakan istilah yang digunakan untuk suatu sindrom atau kumpulan
gejala atau keluhan yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman diulu hati, kembung, mual,
muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut rasa penuh atau begah. Secara garis besar,
penyebab sindrom dispepsia ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok penyakit
organik (seperti tukak peptik, gastritis, batu kandung empedu, dll) dan kelompok dimana
sarana penunjang (seperti radiologi, endoskopi dan laboratorium) tidak dapat memperlihatkan
adanya gangguan patologis struktural atau biokimiawi. Dengan kata lain, kelompok terakhir
ini disebut sebagai gangguan fungsional. Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang tepat sangat diperlukan untuk menunjang dalam menegakkan causa yang
tepat sehingga dapat selaras dengan penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien.
Diagnosis yang cepat serta pengobatan yang tepat dapat memberkan prognosis yang baik.
Untuk pencegahan dapat dihindari hal-hal yang dapat merangsang timbulnya keluhan.

Daftar Pustaka

1. Djojoningrat D. Dispepsia fungsional. Ed 5th. Jilid I. Jakarta: Interna Publishing; 2009: h.


529-33.
2. Ilmu kesehatan anak Nelson. Ed 15th. Jilid II. Jakarta: EGC; 2000 h.1382-95.
3. Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. USA : Lippinott
Williams & Wilkins; 2009: h.339-44.
4. Parkman HP, Friedenberg FK, Fisher RS. Disorders of gastric emptying on: Yamada T,
Alpers DH, Kaloo AN, Kaplowitz N, Owyang C, Powell DW. Textbook of
gastroenterology. 5th Ed. USA: Wiley-Blackwell; 2010: h. 903-81; 1005-25.
5. Ndraha S. Bahan ajar gastroeterohepatologi. Jakarta : Biro Publikas Fakultas Kedokteran
Ukrida; 2013: h. 28-33.

11