Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses penggumpalan darah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
intrinsik (mis. fibrinogen, protrombin, proconvertin dll) dan ekstrinsik darah (mis.
tromboplastin jaringan, . tromboplastin pembuluh, luka, permukaan kasar/halus,
suhu lingkungan, pengenceran, dan bahan antikoagulas dll.) Permukaan kasar,
suhu lungkungan panas, dan pengadukan mempercepat penggumpalan, sedangkan
permukaan halus, suhu lingkungan dingin, dan pengenceran menghambat proses
koagulasi. Sementara itu antikoagulan seperti EDTA, heparin, natrium
sitrat/oxalat akan menghentikan proses koagulasi.
Waktu pendarahan merupakan suatu ukuran dari proses hemostasis dan
proses koagulasi, ini tergantung dari efisiensi tenunan fibrin dalam mempercepat
koagulasi, fungsi pembuluh kapiler, dan pada trombosit. Ukuran luka tidak kalah
pentingnya dalam kaitannya dengan cepat dan lambatnya proses pendarahan.
Laju endap darah atau BSR (Blood Sedimentation Rate) merupakan kecepatan
pengendapan butir darah merah berdasarkan waktu tertentu (biasanya jam). Waktu
LED meningkat (laju makin lama) bilaterjadi penyakit seperti defisiensi besi,
eritrosit rapuh/tua, pengenceran darah dll).
1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Manfaat Penulisan

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Perdarahan (bahasa Inggris: hemorrhage, exsanguination; bahasa Latin:
exsanguinātus, tanpa darah) merupakan istilah kedokteran yang digunakan untuk
menjelaskan ekstravasasi atau keluarnya darah dari tempatnya semula.
Pendarahan dapat terjadi hanya di dalam tubuh, misalnya saat terjadi peradangan
dan darah keluar dari dalam pembuluh darah atau organ tubuh dan membentuk
hematoma; atau terjadi hingga keluar tubuh, seperti mengalirnya darah dari dalam
vagina, mulut, rektum atau saat kulit terluka, dan mimisan.
Pendarahan juga menyebabkan hematoma pada lapisan kulit/memar,
biasanya terjadi setelah tubuh dipukul atau jatuh dari suatu ketinggian.
Pendarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah karena
pembuluh tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh
benturan fisik, sayatan, atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat.
2.2 Klasifikasi Perdarahan
Standar American College of Surgeons' Advanced Trauma Life Support
ATLS membuat klasifikasi pendarahan berdasarkan persentase volume
kehilangan darah, sebagai berikut:
a. Kelas I, dengan kehilangan volume darah hingga maksimal 15% of blood
volume.
b. Kelas II, dengan kehilangan volume darah antara 15-30% dari total
volume.
c. Kelas III, dengan kehilangan darah antara 30-40% dari volume pada
sirkulasi darah.
d. Kelas IV, dengan kehilangan yang lebih besar daripada 40% volume
sirkulasi darah.
2.3 Jenis Perdarahan
Perdarahan dibagi menjadi 2 yaitu perdarahan luar (terbuka) dan
perdarahan dalam (tertutup).

2
a. Perdarahan Luar (Terbuka) adalah jenis perdarahan yang terjadi akibat
kerusakan dinding pembuluh darah disertai dengan kerusakan kulit,
yang memungkinkan darah keluar dari tubuh dan terlihat jelas keluar
dari luka tersebut. Perdarahan luar dibagi lagi menjadi 3 sesuai dengan
pembuluh darah yang mengalami kerusakan, yaitu perdarahan arteri,
vena, dan kapiler.
b. Perdarahan dalam adalah jenis perdarahan yang terjadi di dalam
rongga dada, rongga tengkorak dan rongga perut. Biasanya tidak
tampak darah mengalir keluar, tapi terkadang dapat juga keluar melalui
lubang hidung, telinga dan mulut.Penyebab dari perdarahan dalam di
antaranya :
1) Pukulan keras, terbentur hebat
2) Luka tusuk
3) Luka tembak
4) Pecahnya, pembuluh darah karena suatu penyakit
5) Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah,
seperti pada fraktur costa

Hal-hal yang perlu dikaji terkait dengan perdarahan yaitu:

a. ABCD
b. Sianosis atau tidak
c. Kulit dingin terutama akral
d. Tekanan darah yang turun
e. Nadi cepat tapi lemah
f. Nafas dalam dan cepat
g. Banyaknya darah yang keluar
h. Kesadaran klien

Pada perdarahan eksternal, jika berlebihan akan terlihat jelas


pada pakaian. Jika seseorang menggunakan pakaian yang tebal
perdarahan mungkin tidak terlihat. Pemeriksaan harus cepat-cepat

3
memeriksa tubuh pasien dengan membuka pakaian terlebih dahulu,
yakinkan bagian-bagian yang terbawah sudahdiperiksa. Pakaian yang
berlumuran darah dapat digunting sehingga daerah yang terluka dapat
diperiksa. Kulit kepala mengandung banyak pembuluh darah, lacerasi
kecil pun dapat menyebabkan perdarahan yang hebat.
Sedangkan perdarahan internal sukar diidentifikasi. Perdarahan
di dalam rongga (pneumothorak) bisa menghambat pernafasan dan
akan mengakibatkan nyeri dada. Perdarahan pada rongga perut akan
menyebabkan kekakuan pada otot abdomen dan nyeri abdomen.
Hemoptysis dan hematemisis menunjukkan adanya perdarahan di
paru-paru atau perdarahan saluran pencernaan.
Shock dapat terjadi pada perdarahan internal dan eksternal
yang hebat. Korban dikaji terhadap nadi yang sangat cepat tetapi lemah,
pernafasan lambat dan dangkal, kulit dingin, cemas, gelisah dan haus. Pupil
sama, dapat berdilatasi dan responnya terhadap cahaya sangat lambat.
2.4 Mengidentifikasi sumber perdarahan
Sumber-sumber perdarahan berbeda dan hal ini dapat diobservasi atau
dilihat dari karakteristik keluarnya darah (perdarahan). Adapun perbedaan
perdarahan tersebut dapat dilihat dari ketiga sumber perdarahan yaitu :
1. Perdarahan arteri
Darah yang berasal dari arteri keluar menyembur (proyektil) sesuai
dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang karena masih kaya
oksigen. Bila tekanan sistolik menurun, maka pancarannya akan
berkurang. Tekanan ini menyebabkan perdarahan arteri lebih sulit
dikendalikan. Pemantauan dan pengendalian mungkin harus dilakukan
sepanjang perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
2. Perdarahan vena
Darah yang keluar dari pembuluh vena mengalir/menetes,
berwarna merah gelap. Walau terlihat luas dan banyak namun umumnya
mudah dikendalikan. Tekanan dalam pembukuh vena mungkin lebih
rendah dari tekanan udara luar sehingga pada vena yang besar ada

4
kemungkinan kotoran atau udara tersedot ke dalam pembuluh ini melalui
luka terbuka. Keadaan ini dapat mengancam nyawa. Misal pada cedera
leher.
3. Perdarahan kapiler
Berasal dari pembuluh kepiler, darah yang keluar merembes
perlahan, warna darah tampak warna merah sedang. Darah yang keluar
merembes karena pembuluh yang sangat kecil dan hampir tidak memiliki
tekanan. Perdarahan kapiler sering membeku sendiri.

Kita juga harus mewaspadai derajat berat perdarahan yang dialami


penderita. Secara umum dapat dikatakan bahwa berat ringannya perdarahan
yang terjadi berhubungan dengan ukuran fisik penderita. Contohnya
kehilangan darah sebanyak 1000 cc pada orang dewasa adalah serius, namun
pada anak cukup setengahnya (500 cc) sudah dianggap serius. Pada bayi 150
cc darah yang hilang dapat mengancam nyawa.

Selain itu perdarahan yang dapat digolongkan perdarahan hebat, yaitu :

1. Bila perdarahan memancar dari luka


2. Bila diperkiraan > 250 mL darah yang sudah keluar
3. Bila perdarahan berlanjut > 5 menit

Bila ada luka ringan perdarahan dapat berhenti sendiri, sedangkan pada
luka hebat darah mengalir deras hingga tidak sempat membeku. Reaksi tubuh
yang alami pada perdarahan adalah penyempitan pembuluh darah dan
pembekuan darah. Luka yang besar dapat mencegah terjadinya pembekuan
darah secara alami ini. Bila terjadi kondisi perdarahan hebat tugas penolong
adalah meredakan aliran agar darah dapat membeku secepatnya pada luka.
Dan perlu diperhatikan sebelum menutup luka adalah jangan mencoba
membersihkan luka yang hebat dengan air atau antiseptic.

2.5 Mengidentifikasi kebutuhan penghentian perdarahan

Yang perlu dilakukan pada kondisi perdarahan hebat, adalah :

5
1. Cuci tangan
2. Tinggikan daerah luka, tekan langsung dengan telapak tangan
menggunakan pembalut/verban atau bantalan bersih, jika tidak ada
pembalut gunakan tangan penolong.
3. Jika lukanya besar, tekan dengan kuat dan hati-hati serta terus-menerus
4. Angkat dan tinggikan bagian luka hingga berada lebih tinggi dari jantung
korban. Hal ini bertujuan memperlambat mengalirnya darah ke bagian
luka (elevasi)
5. Bila ada es kompres dengan es
6. Baringkan korban, untuk mengurangi derasnya keluarnya darah
7. Tekanlah luka dengan pembalut bersih dan cukup lebar melebihi tepi luka,
balut dengan verban ikat di atas bantalan pembalut
8. Jika tidak ada pembalut, gunakan sepotong kain bersih, tipis dan tidak
berbulu
9. Jika darah mulai terlihat menembus pembalut, beri lagi di atasnya lalu
balutlah
10. Amati tanda-tanda terjadinya syok

Adapun tanda-tanda syok yang harus diwaspadai pada pasien yang


mengalami perdarahan di antaranya:

1. Nadi cepat dan lemah


Akibat kekurangan pasokan darah maka respon system sirkulasi
yang pertama adalah meningkatnya kecepatan pemompaan oleh jantung,
untuk mempertahankan perfusi jaringan, yang dapat diwujudkan dengan
meningkatknya frekuensi nadi. Pada keadaan syok nadi akan berdenyut
lebih dari 100x/menit. Jumlah darah yang berkurang secra banyak akan
mengakibtkab penurunan rekanan darah, sehingga nadi menjadi lemah dan
halus.
2. Napas cepat dan dangkal
Keadaan hipoperfusi pada alat tubuh menyebabkan alat tubuh ini
mengirimkan berita ke otak bahwa oksigen berkurang. Otak akan

6
memerintahkan paru-paru untuk bekerja makin cepat. Sejalan dengan
makin parahnya syok, napas menjadi makin cepat, upayanya makin sulitm,
dangkal dan kadang tidak teratur. Pemicu lainnya adalah kerja sama antra
paru-paru dan jantung. Meningkatnya kerja jantung pasti akan disertai
meningkatnya kerja paru-paru.
3. Kulit pucat, dingin dan lemah
Tubuh manusia memiliki system pertahanan sendiri. Dalam
keadaan darurat peredaran darah akan diarahkan menuju alat tubuh yang
paling penting seperti jantung, otak dan lainnya. Ini berdampak pada suhu
dan warna kulit, yang akan menjadi dingin dan pucat. Makin berat
keadaanya makin dingin kulitnya. Kulit juga mungkin akan menjadi
lembab.
4. Wajah
Mengingat wajah juga terdiri dari kulit, maka wajah juga akan
menjadi pucat dan juga terlihat tanda kekurangan oksigen yaitu sianosis
yang terlihat pada bibir, lidah dan cuping telinga.
5. Mata
Otak merupakan alat tubh yang paling cepat terpengaruh keadaan
hipoperfusi. Mata yang dikatakan sebagai jendela dari otak, mungkin akan
menunjukkan pandangan hampa dan manic mata melebar.
6. Perubahan keadaan mental
Otak manusia sangan sensitive terhadap penurunan pasokan
oksigen. Bila jumlah oksigen ke otak berkurang walau sedikit sudah dapat
terjadi perubhan mental seperti gelisah, ansietas, ingin berkelahi.
Adakalanya ini merupakan gejala yang pertama kali terlihat.

Akibat dari proses tersebut di atas maka penderita akan merasakan gejala-
gejalal sebagai berikut:

1. Mual, mungkin disertai muntah


2. Haus
3. Lemah

7
4. Pusing (vertigo)
5. Tidak nyaman dan takut, kadang – kadang pada beberapa penderita
pengamatan inilah yang mungkin pertama kali ditemukan
2.6 Teknik atau Cara Prosedur Tindakan Menghentikan Perdarahan
Cara menghentikan pendarahan:
a) Angkat bagian tubuh yang terluka.
b) Tekan bagian yang terluka dengan kain bersih.
c) Jika tidak ada, gunakan tangan Anda.
d) Tetap tekan bagian tubuh yang terluka sampai pendarahan terhenti.
e) Jika pendarahan tidak bisa diatasi dengan menekan bagian tubuh yang
terluka, dan korban telah kehilangan banyak darah, maka dianjurkan
untuk:
1. Tetap menekan dengan kuat bagian tubuh yang terluka
2. Mengangkat bagian tubuh yang terluka setinggi-tingginya
3. Mengikat bagian lengan atau kaki yang dekat dengan luka, sedekat
dekatnya.
4. Ikat di antara bagian yang terluka dengan badan korban.
Kencangkan ikatan sampai pendarahan.
Sebelum melakukan pembalutan ada beberapa hal berkaitan dengan teknik
pembalutan, harus dipahami dahulu jenis perdarahan yang timbul serta
bagaimana perdarahan tersebut dapat dihentikan
1. Tujuan pembalutan
a. Mempertahankan keadaan asepsis
b. Sebagai penekan untuk menghentikan perdarahan
c. Penunjang bidai
d. Menaikkan suhu bagian yang dibalut
2. Prinsip-prinsip pembalutan
a. Harus rapi
b. Harus menutup luka
c. Dipasang tidak terlalu longgar ataupun erat

8
d. Bagian distal yang dibalut hendaknya tetap terbuka untuk mengawasi
adanya perubahan seperti pucat atau sianosis, nyeri, teraba dingin, dan
apakah terasa kebal dan kesemutan
e. Gunakan simpul yang rata sehingga tidak menekan kulit
3. Tipe Pembalut
Di samping tujuan dan prinsip-prinsip membalut harus dipahami
dari tipe pembalut, hal ini agar memudahkan kita menggunakan dan sesuai
dengan kondisi perdarahan korban/pasien. Adapun tipe pembalut adalah
sebagai berikut :
a. Kasa hidropil adalah kasa steril yang sudah dikemas sedemikian rupa
sehingga sipa dipakai.
b. Pembalut trauma adalah pembalut yang digunkan pada luka besar
karena penyerapannya lebih luas (maksimum).
c. Pembalut biasa yaitu pembalut yang terbuat dari kain katun, dan
biasanya balutan berbentuk segitiga.
d. Pembalut elastic yaitu pembalut yang terbuat dari bahan elastic dan
mudah digunakan.
e. Pembalut oklusif adalah pembalut yang terbuat dari bahan plastic,
aluminium foil, kedap udara dan tahan lembab.
f. Kapas petroleum jelly adalah pembalut yang terbuat dari kapas
petroleum jelly dan ini sangat berguna untuk mencegah penempelan
luka.
4. Tehnik Menghentikan Perdarahan
Terdapat beberapa cara menghentikan perdarahan yaitu :
a. Perdarahan Luar
1) Menekan dengan jari tangan
Lakukan penekanan pada pembuluh darah dengan jari bila
pembuluh darah dekat pada permukaan kulit. Tujuan penekanan
adalah untuk menghentikan aliran darah yang menuju ke pembuluh
nadi yang cedera. Adapun daerah-daerah pembuluh darah yang
ditekan sesuai daerah yang terjadi perdarahan di mana tempat yang

9
ditekan ialah hulu (pangkal) pembuluh nadi yang terluka. Adapun
tempat-tempat penekanan tersebut yaitu
a) Arteri Temporalis Superficial
Untuk perdarahan pada kulit kepala dan kepala atas. Tempat penekanan
: pada pelipis 1 cm depan lubang telinga luar
b) Arteri Facialis
Untuk perdarahan daerah muka. Tempat penekanan : pada
rahang bawah 1 cm depan sendi rahang
c) Arteri Carotis Communis
Untuk perdarahan daerah leher, kepala, muka. Tempat
penekanan : pada sisi leher
d) Arteri Sub Clavia
Untuk perdarahan seluruh lengan. Tempat penekanan : pada
bagian bawah pertengahan tulang selangka
e) Arteri Brachialis
Untuk perdarahan seluruh lengan. Tempat penekanan : pada
bagiandalam lengan atas 5 jari dari ketiak
f) Arteri Femoralis
Untuk perdarahan seluruh tungkai bawah. Tempat penekanan
: pada pertengahan lipat paha.
2) Penekanan dengan sapu tangan
a) Sapu tangan yang bersih dilipat bagian dalamnya atau pembalut
wanita yang bersih dan belum dipakai
b) Letakkan bagian yang bersih tersebut langsung di atas luka dan
tekanlah atau lakukan pembalutan
c) Perdarahan dapat berhenti dan pencermaran oleh kuman dapat
dihindarkan
3) Tekanan di tempat perdarahan
a) Adalah cara terbaik untuk perdarahan nadi
b) Tekan tempat perdarahan dengan setumpuk kasa kain bersih

10
c) Penekanan dilakukan hingga perdarahan berhenti atau sampai
pertolongan yang lebih mantap diberikan
d) Kasa boleh dilepas bila sudah basah oleh darah
e) Tutup kasa dengan balutan yang menekan dan bawa penderita
ke pusat pelayanan kesehatan
f) Selama perjalanan, daerah yang mengalami perdarahan
diangkat lebih tinggi dari letak jantung
g) Awasi tanda-tanda syok
h) Awasi tanda-tanda perdarahan yang terus berlangsung
i) Anjurkan korban untuk tenang
4) Tekanan dengan torniket
a) Torniket adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah di
bawahnya terhenti sama sekali
b) Bahan yang dapat digunakan adalah sehelai pita kain yang
lebar, kain segitiga yang dilipat-lipat atau sepotong karet ban
sepeda
c) Panjang torniket harus cukup untuk dua kali lipatan
d) Tempat pemasangan torniket yang baik adalah lima jari di atas
cedera
e) Torniket hanya digunakan apabila penanganan peradarahan
dengan cara lain belum dapat mengatasi perdarahan. Kerugian
penggunaan torniket adalah kematian jaringan bagian distal
torniket, yang dapat mengakibatkan bagian tersebut akan mati
dan harus diamputasi.

Cara memasang torniket

a) Buat ikatan di anggota badan yang cedera


b) Selipkan sebatang kayu di bawah ikatan tersebut
c) Kencangkan kedudukan kayu tersebut dengan memutarnya
d) Agar kayu tetap erat kedudukannya, ikat ujung satunya

11
e) Tanda bahwa torniket sudah kencang adalah menghilangnya
denyut nadi pada bagian distal, warna kulit pucat kekuningan
f) Segera bawa korban ke pusat pelayanan kesehatan
g) Torniket harus jelas terlihat dan tidak boleh ditutupi
h) Setiap 10 menit, torniket harus dikendorkan selama 30 detik
dan daerah luka ditekan dengan kasa/kain bersih
5) Tehnik elevasi
Dilakukan dengan mengangkat bagian yang luka (setelah
dibalut) sehingga lebih tinggi dari jantung. Tehnik ini hanya untuk
perdarahan di daerah alat gerak saja dan dilakukan bersamaan
dengan tekanan langsung. Tehnik ini tidak dapat digunakan untuk
korban dengan kondisi cedera otot rangka dan benda tertancap.
6) Tehnik pengkleman
Dilakukan pada pembuluh darah yang agak besar. Sebelum
diklem, pastikan terlebih dahulu mana pembuluh darah yang
menjadi sumber perdarahan. Dapat dilakukan dengan cara
meletakkan kassa di tempat luka sehingga darah terserap kemudian
diangkat dan diperhatikan dari mana asal perdarahan. Kemudian
daerah tersebut dijepit dan diusahakan posisi klem tegak lurus. Ini
berguna jika dilakukan ligasi maka ikatan tidak longgar setelah
klem dibuka.
7) Tehnik ligasi
Dilakukan bila penjepitan dengan klem masih terjadi
perdarahan terutama perdarahan yang besar. Caranya sama dengan
klem, namun setelah diklem dilakukan ligasi pada pembuluh darah
kemudian klem di buka. Ligasi dapat dilakukan dengan menggunakan
chromic cat gut atau plain cat gut dengan ukuran 3,0. Hal yang
perlu diperhatikan ligasi dengan cat gut, disimpulkan sekurang-
kurangnya 3 kali. Karena semakin lama maka cat gut akan mengembang
dan ikatan menjadi longgar apabila hanya sekali atau dua kali.
8) Immobilisasi

12
Bertujuan meminimalkan gerakan anggota tubuh yang luka.
Dengan sedikitnya gerakan diharapkan aliran darah kebagian yang
luka menurun.
b. Perdarahan dalam
1) R - rest : Diistirahatkan, adalah tindakan pertolongan pertama
yang esensial, penting untuk mencegah kerusakan jaringan
lebih lanjut.
2) I - Ice : Terapi dingan, gunanya mengurangi perdarahan, dan meredakan
rasa nyeri.
3) C - Compresion : Penakanan atau balut tekan gunanya membantu
mengurangi pembengkakan jaringan dan perdarahan lebih
lanjut.
4) E - Elevation : Peninggian daerah cedera gunanya untuk
mencegah statis, mengurangi edema (pembengkakan), dan rasa
nyeri.
2.7 Bentuk Evaluasi dan Tindak Lanjut Tindakan

Komponen yang harus dievaluasi adalah :


1. Perdarahan berhenti
2. Tidak terjadi syok
3. Tidak terjadi komplikasi yang lebih berat
4. Pasien tidak panic

Resusitasi cairan

Pengganti yang terbaik adalah darah dari golongan yang sama. Kalau tidak
ada maka untuk sementara dapat dipakai cairan pengganti untuk mencegah
terjadinya syok dan memanfaatkan golden time yang ada. Beberapa jenis cairan
pengganti yang dapat dipakai yaitu :

1. Plasma
2. plasma nate

13
3. fresh frozen plasma (mengandung semua factor pembekuan,
kecualitrombosit)
4. ringer laktat
5. NaCl
2.8 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Perawat

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat saat memberikan


pertolongan dalam menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut:
a) Jika peristiwa terjadi diluar rumah sakit, maka seorang perawat dalam
memberikan pertolongan pertama sebelum menghentikan perdarahan
pastikan dulu kondisinya aman baik korban, penolong (perawat) maupun
lingkungannya. Selain itu tetap menghubungi ambulance supaya cepat
mendapatkan penanganan di rumah sakit
b) Memastikan dahulu kondisi Airway, Breathing dan Circulation korban
tidak terganggu
c) Perawat harus teliti dan akurat dalam melakukan pengkajian luka dan
sumber perdarahan, apakah perdarahan external ataupun internal
d) Jika perdarahan external perawat harus bisa memahami/ mengetahui tipe
perdarahannya, apakah perdarahan arteri, vena atau kapiler
e) Perawat bisa menggunting atau melepas pakaian korban yang tebal karena
kemungkinan perdarahan external tidak terlihat (tertutup pakaian tebal)
f) Melakukan teknik penghentian perdarahan sesuai dengan jenis perdarahan
dan tipe perdarahannya
g) Jika terpaksa dengan pilihan terakhir menggunakan tourniquet maka
pemasangannya dilakukan oleh perawat yang sudah mendapatkan
pelatihan dan tiap 15 menit, ikatannya harus dikendurkan selama 30 detik
untuk memberi kesempatan darah mengalir lagi. Tujuannya, mencegah
matinya jaringan akibat tidak mendapat suplai darah.
h) Jika ada kotoran pada luka harus dibersihkan dan perawat harus selalu
proteksi diri dengan APD yang ada

14
i) Jika membawa alat-alat lengkap, maka perawat bisa mencoba untuk
menjahit lukanya

15
DAFTAR PUSTAKA

Hamidi. 2011. Pertolongan Pertama. UPI. URL:


file.upi.edu/Direktori/pertolongan_pertama.pdf

Petra & Aryeh. 2012. Basic of Blood Management. New York: Wiley publisher
Solekhudin. 2011. Seri P3K: Perdarahan Berat. Jakarta: Intisari Smart &
Inspirasing
Thohir. 2010. Standard Prosedur Operasional (SPO) Menghentikan Perdarahan.
Sidoarjo, Jawa Timur: Rumah Sakit Siti Khodijah

16