Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keperawatan jiwa adalah pelayanan kesehatan profesional yang
didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada individu
sepanjang siklus kehidupan dengan respon psiko-sosial yang maladaptif yang
disebabkan oleh gangguan bio-psiko sosial, dengan menggunakan diri sendiri
dan terapi keperawatan jiwa untuk meningkatkan, mencegah,
mempertahankan serta memulihkan masalah kesehatan jiwa individu,
keluarga, dan masyarakat (Riyadi & Teguh, 2009).
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan.
Kesehatan jiwa bukan sekedar dari terbebas dari gangguan jiwa, namun
merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh semua orang. Kesehatan adalah
perasaan sahat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat
menerima orang lain sebagaimana perannya serta mempunyai sifat positif
terhadap diri sendiri dan orang lain (Depkes, 2009).
Dari 50 juta populasi orang dewasa masyarakat Indonesia, berdasarkan
data Departemen Kesehatan Republik Indonesia ada 1,74 juta orang
mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4% dari jumlah tersebut
terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan untuk
penyakit kejiwaan ini, krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong
jumlah penderita gangguan jiwa di dunia dan Indonesia khususnya kian
meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari jumlah penduduk
Indonesia mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).
Pada awalnya konsep diri merupakan suatu bagian yang bersifat umum
atau yang lebih dikenal dengan istilah unidimensional. Konsep diri umumnya
merupakan pemahaman konsep diri tanpa melihat deskripsi spesifik dari apa
yang dilihat secara khusus. Hal ini mengandung arti bahwa konsep diri
umum merupakan pemahaman seorang individu terhadap diri mereka secara
umum tanpa melihat bagian-bagian yang lebih spesifik dari diri mereka
(Puspasari, 2007).

1
Perkembangan konsep diri selanjutnya lebih mengarah pada konsep
diri yang bersifat spesifik atau yang lebih dikenal dengan istilah
multidimensional. Konsep diri spesifik merupakan pola penilaian konsep diri
individu yang melihat ke dalam perspektif yang lebih luas terhadap diri
individu, sehingga bisa mendapatkan gambaran diri individu dari berbagai
sudut pandang yang beragam dan dinamis. Jika hanya ada satu penjelasan
mengenai konsep diri unidimensional, maka pada konsep diri
multidimensional dapat melihat diri seseorang dari berbagai konteks,
seperti konsep diri spiritual, konsep diri sosial, konsep diri terhadap
lingkungan dan lain sebagainya (Metivier, 2009).
Dari uraian diatas, penyusun sangat tertarik untuk membahas tentang
konsep diri serta bagian dari konsep diri yakni ideal diri dan asuhan
keperawatan komprehensif yang efektif diterapkan pada klien dengan
gangguan ideal diri.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana konsep teori tentang konsep diri, ideal diri serta asuhan
keperawatan yang komprehensif terhadap klien yang mengalami gangguan
ideal diri ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui serta memahami konsep teori dari konsep diri dan
ideal diri serta asuhan keperawatan komprehensif yang dapat diterapkan
pada klien dengan gangguan ideal diri.
1.3.2 Tujuan Khusus
 Untuk mengetahui serta memahami konsep teori dari konsep diri
 Untuk mengetahui serta memahami konsep teori dari ideal diri
 Untuk mengetahui serta memahami asuhan keparawatan
komprehensif yang efektif pada klien gangguan ideal diri.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Diri
2.1.1. Definisi
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan, dan
pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi
individu dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini termasuk
persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang
lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan
objek, tujuan serta keinginannya (Yusuf et al., 2015)
Konsep diri adalah merefleksikan pengalaman interaksi sosial,
sensasinya juga didasarkan bagaimana orang lain memandangnya.
Konsep diri sebagai cara memandang individu terhadap diri secara utuh
baik fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual. William D. Brooks
(dalam Keliat, B.A, 1994) menyebut konsep diri sebagai “persepsi-
persepsi fisik, sosial, dan psikologis atas diri kita sendiri yang
bersumber dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.
Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan,
pandangan atau penilaian secara terhadap dirinya.
Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep
diri yang mengandung unsur citra tubuh, peran, identitas pribadi, dan
ideal diri merupakan manifestasi dari bentuk identitas yang dipandang
secara komprehensif untuk mendukung kepribadian.

2.1.2. Dimensi Konsep Diri


Berdasarkan pandangan-pandangan diatas, maka dapat dikatakan
bahwa dalam proses terbentuknya konsep diri seseorang, evaluasi dan
penilaian orang lain sangat mempengaruhi terbentuknya pandangan
atau penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Disamping itu, dalam
diri individu terdapat konsep diri yang ideal atau gambaran diri yang
sesungguhnya didambakan individu. Artinya konsep diri yang ideal ini

3
sangat berpengaruh dalam diri individu karena bila reaksi lingkungan
memiliki intensitas yang tinggi, maka akan semakin kuat pula konsep
diri tersebut. Sebaliknya bila reaksi lingkungan menjadi lemah, maka
akan semakin berkurang atau lemah konsep diri tersebut. Dengan
demikian, dapat dijelaskan lebih terinci bahwa dalam konsep diri akan
tergabung dalam beberapa dimensi tentang diri yang satu sama lain ada
keterkaitan yang mendalam. Menurut allen (Stuart dan Sunden, 1998),
dimensi konsep diri terbagi menjadi empat bagian yang terdiri atas:
1. Konsep diri aktual, konsep diri ini dapat dinyatakan sebagai
persepsi yang realistis terhadap diri kita sendiri. Ada juga yang
menyatakan bahwa konsep diri aktual itu adalah persepsi atas siapa
diri kita sendiri dan persepsi yang saya gambarkan pada orang lain,
seperti status sosial, usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.
2. Konsep diri ideal, konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang
atas dirinya harus seperti apa tampaknya. Ketika kita memutuskan
untuk meneruskan pendidikan di universitas terbuka ini, merupakan
keputusan yang berupaya untuk menunjukan konsep diri yang
ideal. Dengan konsep diri ideal itulah kita berusaha dan berjuang
untuk terus memperbaiki kemampuan dan kehidupan kita. Usaha
memperbaiki dan meningkatkan itu bisa dilakukan dalam bidang
pekerjaan, keterampilan atau pendidikan. Tindakan-tindakan yang
kita lakukan itu bisa dipandang sebagai upaya untuk mendekatkan
pada kondisi yang mendekati konsep diri yang ideal tadi.
3. Konsep diri pribadi (private) merupakan gambaran bagaiman kita
menjadi diri kita sendiri. Kita berusaha untuk menunjukan bahwa
kita bertindak sebagai orang yang ramah, bersahabat, kreatif atau
menyukai tantangan.
4. Konsep diri sosial, konsep diri sosial pada dasarnya berkaitan
dengan relasi kita pada sesama. Kita ingin agar orang lain
memandang kita sebagai orang yang cerdas, menarik, baik hati,
peduli pada nasib orang atau memiliki kemampuan menjalankan

4
tugas-tugas pelik. Keinginan kita untuk menjadi seperti itu
merupakan wujud konsep diri sosial. Dalam konsep diri sosial ini
tercermin bagaimana kita ingin dipandang oleh orang lain sebagai
bagian dari satu kelompok masyarakat.

2.1.3. Perkembangan Konsep Diri


Konsep diri adalah semua ide, pikiran, perasaan, dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu
dalam hubungan dengan orang lain (Stuart dan Sunden, 1995).
Termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungannya, nilai-nilai yan berkaitan dengan
pengalaman dan objek tujuan serta keinginannya. Konsep diri
merupakan satu proses ini merupakan bagian dari diri kita dalam
proses. Ini merupakan bagian diri kita dalam proses menjadi
(becoming). Prosenya dimulai dengan perkembangan (Stuart dan
Sunden, 1995) :
 Usia 0-1 tahun
 Trust
 Berhubungan dengan lingkungan
 Usia 1-3 tahun
 Belajar dan mengontrol bahasa
 Mulai beraktivitas mandiri dan otonomi
 Menyukai diri sendiri
 Menyukai tubuh sendiri
 Usia 3-6 tahun
 Berinisiatif
 Mengenal gender
 Meningkatkan kesadaran diri
 Meningkatkan kemampuan bahasa
 Usia 6-12 tahun
 Berhubungan dengan kelompok sebaya

5
 Tumbuh harga diri dengan kemampuan baru yang dimiliki
 Menyadari kekurangan dan kelebihan
 Usia 12-20 tahun
 Menerima perunbahan tubuh
 Eksplorasi tujuan dan masa depan
 Merasa positif pada diri sendiri
 Memahami hal-hal terkait seksualitas
 Usia 20-40 tahun
 Hubungan yang intim dengan pasangan, keluarga, dan orang-
orang terpenting
 Stabil
 Positif pada diri sendiri
 Usia 40-60 tahun
 Dapat menerima kemunduran
 Mencapai tujuan hidup
 Menunjukan proses penuan
 Usia 60 tahun keatas
 Perasaan positif, menemukan makna hidup
 Melihat kepada kelanjutan keturunannya.

2.1.4. Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Konsep Diri


Berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep
diri (Stuart dan Sunden, 1995). Adalah sebagai berikut:
1. The significant other, yaitu orang lain yang kita anggap penting
atau biasa, dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan
pengalamn dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin
orang lain dengan cara pandangan diri merupakan interpretasi diri
pandangan orang lain terhadap diri sendiri. Pengaruh orang dekat
atau orang penting sepanjang siklus hidup atau pengaruh sosial
budaya akan mempengaruhi konsep diri sepanjang hidup kiat, selau

6
saja ada orang yang kita anggap penting dan berpengaruh pada diri
kita sehingga akan membentuk konsep diri sesorang.
2. Reference group, yaitu kelompok yang dipakai sebagai acuan.
Kelompok tersebut memberi arahan dan pedoman agar kita
mengikuti perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku dalam
kelompok tersebut. Ini terkait dengan salah satu sifat manusia yang
selalu hidup dalam kelompok. Tidak ada manusia yang hidup
menyendiri, kecuali karena terpaksa. Semua manusia
membutuhkan orang lain. Kelompok-kelompok tersebut kita ikuti
secara sukarela. Kelompok acuan itu mempengaruhi pembentukan
konsep diri kita.
3. Teori perkembangan, konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian
berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan
membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan
kegiatannya, memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan
dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui
bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan,
pengalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada
area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta
aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.
4. Self perseption (persepsi diri sendiri), yaitu persepsi individu
terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat
dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif
sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari
prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat
berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang
dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan
intelektual, dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri
yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang
terganggu.

7
Kepribadian yang sehat
Bagaimana individu berhubungan dengan orang lain
merupakan inti dari kepribadian. Kepribadian yang tidak cukup
diuraikan melalui teori perkembangan dan dinamika diri sendiri.
Berikut ini adalah pengalaman yang akan dialami oleh indiviu yang
mempunyai kepribadian yang sehat (Stuart dan Sudden, 1995).
 Gambaran diri yang positif dan akurat
Kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi mandiri dan
perhatian yang sesuai dengan kesehatan diri. Termmasuk
persepsi saat ini dan yang lalu, akan diri sendiri, perasaan
tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi
 Ideal diri realistis
Individu yang mempunyai ideal diri yang realitas akan
mempunyai tujuan hidup yang dapat dicapai
 Konsep diri positif
Konsep diri positif menunjukan bahwa individu akan
sukses dalam hidupnya.
 Harga diri tinggi
Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi akan
memandang dirinya sebagai seorang yang berarti dan
bermanfaat. Ia memandang dirinya sangat sama dengan apa
yang ia inginkan.
 Kepuasan penampilan peran
Individu yang mempunyai kepribadian sehat akan dapat
berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat
kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain
dan membina hubungan interdependen
 Identitas jelas
Individu merasakan keunikan dirinya, yang memberi arah
kehidupan dan mencapai keadaan.

8
2.1.5. Rentang Respon Konsep Diri
Konsep diri dipelajari mulai kontak sosial dan pengalaman
berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya
dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang
lain tentang dirinya. Respon individu terhadap konsep dirinya
berfluktasi sepanjang rentang respon konsep diri yaitu dari adaptif
sampai maladaftif.
Proses Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa
pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan,
pengalaman, dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang
tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk
menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang
tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif
ataupun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai
konsep diri yang negatif.

2.1.6. Penyebab Gangguan Konsep Diri


Berbagai hal yang dapat menyebabkan gangguan konsep diri
(Stuart dan Sundden, 1995) antara lain:
 Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua menjadi faktor signifikandalam mempengaruhi
konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca
oleh anak akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif
serta sikap menghargai diri sendiri.
 Kegagalan
Kegagalan yang terus-menerus dialami seringkali menimbulkan
pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir denagn kesimpulan
bahwa semua penyebabnya terletakpada kelemahan diri. Kegagalan
membuat orang merasa dirinya tidak berguna

9
 Depresi
Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran
yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala
sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segal situasi atau
stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif
 Kritik internal
Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk
menyadarkan sesorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik
terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-
rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita
diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi denagn baik.
 Merubah konsep diri
Sering diri kita sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah
rumit dengan berpikir yang tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau
terhadap suatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Namun,
dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat mengalami
perubahan kearah yang lebih positif.

2.1.7. Pembagian Konsep Diri


Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian konsep
diri tersebut dikemukakan oleh Stuart dan Sundden (1995), yang terdiri
dari:
1. Citra Tubuh
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya
secar sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan
perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan, dan potensi
tubuh saat ini dan masa lalu yang ssecara berkesinambungan
dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu.
2. Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus
berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian

10
personal tertentu.ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan nilai-
nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan
harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan
kepada siapa ingin dilakukan. Ideal diri mulai berkembang pada
masa kanak-kanak yang dipengaruhi orang yang penting pada
dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa
remaja, ideal diri akan dibentuk melalui proses identifikasi pada
orang tua, guru dan teman (Keliat, 1994).
3. Peran
Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara
sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai
kelompok sosial. Tiap individu mempunyai berbagai fungsi peran
yang terintregasi dalam pola fungi individu. Peran adalah sikap dan
perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang
berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah
peran dimana seseorang yang tidak punya pilihan, sedangkan peran
yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih individu.
Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri
yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan
dan cocok dengan ideal diri.posisi dimasyarakat dapat merupakan
stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan
kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan
(Keliat, 1994).
4. Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber
dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua
aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh.
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan
memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian
timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan, dan
penyesuaian diri. Seeorang yang mandiri dapat mengatur dan

11
menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa
kanak-kana bersamaan dengan perkembangan konsep diri.
Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin.
Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap
dimulai dengan konsep dengan laki dan wanita banyak dipengaruhi
oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing
jenis kelamin tersebut. Perasaan dan perilaku yang kuat akan
identitas diri individu dapat ditandai dengan:
 Memandang dirinya secara unik.
 Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain.
 Merasakan otonomi: menghargai diri, percaya diri, mampu
diri, menerima diri, dan dapat mengontrol diri.
 Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, dan konsep diri.
5. Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang
dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi
ideal. Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri
yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal,
maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri
sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah dicintai dan menerima
penghargaan dari orang lain. Biasanya harga diri sangat rentan
terganggu saat remaja dan usia lanjut. Dari riset ditemukan bahwa
masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga
diri tinggi terkait dengan anxiety yang rendah, efektik dalam
kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri
rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan
resiko terjadi depresi dan skizofrenia. Gambaran harga diri dapat
digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri
termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah
dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self

12
evaluasi yang telah berlangsung lama) dan dapat diekspresikan
secara langsung maupun tidak langsung.

2.2 Ideal Diri


2.2.1. Definisi
Ideal diri adalah persepsi individu tentang seharusnya berperilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu
yang diyakininya (Muhits, 2015; Yusuf et al., 2015). Penetapan ideal
diri dipengaruhi oleh kebudayaan, keluarga, ambisi, keinginan, dan
kemampuan individu dalam menyesuaikan diri denagn norma serta
prestasi masyarakat setempat. Individu cenderung menyusun tujuan
yang sesuai dengan kemampuannya, kultur, realita, menghindari
kegagalan, dan rasa cemas serta inferiority. Ideal diri harus cukup tinggi
supaya mendukung respek terhadap diri tetapi tidak terlalu tinggi,
menuntut, serta samar-samar atau kabur. Ideal diri akan melahirkan
harapan individu terhadap dirinya saat berada dimasyarakat dengan
norma tertentu (Yusuf et al., 2015).

2.2.2. Fungsi
Ideal diri berperan sebagai pengatur internal dan membantu
individu mempertahankan kemampuannya menghadapi konflik atau
kondisi yang membuat bingung. Ideal diri penting untuk
mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental (Yusuf et al,
2015).

2.2.3. Faktor yang Mempengaruhi Ideal Diri


 Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas
kemampuannya.
 Faktor budaya akan akan mempengaruhi individu menetapkan ideal
diri

13
 Ambisi dan keinginan intuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang
realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasaan
cemas, dan rendah diri
 Kebutuhan yang realistis
 Keinginan untuk menghindari kegagalan
 Perasaan cemas dan rendah diri (Riyadi & Purwanto, 2009; Muhits,
2015).

2.2.4. Gangguan Ideal Diri


Gangguan ideal diri adalah ideal diri terlalu tinggi, sukar dicapai
dan realistis, ideal diri yang samar dan tidak jelas dan cenderung
menuntut. Pada klien yang dirawat di rumah sakit karena sakit, maka
ideal dirinya dapat terganggu atau ideal diri klien terhadap hasil
pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai (Keliat, 1994 dalam
Muhith, 2015).

2.2.5. Tanda dan Gejala Gangguan Ideal Diri


 Mengungkapkan keputusan akibat penyakitnya, misalnya saya tidak
dapat ikut ujian karena sakit, saya tidak bisa lagi jadi peragawati
karena bekas operasi dimuka saya, kaki saya yang dioperasi
membuat saya tidak dapat bermain bola.
 Mengungkapkan keinginan yang sangat tinggi, misalnya saya pasti
sembuh padahal progresnya buruk sekali, setelah sehat saya
sekolahlagi padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi
untuk sekolah (Muhith, 2015).

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN IDEAL DIRI
3.1. Pengkajian
a. Ideal diri, tanyakan tentang:
- Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas/peran
- Harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah, tempat kerja
maupun lingkungan masyarakat)
b. Kaji Faktor presipitasi gangguan ideal diri
Trauma emosi: penganiayaan fisik, seksual, psikologi pada masa
anak-anak, merasa terhidupnya terancam, menyaksikan kejadian berupa
kejahatan.
- Ketegangan peran
- Perkembangan transisi
- Situasi transisi peran
- Transisi peran sehat-sakit
- Faktor psikologis, faktor sosiologis, faktor fisiologis
- Persepsi klien terhadap ancaman
c. Kaji Perubahan Perilaku
Observasi perilaku/ penampilan klien : kebersihan, cara menghias
diri, berpakaian dan yang lainnya kemudian diskusikan dengan klien untuk
mendapatkan pandangan diri klien.
- Apakah ideal diri anda?
- Apakah penampilan sesuai dengan ideal diri anda?
- Apakah pencapaian ideal diri memberi kepuasan?
- Apakah klien menghargai kemampuannya?
- Apakah klien menganggap kelemahan sebagai kekurangan?
- Jawaban dapat dibandingkan dengan hasil observasi.

15
3.2. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan gangguan kognitif,
perseptual, psikososial dan spritual
2) Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan perubahan status mental,
ketidakmampuan menjalani hubungan yang mamuaskan
3) Resiko gangguan identitas pribadi berdasarkan faktor resiko harga diri
rendah situasional, krisis situasional (Nurarif & Hardhi, 2015).

3.3. Intervensi
No DIAGNOSA NOC NIC
1 Gangguan Citra Tubuh  Body image Body Image Enhancement
berhubungan dengan  Self esteem - Kaji secara verbal dan
gangguan kognitif, non-verbal respo klien
Kriteria Hasil:
perseptual, psikososial terhadap tubuhnya
- Body image positif
dan spritual - Monitor frekuensi
- Mampu mengidentifikasi
mengkritik dirinya
kekuatan personal
- Dorong klien
- Mendiskrepsikan secara
mengungkapkan
faktual perubahan fungsi
perasaannya
tubuh
- Fasilitasi montak dengan
- Mempertahankan
individu lain dalam
interaksi sosial
kelompok kecil

2 Isolasi sosial : menarik  Social Interaction Skill Socialization enhacement


diri berhubungan dengan  Stress Level - Fasilitasi dukungan klien
perubahan status mental,  Social support oleh keluarga, teman dan
ketidakmampuan  Post trauma syndrome komunitas
menjalani hubungan Kriteria Hasil: - Dukung hubungan dengan
yang mamuaskan - Mengungkapkan orang lain yang memiliki
penurunan perasaan atau minatdan tujuan yang
pengalaman pengasingan sama

16
- Dapat berinteraksi sosial - Dorong melakukan
denagn orang, kelompok aktivitas sosial dan
atau organisasi komunitas
- Meningkatkan hubungan - Berikan feed back tentang
yang efektif dalam peningkatan dalam
perilaku pribadi perawatan dan penampilan
- Mengkondisikan diri maupun aktivitas lain
lingkunagn yang - Membantu klien
mendukung bercirikan mengembangkan/meningk
hubungan dan tujuan atkan keterampilan sosial
anggota keluarga interpersonal
- Penyesuaian yang tepat - Kurangi stigma isolasi
terhadap tekanan emosi dengan menghormati
sebagai respon pada martabat klien
keadaan tertentu
3 Resiko gangguan  Distorted throught self Behavior Management:
identitas pribadi control self-harm
berdasarkan faktor resiko  Identity - Dorong klien
harga diri rendah  Self-mutilation mengungkapkan secara
situasional, krisis Restraint verbal konsekuensi dari
situasional perubahan fisik dan emosi
Kriteria Hasil:
yang mempengaruhi
- Mengungkapkan secara
konsep diri
verbal tentang identitas
Family Involvement
personal
promotion
- Mengungkapkan secara
- Bina hubungan denagn
verbal penguatan tentang
klien sejak masuk rumah
identitas personal
sakit
- Memperlihatkan
- Fasilitasi pengambilan
kesesuaian perilaku
keputusan
verbal dan nonverbal
- Menjadi mediator antara

17
klien dan keluarga
Self-awareness
Enhacement
- Pantau pernyataan pasien
tentang harga dirinya
- Nilai apakah pasien
percaya diri terhadap
penilaiannya
- Pantau frekuensi
ungkapan verbal yang
negativ terhadap diri
sendiri
- Dorong pasien untuk
mengidentifikasi kekuatan
- Hindari memberi kritik
negatif

18
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Keperawatan jiwa adalah pelayanan kesehatan profesional yang
didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada individu yang
bertujuan untuk meningkatkan, mencegah, mempertahankan serta
memulihkan masalah kesehatan jiwa individu, keluarga, dan masyarakat.
Salah satu indikator dari diri manusia adalah konsep diri. Konsep diri adalah
semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu
tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain di lingkungan masyarakatnya. Komponen dari konsep diri ada
beberapa yakni gambaran diri, identitas diri, ideal diri, peran serta harga diri.
Satu diantara komponen tersebut adalah ideal diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang seharusnya berperilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu yang
diyakininya. Fungsi ideal diri adalah sebagai pengatur internal untuk
mempertahankan kemampuannya menghadapi konflik. Dengan fungsi ideal
diri tidak terlaksanan dengan baik maka akan meyebakan gangguan ideal diri
yang disebabkan ideal diri terlalu tinggi, sukar dicapai dan realistis, ideal diri
yang samar dan tidak jelas dan cenderung menuntut. Dengan ganggguan ini
terjadi akan berdampak pada fungsi dari konsep diri seseorang.
Untuk mengatasi gangguan tersebut, peran perawat sangat vital dalam
asuhan keperawatan. Dengan asuhan keperawatan yang komprehensif
diharapkan klien mengenal konsep diri dan idel diri yang realistis guna
memperbaiki maupun meningkatkan status kesehatan jiwa klien.

4.2. Saran
Peningkatan dan pemgembalian fungsi peran diri klien merupakan
tujuan utama dalam melakukan praktik keperawatan, maka diharapkan
perawat mampu mengidentifikasi serta memberikan asuhan keperawatn yang
komprehensif.

19
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Keperawatan Jiwa Teori dan


Tindakan Keperawatan. Jakarta: Depkes.

Metivier. 2009. An exploration of adolescent self-concept at a rural co-ed


secondary school in eastern Trinidad. USA: Campus of St. Augustine.

Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa: Teori dan Aplikasi.


Yogyakarta: Andi Offset.

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta:
MediAction Publishing.

Nurdwiyanti. 2008. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah. Jawa Tengah.
Diperoleh dari http://www.ProfilKesehatanJawaTengah.go.id/ pada tanggal
20 Oktober 2016.

Puspasari. 2007. Mengukur Konsep Diri Anak. Jakarta: Media Komputindo.

Riyadi, S. & Teguh Purwanto. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Yusuf et al. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.

20