Anda di halaman 1dari 22

KEPERAWATAN JIWA

TEORI DAN MODEL KEPERAWATAN JIWA

Ns.Faisal Kholid Fahdi, M.Kep

DISUSUN OLEH

1. Muthia Nanda Sari I1032141001 9. Lily Seftiani I1032141021


2. Siska Putri Utami I1032141007 10. Syahroni I1032141023
3. Avelintina B.C I1032141008 11. Deviliani I1032141026
4. Aulia Safitri I1032141010 12. Iqbal Hambali I1032141032
5. Yossy Claudia Evan I1032141011 13. Rima Putri A I1032141043
6. Jansen Pangkawira I1032141013
7. Makhyarotil Ashfiya I1032141015
8. Nur Indah Wahyuni I1032141016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

2016

1
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara sedang berkembang yang masih menghadapi
masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dialami tidak saja masalah kesehatan
terkait fisik tetapi juga masalah kesehatan jiwa masyarakat. Sesuai dengan definisi
sehat sebagaimana yang tertuang dalam UU Kesehatan No.23 tahun 1992 yang
menyebutkan kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Definisi kesehatan tersebut diatas mengatakan bahwa manusia selalu dilihat
sebagai satu kesatuan yang utuh dari unsur badan, jiwa dan sosial yang tidak
dititikberatkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan
dan produktifitas sosial ekonomi. Kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis
(serasi), memperhatikan semua segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan
manusia lain. Oleh karena itu, kesehatan jiwa mempunyai kedudukan yang penting di
dalam pemahaman kesehatan, sehingga tidak mungkin kita berbicara tentang
kesehatan tanpa melibatkan kesehatan jiwa.
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial
yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang
efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional. Kesehatan jiwa memiliki
banyak komponen dan dipengaruhi oleh berbagai faktor serta ada suatu interaksi
konstan diantara faktor tersebut. Dengan demikian, kesehatan jiwa seorang
merupakan suatu keadaan yang dinamik atau selalu berubah (Videbeck, Sheila L.
2008). Menurut Hawari (2001), kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat
masalah kesehatan utama di negara-negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa
tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung,
namun gangguan tersebut dapat menimbulkan ketidakmampuan individu dalam
berkarya serta ketidaktepatan individu dalam berperilaku yang dapat mengganggu
kelompok dan masyarakat serta dapat menghambat pembangunan karena mereka
tidak produktif.
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk
meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkonstribusi pada fungsi yang
terintegrasi. Pasien atau sistem klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok,

2
organisasi atau komunitas. ANA (American Nurses Association) mendifinisikan
keperawatan kesehatan jiwa sebagai suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan
yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan menggunakan diri yang
bermanfaat sebagai kiatnya (Stuart, 2002 ).
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan
tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat
langsung, seperti pada masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan bermacam
gejala dan disebabkan berbagai hal. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian
saat ini, tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda. Banyak klien dengan masalah
kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan masalahnya bahkan mungkin menceritakan
hal yang berbeda dan kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dalam
menyelesaikan masalah juga bervariasi (Keliat, 2002).
2. Rumusan Masalah
2.1. Apa definisi kesehatan jiwa?
2.2. Apa saja kriteria sehat jiwa?
2.3. Bagaimana pengertian dari keperawatan jiwa?
2.4. Apa saja rentang sehat jiwa?
2.5. Bagaimana keperawatan kesehatan jiwa dan peran perawat kesehatan jiwa?
2.6. Bagaimana prinsip keperawatan jiwa?
2.7. Bagaimana model keperawatan jiwa?
2.8. Bagaimana falsafah keperawatan jiwa?
2.9. Bagaimana peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa?
3. Tujuan Umum
Mengetahui konsep teori dan model keperawatan kesehatan jiwa.
4. Tujuan Khusus
4.1. Mengetahui definisi kesehatan jiwa.
4.2. Mengetahui kriteria sehat jiwa.
4.3. Mengetahui pengertian dari keperawatan jiwa.
4.4. Mengetahui rentang sehat jiwa.
4.5. Mengetahui keperawatan kesehatan jiwa dan peran perawat kesehatan jiwa.
4.6. Mengetahui prinsip keperawatan jiwa.
4.7. Mengetahui model keperawatan jiwa.
4.8. Mengetahui falsafah keperawatan jiwa.
4.9. Mengetahui peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Definisi Kesehatan Jiwa


Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No 23
tahun 1992 tentang kesehatan). Sedangkan menurut WHO (2005) kesehatan adalah
suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang lengkap dan bukan hanya bebas
dari penyakit atau kecacatan. (Adawiyah, 2012)
Kesehatan jiwa menurut UU No 23 tahun 1996 tentang kesehatan jiwa sebagai
suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional
yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan secara selaras dengan
keadaan orang lain. Selain dengan itu pakar lain mengemukakan bahwa kesehatan
jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang
memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dan kualitas
hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia. Dengan kata
lain, kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi merupakan
sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang, mempunyai perasaan sehat dan bahagia
serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana
adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. (Malau,
2014)
2. Kriteria Sehat Jiwa
Menurut Maria Johada (Depkes,2000) individu yang sehat jiwa ditandai dengan hal-
hal sebagai berikut:
2.1. Sikap Positif terhadap Diri Sendiri
Sikap ini merupakan sikap yang baik terhadap diri sendiri, yaitu tidak
merasakan harga diri yang rendah, tidak memiliki pemikirian negative tentang
kondisi kesehatan diri, dan selalu optimis dengan kemampuan diri. Hal ini
menjadi penting bagi orang yang selalu memikirkan kekurangan yang ada pada
dirinya. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dari makhluk
lainnya.
Berprasangka positif terhadap diri sendiri juga merupakan wujud dari
sikap kita dalam menghargai diri sendiri,dan tentunya sikap ini akan selalu
menjadi kekuatan buat diri kita untuk menjalakan apa yang kita rencanakan. Hal

4
ini karena kita sudah mempunyai keyakinan dan kemampuan diri kita dalam
bertindak, maka apa yang dilakukan akan lebih baik lagi dengan mempunyai sikap
menghargai diri sendiri. Sikap menghargai diri sendiri membuat Anda yakin atas
segala kemampuan yang dimiliki. Sikap tersebut akan tercermin pada tindakan
yang Anda lakukan, dan sudah saatnya menjadikan diri Anda sendiri sebagai
penyemangat atau motivator bagi orang lain dalan setiap kesempatan jika
diperlukan.
2.2. Tumbuh Kembang dan Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan
terbaik dari yang dia bisa. Aktualisasi diri bukanlah sebutan baru dalam dunia
psikologi, semua orang yang mempelajari psikologi ataupun manajemen seumber
daya manusia pasti mengetahui arti dari kalimat ini. Teori yang terkenal adalah
Teori Abraham Maslow tentang hierarki kebutuhan, yang menganggap aktualisasi
diri sebagai tingkatan tertinggi bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi.
Aktualisasi diri adalah cara mengembangkan potensi diri dari hal yang bisa
kita lakukan atau kerjakan. Menjalankan Aktualisasi Diri sama dengan
mengembangkan kemampuan kita tanpa batas. Dengan aktualisasi diri ini,
manusia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan keinginan
dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
2.3. Integrasi (Keseimbangan/Keutuhan)
Keseimbangan dalam pengendalian emosi dan dalam pemenuhan
kebutuhan sehari-hari sangat diperlukan sehingga dapat menjalani kehidupan
dengan seimbang dan tidak mengalami stress walaupun menemui masalah. Jika
seorang tidak bisa menyeimbangkan emosi dalam kehidupan, maka kemungkinan
untuk terjadinya stes akan lebih tinggi.
2.4. Otonomi
Seorang dengan sehat jiwa adalah seseorang yang mampu menyelesaikan
setiap masalah kehidupan sehingga tidak ada ketergantungan dengan sesuatu
dalam menjalani setiap masalah yang dihadapi (Misalnya: tidak tergantung kepada
orang lain, obat, dan lain-lain).
2.5. Persepsi Realitas
Dapat membedakan lamunan dan kenyataan sehingga setiap perilaku dapat
dimengerti dan dapat dipahami. Dapat menekan dan mengorganisir emosi

5
sehingga emosi konsisten dengan pengalaman. Selain itu, juga mempunyai pikiran
yang logis dan persepsi akurat.
2.6. Kecakapan dalam Beradaptasi dengan Lingkungan
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah
dalam berespons terhadap stress. Oleh karena banyak stressor yang tidak dapat
dihindari , promosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga,
atau komunitas terhadap stress. Ada banyak bentuk adaptasi, adaptasi fisiologis
memungkinkan homeostatis fisiologis. Namun demikian,mungkin terjadi proses
yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya.
Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dan lingkungan internal dan
eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan
demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang
optimal. Adaptasi melibatkan reflek, mekanisme otomatis untuk perlindungan,
mekanisme koping, dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau
penguasaan situasi (selye, 1976; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992). Stersor
yang menstimulassi adaptasi mungkin berjangka pendek, seperti demam atau
berjangka panjang seperti para paralisis dari anggota tubuh. Agar dapat berfungsi
optimal, seseorang harus mampu berespon terhadap stressor dan beradaptasi
terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan
respon aif dari seluruh individu. Jika seserang tidak mampu berdatasi, maka
kemungkinan untuk mengalami gangguan jiwa adalah besar.
Rentang sehat jiwa:
a. Dinamis bukan titik statis.
b. Rentang dimulai dari sehat optimal sampai meninggal
c. Terdapat beberapa tahap
d. Terdapat perbedaan antara tiap individu
e. Menggambarkan kemampuan adaptasi
f. Berfungsi secara efektif : sehat
3. Pengertian Keperawatan Jiwa
Stuart dan Sundeen memberikan batasan tentang keperawatan jiwa, yaitu suatu
proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan
perilaku, yang mengontribusi pada fungsi yang terintegrasi. Sementara ANA
(American Nurses Association) mendefinisikan keperawatan kesehatan jiwa adalah
suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku
6
manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri secara terapeutik sebagai kiatnya
(Stuart, 2007). Berdasarkan dua pengertian di atas, maka setiap perawat jiwa dituntut
mampu menguasai bidangnya dengan menggunakan ilmu perilaku sebagai landasan
berpikir dan berupaya sedemikian rupa sehingga dirinya dapat menjadi alat yang
efektif dalam merawat pasien. (Hartono, 2011)
Komunikasi terapeutik adalah suatu cara dalam berkomunikasi dengan
menekankan pengalaman belajar bersama dengan pasien untuk memperbaiki emosi
pasien. Walaupun perawat atau tenaga kesehatan lain lebih mengerti tentang masalah
kesehatan, seseorang yang lebih mengerti tentang masalah pasien adalah pasien. Oleh
karenanya, perawat harus menciptakan rasa percaya (trust) agar pasien dapat
mempercayai perawat sebagai tempat berkeluh kesah tentang masalah kesehatannya.
Perawat mengkaji data secara verbal dan nonverbal sehingga dapat dirumuskan
masalah keperawatan untuk diselesaikan bersama dengan pasien. Dengan demikian,
perawat dapat menggunakan dirinya sebagai seorang penolong (helper).
Ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab untuk mengetahui (introspeksi)
perawat adalah orang yang layak membantu atau “penolong”, antara lain sebagai
berikut
a. Apakah saya dapat dipandang sebagai orang yang dapat dipercaya, serta dapat
dijadikan pegangan atau konsisten dalam arti yang mendalam?
b. Apakah saya cukup ekspresif?
c. Apakah saya bersikap positif, hangat, perhatian, menyukai, menaruh perhatian,
dan respek?
d. Apakah saya cukup stabil untuk berpisah dengan seseorang?
e. Apakah saya dapat membiarkan diri sepenuhnya “masuk ke dunia” orang lain
(perasaan, makna diri) dan menerima pihak lain apa adanya?
f. Apakah perilaku saya tidak dianggap sebagai ancaman pihak lain?
g. Apakah saya membebaskan pasien dari perasaan terancam oleh
kritik/kecaman/penilaian eksternal?
h. Apakah saya menerima pasien sebagai “on becoming individu” ataukah terikat
oleh kesan yang lalu?
Beberapa pertanyaan di atas merupakan indikator yang harus dipenuhi apabila
perawat ingin menjadi seorang helper. Selain seorang helper, perawat harus
menyadari bahwa kemampuan terapeutik perawat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti kualitas personal, komunikasi fasilitatif, dimensi respons, dimensi tindakan,
7
dan hambatan dalam komunikasi. Kualitas personal, tercermin dari kemampuan
perawat untuk melakukan menganalisis diri. Apabila perawat mampu melakukan
analisis diri. Perawat diharapkan dapat menggunakan dirinya secara terapeutik untuk
membantu dan mengembangkan pengalaman bersama pasien dalam menyelesaikan
permasalahan pasien.
Komunikasi fasilitatif merupakan cerminan kemampuan perawat untuk
menerapkan prinsip komunikasi dan berbagai faktor yang memengaruhi. Komunikasi
fasilitatif meliputi perilaku verbal, perilaku nonverbal, kemampuan perawat
menganalisis masalah, dan menerapkan teknik terapeutik. Dimensi respons
merupakan reaksi perawat terhadap komunikasi yang terjadi. Dimensi respons ini
terdiri atas sikap ikhlas, hormat, empati, dan konkret. Setelah dimensi respons,
biasanya akan diikuti oleh dimensi tindakan, seperti konfrontasi, kesegeraan,
keterbukaan, emosional katarsis, dan bermain peran.
Selain semua faktor di atas, masih ada faktor yang memengaruhi komunikasi
terapeutik yaitu hambatan terapeutik atau kebutuhan terapeutik. Hambatan terapeutik
ini dapat berasal dari perawat ataupun pasien. Hambatan terapeutik dari pasien
biasanya berupa resistensi dan transferen. Sementara hambatan terapeutik yang dari
perawat dapat berupa konter transferen dan pelanggaran batasan. Setelah memahami
konsep penggunaan diri secara terapeutik, seorang perawat jiwa harus menggunakan
ilmu perilaku untuk membantu menyelesaikan masalah. Secara umum tidak ada
seseorang menangis jika tidak ada sebabnya, tidak ada orang marah jika tidak ada
sebabnya, dan seterusnya. Pelajarilah berbagai teori perilaku, teori alasan bertindak
(theory reason action), dan teori perencanaan bertindak (theory plan behavior),
sehingga dapat dikembangkan berbagai falsafah dalam keperawatan kesehatan jiwa.

4. Rentang Sehat Jiwa


a. Dinamis bukan titik statis.
b. Rentang dimulai dari sehat optimal sampai meninggal.
c. Terdapat beberapa tahap.
d. Terdapat perbedaan antara tiap individu.
e. Menggambarkan kemampuan adaptasi.
f. Berfungsi secara efektif: sehat.

8
Rentang Sehat Jiwa

Sehat Optimal Sakit Kronis Mati

Rentang Sehat Jiwa (Yosep, 2000).

5. Keperawatan Kesehatan Jiwa Dan Peran Perawat Kesehatan Jiwa


5.1.Menurut American Nurses Association (ANA)
Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktik keperawatan yang
menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri
sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan, mempertahankan, serta
memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana
klien berada. Fokusnya adalah penggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya
perawat jiwa membutuhkan alat atau media untuk melakukan perawatan. Alat
yang digunakan selain keterampilan teknik dan alat-alat klinik, yang terpenting
adalah menggunakan dirinya sendiri (use self therapeutic). Sebagai contoh gerak
tubuh (posture), mimik wajah (face expression), bahasa (language), tatapan mata
(eye), pendengaran (listening), sentuhan (touching), nada suara (vocalization), dan
sebagainya. (Hartono, 2011)
5.2.Menurut Clinton dan Nelson
Perawat jiwa berusaha menemukan dan memenuhi kebutuhan dasar klien
yang terganggu seperti kebutuhan fisik (physiologis needs), kebutuhan rasa aman
(safety needs), kebutuhan mencintai dan disayangi (belonging loving needs),
kebutuhan harga diri (self esteem), dan kebutuhan aktualisasi (actualization
needs). Klien gangguan jiwa umumnya mengalami gangguan selain fisiologis
sebagai keluhan utama, tetapi selanjutnya seluruh kebutuhan menjadi terganggu
sebagai dampak terganggunya kebutuhan psikologis.
Sebagai contoh banyak klien gangguan jiwa yang merasa tidak aman atau
tidak diterima oleh lingkungan, hilangnya rasa cinta akibat ditinggal mati oleh
orang yang berarti, terganggunya harga diri akibat PHK, atau terganggunya
aktualisasi diri akibat gagal dalam sekolah. Perawat berupaya memenuhi
kebutuhan-kebutuhan tersebut degan menjalin rasa percaya (trust), dan berusaha
memahami apa yang dirasakan oleh kliennya (emphaty). (Hartono, 2011)

9
5.3.Menurut Antai Otong (Psychiatric Nursing Biological and behavioral
Concept, 1995)
Perawat kesehatan jiwa secara kontinu memiliki peran penting dalam
mengidentifikasi pasien-pasien yang beresiko, mengkaji respons pasien terhadap
stres sepanjang rentang kehidupannya, dan dalam mengembangkan komunikasi
yang terapeutik. Perawat kesehatan mental bertanggung jawab secara kontinu
dalam seluruh rentang kehidupan klien dari mulai fase anak sampai lansia yang di
kenal dengan history live span. Peran lain yang sangat penting berdasarkan
definisi di atas adalah mengidentifikasi pasien yang berisiko.
Gangguan jiwa berat dapat dihindari dengan cara penemuan kasus dini
atau analisis potensial situasi yang dapat menjadi faktor pencetus gangguan jiwa.
Di antara situasi beresiko, yang menjadi faktor pendukung terjadinya gangguan
jiwa, antara lain keluarga berantakan (broken home), peperangan.
5.4.Menurut Depkes RI (1990)
Keperawatan kesehatan jiwa adalah suatu bidang praktik keperawatan
yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmu dan penggunaan diri sendiri
secara terapeutik sebagai kiatnya.
5.5.Peran Perawat menurut Peplau
Menurut Peplau, Keperawatan adalah terapeutik dalam seni
penyembuhan,membantu individu yang sakit atau membutuhkan perawatan
kesehatan yang dinilai dalam proses interpersonal sebab melibatkan interaksi
antara dua atau lebih individu yang mempunyai tujuan. Setiap individu dianggap
unik secara biologis,psikologis,sosial,dan spiritual,serta tidak akan bereaksi sama
seperti yang lain. Setiap orang mempunyai pengalaman belajar yang berbeda dari
lingkungan,adat istiadat,kebiasaan,dan keyakinan dari setiap kultur. Setiap orang
datang dengan ide-ide yang terbentuk sebelumnya yang memengaruhi persepsi,
dimana persepsi sangat memengaruhi proses interpersonal.
Peplau mengidentifikasi empat tahap dalam hubungan interpersonal yaitu
sebagai berikut:
a. Orientasi :fokus menentukan masalah
b. Identifikasi :fokus respon pasien terhadap perawat
c. Eksploitasi :fokus meminta bantuan profesional
d. Resolusi :fokus mengakhiri hubungan interpersonal

10
Dalam proses ini perawat mempunyai peran sebagai pendidik, narasumber,
penasihat, pemimpin, ahli teknik, dan pengganti. Peran perawat yang lain adalah
sebagai berikut.
a. Bekerja sama dengan lembaga kesehatan mental.
b. Konsultasi dengan yayasan kesejahteraan.
c. Memberikan pelayanan kepada klien diluar klinik.
d. Aktif melakukan penelitian.
e. Membantu pendidik masyarakat.
f. Sebagai pencipta lingkungan terapeutik.
Mengembangkan situasi kehangatan,dapat saling menerima,aman,dan relaks.
g. Agen sosial (socializing agent)
h. Sebagai konselor.
Mendengarkan keluhan yang diungkapkan pasien,memberi saran dan sugesti
dengan tujuan mendorong pasien berpikir tentang permasalahannya dan
memutuskan jalan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya.
i. Sebagai pendidik
Memberi kesempatan pasien belajar segala sesuatu dari orang lain dan
mendorongnya menjadi lebih berhasil dan menyenangkan dalam
mengembangkan emosional pasien.
j. Mother Surrogete
Memberi bantuan kepada pasien yang tidak mampu menolong dirinya sendiri
dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
k. Teknisi perawatan
Membantu pasien dalam aspek teknisi,seperti pemberian obat-obatan yang
direncanakan,memonitor tanda-tanda vital,dan observasi prilaku pasien.
l. Terapis.
Memberi bantuan mengembangkan penyembuhan sebatas kewenangan
perawat.
Asuhan keperawatan yang kompeten bagi perawat jiwa adalah sebagai
berikut:
a. Pengkajian biopsikososial yang peka terahadap budaya.
b. Merancang dan implementasi rencana tindakan untuk klien dan keluarga.
c. Peran serta dalam pengelolaan kasus: mengorganisasikan, mengkaji, negosiasi,
serta koordinasi pelayanan bagi individu dan keluarga.
11
d. Memberikan pedoman pelayanan bagi individu, keluarga, dan kelompok untuk
menggunakan sumber yang tersedia dikomunitas kesehatan mental, termasuk
pelayanan terkait, teknologi, serta sistem sosial yang paling tepat.
e. Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental,serta mengatasi pengaruh
penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling.
f. Memberikan askep pada penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis
dan penyakit jiwa dengan masalah fisik.
g. Mengelola dan mengoordinasi,sistem pelayanan yang mengintegrasikan
kebutuhan klien,keluarga,staf,dan pembuat kebijakan.

Legal dan etik Klinik Pasien

PSIKIATRI

SOSIAL PROFESIONAL FISCAL

6. Prinsip-prinsip Keperawatan Jiwa


6.1.Peran dan Fungsi Keperawatan yang Kompeten (Roles and Functions of
Psychiatric Nurse Competent Care)
Keperawatan jiwa mulai menjadi profesi pada awal abad ke 19 dan pada
masa tersebut berkembang menjadi spesialis dengan peran dan fungsi-fungsi yang
unik. Keperawatan jiwa adalah suatu proses interpersonal dengan tujuan untuk
meningkatkan dan memelihara perilaku-perilaku yang mendukung terwujudnya
suatu kesatuan yang harmonis (integrated). Kliennya dapat berupa individu,

12
keluarga, kelompok, organisasi, atau masyarakat. Tiga wilayah praktik
keperawatan jiwa meliputi perawatan langsung, komunikasi, dan manajemen.
Ada empat faktor yang dapat menentukan tingkat penampilan perawat
jiwa, yaitu aspek hukum, kulaifikasi perawat, lahan praktik, dan inisiatif dari
perawat sendiri.
6.2.Hubungan Terapeutik antara Perawat dengan Klien (Therapeutic Nurse
Patient Relationship)
Hubungan perawat dan klien yang terapeutik adalah pengalaman belajar
yang bermakna dan pengalaman memperbaiki emosional klien. Perawat
menggunakan atribut-atribut yang ada pada dirinya dan teknik keterampilan klinik
ynag khusus dalam bekerja bersama dengan klien untuk perubahan perilaku klien.
Model struktural dan model analisis instruksional digunakan untuk
menguji kompenen-kompenen proses komunikasi dan melakukan identifikasi
masalah bersama antara klien dengan perawat.
- Dimensi respons yang sejati, saling menghormati, memahami dan empati
secara nyata harus ditampilakan
- Dimensi konfrontasi, kesegaran (immediacy), perawat yang menutup diri,
perasaan terharu yang disebabkan kepura-puraan dapat memberikan stimulasi
role play dan memberikan kontribusi tehadap penilaian diri pasien (insight)
- Kebuntuan dalam komunikasi terapeutik sperti resisten, transferen,
konterferens dan adanya pelanggaran wilayah pribadi klien merupakan
penghambat dalam komunikasi
6.3.Konsep Model Keperawatan Jiwa (Conceptual Models of Psychatric Nursing)
Konsep model keperawatan jiwa terdiri atas enam macam yaitu
Psychoanalytical (Freud, Erickson), Interpesonal (Sukkivan, peplau), Social
(Caplan, Szasz), Existential (Ellis, Roger), Supportive Therapy (Wermon,
Rockland), dan Medical (Mayer, Kraeplin).
6.4.Model Stres dan Adaptasi dalam Keperawatan Jiwa (Stress Adaptation Model
of Psychiatric Nursing)
Menurut Stuart, stres adaptasi memberikan asumsi bahwa lingkungan
secara alami memberikan berbagai strata sosial, di mana perawat psikiatri
disediakan melalui proses keperawatan biologis, psikologis, sosiokultural, dan
konteks legal etis, bahwa sehat/sakit, adaptif/maladaptif sebagai konsep yang
jelas, tingkat pencegahan primer, sekunder dan tersier termasuk di dalamnya
13
empat tingkatan dalam penatalaksaan psikiatrik meliputi; peningkatan kesehatan,
pemeliharaan kesehatan, akut dan krisis. Kompenen-kompenen biopsikososial
model mencakup faktor-faktor predisposisi (pendukung), stresor pencetus,
penilaian terhadap stresor, sumber-sumber koping mekanisme.
6.5.Keadaan-keadaan Biologis dalam Keperawatan Jiwa (Biological Context of
Psychiatric Nursing Care).
Perawat psikiatri harus belajar mengenai strukur dan fungsi dari otak,
mencakup proses neurotransmisi, untuk lebih memahami etiologi,
mempelajarinya, dan agar lebih efektif dalam strategi intervensi gangguan
psikiatrik.
Implikasi klinis dari penelitian tentang neurosains telah didiskusikan
dalam hubungannya dengan skizofrenia, kelainan mood, gangguan panik, dan
merujuk pada indikasi yang khusus. Penelaahan tentang gen yang membawa
kelainan mental telah membawa kesulitan dan ketidakyakinan sampai saat
ini,tetapi dapat meningkatkan penelitian yang akan datang.
6.6.Keadaan Psikologis dalam Keperawatan Jiwa (Psychological Context of
Psychiatric Care)
Pengujian status mental menggambarkan rentang hidup psikologis klien
melalui waktu.Hal ini berarti perawat melakukan observasi perilaku klien dan
menggambarkan secara objektif, serta tidak menyalahkannya. Tes psikologi
menilai kemampuan intelektual dan kognitif, serta menggambarkan fungsi
kepribadian.
Behaviour rating scale menolong ahli klinis dalam mengukur tingka
tmasalah klien, membuat diagnosis yang lebih akurat, menggambarkan kemajuan
klien ,dan mendokumentasikan kemajuantingkatan.
6.7.Keadaan-keadaan Sosial Budaya dalam Keperawatan Jiwa (Sociocultural
Context of Psychiatric Nursing Care)
Faktor resiko untuk gangguan psikiatri dari sosiokultural merupakan factor
predisposisi yang dapat meningkatkan potensial kelaianan psikiatrik, menurunkan
potensial klien untuk sembuh, ataukebalikanya.Hal tersebutmeliputiumur, etnik,
gender, pendidikan, pendapatan, dan system keyakinan.
Variasidari stressor sosiokultural menghambat perkembangan perawat
kesehatan mental meliputi: keadaan yang merugikan, stereotip, intoleransi, stigma,

14
prasangka, diskriminasi, danrasisme. Respons koping dan gejala-gejala kelainan
yang muncul diekspresikan secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
6.8.Keadaan-keadaan Lingkungan dalam KeperawatanJiwa (Environmental
Context of Psychiatric Nursing Care)
Bagian-bagian dari lingkungan secara langsung akan memengaruhi
pelayanan keperawatan mental. Perawat seharusnya memberi kaninformasi-
informasi baru dan mengintegrasikannya kedalam praktik untuk menyediakan
keperawatan yang berkualitas yang pelayan efektif.
6.9.Keadaan-keadaan Legal Etika dalam Keperawatan Jiwa (Legal Ethical
Context of Psychiatric Nursing Care)
Terdapat dua penerimaan klien di rumah sakit jiwa yaitu kesepakatan yang
disadari dan kesepakatan yang tidak disadari, meliputi isu mengenai hokum danas
peketik, serta legal dan aspek professional.Perawatan psikiatri mempunyai peran
dalam tugas professional dan tugas pribadi yaitu sebagai berikut.
a. Pemberian pelayan.
b. Pekerjaan daripihak rumah sakit.
c. Sebagai warga Negara pribadi.
6.10. Penatalaksanaan Proses Keperawatan dengan Standar-standar perawatan
(Impleenting The Nursing Proses Standards of Care)
Proses keperawatan berjalan secara interaktif yaitu proses pemecahan
masalah digunakan oleh perawat secara sistematis dua individual untuk mencapai
tujuan keperawatan.
a. Pengkajian meliputi keadaan, proses, dan informasi biopsikososiospiritual
klien.
b. Diagnosis keperawatan meliputi respon adaptif klien atau respons maladaptive
klien, mendifinisikan karakteristik respon tersebut dan pengaruh stresornya.
c. Perencanaaankeperawatanmeliputiprioritas diagnosis dantujuan yang
diharapkan.
d. Intervensi keperawatan seharusnya langsung membantu klien meningkatkan
penilaian terhadap dirinya (Insight) dan pemecahan masalah melalui
perencanaan yang positif untuk klien.
e. Evaluasi meliputi penilaian kembali fase-fase sebelumnya dari proses
keperawatan dalam menentukan tahapan merencanakan tujuan yang akan
dicapai.
15
6.11. Akutualisasi Peran Keperawatan Jiwa: melalui Penampilan Standar-standar
Profesional (Actualizing The Psychiatric Nursing Role: Profesional
Performance Standars).
Standard professional diaplikasikan untuk mengatur tanggung jawab
pribadi dan untuk praktik, seharusnya didemonstrasikan oleh perawat sebagai
individu dan sebagai kelompok. Dimana standard ini berhubungan dengan
otonomi dan self definition.
7. Model Keperawatan Jiwa
Terdapat enam model keperawatan, yaitu sebagai berikut:
7.1.Psychoanalitycal (Freud, Erickson)
Pada model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa terjadi pada seseorang
apabila ego (akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau
insting). Ketidakmampuan seseoran dalam menggunakan akalnya (ego) untuk
mematuhi tata tertib, peraturan, norma, dan agama (super ego/ das uberich) akan
mendorong terjadnya penyimpangan perilaku (deviation behavioral). Faktor
penyebab yang lain adalah konflik intrapsikis terutama pada masa anak-anak
sehingga menyebabkan trauma yang membekas pada masa dewasa.
Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas (
bebas melakukan imajinasi persepsi menurut masing-masing individu) dan
analisis mimpi, transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu. Misalnya
menggunakan metode hipnotis ( hypnotic), yaitu dengan membuat tidur klien dan
perawat menggali traumatis masa lalu. Dengan cara ini, klien akan
mengungkapkan pikiran dan mimpinya, sedangkan terapis berupaya
menginterpretasikan pikiran dan mimpi pasien.
7.2.Interpersonal ( Sullivan, Peplau)
Pada konsep ini, kelainan jiwa seseorang bisa muncul akibat adanya
ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan/ ansietas, dimana ansietas
timbul akibat seseorang mengalami konflik saat berhubungan dengan orang lain/
interpersonal.
Pada konsep ini perasaan takut seseorang didasari adanya ketakutan
ditolak atau tidak diterima orang sekitarnya. Proses terapi pada konsep in adalah
berupaya membangun rasa aman bagi klien ( Build Feeling Scurity), menjalin
hubungan yang saling percaya (trusting relationship and interpersonal

16
satisfaction), dan membina kepuasa dalam bergaul dengan orang lain sehingga
klien merasa berharga dan terhormat.
Peran perawat dalam hal ini adalah berupaya berbagi (sharing) mengenai
hal-hal yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat
berhubungan dengan orang lain (share anxietas) dan berupaya bersikap empati,
serta turut merasakan apa yang dirasakan oleh klien. Selain itu, perawat juga
memberikan respons verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan
dengan orang lain seperti: “saya senang berbicara dengan anda, saya siap
membantu anda, anda sangat menyenangkan bagi saya”.
7.3.Sosial (Caplan, Szasz)
Dalam konsep ini seseorang akan mengalami gangguan atau mengalami
penyimpangan perilaku apabila terdapat banyak faktor sosial dan faktor
lingkungan yang akan memicu munculnya stres pada seseorang, akumulasi stresor
pada lingkungan yang mencetus stres seperti : bising, macet, tuntutan, persaingan
kerja, harga barang yang mahal, persaingan kemewahan, iklim yang sangat panas
atau dingin, ancaman penyakit, polusi, serta sampah. Stresor dari lingkungan di
perparah dengan adanya stresor dari hubungan sosial seperti atasan yang galak,
tetangga yang buruk atau anak yang nakal/prinsip terapi adalah pentingnya
modifikasi lingkungan dan adanya dukungan sosial. Peran perawat adalah
menggali sistem sosial klien seperti suasana dirumah, kantor, sekolah, dan
masyarakat.
7.4.Eksistensi (Ellis, Rogers)
Menurut model ini gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan
jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki kebanggaan dirinya,
membenci dirinya sendiri, dan menglami gangguan dalam body-image-nya. Sering
kali individu bingung dengan dirinya sendiri sehingga pencarian makna
kehidupannya menjadi kabur, serta individu merasa asing dan bingung dengan
dirinya.
Prinsip terapinya adalah mengupayakan individu untuk bergaul dengan
oranglain, memahami riwayat hidup orang lain yang di anggap sukses atau
sebagai penutan, memperluas kesadaran dirinya dengan intropeksi diri,
mendorong untuk menerima jati dirinya sendiri, dan menerima kritik atau feed
back tentang perilakunya dari orang lain.

17
7.5.Supportive therapy (Wermon, Rockland)
Penyebab gangguan jiwa pada konsep ini adalah faktor biopsikososial dan
respons maladaptif saai ini yang muncul akan berakumulasi menjadi satu. Aspek
biologis yang dapat menjadi masalah adalah seperti sering sakit maag, batuk-
batuk, dan lain-lain; sedangkan aspek psikologis yang dapat menjadi keluhan atau
masalah adalah mudah cemas, kurang percaya diri, ragu-ragu, dan pemarah. Lalu
yang dapat menjadi masalah dalam aspek sosialnya adalah susah bergaul,menarik
diri, tidak di sukai, bermusuhan, tidak mampu mendapatkan pekerjaan dan
sebangainya.
Prinsip terapinya adalah menguatkan respons kping adaptif, individu di
upayakan menganal terlebih dahulu kekuatan-kekuatan yang ada pada dirinya, lalu
nantinya kekuatan mana yang akan menjadi pemecahan masalah yang di hadapi.
7.6.Medical (Mayer, Kraeplin)
Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifaktor
yang kompleks, meliputi : aspek fisik, genetik, lingkungan dan faktor sosial
sehingga penatalaksanaan adalah dengan pemeriksaan diagnostik, terapi somatik,
farmakologi, dan teknik intepersonal. Perawatan berperan dalam kolaborasi
dengan tim medis lainnya dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak
terapi, menentukan diagnosis, dan menentukan jenis pendekatan yang di gunakan.
8. Falsafah Keperawatan Jiwa
Beberapa keyakinan mendasar dalam keperawatan jiwa meliputi hal-hal
sebagai berikut.
a. Individu memiliki harkat dan martabat sehingga masing-masing individu perlu
dihargai.
b. Tujuan individu meliputi tumbuh, sehat, otonomi, dan aktualisasi diri.
c. Masing-masing individu berpotensi untuk berubah.
d. Manusia adalah mahluk holistic yang berinteraksi dan bereaksi dengan
lingkungan sebagai manusia yang utuh.
e. Masing-masing orang memiliki kebutuhan dasar yang sama.
f. Semua perilaku individu bermakna.
g. Perilaku individu meliputi persepsi, pikiran, perasaan, dan tindakan.
h. Individu memiliki kapasitas koping yang bervariasi, dipengaruhi oleh kondisi
genetic, lingkungan, kondisi stress, dan sumber yang tersedia.
i. Sakit dapat menumbuhkan dan mengembangkan psikologis bagi individu.
18
j. Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
sama.
k. Kesehatan mental adalah komponen kritikal dan penting dari pelayanan kesehatan
yang komprehensif.
l. Individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan fisik
dan mentalnya.
m. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan kesejahteraan memaksimalkan fungsi
(meminimalkan kecacatan/ketidakmampuan) dan meningkatkan aktualisasi diri.
n. Hubungan interpersonal dapat menghasilkan perubahan dan pertumbuhan
individu.
9. Peran dan Fungsi Perawat Kesehatan Jiwa
Para perawat kesehatan jiwa mempunyai peran yang bervariasi dan spesifik.
Aspek dari peran tersebut meliputi kemandirian dan kolaborasi.
9.1.Pelaksana Asuhan Keperawatan
Perawat memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan jiwa kepada
individu, keluarga dan komunitas. Dalam menjalankan perannya, perawat
menggunakan konsep perilaku manusia, perkembangan kepribadian dan konsep
kesehatan jiwa serta gangguan jiwa dalam melaksanakan asuhan keperawatan
kepada individu, keluarga dan komunitas. Perawat melaksanakan asuhan
keperawatan secara komprehensif melalui pendekatan proses keperawatan jiwa,
yaitu pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan
keperawatan, dan melaksanakan tindakan keperawatan serta evaluasi terhadap
tindakan tersebut.
9.2.Pelaksana Pendidikan Keperawatan
Perawat memberi pendidikan kesehatan jiwa kepada individu, keluarga
dan komunitas agar mampu melakukan perawatan pada diri sendiri, anggota
keluarga dan anggota masyarakat lain. Pada akhirnya diharapkan setiap anggota
masyarakat bertanggung jawab terhadap kesehatan jiwa.
9.3.Pengelola Keperawatan
Perawat harus menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab
dalam mengelola asuhan keperawatan jiwa. Dalam melaksanakan perannya ini
perawat:
a. Menerapkan teori manajemen dan kepemimpinan dalam mengelola asuhan
keperawatan jiwa
19
b. Menggunakan berbagai strategi perubahan yang diperlukan dalam mengelola
asuhan keperawatan jiwa
c. Berperan serta dalam aktifitas pengelolaan kasus seperti mengorganisasi,
koordinasi, dan mengintegrasikan pelayanan serta perbaikan bagi individu
maupun keluarga
d. Mengorganisasi pelaksanaan berbagai terapi modalitas keperawatan
9.4.Pelaksana Penelitian
Perawat mengidentifikasi masalah dalam bidang keperawatan jiwa dan
menggunakan hasil penelitian serta perkembangan ilmu dan teknologi untuk
meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan keperawatan jiwa (Dalami, 2010).

20
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktik keperawatan yang
menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri
secara terapeutik. Fokusnya adalah penggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya
perawat jiwa membutuhkan alat atau media untuk melakukan perawatan. Terdapat
prinsip, model, dan falsafah, serta peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa yang
dapat menjadi acuan bagi mahasiswa mahasiswi Ilmu Keperawatan dan perawat.

2. Saran
Diharapkan makalah ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat kepada para
pembaca khususnya mahasiswa mahasiswi Ilmu Keperawatan dan perawat mengenai
Teori dan Model Keperawatan Kesehatan Jiwa sehingga dapat digunakan sebagai
acuan dan diaplikasikan dalam praktik keperawatan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Yudi. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika

Yusuf, Ahmad, Rizky Fitryasari, Hanik Endang. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan
Jiwa. Jakarta: Salemba Medika

Malau, Mahda Chresginova. 2014. Pengalaman Perawat Jiwa Dalam Memberikan Asuhan
Keperawatan Klien Dengan Perilaku Kekerasan. (http://repository.usu.ac.id, diakses
14 September 2016)

Adawiyah, Robiatul. 2012. Gambaran Kesehatan Jiwa pada Anak Usia Sekolah di SD Negeri
200208 Padangsidimpuan Selatan Pemerintah Kota Padangsidimpuan.
(http://repository.usu.ac.id, diakses 14 September 2016)

22