Anda di halaman 1dari 10

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Inovasi merupakan istilah yang telah digunakan secara luas dalam berbagai
bidang, baik industri, jasa, pemasaran maupun pertanian. Secara sederhana Adams
(1988) menyatakan, an innovation is an idea or object perceived as new by an
individual. Dalam perspektif pemasaran, Simamora (2003) menyatakan bahwa
innovasi adalah suatu ide, praktek, atau produk yang dianggap baru oleh individu
atau grup yang relevan. Sedangkan Kotler (2003) mengartikan innovasi sebagai
barang, jasa, ide yang dianggap baru oleh seseorang.

Dari berbagai defenisi diatas, dapat dijelaskan bahwa dalam suatu innovasi,
terdapat 3 unsur yang terkandung didalamnya; yang pertama adalah idea atau
gagasan, kedua metode atau praktek, dan yang ketiga produk (barang atau jasa).
Untuk dapat dikatakan dengan sebuah innovasi, maka ketiga unsur tersebut harus
mengandung sifat “baru”. Sifat baru tersebut tidak mesti dari hasil penelitian yang
mutakhir. Namun baru disini dinilai dari sudut pandang penilaian individu yang
menggunakannya yakni masyarakat sebagai adopternya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi percepatan adopsi adalah sifat dari
inovasi itu sendiri. Inovasi yang akan di introduksikan harus memepunyai
kesesuaian (daya adaptif) terhadap kondisi biofisik, social, ekonomi, dan budaya
yang ada dalam masyarakat penerima (adopter) tersebut. Jadi inovasi yang
ditawarkan tersebut hendaknya inovasi yang tepat guna.

1.2 Identifikasi Masalah


1.2.1 Apa itu karakteristik inovasi?
1.2.2 Apa itu laju adopsi?
1.2.3 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik inovasi dan laju
adopsi?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui apa itu karakteristik inovasi
1.3.2 Untuk mengetahui apa itu laju adopsi
1.3.3 Untuk mengetahui factor-faktor yang mengetahui karakteristik inovasi dan
laju adopsi

2
II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Inovasi

Inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau benda yang dianggap/dirasa baru
oleh individu atau kelompok masyarakat. Ungkapan dianggap/dirasa baru terhadap
suatu ide, praktek atau benda oleh sebagian orang, belum tentu juga pada sebagian
yang lain. Kesemuanya tergantung apa yang dirasakan oleh individu atau kelompok
terhadap ide, praktek atau benda tersebut.

Inovasi adalah suatu gagasan, metode, atau objek yang dapat dianggap
mutakhir. Inovasi sering berkembang dari penelitian dan juga dari petani (Van den
Ban dan H.S. Hawkins, 1999). Mosher (1978) menyebutkan inovasi adalah cara
baru dalam mengerjakan sesuatu. Sejauh dalam penyuluhan pertanian, inovasi
merupakan sesuatu yang dapat mengubah kebiasaan.
Segala sesuatu ide, cara-cara baru, ataupun obyek yang dioperasikan oleh
seseorang sebagai sesuatu yang baru adalah inovasi. Baru di sini tidaklah semata
mata dalam ukuran waktu sejak ditemukannya atau pertama kali digunakannya
inovasi tersebut. Hal yang penting adalah kebaruan dalam persepsi, atau kebaruan
subyektif hal yang dimaksud bagi seseorang, yang menetukan reaksinya terhadap
inovasi tersebut. Dengan kata lain, jika sesuatu dipandang baru bagi seseorang,
maka hal itu merupakan inovasi (Nasution, 2004).

2.2 Jenis-Jenis Inovasi


Dikemukakan oleh Rogers (1983) Inovasi terdiri atas empat jenis dibawah ini.

1. Penemuan yaitu kreasi suatu produk, jasa, atau proses baru yang belum
pernah dilakukan sebelumnya. Konsep ini cenderung disebut revolisioner.
Contoh: Penemuan pesawat terbang oleh wright.
2. Pengembangan yaitu pengembangan suatu produk, jasa, atau proses yang
sudah ada. Konsep seperti ini menjadi aplikasi ide yang telah ada berbeda.
Misalnya pengembangan Mcd oleh Ray Kroc.

3
3. Duplikasi yaitu peniruan suatu produk, jasa, atau proses yang telah ada.
Meskipun duplikasi bukan semata meniru melainkan menambah sentuhan
kreatif untuk memperbaiki konsep agar lebih mampu memenangkan
persaingan. Misalnya duplikasi perawatan gigi oleh Dentaland.
4. Sintesis yaitu perpaduan konsep dan faktor-faktor yang sudah ada menjadi
formulasi baru. Proses ini meliputi pengambilan sejumlah ide atau produk yang
sudah ditemukan dan dibentuk sehingga menjadi produk yang dapat
diaplikasikan dengan cara baru. Misalnya sintesis pada arloji oleh casio.

2.3 Pengertian Karakteristik Inovasi

Semua produk tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk di diterima


oleh konsumen, beberapa produk bisa menjadi populer hanya dalam waktu satu
malam sedangkan yang lainnya memerlukan waktu yang sangat panjang untuk di
terima atau bahkan tidak pernah diterima secara luas oleh konsumen. Karakteristik
Produk menentukan kecepatan terjadinya proses adopsi inovasi ditingkat petani
sebagai pengguna teknologi pertanian. Dalam kecepatan proses adopsi inovasi
ditentukan oleh beberapa faktor seperti: saluran komunikasi, ciri ciri sistem sosial,
kegiatan promosi dan peran komunikator. Menurut Schiffman dan Kanuk (2010),
ada lima karakteristik produk tersebut yang dapat digunakan sebagai indikator
dalam mengukur persepsi antara lain:

1. Keuntungan relatif (relative advantages), adalah merupakan tingkatan


dimana suatu ide dianggap suatu yang lebih baik dari pada ide-ide yang ada
sebelumnya, dan secara ekonomis menguntungkan.
2. Kesesuaian (compability), adalah sejauh mana masa lalu suatu inovasi
dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu, dan
kebutuhan adopter (penerima). Oleh karena itu inovasi yang tidak
kompatibel dengan ciri-ciri sistem sosial yang menonjol akan tidak diadopsi
secepat ide yang kompatibel.
3. Kerumitan (complexity), adalah suatu tingkatan dimana suatu inovasi
dianggap relatif sulit dimengerti dan digunakan. Kesulitan untuk dimengerti
dan digunakan, akan merupakan hambatan bagi proses kecepatan adopsi
inovasi.

4
4. Kemungkinan untuk dicoba (trialibility), adalah suatu tingkat dimana suatu
inovasi dalam skala kecil. Ide baru yang dapat dicoba dalam skala kecil
biasanya diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih
dahulu.
5. Mudah diamati (observability), adalah suatu tingkat hasil-hasil suatu
inovasi dapat dengan mudah dilihat sebagai keuntungan teknis ekonomis,
sehingga mempercepat proses adopsi. Calon-calon pengadopsi lainnya tidak
perlu lagi menjalani tahap percobaan, dapat terus ke tahap adopsi.

2.4 Pengertian Adopsi

Pengertian adopsi dalam proses penyuluhan menurut Departemen Kehutanan


(1996) dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa:
pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psychomotoric)
pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh oleh
masyarakat sasarannya. Penerimaan disini mengandung arti tidak sekedar “tahu”,
tetapi sampai benar-benar dapat melaksanakan atau menerapkannya dengan benar
serta menghayatinya dalam kehidupan dan usahataninya.

Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai cara
bertindak yang paling baik. Keputusan inovasi merupakan proses mental, sejak
seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk
menerima atau menolaknya kemudian mengukuhkannya. Keputusan inovasi
merupakan suatu tipe pengambilan keputusan yang khas (Suprapto dan Fahrianoor,
2004).

Diartikan oleh Mardikanto dan Sutarni (1982) mengartikan adopsi sebagai


penerapan atau penggunaan sesuatu ide, alat-alat atau teknologi baru yang
disampaikan berupa pesan komunikasi (lewat penyuluhan). Manifestasi dari bentuk
adopsi ini dapat dilihat atau diamati berupa tingkah laku, metoda, maupun peralatan
dan teknologi yang dipergunakan dalam kegiatan komunikasinya. Disebutkan oleh
Samsudin (1982), adopsi adalah suatu proses yang dimulai dari keluarnya ide-ide
dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua, sampai diterimanya ide tersebut

5
oleh masyarakat sebagai pihak kedua. Seseorang menerima suatu hal atau ide baru
selalu melalui tahapan-tahapan. Tahapan ini dikenal sebagai tahap proses adopsi.

Dinyatakan oleh Rogers (1983) bahwa perubahan seseorang untuk


mengadopsi suatu perilaku yang baru tersebut terjadi dalam beberapa tahapan
sebagai berikut:
1. Tahap kesadaran (awareness), dalam hal ini Petani mulai sadar tentang
adanya sesuatu yang baru, mulai terbuka akan perkembangan dunia
luarnya, sadar apa yang sudah ada dan apa yang belum.
2. Tahap minat (Interest), Tahap ini ditandai oleh adanya kegiatan mencari
keterangan-keterangan tentang hal-hal yang baru diketahuinya.
3. Tahap penilaian (Evaluation), Setelah keterangan yang diperlukan
diperoleh, mulai timbul rasa menimbang-nimbang untuk kemungkinan
melaksanakannya sendiri.
4. Tahap mencoba (Trial). Jika keterangan sudah lengkap, minat untuk
meniru besar, dan jika ternyata hasil penilaiannya positif, maka dimulai
usaha mencoba hal baru yang sudah diketahuinya.
5. Tahap adopsi (Adoption). Petani sudah mulai mempraktekkan hal-hal
baru dengan keyakinan akan berhasil.
2.5 Faktor yang Mendukung Kecepatan Adopsi
Dinyatakan oleh Mardikanto (1993) bahwa kecepatan adopsi dipengaruhi oleh
banyak faktor, berikut ini.
1. Sifat Inovasi
Sifat inovasinya sendiri, baik intrinsik (yang melekat pada inovasinya
sendiri) maupun sifat ekstrinsik (menurut/dipengaruhi oleh keadaan
lingkungannya. Sifat-sifat instrinsik inovasi itu mencakup berikut ini.
a. Informasi ilmiah yang melekat/dilekatkan pada inovasinya,
b. Nilai-nilai atau keunggulan-keunggulan (teknis, ekonomis, sosial
budaya dan politis) yang melekat pada inovasinya,
c. Tingkat kerumitan (kompleksitas) inovasi,
d. Mudah/tidaknya dikomunikasikan inovasi,
e. Mudah/tidaknya inovasi tersebut dicoba (trial-ability),
f. Mudah/tidaknya inovasi tersebut diamati (observability).

6
2. Sifat sasarannya
Dilihat dari karakteristik sasarannya, dikemukakan oleh Rogers and
Shoemaker (1971)bahwa dalam setiap kelompok masyarakat terbagi
menjadi 5 (lima) kelompok individu berdasarkan tingkat kecepatannya
mengadopsi sebagai berikut.
a. Kelompok perintis (innovator)
Pelopor/ orang-orang yang pertama dalam suatu wilayah tertentu
yang paling cepat mengadopsi suatu inovasi, memiliki rasa ingin
tahu tinggi/curiousity, cenderung indualis.
b. Kelompok pelopor (early adopter)
Orang yang cukup aktif dalam pembangunan desa, umur relatif
muda, pendidikan cukup tinggi, status sosial agak tinggi dan
disegani oleh anggota masyarakat.
c. Kelompok penganut dini (early mayority),
Golongan yang mudah terpengaruh bila hal baru telah disadari dan
diyakini keunggulannya.
d. Kelompok penganut lambat (late mayorty),
Orang yang lambat menerima inovasi, kedudukan ekonominya
rendah, dan kurang bersemangat dalam usahataninya.
e. Kelompok orang-orang kolot/naluri (laggard)
Kaum kolot/penolak, usia tua, statis dan pasif terhadap perubahan,
dan kurang rasional.

3. Cara Pengambilan Keputusan

Terlepas dari ragam karakteristik individu dan masyarakat, cara


pengambilan keputusan yang dilakukan untuk mengadopsi sesuatu inovasi juga
akan mempengaruhi kecepatan adopsi. Tentang hal ini, jika keputusan adopsi
dapat dilakukan secara pribadi relatif lebih cepat dibandingkan pengambilan
keputusan berdasarkankeputusan bersama warga masyarakat yang lain, apalagi
jika harus menunggu peraturan-peraturan tertentu seperti: rekomendasi
pemerintah.

4. Saluran Komunikasi yang Digunakan

Inovasi dapat dengan mudah dan jelas dapat disampaikan lewat media masa,
atau sebaliknya jika kelompok sasarannya dapatdengan mudah menerima
inovasi yang disampaikan melalui media masa, maka proses adopsi akan

7
berlangsung relatif lebih cepat dibandingkan dengan inovasi yang harus
disampaikan lewat media antar pribadi.

5. Keadaan Penyuluh

Kecepatan adopsi ditentukan oleh aktivitas yang dilakukan oleh penyuluh,


khususnya tentang upaya yang dilakukan penyuluh untuk “mempromosikan”
inovasinya. Semakin rajin penyuluhnya menawarkan inovasi, proses adopsi
semakin cepat pula.

6. Ragam Sumber Informasi

Kecepatan adopsi inovasi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok


sasaran penyuluhan pada tiap tahapan adopsi sangat dipengaruhi oleh ragam
sumber informasi yang menyampaikannya. Dikemukakan oleh Lionberger
dalam Mardikanto (1993) beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan
mengadopsi inovasi ditinjau dari ragam golongan masyarakat yang meliputi:

a. luas usaha tani


b. tingkat pendapatan
c. keberanian mengambil resiko
d. umur
e. tingkat partisipasinya dalam kelompok/organisasi di luar
lingkungannya sendiri
f. aktivitas mencari informasi dan ide-ide baru
g. sumber informasi yang dimanfaatkan.

8
III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan

Karakteristik inovasi dibagi menjadi lima yaitu keuntungan relatif,


kompatabilitas, Kompleksitas, trialabilitas, dan observabilitas. Dari kelima masing-
masing karakteristik memiliki ciri tersendiri.

Laju adopsi adalah kecepatan relative suatu inovasi diadopsi oleh anggota-
anggota suatu sistem sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi
ialah sifat inovasi, sifat sasarannya, cara pengambilan keputusan, saluran
komunikasi yang digunakan, keadaan penyuluh, dan ragam sumber informasi.

9
DAFTAR PUSTAKA

Bearden, J.,Fuquay John W.1997.Applied Reproductoin Fourth Edition.


USA:Printice Hall, Inc.
Ban, AW Van Den. Dan HS. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta:
Kanisius.

Everett M. Rogers. 1983. Diffusion of Innovations. London: The Free Press.

Mardiyanto, 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Solo: UNS Press.


Samsudin. 1982. Dasar-Dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Bandung:
Angkasa Offset.

10