Anda di halaman 1dari 12

IDENTITAS BUKU

BUKU I
Psikologi Perkembangan Peserta Didik

Nama Pengarang : Dra. Desmita, M.Si


Tahun Terbit : 2010
Cetakan : ke-3
Halaman : ix + 314 halm
ISBN : 979-692-950-3
Penerbit : Remaja Rosdakarya
Kota terbit : Bandung

BUKU II

Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik)

Nama Pengarang : Dra. Enung Fatimah, M.M.


Tahun Terbit : 2010
Cetakan : ke-3
Halaman : x + 270 halm
ISBN : 979-730-819-7
Penerbit : CV Pustaka Setia
Kota terbit : Bandung

1
RINGKASAN ISI BUKU I
BAB VII
Perkembangan Masa Remaja ( Perkembangan Fisik dan Otak )

A. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris,
dan keterampilan motorik menurut Papalia & Olds, 2001 dalam Yudrik Jahja, 2011:231).
Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang
berdampak Menurut Zigler & Stevenson, 1993 dalam Desmita (2009:190), secara garis
besarnya perubahan-perubahan tersebut dapat dikelompokan dalam dua kategori, yaitu
perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik dan perubahan-
perubahan yang berhubungan dengan perkembangan karakteristik seksual. Berikut ini akan
dijelaskan beberapa dimensi perubahan fisik yang terjadi selama masa remaja tersebut.

1. Perubahan Dalam Tinggi Dan Berat


Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12 tahun adalah sekitar 59
atau 60 inci. Tetapi, pada usia 18 tahun, tinggi rata-rata remaja laki-laki adalah 69 inci.
Tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada usia sekitar 11 atau 12 untuk anak perempuan dan
2 tahun kemudian untuk anak laki-laki. Dalam tahun itu, tinggi kebanyakan anak perempuan
bertambah sekitar 3 inci dan tinggi kebanyakan anak lelaki bertambah lebih dari 4 inci (Zigler
& Stevenson, 1993 dalam Desmita, 2009:191).
Ada pun faktor penyebab laki-laki rata-rata lebih tinggi dari pada perempuan adalah
karena laki-laki memulai percepatan pertumbuhan mereka 2 tahun lebih lambat dibanding
dengan anak perempuan. Dengan demikian, mereka mengalami penambahan pertumbuhan
selama 2 tahun pada masa anak-anak. Tinggi rata-rata anak perempuan pada saat ia memulai
percepatan pertumbuhan adalah sekitar 54 atau 55 inci, sedangkan tinggi rata-rata anak laki-
laki adalah sekitar 59 atau 60 inci.

2. Perubahan dalam Porsi Tubuh


Seiring dengan pertambahan berat badan, percepatan pertumbuhan selama masa
remaja juga terjadi pada proporsi tubuh. Bagian-bagian tubuh tertentu yang sebelumnya
terlalu kecil, pada masa remaja menjadi terlalu besar. Hal ini terlihat jelas pada pertumbuhan
tangan dan kaki, yang sering terjadi tidak proporsional. Perubahan proporsi tubuh tidak
seimbang ini menyebabkan remaja merasa kaku dan canggung, serta khawatir bahwa

2
badannya tidak akan pernah serasi dengan tangan dankakinya. Perubahan-perubahan dalam
proporsi tubuh selama masa remaja, juga terlihat pada perubahan ciri-ciri wajah, di mana
wajah anak-anak mulai menghilang, seperti dahi yang semula sempit sekarang menjadi lebih
luas, mulut melebar, dan bibir menjadi lebih penuh. Di samping itu, dalam perubahan struktur
kerangka, terjadi percepatan pertumbuhan otot, sehingga mengakibatkan terjadinya
pengurangan julah lemak dalam tubuh. Perkembangan otot dari kedua jenis kelamin tejadi
dengan cepat ketika tinggi meningkat. Akan tetapi, perkembangan otot anak laki-laki lebih
cepat, dan mereka memiliki lebih banyak jaringan otot, sehingga anak laki-laki lebih kuat
dari anak perempuan.

3. Perubahan Pubertas
Pubertas (Puberty) ialah suatu periode di mana kematangan kerangka dan seksual
terjadi dengan pesat terutama pada masa awal remaja. Kematangan seksual merupakan suatu
rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan
perubahan pada ciri-ciri seks primer (Primary sex Characteristics) dan ciri-ciri seks
sekunder (Secondary Sex Characteristics).Meskipun perkembangan ini biasanya mengikuti
suatu urutan tertentu, namun ururtan dari kematangan seksual tidak sama pada setiap anak,
dan terdapat perbedaan individual dalam umur dari Perubahan-perubahan tesebut.

4. Perubahan Ciri-ciri Seks Primer (Primary Sex Characteristics)


Ciri-ciri seks primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan
dengan proses reproduksi. Ciri-ciri seks primer ini berbeda antara laki-laki dengan anak
perempuan. Bagi anak laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat ditunjukan dengan
pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan (penis) dan kantung
kemaluan (Scrotum), yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5
tahun untuk penis dan 7 tahun untuk skrotum (Seifert & Hoffnung, 1994 dalam Desmita,
2009:192). Sprema yaang dihasilkan dalam testis selama masa remaja ini, memungkinkan
untuk mengadakan reproduksi untuk pertama kalinya. Karena itu, kadang-kadang sekitar usia
12 tahun, anak laki-laki kemungkinan untuk mengalami penyemburan air mani (Ejaculation
of Semen) mereka yang pertama atau yang dikenal dengan “Mimpi Basah”.
Sementara itu, pada anak perempuan, perubahan ciri-ciri seks primer ditandai dengan
munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan Menarche, yaitu menstruasi yang
pertama kali dialami oleh seorang gadis. Tejadinya menstruasi petama ini memberi petunjuk
bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga memungkinkan

3
mereka untuk mengandung dan melahirkan anak. Munculnya menstruasi pada perempuan ini
sangat di pengaruhi oleh perkembangan indung telur (ovarium). Ovarium terletak dalam
rongga perutwanita bagian bawah, di dekat uterus, yang berfungsi memproduksi sel-sel telur
(ovum) dan hormon-hormon estrogen dan progeteron.
Oleh sebab itu, menstruasi pertama pada seorang gadis didahului oleh sejumlah
perubahan lain, yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut di sekitar daerah
kelamin, pembesaran pinggul dan bahu. Selanjutnya, maka ovarium, uterus, vagina, labia,
dan klitoris berkembang pesat (Malina, 1990 dalam Desmita, 2009:193).

5. Perubahan Ciri-ciri Seks Sekunder


Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung
berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang membedakan
antara laki-laki dan perempuan. Tanda-tanda jasmaniah ini muncul sebagai konsekuensi dari
berfungsinya hormon-hormon yang disebutkan di atas. Di antara tanda-tanda jasmaniah yang
telihat pada laki-laki adalah tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu, dan dada melebar, suara
berat, tumbuh bulu di ketiak, dada, kaki dan lengan dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot
menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul yang membesar,
suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan.

Perubahan fisik, proporsi tubuh serta kematangan seksual berdampak pada


perkembangan fisik yang berpengaruh kepada psikologis peserta didik. Ditambah dengan
perkembangan motorik anak usia sekolah yang cenderung cepat sehingga bepengaruh
terhadap karakter peserta didik. Peserta didik pada usia sekolah berada didalam masa
pubertas yaitu tahapan menuju tingkat kedewasaan. Pada masa ini peserta didik akan
dibimbing dan ditempa dengan berbagai pengalaman untuk membentuk individu dengan
tingkat perkembangan fisik dan perkembangan mental yang cukup untuk dikatakan dewasa.
Perkembangan fisik sendiri masih menjadi perdebatan tentang isu nature atau
nurture . disinilah ahli berdebat tentang factor dominan perkembangan apakh dikarenakan
gen yang didapat dari orang tua yang diwariskan kepada dirinya atau dikarenakan pengaruh
lingkungan tempat peserta didik tumbuh dan berkembang. Namun terdapat sebuah
generalisasi bahwa kedua isu mendapat peran yang penting karena implikasinya terhadap
pendidikan. Guru harus menyikapi beberapa hal dalam perkembangan yaitu memahami dan
menghargai perbedaan individual anak, menyadari bahwa sebenarnya factor lingkungan
sangat mempengaruhi setiap aspek perkembangan dan mendorong siswa menentukan pilihan
sendiri untuk meningkatkan pertumbuhan.

4
B. Perkembangan Otak
Selain perkembangan fisik, perkembangan otak sebagai pusat sentral segala aktivitas
di tubuh manusia juga harus mendapat perhatian. Otak adalah pengatur segala aktivitas sadar
maupun non sadar tubuh yang mulai berkembang sejak dimasa kehamilan. Untuk itulah
perkembangan otak sudah mulai harus diperhatikan oleh orang tua sejak masa kehamilan.
Dalam implikasinya terhadap pendidikan, seorang guru dituntut untuk tidak menjejalkan
secara paksa pengetahuan kedalam otak peserta. Cara tersebut justru akan mematikan
kecerdasan otak. Dengan pendekatan yang lembut dengan metode yang lebih menitikberatkan
melatih kemampuan otak untuk berpikir kreatif menggali pengetahuan sendiri dengan
bimbingan guru secara perlahan tentunya akan lebih baik.

C. Peran Guru dan Orangtua dalam Membantu Mengembangkan Fisik dan Otak
Remaja usia Sekolah Menengah

 Peran Guru
1. Sebagai orang tua, yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2. Memberi jam olahraga bagi anak didik.
3. Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik
sesuai minat, kemampuan dan bakatnya.
4. Mengembangkan kreativitas peserta didik.
5. Sebagai transformer dan katalisator.

 Peran Orang Tua


1. Memberi makanan yang sehat dan bergizi.
2. Anak-anak diajarkan untuk belajar secara rutin, tidak hanya belajar saat mendapat
pekerjaan rumah dari sekolah atau akan menghadapi ulangan. Dan diberikan
pengertian kapan anak-anak mempunyai waktu untuk bermain.
3. Memantau perkembangan kemampuan akademik anak.
4. Memberikan Pengetahuan Seksual kepada si anak.
5. Memantau perkembangan fisik dan otak anak.
6. Orang tua dapat menanyakan aktifitas yang dilakukan anak mereka selama berada di
sekolah. Dan tugas-tugas apa saja yang diberikan oleh guru mereka.

5
RINGKASAN ISI BUKU II
BAB III
Perkembangan Fisik dan Otak Remaja

Pertumbuhan fisik yang terjadi pada masa remaja yaitu perubahan ukuran tubuh,
proporsi tubuh, ciri kelamin yang utama dan ciri kelamin yang kedua. Sedangkan perubahan
fisik selama masa remaja meliputi dua hal, yaitu percepatan pertumbuhan dan proses
kematangan seksual. Pertumbuhan fisik dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
pengaruh keluarga, gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, dan status social.

A. Karakteristik Perkembangan Fisik Peserta Didik


1. Masa Pubertas (usia 10 hingga 14 tahun)
Pada akhir usia sekolah anak segera memasuki masa yang disebut dengan “pubertas”,
yakni masa awal terjadinya pematangan seksual. Sulit membedakan antara masa puber
dengan masa remaja karena, masa puber adalah bagian dari masa remaja dan pubertas sering
dijadikan pertanda awal seseorang memasuki masa remaja. Waktu datangnya masa pubertas
tidak dapat diketahui secara pasti. Ada anak-anak yang memulai masa pubertasnya pada usia
yang lebih awal dan ada pula yang belakangan. Biasanya, anak perempuan memasuki masa
pubertas lebih awal 2 tahun dibandingkan anak laki-laki. Menurut sejumlah ahli
perkembangan pada anak perempuan pubertas terjadi sekitar usia 10 tahun, sedangkan pada
anak laki-laki terjadi pada usia sekitar 12 tahun.
2. Perubahan fisik
Pada masa pubertas terjadi perubahan fisik secara dramatis atau apa yang disebut
dengan (growth spurt) yaitu percepatan pertumbuhan, dimana terjadi perubahan dan
percepatan pertumbuhan diseluruh bagian dan dimensi fisik (Zigler & Stevenson, 1993), baik
pertambahan berat dan tinggi badan, perubahan dalam proporsi dan bentuk tubuh, maupun
pencapaian kematangan seksual (Papalia, Old & Feldman, 2008).
3. Proporsi Tubuh
Seiring dengan pertambahan tinggi dan berat badan, percepatan pertumbuhan selama
masa pubertas juga terjadi pada proporsi tubuh. Bagian-bagian tubuh tertentu yang
sebelumnya teralalu kecil, pada masa pubertas menjadi terlalu besar. Hal ini terlihat jelas
pada pertumbuhan tangan dan kaki, yang sering terjadi tidak proporsional. Perubahan
proporsi tubuh yang tidak seimbang ini menyebabkan anak merasa kaku dan canggung, serta
khawatir bahwa badannya tidak akan pernah serasi dengan tangan dan kakinya.

6
4. Kematangan Seksual
Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan fisik yang
terjadi pada masa pubertas, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks primer
(primary sex characteristics) dan ciri-ciri seks sekunder (secondary sex characteristics).
 Perubahan Ciri-Ciri Seks Primer
Ciri-ciri seks primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan
dengan proses reproduksi. Sekitar usia 12 tahun anak laki-laki kemungkinan untuk
mengalami penyemburan air mani (ejaculation of semen) mereka ynag pertama atau
yang dikenal juga dengan istilah “mimpi basah”. Sementara itu, pada anak perempuan
perubahan ciri-ciri seks primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang
disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang
gadis.
 Perubahan Ciri-Ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung
berhubungan dengan proses reproduksi, tetapi merupakan tanda-tanda yang
membedakan laki-laki dan perempuan. Seperti tumbuhnya jakun, kumis dan dada
melebar pada laki-laki. Sedangkan pada perempuan terlihatnya payudara dan panggul
yang membesar.
5. Perkembangan Motorik Anak Usia Sekolah Dasar
Pada usia sekolah, perkembangan motorik anak lebih halus, lebih sempurna, dan
terkoordinasi dengan baik, seiring dengan bertambahnya berat dan kekuatan badan anak.
Pada usia 10 hingga 12 tahun, anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan-keterampilan
manipulatif menyerupai kemampuan-kemampuan orang dewasa.
6. Masa Pubertas
Ketika anak memasuki masa pubertas, sebenarnya ia telah memiliki kemampuan
motorik dasar, baik motorik kasar maupun motorik halus sebagai modal utama dalam
mengikuti berbagai aktivitas disekolah. Pada masa pubertas kekuatan otot anak akan berlipat
ganda seiring dengan semakin banyaknya jumlah sel-sel otot baru yang dibentuk jumlahnya
lebih banyak dari pada anak perempuan, sehingga tidak heran kalau anak laki-laki biasanya
lebih kuat dibandingkan dengan anak perempuan.

7
B. Perkembangan Intelek pada Remaja
Perkembangan intelek menggambarkan kemampuan seseorang dalam berpikir dan atau
bertindak. Dipengaruhi oleh faktor pengalaman dari sekolah dan lingkungan. Dengan
mengetahui perkembangan intelek remaja maka guru perlu memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengadakan diskusi serta memberikan tugas dan tidak membatasi pengetahuan
mereka.

C. Peran Sekolah dan Orangtua dalam Membantu Mengembangkan Fisik dan


Otak Remaja usia Sekolah Menengah

Joyce Epstein mengusulkan rekomendasi berikut untuk meningkatkan orang tua


dalam pendidikan remaja di sekolah:
 Keluarga memiliki kewajiban dasar untuk memberikan rasa aman dan kesehatan bagi
remajanya. Banyak orang tua tidak mengetahui perubahan-perubahan normal yang
terjadi di usia remaja. Program sekolah-keluarga dapat membantu dalam mendidik
orang tua mengenai rangkaian perkembangan remaja yang normal. Sekolah juga dapat
menawarkan program-program yang berkaitan dengan isu-isu kesehatan di masa
remaja, termasuk infeksi yang ditularkan secara seksual, depresi, obat terlarang,
kenakalan remaja, dan gangguan makan. Sekolah juga dapat membantu orang tua
dalam menemukan tempat yang aman bagi remaja ketika mereka menggunakan
waktunya di luar rumah. Sekolah merupakan komunitas yang dapat dimanfaatkan
sebagai tempat organisasi remaja dan agen layanan sosial.
 Sekolah memiliki kewajiban dasar untuk mengkomunikasikan dengan keluarga siswa
mengenai program-program sekolah dan kemajuan yang diraih oleh siswa
remaja. Guru dan orang tua jarang sekali mengenal selama di sekolah menengah.
Oleh karena itu guru yang lebih langsung dan personal, perlu dilakukan. Orang tua
juga perlu memperoleh informasi yang lebih baik mengenai pilihan-pilihan mata
pelajaran dalam kurikulum akan menghasilkan pilihan-pilihan karir. Secara khusus
hal ini diperlukan bagi para siswa perempuan dan etnis minoritas yang mengikuti
mata-pelajaran ilmu pengetahuan dan matematika.
 Orang tua perlu meningkatkan keterlibatannya di sekolah. Orang tua dan anggota
keluarga lain dapat membantu guru di kelas melalui berbagai cara seperti melakukan
tutoring, mengajarkan keterampilan tertentu, memberikan bantuan klerikal atau
pemantauan. Keterlibatan semacam itu sangat dibutuhkan di sekolah-sekolah pusat
kota.
8
 Orang tua perlu didorong untuk lebih terlibat dalam kegiatan belajar remaja di
rumah. Sekolah-sekolah menengah sering kali membangkitkan keprihatinan orang tua
mengenai keahlian dan kemampuan yang diperlukan agar dapat membantu anak-anak
remajanya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. “Matematika Keluarga” dan
“Komputer Keluarga” merupakan contoh dari program-program yang telah
dikembangkan oleh beberapa sekolah menengah untuk meningkatkan keterlibatan
orang tua dalam kegiatan belajar remajanya (Jonh W. Santrock Jilid 2; 2007; 118).

9
KRITISI BUKU

Buku I
Kelebihan :
1. Buku karya Desima dikemas dengan baik dan memberi pengetahuan yang lengkap
mengenai Psiologi Perkembangan Peserta Didik.
2. Buku ini sangat cocok untuk mahasiswa pendidikan sebagai pedoman belajar dan
untuk menjadi guru nantinya.
3. Bahasa yang digunakan pada buku ini baik dan mudah diahami.
4. Buku ini merupakan edisi revisi sehingga sangat minim dari kesalahan pengetikan
maupun sitematis penulisan, ini merupakan kelebihan dari sebuah buku.
Kelemahan :
1. Buku ini memang memberi informasi namun terdapat beberapa kata yang sulit
dipahami pada beberapa contoh yang disajikan.

Buku II
Kelebihan :
1. Buku karangan Enung Fatimah ini juga cukup baik untuk dijadikan bahan sumber
belajar bagi mahasiswa calon pendidik, dimana isi dari buku ini ialah mengenai
perkembangan psikologi anak didik.
2. Bahasa dalam buku ini mudah dimengerti.

Kelemahan :
1. Bila dibanding buku pertama, buku ini kurang lengkap materinya terutama tentang
perkembangan otakremaja usia menengah.
2. Isi dari buku ini tidak didukung dengan ilustrasi gambar.

10
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
 Kesimpulan yang dapat saya tarik dari kedua buku ini ialah bahwa setiap manusia
mengalami perkembangan baik pada fisik dan otak, kepribadia, moral, bahasa, dan
emosi terutama bagi kaum remaja usia sekolah menengah. Dalam perkembangannya,
guru dan orangtua sangat berperan penting, baik atau buruknya perkembangan itu
sebagian besar ditentukan oleh peran orangtua maupun keluarga dan guru
dilingkungan sekolah.
 Kedua buku ini sangat tepat bagi mahasiswa calon pendidik sebagai pedoman ketika
berperan guru dan orangtua nantinya.

B. Saran
Saran dari saya ialah supaya kita sebagai mahasiswa pendidikan yang nantinya akan jadi
guru dapat mempelajari kedua buku yang saya kritik, semoga isi dari critical book saya
ini dapat bermanfaat pula bagi siapapun yang membacanya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Remaja Rosdakarya


Fatimah, Enung. 2010.Psikologi Perkembangan. Bandung : CV Pusaka Setia

12