Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

MANAJEMEN TERNAK PERAH


“Manajemen Pakan pada Sapi Perah”

Oleh:
Kelompok: 7
Kelas: B

Farhan Faozi 200110160042


Dandin Fri Setia 200110160227
Giri Wahyu Pradana 200110160228
Asyhari Jumatus Syawal 200110160229
Gelar Abifadilla 200110160230
Achamad Nurfaizi 200110160231

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-

Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat

menyelesaikan Tugas mata kuliah Manajemen Ternak Perah. Kemudian shalawat

beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang

telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan

umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Manajemen Ternak

Perah dengan judul “Manajemen Pakan pada Sapi Perah”. Selanjutnya kami

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya Ir. Lia Budimulyati Salman

M.P. selaku dosen mata kuliah Manajemen Ternak Perah tidak lupa kepada

segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama pembuatan

makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada

pembaca. Kami menerima kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan

laporan ini, supaya dalam pembuatan laporan berikutnya jauh lebih sempurna.

Sumedang, 9 Oktober 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL iii

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 5


1.2 Identifikasi Masalah 5
1.3 Maksud dan Tujuan 6

II PEMBAHASAN

2.1 Upaya Penyediaan Pakan Sepanjang Tahun 7


2.2 Complete feed Sebagai Solusi Pemberian Pakan
Pada Sapi Perah di Indonesia 12
2.3 Manajemen Pemberian Pakan pada Sapi Perah 23

III KESIMPULAN 33

DAFTAR PUSTAKA 34

iii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kandungan Nutrisi Beberapa Bahan Pakan 8

2. Komposisi Pakan Komplit (Complete feed) Sapi Perah 21

3. Kandungan Nutrisi Pakan Komplit (Complete feed)

Sapi Perah 21

4. Komposisi susu pengganti (milk replacement) 27

iv
I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam sebuah peternakan.
Biaya untuk pakan sebesar 70-80% dari biaya produksi, sehingga dirasa perlu
adanya perhatian dalam persedian pakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kebutuhan pokok konsumsi tanaman hijauan untuk setiap harinya berkisar 10%
dari berat badan ternak, sehingga dirasaperlu untuk meningkatkan produktivitas
suatu lahan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.
Aspek penting yang harus dipahami dalam beternak sapi perah adalah
pakan. Pakan ternak perah adalah bahan – bahan yang dapat diberikan kepada
ternak perah, sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu
kesehatan, dengan tujuan selain untuk kelangsungan hidup secara normal juga
diharapkan dapat mengoptimalkan produksi.
Oleh karena itu program penyediaan pakan sapi perah yang baik sangat
diperlukan, untuk meningkatkan keuntungan dari produksi yang dihasilkan agar
hasil yang diperoleh seoptimal mungkin diperlukan susunan ransum yang
seimbang, artinya ransum yang mengandung semua zat-zat makanan yang
diperlukan dalam keadaan yang serba cukup dan satu dengan lainnya berada
dalam imbangan yang tepat. Dengan demikian dibuatlah makalah tentang
“Manajemen Pakan pada Sapi Perah”.

1.2 Identifikasi Masalah


1) Bagaimana upaya penyedian pakan sepanjang tahun?
2) Bagaimana completed feed sebagai solusi pemberian pakan pada sapi
perah di Indonesia?
3) Bagaimana manajemen pemberian pakan pada sapi perah?

5
1.3 Maksud dan Tujuan
1) Untuk mengetahui upaya penyedian pakan sepanjang tahun.
2) Untuk mengetahui completed feed sebagai solusi pemberian pakan pada
sapi perah di Indonesia.
3) Untuk mengetahui manajemen pemberian pakan pada sapi perah.

6
II
PEMBAHASAN

2.1 Upaya Penyediaan Pakan Sepanjang Tahun


2.1.1 Penyedian Hijauan Untuk Sapi Perah
Pakan adalah bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah
maupun yang tidak diolah, yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan
hidup, berproduksi, dan berkembang biak. Pakan merupakan faktor utama dalam
keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan
tatalaksana. Pakan yang berkualitas akan sangat mendukung peningkatan produksi
maupun reproduksi ternak (Anggorodi, 1985).
Sukria dan Krisna (2009) menyatakan bahwa komposisi kimia bahan
makanan ternak sangat beragam karena bergantung pada varietas, kondisi tanah,
pupuk, iklim, lama penyimpanan, waktu panen dan pola tanam. Pengaruh iklim
dan kondisi ekologi sangat menentukan ketersediaan hijauan sebagai pakan ternak
di suatu wilayah sehingga hijauan makanan ternak tidak dapat tersedia sepanjang
tahun. Pada musim penghujan produksi hijauan berlimpah dan sebaliknya di
musim kering atau kemarau hijauan sebagai sumber pakan ternak harus
menghilang. Ketersediaan hijauan secara kuantitas dan kualitas juga dipengaruhi
oleh pembatasan lahan tanaman pakan karena penggunaan lahan untuk tanaman
pakan masih bersaing dengan tanaman pangan.
Menurut Prihadi (2003), hijauan yang berasal dari rumput dan daun-
daunan yang berkualitas bagus, akan menjadikan sapi hanya dapat berproduksi
70% dari kemampuan yang seharusnya. Walaupun demikian rumput dan daun-
daunan merupakan pakan dasar bagi sapi perah karena harganya relatif murah.
Makanan kasar berupa hijauan sangat diperlukan ternak ruminansia karena
mengadung serat kasar tinggi yang berperan merangsang kerja rumen dan
menentukan kadar lemak susu.
Produksi tinggi membutuhkan energi yang tinggi, sehingga harus tersedia
nutrien terlarut pada substrat yang dapat menghasilkan asam lemak terbang dalam

7
bentuk propionat dalam proporsi yang lebih tinggi. Produksi gas dari
pembentukan asam propionat lebih tinggi dibandingkan asam asetat. Produksi gas
terjadi secara langsung dari fermentasi karbohidrat dan secara tidak langsung dari
proses buffering. Hijauan berupa P. purpureum, P. maximum, C. muconoides, dan
P. phaseoloides sangat baik untuk dikembangkan pada peternakan sapi perah hal
ini disebabkan kandungan nutrient dan produksi Bahan kering (BK) yang cukup
tinggi.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Beberapa Bahan Pakan
DE
BK SK PK TDN
Nama Hijauan Mcal/ Produksi BK
(%) (%) (%) (%)
Kg
P. purpureum 18 33 9,1 51 2,25 26 ton/ha
P. maxsimum 24 33,6 8,8 53 2,32 26,6-36 ton/ha
C. muconoides 30 34 14,7 58 2,54 13,55 ton/ha
P. phaseoloides 23 34,6 19,2 60 2,64 19,7 ton/ha
Sumber: Hartadi 2005; Resohadiprodjo 1985.

Untuk menyediakan hijauan pakan ternak sepanjang tahun perlu dilakukan


manajemen tanaman pakan ternak secara tepat . Tanaman pakan ternak yang dapat
diupayakan antara lain adalah rumput unggul dan leguminosa pohon atau perdu
yang dapat beradaptasi pada kondisi iklim wilayah tertentu . Sedapat mungkin
jenis jenis rumput dan leguminosa tersebut tersebar baik pada musim hujan
maupun kemarau. Pola penanaman hijauan pakan-ternak melalui sistem tiga strata
atau pola lorong dapat dikembangkan sebagai suatu cara untuk tetap dapat
menyediakan hijauan pakan ternak sepanjang tahun . Pola pertanaman dengan
sistem tiga strata (STS) antara lain telah berhasil meningkatkan penyediaan pakan
ternak dan baitkan meningkatkan produksi ternak serta mengurangi erosi tanah.
Pemarifaatan lahan pekarangan, pinggir -jalan, maupun lahan perkebunan dan
kehutanan yang masih memungkinkan untuk hijauan pakan ternak perlu
dikembangkan. Manajemen pemanenan hijauan harus diupayakan agar tidak

8
menghambat, pertumbuhan kembali tanaman hijauan pakar tersebut; antara lain
perlu memperhatikan frekuensi pemanenan, umur pemanenan serta tatalaksana.
Cara pemanfaatan hijauan pakan adalah sebagai berikut:
a. Segar
Pemanfaatan hijauan pakan dalam bentuk segar merupakan cara yang
banyak dilakukan peternak apabila produksi hijauan mencukupi kebutuhan . Pada
musim hujan dimana ketersediaan rumput cukup tinggi, ternak dapat diberikan
pakan dalam bentuk segar dengan kandungan air yang cukup tinggi. Namun, hal
ini akan mempenganihi total konsumsi bahan kering sehingga harus diperhatikan
agar kebutuhan bahan kering dapat terpenuhi. Untuk pemberian hijauan
leguminosa perlu disesuaikan dengan sifat fisika-kimia yang dimiliki oleh
'masing-masing hijauan . Tingkat degradabilitas dan kecernaan komponen protein
dalam hijauan leguminosa ternyata dipenganlhi oleh kondisi segar, layu atau
kering (Winugroho, 1997) .
Untuk menjamin ketersediaan hijauan segar, baik pada musim kemarau
maupun hijauan, perlu dilakukan pola tanam dan panen yang tepat. Penanaman
leguminosa potion untuk dimanfaatkan pada musim kemarau hendaknya dipilih
jenisjenis legulnlnosa yang bahan kekurangan air, antara lain Gliricidia sp,
Calhandra sp, Sesbanin sp clan Leucaena sp. Kaliandra sebaiknya diberikan dalam
bentuk segar sedangkan lainnya dapat diberikan dalam bentuk segar maupun layu.
b. Awetan
Pengawetan hijauan pakan ternak untuk mengantisipasi kebutuhan pakan
pada musim kekurangan pakan sangat dianjurkan. Pada saat produksi hijauan
cukup tinggi dapat dilakukan pemanenan dan kemudian dikeringkan atau dibuat
silase sehingga dapat disimpan untuk digunakan pada waktu niasa stilit hijauan .
Masalah yang diliadapi dalani pengolahan/pengawetan hijauan pakan ternak
adalah diperlukannya proses pengeringan untuk mengurangi kadar air hijauan
sehingga tidak akan cepat rusak. Kelebilian produksi hijauan yang terjadi pada
musim hijauan menyebabkan pengeringan menggimakan sinar niatahari sangat
tergantung pada keadaan cuaca. Untuk mempercepat proses pengeringan

9
diperlukan alat pengering yang membutuhkan biaya untuk melakukannya. Selain
jerami padi, penyimpanan hijauan dengan cara pengeringan dengan alat belum
banyak dilakukan peternak.
c. Ensilase
Penyimpanan hijauan pakan ternak dalam bentuk silase memerlukan
adanya silo uniuk menanlpung kelebihan hijauan tersebut. Proses ensilase
meniefukan kondisi hijauan yang mempunyai kandungan air antara 40-60%,
sebelum ditutup dalam suasana anaerob. Adopsi teknik pembuatan silase di
Indonesia pada peternakan rakyat masih rendah. Pada kondisi peternak skala
perusahaan besar, tingkat kerusakan dalam pembuatan silase biasanya berkisar
antara 5-10% dari bahan kering. Untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya
hijauan yang terdapat di wilayah tertentu memerlukan pengenalan potensi tersebut
sehingga penjadwalan ketersediaan hijauan maupun limbah tanaman pangan yang
disesuaikan dengan pola usaha tani tanaman pangan, perkebunan atau kehutanan.
Dilihat dari jenisnya, Devendra (1993) membagi hijauan pakan menjadi
empat kategori, yaitu forages, crop residues, agroindustrial by-products dan non-
conventional feeds. Di Indonesia penggolongan hijauan akan yang lazim adalah
rumput lokal, rumput introduksi, leguminosa pohon, leguminosa perdu, sisa hasil
tanaman pangan dan hasil ikutan pertanian. Kebanyakan sisa hasil tanaman
pangan mengandung serat kasar yang tinggi sedangkan kandungan protein
kasarnya rendah. Namun untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan pada musim
kemarau sisa hasil dan hasil ikutan tanaman ini sangat penting untuk diperhatikan.
Keberlanjutan pasokan hijauan pakan sangat tergatung pada berbagai faktor,
seperti musim, agroekosistem, populasi ternak ruminansia dan pengelolaannya.
Dengan demikian bagi peternak yang menginginkanternaknya sepanjang tahun,
faktor-faktor tersebut di atas harus menjadi perhatian.
Pengelolaan hijauan pakan ternak yang baik akan dapat menjamin pasokan
hijauan pakan sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun pada musim
kemarau. Beberapa metode yang dapat diterapkan pada peternakan sapi perah di
Indonesia adalah: sistem tiga strata, pertanaman lorong (alley cropping), tanaman

10
pagar (hedgerow cropping) dan tanaman penguat teras. Keempat cara ini
memerlukan pengelolaan yang berbeda satu sama lain. Beberapa di antaranya
tidak dikhususkan untuk produksi hijauan pakan tetapi untuk keperluan lain,
misalnya untuk konservasi tanah.

2.1.2 Penyediaan Konsentrat Sapi Perah


Konsentrat merupakan bahan pakan atau campuran bahan pakan yang
mengandung serat kasar kurang dari 18 persen, TDN lebih dari 6 persen, dan
berperan menutup kekurangan nutrien yang belum terpenuhi dari hijauan.
Konsentrat adalah pakan yang mengandung nutrien tinggi dengan kadar serat
kasar rendah. Konsentrat atau pakan penguat adalah terdiri dari biji-bijian dan
limbah hasil proses industri bahan pangan seperti jagung giling, tepung kedelai,
menir, dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes dan umbi. Peranan konsentrat adalah
untuk meningkatkan nilai nutrien yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal
hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat (Akoso, 1996).
Fungsi pakan konsentrat adalah memperkaya dan meningkatkan nilai gizi
pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah. Sehingga sapi yang sedang
tumbuh ataupun yang sedang dalam periode penggemukan harus diberikan pakan
penguat yang cukup, sedangkan sapi yang digemukan dengan sistem dry lot
fattening diberikan justru sebagian besar pakan berupa pakan berbutir atau
penguat (Sugeng, 1998).
Konsentrat dibedakan dua kelompok, yaitu konsentrat sumber enegi
(carbonaseous concentrate) dan konsentrat sumber protein (proteinaseous
concentrate). Carbonaseous concentrate merupakan konsentrat yang mengandung
energi tinggi, protein rendah dengan protein kasar kurang dari 20 persen dan serat
kasar 18 persen, sedangkan proteinaseous concentrate adalah konsentrat yang
mengandung protein tinggi dengan protein kasar lebih dari 2 persen
(Prawirokusumo, 1994).

11
2.2 Complete feed Sebagai Solusi Pemberian Pakan Pada Sapi Perah di
Indonesia
Secara umum complete feed adalah suatu teknologi formulasi pakan yang
mencampur semua bahan pakan yang terdiri dari hijauan (limbah pertanian) dan
konsentrat yang dicampur menjadi satu tanpa atau hanya dengan sedikit tambahan
rumput segar. Pakan komplit adalah ransum berimbang yang telah lengkap untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, baik untuk pertumbuhan, perawatan jaringan
maupun produksi (Pamuji, 2012).
Bahan untuk pembuatan complete feed adalah segala macam hijauan dan
bahan dari tumbuhan lainnya yang disukai oleh ternak seperti ; rumput, sorghum,
jagung, biji-bijian kecil, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang
nanas dan lain-lain.
1. Pakan siap pakai yang memiliki kandungan nutrisi lengkap.
2. Dengan complete feed peternak tidak lagi tergantung terhadap hijauan.
3. Dapat memberikan penambahan bobot badan optimal.
4. Peternak tidak lagi membutuhkan lahan yang luas untuk HMT.
5. Menekan biaya pakan dalam usaha peternakan sehingga akan menambah
pendapatan peternak lebih maksimal (Ramadani, 2010).
Secara umum Complete feed adalah suatu teknologi formulasi pakan yang
mencampur semua bahan pakan yang terdiri dari hijauan ( limbah pertanian ) dan
konsentrat yang dicampur menjadi satu tanpa atau hanya sedikit tambahan rumput
segar. Pakan Komplit adalah ransum berimbang yang telah lengkap untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, baik untuk pertumbuhan, perawatan jaringan
maupun produksi. Dalam pemberiannya, ransum ini tidak memerlukan tambahan
apapun kecuali air minum. Dengan pemberian pakan komplit, lebih praktis dan
sangat menghemat tenaga kerja serta petani tidak perlu lagi setiap hari mencari
rumput.

12
2.2.1 Kebutuhan Nutrisi Sapi Laktasi
Pemberian pakan secara individu pada sapi laktasi di kandang atau milking
parlor berubah mengarah ke sistem pemberian pakan yang baru. Meskipun
metode yang lebih baru tidak seefektif pemberian secara individual, sistem ini
lebih ekonomis daripada semua sapi diberi sejumlah konsentrat yang sama tanpa
memperhatikan produksi susu. Di samping itu, ada penghematan tenaga kerja dan
fasilitas. Yang paling baik perbaikan pemberian pakan mengkombinasikan "seni
dan ilmu pemberian pakan".
A. Phase Feeding
Phase Feeding adalah suatu program pemberian pakan yang dibagi ke
dalam periode-periode berdasarkan pada produksi susu, persentase lemak susu,
konsumsi pakan, dan bobot badan. Didasarkan pada kurva-kurva tersebut,
didapatkan 4 fase pemberian pakan sapi laktasi:
1. Fase 1, laktasi awal (early lactation), 0 - 70 hari setelah beranak.
Selama periode ini, produksi susu meningkat dengan cepat, puncak
produksi susu dicapai pada 4-6 minggu setelah beranak. Pada saat ini konsumsi
pakan tidak dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan (khususnya kebutuhan
energi) untuk produksi susu, sehingga jaringan-jaringan tubuh dimobilisasi untuk
memenuhi kebutuhan. Selama fase ini, penyesuaian sapi terhadap ransum laktasi
merupakan cara manajemen yang penting. Setelah beranak, konsentrat perlu
ditingkatkan 1-1,5 lb per hari untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang
meningkat dan meminimisasi problem tidak mau makan dan asidosis. Namun
perlu diingat, proporsi konsentrat yang berlebihan (lebih dari 60% BK ransum)
dapat menyebabkan asidosis dan kadar lemak yang rendah. Tingkat serat kasar
ransum tidak kurang dari 18% ADF, 28% NDF, dan hijauan harus menyediakan
minimal 21% NDF dari total ransum. Bentuk fisik serat kasar juga penting, secara
normal ruminasi dan pencernaan akan dipertahankan bila lebih dari 50% hijauan
panjangnya 1” atau lebih.
Kandungan protein merupakan hal yang kritis selama laktasi awal. Upaya
untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan PK selama periode ini membantu

13
konsumsi pakan, dan penggunaan yang efisien dari jaringan tubuh yang
dimobilisasi untuk produksi susu. Ransum dengan protein 19% atau lebih
diharapkan dapat me-menuhi kebutuhan selama fase ini. Tipe protein (protein
yang dapat didegradasi atau tidak didegradasi) dan jumlah protein yang diberikan
dipengaruhi oleh kandungan zat makanan ransum, metode pemberian pakan, dan
produksi susu. Sebagai patokan, yang diikuti oleh banyak peternak (di luar negeri)
memberikan 1 lb bungkil kedele atau protein suplemen yang ekivalen per 10 lb
susu, di atas 50 lb susu.
Bila zat makanan yang dibutuhkan saat laktasi awal ini tidak terpenuhi,
produksi puncak akan rendah dan dapat menyebabkan ketosis. Produksi puncak
rendah, dapat diduga produksi selama laktasi akan rendah. Bila konsumsi
konsentrat terlalu cepat atau terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak mau makan,
acidosis, dan displaced abomasum. Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat
makanan:
a. beri hijauan kualitas tinggi,
b. protein ransum cukup,
c. tingkatkan konsumsi konsentrat pada kecepatan yang konstan
setelah beranak,
d. tambahkan 1,0-1,5 lb lemak/ekor/hari dalam ransum,
e. pemberian pakan yang konstan, dan
f. minimalkan stress.

2. Fase 2, konsumsi BK puncak, 10 minggu kedua setelah beranak.


Selama fase ini, sapi diberi makan untuk mempertahankan produksi susu
puncak selama mungkin. Konsumsi pakan mendekati maksimal sehingga dapat
me-nyediakan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Sapi dapat mempertahankan
bobot badan atau sedikit meningkat. Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi
jangan melebihi 2,3% bobot badan (dasar BK). Kualitas hijauan tinggi perlu
disediakan, minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan (berbasis BK) untuk
mempertahankan fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal.

14
Untuk meningkatkan konsumsi pakan:
a. beri hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari,
b. beri bahan pakan kualitas tinggi,
c. batasi urea 0,2 lb/sapi/hari,
d. minimalkan stress,
e. gunakan TMR (total mix ration).
Problem yang potensial pada fase 2, yaitu:
a. produksi susu turun dengan cepat,
b. kadar lemak rendah,
c. periode silent heat (berahi tidak terdeteksi),
d. ketosis.

3. Fase 3, pertengahan - laktasi akhir, 140 - 305 hari setelah beranak


Fase ini merupakan fase yang termudah untuk me-manage. Selama periode
ini produksi susu menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan konsumsi zat
makanan dengan mudah dapat dipenuhi atau melebihi kebutuhan. Level pem-
berian konsentrat harus mencukupi untuk memenuhi kebutuhan produksi, dan
mulai mengganti berat badan yang hilang selama laktasi awal. Sapi laktasi
membutuhkan pakan yang lebih sedikit untuk mengganti 1 pound jaringan tubuh
daripada sapi kering. Oleh karena itu, lebih efisien mempunyai sapi yang me-
ningkat bobot badannya dekat laktasi akhir daripada selama kering.

4. Fase 4, periode kering, 45 - 60 hari sebelum beranak


Fase kering penting. Program pemberian pakan sapi kering yang baik
dapat meminimalkan problem metabolik pada atau segera setelah beranak dan
meningkatkan produksi susu selama laktasi berikutnya. Sapi kering harus diberi
makan terpisah dari sapi laktasi. Ransum harus diformulasikan untuk memenuhi
kebutuhannya yang spesifik: maintenance, pertumbuhan foetus, pertambahan
bobot badan yang tidak terganti pada fase 3. Konsumsi BK ransum harian
sebaiknya mendekati 2% BB; konsumsi hijauan minimal 1% BB; konsumsi

15
konsentrat bergantung kebutuhan, tetapi tidak lebih 1% BB. Setengah dari 1% BB
(konsentrat) per hari biasanya cukup untuk program pemberian pakan sapi kering.
Sapi kering jangan terlalu gemuk. Memberikan hijauan kualitas rendah, seperti
grass hay, lebih disukai untuk membatasi konsumsi. Level protein 12% cukup
untuk periode kering. Sedikit konsentrat perlu diberikan dalam ransum sapi kering
dimulai 2 minggu sebelum beranak, bertujuan:
a. mengubah bakteri rumen dari populasi pencerna hijauan seluruhnya
menjadi populasi campuran pencerna hijauan dan konsentrat;
b. meminimalkan stress terhadap perubahan ransum setelah beranak.
Kebutuhan Ca dan P sapi kering harus dipenuhi, tetapi perlu dihindari
pemberian yang berlebihan; kadang-kadang ransum yang mengandung lebih dari
0,6% Ca dan 0,4% P meningkatkan kejadian milk fever. Trace mineral, termasuk
Se, harus disediakan dalam ransum sapi kering. Juga, jumlah vitamin A, D. dan E
yang cukup dalam ransum untuk mengurangi kejadian milk fever, mengurangi
retained plasenta, dan meningkatkan daya tahan pedet.
Problem yang potensial selama fase 4 meliputi milk fever, displaced
abomasum, retained plasenta, fatty liver syndrome, selera makan rendah,
gangguan meta-bolik lain, dan penyakit yang dikaitkan dengan fat cow syndrome.
Manajemen kunci yang harus diperhatikan selama periode kering, meliputi:
a. observasi kondisi tubuh dan penyesuaian pemberian energi bila
diperlukan,
b. penuhi kebutuhan zat makanan tetapi cegah pemberian yang berlebihan,
perubahan ransum 2 minggu sebelum beranak, dengan menggunakan
konsentrat dan jumlah kecil zat makanan lain yang digunakan dalam
ransum laktasi,
c. cegah konsumsi Ca dan P yang berlebihan, dan
d. batasi garam dan mineral sodium lainnya dalam ransum sapi kering untuk
mengurangi problem bengkak ambing.

16
Pada waktu kering, kondisi tubuh sapi 2 atau 3, sedangkan saat beranak
3,5–4,0. Selama 60 hari periode kering, sapi diberi makan untuk mendapatkan
PBB: 120 - 200 lbs.

B. Challenge Feeding (Lead Feeding)


Challenge feeding atau lead feeding, adalah pemberian pakan sapi laktasi
sedemikian sehingga sapi ditantang untuk mencapai level produksi susu
puncaknya sedini mungkin pada waktu laktasi. Karena ada hubungan yang erat
antara produksi susu puncak dengan produksi susu total selama laktasi, penekanan
harus diberikan pada produksi maksimal antara 3 - 8 minggu setelah beranak.
Persiapan untuk challenge feeding dimulai selama periode kering;
a. sapi kering dalam kondisi yang baik,
b. transisi dari ransum kering ke ransum laktasi, mempersiapkan bakteri
rumen.
Setelah beranak challenge feeding dimaksudkan untuk meningkatkan pemberian
konsentrat beberapa pound per hari di atas kebutuhan sebenarnya pada saat itu.
Maksudnya adalah memberikan kesempatan pada setiap sapi untuk mencapai
produksi puncaknya pada atau dekat potensi genetiknya.
Waktu beranak merupakan pengalaman yang sangat traumatik bagi sapi
yang berproduksi tinggi. Akibatnya, banyak sapi tertekan selera makannya untuk
beberapa hari setelah beranak. Sapi yang berproduksi susu sangat tinggi tidak
dapat mengkonsumsi energi yang cukup untuk mengimbangi energi yang
dikeluarkan. Konsekuensinya, sapi akan melepaskan cadangan lemak dan protein
tubuhnya untuk suplementasi ransumnya. Tujuan dari pemberian pakan sapi yang
baru beranak adalah untuk menjaga ketergantungannya terhadap energi dan
protein yang disimpan, sekecil dan sesingkat mungkin. Penolakan makanan
merupakan ancaman yang besar, sangat perlu dicegah.
Challenge feeding membantu sapi mencapai produksi susu puncaknya
lebih dini daripada yang seharusnya, sehingga keuntungan yang dapat diambil

17
adalah bahwa pada saat itu secara fisiologis sapi mampu beradaptasi terhadap
produksi susu tinggi.

C. Corral (Group) Feeding (Pemberian pakan (group) di kandang)


Pemberian pakan secara individual pada sapi-sapi laktasi sudah mengarah
ke mechanized group feeding. Hal ini dikembangkan untuk kenyamanan dan
penghematan tenaga kerja, dibandingkan ke feed efficiency. Saat ini, peternakan
dengan beberapa ratus sapi laktasi adalah biasa, dan beberapa peternakan bahkan
memiliki beberapa ribu ekor. Untuk merancang program nutrisi sejumlah besar
ternak, dapat diadaptasikan terhadap kebutuhan spesifik sapi-sapi perah, sapi-sapi
dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan produksi (dan kebutuhan
nutrisi).
Bila produser memutuskan pemberian pakan secara kelompok, perlu
ditentukan jumlah kelompok yang akan diambil. Untuk menentukan jumlah
kelompok tersebut pertimbangan perlu diberikan pada hal-hal berikut:
a. besar peternakan (herd size),
b. tipe dan harga bahan pakan,
c. tipe perkandangan, pemberian pakan, dan sistem pemerahan
d. integrasi ekonomi secara keseluruhan dari operasional, sebagai contoh
tenaga kerja, mesin-mesin peralatan, dan lain-lain.
Pada peternakan besar (lebih dari 250 sapi perah laktasi), sistem yang
biasa digunakan adalah minimal dibentuk 5 kelompok:
1. sapi-sapi produksi tinggi (90 lb. susu/ekor/hari).
2. sapi-sapi produksi medium (65 lb. susu/ekor/hari).
3. sapi-sapi produksi rendah (45 lb susu/ekor/hari).
4. sapi-sapi kering.
5. sapi-sapi dara beranak pertama.
Lebih banyak kelompok dapat dilakukan pada peternakan yang sangat
besar bila kandang dan fasilitas tersedia. Karena pertimbangan pemberian pakan
dan sosial, disarankan maksimal 100 ekor sapi per kelompok. Melalui sistem ini

18
setiap kelompok diberi makan menurut kebutuhannya. Kelompok dengan
produksi tinggi harus diberi makan yang mengandung zat-zat makanan kualitas
tertinggi pada tingkat maksimal. Sapi produksi medium harus diberi makan
sedemikian sehingga dapat mengurangi biaya pakan, meningkatkan kadar lemak,
memperbaiki fungsi rumen, mempertahankan persistensi. Sapi produksi rendah
sebagaimana untuk produksi medium hanya perlu dipertimbangkan untuk
menghindari kegemukan yang berlebihan.
Keuntungan pemberian pakan berkelompok dan complete feed adalah:
1. produser dapat menggunakan formulasi khusus yang penting untuk ternak
2. mengeliminasi kebutuhan penyediaan mineral ad libitum
3. konsumsi ransum yang tepat
4. difasilitasi pemberian pakan secara mekanis, sehingga mengurangi tenaga
kerja yang dibutuhkan
5. mengeliminasi problem yang dikaitkan dengan konsumsi yang tidak
terkontrol dari bahan pakan tertentu
6. mengurangi resiko gangguan pencernaan, seperti seperti displaced
abomasum
7. mengurangi pemberian pakan di tempat pemerahan
8. penggunaan maksimal dari formulasi ransum biaya terendah
9. menutupi bah.pakan yang tidak palatabel, seperti urea
10. dapat diadaptasikan terhadap sistem kandang konvensional
11. mengurangi resiko kekurangan micronutrient
12. menyediakan operator dengan gambaran konsumsi pakan harian
kelompok, yang kemudian dapat digunakan memperbaiki manajemen.

2.2.2 Komposisi Ransum Komplit Sesuai Kebutuhan


Agustina, (2011) menyebutkan bahwa pakan komplit adalah suatu jenis
bahan yang dirancang untuk produk komersial bagi ternak ruminansia yang
didalamnya sudah mengandung sumber serat, energi, protein dan semua nutrien

19
yang dibutuhkan untuk mendukung kinerja produksi dan reproduksi ternak
dengan imbangan yang memadai.

A. Bahan Penyusun Complete feed


Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan complete feed antara
lain :
1. Sumber SK (jerami, tongkol jagung, pucuk tebu),
2. Sumber energi (dedak padi, kulit kopi, kulit kakao tapioka, tetes),
3. Sumber protein (bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil sawit, bungkil
biji kapok),
4. Sumber mineral (tepung tulang, garam dapur).

B. Pengaruh Pemberian Completed feed


1. Pemanfaatan tenaga kerja dan waktu untuk pemberian pakan dapat
dihemat sampai 72%.
2. Selain itu, pemberian complete feed mampu memanfaatkan limbah
pertanian sehingga tidak lagi terjadi persaingan pemanfaatan sumber
pakan untuk hewan dan atau manusia serta mengurangi konflik
penggunaan lahan dengan sektor lainnya, utamanya sektor pertanian
pangan.
3. Melalui teknologi complete feed yang berbahan baku limbah pertanian
seperti jerami jagung, jerami padi dan limbah pasar, tidak menyebabkan
penurunan produksi dan kualitas susu. Bahkan beberapa penelitian
menunjukkan bahwa pemberian complete feed berbahan baku jerami padi
mampu meningkatkan produksi susu. Pengaruh Pemberian Completed
feed.

20
Adapun komposisi pakan komplit untuk sapi perah yaitu,
Tabel 2. Komposisi Pakan Komplit (Complete feed) Sapi Perah
Bahan Pakan Pakan Komplit (%)
Pucuk Tebu 26
Polar 20
Dedak Kasar/Halus 4,4
Molases 1,1
Limbah Beras 10
Minyak Goreng 0.4
Kulit coklat 6
Bungkil Kelapa 8
Bungkil Kacang 10
Ampas Kecap 8
Tepung Ikan 3
Mineral Komersial 2.6
Probiotik 0.1
Kulit Kacang -
Bungkil Sawit -
Onggok -
Suplement Konsesntrat -
Sumber: KUD Tandangsari
Tabel 3. Kandungan Nutrisi Pakan Komplit (Complete feed) Sapi Perah
Nutrien Pakan Komplit
Bahakan Keing, % 88,6
Protein Kasar, % 12,11
Lemak, % 6,00
Serat Kasar, % 24,81
Abu, % 10,69
BETN, % 46,39
Karbohidra, %t 71,20
TDN, % 65,54
Energi, kkal/g 387,24
NDF, % 64,94
ADF, % 27,12
ADL, % 3,18
Ca, % 1,04
P, % 0.60
Zn, ppm 77,20
Cu, ppm 14,44
Sumber: KUD Tandangsari

21
2.2.3 Pembuatan dan Penyediaan Ransum Komplit
Secara umum complete feed adalah suatu teknologi formulasi pakan yang
mencampur semua bahan pakan yang terdiri dari hijauan (limbah pertanian) dan
konsentrat yang dicampur menjadi satu tanpa atau hanya dengan sedikit tambahan
rumput segar. Pakan komplit adalah ransum berimbang yang telah lengkap untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, baik untuk pertumbuhan, perawatan jaringan
maupun produksi (Pamuji, 2012).
Bahan untuk pembuatan complete feed adalah segala macam hijauan dan
bahan dari tumbuhan lainnya yang disukai oleh ternak seperti ; rumput, sorghum,
jagung, biji-bijian kecil, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang
nanas dll . Bahan-bahan yang digunakan Urea 0,5% dari campuran, garam dapur
2%, tetas tebu 6%, Tongkol jagung 45 kg, dedak padi 25 kg, tepung ikan 15 kg.
Komposisi kandungan Complete feed Protein 14,16%, Serat Kasar 17,16%, Bahan
Kering 88,72% dan Gros Energi 3.837 kkal/kg.
Cara pembuatan Bahan-bahan yang ada dibuat bentuknya secara seragam
yaitu dengan digiling, kemudian bahan tersebut dicampur sesuai dengan
komposisi formula yang telah ditentukan. Formula yang digunakan adalah sebagai
berikut : Bekatul 25%, Tongkol jagung 45%, Gaplek 15% dan Tepung Ikan 15%.
Dari empat bahan tersebut ditambahkan tetes 6% dan urea 0,5% dari jumlah
bahan. Semua bahan dicampur hingga rata dan dijemur hingga kering. Cara
pemberian Jumlah pemberiannya adalah sebesar 2,9 sampai 3,2% bahan kering
dari berat badan ternak.
Hasil kajian yang telah dilakukan bahwa dengan menggunakan formula
tersebut tingkat palatibilitas ternak terhadap ransum sangat baik dan dapat
memberikan penambahan berat badan sebesar 0,9 hingga 1,25 kg/hari, jika 100%
diberikan untuk ternak sapi potong jenis Brahman dan PO (Pernakan Ongol).

22
2.3 Manajemen Pemberian Pakan pada Sapi Perah
2.3.1 Manajemen Pemberian Pakan pada Pedet Sapih
Pemeliharaan pedet harus memerlukan perhatian yang khusus, berbeda
dengan pemeliharaan sapi ternak dewasa, terutama dalam penanganan mulai
kelahiran sampai pemberian pakan dan penanganan penyakit selama masa
pertumbuhannya (Sutardi, 1981).
a. Manajemen Pemberian Kolostrum 1 – 4 hari Pasca Kelahiran.
- Segera bersihkan ambing dan puting induk pasca melahirkan dengan
menggunakan air hangat.
- Usahakan pedet dapat segera ( dalam waktu kurang dari 15 – 30 menit )
menyusu pada induknya (induk dan pedet jangan dipisah dulu, agar pedet
dapat langsung menyusu pada induknya. Selain itu dengan menyusu, akan
merangsang sekresi oksitosin yang menggertak pergerakan uterus,
sehingga kotoran yang ada dalam uterus induk setelah melahirkan dapat
dibersihkan.
- Bila pedet tidak dapat menyusu pada induknya maka di perah kolostrum
dari induk sebanyak 1 liter.
- Berikan segera ke pedet dalam waktu 15 – 30 menit.
- Berikan kembali kolostrum dalam 2x pemberian berikutnya masing-
masing 2 liter/pemberian dalam waktu 12 – 24 jam berikutnya sejak lahir.
- Kapasitas normal pedet yang baru lahir adalah 1 liter, dengan demikian
kolostrum tidak dapat diberikan secara sekaligus, perlu dilakukan beberapa
kali dalam sehari.
- Untuk hari-hari berikutnya, selama 3 hari berikutnya, berikan kolostrum 4
– 6 liter/hari dalam 3 kali pemberian (1.5 – 2 liter /pemberian).
- Kualitas kolostrum menentukan konsumsi antibodi pedet dalam darahnya,
bila kurang memadai peluang hidup 30 % dan bila baik dapat menjadi 95
%.

b. Manajemen Pemberian Susu 4 hari – 12 minggu (penyapihan)

23
- Pemberian susu pasca kolostrum dapat dimulai sejak pedet berumur 3 – 4
hari.
- Pemberiannya perlu dibatasi berkisar 8 – 10 % bobot badan pedet.
Misalnya pedet bobot badannya 50 kg, maka air susu yang diberikan 4 – 5
liter/ekor/hari.
- Pemberian susu diberikan secara bertahap dalam 1 hari 2 – 3 kali
pemberian.
- Jumlah air susu yang diberikan akan terus meningkat sampai menginjak
usia 2 bulan (8 minggu) disesuaikan bobot badan sapi dan akan terus
menurun sampai ke fase penyapihan di usia 3 bulan (12 minggu). (dapat
dilihat di tabel pemeliharaan pedet).
- Hindari pemberian susu berlebih dan berganti-ganti waktu secara
mendadak. Over feeding akan memperlambat penyapihan dan akan
mengurangi konsumsi bahan kering dan akan mengakibatkan diare.
- Jangan memberikan air susu yang mengandung darah dari induk yang
terkena infeksi (suhu tubuhnya meningkat).

c. Manajemen Pemberian Pakan Awal/Pemula (Calf Starter)


Pemberian calf starter dapat dimulai sejak pedet 2 – 3 minggu (fase
pengenalan) (Coleman, dkk., 2003). Pemberian calf starter ditujukan untuk
membiasakan pedet dapat mengkonsumsi pakan padat dan dapat mempercepat
proses penyapihan hingga usia 4 minggu. Tetapi untuk sapi – sapi calon bibit dan
donor penyapihan dini kurang diharapkan.

Penyapihan (penghentian pemberian air susu) dapat dilakukan apabila


pedet telah mampu mengkonsumsi konsetrat calf starter 0.5 – 0.7 kg kg/ekor/hari
atau pada bobot pedet 60 kg atau sekitar umur 1 – 2 bulan. Tolak ukur kualitas
calf starter yang baik adalah dapat memberikan pertambahan bobot badan 0.5
kg/hari dalam kurun waktu 8 minggu. Kualitas calf starter yang dipersyaratkan :

24
Protein Kasar 18 – 20%, TDN 75 – 80%, Ca dan P, 2 banding 1, kondisi segar,
palatable, craked (Imron, 2009).

d. Manajemen Pemberian Pakan Hijauan


Pemberian hijauan kepada pedet yang masih menyusu, hanya untuk
diperkenalkan saja guna merangsang pertumbuhan rumen. Hijauan tersebut
sebenarnya belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam
memasok zat makanan.

- Perkenalkan pemberian hay/rumput sejak pedet berumur 2 – 3 minggu.


Berikan rumput yang berkualitas baik yang bertekstur halus.
- Jangan memberikan silase pada pedet (sering berjamur), selain itu pedet
belum bisa memanfaatkan asam dan NPN yang banyak terdapat dalam
silase.
- Konsumsi hijauan harus mulai banyak setelah memasuki fase penyapihan.
Menurut Imron (2009), untuk dapat melaksanakan program pemberian
pakan pada pedet, perlu dipahami tentang susunan dan perkembangan alat
pencernaan anak sapi. Sejak lahir anak sapi telah mempunyai 4 bagian perut, yaitu
rumen (perut handuk), retikulum (perut jala), omasum (perut buku) dan
abomasum (perut sejati). Pada awalnya saat sapi itu lahir hanya abomasum yang
telah berfungsi, kapasitas abomasum sekitar 60 % dan menjadi 8 % bila nantinya
telah dewasa. Sebaliknya untuk rumen semula 25 % berubah menjadi 80 % saat
dewasa. Waktu kecil pedet hanya akan mengkonsumsi air susu sedikit demi
sedikit dan secara bertahap anak sapi akan mengkonsumsi calf starter (konsentrat
untuk awal pertumbuhan yang padat akan gizi, rendah serat kasar dan bertekstur
lembut) dan selanjutnya belajar menkonsumsi rumput.
Pemberian pakan anak sapi/ pedet diharapkan semaksimal mungkin
mendapatkan asupan nutrisi yang optimal. Nutrisi yang baik pada saat masih
pedet akan memberikan nilai positif saat lepas sapih, dara dan siap jadi bibit yang
prima. Sehingga produktivitas yang optimal dapat dicapai (Sauvant D,. 1995).
Jenis bahan pakan untuk anak sapi (pedet) dapat digolongkan menjadi pakan pedet

25
saat sapih dan pakan pedet sesaat setelah disapih. Pakan pedet saat masa sapih
yaitu kolostrum dan milk replacement (susu pengganti), ada pula tambahan
hijauan yang jumlahnya tidak banyak. Selain itu, pakan pedet sesaat setelah sapih
yaitu berupa hijauan dan konsentrat (Perdhanayuda, 2010).

1. Kolostrum
Kolostrum adalah air susu yang dikeluarkan dari ambing sapi yang baru
melahirkan, berwarna kekunig-kuningan dan lebih kental dari air susu normal.
Komposisi kolostrum yaitu, Kolostrum lebih banyak mengandung energi, 6 kali
lebih banyak kandungan proteinnya, 100 kali untuk vitamin A dan 3 kali lebih
kaya akan mineral dibanding air susu normal, Mengandung enzym yang mampu
menggertak sel-sel dalam alat pencernaan pedet supaya secepatnya dapat
berfungsi (mengeluarkan enzim pencernaan). Mengandung sedikit laktosa
sehingga mengurangi resiko diare. Mengandung inhibitor trypsin, sehingga
antibodi dapat diserap dalam bentuk protein. Kolostrum kaya akan zat antibodi
yang berfungsi melindungi pedet yang baru lahir dari penyakit infeksi. Kolostrum
juga dapat menghambat perkembangan bakteri E. coli dalam usus pedet (karena
mengandung laktoferin) dalam waktu 24 jam pertama (Ernawani, 1991).
Sedangkan mutu kolostrum warna dan kekentalannya menunjukan kualitasnya
(kental dan lebih kekuning-kuningan akan lebih baik, karena kaya akan
imonoglobulin). Kualitas kolostrum akan rendah apabila lama kering induk
bunting, kurang dari 3 - 4 minggu, sapi terus diperah sampai saat melahirkan. Sapi
induk terlalu muda, ambing dan puting susu tidak segera dibersihkan saat
melahirkan maupun saat akan diperah (Soetarno, 2003).

2. Milk Replacer atau Pengganti Air Susu (PAS)


Pada fase pemberian susu untuk pedet, air susu sapi asli dapat diganti
menggunakan Milk Replacer/PAS. Milk Replacer yang baik kualitasnya dapat
memberikan pertambahan bobot badan yang sama dengan kalau diberi air susu
sampai umur 4 minggu. Namun kadang-kadang pemberian milk replacer

26
mengakibatkan sapi lambat dewasa kelamin dan sering mengakibatkan pedet
kegemukan. Milk replacer yang baik dibuat dari bahan baku yang berasal dari
produk air susu yang baik seperti susu skim, whey, lemak susu dan serealia dalam
jumlah terbatas. Milk replacer sebaiknya diberikan pada saat pedet berusia antara
3 dan 5 minggu dan jangan diberikan kepada pedet yang berusia kurang dari 2
minggu. Pedet yang berusia kurang dari 2 minggu belum bisa mencerna pati-
patian dan protein selain casein (protein susu) (Willamson, 1993).

Tabel 4. Komposisi susu pengganti (milk replacement)


Komosisi Susu Pengganti
Protein 22%
TDN 95%
Lemak 10%
SK -
Ca 0,7%
P 0,6%
Vitamin A 3.800IU/kg
Vitamin D 600 IU/
Vtamin E 300 IU/kg
Sumber: Kumar, (2001).
2.3.2 Pemberian Pakan pada Pedet Lepas Sapih
Sejak disapih, ternak ditempatkan pada kandang yang dilengkapi tempat
pakan dan tempat minum secara khusus dan terpisah. Dengan program bebas susu
pada umur 4 bulan perkembangan alat pencernaan sebenarnya belum sempurna.
Pakan berkualitas tinggi dan cukup pemberiannya pada periode ini akan
mempercepat pertambahan bobot badan, mempersingkat dicapainya waktu
pubertas atau bobot ideal untuk dikawinkan, pertumbuhan kelenjar ambing dan sel
lemak. Hal itu karena pada periode ini perkembangan sel kelenjar ambing
maksimal. Periode setelah itu tidak menambah sel kelenjar lagi. Peternak membeli
pedet lepas sapih pada umur 3,5-5 bulan, ketika pedet dipersiapkan sudah tidak
tergantung konsumsi susu. Pada usia ini jumlah konsumsi rumput terbatas sekali,
pada umumnya kurang dari 10 kg/hari. Oleh karena itu, pemberian konsentrat
diperbanyak sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi untuk pertumbuhan.

27
Pola ini kurang sejalan dengan program penyiapan bakalan yang dianjurkan. Pada
umumnya, kesempurnaan sistem pencernaan terhadap pakan kaya serat dicapai
pada umur 6-8 bulan. Pembesaran sejak umur 8 bulan dan dicapainya umur
pubertas menjadi awal periode pembesaran bakalan yang disamakan dengan
ternak dewasa.
Pedet yang sudah dilatih mengkonsumsi konsentrat dan hijauan
hingga 3 bulan (12 minggu) maka pedet tersebut mulai disapih. Menyapih
berarti menghentikan pemberian susu pada pedet, baik susu yang berasal dari
induk sendiri ataupun dari induk lain. Tujuan penyapihan adalah untuk
menghemat biaya pembesaran pedet dan meningkatkan volume susu yang
dapat dijual. Cara penyapihannya sedikit demi sedikit jumlah susu dikurangi,
sebaliknya pemberian konsentrat dan hijauan ditingkatkan sampai pada saat
pedet disapih sehingga terbiasa dan tidak mengalami stres. Pedet umur tiga
bulan, rumen dan retikulum sudah berkembang dengan baik. Pedet umur 3
sampai dengan 4 bulan pedet mulai disapih dengan cara mengurangi jumlah
susu yang diberikan, kemudian diberikan kosentrat sedikit – sedikit sehingga
mau makan kosentrat tersebut. Bila pedet sudah mau makan kosentrat maka
pedet tidak diberikan susu lagi karena kosentrat tersebut sebagai makanan
pengganti.

2.3.3 Pemberian Pakan pada Sapi Dara


Manajemen pakan sapi perah setelah disapih sampai 6 bulan. Anak sapi
setelah disapih pemberian susu di tiadakan, tetapi rumen anak sapi belum
sepenuhnya berkembang, perkembangan rumen biasanya membutuhkan waktu 4-
6 bulan agar dapat berkembang sempurna.
1. Air: ad libitum
2. Hay/ hijauan segar:
- Kualitas yang baik.
- Berbagai macam jenis.
- Kering jemur terlebih dahulu untuk hijauan segar.

28
- Bergantian antara hijauan segar dengan semisegar.
- Potong hijauan.
- Hijauan dan starter mix dapat dicampur bersama untuk meningkatkan
konsumsi pakan.
3. Starter mix.
4. Menyediakan mineral blocks.

A. Manajemen pemberian pakan dari 6 bulan – 15 bulan


Menurut FAO (2009), pada periode ini rumen sapi telah berkembang
secara sempurna dan dapat memakan pakan sapi dewasa
1. Air: ad libitum.
2. Hay : ad libitum.
3. Hijauan segar : ad libitum.
- Kualitas yang baik.
- Berbagai macam jenis.
- Kering jemur terlebih dahulu untuk hijauan segar.
- Bergantian antara hijauan segar dengan semisegar.
- Potong hijauan.
- Hijauan dan starter mix dapat dicampur bersama untuk meningkatkan
konsumsi pakan.
4. Starter mix : protein kasar 14-16%.
5. By products:
- Molasses dapat ditambahkan untuk meningkatkan palatabilitas.
- Silase dapat dijadikan pakan.
- Menyediakan mineral blocks.

2.3.4 Pembeian Pakan pada Laktasi Awal


Masa awal laktasi biasanya adalah pada 100 hari pertama laktasi, pada
masa awal laktasi sapi akan mengalami puncak produksi susu yaitu pada bulan
kedua laktasi pada sapi Holstein. Konsumsi pakan menurun, akibatnya sapi akan

29
mengalami penurunan berat badan. Dan pada akhir masa awal laktasi ini sapi akan
mengalami puncak konsumsi dry matter yang akan menyebabkan penurunan berat
badan (berat badan turun sehingga menjadi paling rendah pada masa laktasi).
Pemberian ransum pada sapi laktasi biasanya mengacu pada kebutuhan
protein (CP) dan energi (net energy). Akan tetapi untuk mendapatkan
produksi maksimal, pemberian ransum harus seimbang effective fiber, non-
structural carbohydrates, ruminal undegraded protein, soluble proteinnya.

2.3.5 Pemberian Pakan pada Laktasi Tengah


Periode pertengahan laktasi adalah periode dari 100 hari sampai 200
setelah melahirkan anak. Fase Pada periode ini sapi akan mengalami puncak
produksi (8-10 minggu setelah kelahiran) sapi juga mengalami puncak DM intake
sehingga tidak mengalami penurunan bobot badan. Sapi akan mengalami puncak
DM tidak lebih dari 10 minggu setelah melahirkan. Pada posisi ini, sapi akan
makan DM tidak kurang 4% dari bobot badan. Pemberian pakan yang baik
akan memperpanjang puncak produksi. Pada breed yang bagus setiap 2 kg susu
yang dihasilkan akan membutuhkan DM sebanyak 1 kg (McDonald, 2002).
Target yang harus dihasilkan pada saat puncak produksi, adalah untuk
menghasilkan produksi susu sebanyak-banyaknya. rata-rata sapi pada periode ini
menghasilkan susu 200-225 kg dari seluruh masa laktasi sebelumya. Kunci dari
periode pertengahan laktasi ini adalah memaksimalkan DM intake. Pada periode
ini sapi dituntunt untuk diberi pakan dengan kualitas hijauan yang tinggi (minimal
40-45% DM pada ransum) dan tingkat efektifitas serat hampir sama dengan masa
awal laktasi.

2.3.6 Pemberian Pakan pada Laktasi Akhir


Periode ini adalah mulai 200 hari setelah melahirkan dan diakhiri pada saat
masa kering sapi. Periode ini produksi susu menurun dan feed intake juga
menurun. Oleh karena itu feed intake tidak sebanding dengan susu yang
dihasilkan. Sapi juga akan mengalami peningkatan bobot badan, hal ini untuk

30
mengganti jaringan yang hilang (BB) pada saat periode awal laktasi. Makanan
sumber protein dan energy tidak begitu penting dalam periode ini. Ransum yang
murah dapat diformulasikan dengan NPN dan sumber dan karbohidrat yang
mudah terfermentasi seperti molasses (McDonald, 2002).
Penambahan konsentrat peda pakan antara 0.5-0.7 kg/hari selama dua
minggu pertama laktasi, jangan sampai kebanyakan hal ini Untuk menghindari
permasalahan pencernaan seperti asidosis, dan penurunan intake. Protein sangat
penting pada awal laktasi. Jadi pada masa awal laktasi rekomendasi pemberian
protein 17-19% pada ransum. Sekitar 30-35% dari protein harus proiten yang
tidak terdegradasi di rumen (UIP), 30% adalah protein yang dapat tercerna.

2.3.7 Pemberian Pakan pada Sapi Kering Kandang


Pada saat sapi perah dalam kondisi kering, kebutuhan akan konsumsi
pakan penting untuk di perhatikan. Hal ini di maksudkan untuk menjaga
kesehatan sapi itu sendiri serta untuk menjaga kesehatan kandungan ternak
tersebut. Pada kondisi ini komposisi ransum perlu dilakukan perhitungan secara
optimal guna untuk meminimalkan problem metabolik pada atau setelah beranak
serta untuk meningkatkan produksi susu pada masa laktasi berikutnya.
Secara umum pada konsisi kering ini, ternak diberikan sedikit hijauan dan
pengurangan bahkan penghentian pemberian konsentrat pada masa awal kering,
sedangkan pada akhir masa kering hijauan diberikan dalam jumlah seperti biasa
dan diikuti dengan penambahan konsentrat. Ransum harus diformulasikan untuk
memenuhi kebutuhannya yang spesifik: maintenance, pertumbuhan foetus,
pertambahan bobot badan. Panda kondisi ini konsumsi BK ransum harian yang
diberikan pada ternak tidak boleh melebihi dari 2% berat badan, konsumsi hijauan
minimal 1% berat badan. Setengah dari 1% BB (konsentrat) per hari biasanya
cukup untuk program pemberian pakan sapi kering. Pada masa kering, sapi perah
harus di tekan jangan sampai terlalu gemuk atau BCS nya melebihi standar untuk
sapi bunting (2,5 – 3). Hal ini dimaksudkan agar sapi tersebut tidak ada kendala
dalam proses kelahiran nantinya.

31
Komposisi hijauan kualitas rendah, seperti grass hay, baik diberikan pada
kondisi ini dengan tujuan untuk membatasi konsumsi hijauan. Pada kondisi kering
kebutuhan protein yang dikonsumsi sapi perah sebesar 12 % sudah cukup untuk
menjaga kesehatan ternak tersebut. Kebutuhan Ca dan P sapi kering harus
dipenuhi, tetapi perlu dihindari pemberian yang berlebihan; kadang-kadang
ransum yang mengandung lebih dari 0,6% Ca dan 0,4% P meningkatkan kejadian
milk fever. Trace mineral, termasuk Se, harus disediakan dalam ransum sapi
kering. Juga, jumlah vitamin A, D. dan E yang cukup dalam ransum untuk
mengurangi kejadian milk fever, mengurangi retained plasenta, dan meningkatkan
daya tahan pedet. Sedikit konsentrat perlu diberikan dalam ransum sapi kering
dimulai 2 minggu sebelum beranak, bertujuan:
a. Mengubah bakteri rumen dari populasi pencerna hijauan seluruhnya
menjadi populasi campuran pencerna hijauan dan konsentrat.
b. Meminimalkan stress terhadap perubahan ransum setelah beranak.

32
III
KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan makalah tentang manajemen pakan pada sapi perah
didapat kesimpulan:
1. Pakan utama ternak sapi perah adalah hijauan dan konsentrat, hijauan
memiliki kadar serat kasar yang tinggi. Konsentrat berperan menutup
kekurangan nutrien yang belum terpenuhi dari hijauan tetapi tidak
diberikan dalam jumlah banayak karena dapat menyebabkan asidosis.
2. Secara umum complete feed adalah suatu teknologi formulasi pakan yang
mencampur semua bahan pakan yang terdiri dari hijauan (limbah
pertanian) dan konsentrat yang dicampur menjadi satu untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi ternak, baik untuk pertumbuhan, perawatan jaringan
maupun produksi.
3. Pemberian pakan pada sapi dimulai dari masa pedet, pedet lepas sapih,
sapi dara,sapi laktasi awal, sapi laktasi tengah, sapi laktasi akhir dan sapi
kering kandang.

33
DAFTAR PUSTAKA

Adi Sudono, R. Fina Rosdiana, dan Budi S Setiawan, 2004. Beternak Sapi Perah
Secara Intensif. Penerbit Agromedia Pustaka. Jakarta.
Agustina, 2011. Prospek Pengembangan Sapi Perah. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan. Bogor.
Akoso, B., T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.
Amoo IA, OT Adebayo, AO Oyeleye.2006. Chemical Evaluation of Winged
Beans (Psophocarous tetragonolabus), Pitanga Cherries (Eugenia
uniflora) and Orchid Fruit (Orchid fruit myristica). African. J food
Agr.Nutr.Dvlpmnt. 2:1-12
Anggorodi, H., 1985. Ilmu Makanan ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Anggraeni, F., Suryadi, D., dan Fitriani, A. 2014. Analisis Harga Pokok Produksi
Dalam Penetapan Harga Jual Konsentrat (Studi Kasus Di Unit
Pengolahan Pakan (Upp) Koperasi Peternakan Bandung Selatan (Kpbs)
Pangalengan Jawa Barat). e-Journal Unpad. Vol 3. No. 4.
Arditya, D. W. 2010. Pengaruh Penggunaan Bahan Pakan Konsentrat Sumber
Protein Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan dan
Konversi Pakan pada Domba Ekor Gemuk. Skripsi. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Arora, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Balitbangtan.2003. Karakteristik Organoleptis silase Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum) Akibat Penambahan Kulturmikroba Campuran. Balai
Penelitian dan Pengembangan. Jawa Tengah.
Bolsen KK, Ashbell G, Wilkinson JM. 2000. 3 Silage Additives. Di dalam
WallaceRJ, Chesson A, editor. Biotechnology in Animal Feeds and Animal
Feeding. Weinheim. New York. Basel. Cambridge. Tokyo: VCH. p 33-54.

34
Boone L. E. dan Kurtz D. L. 2002. Pengantar Bisnis. Jilid ke-1. Terjemahan
Anwar Fadriansyah. Erlangga. Jakarta.
Brock, T.D. and Michael T. Madigan. 1991. Biology of Microorganisme. Six
Edition. Prentice Hall. Englewood Cliffs. New Jersey.
Church, D. C. 1988. The Ruminant Animal Digestive Physiology And Nutrition.
Prentice Hall. London.
Coleman, S.W. and Moore J.E. 2003. Feed Quality and Animal Performance.
Field CropsRes84:17-29.
Daryatmo, Joko. 2002. Manajemen Penyimpanan Pakan Konsentrat. Ilmiah
Populer. Diterjemahkan oleh Fadrinsyah Anwar, Emil Salim, Kusnedi.
Erlangga. Jakarta.
Djajanegara, A., M. Rangkuti., Siregar, Soedarsono, S.K. Sejati. 1998. Pakan
ternak dan Faktor-faktornya. Pertemuan Ilmiah Ruminansia. Departemen
Pertanian, Bogor.
Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Kanisius. Yogyakarta.
Ernawani, 1991. Pengaruh Tatalaksana Pemerahan Terhadap Kualitas Susu
Kambing. Media Peternakan Vol 15: 38-46. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
FAO. 2009. Calf rearing practice . Hanoi. Vietnam
Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman. 2005. Tabel Komposisi Pakan
untuk Indonesia.Cetakan Ke-5. Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.
Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong. Limnotek, 3
(1) 1995: 1-34.
Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa kering?
Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
Holcomb, G., H. Kiesling, and G. Lofgreen, 1984. Digestibility of Diets and
Performance by Steers Feed Varying Energy and Protein Level in Feedlot
Receiving Program. Livestock Research Beefs and Cattle Growers Shorts
Course. New Mexico State University, Mexico.

35
Holder Dairy Farmers In Humid Tropics. CSIRO Publishing. Australia.
http://www.fao/AG/Agp/agpc/doc/Gbase/DATA/pf000011.htm. Diakses
hari senin tanggal 8 Oktober 2018.
Imron, Muhammad. 2009. Manajemen Pemeliharaan Pedet. Penebar Swadaya.
Yogyakarta.
Kartadisastra, H.R., 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak
Ruminansia. Kanisius, Yogyakarta.
Koddang, A. Y. M. 2008. Pengaruh Tingkat Pemberian Kosentrat Terhadap
Daya Cerna Bahan Kering dan Protein Kasar Ransum Pada Sapi Bali
Jantan yang Mendapatkan Rumput Raja ( Pennisetum Parpurephoides ).
ad- libitum, Jurnal Agroland Vol. 15 No.4 :343- 348.
Koperasi Peternakan Bandung Selatan. 2013. Laporan Tahunan, Tahun Buku
2013 ke-45. KPBS Pangalengan. Bandung.
Kumar Saha .A. .2001. Technical efficiency and Costs Competitiveness of Milk
Production by Dairy Farm in Main milk Production National Dairy
Reseach Institut, Kamal. India.
McCutcheon, J., Samples, D. 2002. Grazing Corn Residues. Extension Fact Sheet
Ohio State University Extension. US. ANR 10-02.
Moran, J. 2005. Tropical dairy farming: feeding management for small holder
dairy farmers in the humid tropics. Lanlink Press. 312 pp
Muljana, Wahyu. 1982. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Sapi Perah. Aneka
Ilmu. Semarang.
Murti, T. W. 2002. Ilmu Ternak Kerbau. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and health.
Proceedings of the International Livestock Environment Conference. St.
Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
Nitis, I.M., K. Lana M. Suama, W. Sukanten and A.W. Puger. 1991. Gliricidia for
organoleptissilase Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) akibat.

36
Pamuji, T. 2012. Pembuatan Complete feed (Pakan Kpmplit) Untuk Ternak
Ruminansia. www.teguhpramuji.wordpress.com. (diakses pada hari senin
8 Oktober 2018).
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Media. Jakarta.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. UI Press. Jakarta
Perdhanayuda, R. 2010. Penampilan Produksi Pedet Peranakan Friesian Holstein
Jantan Periode Pra-sapih yang Diberi ransum Starter dengan Cara Bebas
Pilih (Cafetaria Feeding). Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor.
Prawirokusumo, S., 1994. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE Yogyakarta.
Prihadi, S. 2003. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Putra, S. dan A. W. Puger. 1995. Manipulasi Mikroba dalam Fermentasi Rumen
Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Zat-zat
Makanan. Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Denpasar.
Ramadani. 2010. Pengolahan Limbah Pertanian dalam Bentuk Complete feed
untuk Sapi Potong. Complete Untuk Sapi Potong.
www.bertani.wordpress.com/peternakan/. (diakses pada hari senin 8
Oktober 2018).
Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik.
BPFE. Yogyakarta.
Ruminal Cellulolytic Bacteria and Protozoa From Bison, Cattle – Bisson Hybrids,
and Cattle Feed Three Alfalfa – Coin Diets. Applied and Environmental
Microbiology.Vol. 55 No. 1
Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Sauvant D, Dijkstra J, Mertens D. 1995. Optimization of ruminal digestion: a
Modeling approach. Di dalam : Journet M, Grenet E, Farce M.H, Theriez
M, Dermaquilly C, editor. Recent Development in the Nutrition of
Herbivores. Proceeding of Fourth International Symposium on the

37
Nutrition of Herbivores,Clemont-Ferrand, 11-15 Sep 1995. Paris : INRA.
Hlm 143-165.
Shi, Y. and P.J. Weimer, 1995. Predicted Outcome of Competition Among
Ruminal Cellulolytic Bacteria for Soluble Product of Cellulose Digestion.
U.S Dairy Forage Research Center Research Summaries.
Siregar, M. E. and D. A. Ivory. 1992. Evaluation Of Herbaceous In The Citanduy
Watershed Basin dalam Teknologi Pakan dan Tanaman Pakan. Prosiding
Pengolahan dan Komunikasi Hasil-Hasil Penelitian. Balai Penelitian
Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.
Soetarno, Timan. 2003. Manajemen Budidaya Sapi Perah. Laboratorium Ternak
Perah Fakultas Peternakan UGM : Yogyakarta.
Sukria, A. H dan Krisna. R. 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di
Indonesia.Bogor. IPB Press.
Sunarminto, Bambang Hendro. 2010. Pertanian Terpadu untuk Mendukung
Kedaulatan Pangan Nasional. BPFE UGM. Yogyakarta.
Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha
Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. Semarang
Sutardi, T, 1981. Sapi Perah dan Pemberian Makanannya, Departemen Ilmu
Makanan Ternak Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Thau, T.D. 2004. Factors Affecting Technical Efficiency of Household Dairy
Cattle Production in Two Communes of Gialam District, Hanoi. Journal
of ISSAAS. Vol. 10. Number 1, June 2004. Page : 86 – 90.
Van soest, P. J. 1982. Nutritional Ecology Of The Ruminant. Cornell University
Press. London Varrel, V.H. and Burk A. Dehority. 1989.
WallaceRJ, Chesson A, editor. Biotechnology in animal feeds and animal
feeding.Weinheim. New York. Basel. Cambridge. Tokyo: VCH. p 33-54.
Warudjo, Bambang 1988. Kualitas Dan Harga Susu. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988:
34-38.

38
Whitehead, D.C. 2000. Nutrient Element in Grassland: Soil Plant Animal
Relationship. CAB International Publishing, Wallingford.
Willamson, G dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.
(Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Terjemahan oleh : SGN
Djiwa Darmaja).

39